BAB II. GAMBARAN UMUM DESA TANJUNG PULO KECAMATAN
2.3. Kehidupan Masyarakat Desa Tanjong Pulo Kecamatan Payung
Kehidupan masyarakat adalah bagaimana masyarakat berinteraksi dengan sesama individu dengan mengikuti norma-norma yang menjadi panutan di daerahnya. Setiap anggota masyarakat berkomunikasi, mengikuti tradisi, perkembangan jaman, bagaimana masyarakat melangsungkan kehidupannya baik dalam segi sosial, politik, budaya dan ekonomi.Hal ini untuk masyarakat mendapatkan kehidupan yang nyaman dan layak.
22
21
Wawancara dengan Karta Bangun Sekretaris Desa dan Tokoh Masyarakat Desa Tanjung
Pulo, 15 Desember 2016.
22
https://id.wikipedia.org/wiki/masyarakat, diakses tanggal 17 Desember 2016.
Dengan demikian dapat disimpulkan dengan adanya interaksi masyarakat memunculkan sebuah kebudayaan yang menjadi tradisi di tengah-tengah berkehidupan masyarakat.Begitu juga di Desa Tanjung Pulo Kecamatan Payung kehidupan masyarakat telah berinteraksi setiap individu. Mereka telah mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat sehingga terjadi dinamika perubahan kehidupan masyarakat baik dalam segi sosial,budaya,politik, dan ekonomi.
2.3.1. Kehidupan sosial dan budaya Desa Tanjong Pulo Kecamatan Payung Kabupaten Karo
Sosial budaya adalah segala sesuatu atau tata nilai yang berlaku dalam sebuah masyarakat yang menjadi ciri khas dari masyarakat tersebut, baik berupa kesenian, moral, pengetahuan, kepercayaan, dan kemampuan olah pikir dalam bentuk lain yang didapatkan seseorang sebagai anggota masyarakat dan keseluruhan bersifat kompleks. Jadi dapat disimpulkan sosial budaya mengacu pada kehidupan bermasyarakat yang menekankan pada aspek adat istiadat dan kebiasaan masyarakat itu sendiri.23
Sangkep Nggeluh adalah ciri khas dari masyarakat Karo. Dengan Sangkep Nggeluh semua masyarakat Karo memiliki tali kekeluargaan dan tidak ada yang tidak memiliki ikatan kekeluargaan. Hal ini telah menjadi tradisi dari leluhur. Di dalam masyarakat Karo terdapat lima Marga yang menjadi induk dari semua Marga yang Di dalam mengetahui adat istiadat masyarakat Karo yang harus diketahui yaitu Sangkep Enggeluh yaitu suatu sistem kekeluargaan pada masyarakat Karo yang disebut dengan “Rakut sitelu Tutur siwaluh Perkade-kaden si sepuloh dua tambah Sada” yang dimaksud dengan Rakut sitelu yaitu Senina, Kalimbubu, dan Anak Beru. Tutur Siwaluh yaitu Sipemeren, Siparibanen, Sipengalon, Anak Beru, Anak Beru Menteri, Anak Beru Singikuri, Kalimbubu, Puang Kalimbubu. Perkade-kaden Sepuloh dua yaitu Nini, Bulang, Kempu, Bapa, Nannde, Anak, Bengkilka, Bibi, Permen, Mama, Mami, Bere-bere.Tambah sada yaitu Teman meriah.
23
ada di Karo yang disebut dengan Merga Silima. Kelima Marga tersebut yaitu: Ginting, Sembiring, Perangin-Angin, Tarigan dan Karo-Karo.
Sangkep Nggeluh di dalam Masyarakat Karo juga digunakan di Desa Tanjung Pulo dan menjadi dasar Adat dan Sistem kekerabatan.Seperti halnya dengan masyarakat Karo lainnya masyarakat Desa Tanjung Pulo juga memakai Sangkep Nggeluh sebagai norma dalam berkehidupan bermasyarakat. Dengan mengetahui Sangkep Nggeluh maka masyarakat dapat mengetahui Orat tutur yaitu bagaimana kita menyebut panggilan secara adat Karo terhadap seseorang seperti Erbapa (Bapak), Ernande (Ibu), Erturang (Saudari), Senina (Saudara), Mama (Paman), dan lain-lain.
Pada tahun 1984 ketika Pura dibangun masyarakat Karo masih kental dengan Adat Sangkep Nggeluh. Begitu juga ketika Pura dibangun masyarakat Tanjung Pulo memiliki rasa gotong royong untuk bekerja. Akan tetapi sekarang generasi muda tidak ingin tahu akan Sangkep Enggeloh akibat dari perkembangan jaman yang semakin maju dan melupakan budaya yang memiliki nilai membangun karakter yang berbudaya luhur.
2.3.2. Kehidupan Ekonomi Masyarakat Desa Tanjung Pulo Kecamatan Payung Kabupaten Karo
Pada umumnya masyarakat Desa Tanjung Pulo bekerja sebagai petani. Perladangan yang ada di Desa Tanjung Pulo mayoritas persawahan sehingga masyarakat Tanjung Pulo banyak yang menanam padi. Pada tahun 1985-2000 selain
daripada padi, masyarakat Tanjung Pulo banyak juga yang menanam Palawija, kacang, bawang merah, cabai, dan sayur-sayuran.24
Pada tahun 1985-2000 hasil pertanian yang akan dibawa ke desa untuk dijual dari ladang, dibawa dengan transportasi tradisional Karo yang disebut Gereta Lembu yaitu sejenis kendaraan tradisional yang dibawa oleh lembu ataupun Kerbau yang menjadi alat transportasi untuk membawa hasil pertanian dari ladang. Namun sekarang Gereta Lembu tidak ada lagi dan alat transportasi yang dipakai sudah modern yaitu mobil jenis bak terbuka, contohnya mitsubishi L300.Semakin majunya jaman dan masuknya imigran suku Jawa ke Desa Tanjung Pulo yang kemudian
Sekarang masyarakat di Desa Tanjung Pulo lebih banyak menanam bawang merah, cabai, dan Padi. Untuk meringankan beban dalam bekerja, masyarakat Desa Tanjung Pulo menggunakan tradisi Aron yaitu sebuah konsep pola kerjasama dan tolong menolong baik dalam menghadapi ancaman dari pihak lain atau dalam mengerjakan sesuatu, terutama dalam bidang pertanian. Istilah Aron berasal dari Bahasa Karo yaitu sisaro-saron (saling membantu) yang diwujudkan dalam bentuk kelompok kerja orang muda atau dewasa mulai 6 hingga 24 orang dalam satu kelompok, hal ini sangat membantu masyarakat dalam mengerjakan pekerjaan di ladangnya, dimana Aron ini berganti-ganti bekerja antara satu ladang yang satu ke ladang lainnya dengan silih berganti, sehingga dari tradisi Aron ini mempunyai manfaat dalam efisien waktu, tenaga, dan semakin eratnya rasa kebersamaan.
24
banyak disewa untuk bekerja di ladang masyarakat dengan upah harian, maka pada tahun 1990 tradisi Aron telah memudar. Sekarang tidak ada lagi tradisi Aron yang dipakai dalam masyarakat Desa Tanjung Pulo.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sebelum masuknya pengaruh Agama Hindu masyarakat di Desa Tanjung Pulo masih menganut Animisme. Setelah masuknya pengaruh Agama Hindu kepada masyarakat di Desa Tanjung Pulo, menyebabkan Animisme yang dianut masyarakat mengalami perubahan menjadi Agama Pemena. Setelah masuknya Agama Hindu ke Tanjung Pulo, masyarakat Desa Tanjung Pulo menggunakan upacara keagamaan yang memiliki persamaan dengan budaya Agama Hindu di India. Salah satu persamaannya adalah kremasi atau pembakaran mayat untuk mendapatkan abu jenasah dan masyarakat di Desa Tanjung Pulo telah menyembah Dewa di dalam kepercayaan Agama Hindu yaitu Dewa Siwa. Pada tahun 1985 Agama Pemena telah disahkan menjadi Agama Hindu, dan penganut Agama Hindu di Desa Tanjung Pulo telah resmi diakui menjadi Agama yang resmi karena bukan lagi disebut dengan Agama Pemena.
Penganut Agama Hindu di Desa Tanjung Pulo mengalami penurunan jumlah penganutnya. Sebelum masuknya kristenisasi dan pengaruh pemberontakan komunis penganut Agama Hindu di Desa Tanjung Pulo merupakan Agama yang dominan. Namun akibat dari faktor tersebut penganut Agama Hindu mengalami penurunan yang sangat banyak. Dibangunnya Pura pada tahun 1985 di Desa Tanjung Pulo sempat memberi harapan untuk penganut Agama Hindu yang tersisa untuk
berkembang, namun pembangunan Pura yang diberi nama Pura Sekula Serasi tidak mampu meningkatkan jumlah penganut Agama Hindu di Desa Tanjung Pulo. Masyarakat di Desa Tanjung Pulo mulai meninggalkan Agama Hindu akibat persepsi negatif dari masyarakat yang belum mengetahui latar belakang Agama Hindu di Desa Tanjung Pulo.
Penganut adalah individu yang mengikuti sebuah kepercayaan dan menjadi sebuah Komunitas yang saling membantu antara sesama. Komunitas adalah suatu kesatuan hidup manusia, yang menempati suatu wilayah yang nyata dan berintraksi menurut suatu sistem adat istiadat, serta terikat oleh suatu rasa identitas komunitas1. Komunitas dapat bertahan, berkembang ataupun menurun secara kuantitas. Pemicu munculnya penurunan komunitas disebabkan oleh suatu sistem yang tidak lagi dianggap menarik, menguntungkan atau tidak sesuai lagi dengan pola pikir masyarakat pada umumnya, tidak sesuai dengan adat istiadat dan lahirnya komunitas baru yang lebih diterima karena sesuai dengan kondisi yang sedang berlangsung, yang mengakibatkan komunitas sebelumnya ditinggalkan. Komunitas bisa juga dijelaskan sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama.2
1
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:F.a.Aksara Baru, 1985, hal. 148.
Sejarah adalah kisah atau cerita yang terjadi pada masa lampau yang memiliki bukti yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Keberadaan Agama Hindu adalah salah satu sejarah yang perlu untuk diketahui karena merupakan agama pertama yang masuk ke
Indonesia. Sebelum masuknya Hindu masyarakat di Nusantara masih menganut animisme dan dinamisme.3
Kedatangan orang India ke kawasan Asia Tenggara membawa serta agama dan kebudayaan Hindu, bermula sekitar awal tarikh Masehi. Kebudayaan Hindu berkembang dan mempengaruhi hampir semua bangsa di dunia. Ketika itu India dan Cina adalah dua kekuatan besar di Asia yang telah memiliki peradaban yang kokoh dan sudah berkembang sejak ribuan tahun sebelumnya. Kebudayaan intelektual Agama Hindu mempengaruhi kawasan Asia Tenggara yang sangat jauh tertinggal. Sedemikian kuatnya dominasi politik dan kebudayaan tersebut
Masuknya Agama Hindu ke Nusantara dibawa oleh Bangsa India.Mereka masuk ke Indonesia melalui jalur laut dan melakukan perdagangan karena Indonesia memiliki letak geografis yang strategis dan sumber alam yang bernilai dalam perdagangan.Bersamaan dengan kegiatan tersebut mereka menyebarkan Agama Hindu kepada masyarakat di nusantara.
4
Etnis Tamil di Indonesia berasal dari India bagian selatan. Kelompok suku bangsa Tamil ini banyak terdapat di Sumatera Utara seperti Pematang Siantar, Lubuk Pakam, Langkat, Binjai dan Medan. Banyak dari mereka yang didatangkan pada zaman kolonial Belanda untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan yang
.Pengaruh kedua bangsa besar India dan Cina, negeri-negeri di Asia Tenggara makin berkembang dan mampu mencapai tingkat yang lebih tinggi
3
Animisme adalah sebuah kepercayaan terhadap roh nenek moyang(leluhur) sedangkan
dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda benda yang dianggap sakral dan memiliki kekuatan
gaib.
4
J.Fachruddin Daulay “Bandar Barus dalam catatan sejarah” .Medan :Buletin Historisme,. Departemen Sejarah Fakultas Sastra USU, No. 21, pp. 28-36,2009.
dibangun di daerah tersebut. Kelompok bangsa Tamil kemudian berkembang secara turun temurun hingga sekarang di Indonesia.5
Kedatangan orang India selatan(Tamil)
Kuil Agama Hindu yang tertua di Sumatera Utara terletak di Kampung Madras, “Sri Mhariaman”, didirikan pada tahun 1884. Ketika itu sudah banyak kuli orang Tamil bekerja di perkebunan-perkebunan di sekitar Medan. Sedangkan Kuil Agama Sikh di samping Candi Tamil di Kampung Madras didirikan oleh “Gurdhuara Sahib”. Pendetanya yang pertama ialah Bhai Surain Singh Ji.
6
ke Sumatera Utara tidak lepas dari hubungan erat yang pernah terjadi antara Kerajaan Cola, Kolutungga I dengan kerajaan Sriwijaya. Dimana Kerajaan Cola menguasai wilayah Tamil di India selatan. Hal ini menyebabkan banyak Etnis Tamil yang menetap di Barus, dimana pada waktu itu Barus dibawah kekuasaan kerajaan Sriwijaya. Pada saat itu kerajaan Cola memiliki hubungan erat dengan Kerajaan kerajaan yang ada di Nusantara. Begitu juga dengan Kerajaan Sriwijaya dan cukup berpengaruh dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan. Hal ini telah diteliti oleh Prof. Nilakantisastri, guru besar dari Universitas Madras pada tahun 1932 bahwa pada tahun 1080 M di Lobu Tua tak jauh dari sungai Singkil ada pemukiman pedagang dari India Selatan.7
Keterangan batu bertulis Lobu Tua sangatlah penting artinya karena merupakan bukti yang menunjukkan bahwa masyarakat Tamil dalam kegiatan perdagangannya
5
Ayu Sri Mahasti, 2016, “Pangguni Uttiram(Suatu Ritual Hindu-Tamil di Kuil Shri
Thendayanudabani, Kota Lubuk Pakam, Sumatera Utara ,”Skripsi, Medan: belum diterbitkan,2012, Hal: 1.
6
Tamil adalah etnis dari India selatan yang mayoritas memeluk Agama Hindu.
sudah tiba di Sumatera, bahkan sudah ada perkampungan mereka di Barus. Di antara para pedagang terdapat juga seniman yang memahat batu bertulis tersebut. Dengan demikian, selain orang-orang Tamil yang menetap di Barus, yang tercatat sebagai pedagang India, maka pedagang asing lain yang sudah mengunjungi langsung Barus ialah saudagar-saudagar asal Timur Tengah (abad ke-10).8
Setelah Etnis Tamil di Barus mulai dimasuki bangsa Arab dan Timur tengah pada abad ke-10 dan proses Islamisasi di Barus, maka banyak dari mereka yang kemudian pergi ke daerah pedalaman Etnis Batak dan hilangnya hubungan Etnis Tamil dengan tanah leluhurnya, begitu juga dengan Kerajaan Panei di Padang Lawas maka berkembanglah unsur-unsur budaya Hindu kepada masyarakat Batak. Di antaranya adalah Aksara Karo, pengetahuan astrologi, sejumlah kata-kata Sansekerta, pertanian irigasi, termasuk beberapa alat pertanian, pertenunan dan kesenian, permainan catur, beberapa konsep dan praktek keagamaan, sebagian Marga Sembiring, upacara kurban dalam hubungan pertanian, organisasi masyarakat dalam klen-klen berkaitan dengan totemisme. Totemisme adalah istilah menunjuk pada suatu kepercayaan atau agama yang hidup pada suatu komunitas atau organisasi yang mempercayai adanya daya atau sifat Ilahi yang dikandung sebuah benda atau mahkluk hidup selain manusia9
8
J.Fachruddin Daulay. Loc. Cit
9
Hassan Shadily, Ensklopedia Indonesia Jilid 6(SHI-VAJ). Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve, hal. 3604, 1980.
. Adat perkawinan eksogami yaitu istilah Antropologi prinsip perkawinan yang mengharuskan orang mencari jodoh di luar lingkungan
sosialnya seperti di luar lingkungan kerabat, golongan sosial, dan lingkungan pemukiman10
Jadi dapat disimpulkan penyebaran Hindu di Sumatera Utara dimulai dari daerah Barus. Hal ini terjadi akibat hubungan diplomatis Kerajaan Cola dengan Kerajaan Sriwijaya pada waktu itu. Sebagai bukti sewaktu batu bertulis Lobu Tua dibuat di India terdapat berbagai perkumpulan dagang orang-orang Tamil. Salah satunya yang menetap di Barus ialah perkumpulan bernama “Mupakat 500”. Perkumpulan dagang ini sangat kuat organisasinya dan berdiri sendiri serta tidak tunduk secara politis kepada seseorang Raja mana pun, sehingga mereka diterima dengan tangan terbuka di negeri-negeri yang dikunjunginya. Perkumpulan dagang ini mempunyai pasukan tentara bayaran sendiri yang bertugas menjaga barang-barang terutama sewaktu transit dari satu tempat ke tempat lain.
, dan lain-lain. Perkataan marga (klen) sendiri dalam istilah bahasa Batak berasal dari bahasa Sansekerta, “Varga”.
11
Sejarah kedatangan Hindu pertama kalinya ke Barus merupakan cikal bakal perkembangan Hindu ke daerah lainnya di Sumatera utara. Sesuai dengan judul penelitian penulis maka dijelaskan juga proses perkembangan Agama Hindu ke Tanah Karo dimana Kebudayaan Hindu yang dibawa oleh orang India Selatan ke Tanah Karo memiliki peninggalan budaya seperti Sejarah Marga Sembiring yaitu Sembiring Brahmana, Colia, Meliala, Pandia, Muham dimana marga marga ini identik dengan Bahasa India. Brahmana (Kasta), dan Colia (Cola), Pandia (Pandyth),
11
Muham (Mouham). Begitu juga tulisan aksara Karo dan kata kata seperti Nggara, Tula, Cukra dudu dan lain lain merupakan pengaruh dari kebudayaan Etnis tamil Hindu.Sebelum Agama Hindu ada pada etnis Karo, etnis Karo sudah menggunakan sesajen pada kegiatan religi tradisionalnya. Karena pada saat itu, etnis Karo masih menganut Agama Perbegu atau Pemena. Jenis sesajen yang digunakan berupa bunga, air, buah-buahan, (jeruk, apel dan lain-lain), makanan, hewan berupa ayam yang dipersembahkan kepada Tuhan, roh nenek moyang, dan mahluk halus.12
Tentang adanya pengaruh Hindu ke Tanah Karo disamping bukti tentang ditemukanya Pura di Sembahe, Bangun Purba, dan Sarinembah, juga terlihat dari upacara yang berhubungan dengan roh atau tendi (dalam bahasa karo)13. Umpamanya dalam upacara Persilihi dan Erpangir ku Lau14
Salah satu bukti lain peninggalan kebudayaan Hindu di masyarakat karo adalah “Erlige-lige” yaitu suatu upacara penguburan yang menarik jenazah di atas lige-lige yaitu suatu bangunan tinggi yang ditarik ratusan orang. Upacara ini sangat mirip dengan upacara yang ada pada Agama Hindu, yang hingga kini masih dilakukan di Bali. Erlige lige ini terakhir dilakukan di Medan pada tahun 1960. Upacara Pakuwaluh (membakar dan menghanyutkan abu jenazah) yang dilakukan di sungai Lau Biang dengan dimasukkan dalam sebuah guci diatas perahu dengan panjang sekitar satu meter. Hal ini dilakukan di Lau Biang karena dalam tafsiran masyarakat
12
Noprianta A, Tarigan,Sesajen: (StudiDeskripsi Mengenai makna Sesajen pada Penganut Agama Hindu Etnis Karo di Desa Lau Rakit, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara), Skripsi, Medan: belum diterbitkan. Hal: 12. 2011.
13
Sarjani Tarigan,Dinamika Orang Karo, Budaya dan Modernisasi. Medan: Balai Adat Budaya Karo Indonesia, 2008, hal. 34.
14
dahulu, sungai Lau Biang yang perpanjanganya adalah Sungai Wampu di Langkat mengalir ke Selat Malaka dan dari sana dengan tuntunan roh-roh akan mengalir ke Samudra Hindia dan selanjutnya akan sampai di Sungai Gangga di India. Bukan itu saja, banyak tradisi di Karo yang sama dengan kebiasaan masyarakat di India Selatan misalnya Etnis Karo dahulu selalu melakukan doa di malam bulan purnama serta menyanyikan mangmang/tabas (mantra/doa). Dahulu wanita di Karo juga suka membuat titik merah di keningnya seperti halnya yang dilakukan wanita di India.15
Asal kata Hindu berasal dari kata Sungai Shindu yang mengalir di India dan Pakistan. Bangsa asing yang datang ke daerah itu menyebutkannya sungai Hindu. Lalu Suku Bangsa Arya yang mendiami lembah sungai Hindu, menyebutkan tempat itu kediamaan orang Hindu. Orang asinglah yang kemudian menyebutkan Hindu untuk nama bangsa dan agama di India, sedangkan rakyat di desa pada umumnya tidak mengetahui Hindu. Agamaya hanya diketahui Agama Dharma dan Thirta.16
Kedatangan Hindu ke Tanah Karo dibawa pertama kali oleh Bahgawan Bergu yang berasal dari India selatan. Setelah Bahgawan Bergu menyelesaikan pelayanannya di Tanah Karo, perkembangan Agama Hindu di Tanah karo kemudian dilanjutkan oleh Lemba Ginting. Pada masa Lemba Ginting ajaran Hindu lebih disesuaikan dengan tradisi dan Budaya Karo. Sedangkan di Desa Tanjung Pulo sendiri Pura Hindu yang pertama dibangun adalah Pura “Sekula Serasi” yang dibangun pada tahun 1984. Pada tahun 1984 masyarakat yang ada di desa Tanjung
16
Sarjani Tarigan.Kepercayaan Orang Karo Tempoe Doeloe,Medan:Balai Adat Budaya Karo Indonesia,hal, 24, 2011.
Pulo masih banyak memeluk Agama Hindu. Sedangkan menurunnya pemeluk agama Hindu di Desa Tanjung Pulo Kecamatan Payung dimulai pada tahun 1990. Hal ini terjadi karena para leluhur yang sudah meninggal yang gigih dalam mengembangkan Agama Hindu, tidak diikuti dengan generasi berikutnya. Salah satu faktor penyebab penurunan Hindu akibat perkembangan Agama Kristen di wilayah Tanah Karo. Di dalam Agama Hindu ada istilah Kalapatra yang artinya di daerah mana Hindu berada maka Hindu itu mengikuti budaya, daerah tersebut baik berupa bahasa, ritual dan sembah sembahan. Di desa Tanjung Pulo sendiri Agama Hindu mengalami perkembangan yang pesat pada tahun 1970-1985. Hal ini terjadi karena Pandita yang dipilih adalah masyarakat yang dianggap memiliki kemampuan baik, tanpa terkecuali pria dan wanita maupun kaum muda Desa. Hal ini mengakibatkan masyarakat yang belum beragama tertarik dan memeluk Agama Hindu.
Sampai saat ini penganut Agama Hindu yang ada di Desa Tanjung Pulo masih ada lima kepala keluarga dan Pandetanya adalah Katar Kacaribu.Terdapat Pura yang bernama Pura Sekula Serasi. Tanah tempat dibangunnya Pura Sekula Serasi ini adalah milik Alm. Nikep Singarimbun Beliau dahulu sebagai koordinator Parisada Hindu Kecamatan Payung sebelum berganti menjadi Kecamatan Tiganderket sekarang.17
Persatuan Agama Hindu di Tanah Karo berpusat di Kabanjahe yaitu Parisada Hindu Darma Karo. Terdapat koordinator di setiap kecamatan yang mengawasi desa.
17
Wawancara dengan Katar Kacaribu (Pendeta Agama Hindu) di Desa Tanjung Mbelang
Pihak yang mengawasi dan mengayomi Agama Hindu adalah Parisada Desa. Penganut Hindu di Desa Tanjung Pulo dahulu banyak belajar ke Pura Agung yang berada di jalan Polonia Medan yaitu Pura Raksabuana Pendeta dari Pura Agung tersebut melayani ke Desa Tanjung Pulo yaitu Pak Dewa. Dia datang ketika pura didirikan padatahun 1984. Pada masa pelayanan Pak Dewa masyarakat Hindu di Desa Tanjung Pulo pernah dibawa ke Pura Agung untuk melakukan penataran dan mempelajari ajaran Agama Hindu lebih mendalam. Hasil dari penataran tersebut terjadi regenerasi Pandita atau Guru Hindu dari Karo yang sudah memiliki kemampuan yang baik tentang Agama Hindu.
Pendeta Hindu yang pernah berada di Desa Tanjung Pulo: 1.Pendeta Las Melas Sinulingga berasal dari Desa Bintang Meriah 2.Pendeta Kajam Ginting berasal dari Desa Kidupen
3.Pendeta Rem Ginting berasal dari Desa Durin rugun
4.Pendeta Ngajar Bana Sinuraya berasal dari Desa Sigenderang Juhar
Penulis tertarik melakukan penelitian tentang “ Penganut Agama Hindu di
Desa Tanjung Pulo Kecamatan Payung Kabupaten Karo (1985-2000)” karena
Agama Hindu mengalami akulturasi dengan Budaya karo khususnya di Desa Tanjung Pulo Kecamatan Payung, bisa dilihat dari adanya komunitas Hindu di Desa Tanjung Pulo. Agama Hindu di Desa ini tetap bertahan meskipun pada tahun 1965 kristenisasi semakin mrningkat di Tanah Karo. Selain di Tanjung Pulo ada juga wilayah di Tanah Karo yang memiliki hubungan dengan Hindu seperti di Desa Pintu Besi,
Kecamatan Lau Rakit, Kabupateen Deliserdang, Desa Bintang Meriah Kecamatan Kutabuluh Simole,di Desa Rumah Pil Pil Sibolangit.
Agama Hindu di Desa Tanjung Pulo pernah sangat berkembang sehingga penulis tertarik mencari informasi tentang hal tersebut.Tahun penelitian yang dipilih