• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kehidupan Intelektual Ibnu Katsir

Dalam dokumen Disusun Oleh: Dwi Purnomo NIM : (Halaman 99-102)

BAB III SEKILAS TENTANG IBNU KATSIR DAN MAULANA

A. Imam Ibnu Katsir

2. Kehidupan Intelektual Ibnu Katsir

Ibnu Katsir sejak kecil sudah mulai menimba ilmu. Kakaknya lah yang mendidiknya sepeninggal sang ayah. Dalam usia 5 tahun beliau dibawa kakaknya ke Damaskus. Berikutnya beliau banyak belajar kepada para ulama. Diantara ulama yang menjadi guru beliau adalah grend syekh Damaskus, yaitu syekh Burhanuddin Ibrahim

„Abdurrahman al-Fazzari w. 730 terkenal dengan Ibnu al-Farkh, syekh Ahmad bin Abi Thalib al-Muammari w. 730, Isa bin Muth‟im, Ibnu Asakir w. 723, Syayrazi, Syekh Syamsuddin Dzahabi w. 748, syekh Abu Musa al-Qurafi, Abu al-Fatahal-Dabusi, syekh Muhammad bin

4 Nur Faizin Maswan, tafsiîr Ibnu Katsîr, Membedah Khazanah Klasik, Yogjakarta:

Menara Kudus, 2002, hal. 35

5 Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Jilid XIV, Beirut: Dar al-Fikr, t.t, hlm. 32.

6 Solah „Abdul Fatah al-Khalidi, Ta‟rifu al-Darisin bi Manâhijil Mufassirîn, Damaskus: Darul Qolam, 2012, Hal. 386.

Zuraid, syekh Ishaq bin al-Amadi w. 725. Beliau juga pernah talaqqi dengan syekh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mazi w. 742, keseriusanya dalam mendalami ilmu membuatnya tidak hanya mengupas ilmu di bidang fikih, hadis, tafsir bahkan sejarah. Keseriusan, kecerdasan serta daya ingat yang kuat membawa beliau menjadi sosok yang tidak hanya mumpuni di bidang tafsir. Akan tetapi Ibnu Katsir pun dikenal dengan sebagai ahli hadis bahkan sejarah. Bukti bahwa beliau ahli di bidang hadis adalah karya beliau dalam ilmu hadis Takmîl fî ma‟rifati Tsiqât wa Dhu‟afâ wa Majahil, dan Jamil Masânid wa al-Sunan. Adapun keahlian beliau dalam bidang sejarah dapat dilihat dalam kitab beliau al-Bidâyah wa al-Nihâyah.

Ibnu Katsir berhasil menghafal al-Qur‟an pada usia belia yaitu 11 tahun, dibawah bimbingan syekh Ghailan al-Ba‟labaki. Selesainya hafalan beliau 30 juz bertepatan dengan kedatangan syekh al-Hafidz Ibnu Jama‟ah di kota Damaskus. Kemudian Ibnu Katsir menemuinya untuk berguru. Dari syekh al-Hafidz Ibnu Jama‟ah inilah Ibnu Katsir belajar takhrîj hadis kitab ar-Râfi‟ al-syarẖ al-kabîr) sebuah kitab fikih mazhab Syafi‟i.

Selain itu Ibnu Katsir juga belajar hadis kepada ulama Hijaz.

Beliau belajar Shaẖîh al-Muslim berguru kepada syekh Nazmu al-Dîn bin al-Asqalan dan al-Wani. Beliau juga pernah belajar kepada pakar hadis yang terkenal di Suriah yaitu Jamaludin al-Mizzi w. 742 H/ 1342 M.

Popularitas Ibnu Katsir di mata publik dimulai ketika beliau melakukakan penelitian untuk menetapkan hukuman bagi zindiq yang didakwa menganut paham hulul (inkarnasi). Kemudian hasil penelitian ini diperiksa oleh Gubernur Mankali Bugha al-Nasiri di akhir tahun 741 H/ 1341 M.

Tepat pada tahun 748 H/1341 M. ia mengantikan gurunya Muhammad Ibnu Muhammad bin al-Dzahabi di sebuah lembaga pendidikan hadis di Darul Hadis al-Asyrafiyah setelah hakim Taqiyuddin Subki wafat. Sekitar 20 tahun berikutnya sekitar tahun 768 H/1366 M ia diangkat oleh Gubernur Mankali Buga di masjid Umaya Damaskus menjadi guru besar.7 Kemudian beliau menikah dengan salah seorang putri syekh Mazzi (ulama pengarang kitab Tahzîbu al-Kamâl dan Athrâf al-Kutubi al-Sittah)

Guru-guru Ibnu Katsir:

a. Syekh Burhanuddin Ibrahim Abdurrahman al-Fazzari wafat 730 H.

b. Syekh Ahmad bin Abi Thalib al-Muammari wafat 730 H.

7 Dewan Redaksi Ensiklopedia, Ensiklopedia Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Van Hoeve, 1994, hal. 157

c. Syekh Abu Musa al-Qurafi

d. Syekh Ishaq bin al-Amadi wafat 725 H.

e. Syekh Muhammad bin Zuraid

f. Syekh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mazi wafat 742 H.

g. Syekh Syamsuddin al-Dzahabi wafat 748 H.

h. Ibnu Asakir wafat 723 H.

i. Syayrazi

Karir intelektual Ibnu Katsir mulai menanjak setelah ia banyak menduduki jabatan-jabatan penting sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. Dalam bidang hadis, pada tahun 748 H/1348 M, Ibnu Katsir menggantikan gurunya Muhammad Ibnu Muhammad Dzahabi (1284-1348 M) di Turba Umm Saleh (Lembaga Pendidikan), dan pada tahun 756 H/1355 M diangkat menjadi kepala Darul Hadis.

Karya-Karya Ibnu Katsir

Ibnu Katsir adalah ulama yang memiliki berbagai macam keilmuan, sangat jarang ditemukan ulama seperti beliau. Banyak buku yang telah dikarang beliau, diantaranya adalah:

a. Tafsîr al-Qur‟ân al-‟Azhîm

Kitab tafsir ini dijadikan rujukan oleh banyak ulama. Yang menarik dari tafsir ini adalah kekuatan analisisnya. Para ulama mengategorikan tafsir ini termasuk tafsir bil-ma‟tsur.

b. Al-Takmîl fî ma‟rifati al-Tsiqât wa al-Dhu‟afâ wa al-Majâhil.

Buku ini dijadikan pedoman dalam ilmu hadis diantaranya untuk mengetahui jarẖ wa ta‟dîl. Kitab ini merupakan gabungan dari dua karya gurunya (imam al-Dzahabi) yaitu dalam buku Tahdîzbu al-Kamâl fî Asmâ‟i al-Rijâl dan Mîzân al-I‟tidâl fî Naqdi al-Rijâl dengan tambahan pada jarẖ wa ta‟dîl.

c. Al-Bidâyah wa al-Nihâyah.

Buku ini merupakan buku sejarah yang sering dijadikan sebagai rujukan para peneliti sejarah. Kisah-kisah para nabi dan umatnya ditulis dengan detail disertai dengan dalil-dalil yang kuat dari al-Qur‟an, hadis, pendapat-pendapat para mufasir, muhaddits, dan sejarawan.

d. Ikhtishâr Sîrah Nabawiyah. Diantaranya diambil dari buku al-Bidâyah wa al-Nihâyah terutama kisah tentang bangsa arab zaman jahiliyah dan zaman Islam.

e. Al-Hadyu wa al-Sunan fî Ahâdis al-Masânid wa al-Sunan yang kemudian lebih terkenal dengan Jâmi‟ al-Masânid. Dinamakan Jâmi‟ al-Masânid karena kitab ini menggabungkan beberapa kitab, yaitu: Musnad imam Ahmad (w.241), Abi Ya‟la (w.307), al-Bajjar

(w.291), Ibnu Abi Syaybah (w.297) dan kitab yang enam.

Kemudian kitab Jâmi‟al-Masânid ini disusun dengan bab per bab.

f. Al-Ahâdis al-Tawhîd wa al-Rad „ala al-syirk.

g. Syarẖu Bukhâri (belum selesai).8 h. Syamâ‟il al-Rasûl.

i. Takhrîj ahâdis adillatu al-tanbîh fî fiqh al-Syâfi‟i.

j. Mukhtashar kitâb Bayhaqi (al-Madkhâl ilâ al-Sunan.

k. Ikhtishâr ulûm al-Hadîts li Ibn al-Shalâh.

l. Kitab al-Simâ‟

m. Al-Musnad al-Syaykhain (Musnad Abû Bakr Wa „Umar) n. Kitâb al-Ahkâm (hanya selesai satu bab saja)

o. Thabaqât al-Syâfi‟iyyah.

p. Risâlah al-Jihâd.

q. Al-Ahkâm al-Kabirah.

r. Manâqib al-Syâfi‟i9

s. Al-Kawâkib al-Dhirari (nukilan dari al-Bidâyah wa al-Nihâyah).

Dalam dokumen Disusun Oleh: Dwi Purnomo NIM : (Halaman 99-102)