PANDUAN IMPLEMENTASI PENGUATAN PENDIDIKAN
2.2. Kegiatan PPK Berbasis Kelas 1 PPK melalui Gerakan Literas
Gerakan literasi merupakan kegiatan mengasah kemampuan mengakses, memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi secara kritis dan cerdas berlandaskan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara untuk menumbuhkembangkan karakter seseorang menjadi tangguh, kuat, dan baik. Berbagai kegiatan tersebut dilaksanakan secara terencana dan terprogram sedemikian rupa baik dalam kegiatan- kegiatan berbasis kelas maupun kegiatan-kegiatan berbasis budaya sekolah dan komunitas masyarakat. Dalam konteks kegiatan PPK berbasis kelas, kegiatan-kegiatan literasi dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran dan mata pelajaran yang ada dalam struktur kurikulum. Dalam interaksi belajar-mengajar guru mata pelajaran apapun dapat mengajak siswa-siswanya membaca, menulis, menyimak, dan bahkan berbicara (antara lain presentasi dan pidato) secara teliti, cermat, dan tepat tentang suatu tema atau topik yang ada di berbagai sumber baik buku, surat kabar, media sosial maupun media-media lain. Dalam hubungan ini diperlukan ketersediaan sumber-sumber informasi di sekolah, antara lain buku, surat kabar, dan jejaring internet. Oleh sebab itu, keberadaan dan peranan pojok buku, perpustakaan sekolah, dan jaringan internet demikian penting. Di samping itu, sangat penting kreativitas guru dalam menyajikan program dan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara secara cerdas supaya peserta didik dapat melakukan pembatinan dan pembiasaan diri. Salah satu gerakan literasi yang bisa dikembangkan adalah Gerakan Membaca 15 Menit sebelum pelajaran dimulai. (Lihat, lampiran 1).
2.2.2. Model Pembelajaran Pendidikan Karakter Terintegrasi di dalam Kurikulum
Model pembelajaran pendidikan karakter terintegrasi dengan kurikulum adalah pembentukan karakter peserta didik yang dilakukan melalui pengajaran dan pembelajaran isi kurikulum (materi-materi pelajaran) yang diajarkan di dalam kelas.
Pendidikan karakter dalam arti ini adalah memberikan pengetahuan, menanamkan kesadaran, dan mempraktikkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam keseluruhan proses pengajaran di dalam kelas.
Guru tidak perlu mencari materi baru yang berada di luar isi materiKompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran. Melalui KD yang sudah ada, guru memanfaatkan proses belajar itu untuk menggali
pengetahuan, menanamkan kesadaran, dan mempraktikkan nilai-nilai pendidikan karakter secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pembelajaran. Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah pengajaran terintegrasi dalam kurikulum perlu dibuat panduan khusus (Lihat, lampiran 2).
2.2.3. PPK melalui Pilihan dan Penggunaan Metode Pengajaran Penguatan pendidikan karakter terintegrasi dalam kurikulum juga dapat dilakukan melalui pemilihan metode pembelajaran dalam Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM). Metode pembelajaran ini akan membantu guru untuk memberikan keterampilan yang dibutuhkan peserta didikagar memiliki keterampilan yang dibutuhkan pada abad-21.
Beberapa metode yang dianjurkan adalah sebagai berikut. 1. Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning)
Melalui pembelajaran ini, peserta didik berlatih bagaimana bekerjasama dengan orang lain untuk menyelesaikan sebuah proyek bersama. Fokus nilai dan keterampilan yang menjadi sasaran dalam metode pembelajaran kolaboratif adalah kemampuan bekerjasama. 2. Metode Presentasi di Depan Kelas (Class Presentation)
Peserta didik diminta untuk mempresentasikan hasil pemikiran, tulisan, dan kajiannya di depan kelas. Nilai yang terbentuk dalam model pembelajaran ini adalah rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi dan menyampaikan gagasan, serta kemampuan untuk mempertahankan pendapat dalam berargumentasi. Bagi peserta didik yang berpresentasi, ia akan melatih berargumentasi. Bagi teman sekelas, teman- teman akan belajar mengkritisi sebuah argumentasi dengan memberikan argumentasi lain yang lebih rasional dan berdasarkan data. Metode ini akan memperkuat kemampuan untuk berpikir kritis dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi peserta didik.
3. Pembelajaran dengan Metode Penyelesaian Persoalan (Problem Based Learning)
Dalam pembelajaran ini, peserta didik diberikan persoalan dan diberi keleluasaan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi secara efektif. Fokus pembelajaran ini adalah pembentukan karakter sebagai individu yang memiliki inovasi dan solusi bagi setiap persoalan yang mereka hadapi.
4. Pemanfaatan IT
Dalam pembelajaran, peserta didik perlu memanfaatkan IT dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Dengan memanfaatkan IT ini kemampuan peserta didik dalam mempergunakan sarana teknologi dan komunikasi ditingkatkan. Fokus pada kegiatan ini adalah literasi digital.
5. Metode Ilmiah (Scientific Method)
Metode pembelajaran ini pada intinya menerapkan tahap- tahap pendekatan ilmiah dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran dimulai dengan kegiatan mengamati, mengumpulkan data, membuat hipotesis, menguji hipotesis, menarik simpulan, dan menyampaikan hasil penelitian. Fokus pembentukan karakter dalam metode pembelajaran ini adalah berpikir kritis dan logis dengan mempergunakan metode ilmiah yang teruji untuk memajukan ilmu.
6. Berdebat
Peserta didik perlu diberi kesempatan untuk beradu argumentasi dalam sebuah perdebatan yang topiknya dipilih secara aktual untuk memberikan kesempatan pada mereka mempertahankan argumentasi secara nalar. Fokus penguatan pembentukan karakter dalam metode ini adalah kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, dan memengaruhi orang lain melalui tata cara berargumentasi yang baik.
7. Mengerjakan Proyek Bersama
Dalam proses pembelajaran, guru bisa memberi tugas pada peserta didik untuk membuat proyek bersama lintas mata pelajaran. Metode belajar ini akan meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menghubungkan pengetahuan satu dengan yang lain, meningkatkan kemampuan bekerjasama dan menciptakan sesuatu secara baru melalui pembelajaran gotong royong.
8. Membuat Karya Tulis
Peserta didik perlu diajar dan dilatih agar memiliki kemampuan untuk membuat tulisan yang baik, baik dari segi tatabahasa, isi, koherensi, maupun kualitas argumentasi dan gaya penulisan yang beraneka. Keterampilan ini akan membantu mereka memiliki kemampuan tulisan yang sangat dibutuhkan dalam rangka menyebarkan gagasan dan merebut pengaruh bagi perbaikan tatanan kehidupan bersama.
9. Membuat Produk
Setiap proses pembelajaran bisa diarahkan pada produk tertentu sebagai ekspresi dari hasil pemikiran peserta didik. Kegiatan membuat produk akan membantu peserta didik mengembangkan sikap inovasi dan kreasi yang dibutuhkan untuk keberhasilan mereka di masa depan.
2.2.4. PPK melalui Manajemen Kelas
Manajemen kelas (pengelolaan kelas) adalah momen pendidikan yang menempatkan para guru sebagai individu yang berwenang dan memiliki otonomi dalam proses pembelajaran untuk mengarahkan, membangun kultur pembelajaran, mengevaluasi dan mengajak seluruh komunitas kelas membuat komitmen bersama agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan berhasil. Manajemen kelas yang baik akan membantu peserta didik belajar dengan lebih baik. Pengelolaan kelas yang baik akan meningkatkan prestasi belajar. Dalam proses pengelolaan dan pengaturan kelas terdapat momen penguatan nilai-nilai pendidikan karakter, misalnya untuk menanamkan nilai kedisiplinan dan komitmen bersama, guru bersama peserta didik membuat komitmen kelas yang akan disepakati pada saat peserta didik belajar. Aturan ini dikomunikasikan dan didialogkan dengan peserta didik. Tujuan pengaturan kelas adalah agar proses pembelajaran berhasil dengan baik. Manajemen kelas yang baik membantu setiap individu berkembang dalam belajar. Aturan yang membentuk karakter, antara lain, adalah sebagai berikut.
Untuk menanamkan dan mempraktikkan nilai penghargaan satu sama lain, pada saat guru mengajar, peserta didik mendengarkan dengan baik. Bila peserta didik ingin bertanya atau berbicara, ia harus mengangkat tangannya, dan setelah diizinkan oleh guru, ia baru boleh berbicara. Jadi, pada saat seorang peserta didik berbicara, guru dan peserta didik yang lain diam mendengarkan. Ini bisa menjadi aturan umum yang perlu dibiasakan dan diingatkan kembali setiap kali memulai pelajaran. Dalam manajemen kelas, guru juga bisa membuat kesepakatan bersama dengan para peserta didik tentang konsekuensi dari berbagai macam perilaku keterlambatan dalam mengerjakan atau mengumpulkan tugas. Aturan ini dapat menumbuhkan di dalam diri mereka nilai tanggungjawab dan ketekunan.
Manajemen kelas yang baik juga bisa menjadi momen pembentukan karakter peserta didik ketika di dalam kelas terjadi konflik. Pada momen ini, guru perlu memiliki kepekaan dan kepedulian sehingga konflik di dalam kelas yang muncul justru bisa menjadi momentum kelas untuk memperkuat pembentukan karakter.
2.2.5. PPK Melalui Pengajaran Tematis
Pengajaran tematis adalah lembaga pendidikan (sekolah) mengalokasikan waktu khusus untuk mengajarkan niliai-nilai tertentu sebagai prioritas pembentukan karakter. Lembaga pendidikan mendesain sendiri tema dan prioritas nilai pendidikan karakter apa yang akan mereka tekankan. Penguatan ini diajarkan melalui mata pelajaran dan alokasi waktu khusus yang ditentukan oleh sekolah. Sekolah menyediakan mata pelajaran khusus dan guru khusus untuk mengajarkan materi yang memperkuat pendidikan karakter. Langkah- langkah mendesain Pengajaran Tematis (Lihat, lampiran 3).