• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kematian dalam Perspektif Psikologi Qur‟ani

Dalam dokumen Disusun Oleh: Dwi Purnomo NIM : (Halaman 56-60)

BAB I PENDAHULUAN

A. Definisi Kematian

4. Kematian dalam Perspektif Psikologi Qur‟ani

Dalam menghadapi kematian, manusia satu dengan lainya hampir memiliki perasaan yang sama. Ada yang mengekpresikan datangnya kematian dengan menghindar dari orang-orang, marah, depresi, ketakutan dan ada pula yang menerima kematian tersebut dengan lapang dada.52

Dalam kehidupan modern yang mana banyak manusia yang mulai menjauh dari agama, hal ini ditemukan sebuah fakta yang menyabutkan banyaknya manusia yang takut dalam menghadapi kematian. Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Peter C. Phan, menyimpulkan manusia dalam kenbudayaan modern ini takut dan berusaha menghindar dan menolak dari maut.53

melalaikan kewajiban agamanya sehingga ia banyak melakukan dosa dan melanggar peraturan maupun perintah Allah ta‟ala maka balasan yang diberikan Allah ta‟ala adalah kesengsaraan di dunia dan azab di akhirat yakni Allah ta‟ala memasukkannya dalam neraka jahanam.

Menurut para ulama, kematian bukan sekedar ketiadaan atau kebinasaan belaka, tetapi sebenarnya mati adalah terputusnya hubungan roh dengan tubuh, terhalangnya hubungan antara keduanya dan bergantinya keadaan dari suatu alam ke alam lainnya.55

Al-Qur‟an menyatakan dengan sangat jelas bahwasanya setiap yang bernyawa pasti akan merasakan apa yang namanya kematian.

Tidak ada yang bisa dan mampu menghindar dari kematian, dan dan kedatanganya sudah ditetapkan oleh Allah yang tidak bisa di undur sedikitpun maupun di majukan walau sedetik56.

Ketika tidur bisa juga dikatakan dengan wafat namun bukan dalam artian wafat/mati yang sebenarnya, karena Allah telah menahan rohnya namun melepaskanya kembali. Adapun kematian yang sebenarnya atau diistilahkan dengan wafat kubra adalah ketika Allah menahan rohnya dan tidak melekankanya kembali ke jasad hingga waktu yang sudah ditetapkan.57

Kata mati dan kematian sebenarnya sudah sangat akrab dengan telinga manusia. Setiap orang pasti akan mengalaminya, menjumpai kematian. Namun, manakala masih berada dalam kenikmatan hidup, manusia sering lengah dan lupa dengan kematian. Sebaliknya, bila usia semakin sepuh, atau didera sakit, maka bayang-bayang kematian muncul. Secara psikologis, turut memengaruhi sikap dan perilaku manusia.58

Beban batin akan semakin dahsyat ketika seseorang dihadapkan pada kematian. Lebih-lebih bila kematian terjadi pada orang-orang terdekat dan yang ia cintai. Rasa kehilangan ini bersifat individual, karena setiap individu tidak merasakan yang sama dengan apa yang dirasakan orang lain. Sebagian individu bisa merasa bahwa kehilangan adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupanya dan dapat menerima dengan sabar. Adapun individu yang tidak bisa menerima kehilangan orang-orang yang disayang akan mengalami kekosongan batin dan berada dalam keterpurukan.

55 Hasan, Aliah B Purwakaria, Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006, hal. 87.

56 Choiruddin Hadiri, Klasifikasi Kandungan al-Qur‟ân, Jakarta: Gema Insani Press, 1994, hal. 64-65.

57 Umar Sulaiman Asyqar, Ensiklopedia Kiamat, Jakarta: Ikrar Mandiriabadi, 2002, hal. 28.

58 Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016, hal. 161.

Manusia sadar bahwa dirinya kelak akan mati, meskipun tidak tahu kapan waktunya datang. Karena kesadaran ini manusia mulai melihat dirinya, menimbang-nimbang kebaikan maupun keburukan yang telah ia perbuat. Ketakutan akan pembalasan atas apa yang dilakukan membuat manusia merasakan kecemasan batin. Ada pun ilmu empiris psikologi hanya mempelajari bagaimana sikap manusia dalam menghadapi kematian dan bagaimanakah pandangan manusia terkait dengan kematian (Boharudin, 2011).

Tentu saja Al-Qur‟an sangat luar biasa mengingatkan manusia agar senantiasa ingat akan kematian dan meyakini kematian adalah awal dari kehidupan lain setelah kehidupan dunia ini, jika manusia tidak meyakini ini maka dia akan menganggap kehidupan hanya terjadi di dunia saja. Sebagai seorang muslim tentu saja menginginkan kehidupan terbaik setelah kehidupan dunia ini, maka ia akan menghindari kematian yang buruk yaitu mati dalam keadaan bermaksiat.59

kenikmatannya pun akan sirna, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang abadi dan kenikmatannya pun kekal tak akan sirna. Adapun kematian adalah satu fase yang akan mengantarkan kita dari kehidupan yang fana ini ke kehidupan yang kekal abadi.60

Oleh karena itu, seseorang mukmin tidak akan takut mati sebab ia mengetahui bahwa kematian akan mengantarkannya kepada kenikmatan kehidupan kekal abadi yang telah dijanjikan Allah ta‟ala kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa.61

Kematian memiliki kedudukan penting dalam Islam karena ia adalah penengah antara kehidupan dunia dan akhirat. Dunia adalah tempat manusia untuk beramal sebanyak-banyaknya sedangkan akhirat adalah tempat manusia mendapatkan balasan apa-apa yang diperbuatnya di dunia. Demikian pula tradisi Islam juga meyakini bahwa kehidupan manusia selama hidup juga memengaruhi kematianya seperti orang yang baik meninggal dengan mudah sedangkan orang jahat meninggal dengan susah. Oleh karena itu Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk melakukan kebaikan dan melarang melakukan kejahatan. Dari sini dapat diketahui kematian memberikan kontribusi sebagai penjaga moralitas pemeluknya. Dengan demikian, pemahaman muslim terhadap kematian memengaruhi cara masyarakat Muslim memperlakukan kematian, dan pemahaman

59 Fachrudin. Hs, Ensiklopedi al-Qur‟ân, Jakarta: Rineka Cipta, 2000, hal. 64-65.

60 Muhammad Usman Najati, Psikologi Dalam Al-Qur‟ân, Bandung: Pustaka Setia, 2005, hal. 177.

61 Muhammad Usman Najati, Psikologi Dalam Al-Qur‟ân,…, hal. 177

terhadap kematian ini dapat terlihat dari penggunaan Bahasa para pemeluk agama Islam sehari-hari, termasuk dalam wacana ceramah.

Manusia akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya yang dilakukan selama hidup di dunia di hadapan Tuhannya nanti di akhirat. Ketika perbuatan manusia itu baik dan diridai Allah ta‟ala, maka ia akan diberi pahala oleh Allah ta‟ala, sebaliknya jika amal perbuatannya buruk dan dilarang oleh Allah ta‟ala, maka akan diberi dosa dan balasannya azab Allah ta‟ala di dalam neraka tempatnya.

Orang yang di dalam hatinya terdapat iman, pasti menginginkan kematian yang baik, artinya mati dalam keadaan beriman dan beramal kebaikan serta akan berusaha meninggalkan segala macam bentuk kamaksiatan.62 Hal itu karena ia yakin akan ada kehidupan akhirat yang merupakan hasil dari apa yang ia perbuat ketika hidup di alam dunia.

Manusia akan menjadi tenteram dan bahagia di dunia maupun di akhirat jika aktifitas amal saleh yang dilakukan di dunia mendapat rida Allah ta‟ala. Tentu akan mendapat siksa dan sengsara sejak di dunia hingga di akhirat kelak apabila manusia gemar melakukan kemungkaran dan dosa-dosa kepada Allah ta‟ala dan makhluk-Nya.

Kebiasaan manusia selalu ikhlas mencari rida Allah ta‟ala beramal saleh selama hidupnya di dunia, maka akan mempermudah keadaannya di saat kematiannya (sakratul maut). Keadaan pribadinya selalu tenang, tenteram, dan bahagia tanpa ada kegelisahan dan keraguan sedikitpun dalam menjalankan aktifitas keberagamaannya.

Pikiran, hati, dan perasaan manusia yang bertakwa selalu suci dan bening sehingga melahirkan sikap kemuliaan sejati pada siapapun terutama kepada Tuhannya.

Hubungan antara moral dan agama sebenarnya sangat erat, biasanya orang-orang yang mengerti agama dan rajin melakukan ajaran agama dalam hidupnya, moralnya dapat dipertanggung jawabkan, sebaliknya orang-orang yang akhlaknya merosot, biasanya keyakinannya terhadap agama, kurang atau tidak ada sama sekali.63

Dalam perspektif psikologi remaja, kematian anggota keluarga ini sangat berpengaruh terhadap pandanganya tentang kematian.

Apalagi kematian tersebut terjadi pada keluarga yang ia cintai, itu akan membuat mereka memikirkan akan kematianya sendiri. Kematian bagi remaja bukan suatu hal yang biasa. Hasil penelitian di Amerika didapatkan 4% remaja kehilangan orang tuanya karena kematian

62 Fachrudin, Ensiklopedia al-Qur‟ân, Jakarta: Rineka Cipta, 2000, hal. 64-65.

63Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1970, hal. 2.

sebelum mereka mencapai usia 18, dan 1,5 juta remaja tinggal di keluarga orang tua tunggal karena kematian (US Biro Sensus, 1993).

Peneliti yang Bernama Koocher dan Gudas (1992)64 menyatakan bahwa asumsi remaja tentang kematian yakni tidak nyamanya remaja dengan kematian. Sehingga mereka begitu khawatir ketika memikirkan tentang kematian maupun ketika ditanya tentang kematian.

Para remaja sulit memahami tentang kematian karena mereka belum punya pengalaman tentang kematian. Pengembangan konsep kematian pada remaja tergantung pada kemampuan kognitif. Penelitian menunjukkan perkembangan konsep kematian pada remaja bervariasi secara sistematis (dan mungkin dengan perkembangan kognitif remaja). Dan didapatkan remaja yang angota keluarganya ada yang meninggal membuat pemahamanya tentang kematian menjadi lebih cepat.

Penelitian membuktikan bahwa seseorang yang senantiasa melakukan ritual keagamaan dengan baik memiliki resiko kematian yang lebih sedikit. Misalkan penelitian yang dilakukan olehh Comstock menemukan bahwa orang yang melakukan ibadah dengan rutin memiliki resiko kematian akibat jantung koroner lebih rendah sekitar 50%, kematian akibat pengerasan hati 74%, pengelembungan paru-paru lebih sedikit 56% dan dalam kematian akibat bunuh diri sampai 53%. Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Larson, menyimpulkan bahwasanya seseorang yang lanjut usianya namun kurang ibadahnya memiliki angka kematian dua kali lipat dari yang rajin ibadah.65

Dalam dokumen Disusun Oleh: Dwi Purnomo NIM : (Halaman 56-60)