PENGALAMAN LAPANGAN LEMBAGA TANANUA FLORES
Dominikus Lewo Teluma 7
A. LATAR BELAKANG
Misi Lembaga Tananua Flores dalam pengembangan program adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kemandirian dalam memperjuangkan haknya. Dari misi tersebut kemudian dirumuskan tujuan program, yaitu meningkatkan pendapatan petani melalui sistem pertanian lahan kering.
Dalam rangka pencapaian tujuan, maka ruang lingkup program yang dilaksanakan menyangkut 3 aspek penting, di antaranya yaitu:
• Pengembangan pertanian secara berkelanjutan meliputi konservasi tanah dan air, perkebunan, kehutanan, hortikultura, peternakan dan kelembagaan pertanian.
• Ekonomi rakyat yang terdiri atas usaha bersama simpan pinjam, pasar komoditi, arisan, jaringan pemasaran dan kredit.
• Kesehatan primer yaitu sanitasi lingkungan, gizi, penyakit menular, obat-obatan tradisional dan air bersih.
Dalam setiap program yang dikembangkan, selalu diintegrasikan dimensi gender. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mencapai keseimbangan dalam peran dan sekaligus untuk mengurangi kemungkinan munculnya ketimpangan dalam interaksinya.
Lembaga Tananua didirikan pada tahun 1985 di Waingapu Sumba Timur dan tercatat dalam akte notaris sejak tahun 1989. Hingga saat ini wilayah kerja lembaga ini telah mencakup ke wilayah Sumba Timur, Sumba Barat, Timor Tengah Selatan, Kupang dan Kabupaten Ende. Untuk Kabupaten Ende, pembinaan sudah dimulai sejak tahun 1987 yaitu di Desa Roga Kecamatan Ndona.
Prosiding Lokakarya Wanatani Se-Nusa Tenggara
46
Jumlah seluruh staf yang menangani program di Lembaga Tananua Flores yaitu sebanyak 15 orang. Mereka terdiri atas 8 orang perempuan dan 7 orang laki-laki. Sedangkan jumlah kelompok tani yang didampingi saat ini adalah 174 kelompok
dengan jumlah anggota sebanyak ± 3.000 KK. Program-program yang
dikembangkan tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang atau kalangan tertentu saja, melainkan untuk semua orang baik laki-laki, perempuan, mosalaki, pengusaha setempat, pengusaha jasa angkutan, pemerintah, dan lain-lain.
B. KEGIATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN WANATANI,
KEHUTANAN DAN PERTANIAN
1. Kondisi biofisik wilayah kerja
Yayasan Tananua Flores, saat ini mendampingi 21 desa dan tersebar di 7 kecamatan di wilayah Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Dari 21 desa tersebut, terdapat 7 desa di antaranya yang didampingi selama 1-3 tahun, sedangkan 14 desa yang lainnya tercatat telah didampingi oleh lembaga antara 4-14 tahun.
Sebagian besar wilayah binaan Lembaga Tananua merupakan desa-desa yang terletak di dataran tinggi. Dengan iklim yang tidak menentu, topografi wilayah yang umumnya sangat miring dan kondisi tanah yang kritis, maka keadaan tersebut sangat mempengaruhi usaha pertanian yang dilakukan oleh penduduk. Padahal hampir semua penduduk desa binaan mempunyai usaha dan menggantungkan kehidupannya di bidang pertanian khususnya pertanian lahan kering. Mereka mengusahakan lahan dengan berbagai tanaman tumpangsari atau penganekaragaman tanaman di atasnya.
2. Kondisi sosial ekonomi masyarakat binaan
Kondisi sosial ekonomi masyarakat dampingan tidak merata, ada yang memiliki lahan sangat luas (keluarga Mosalaki), ada yang hanya memiliki lahan seluas 0,5-1 Ha, tetapi ada juga yang tidak memiliki lahan sama sekali. Golongan keluarga yang sangat miskin terlihat pada kaum janda atau perempuan, karena mereka tidak memiliki tanah warisan seperti halnya anak laki-laki. Petani penggarap biasanya hanya diberi kesempatan untuk mengusahakan tanaman semusim, sedangkan komoditi yang diperdagangkan tidak diusahakan kecuali jika ada perjanjian antara kedua belah pihak.
Jumlah anggota keluarga masyarakat binaan, rata-rata sebanyak 5 orang/KK. Fakta menunjukkan bahwa komposisi penduduk lebih banyak didominasi oleh kaum perempuan daripada laki-laki. Hal ini disebabkan karena jumlah tenaga kerja laki-laki yang meninggalkan anak, istri dan keluarganya pergi ke luar negeri untuk mencari nafkah cukup banyak.
Dalam kegiatan usahatani penduduk, sistem persewaan lahan biasa dilakukan. Misalnya yaitu persewaan tanah di Ende (Lio) yang dilakukan dengan sistem “Kewe”. Dalam hal ini penyewa menyerahkan sejumlah uang atau ternak, kemudian kebun tersebut boleh dikerjakan dalam jangka waktu tertentu dan setelah itu dikembalikan. Sedangkan mengenai aktivitas persewaan pohon, hingga saat ini masih belum ada informasinya.
3. Sistem wanatani yang diterapkan
Lembaga Tananua, dalam pengembangan program pertanian selalu menyesuaikan diri dengan kondisi wilayah. Demikian pula dengan pengembangan sistem wanatani, tetapi pada prinsipnya konsep penganekaragaman, PTD dan LEISA harus menjadi prioritas dalam program. Setiap aktivitas berorientasi pada penangkapan air, karena faktor penentu keberhasilan pertanian lahan kering adalah air.
Pada awal pembukaan lahan, memang masih terdapat sebagian masyarakat yang melakukan tebas bakar dan sistem perladangan berpindah. Kebiasaan ini diharapkan bisa berkurang di mana petani semakin menyadari pentingnya melakukan sistem usahatani yang berkelanjutan, dapat menjaga kelestarian lingkungan dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.
4. Jenis tanaman yang dikembangkan dan peruntukannya
Ada beberapa jenis tanaman yang dikembangkan di wilayah program, di antaranya untuk kayu bangunan seperti mahoni, ampupu, oja, albasia, nangka, dan lain-lain. Kemudian tanaman perdagangan seperti coklat, kemiri, cengkeh, jambu mente, kopi, vanili, pala dan merica. Sedangkan tanaman hortikultura terdiri atas salak, petai cina, limon, mangga dan alpokad. Tanaman yang digunakan sebagai bahan kayu bakar adalah tanaman kaliandra. Tanaman ini sekaligus juga sebagai penyedia makanan bagi ternak ruminansia. Teknik budidaya dilakukan pada suatu lokasi dengan pola yang tidak teratur. Tetapi dalam tumpangsari selalu diperhatikan jenis tanaman yang berbunga pada bulan yang berbeda, bahkan kalau perlu selang tiga bulan.
Dari beberapa jenis komoditas wanatani di atas, tanaman perdagangan seperti kopi, kemiri, cengkeh dan kakao lebih banyak yang dipasarkan, demikian pula dengan jenis tanaman hortikultura yang lain. Sedangkan selebihnya adalah untuk konsumsi keluarga. Sebagian besar hasil usahatani dijual langsung kepada pembeli sesuai kesepakatan harga. Umumnya pemasaran dilakukan di pasar lokal atau di kota kecamatan setiap hari pasaran. Namun akhir-akhir ini banyak pembeli yang datang langsung ke desa-desa dan tentunya dengan kompensasi harga yang memuaskan.
Prosiding Lokakarya Wanatani Se-Nusa Tenggara
48
5. Permasalahan utama yang dihadapi
Beberapa permasalahan penting yang dihadapi dalam pengembangan program wanatani, di antaranya:
• Masyarakat lokal mulai mengabaikan tanaman lokal yang ada.
• Nampak adanya upaya monokulturisasi.
• Banyak tanaman yang ditebang hanya untuk kebutuhan kayu bangunan.
• Daerah-daerah penangkapan air sering dirusak dan masyarakat kurang memperhatikan upaya konservasi lahan.
• Sistem perbankan selalu menyudutkan petani.
• Teknologi konservasi belum dipahami secara lengkap.
• Kebijakan dan peraturan yang mengatur konservasi sumber daya alam tidak dilaksanakan secara penuh (kurang serius)
• Dalam kaitan dengan pemasaran hasil, masih mengikuti pola lama tanpa adanya terobosan baru.