SITUASI KEHIDUPAN KEAGAMAAN DALAM MASA KERUNTUHAN MAJAPAHIT
3.2 Kehidupan Agama dalam Masa Keruntuhan Majapahit .1 Perihal Keruntuhan Majapahit .1 Perihal Keruntuhan Majapahit
3.2.2 Kehidupan Keagamaan dalam Masa Keruntuhan Majapahit
Dalam pemaparan di atas, telah dipaparkan Islam turut andil dalam jatuhnya pemerintahan Majapahit. Islam yang pada masa Hayam Wuruk hanya berkembang pada pedagang-pedagang asing dan terbatas ruang geraknya, mulai berkembang dan masuk dalam pemerintahan Majapahit. Islam mulai mendapat hati di dalam kerajaan Majapahit dimulai dari pergerakan orang-orang Tionghoa Islam. Dari zaman Suhita
memimpin, Suhita memberi gelar Arya pada Gan Eng Tju hingga Jin Bun alias Raden Patah (anak dari raja Kertabhumi), diberi wilayah Bintara serta gelar pangeran.
Akhir masa tersebut, yakni jatuhnya kerajaan Majapahit, dianggap sebagai keruntuhan suatu peradaban. Sebelum ini, pandangan sejarah barat itu terlalu sedikit menaruh perhatian terhadap cerita Jawa yang banyak sekali jumlahnya dan mengisahkan pengambilalihan kekuasaan secara damai atas Jawa oleh penguasa Islam Demak dari “Kafir” Majapahit. Peradaban Jawa Majapahit tidak lenyap, melainkan sedikit demi sedikit diislamkan (De Graaf, 1985: 3).
Perkembangan keagamaan pada masa runtuhnya Majapahit ditandai dengan terbentuknya kerajaan Demak. Pengaruh Islam perlahan mengimbangi keagamaan masyarakat Hindu-Buddha Majapahit. Menurut Tome Pires via De Graaf (1985), perpindahan kekuasaan politik ke tangan orang-orang Islam terjadi dengan dua cara:
Pertama: bangsawan-bangsawan Jawa yang “kafir” dengan sukarela memeluk agama baru itu; di tempat-tempat mereka memegang kekuasaan (dan tetap berkuasa), pedagang-pedagang Islam mencapai martabat tinggi. Demikian juga para cendikiawan agama Islam yang tinggal di rumah para pedagang.
Kedua: orang-orang asing yang beragama Islam, dari bermacam-macam bangsa, bertempat tinggal di kampung (factorij) tersendiri di bandar-bandar, membuat rumah mereka menjadi kubu pertahanan; dari tempat-tempat itulah mereka mengadakan serangan-serangan terhadap perkampungan orang-orang “kafir”; akhirnya mereka merebut seluruh pemerintahan bandar. Pengislaman dengan jalan
kekerasan itu konon terjadi di bandar-bandar di pantai utara Jawa tengah, yakni Demak dan Jepara.
Pernyataan Tome Pires yang kedua memberi kenyataan jika Islam berkembang di Jawa tidak mutlak dengan cara yang damai. Islamisasi di Jawa justru muncul dalam serangan-serangan Demak ke kerajaan Hindu-Buddha Majapahit yang telah mengalami kemunduran.
Dari pemaparan Slamet Mulyana (2008), tampak bagaimana Tionghoa Islam yang mulai menembusi kerajaan Majapahit dengan perlahan-lahan dan tanpa disadari oleh raja Majapahit sendiri hingga runtuh. Izin pembentukan masyarakat Islam Tionghoa, yang kemudian diubah ke arah masyarakat Islam dalam masyarakat Hindu merupakan kesalahan pemerintahan Majapahit saat itu. Bagaimanapun, masuknya agama Islam dalam masyarakat Hindu akan menimbulkan ketegangan dalam kehidupan kemasyarakatan. Legalisasi agama Islam dalam masyarakat Majapahit mengandung benih pertentangan agama. Sikap masyarakat Tionghoa Islam terhadap masyarakat Hindu di Majapahit makin tajam. Hal itu tidak sebatas pertentangan agama saja, tetapi juga pertentangan bangsa dan pertentangan kepentingan. Apa yang menguntungkan masyarakat Tionghoa, terutama dalam bidang materiil, merugikan kehidupan perekonomian Majapahit.
Perbedaan agama, perbedaan kebangsaan, dan sikap permusuhan antara pemerintah pusat dan daerah pedalaman merupakan benih pertentangan di dalam negeri. Negara Islam Demak tidak popular di kalangan masyarakat pedalaman, karena sebenarnya mereka tidak mengetahui seluk-beluknya. Mereka hanya tahu
Majapahit telah jatuh dan negara Islam Demak telah muncul dengan pimpinan seorang Tionghoa.
Pada masa Jin Bun mempimpin awal kerajaan Demak, hubungan pemerintah pusatnya dan rakyat pedalaman terlalu jauh. Pemerintah pusat tidak menghiraukan kehidupan rakyat di pedalaman. Yang mendapat perhatian adalah masyarakat Tionghoa di kota-kota pelabuhan. Hanya saudagar-saudagar Jawa yang menghendaki fasilitas dagang, segera meninggalkan agama Hindu dan menyebar ke agama Islam. Sebagian besar diantara masyarakat di pedalaman yang hidup dari pertanian, tetap melakukan upacara keagamaan yang lama (Mulyana, 2008:200)
Pada masa runtuhnya Majapahit, pendeta telah kehilangan fungsinya. Kesejahteraan masyarakat yang telah terperosok, membuat upacara keagamaan yang memakan biaya lebih disederhanakan lagi. Pembangunan candi-candi baru dihentikan. Candi yang sedang dalam tahap pembanguan tetap dibangun secara sederhana. Persajian kenegaraan secara besar-besaran dihentikan. Dengan hilangnya ritual persajian, pendeta tidak lagi memiliki kedudukan.
Sedikit demi sedikit, pengaruh Islam mulai masuk dalam kehidupan masyarakat di daerah bekas wilayah kerajaan Majapahit. Pendewaan terhadap raja semakin tipis, dan pada suatu saat lenyap. Orang tidak lagi percaya jika raja adalah Dewa. Dengan sendirinya, pemujaan terhadap Dewa berkurang, meskipun tidak lenyap sama sekali. Runtuhnya Majapahit juga menyebabkan keruntuhan seni pahat dan bangunan yang bersumber pada pembangunan candi. Islam melarang pembuatan
arca atau gambar makhluk hidup. Gambar orang digantikan dengan gambar dedaunan (Mulyana, 2008: 202).
Perubahan penting dalam hidup kemasyarakatan adalah hilangnya sistem kasta. Dalam Islam, sistem kasta tidak ada. Semua manusia sama derajatnya. Agama Islam bersifat demokratis terhadap susunan kemasyarakatan, yang ada hanyalah perbedaan derajat akibat jabatan yang diduduki dalam masyarakat, dan menurut kekayaan yang dimilikinya. Inilah perubahan penting dengan berkembangnya Islam pasca keruntuhan Majapahit.
Karena Jin Bun tidak memperhatikan perkembangan Islam di pedalaman, terjadi pertautan agama. Pertautan kedua ajaran itu menghasilkan paham Islam Jawa (Islam Kejawen). Dasar-dasar ajaran Hindu yang telah diwarisi turun-temurun dilapisi dengan ajaran Islam.
Jadi, pasca runtuhnya Majapahit, kehidupan keagamaan bercampur-baur. Islam berkembang di tengah masyarakat Hindu-Buddha yang mulai berpindah haluan secara perlahan. Perbauran ini, juga sering menimbulkan pertentangan. Akibatnya, penindasan agama Hindu pun mulai hidup seiring Demak meluaskan kekuasaannya. Kerajaan-kerajaan Hindu yang masih hidup, diserang dan dilakukan Islamisasi “secara paksa” oleh Demak.
3.3 Rangkuman
Uraian mengenai situasi kehidupan keagamaan merupakan bandingan sejarah mengenai perkembangan agama pasca runtuhnya Majapahit. Uraian ini juga
merupakan konsep kelas-kelas sosial dari analisis strukturalisme genetik dalam novel Arus Balik. Kelas-kelas sosial adalah indikator untuk membatasi kenyataan sosial yang dimaksud pengarang. Kelas-kelas sosial di sini adalah masyarakat Nusantara, khususnya Jawa yang memeluk agama Hindu-Buddha dan agama Islam beserta kehidupan keagaamannya dalam masa runtuhnya Majapahit.
Posisi kelas sosial yang mengacu pada setting cerita Arus Balik adalah posisi Tuban pada masa Majapahit. Tuban menjadi kota pelabuhan yang sangat vital bagi Majapahit. Tuban berkembang sebagai jalur perdagangan dan basis kekuatan militer pada masa Majapahit. Dalam artian lain, Tuban merupakan pintu gerbang masuknya suatu kekuatan maupun ajaran-ajaran dari luar ke pusat kerajaan Majapahit.
Dari uraian bab III, tampak jika Islam menjadi salah satu faktor runtuhnya Majapahit. Islam mengalami kemajuan seiring dukungan kerajaan Demak. Demak sendiri berdiri sebagai kerajaan Islam dan kerajaan yang menaklukkan Majapahit. Sudah dapat dipastikan jika Islam mengalami kemajuan pesat di Jawa pada masa ini. Agama Hindu-Buddha atau agama lama sendiri mengalami masa kemunduran dan penindasan. Aturan-aturan dari ajaran Islam di bawah komando Demak, telah mengikis ritual-ritual keagamaan agama Hindu-Buddha. Kemerosotan agama lama pun tidak dapat dihindari. Kerajaan-kerajaan Islam mulai melakukan penyerangan dalam upaya “Islamisasi paksa” terhadap kerajaan-kerajaan Hindu yang masih bertahan.
Kehidupan agama pasca runtuhnya Majapahit hingga munculnya pengaruh Demak khususnya di Jawa, merupakan indikator batasan atau struktur realitas dari
novel Arus Balik. Ini berfungsi sebagai bandingan yang membentuk jarak realitas sejarah di mata seorang pengarang. Situasi kehidupan keagamaan pada masa keruntuhan Majapahit juga menjadi referensi untuk melakukan analisis struktur sosialnya, yaitu citra agama Hindu-Buddha dan agama Islam yang dibahas dalam bab IV.
BAB IV
CITRA AGAMA HINDU-BUDDHA DAN AGAMA ISLAM