TINJAUAN SISTEM WANATANI DI WILAYAH DAMPINGAN SANNUSA
B. KEGIATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN WANATANI
1. Kondisi wilayah kerja
Wilayah dampingan SANNUSA umumnya berada di daerah dataran tinggi dan daerah pesisir. Misalnya adalah Kecamatan Golewa berada di dataran tinggi, sedangkan Kecamatan Riung dan Aimere berada di daerah pesisir. Di Kecamatan Riung yang terletak di pantai utara Kabupaten Ngada, terdapat 15 desa. Dari jumlah tersebut, yang didampingi oleh SANNUSA adalah sebanyak 7 desa (46,7%) terdiri atas 5 desa pesisir dan 2 desa pedalaman. Karena kondisi topografi yang berbukit–bukit dan curah hujan yang relatif sedikit (4 bulan basah dan 8 bulan panas), maka masyarakat petaninya lebih banyak yang mengusahakan tanaman umur panjang daripada tanaman semusim atau tanaman umur pendek.
Kecamatan Golewa juga merupakan daerah yang cocok untuk pengembangan pertanian lahan kering. Curah hujannya relatif lebih banyak (6 Bulan Panas dan 6 Bulan Hujan) dan kondisi topografinya berbukit–bukit. Kemudian Kecamatan Aimere, terletak di daerah pesisir pantai selatan dan merupakan daerah yang beriklim panas di mana curah hujan dalam setahun relatif sedikit. Topografinya miring dan berbukit, tanaman yang banyak dikembangkan oleh masyarakat adalah tanaman umur panjang seperti jambu mete, kelapa, kemiri dan tanaman pohon/kehutanan.
2. Kondisi sosial ekonomi masyarakat
Masyarakat dampingan SANNUSA kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani, nelayan dan peternak. Anggota kelompok yang terdapat di Kecamatan Golewa dan Aimere semuanya bermata pencaharian sebagai petani. Sedangkan anggota KSU di daerah Riung ada yang bermata pencaharian sebagai petani dan ada pula sebagai nelayan.
Keunikan petani di Kecamatan Riung adalah mereka mengerjakan kebun secara musiman. Hal itu disebabkan karena harus menunggu hujan dan untuk mengisi waktu senggang (antara musim hujan dan musim kering), mereka melakukan profesi sebagai nelayan dan pedagang kecil. Jumlah nelayan tetap di wilayah ini sangat sedikit. Mereka kebanyakan berasal dari luar daerah seperti Selayar, Bugis, Bajo, Buton dan sifatnya masih tradisional.
Pada umumnya lahan yang dikerjakan oleh petani dampingan SANNUSA adalah lahan milik. Kebanyakan adalah tanah yang merupakan warisan dari orang tua dan tanah yang dibeli untuk dikelola. Petani juga memiliki lahan yang diperoleh dengan sistem sewa pakai khususnya yaitu lahan sawah, namun jumlahnya relatif sedikit. Sedangkan petani yang mengolah lahan
Prosiding Lokakarya Wanatani Se-Nusa Tenggara
60
kering, belum ada yang menggunakan sistem sewa pakai. Hal ini karena mereka rata–rata memilki lahan kering dan luasnya rata-rata 0,5-2 Ha. Tetapi lahan tersebut belum dikelola secara maksimal oleh petani.
Tanaman yang banyak diusahakan oleh petani pada umumnya adalah tanaman perkebunan, sedangkan tanaman kehutanan jumlahnya relatif masih sedikit. Kayu untuk bangunan lebih banyak diambil dari hutan atau dibeli dari pengusaha, sementara bahan bangunan dari pohon kelapa dapat dibeli dari masyarakat setempat.
Jumlah anggota keluarga dampingan SANNUSA rata–rata berkisar antara 4-10 orang. Tingkat pendidikan mereka umumnya dari SD sampai PT, tetapi yang paling banyak adalah tamatan SD dan SLTP. Dari ratio perbandingan jumlah rata-rata anggota keluarga dengan sumber penghasilan, terdapat perbedaan yang cukup besar. Jumlah anggota keluarga banyak, sementara luas lahan pertanian yang diusahakan sempit. Hal ini kemudian menyebabkan mereka mencari nafkah tambahan dari luar untuk mencukupi kebutuhan dalam rumah tangga.
3. Sistem wanatani
Masyarakat di wilayah dampingan SANNUSA adalah petani yang sejak dahulu berorientasi pada hasil tanaman pangan. Sistem lahan yang dikembangkan adalah lahan rotasi1133. Pada tahun 70-an di Kecamatan Riung terdapat program 5K yaitu (Kelapa, Kemiri, Kapuk, Kayu Manis dan Kapas) dari pihak pemerintah. Meskipun demikian pola yang diterapkan dalam Program 5K masih bersifat tradisional dan jumlah petani yang terlibat pun sangat sedikit.
Ketika Sannusa mendampingi kelompok masyarakat, mulailah diperkenalkan sistem wanatani. Sistem wanatani yang dikembangkan oleh SANNUSA selalu mempertimbangkan kearifan lokal atau sistem pertanian masyarakat setempat. Model wanatani sekarang ini merupakan model hasil modifikasi, yaitu sistem teknologi terapan yang disesuaikan dengan pertanian tradisional. Pada lahan yang dikelola oleh petani dapat diusahakan tanaman pakan ternak yang sekaligus sebagai terasnya, menanam tanaman umur panjang (kemiri, jambu mente, tanaman buah dan tanaman pangan).
Jenis pohon yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Pohon penghasil kayu; mahoni, jati putih, mbizar (nama lokal), wol, ketapang, bambu dan albesia (sengon).
1
133 Sistem lahan rotasi adalah: lahan yang dilepaskan dalam jangka waktu tertentu dan ketika tanahnya sudah subur, mereka kembali mengolah lahan tersebut.
2. Pohon penghasil buah meliputi kemiri, nangka, mangga, pinang dan kelapa.
3. Tanaman hijauan ternak; kaliandra merah, kaliandra putih, gamal, flamengia dan kinggres.
4. Tanaman perkebunan; jambu mete, coklat, kopi, merica, panili dan sirih. 5. Tanaman pangan yang diusahakan; jagung, padi, sayur-sayuran,
umbi-umbian, kacang-kacangan, pepaya dan pisang.
Tanaman kehutanan sampai sekarang belum dipasarkan dan hanya dikonsumsi sendiri. Tanaman perkebunan, pemasaran yang dilakukan masih sebatas di tingkat desa di mana banyak tengkulak yang mendatangi petani dan harganya cenderung merugikan petani. Hal ini disebabkan karena biasanya tengkulak mampu mengatur harga secara sendiri. Sedangkan untuk komoditi lainnya seperti tanaman pangan dan tanaman buah–buahan, selain dikonsumsi dalam rumah tangga juga sebagiannya untuk dijual. Penjualan dilakukan di tingkat lokal yaitu di pasar desa dan pasar kecamatan.
4. Pengadaan tanaman
Tanaman yang diusahakan oleh petani, umumnya adalah diperoleh sendiri. Mereka biasanya melakukan persemaian baik secara individu maupun lewat kelompok. Hal ini dilakukan sebagai upaya agar petani dapat memahami tentang teknik pembibitan dan kendala-kendala yang harus dihadapi.
C. PERMASALAHAN
Dari sistem wanatani yang diterapkan di atas, ada beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain:
1. Sumber daya manusia untuk pengembangan model wanatani yang ideal masih kurang tersedia.
2. Terbatasnya modal untuk mengusahakan berbagai jenis tanaman karena tanaman yang akan diusahakan diperoleh dari luar daerah. Untuk membeli komoditi unggul juga masih sulit.
3. Mata pencaharian petani yang tidak tetap, iklim yang tidak mendukung menyebabkan petani tidak serius melakukan pengelolaan kebun. Mereka lebih suka mengusahakan pekerjaan sampingan seperti pekerja proyek, nelayan, dan mencatut.
4. Pemasaran komoditi, harga komoditi tidak stabil, dalam hal ini petani selalu mengharapkan agar pemerintah dapat mengatur harga komoditi dengan baik sehingga tidak menimbulkan keresahan di tingkat petani.