BAB III : GAMBARAN UMUM KANWIL PERUM PEGADAIAN
H. Kantor Cabang
I. Kegiatan Usaha Perum Pegadaian
Kredit gadai adalah fasilitas pinjaman berdasarkan hokum gadai dengan prosedur pelayanan mudah, aman dan cepat. Dengan usaha kredit gadai ini, pegadaian melindungi masyarakat yang tidak mempunyai akses kedalam industri perbankan sehingga terhindar dari praktek pemberian uang pinjaman yang tidak wajar. Pelayanan yang sederhana juga melindungi masyarakat dari prosedur dna persyaratan kredit yang berbelit dan menyusahkan dan tidak dapt dipenuhi oleh masyarakat kecil. Hampir semua baarang bergerak dapat dijadikan jaminan barang kredit. Misalnya emas, barang elektronik, mobil, sepeda, sepeda motor, alat-alat rumah
tangga dan kain. Fasilitas pinjaman ini umumnya diberikan kepada petani, nelayan, industri kecil, pedagang, mahasiswa dan ibu-ibu rumah tangga, pegawai negeri.
2. Usaha Jasa Titipan
Jasa titipan adalah fasilitas semacam safe deposit box yang ditawarkan oleh Pegadaian kepada masyarakat dengan maksud untuk melindungi surat-surat dan barang-barang berharga lainnya bila pemiliknya meninggalkan rumah atau menghendaki perlindungan yang lebih aman disbanding disimpan dirumah.
3. Usaha Persewaan Gedung
Usaha persewaan gedung adalah upaya pemanfaatan asset secara optimal. Gedung bersejarah bekas kantor pusat pegadaian direhab sedemikian rupa sebagai Auditorium Kantor Pusat dengn Nama Gedung Langen palikrama. 4. Usaha jasa Taksiran/ Srtifikasi
Jasa taksiran/sertifikasi ditawarkan oleh pegadaian kepada masyarakat dengan maksud untuk melindungi masyarakat dari kemungkinan pemalsuan para penjual barang-barang perhiasan emas permata.
BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Gambaran Umum Berdirinya Perusahaan
Lahirnya Perum Pegadaian di Indonesia ditandai dengan berdirinya Bank Van Lening pada masa VOC pada tahun 1746. Lembaga ini mempunyai tugas memberikan pinjaman uang kepada masyarakat dengan jaminan gadai.
Sampai sekarang pegadaian telah mengalami 5 zaman pemerintahan yaitu : 1. Pegadaian pada masa VOC (1764-1811)
2. Pegadaian pada masa penjajahan Inggris (1811-1816) 3. Pegadaian pada masa penjajahan Belanda (1816-1942) 4. Pegadaian pada masa penjajahan Jepang (1942-1945) 5. Pegadaian pada masa Kemerdekaan (1945-sekarang) 1. Pegadaian Pada Masa VOC (1746-1811)
Pegadaian sewaktu Indonesia dibawah kekuasaan Vereenidge Qest Indische Compagnie (VOC), Bank Van Leening pun ikut dibawa ke Indonesia. Dengan surat keputusan Gubernur Jendral Van Imhoof tertanggal 20 Agustus 1746 dengan resmi didirikan suatu Bank Van Leening yang pertama di Indonesia yaitu di Jakarta (Batavia). Bank ini didirikan dalam bentuk kerjasama antara VOC dengan swasta lainnya yaitu dengan ₤ 500.000 (2/3 dari VOC dan 1/3 dari swasta) disamping menjalankan usaha pemberian kredit berdasarkan gadai juga memberikan jasa Bank Wesel.
2. Pegadaian Pada Masa Pemerintahan Inggris (1811-1816)
Pada masa penjajahan Inggris (1811) bank Van Leening ini dihapuskan. Hal ini menurut keputusan Reffles yang berpendapat bahwa tidak wajar bagi suatu bank diusahakan oleh pemerintah. Sebagai gantinya diadakan suatu ketentuan bahwa setiap orang boleh mendirikan pegadaian swasta asal mendapat izin (Licentie) dari penguasa daerah setempat. Licentielsel ini diperkirakan akanmenguntungkan pemerintah, namun yang terjadi sebaliknya dan pemegang licentie menggunakan kesempatan ini mengadakan praktek riba yang sangat merugikan rakyat, karena dari usahanya tersebut ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Dengan kata lain licentielsel ini malah menghidupkan usaha- usaha lintah darat.
Tahun 1814 Licentielsel tersebut diganti dengan Pachstelsel, yaitu hak mendirikan pegadaian diberikan kepada umum dengan penawaran yang paling tinggi yaitu bhwa setiap orang boileh menerima gadai asal saja sanggup membayar sejumlah uang tertentu kepada pemerintah.
3. Pegadaian Pada Masa Penjajahan Belanda (1816-1942)
Pachstelsel tersebut diatas (1843) telah dijalankan diseluruh Indonesia kecuali didaerah Priangan dan Verstenladen (Surakarta dan Yogyakarta). Pada tahun 1949 rente-terief (tarif bunga) ditetapkan oleh pemerintah dengan Pachsetsel ditetapkan sebagai monopoli, yang berarti bahwa seorang pemegang Pacht dilarang menerima gadai sampai dengan jumlah $ 100. Larangan ini tercantum dalam KUHP pada pasal 509 yang berbunyi :"Barang siapa yang dengan tidak berhak meminjamkan uang atau barang yang jumlahnya atau harganya tidak lebih dari
seratus rupiah dengan menerima gadai atau dengan bentuk jual beli dengan hak membeli kembali atau dengan bentuk persetujuan komisi, dipidana dengan kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya lima belas ribu rupiah."
Setelah mendapatkan suatu kesimpulan bahwa hasil uang pinjaman dari pegadaian menunjukkan hal-hal yang menguntungkan maka disarankan bahwa untuk membasami lintah darat tersebut, harus dilakukan oleh pemerintah. Dengan keputusan pemerintah (Staatblad No.131 tgl 12 Maret 1901) maka mulai tanggal 1 April 1901 dibukalah pegadaian Negara yang pertama di Indonesia yaitu di Sukabumi.
4. Pegadaian Pada Masa Penjajahan Jepang (1942-1945)
Jepang menduduki Indonesia pada tanggal 8 Maret 1942, maka pada pertengahan tahun 1942 Kantor Pusat Jawatan Pegadaian dipindahkan dari Jl. Kramat No. 162 ke Jl. Kramat No.132 dengan alasan akan dijadikan tempat tawanan perang. Barang-barang yang digadaikan pada saat itu adalah barang- barang emas dan permata kepunyaan rakyat yang harus dijual kepada tentara atau Nippon.
Sedangkan lelang barang-barang emas dan permata dihapuskan dan pada tahun 1943 barang logam lainnya juga tidak dilelang. Akibatnya rakyat semakin melarat dan tidak mempunyai barang-barang berharga lagi, sehingga pegadaian pda masa itu praktis hamper tidak berfungsi lagi. Pada waktu itu pemerintah jepang mengeluarkan uang sehingga uang yang beredar adalah uang Jepang.
5. Pegadaian Pada Masa Kemerdekaan (1945-sekarang)
Pegadaian pada masa kemerdekaan dapat dibagi sebagai berikut :
1. Jawatan Pegadaian pada zaman Republik Indonesia (Perjuangan) tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949 (Penyerahan Kedaulatan).
2. Jawatan Pegadaian pada zaman RIS tanggal 27 Desember 1949 sampai dengan 17 Agustus 1950.
3. Jawatan Pegadaian dalam Negara Kesatuan RI 17 Agustus 1950 sampai dengan sekarang.
Berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia tahun 1961 No. 178 tanggal 3 Mei 1961, status sebagai Jawatan Pegadaian berubah menjadi Perusahaan Negara Pegadaian. Status sebagai Perusahaan Negara, Pegadaian ini hanya bertahan sampai tahun1969. Pada tahun tersebut keluar Undang-Undang Republik Indonesia tahun 1969, menjadi Undang-Undang Lembaran tahun 1969 tambahan lembaran Negara No. 2904. Undang-Undang ini mengatur bentuk- bentuk usaha Negara menjadi 3 bentuk yaitu : PERJAN, PERUM dan PERSERO. Sejalan dengan ketentuan Undang-Undang tersebut maka ditetapkan status pegadaian melalui Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1969 menjadi Perusahaan Jawatan (PERJAN) Pegadaian. Dengan penyesuaian bentuk usaha tersebut, maka kekayaan Perusahaan Negara Pegadaian beralih kepada Perjan Pegadaian. Pada tahun 1990 dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1990 Tanggal 10 april 1990 yang mengatur perubahan bentuk Perjan Pegadaian menjadi Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian (Lembaran Negara Tahun 1990 No.14)
Untuk mengatur kembali peraturan tentang Perusahaan Umum Pegadaian dengan Peraturan Pemerintah, maka diterbitkanlah Peraturan Pemerintah No. 103 tahun 2000 tanggal 10 November 2000 tentang Perusahaan Umum Pegadaian dan Perum Pegadaian Kantor Wilayah I Medan ini berdiri pada tahun 1967 yang berlokasi di Jl. Pegadaian No. 112 Medan dan telah beroperasi selama 39 tahun samapai dengan sekarang..
B. Fungsi Kedudukan dan Status Hukum Perum Pegadaian 1. Fungsi Perum Pegadaian
Sebaga salah satu lembga keuangan non bank yang ada di Indonesia. Perum Pegadaian berfungsi untuk mengelola dana yang ada kepada masyarakat dengan penyaluran atau pemberian kredit gadai dengan tingkat bunga relative rendah guna membantu masyarakat yang mengalami kesulitan keuangan.
2. Kedudukan Perum Pegadaian
Perum Pegadaian merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah Departemen Keuangan. Perum Pegadaian dipimpin oleh Dewan Direksi dimana pembinaannya dilakkan oleh Menteri Negara BUMN dan pengawasannya dilakukan oleh Dewan Pengawas.
3. Status Hukum Perum Pegadaian
Pada tahun 1961 Perum Pegadaian berubah menjadi perusahaan Negara yang semula berstatus Jawatan kemudian pada tahun 1969 berubah
menjadi Perusahaan Jawatan dan pada tahun 1990 berubah menjadi Perusahaan Umum Pegadaian sampai saat ini.
C. Visi dan Misi Perum Pegadaian 1. Visi Perum Pegadaian
Visi yang memiliki makna antara lain sasaran pokok yang ingn dicapai perusahaan, yang merupakan target keinginan para stockholder agar mendapatkan nilai tambah yang diberikan perusahaan, serta karakteristik pasar yang dilayani maupun bisnis yang dilakukan. Visi ini masih sejalan dengan tujuan perusahaa, seperti yang tertuang dalam peraturan pemerintah No.103/2000 dengan rumusan, yaitu: " Pegadaian pada tahun 2010 menjadi perusahaan yang modern, dinamis dan inovatif dengan usaha utama jasa gadai".
Visi Perum Pegadaian itu akan dicapai dengan rangkaian tahapan-tahapan yang telah disusun dalam Rencana jangka Panjang (RJP) 2001-2010 dan sebagai langkah awal, saat ini seluruh kantor-kantor pelayanan pegadaian sudah komputerisasi serta terpasang jaringan internet.
2. Misi Perum Pegadaian
Sebelum menentukan arah perusahaan, sasaran perusahaan dan strategi pokok maka perlu ditentukan dahulu misi Perum Pegadaian pada satu tahapn Rencana Jangka Panjang (RJP) yang sudah ditentukan. Misi perusahaan menerangkan untuk apa tujuan didirikan an berdasarkan sejarah perusahaan serta prospek perusahaan dalam periode 2001-2010, maka dirumuskan misi perusahaan sesuai yang ditetapkan Pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan
masyarakat golongan menengah kebawah melalui kegiatan utama berupa penyaluran kredit gadai dan melakukan usaha lain yang menguntungkan.
D. Sifat, Tujuan dan Perum Pegadaian
Di dalam PP No. 10/1990 diatur mengenai sifat, tujuan dan usaha Perum Pegadaian adalah :
1 Sifat Usaha Perum Pegadaian
Sifat usaha Perum Pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi pemanfaatan umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan usaha.
2 Tujuan Perum Pegadaian
1. Turut melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan progam pemerintah bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang pinjaman atas hukum gadai.
2. Mencegah praktik ijon, pegadaian gelap, rentenir dan pinjaman tidak wajar lainnya.
3. Usaha Perum Pegadaian
Usaha yang dilakukan Pegadaian adalah sebagai berikut :
1. Menyalurkan uang pinjaman atas dasar hokum gadai dengan cara yang mudah, aman, hemat dan cepat.
2. Usaha-usaha yang lainnya yang berhubungan dengan tujuan perusahaan.
E. Makna Logo dan Motto Perum Pegadaian
Di dalam logo Perum Pegadaian yang bergambar pohon rindang dan timbangan terkandung sifat, usaha dan tujuan umum Perum Pegadaian serta sebutan "Pegadaian".
Adapun makna yang terkandung dalam LOGO tersebut adalah : 1. Logo Lambang terdiri dari :
a Pohon rindang berwarna hijau, bermakna : Melindungi dan membantu senantiasa tumbuh dan berkembang
b. Warna hijau melambangkan keteduhan
c. Timbangan berwarna hitam bermakna : Kesimbangan dan keterbukaan dalam memberikan pelayanan kejujuran
2. Logo "Pegadaian" berstruktur miring bermakna : Sederhana : Kepastian dan Kemudahan Dinamis : Terus bergerak maju
Huruf Balok : Melambangkan keteduhan dan kekokohan
Motto yang ditampilakan "Mengatasi Masalah Tanpa Masalah", yang bermakna bahwa Perum Pegadaian sebagai salah satu perusahaan di bidang jasa mampu mengatasi masalah keuangan dengan cara yang mudah dan waktu yang relative singkat. Cara pelayanannya yang sederhana dan target operasionalnya yang melayani nasabah dari berbagai kalangan masyarakat, menjadikan Perum Pegadaian sebagai alternative dalam mengatasi masalah keuangan tanpa mengalami masalah. Jadi dengan menyertakan Kartu Tanda Pengenal maka setiap
masalah dapat memperoleh pinjaman dalam waktu yang relative singkat. Maka atas dasar inilah Perum Pegadaian dapat menjadi suatu bagian yang penting dalam kehidupan perekonomian.
Sebagai rasa kerja yang kuat Perum Pegdaian juga mempunyai etos/budaya kerja yang menanggulangi setiap bentuk pelayanan kepada masyarakat sehingga sanggup mengatasi setiap permasalahan keuangan yang timbul. Adapun budaya kerja tersebut dikenal dengan sebutan si "INTAN" yang bila dijabarkan lebih luas akan memberikan makna yang dalam yaitu :
Inovatif : Penuh gagasan, kreatif, aktif dan menyukai tantangan
Nilai Moral Tinggi : Taqwa, jujur, berbudi luhur dan loyal Terampil : Sopan santun dan berkepribadian menawan Adi Layanan : Pelayanan yang adil agar nasabah merasa puas Nuansa Citra :Bussiness Oriented, Customer Satisfaction dan mengembangkan diri sendiri.
F. Struktur Organisasi Perum Pegadaian
Struktur menggambarkan susunan atau komposisi dengan meletakkan dasar hubungannya dengan bagian-bagian satu sama lain dalam bentuk itu. Struktur dituangkan berbentuk organisasi sebagai wadahnya. Perum Pegadaian sebagai suatu perusahaan memiliki struktur organisasi dalam operasionalnya
KANTOR WILAYAH HUMAS DAN HUKUM
Gambar 3.1 Struktur Organisasi
Sumber : Perum Pegadaian Kantor Wilayah I Medan
AHLI TAKSIR
TEKNOLOGI INFORMASI INSPEKTUR WILAYAH
BAGIAN OPRASIONAL DAN PEMASARAN Asisten Manager Usaha Inti Asisten Manajer Usaha Lain BAGIAN KEUANGAN Asisten Manajer Perbendaharaan Asisten Manajer Akuntansi BAGIAN SUMBER DAYA MANUSIA Asisten Manajer Administrasi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Asisten Manajer Kesejahteraan Asisten Manajer Perlengkapan dan Rumah Tangga BAGIAN LOGISTIK Asisten Manajer Bangunan KANTOR CABANG
Dengan adanya stuktur organisasi, maka setiap bagian/seksi dapat menempatkan diri dengan baik sesuai spesialisasi pekerjaan, tanggung jawab dan wewenang setiap bagian/devisi.
G. Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Perum Pegadaian Organisasi perusahaan disusun 2 tingkat yaitu :
Kantor Pusat : Direksi, Direktur Keuangan, Direktur Operasional dan Keuangan, Direktur Umum, Balai pendidikan dan Pelatihan, Status Pengawas Intern (SPI). Kantor Wilayah
Kantor Wilayah dipimpin oleh seorang kepala yang diangkat dan bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan kegiatan perusahaan di wilayah serta membantu tugas-tugas kantor pusat sesuai dengan wewenang yang dilimpahkan oleh Dewan Direksi. Tugas-tugas Kantor Wilayah :
1. Menyusun rencana kerja kantor wilayah agar pelaksanaan dan kegiatan perusahaan berjalan lancar dan terpadu.
2. Mengkoordinasi kepengurusan, pengelolaan dan pengwasan kegiatan, operasional perusahaan berdasarkan pereturan yang berlaku dalam rangka meningkatkan dan mengamankan omset perusahaan.
3. Mengkoordinasikan kepengurusan keuangan dan pembukuan kegiatan operasional di daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka tertib administrasi keuangan daerah.
Bagiaan-bagian yang terdapat Dalam Organisasi Kantor Wilayah 1. Bagian Operasional dan Pemasaran
Seksi operasional dan pemasaran mempunyai tugas mengawasi dan memantau kegiatan jasa operasional, jasa pegadaian dan usaha lain serta melakukan pemasaran.
2. Bagian Keuangan
Seksi keuangan mempunyai tugas melaksankan dan mengatur anggaran pembukuan dan pembendaharaan di kantor.
3. Bagian Sumber Daya Manusia
Mempunyai tugas mengurus administrasi pegawai, gaji dan kesejahteraan pegawai kantor wilayah dan kantor cabang.
4. Bagian Logistik
Seksi umum mempunyai tugas tata usaha dan rumah tangga, bangunan, sarana serta kehumasan di kantor wilayah dan di kantor cabang.
5. Inspektur Wilayah
Inspektur wilayah membantu kanwil dalam mengadakan penilaian atau system pengendalian yang telah ditetapkan oleh Direksi atau Kakanwil, pelaksanaannya serta memnerikan saran-saran dan penindakan.
H. Kantor Cabang
Kantor cabang dipimpin oleh Manajer Cabang dan bertanggung jawab pada Direksi melalui Pimpinan Wilayah. Kantor Cabang mempunyai tugas sebagai berikut :
1. Menyalurkan uang pinjaman pada masyarakat atas dasar hokum gadai dan melaksanakan usaha lain.
2. Mengurus penerimaan, pnyimpanan dan pengeluaran modal kerja dalam bentuk kas atau bank.
3. Mengurus penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran barang jaminan. 4. Menyelenggarakan pembukuan penyusunan anggaran, pembinaan
kepegawaian, tata usaha dan kegiatan pelaporan kegiatan cabang.
5. Mengurus dan memelihara kekayaan perusahaan yang ada di kantor cabang.
6. Mewakili kepentingan perusahaan baik ke dalam maupun keluar berdasarkan wewenang yang dilimpahkan kepada kantoe wilayah.
7. Memelihara hubungan baik dengan nasabah dan pihak lain dalam mengembangkan perusahaan.
I. Kegiatan Usaha Perum Pegadaian 1. Usaha Pokok Kredit Gadai
Kredit gadai adalah fasilitas pinjaman berdasarkan hokum gadai dengan prosedur pelayanan mudah, aman dan cepat. Dengan usaha kredit gadai ini, pegadaian melindungi masyarakat yang tidak mempunyai akses kedalam industri perbankan sehingga terhindar dari praktek pemberian uang pinjaman yang tidak wajar. Pelayanan yang sederhana juga melindungi masyarakat dari prosedur dna persyaratan kredit yang berbelit dan menyusahkan dan tidak dapt dipenuhi oleh masyarakat kecil. Hampir semua baarang bergerak dapat dijadikan jaminan barang kredit. Misalnya emas, barang elektronik, mobil, sepeda, sepeda motor, alat-alat rumah
tangga dan kain. Fasilitas pinjaman ini umumnya diberikan kepada petani, nelayan, industri kecil, pedagang, mahasiswa dan ibu-ibu rumah tangga, pegawai negeri.
2. Usaha Jasa Titipan
Jasa titipan adalah fasilitas semacam safe deposit box yang ditawarkan oleh Pegadaian kepada masyarakat dengan maksud untuk melindungi surat-surat dan barang-barang berharga lainnya bila pemiliknya meninggalkan rumah atau menghendaki perlindungan yang lebih aman disbanding disimpan dirumah.
3. Usaha Persewaan Gedung
Usaha persewaan gedung adalah upaya pemanfaatan asset secara optimal. Gedung bersejarah bekas kantor pusat pegadaian direhab sedemikian rupa sebagai Auditorium Kantor Pusat dengn Nama Gedung Langen palikrama. 4. Usaha jasa Taksiran/ Srtifikasi
Jasa taksiran/sertifikasi ditawarkan oleh pegadaian kepada masyarakat dengan maksud untuk melindungi masyarakat dari kemungkinan pemalsuan para penjual barang-barang perhiasan emas permata.