BAB II. LANDASAN TEORI
C. Kehidupan dan Peraturan Asrama Syantikara
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) asrama berarti bangunan tempat tinggal bagi kelompok orang untuk sementara waktu, terdiri atas sejumlah kamar, dan dipimpin oleh seorang kepala asrama. Pendapat ini didukung Aryatmi (dalam Prasetyo,2004) yang mendefinisikan asrama sebagai rumah pemondokan agak besar yang menerima banyak anak atau orang dan berhubungan dengan salah satu sekolah atau yayasan yang memiliki tujuan tertentu. Anak yang diterima dalam asrama tersebut merupakan kelompok selektif dan memiliki ciri yang sama. Kehidupan dan peraturan asrama menjadi acuan bagi seseorang dalam menentukan pilihan untuk hidup di kost atau asrama. Asrama Syantikara dalam kehidupannya mempunyai berbagai macam aturan tegas yang harus ditaati oleh
seluruh warga asrama tanpa terkecuali. Mulai dari jam, pengaturan kamar, kebiasaan dalam unit, sampai tugas – tugas yang harus dilakukan tiap minggunya, semua itu diatur dan dikenalkan ke warga saat mereka masuk ke asrama ini untuk pertama kalinya. Pengenalan warga akan peraturan yang berlaku di asrama dan keharusan mengenal warga lama diberikan dalam masa orientasi mahasiswa, sering disebut POSMA (Pekan Orientasi Mahasiswa).
Ada beberapa tugas yang wajib dilakukan warga setiap seminggu sekali. Tugas yang disebut “tugas unit” ini terdiri dari bermacam – macam kegiatan yang tiap minggunya dilakukan secara bergantian oleh anggota masing – masing unit. Tugas unit yang merupakan kewajiban untuk membersihkan unit yang ditempati warga, antara lain mengepel, membersihkan kaca, membersihkan kamar mandi, menata rak sepatu, dan lain – lain.
Dalam asrama ada pengaturan waktu seperti “jam tamu” (waktu yang diperbolehkan untuk dikunjungi) dalam tiap harinya dari pukul 16.00 WIB sampai dengan pukul 17.30 WIB. Lebih dari itu warga tidak diperbolehkan menerima kunjungan kecuali dari orang tua. Sedangkan “jam tenang” merupakan jam yang berfungsi sebagai penanda waktu belajar warga yang dimulai dari pukul 08.00 WIB – pukul 10.00 WIB dan dilanjutkan pukul 19.00 WIB – 21.00 WIB. Warga diharuskan pulang setiap hari sebelum pukul 22.00 WIB, dan selebihnya bagi warga yang melanggar ketentuan tersebut akan menerima konsekuensi yang diberikan oleh suster. Kepergian warga tiap hari setelah pukul 18.00 WIB harus memberitahu suster atau paling tidak “simbok” dan “wakil simbok” (sebutan bagi
ketua unit dan wakilnya), ke mana tujuannya dan jam berapa mereka akan pulang.
Setiap harinya warga tidak diperkenankan untuk menonton televisi. Warga boleh menonton televisi hanya setiap hari Sabtu dan Minggu. Tidak boleh menonton televisi bukan berarti warga kehilangan hak untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan dunia, karena asrama telah menyediakan beberapa media cetak untuk dibaca setiap harinya.
Ada lagi peraturan “pindah unit” yang dilaksanakan tiap tahun. Pindah unit merupakan kebiasaan asrama yang dilakukan untuk mengubah formasi warga dalam satu unit. Formasi tersebut selalu berganti dan warga tidak punya hak untuk menentukan siapa yang menjadi teman satu unitnya, karena yang berhak menentukan adalah suster.
Ada juga kebiaasan yang selalu dilakukan oleh tiap unit walaupun itu bukan merupakan peraturan asrama namun tidak jarang hal itu sering dilakukan oleh setiap unit. Misalnya “rapat unit”. Kebiasaan ini merupakan kegiatan yang dipakai warga sebagai sarana penyelesaian masalah baik personal maupun unit.
Asrama mempunyai kegiatan bersama yang difasilitasi oleh beberapa warga. Warga yang dipercaya sebagai pengelola kegiatan dan menjadi penghubung antara suster dengan warga ataupun warga dengan pihak luar mendapat sebutan sebagai pengurus. Pengurus mempunyai masa jabatan selama satu tahun ajaran. Yang berhak menentukan calon kepengurusan adalah warga sendiri, namun tidak jarang suster juga mengambil peran di dalam pengambilan keputusan. Kepengurusan dibagi ke dalam dua bagian, kepengurusan inti dan
kepengurusan harian. Pengurus inti selain bertugas sebagai pelaksana tugas – tugas inti, mereka juga mengkoordinasi beberapa kegiatan harian asrama yang dikelola oleh masing – masing koordinator.
Awalnya kegiatan asrama hanya difokuskan pada kegiatan dalam lingkungan asrama saja. Namun tepatnya tahun 1986, untuk menumbuhkan kepekaan, kerjasama, kepedulian pada masyarakat, serta supaya ada hubungan dengan masyarakat, asrama menetapkan harus ada kegiatan ke luar yang kemudian dinyatakan sebagai kegiatan wajib. Kegiatan tersebut seperti mendampingi bimbingan belajar anak – anak di Pingit, Sagan, dan Code, pendampingan iman untuk warga sekitar, serta beberapa keikutsertaan warga dalam kegiatan politik.
Kegiatan – kegiatan asrama harus dipilih oleh masing – masing warga, namun tidak semua ditujukan ke luar. Ada beberapa kegiatan ke dalam yang tetap memberi kesempatan pada warga asrama yang mengalami kesulitan dalam membagi waktunya dengan studi. Kegiatan tersebut seperti koor, akademik, ilmiah, dan kegiatan di luar asrama seperti kegiatan kampus, organisasi kepemudaan dan berbagai kegiatan lain selama kegiatan tersebut tidak mengganggu studi dari masing – masing warga.
Para mahasiswi yang tinggal di Asrama Syantikara dituntut tidak hanya berkembang kemampuan intelektualnya saja tetapi juga kedewasaan pribadi. Berbagai kegiatan yang dilakukan menjadi sarana melatih kerjasama, mengembangkan sikap sederhana di tengah maraknya arus globalisasi, serta lewat interaksi dengan banyak orang yang memiliki latar belakang, suku, agama, dan
budaya, diharapkan dapat dibangun sikap saling menghargai dalam semangat persaudaraan sejati seraya mengembangkan keterbukaan memperluas wawasan.
Kedewasaan pribadi dibentuk Asrama Syantikara dalam tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan. Pemahaman tentang aturan mampu menjadikan warga memahami maksud dan makna suatu tindakan. Diharapkan peraturan – peraturan yang ada mampu mengarahkan dan membantu masing – masing pribadi untuk kehidupan mereka di luar kelak.
Kesederhanaan dalam hidup berasrama tidak hanya sebatas aturan dan kegiatan yang dihayati bersama namun makna – makna yang terkandung di dalamnya pun tetap dipegang dalam kehidupan mereka. Larangan membawa Hand Phone (HP), sepeda motor dan pemakaian listrik asrama mungkin merupakan hal yang naïf untuk masa sekarang. Akan tetapi asrama bukannya anti teknologi. Larangan menggunakan barang – barang di atas hanyalah sebagai salah satu cara agar teknologi tersebut pelan – pelan diolah sehingga tidak menjadi bumerang bagi warga nantinya.
Tidak semua warga boleh membawa HP. Seperti halnya warga tingkat satu yang dirasa belum perlu untuk memiliki barang tersebut. Sedangkan warga tingkat dua yang harus menghubungi dosen dengan alat komunikasi tersebut karena kesulitan bertemu, akan diizinkan oleh suster. Berbeda dengan warga tingkat empat dan lima yang sudah diizinkan membawa HP tanpa syarat apapun. Meski demikian, warga tetap harus jujur melapor kepada suster akan kepemilikan barang tersebut. Main sembunyi – sembunyi sangat dihindari terjadi dalam asrama,
karena hal itu akan menumbuhkan watak tidak jujur yang akan merugikan warga nantinya.
Sama halnya dengan kepemilikan HP, asrama tidak mengizinkan semua warga memiliki sepeda motor. Hanya warga yang tempat kuliahnya tidak terjangkau dengan kendaraan umum dan memiliki banyak kegiatan yang diperbolehkan membawanya. Selain alasan tidak tercukupinya tempat untuk parkir, suster berharap agar warga tidak begitu mudah lari dari asrama saat menghadapi masalah. Apa yang sedang dihadapi di asrama harus diselesaikan di dalam asrama.
Warga boleh membawa sepeda jika menginginkannya. Sepeda bisa dimanfaatkan saat mereka pergi ke kampus maupun kegiatan asrama yang dilakukan malam hari, seperti saat memberi bimbingan belajar di Code.
Warga tidak boleh memakai listrik untuk sembarang kegiatan. Warga hanya boleh memakai listrik untuk komputer dan menyeterika yang dilakukan di ruang seterika. Harapannya agar warga bisa mengontrol apa yang mereka pakai.
Adanya jam tamu, jam belajar dan larangan meminjam barang milik orang lain tanpa izin pemilik mengajarkan mereka bagaimana harus menghargai waktu dan privasi orang lain. Larangan untuk pulang melebih jam yang telah ditentukan membuat warga sadar akan pentingnya menjaga keselamatan pribadi di masyarakat. Kebiasaan hidup sehari – hari yang warga lakukan membantu mereka untuk menyelesaikan sesuatu tanpa mesti tergantung orang lain. Kepekaan pada warga lain menjadikan mereka lebih peduli pada sesama.
Sejak awal para pendiri mengharapkan agar asrama tidak hanya sebagai tempat tinggal bersama, namun lebih ditujukan sebagai wadah dan sarana pembinaan diri. Tujuan pokoknya yaitu melatih sikap jujur, kepekaan, rasa tanggung jawab, kepedulian pada sesama, kemandirian, serta menumbuhkan rasa toleransi pada sesama yang berbeda.
Para suster (sebagai pimpinan asrama) dan warga Syantikara dalam kesehariannya, dibantu oleh beberapa karyawan. Para karyawan bertugas untuk membersihkan asrama, mengantar suster belanja, membetulkan saluran yang rusak, serta membuat berbagai peralatan yang menjadi kebutuhan asrama seperti meja, kursi, tempat tidur, bahkan juga bertugas untuk membetulkan genteng saat ada kebocoran (Widhayanie, 2004).