Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
Disusun oleh :
Anastasia Ika Septiana
NIM : 999114013
NIRM : 990051121705120012
Program Studi Psikologi
Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
JOGJAKARTA
Dalam perjuangannya dia dibantu oleh para malaikat, kekuatan alam raya menempatkan setiap benda sesuai dengan tempatnya, sehingga memberi jalan pada sang ksatria untuk menyumbangkan kemampuan terbaiknya.
Sahabat – sahabatnya berkata,” Dia sangat beruntung!”. Dan sang ksatria kadang – kadang mampu merengkuh segala hal di luar kemampuan tindakannya.
Itulah sebabnya mengapa pada waktu matahari terbenam dia bersimpuh dan menghaturkan rasa syukur atas zirah pelindung yang melingkupinya.
Namun ketertarikannya tidak terbatas pada dunia spiritual semata; dia tidak pernah melupakan sahabat – sahabatnya, selama
darah mereka bercampur bersama dalam dirinya di medan
pertempuran.
Seorang ksatria tidak perlu diingatkan tentang bantuan yang diberikan oleh orang lain padanya; dialah orang pertama yang ingat dan ia tentu membagi – bagikan ganjaran yang diterima pada mereka………..
(The Warrior of The Light – Paulo Coelho)
Untuk yang terkasih Bapa di surga Orang tuaku P. Slamet Santosa – Yustina Suripti Kedua adikku Christina Dwi Susanti – Agustine Tri Putri Diriku sendiri Akhirnya aku menang !!!!!!!!!
Deskripsi Penyesuaian Diri Penghuni Asrama
Anastasia Ika Septiana 999114013
Universitas Sanata Dharma Jogjakarta
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana penyesuaian diri di asrama. Asrama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Asrama Mahasiswa Syantikara. Latar belakangnya yaitu karena penghuni Asrama Syantikara semuanya mahasiswi yang berbeda asal, latar belakang, agama, dan perguruan tinggi. Hal inilah yang menarik peneliti untuk mengetahui bagaimana para mahasiswi tersebut menyesuaikan diri dengan kehidupan dan peraturan yang ada.
Subyek penelitian kali ini adalah seluruh penghuni Asrama Syantikara yang berjumlah 102 orang. Alat ukur yang digunakan yakni skala yang dibuat sendiri oleh peneliti. Uji realibilitas menggunakan SPSS 13.0 dengan koefisien Alpha Cornbach sebesar 0,937. Itemyang gugur sebanyak 37 dari keseluruhan 88 item, sehinggaitemyang layak pakai sebanyak 51 butir.
Hasil analisis data mengungkapkan bahwa secara umum tingkat penyesuaian diri pada penghuni Asrama Syantikara tinggi, dengan perincian 100 orang subyek termasuk kategori tinggi dan 2 orang lainnya termasuk kategori sedang.
The Description of Self Adjustment of Dormitory Occupant
Anastasia Ika Septiana 999114013
Sanata Dharma University Jogjakarta
This research aimed to describe how the self adjustment at dormitory. The dormitory which was used as a subject was Syantikara, which all the occupants are girls. The reason was that the occupants of Syantikara have different social background and religion, and also they study in different colleges. That was why the writer was interested to understand how the occupants adapt to the existence of the dormitory.
The subjects were all the occupants of Syantikara, which consists of 102 students. Realibility test used SPSS 13.0 which coefficient of Alpha Cornbach was 0,937. The number of failed items were 37 of 88 items, so that the number of valid items were 51 items.
The result stated that generally the self adjustment was high, which the detail was that 100 students in high level and the rest in the middle level.
Puji syukur Bapa di surga atas berkat-Mu yang melimpah, untuk selalu ada dan selalu memberikan apa yang ku butuhkan. Akhirnya saya dapat melesaikan skripsi dengan judul “Deskripsi Penyesuaian Diri Penghuni Asrama”.
Banyak pihak yang terlibat dalam penulisan skripsi ini baik disadari atau tidak, yang mungkin tidak bisa saya sebutkan semuanya….. Terima kasih untuk Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma yang sudah memberikan izin penelitian, Ibu Sylvia C.M.Y.M.,S.Psi.,M.Si., selaku Kaprodi dan dosen pembimbing (Ibu, makasih
untuk semuanya.. ketelitian, masukan dan saran, serta sharring-nya yang menguatkan saya.…), Ibu A. Tanti Arini, S.Psi., M.Si., selaku dosen pembimbing akademik (makasih ya Bu atas pengertian dan. dorongannya.), dan seluruh dosen dan karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, mbak Naniek, mas Gandung, pak Gi, mas Muji, dan mas Doni (hehehe… maaf ya mas atas segala kehebohan yang ditimbulkan dan makasih atas bantuannya).
Terima kasih juga untuk Suster Benedicte CB dan segenap penghuni Asrama Mahasiswi Syantikara yang telah bersedia memberikan izin dan bantuan penelitian kepada saya. Kebersamaan Anda semua sungguh mengagumkan…. Mungkin sekarang Anda belum merasakannya, tapi saya sebagai “orang luar” telah menyaksikan sendiri kebaikan dari “masyarakat kecil” kalian.. Khusus untuk wargaKopel XI (Mika– makasih komputernya ya.. Jalan – jalan lagi yux…. , Selly – buat ide cemerlangnya, hehe…. , Ani, Yaya, Shanti, Wulan) makasih ya buat penerimaan kalian, baik sukarela ataupun
terpaksa menjadigreat escape-ku di saat – saat tertentu…
Bagi kedua orang tua-kuP.Slamet Santosa(Be, makasih atas penerimaan, kesabaran dan kebebasan yang tiada berbatas…),Yustina Suripti(makasih ya Mi untuk doa dan dorongan yang ga pernah putus). Tuhan memang maha baik dan maha tahu, sungguh beruntung aku menjadi anak kalian…. Untuk adik – adikku
untuk semua doa dan harapan yang ga pernah hilang dari kalian terhadapku, juga atas segala bantuan dan kekuatan yang aku dapat dari kalian.. Makasih juga untuk keluarga Om Diyo & Bulik Tien (mb Rita, mas Yudi, si centil Kanaya – mb Tuti, mas Jefri, si unyil Kimora – Dion, Nova, si Nduti Marvell), Om Is &
Bulik Mamiek (adik-adikku Reni, Tata, Villa), Om Tatheng & Tt. Andar
(Garry & Titan), (tante) Nining, kel. Bulik Susilah (rumah pertamaku di Jogja)& keluarga besar Eyang Sarosa untuk semua pertanyaan dan dukungan yang sudah diberikan. Untukalm. Eyang2& mbah2– ku, maaf…. Baru sekarang bisa kuwujudkan.
Tidak lupa untuk Rini sahabatku (15 tahun yang panjang!) & kel. Om Wahyuno yang menjadi tempat pelarianku selama 5 minggu (makasih untuk semuanya dan maaf sudah merepotkan..). Teman – teman masa kecil yang ga pernah berhenti kasih semangat : Bayu, Lydia, Terrik, Helen, Roy & Jusak. Teman – temanku SMU: Lala (makasih u/ Nanda),Kunti, Josephine, Tina, Ayoe, & Bintarayang selalu tanya kapan lulusnya…
Rani (tanpa kamu aku ga mungkin bisa jadi begini. Makasih untuk setiap detik kebersamaan kita..banyak banget hal2 yang kudapat dari kamu) & kel. Zaluchu (Tante, mb Fatti-mas Han, Dita, Willy) yang selalu menerimaku dengan tangan terbuka. Makasih juga untuk Ninuk (kamu membuktikan bahwa sahabat sejati itu masih ada!), Dhayana (hehe.. aku berubah ya..), Lisa, Andy, Yuli, Robert,akhirnya aku nyusul kalian !!!
Kel besar TPA-TK Grha Asih Anak yang menjadi keluargaku; Ibu Yustina (makasih atas pengertian dan doanya), Ibu Ninik, Ibu Sriyanto, Ibu Tri, Ibu Purwanti, Mb. Dina (u/ sms & kabar2up to date-nya), Mb. Erni, Mb. Maria (u/ dukungannya), & Mb. Karni. Sungguh beruntung bisa ikut berproses bersama kalian. Juga untuk malaikat – malaikat kecil yang mengajariku untuk lebih sabar & menjadi dewasa;Amara, Juan, Ian-Ano, Abed, Aldo, Esa, Argya, Amanda, Evelyn, Matthew, Anind (makasih u/ Ibu Ch.Sri Windyaningsih & mb Ernadi sekrt PR II),Riri, Dita, Josean, Jati, Fanny, dll.
atas kebersamaan di PIA Kota Baru. Maafkan aku yang galak ini . Juga teman-teman lain;Andi, Elang, Pt, Hayu, Yofi, Seva, Dina,dan barisan “pria berjubah” yang ga pernah putus “meledek” supaya aku bersemangat ;Br. Bambang (duluan siapa ni?), Rm. Andalas (best teacher), Rm. Gandhi, Rm. AriNdut, & Rm. Setyawan (si Om), jangan pernah melepaskan Imamat kalian ya.. Hwa………. Aku kangen dengan masa-masa dulu………
Untuk teman – teman kost; Rintul (makasih buat komputernya…), mb. Vit(makasih u/ kerokannya), Ucique, Ida(kamu baik banget ya…mau bikinin power point & menguatkanku di saat aku rapuh), Anggun, Rena, my roommate Anast, & Ibu Lilik (makasih ya Bu u/ menjadi Ibu, sahabat, teman diskusi, & curhat yang sip!!!).
Krisna, makasih buatabstract-nya ya. Lulus tes pertama wis…… Keluarga Panjaitan (Daddy Erwin, Mami Jean, Cherry, Chacha, Clara, & Craig. Makasih atas doa dan keceriaan yang selalu ada. Makasih udah nerima aku di tengah keluarga kalian yang menyenangkan.
The last but not least, teman – teman seperjuangan; Dian & Tessa (duh…sungguh beruntung aku bisa kenal kalian di saat – saat terakhirku. Makasih ya…), Denny, Vincent, Lina, Della, Tony, Puti, Trini, Adi, Melly, Asih, dll, makasih atas kebersamaan kita. Pfiuuhhh………Akhirnya bisa juga ya………… Kapan ni rame – rame bisa liburan di Jogja?
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu saya terbuka untuk menerima kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini. Semoga dapat dipergunakan sebagai mana mestinya.
Penulis
Halaman
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI... xi
DAFTAR TABEL... xiv
DAFTAR GRAFIK... xv
DAFTAR LAMPIRAN... xvi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II. LANDASAN TEORI A. Penyesuaian Diri ... 1. Pengertian Penyesuaian Diri ... 7
2. Proses Penyesuaian Diri... 9
4. Faktor – Faktor Penyesuaian Diri ... 13
5. Penyesuaian Diri dan Aspek - Aspeknya ... 14
B. Mahasiswa... 1. Batasan Usia... 18
2. Tugas Perkembangan Remaja ... 19
C. Kehidupan dan Peraturan Asrama Syantikara... 21
D. Dinamika Psikologis ... 27
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 30
B. Subyek Penelitian... 31
C. Variabel Penelitian ... 32
D. Definisi Operasional... 32
E. Metode Pengumpulan Data ... 34
F. Validitas, SeleksiItem,dan Reliabilitas,... 1. Validitas ... 36
2. Seleksi Item ... 37
3. Reliabilitas ... 39
G. Analisis Data ... 39
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Orientasi Kancah 1. Sejarah Syantikara... 41
2. Penghuni Syantikara ... 41
4. Agama ... 45
5. Asal Daerah... 45
B. Pembahasan 1. Penelitian... 46
2. Hasil Penelitian a. Uji Normalitas ... 47
b. Deskripsi Data Penelitian... 47
c. Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri ... 49
d. Grafik Penyesuaian Diri... 50
e. Kategori Penyesuian Diri ... 50
e.1. Aspek Kontrol Emosi ... 52
e.2.Aspek Belajar Dari Pengalaman... 52
e.3.Aspek Berorientasi Pada Tugas... 53
e.4.Aspek Interaksi Sosial ... 54
3. Pembahasan Hasil Penelitian ... 56
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 61
B. Keterbatasan Penelitian ... 61
C. Saran ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 63
LAMPIRAN ... 66
Halaman
Tabel 1 Blue PrintSkala Penyesuaian Diri... 32
Tabel 2 Kisi- kisi Skala Penyesuaian Diri... 33
Tabel 3 DistribusiItemSetelah Digugurkan... 36
Tabel 4 DistribusiItemYang Baru ... 36
Tabel 5 Norma Kategori Jenjang ... Tabel 6 Deskripsi Data Penelitian... 44
Tabel 7 Distribusi Frekuensi Skor Penyesuaian Diri ... 46
Tabel 8 Kategorisasi... 48
Tabel 9 Hasil Penelitian ... 48
Tabel 10 Kategorisasi Aspek 1 ... 49
Tabel 11 Kategorisasi Aspek 2 ... 50
Tabel 12 Kategorisasi Aspek 3……… 51
Tabel 13 Kategorisasi Aspek 4……….... 52
Tabel 14 Kategorisasi Persentase Per Aspek……….. 52
Halaman Gambar 1 Grafik Frekuensi Penyesuaian Diri ... 50
Halaman
Lampiran A Skala Penelitian ... 66
Lampiran B Data Penelitian ... 67
Lampiran C SeleksiItem... 68
Lampiran D Uji Reliabilitas ... 69
Lampiran E Hasil Penelitian ... 70
Lampiran F Surat Keterangan Penelitian………...… 71
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Itulah salah satu filosofi orang Minang (Minangkabau, Sumatra Barat). Mereka percaya bahwa sukses diraih bila mereka menjunjung tinggi adab, kebiasaan, kebudayaan masyarakat di mana mereka tinggal. Suku Minang adalah contoh orang yang paling sukses ketika hidup merantau. Jarang ada cerita konflik etnis Minang dengan etnis lain di perantauan. Kita pun akan sukses bergaul dengan orang – orang baru, bila kita menjunjung tinggi adat, kebiasaan, dan kebudayaannya (Nashori, 2007).
Dalam hidup ini, kita tidak lepas dari keharusan untuk bergaul dengan orang – orang baru. Saat kita meninggalkan daerah asal, mau tak mau kita harus berkenalan dan hidup berada di antara orang – orang baru, bahkan mereka menjadi mitra kita.
Perpindahan ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa yang akan bekerja, tetapi juga para pelajar dan mahasiswa. Demi meraih cita – citanya mereka rela menuntut ilmu sampai ke tempat yang belum pernah mereka datangi sekalipun. Untuk itu mereka harus mandiri, meninggalkan keluarga dan lingkungan yang mereka cintai. Tentunya akan banyak perubahan dalam kehidupan yang mereka alami. Dari yang terbiasa dengan hidup nyaman bersama orang tua, tiba – tiba kini mereka harus hidup mandiri, mengurusi segala sesuatunya sendiri, mulai dari kebutuhan primer seperti makan, tidur, pakaian,
serta bersosialisasi, dan terutama masalah studi; kapan saat belajar, bagaimana cara belajar yang tepat, dan lain – lain. Kemudian mereka akan tinggal di lingkungan yang baru. Ada yang tinggal di tempat saudara, kost – kost –an, dan beberapa tinggal di asrama.
Banyak hal yang membedakan kost, apartemen, dan asrama. Bagi mereka yang tinggal di kost atau apartemen segala sesuatunya lebih bebas jika dibandingkan dengan mereka yang tinggal di asrama (walaupun bukan berarti kost atau apartemen tidak mempunyai aturan sama sekali). Di kost, bapak / ibu kost biasanya tidak terlalu bertanggung jawab terhadap kehidupan anak kostnya. Aturan – aturan bersama yang ditetapkan tidak terlalu mengikat para penghuni kost, ssehingga rumah kost lebih berfungsi sebagai tempat pengembangan privasi. Demikian juga halnya dengan apartemen. Bangunan apartemen dirancang untuk memungkinkan setiap orang yang tinggal di dalamnya lebih bebas untuk mengembangkan individualitasnya. Tidak adanya pengawasan dari pengelola dalam hidup sehari – hari membuat setiap penghuni bebas melakukan apapun yang diinginkan. Bahkan terkadang mereka tidak saling mengenal, apalagi untuk melakukan kegiatan bersama.
kepekaan sosial yang terus dilatih dengan hidup berasrama dan berinteraksi dengan orang lain dalam satu atap. Inilah yang membuat penghuni asrama hidup tidak sebebas mereka yang tinggal di kost atau apartemen. Hal – hal tersebut membuat peran asrama kurang populer di mata mahasiswa.
Asrama jika dilihat dari fungsinya memang pada dasarnya sama dengan kost, yaitu sebagai tempat tinggal para mahasiswa yang merantau ke tempat yang jauh dari rumah untuk mencari ilmu dalam dunia universitas. Namun yang membedakannya dengan kost adalah harapan dan peran asrama yang ditujukan untuk perkembangan anggota asrama. Bukan hanya berkembangnya kedewasaan intelektual para anggota tetapi juga mengejar target kedewasaan pribadi.
Kehidupan sebuah asrama tidak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan, dalam hal ini kampus, tempat di mana mereka (para mahasiswa) menggali kemampuan intelektualnya. Berdirinya sebuah asrama diharapkan mampu menumbuhkan kedewasaan pribadi dan perkembangan intelektual mahasiswa secara bersama – sama dan tidak berjalan sendiri – sendiri.
bagaimana mereka mampu bekerja, bertanggung jawab terhadap dirinya, lingkungannya, dan orang lain.
Asrama sebagai lokasi penelitian kali ini adalah Asrama Syantikara. Asrama Syantikara sebagai salah satu asrama bagi mahasiswa putri di Yogyakarta merupakan gambaran kecil masyarakat Indonesia. Asrama ini memuat keanekaragaman di dalamnya, baik itu suku, ras, agama, maupun golongan. Sejak awal berdirinya, Syantikara memiliki sebuah motto yang sampai saat ini masih teguh dijadikan pedoman dalam setiap perjalanan kehidupannya, baik warga sendiri maupun asrama pada umumnya. Motto tersebut yang dalam bahasa Latin adalah “Caritas et Sapientia” mengandung arti “Cinta dan Kebijaksanaan”. Asrama Syantikara dalam kehidupannya selalu mengajarkan makna – makna kesederhanaan pada setiap warganya.
Namun untuk menyesuaikan diri bukanlah hal yang mudah. Banyak individu yang menderita karena ketidakmampuannya dalam menyesuaikan diri. Baik dalam kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan, dan dalam masyarakat pada umumnya. Tak jarang pula banyak orang mengalami stress dan depresi disebabkan oleh kegagalan dalam penyesuaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan (Majalah Psikologi Plus, vol.II no.1 Juli 2007).
Bagi penghuni Asrama Syantikara penyesuaian diri mutlak diperlukan agar mampu hidup bersama dengan suasana yang penuh cinta dan kebijaksanaan, hal mana yang sesuai dengan motto asrama. Penghuni dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang berlaku. Inilah yang terkadang berbenturan dengan kehendak hati mereka. Penghuni Asrama Syantikara yang semuanya adalah mahasiswi berusia sekitar 18-23 tahun. Usia ini masih berada dalam tahap remaja akhir, di mana seperti yang kita ketahui usia remaja adalah usia yang menghendaki kebebasan untuk mencoba – coba terhadap segala sesuatu. Terlebih bagi sebagian besar penghuni ini adalah kali pertama mereka lepas dari jangkauan kontrol orang tua. Dalam pergaulan di dunia luar mereka menyaksikan kehidupan teman – teman mereka yang tinggal di luar asrama tidak terikat peraturan ketat seperti mereka. Selain itu lokasi asrama yang berada di tengah kota, tidak hanya dekat dengan kampus, tetapi juga dekat dengan pusat perbelanjaan dan warung makan membuat hidup sederhana menjadi suatu hal yang sulit untuk diterapkan.
untuk menjadikan manusia dewasa yang berpotensi merupakan hal yang menarik untuk dibahas.
B. Rumusan Masalah
Melihat latar belakang di atas, maka muncullah suatu permasalahan yaitu bagaimanakah penyesuaian diri penghuni Asrama Syantikara terhadap kehidupan di dalam asrama?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penyesuaian diri penghuni Asrama Syantikara terhadap kehidupan di dalam asrama.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai penyesuaian diri para penghuni Asrama Syantikara dengan kehidupan di dalam asrama.
2. Manfaat Teoritis
LANDASAN TEORI
A. Penyesuaian Diri
1. Pengertian Penyesuaian Diri
Konsep penyesuaian diri berasal dari pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi yang merupakan konsep dasar dalam teori evolusi Darwin ( www.e-psikologi.com). Dalam biologi, istilah yang digunakan ialah adaptasi. Menurut teori tersebut hanya organisme yang paling berhasil menyesuaikan diri terhadap lingkungan fisiknya sajalah yang dapat tetap hidup (Vembriarto,1993).
Senada dengan hal ini, dalam Huffman (1997), adaptasi adalah perubahan struktural atau fungsional yang membuat individu dapat bertahan hidup.
Sesuai dengan pengertian tersebut, maka tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan tempat ia hidup seperti cuaca dan berbagai unsur alami lainnya. Semua makhluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat bertahan hidup. Dalam istilah psikologi, penyesuaian diri disebut dengan istilah adjustment.
Menurut Davidoff (dalam www.e-psikologi.com), adjustment itu sendiri merupakan proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan. Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya. Kehidupan itu
sendiri secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus – menerus menyesuaikan diri.
Berdasarkan uraian di atas, penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan – hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.
Schneiders dalam Ali dan Asrori (2004) berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu :
a. penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation)
Penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisiologis atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daaerah dingin tersebut.
b. penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity)
menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial, maupun emosional.
c. penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery)
Penyesuaian diri diartikan sebagai usaha penguasaan (mastery) yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respon dalam cara – cara tertentu sehingga konflik – konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.
Berdasarkan tiga sudut pandang tentang penyesuaian diri yang tersebut di atas, akhirnya penyesuaian diri atau personal adjustment dapat diartikan sebagai suatu proses yang mencakup respon – respon mental dan behavioral yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan – kebutuhan internal, ketegangan, frustrasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau lingkungan tempat individu berada.
Dalam penelitian ini penyesuaian diri atau personal adjustment diartikan sebagai proses perubahan perilaku individu agar dapat hidup selaras dengan tuntutan – tuntutan baik dari dalam maupun dari luar individu (lingkungan).
2. Proses Penyesuaian Diri
Sears (1994) menyatakan pada dasarnya orang menyesuaikan diri karena dua alasan utama, yaitu :
b. kita menyesuaikan diri karena ingin diterima secara sosial dan menghindari celaan
Menurut Schneiders dalam Ali dan Asrori (2004) setidaknya ada tiga unsur yang terlibat dalam proses penyesuaian diri, yaitu :
a. motivasi
Motivasi dapat dikatakan sebagai kunci untuk memahami proses penyesuaian diri. Motivasi merupakan kekuatan internal yang menyebabkan ketegangan dan ketidakseimbangan dalam organisme. Ketegangan dan ketidakseimbangan merupakan kondisi yang tidak menyenangkan karena sesungguhnya kebebasan dari ketegangan dan keseimbangan dari kekuatan – kekuatan internal lebih wajar dalam organisme apabila dibandingkan dengan kedua kondisi tersebut. Ini sama dengan konflik dan juga frustrasi yang tidaak menyenangkan, berlawanan, dengan kecenderungan organisme untuk meraih keharmonisan internal, ketenteraman jiwan dan kepuasan dari pemenuhan kebutuhan dan motivasi. Ketegangan dan ketidakseimbangan memberikan pengaruh kepada kekacauan perasaan patologis daan emosi yang berlebihan atau kegagalan mengenal pemuasan kebutuhan secaara sehat karena mengalami frustrasi dan konflik.
ditentukan terutama oleh kualitas motivasi, selain juga hubungan individu dengan lingkungan.
b. sikap terhadap realitas dan proses penyesuaian diri
Berbagai aspek penyesuaian diri ditentukan oleh sikap dan cara individu bereaksi terhadap manusia di sekitarnya, benda – benda, dan hubungan – hubungan yang membentuk realitas. Secara umum, dapat dikatakan bahwa sikap yang sehat terhadap realitas dan kontak yang baik terhadap realitas itu sangat diperlukan bagi proses penyesuaian diri yang sehat. Beberapa perilaku seperti sikap antisosial, kurang berminat terhadap hiburan, sikap bermusuhan, kenakalan, dan semaunya sendiri, semuanya itu sangat mengganggu hubungan antara penyesuaian diri dengan realitas.
Berbagai tuntutan realitas, adanya pembatasan, aturan, dan norma – norma menuntut individu untuk terus belajar menghadapi dan mengatur suatu proses ke arah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap dengan tuntutan eksternal dari realitas. Jika individu tidak tahan terhadap tuntutan – tuntutan itu, akan muncul situasi konflik, tekanan, dan frustrasi. Dalam situasi seperti itu, organisme didorong untuk mencari perbedaan perilaku yang memungkinkan untuk membebaskan diri dari ketegangan.
c. pola dasar penyesuaian diri
menemukan pemecahan yang berguna mengurangi ketegangan anatara kebutuhan akan kasih sayang dengan frustrasi yang dialami. Boleh jadi, suatu saat upaya yang dilakukan itu mengalami hambatan. Akhirnya dia akan beralih pada kegiatan lain untuk mendapat kasih sayang yang dibutuhkannya, misalnya dengan mengisap – isap ibu jarinya sendiri. Demikian juga pada orang dewasa, akan mengalami ketegangan dan frustrasi karena terhambatnya keinginan memperoleh rasa kasih sayang, memperoleh anak, meraih prestasi, dan sejenisnya. Untuk itu, dia akan berusaha mencari kegiatan yang dapat mengurangi ketegangan yang ditimbulkan sebagai akibat tidak terpenuhi kebutuhannya.
3. Macam – Macam Penyesuaian Diri
Gerungan (1996) dalam Psikologi Sosial menyatakan penyesuaian diri dapat diartikan menjadi 2 macam, yaitu :
a) autoplastis; mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan (pasif) b) alloplastis ; mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan / keinginan diri
(aktif)
4. Faktor – Faktor Penyesuaian Diri
Beberapa faktor dalam Kartono (1989) yang sangat menentukan dalam usaha penyesuaian diri adalah sebagai berikut :
a. kondisi dan konstitusi fisiknya
Faktor penentu herediter (hereditair dominant) daari kondisi dan konstitusi fisik tersebut antara lain sistem syaraf, sistem kelenjar, sistem otot, kesehatannya (dalam keadaan sakit atau sehat,dan lain – lain).
b. kematangan taraf pertumbuhan dan perkembangan
Faktor utama dalam kematangan taraf pertumbuhan dan perkembangan tersebut antara lain kematangan intelektual, kematangan sosial dan moral, serta kematangan emosionalnya.
c. determinan psikologis
Yang termasuk dalam determinan psikologis (faktor – faktor) psikologis ini adalah pengalaman – pengalaman, trauma – trauma, situasi dan kesulitan belajar, kebiasaan, penentuan diri (self determination), frustrasi, konflik, dan saat – saat kritis.
d. kondisi lingkungan dan alam sekitar
e. faktor adat – istiadat, norma – norma sosial, religi dan kebudayaan.
Faktor ini dapat membantu individu menyesuaikan dirinya dengan baik. Faktor tersebut mengatur perilaku individu agar sesuai dengan lingkungannya, ssehingga terciptalah penyesuaian diri yang baik.
5. Penyesuaian Diri dan Aspek - Aspeknya
Seseorang dikatakan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik (well adjusted person) jika mampu melakukan respon – respon yang matang, efisien, memuaskan dan sehat. Dikatakan efisien artinya mampu melakukan respon dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Dikatakan sehat artinya bahwa respon – respon yang dilakukannya sesuai dengan hakikat individu, lembaga, atau kelompok antar individu, dan hubungan antar individu dengan penciptanya. Bahkan, dapat dikatakan bahwa sifat sehat ini adalah gambaran karakteristik yang paling menonjol untuk melihat atau menentukan bahwa suatu penyesuaian diri itu dikatakan baik. (Ali, 2004).
Selain itu, menurut Meichati (1974) proses penyesuaian diri yang sehat tidak dapat terjadi dengan sendirinya, karena masalah penyesuaian diri ini diperoleh melalui proses belajar dan memerlukan waktu kemasakan kemampuan yang mendasarinya. Maka seharusnya lingkungan tempat berkembangnya individu tersebut dapat banyak membantu.
Hal ini ditunjukkan dengan buruknya hubungan sosial individu dengan lingkungan sekitarnya (jbptgunadarma-gdl-s1-2004-herdiyanma-641-bab1.pdf).
Orang yang mampu menyesuaikan diri dengan baik menurut Gunarsa (1985) ciri – cirinya yaitu :
a. dapat diterima di suatu kelompok b. dapat menerima dirinya sendiri
c. dapat menerima kekurangan dan kelebihan sendiri.
Warga (1983) mengatakan bahwa ciri – ciri orang yang berpenyesuaian diri dengan baik adalah :
a. memperlakukan orang lain sebagai individu b. berpotensi kerja tinggi
c. produktif di masyarakat
d. mampu menikmati banyak hal dalam hidup e. dapat mengatasi tekanan eksternal dan internal
f. mengenal, menerima, dan memahami orang lain baik yang disukai ataupun tidak
g. mengerjakan tugasnya
h. emosinya tidak mudah terganggu oleh stress / tekanan i. memiliki rasa ingin tahu tentang segala sesuatu
Ada enam penyesuaian diri yang harus dilakukan remaja yakni sebagai berikut :
b. menentukan peran dan fungsi seksualnya yang adekuat dalam kebudayaan tempatnya berada
c. mencapai kedewasaan dengan kemandirian, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk menghadapi kehidupan
d. mencapai posisi yang diterima oleh masyarakat
e. mengembangkan hati nurani, tanggung jawab, moralitas, dan nilai – nilai yang sesuai dengan lingkungan dan kebudayaan
f. memecahkan problem – problem nyata dalam pengalaman sendiri dalam kaitannya dengan lingkungan (Carballo dalam Sarwono, 2005).
Pada dasarnya menurut Mutadin (2002) penyesuaian diri memiliki dua aspek, yaitu :
a. penyesuaian pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya.
b. penyesuaian sosial
terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain (www.e-psikologi.com).
Darlega dkk (1978) mengatakan bahwa penyesuaian diri yang sehat akan mengandung aspek – aspek sebagai berikut :
a. individu dapat menerima kenyataan yang ada
b. tidak mengulangi kesalahan – kesalahan yang telah lampau
c. mampu memilih pekerjaan yang dapat memuaskan dirinya sesuai dengan kemampuan dan minatnya
d. mampu bekerja sama dan hidup bersama dengan individu yang lain dalam suasana yang menyenangkan
e. mampu mengendalikan luapan emosinya, sehingga individu merupakan orang yang tidak mudah marah, tidak mudah iri hati, tidak mudah mengalami kekecewaan dan merupakan orang yang mampu memberi respon yang rasional serta mempunyai toleransi yang tinggi terhadap konflik
f. mampu menerima diri sendiri seperti apa adanya dan tidak mengalami gangguan masalah seksual
g. siap mengadakan interaksi dengan orang lain
Berdasarkan dua keterangan di atas maka aspek – aspek yang akan digunakan dalam penelitian kali ini adalah sebagai berikut :
a. kontrol emosi
b. belajar dari pengalaman
Individu mampu menerima kenyataan yang sudah terjadi dan mau belajar dari kesalahan untuk mencapai hasil yang lebih baik di kemudian hari. c. berorientasi pada tugas
Individu adalah seorang yang mampu memilih pekerjaan yang dapat memuaskan dirinya sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
d. siap berinteraksi sosial
Individu mampu berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.
B. Mahasiswa
1. Batasan Usia
Sarwono (2005), menurut WHO pada tahun 1974, remaja adalah suatu masa ketika :
a. individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda – tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual
b. individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak – kanak menjadi dewasa
c. terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
Walaupun demikian, sebagai pedoman umum dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia dengan pertimbangan – pertimbangan tertentu.
2. Tugas Perkembangan Remaja
Menurut Havighurst (Hurlock, 1996) tugas perkembangan remaja adalah sebagai berikut :
a. mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
b. mencapai peran sosial sebagai pria dan wanita
c. menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif d. mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab e. mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang – orang dewasa
lainnya
f. mempersiapkan karier ekonomi
g. mempersiapkan perkawinan dan keluarga
Mahasiswa adalah remaja yang beruntung. Mereka memiliki kemampuan yang cukup dalam bidang pengetahuan yang dipelajarinya, mempunyai kecerdasan normal, bahkan mungkin di atas normal. Dalam perkembangan jasmani dan fungsi jiwa lainnya tentu juga ada penjaringan secara ringan, seperti kesehatan umum yang cukup, keadaan mental yang normal, sikap sosial yang dijamin belum pernah bertindak melanggar hukum, dan masih banyak lagi yang menjadi syaratnya.
Namun keadaan ini tidak menjamin kebebasan dari masalah keseimbangan mental. Dalam perkembangan kepribadiannya mereka masih memerlukan penambahan isi, baik secara ilmiah sebagai pengetahuan yang akan dimilikinya, maupun sebagai bimbingan yang akan menyempurnakan perkembangan kepribadiannya. Dalam kehidupan kemahasiswaan terdapat persoalan – persoalan yang meminta kematangan untuk menyesuaikan diri. Mereka di samping harus menjadi ahli dalam segi ilmiah biasanya juga diharapkan untuk menjadi pemimpin dalam bidangnya.
Macam – macam persoalan kemahasiswaan antara lain :
a. kesiapan mahasiswa terhadap dunia dan masyarakatnya yang baru b. kesiapan untuk mengatur diri sendiri
c. kesiapan menghadapi persaingan dalam masyarakat.
Untuk menghadapi kemungkinan itu semua, maka sebelum memasuki salah satu perguruan tinggi perlu adanya orientasi yang luas, planning yang baik dengan bimbingan penasihat setelah memilih jurusan, dan menggunakan segala fasilitas yang disediakan oleh perguruan tinggi di dalam menjamin kesejahteraan mahasiswanya melalui penyuluhan dan bimbingan. Perpustakaan, asrama, dan kampus dapat membantu banyak dalam pemecahan berbagai persoalan mahasiswa (Meichati,1969).
C. Kehidupan dan Peraturan Asrama Syantikara
seluruh warga asrama tanpa terkecuali. Mulai dari jam, pengaturan kamar, kebiasaan dalam unit, sampai tugas – tugas yang harus dilakukan tiap minggunya, semua itu diatur dan dikenalkan ke warga saat mereka masuk ke asrama ini untuk pertama kalinya. Pengenalan warga akan peraturan yang berlaku di asrama dan keharusan mengenal warga lama diberikan dalam masa orientasi mahasiswa, sering disebut POSMA (Pekan Orientasi Mahasiswa).
Ada beberapa tugas yang wajib dilakukan warga setiap seminggu sekali. Tugas yang disebut “tugas unit” ini terdiri dari bermacam – macam kegiatan yang tiap minggunya dilakukan secara bergantian oleh anggota masing – masing unit. Tugas unit yang merupakan kewajiban untuk membersihkan unit yang ditempati warga, antara lain mengepel, membersihkan kaca, membersihkan kamar mandi, menata rak sepatu, dan lain – lain.
ketua unit dan wakilnya), ke mana tujuannya dan jam berapa mereka akan pulang.
Setiap harinya warga tidak diperkenankan untuk menonton televisi. Warga boleh menonton televisi hanya setiap hari Sabtu dan Minggu. Tidak boleh menonton televisi bukan berarti warga kehilangan hak untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan dunia, karena asrama telah menyediakan beberapa media cetak untuk dibaca setiap harinya.
Ada lagi peraturan “pindah unit” yang dilaksanakan tiap tahun. Pindah unit merupakan kebiasaan asrama yang dilakukan untuk mengubah formasi warga dalam satu unit. Formasi tersebut selalu berganti dan warga tidak punya hak untuk menentukan siapa yang menjadi teman satu unitnya, karena yang berhak menentukan adalah suster.
Ada juga kebiaasan yang selalu dilakukan oleh tiap unit walaupun itu bukan merupakan peraturan asrama namun tidak jarang hal itu sering dilakukan oleh setiap unit. Misalnya “rapat unit”. Kebiasaan ini merupakan kegiatan yang dipakai warga sebagai sarana penyelesaian masalah baik personal maupun unit.
kepengurusan harian. Pengurus inti selain bertugas sebagai pelaksana tugas – tugas inti, mereka juga mengkoordinasi beberapa kegiatan harian asrama yang dikelola oleh masing – masing koordinator.
Awalnya kegiatan asrama hanya difokuskan pada kegiatan dalam lingkungan asrama saja. Namun tepatnya tahun 1986, untuk menumbuhkan kepekaan, kerjasama, kepedulian pada masyarakat, serta supaya ada hubungan dengan masyarakat, asrama menetapkan harus ada kegiatan ke luar yang kemudian dinyatakan sebagai kegiatan wajib. Kegiatan tersebut seperti mendampingi bimbingan belajar anak – anak di Pingit, Sagan, dan Code, pendampingan iman untuk warga sekitar, serta beberapa keikutsertaan warga dalam kegiatan politik.
Kegiatan – kegiatan asrama harus dipilih oleh masing – masing warga, namun tidak semua ditujukan ke luar. Ada beberapa kegiatan ke dalam yang tetap memberi kesempatan pada warga asrama yang mengalami kesulitan dalam membagi waktunya dengan studi. Kegiatan tersebut seperti koor, akademik, ilmiah, dan kegiatan di luar asrama seperti kegiatan kampus, organisasi kepemudaan dan berbagai kegiatan lain selama kegiatan tersebut tidak mengganggu studi dari masing – masing warga.
budaya, diharapkan dapat dibangun sikap saling menghargai dalam semangat persaudaraan sejati seraya mengembangkan keterbukaan memperluas wawasan.
Kedewasaan pribadi dibentuk Asrama Syantikara dalam tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan. Pemahaman tentang aturan mampu menjadikan warga memahami maksud dan makna suatu tindakan. Diharapkan peraturan – peraturan yang ada mampu mengarahkan dan membantu masing – masing pribadi untuk kehidupan mereka di luar kelak.
Kesederhanaan dalam hidup berasrama tidak hanya sebatas aturan dan kegiatan yang dihayati bersama namun makna – makna yang terkandung di dalamnya pun tetap dipegang dalam kehidupan mereka. Larangan membawa Hand Phone (HP), sepeda motor dan pemakaian listrik asrama mungkin merupakan hal yang naïf untuk masa sekarang. Akan tetapi asrama bukannya anti teknologi. Larangan menggunakan barang – barang di atas hanyalah sebagai salah satu cara agar teknologi tersebut pelan – pelan diolah sehingga tidak menjadi bumerang bagi warga nantinya.
karena hal itu akan menumbuhkan watak tidak jujur yang akan merugikan warga nantinya.
Sama halnya dengan kepemilikan HP, asrama tidak mengizinkan semua warga memiliki sepeda motor. Hanya warga yang tempat kuliahnya tidak terjangkau dengan kendaraan umum dan memiliki banyak kegiatan yang diperbolehkan membawanya. Selain alasan tidak tercukupinya tempat untuk parkir, suster berharap agar warga tidak begitu mudah lari dari asrama saat menghadapi masalah. Apa yang sedang dihadapi di asrama harus diselesaikan di dalam asrama.
Warga boleh membawa sepeda jika menginginkannya. Sepeda bisa dimanfaatkan saat mereka pergi ke kampus maupun kegiatan asrama yang dilakukan malam hari, seperti saat memberi bimbingan belajar di Code.
Warga tidak boleh memakai listrik untuk sembarang kegiatan. Warga hanya boleh memakai listrik untuk komputer dan menyeterika yang dilakukan di ruang seterika. Harapannya agar warga bisa mengontrol apa yang mereka pakai.
Sejak awal para pendiri mengharapkan agar asrama tidak hanya sebagai tempat tinggal bersama, namun lebih ditujukan sebagai wadah dan sarana pembinaan diri. Tujuan pokoknya yaitu melatih sikap jujur, kepekaan, rasa tanggung jawab, kepedulian pada sesama, kemandirian, serta menumbuhkan rasa toleransi pada sesama yang berbeda.
Para suster (sebagai pimpinan asrama) dan warga Syantikara dalam kesehariannya, dibantu oleh beberapa karyawan. Para karyawan bertugas untuk membersihkan asrama, mengantar suster belanja, membetulkan saluran yang rusak, serta membuat berbagai peralatan yang menjadi kebutuhan asrama seperti meja, kursi, tempat tidur, bahkan juga bertugas untuk membetulkan genteng saat ada kebocoran (Widhayanie, 2004).
D. Dinamika Psikologis
Ketika akan menuntut ilmu seringkali seorang mahasiswa harus rela meninggalkan keluarga dan lingkungan yang mereka cintai, kemudian mereka pindah ke tempat baru yang terkadang belum pernah mereka datangi. Di tempat baru, mereka kemudian akan tinggal bersama keluarga atau kenalan mereka, namun tak sedikit pula yang tinggal bersama dengan orang baru yang belum pernah mereka temui. Dalam pemilihan rumah untuk tinggal ada yang memilih tinggal di rumah saudara, tinggal di kost atau apartemen, ada juga sebagian kecil yang memilih tinggal di asrama.
enggan untuk tinggal di asrama. Hal ini tidak sulit untuk dipahami, mengingat para mahasiswa ini masih berada dalam usia remaja akhir yang masih ingin mencoba mencari jati dirinya, menginginkan kebebasan, dan sederetan aktivitas yang telah menanti mereka di dunia perkuliahan yang baru mereka jalani.
Namun bagi sebagian kecil yang tinggal di asrama hidup di Asrama Syantikara bukanlah hal yang mudah mereka jalani. Banyak perubahan yang harus mereka alami. Mulai dari mengatasi rasa rindu kepada kampung halaman, berkenalan dengan lingkungan tempat tinggal dan orang – orang baru, juga mengikuti perkuliahan yang menjadi tujuan utama mereka berpindah tempat. Ditambah lagi dengan kehidupan asrama yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan teman – teman mereka yang tinggal di luar asrama. Untuk itu dibutuhkan kemampuan menyesuaikan diri yang tinggi terhadap perubahan – perubahan tersebut.
Kemampuan menyesuaikan diri ini penting agar mereka mampu menjalani kehidupan mereka baik di asrama maupun di kampus, terutama agar mereka mampu menjadi manusia dewasa yang berpotensi tinggi yang akan berguna dalam membangun negara.
Penyesuaian diri ini sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan seseorang, kedewasaan pribadi, kondisi psikologis, dan lingkungan tempatnya hidup. Selain itu kebiasaan dan budaya masyarakat yang berlaku juga berpengaruh terhadap kemampuan penyesuaian diri seseorang.
Lingkungan tempat individu tinggal akan banyak membantu proses penyesuaian diri tersebut. Tetapi usaha penyesuaian diri ini bisa terhambat bila individu tidak mengetahui cara dan hal yang bersangkutan dengan proses tersebut. Hal ini ditunjukkan salah satunya dengan buruknya hubungan sosial individu tersebut.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk membuat deskripsi yang sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta – fakta dan sifat – sifat populasi atau daerah tertentu. Selain itu, menurut Suryabrata (1998), penelitian deskriptif hanya menggambarkan variabel yang akan diteliti melalui pengisian skala tanpa perlu mencari atau menerangkan saling hubungan, menguji hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan implikasi.
Nawawi (2003) mengartikan metode deskriptif sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/ melukiskan keadaan subyek/ obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta – fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.
Usaha mendeskripsikan fakta-fakta itu pada tahap permulaan tertuju pada usaha mengemukakan gejala – gejala secara lengkap di dalam aspek yang diselidiki, agar jelas keadaan atau kondisinya. Oleh karena itu metode deskriptif tidak lebih daripada penelitian yang bersifat penemuan fakta – fakta seadanya (fact finding). Penemuan gejala – gejala itu berarti juga tidak sekedar menunjukkan distribusinya, akan tetapi termasuk usaha mengemukakan hubungannya satu dengan yang lain di dalam aspek – aspek yang diselidiki itu.
Ciri – ciri pokok penelitian desriptif menurut Nawawi (2003) :
a. memusatkan perhatian pada masalah – masalah yang ada pada saat penelitian dilakukan (saat sekarang) atau masalah – masalah yang bersifat aktual. Dalam penelitian kali ini peneliti hanya akan memusatkan perhatian pada perilaku penyesuaian diri pada penghuni Asrama Syantikara.
b. menggambarkan fakta – fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya, diiringi dengan interpretasi rasional yang adekuat. Nantinya peneliti akan menyertakan bukti – bukti berupa hasil penghitungan kuantitatif serta laporan selama melakukan penelitian. Berdasarkan hal – hal tersebut di atas maka penelitian ini menggunakan data kuantitatif mengenai variabel, yang diperoleh melalui analisis jawaban subyek pada skala yang akan diberikan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan penyesuaian diri penghuni Asrama Syantikara.
B. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh penghuni Asrama Syantikara. Alasan dipilihnya subyek didasarkan pada pertimbangan berikut :
pun berbeda pula. Menurut peneliti hal – hal tersebut di atas akan memperkaya proses penyesuaian diri mereka bila dibandingkan dengan asrama mahasiswa lainnya yang biasanya berasal dari daerah serumpun, golongan atau agama yang sama, bahkan didirikan oleh suatu universitas sehingga semua penghuninya berkuliah di tempat yang sama.
b. Usia penghuni berkisar 18-23 tahun yang masih dalam periode remaja akhir. Mereka diberi waktu 5 tahun untuk tinggal di asrama, dengan pertimbangan dalam masa itu semestinya mahasiswi telah lulus kuliah. Ada juga dispensasi khusus bagi mereka yang kuliah di fakultas yang dianggap “sulit” seperti kedokteran atau kedokteran hewan.
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian adalah penyesuaian diri penghuni Asrama Syantikara, Jogjakarta. Bentuk penelitian ini adalah studi deskriptif, karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel.
D. Definisi Operasional
Penyesuaian diri atau personal adjustment diartikan sebagai proses perubahan perilaku individu agar dapat hidup selaras dengan tuntutan – tuntutan baik dari dalam maupun dari luar individu (lingkungan).
Seseorang yang hidup dalam suatu lingkungan selalu harus mengadakan penyesuaian baik secara pasif maupun aktif. Bila lingkungan itu berubah terus, maka seseorang harus melakukan penyesuaian diri secara terus – menerus (Gunarsa, 1986).
Aspek – aspek dari penyesuaian diri yang menjadi indikator dalam penelitian kali ini adalah sebagai berikut :
a. kontrol emosi
Individu mampu mengendalikan emosinya ketika menghadapi tuntutan – tuntutan baik dari dalam maupun dari luar dirinya.
b. belajar dari pengalaman
Individu mampu menerima kenyataan yang sudah terjadi dan mau belajar dari kesalahan untuk mencapai hasil yang lebih baik di kemudian hari. c. berorientasi pada tugas
Individu adalah seorang yang mampu memilih pekerjaan yang dapat memuaskan dirinya sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
d. siap berinteraksi sosial
Individu mampu berelasi dan bekerja sama dengan orang lain.
sebaliknya, semakin rendah skor total yang diperoleh subyek maka akan semakin rendah pula penyesuaian dirinya.
E. Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian kali ini alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah skala yang memuat kumpulan pertanyaan yang diberikan kepada subyek dan subyek diminta untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Pemakaian skala ini berdasarkan asumsi bahwa : a. subyek adalah orang yang tahu akan dirinya
b. apa yang dinyatakan subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
Ada empat alternatif jawaban yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu :
SS (Sangat Setuju) S (Setuju) TS (Tidak Setuju) STS (Sangat Tidak Setuju)
Untuk pernyataan SS item yang favorable mendapat skor 4, S mendapat skor 3, TS mendapat skor 2, dan STS mendapat skor 1, sedangkanitem yangunfavorable pernyataan SS mendapat skor 1, S mendapat skor 2, TS mendapat skor 3, dan STS mendapat skor 4.
Angket yang dibuat oleh peneliti akan digunakan untuk mengungkapkan penyesuaian diri berdasarkan aspek – aspeknya. Adapun perincian yang disusun di dalamblue printadalah sebagai berikut :
Tabel 1
Blue PrintSkala Penyesuaian Diri
Tabel 2
Kisi – kisi Skala Penyesuaian Diri
No. soal No. Aspek
Favorable Unfavorable
Jumlah
1. Kontrol emosi 1,2,18,20,25,27,40,45,51, 54,70
4. Interaksi sosial 12,15,28,32,44,56,59,64, 76,84,85
9,10,16,19,23,26,31,36, 42,47,78
22
Jumlah 88
F. Validitas dan Reliabilitas
1. Validitas
Validitas berasal dari kata validityyang berarti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukur (tes) dalam melakukan fungsi ukurnya.
Suatu tes dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila tes tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang tepat dan akurat sesuai dengan maksud dikenakannya tes tersebut. Suatu tes yang menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan diadakannya pengukuran dikatakan sebagai tes yang memiliki validitas rendah (Azwar, 1996),
Validasi ini mengungkapkan sejauh mana item – item tes mewakili komponen – komponen dalam keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur (aspek representasi) dan sejauh manaitem – itemtes mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur (aspek relevansi).
Dalam hal ini yang melakukan professional judgement adalah dosen pembimbing peneliti, sebagai orang yang dianggap ahli dan professional di bidangnya.
2. SeleksiItem
Langkah pertama dalam prosedur seleksi subjek berdasarkan evaluasi kualitatif untuk melihat kesesuaian denganblue printatau indikator perilaku yang hendak diukur, apakah item yang ditulis sesuai dengan kaidah penulisan dan apakah item masih mengandung social desirability yang tinggi. Selanjutnya dilakukan prosedur seleksi itemberdasarkan data empiris yaitu data hasil uji coba item pada sekelompok subjek yang karakteristiknya setara dengan subjek untuk penelitian.
Penentuan daya diskriminasi item menggunakan koefisien korelasi item total (rix). Sebagai kriteria digunakan batasan rix ≥ 0,30. Item dengan rix minimal
0,30 dianggap valid, sedangkan item dengan rix kurang dari 0,30 dinyatakan
Penyebaranitemmenjadi :
Tabel 3
Tabel DistribusiItemSetelah Digugurkan
No. soal No. Aspek
Favorable Unfavorable
Jumlah
1. Kontrol emosi 18,45,51,70 11,13,33,61,69,71,73,79 12
2. Belajar dari
4. Interaksi sosial 12,15,28,56,84 9,10,16,19,23,26,47, 78
13
Jumlah 51
Setelah item yang gugur dihilangkan kemudian nomor item dipadatkan, sehingga distribusi penyebaranitemyang baru kemudian menjadi :
Tabel 4
Tabel DistribusiItemyang Baru
No. soal No. Aspek
Favorable Unfavorable
Jumlah
1. Kontrol emosi 13,26,31,41 6,8,22,36,40,42,43,46 12 2. Belajar dari
4. Interaksi sosial 7,10,20,33,49 4,5,11,14,17,19,27,45 13
3. Reliabilitas
Menurut Azwar (1997), ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Tingginya tingkat reliabilitas dapat dilihat dari tingginya nilai koefisien reliabilitas yang mendekati nilai 1,00 berdasarkan rumus – rumus reliabilitas. Pendidikan ini juga mempunyai nilai praktis dan efisien yang tinggi, karena hanya dilakukan pada sekelompok subjek (Azwar,1997). Pengukuran reliabilitas dan uji analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik koefisien reliabilitas Alpha dari Cronbach dengan program SPSS 13.0 for Windows. Jika hasil koefisien Alpha dari skala tersebut mendekati koefisien sempurna yaitu 1, maka skala tersebut dinyatakan semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya semakin mendekati angka 0 maka semakin rendah reliabilitasnya.
G. Analisa Data
Tabel 5
Tabel Norma Kategori Jenjang
Norma Kategori
(µ + 1,0δ)≤x (µ - 1,0δ)≤x≤(µ + 1,0δ)
x < (µ - 1,0δ)
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Orientasi Kancah Penelitian
1. Sejarah Syantikara
Didirikannya Asrama Syantikara pada mulanya karena keprihatinan dari para Suster St. Carolus Borromeus (CB), yang melihat secara langsung pondokan tempat tinggal para mahasiswa yang menjadi anak didiknya. Mahasiswa perantau yang ada di Yogyakarta tinggal dalam pondokan yang menurut suster sangat tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal. Dari sinilah keinginan mendirikan sebuah asrama muncul. Ketika keinginan itu semakin besar sedangkan suster sendiri belum memiliki tempat khusus untuk para mahasiswa, maka pada 6 Juni 1952, suster memberanikan diri menerima 4 orang mahasiswa dan ditempatkan di Asrama Stella Duce (asrama yang dikhususkan untuk siswi SMU Stella Duce I sekarang). Namun dalam perkembangannya jumlah mahasiswa yang mendaftarkan diri semakin bertambah hingga akhirnya mencapai 60 orang mahasiswa. Para suster akhirnya tetap menerima para mahasiswa tersebut, tetapi karena keterbatasan tempat maka mereka kemudian ditempatkan di kantor yayasan.
Pemikiran membangun sebuah asrama khusus untuk mahasiswa terus berkembang, sampai akhirnya setelah memiliki cukup uang, suster CB membeli sebidang tanah yang terdapat di sebelah utara gedung susteran CB. Tanah yang rencananya akan dibangun asrama tersebut kemudian diminta oleh Universitas
Gajah Mada (UGM) untuk membangun proyek perumahan dosen UGM. Tanah itu kemudian diganti dengan sebidang tanah di atas rawa-rawa yang terletak di timur susteran. Di tempat itulah –sebelah selatan Wisma MM UGM (sekarang)-akhirnya dibangun asrama mahasiswi Syantikara.
Sebelum asrama didirikan, terjadi pemikiran untuk memisahkan asrama untuk mahasiswa dengan mahasiswi. Akhirnya para pastor dari Serikat Jesus (SJ) diminta untuk membuat dan mengelola Asrama Realino sebagai asrama putra, sedangkan suster CB membuat dan mengelola Asrama Syantikara sebagai asrama putri dengan lokasi yang terpisah.
Asrama Syantikara sekitar tahun 1980-an pernah mengalami penghilangan beberapa ruang publik. Bangunan tersebut ditujukan sebagai tempat kegiatan bersama, tidak hanya dikhususkan untuk warga asrama sendiri namun diharapkan juga berfungsi bagi orang luar. Harapan ini merupakan salah satu harapan Syantikara yang ingin membuka dirinya untuk orang lain. Ruang tersebut adalah Menza, Kafetaria, Tentir Besar, Tentir Kecil, dan Tentir Luar. Awalnya tempat-tempat tersebut difungsikan untuk ruang belajar bagi para mahasiswa di luar asrama, karena pada masa itu awal tahun 80-an belum banyak listrik di kost-kost-an ykost-kost-ang letaknya di daerah sekitar pedesakost-kost-an. Bkost-kost-anyak mahasiswa ykost-kost-ang ingin dapat belajar dengan nyaman di tempat yang luas dengan penerangan yang bagus. Dari situlah awal pembangunan ruang-ruang tersebut berasal. Kini ruang-ruang tersebut beralih fungsi menjadi ruang diskusi, seminar, pameran, dan kegiatan besar lainnya. Ini terjadi mungkin karena sudah bagusnya sistem penerangan di daerah kost-kost-an sekarang ini sehingga sudah jarang para mahasiswa datang ke asrama untuk belajar. Tahun 2006 beberapa ruang publik dan unit diambil alih oleh yayasan.
putri dididik, digembleng, supaya mereka nantinya bisa menjadi wanita yang mandiri dan kuat kalau sudah terjun di masyarakat.
Motto Syantikara “Caritas et Sapientia” sampai saat ini masih terus disemangati dan masih selalu menjadi pegangan bersama dalam setiap perjalanan kehidupannya baik warga sendiri maupun asrama pada umumnya. Artinya adalah cinta dan kebijaksanaan. Asrama dalam kehidupannya selalu mengajarkan makna kesederhanaan pad tiap warganya.
2. Penghuni Syantikara
3. Perguruan Tinggi
Warga asrama Syantikara mengikuti pendidikan dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Sanata Dharma (USD), Universitas Atma Jaya (UAJY), Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS Tarakanita), dan beberapa perguruan tinggi lainnya.
4. Agama
Tidaklah mudah untuk hidup bersama dengan orang yang berbeda. Kenyataannya itulah yang terjadi di asrama ini. Meskipun Asrama Syantikara merupakan sebuah asrama yang didirikan oleh yayasan Katolik dan pengelolanya adalah para biarawati, namun warga yang pernah dan sedang tinggal di asrama ini terdiri dari berbagai macam agama. Memang tidak disangkal bahwa mayoritas warga Syantikara memeluk agama Katolik, namun terbukti tidak sedikit mahasiswi yang beragama lain tinggal di sini.
5. Asal Daerah
B. Pembahasan
1. Penelitian
Sebelum dilakukan penelitian maka peneliti meminta izin terlebih dahulu kepada kepala asrama, yakni Sr. Benedicte CB tanggal 14 September 2007. Atas saran dari beliau (untuk mempermudah proses penelitian) peneliti tidak perlu bertemu langsung dengan subyek penelitian. Skala dititipkan kepada salah seorang warga seperti yang telah direkomendasikan Suster. Penelitian kali ini menggunakan try out terpakai, sehingga penyebaran skala hanya dilakukan satu kali, yaitu pada 19 September 2007 sampai dengan 21 September 2007. Alasan menggunakan try out terpakai pada penelitian ini karena subyek penelitiannya terbatas. Pada try out terpakai penyebaran skala dilakukan satu kali saja. Pengolahan hasil penelitian didasarkan pada data yang masuk satu kali itu.
Skala yang disebarkan oleh peneliti berjumlah 135 buah, sesuai dengan jumlah warga asrama. Akan tetapi karena tidak semua warga sedang berada di tempat, maka skala hanya kembali sebanyak 102 buah. Jumlah tersebut kemudian dirasa cukup mewakili populasi.
Dari hasil uji reliabilitas dan seleksi item didapatlah 51 item yang sahih dan layak. Sehingga uji frekuensi kemudian dilakukan pada ke-51itemtersebut.
2. Hasil Penelitian
a. Uji Normalitas
(sampel atau data berasal dari distribusi yang normal). Dengan menggunakan SPSS seri 13 maka uji Kolmogorov_- Smirnov menghasilkan angka 0,338, sehingga p > 0,05, dan data normal.
b. Deskripsi Data Penelitian
Skor teoritik penyesuaian diri yang dapat dicapai oleh subyek adalah sebagai berikut :
Xmin = 51 x 1 = 51 Xmaks = 51 x 4 = 204 Range = 204 – 51 = 153
Mean (µ) = (204 + 51) / 2 = 255 / 2 = 127,5 Standar deviasi (δ) = 153 / 6 = 25,5 = 26
Dari skoring penelitian didapatlah hasil sebagai berikut : Tabel 6
Deskripsi Data Penelitian
N = 102
Mean empirik (µ) = 148,49 Mean teoritik (µ) = 127,5
Keterangan :
N = jumlah subyek penelitian
Skor minimum empirik = skor paling rendah yang diperoleh dari data penelitian Skor minimum teoritik = skor paling rendah yang mungkin diperoleh subyek pada skala
Skor maksimum empirik = skor paling tinggi yang diperoleh dari data penelitian Skor maksimum teoritik = skor paling tinggi yang mungkin diperoleh subyek pada skala
Mean empirik = rata – rata skor yang diperoleh dari data penelitian
Mean teoritik = rata – rata skor yang mungkin diperoleh subyek pada skala Standar deviasi empirik = menunjukkan variasi jawaban penelitian
Standar deviasi teoritik = variasi jawaban yang mungkin terjadi pada skala
c. Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri Tabel 7
Tabel Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri
146
d. Grafik Penyesuaian Diri Warga Asrama Syantikara
e. Kategori Penyesuaian Diri
Penggolongan dibagi menjadi 3 kategori sebagai berikut : (μ+ 1,0σ)≤x : kategori tinggi (μ- 1,0σ)≤x < (μ+ 1,0σ) : kategori sedang x < (μ- 1,0σ) : kategori rendah
Dari perhitungan nilai teoritis sebelumnya diketahui bahwa standar deviasi (σ) = 26 dan mean (μ) = 76,5 , maka akan diperoleh kategori sebagai berikut:
Tabel 8
Dari hasil penelitian diperoleh hasil demikian : Tabel 9
Tabel Hasil Penelitian
Kategori Jumlah Subyek Persentase
Tinggi
Sebanyak 100 orang subyek (98,4%) dari jumlah keseluruhan subyek termasuk kategori tinggi, sedangkan 2 orang yang lainnya termasuk kategori sedang, yaitu 1,96%.
e.1. aspek kontrol emosi (12item)
Xmin : 12 x 1 = 12
Tabel 10 Kategorisasi Aspek 1
Skor Kategori
X≥36 Tinggi 24 - 36 Sedang X < 24 Rendah
Dari hasil penelitian didapatlah sejumlah 23 orang (22,55%) mendapatkan kategori tinggi, sedangkan yang terbanyak adalah yang berada di kategori sedang, sebesar 70,59%, yaitu 72 orang. Dan yang berada pada kategori rendah yaitu 7 orang (6,86%).
e.2. aspek belajar dari pengalaman (14item)
Xmin : 14 x 1 = 14 Xmaks : 14 x 4 = 56 Range : 56 – 14 = 42 Standar deviasi (δ) : 42 / 6 = 7
Mean (µ) : (14 + 56) / 2 = 70/ 2 = 35
Dengan standar deviasi (δ) = 7 dan Mean (µ) = 35, maka kategori menjadi : 35 + 1,0 (7)≤X : tinggi
35 – 1,0 (7)≤X < 35 + 1,0 (7) : sedang X < 35 – 1,0 (7) : rendah
Sehingga perolehan kategorinya adalah sebagai berikut : Tabel 11
Kategorisasi Aspek 2
Skor Kategori
Dari hasil penelitian didapatlah sejumlah 67 orang (65,69%) mendapatkan kategori tinggi, sedangkan yang berada di kategori sedang sebesar 35,35%, yaitu 33 orang. Dan yang berada pada kategori rendah yaitu 2 orang (1,96%).
e.3. aspek berorientasi pada tugas (12item)
Xmin : 12 x 1 = 12 Xmaks : 12 x 4 = 48 Range : 48 – 12 = 36 Standar deviasi (δ) : 36 / 6 = 6
Mean (µ) : (12 + 48) / 2 = 60 / 2 = 30
Dengan standar deviasi (δ) = 6 dan Mean (µ) = 30, maka kategori menjadi : 30 + 1,0 (6)≤X : tinggi
30 – 1,0 (6)≤X < 30 + 1,0 (6) : sedang X < 30 – 1,0 (6) : rendah
Sehingga perolehan kategorinya adalah sebagai berikut : Tabel 12
Kategorisasi Aspek 3
Skor Kategori
X≥36 Tinggi 24 - 36 Sedang X < 24 Rendah
Dari hasil penelitian didapatlah sejumlah 50 orang (49,02%) mendapatkan kategori tinggi, sedangkan yang berada di kategori sedang sebesar 48,04%, yaitu 49 orang. Dan yang berada pada kategori rendah yaitu 3 orang (2,94%).
e.4. aspek interaksi sosial (13item)
Range : 52 – 13 = 39
Sehingga perolehan kategorinya adalah sebagai berikut : Tabel 12
Dari hasil penelitian didapatlah sejumlah 42 orang (41,18%) mendapatkan kategori tinggi, sedangkan yang terbanyak adalah yang berada di kategori sedang, sebesar 58,82%, yaitu 60 orang. Dan tidak ada yang berada pada kategori rendah.
Setelah dilakukan pengkategorian seperti yang tertera di atas, keseluruhannya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 13
Kategorisasi Persentase per Aspek
Aspek Penyesuaian
Diri
Kategori Jumlah Subjek Persentase
Tinggi 50 49,02 Sedang 49 48,04 Berorientasi pada tugas
Rendah 3 2,94 Tinggi 42 41,18 Sedang 60 58,82 Interaksi sosial
Rendah 0 0
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa aspek belajar dari pengalaman merupakan aspek yang tingkat rata – ratanya tinggi, yaitu sebesar 65,69%. Sedangkan aspek berorientasi pada tugas berada pada tingkat kedua tertinggi, yaitu 49,02%. Yang ketiga sebesar 41,18% adalah aspek interaksi sosial. Dan yang terakhir yakni aspek yang pertama, yaitu kontrol emosi sebesar 22,55%.
3. Pembahasan Hasil Penelitian
Dari deskripsi data di atas dapat dilihat bahwa skor minimum empirik lebih besar dari skor minimum teoritik (79 > 51). Skor maksimum empirik mendekati skor maksimum teoritik. Sedangkan mean empirik lebih besar dari mean teoritik (148,49 > 127,5). Ini berarti subyek penelitian secara umum memiliki tingkat penyesuaian diri yang tinggi. Jika standar deviasi empirik lebih kecil dari standar deviasi teoritik berarti tingkat variasi jawaban subyek pada kelompok data lebih rendah dari pada tingkat variasi jawaban teoritik. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat penyesuaian diri pada subyek cenderung homogen, dapat dikatakan merata.
bahwa warga Asrama Syantikara mempunyai tingkat penyesuaian diri yang tinggi. Menurut peneliti ini mungkin terjadi karena kesadaran sebagai seorang individu yang memasuki kehidupan berasrama. Mau tidak mau mereka harus menyesuaikan diri dengan tata cara, peraturan dan kebiasaan di asrama serta warga lain sebagai sesama penghuni asrama. Lama tinggal di asrama bagi subyek juga berpengaruh terhadap hasil penelitian. Hanya sebagian kecil subyek yang baru mulai tinggal di asrama, yaitu sebanyak 30 orang. Bagi 72 orang subyek lainnya hal mengenai penyesuaian diri merupakan suatu hal yang telah menjadi kebiasaan mereka sehari – hari. Malahan mereka-lah yang harus mengajari adik – adik baru di unit mereka bagaimana tata cara dan kebiasaan sehari – hari di asrama.
Selain itu adanya POSMA bagi penghuni asrama yang baru, serta kegiatan – kegiatan lain yang diadakan di asrama rupanya amat membantu proses penyesuaian diri terjadi. Menurut Sears (1994) pada dasarnya hal ini terjadi karena dua alasan, yaitu :
a. Karena perilaku orang lain memberikan informasi yang bermanfaat
Adanya “simbok” dan senior lain di dalam satu unit yang sama dengan yunior berfungsi untuk mengenalkan tata cara dan peraturan kehidupan berasrama. POSMA yang diadakan oleh para senior pun tujuan utamanya adalah untuk membantu proses penyesuaian diri para yunior.
b. Karena ingin diterima dan menghindari celaan
Aspek yang skor jawaban subyeknya termasuk kategori tinggi nomor dua adalah aspek berorientasi pada tugas (12 item). Sebanyak 50 orang subyek dari 102 orang mendapat kategori tinggi, sekitar 49,02%. Yang termasuk kategori sedang ada 49 orang (48,04%), sedangkan yang termasuk rendah ada 3 orang, yakni sebesar 2,94% dari keseluruhan yang ada. Sebagai mahasiswa sekaligus warga Asrama Syantikara subyek mempunyai kesadaran yang cukup tinggi untuk mengutamakan tugas dan kewajibannya baik di asrama maupun di kampus. Warga (1983) mengatakan bahwa seorang yang mampu menyesuaikan diri itu ciri – cirinya berpotensi kerja tinggi, produktif di masyarakat, dan mengerjakan tugasnya. Selain itu menurut Darlega dan Janda (1978) seorang yang mampu menyesuaikan diri itu mampu memilih pekerjaan yang dapat memuaskan dirinya sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
Aspek yang berada di urutan ketiga tertinggi adalah interaksi sosial, yaitu
sebanyak 42 orang (41,18%) dari 102 subyek. 60 orang lainnya (58,82%) berada
di kategori sedang. Tidak ada subyek yang menduduki kategori rendah. Setiap
individu di asrama haruslah mempunyai keterampilan sosial untuk berinteraksi
dengan sesama penghuni yang lain. Hal ini mutlak diperlukan karena individu
hidup bersama sehingga setiap individu akan saling mempengaruhi satu sama lain.
Kemudian timbullah suatu pola kebudayaan dan tingkah laku yang sesuai dengan
sejumlah aturan, kebiasaan, dan nilai – nilai yang mereka patuhi demi mencapai
penyelesaian persoalan hidup sehari – hari (www.e-psikologi.com). Dalam hal ini
individu dan masyarakat sebenarnya sama – sama memberikan dampak bagi
ada, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang
diberikan oleh si individu. Proses yang masih harus dilakukan individu kemudian
adalah kemauan untuk mematuhi norma –norma dan peraturan sosial
kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun
dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai – nilai tertentu yang mengatur
hubungan individu dengan kelompok. Dalam hal ini masyarakat adalah penghuni
Asrama Syantikara. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan
dengan kaidah – kaidah dan peraturan – peraturan tersebut lalu mematuhinya
sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi
pola tingkah laku kelompok.
Aspek terakhir adalah kontrol emosi. Sebanyak 23 orang dari 102 subyek
berada di kategori tertinggi (22,55%). Justru sebagian besar subyek berada pada
kategori sedang, yaitu sebanyak 72 orang (70,59%), sedangkan yang berada pada
kategori rendah hanya 7 orang subyek (6,86%) dari keseluruhan 102 orang subyek
Kemampuan warga asrama Syantikara dalam mengendalikan emosinya ketika
menghadapi tuntutan – tuntutan baik dari dalam maupun dari luar dirinya
termasuk sedang, yang mana hal ini sangat dibutuhkan dalam hidup bersama
seperti yang mereka alami. Salah satu ciri orang yang mampu menyesuaikan diri
menurut Warga (1983) yaitu individu tidak mudah terganggu emosinyaoleh stress/
tekanan. Demikian halnya dengan Darlega dan Janda (1978) yang mengatakan
bahwa salah satu aspek penyesuaian diri yaitu mampu mengendalikan luapan