• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II Al-Ikhwan Al-Muslimun dan Perkembangannya

2. Kehidupan Pendiri Al-Ikhwan Al-Muslimin (Hasan Al-Banna)

Hassan Al-Banna lahir pada tahun 1906, di sebuah kota MahmudiahPropinsi Buhairah di Mesir. Namanya adalah Hasan al-Banna Al-Syahid Hasan bin Ahmad Abdul Al-Rahim Al-Banna.32

31

Ibid, Hal 5

Beliau dibesarkan dalam keluarga yang amat kuat berpegang pada Islam. Hassan al Banna merupakan anak sulung daripada lima

32

Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedia Tokoh Pendidikan Islam ( Mengenal Tokoh Pendidikan Islam di Dunia dan Indonesia), Ciputat: Quantum Teaching, 2005

beradik. Ayahnya, Syeikh Ahmad ibn Abdul Al-Rahman Al-Banna adalah seorang ulama, imam, guru dan pengarang beberapa buah kitab hadis dan fikih perundanganIslam, yang lulus dari Universitas Al Azhar Mesir. Beliau bekerja memperbaiki jam pada waktu malam sebagai sumber rezeki untuk menghidupi keluarganya. Pada siang hari, beliau menjadi Imam di sebuah masjid dikampungnya. Disinilah Al-Banna mendapatkan pengajaran tentang prinsip-prinsipIslam dan berdakwah. Diantara karya sang ayah adalah kitab Tafsir Musnad ImamAhmad Ibn. Hanbal.33

Sedangkan ibunda dari Hasan al-Banna bernama Ummu Sa’ad IbrahimSaqr.Ibundanya adalah wanita bertipologi cerdas, disiplin, cerdik dan teguh pendirian.Apabila telah memutuskan sesuatu, maka akan sulit bagi Ummu Sa’aduntu k menarik keputusannya. Perhatiannya pada pendidikan, membuat sang ibu bertekad untuk menyekolahkan Al-Banna hingga ke pendidikan tinggi. Ummu Sa’admemiliki delapan delapan orang anak, yaitu Hasan Al-Banna, Abdurrahman, Fatimah,Muhammad, Abdul Basith, Zainab, Ahmad Jamaluddin, dan Fauziyah.34

Semangat perjuangan Islam dan sifat kepimpinan telah mulai nampak pada u mur yang masih muda. Sejak dini Hasan Al-Banna sudah ditempa olehkeluarganya yang taat beragama untuk meraih dan memperdalam ilmu di berbagai tempat dan majelis ilmu. Pertama kali beliau menggali ilmu di Madrasah Ar-Rasyad

Hasan Al-Banna berguru pada ayahnya sehingga bisa menghafal Qur'an 30juz.Pada usia remaja, ayahnya mengizinkan menggunakan kitab-kitab simpanannya untuk dibaca, hingga akhirnya Al Banna dapat memahami Islam dan bahasa Arab dengan baik.

33

http://yankoer.multiply.com/journal/item/270/Pemikiran_Politik _Hasan_Al_Banna, diakses pada tanggal20Januari 2014

34

http://yankoer.multiply.com/journal/item/270/Pemikiran_Politik _Hasan_Al_Banna, diakses pada tanggal20Januari 2014

dengan seorang guru bernama syekh Muhammad Zahran yang juga merupakanpemili k madrasah tersebut.35

Di madrasah ini, Al-Banna belajar hadits nabi dengan target menghapal dan

memahaminya. Selain hadits, Al-Banna juga belajar insyak,

qawa’id dan lain sebagainya. Kemudian dia pindah ke madrasah ‘Idadiyah danmadras ah al-Muallimin al-Awwaliyah di Damanhur, kemudian melanjutkan ke Darul Ulum Mesir pada tahun 1923 M dalam usia 16 tahun.

Pada usianya yang masih muda, Hasan Al-Banna sudah memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan da’wah.Ia pun mampu beraktifitas untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Bersama teman-temannya di sekolah,dibentuklah perkumpulan“Akhlaq Adabiyah”dan“Al-Man’il Muharramat”. Nampaknya sejak muda ia memang menginginkan da’wah Islamiyah tegak dankokoh. Pada tahun 1920 Hasan Al-Banna melanjutkan pendidikannya di DarulMu’allimin Damanhur, hingga menyelesaikan hafalan Qur’an diusianya yang belumgenap 14 tahun.Beliaupun aktif dalam pergerakan melawan penjajah.Tahun 1923 iamelanjutkan pendidikannya di Darul Ulum Kairo. Disinilah ia banyak mendapatkanwawasan yang luas dan mendalam. Pendidikannya di Darul Ulum diselesaikan padatahun 1927 M, dengan hasil yang memuaskan, menduduki rangking pertama di Darul Ulum dan rangking kelima di seluruh Mesir dalam usianya ynag baru beranjak 21 tahun.36

35

Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedia Tokoh Pendidikan Islam ( Mengenal Tokoh Pendidikan Islam di Dunia dan Indonesia), Ciputat: Quantum Teaching, 2005

Hasan Al-Banna menikah dengan putri salah seorang tokoh Ismailiyah Al HajHusain As Shuly pada malam 27 Ramadhan 1351 H. Ia kemudian dikaruniai 5 ornaganak, 4 orang anak perempuan yaitu Wafa’, Sinai, Raja dan Hajar. Adapun anak lelaki beliau adalah Ahmad Saiful Islam.Hasan Al-Banna memberikan perhatianyang besar pada

36

http//harakatuna.wordpress.com/2008/12/01/sejarah-kehidupan-hasan-al-banna/, diakses pada tanggal 20 januari 2014

pendidikan keluarganya dengan adab dan akhlaq Islam.Hasil perhatiannya terhadap keluarga dapat kita lihat pada anak beliau yang sangatdihormati Ahmad Saiful Islam.

Pemikiran Al Banna sangat jauh berbeda dengan cara berfikir penguasa dunia Islam saat itu, dimana seruan agar mencontohi cara barat oleh Kamal Attaturk bertiup kencang dan tidak ada henti. bukan hanya itu, bahkan majalah-majalah dansurat khabar yang membuat propaganda dengan slogan 'Mesir adalah sebahagian dariEropa' telah membanjiri pasaran. Para nasionalis mendesak pemerintahan Mesir agar kembali ke puncak kejayaan Firaun dan mencungkil adat-adat bangsa Mesir purba.

Melihat fenomena ini membuat Hassan al Banna merasa sedih, sebabsebahagian besar orang terhormat dan berpengaruh menyertai barisan modernis yangmenyesatkan umat Islam. Dalam keadaan sedih dan pilu ini, beliau berusaha merapatkan diri dengan Sayyid Rashid Rida' serta murid-muridnya. Di sinilah titik permulaan berdirinya satu harakah Islam yang besar dan tersusun untuk menghancurkan Jahilliah Modern dengan segala pemikirannya. Beliau mulai mendidik orang-orang dengan penuh kesabaran tentang pentingnya Islam dalam kehidupan individual dan masyarakat.

Dr. Al-Husaini, ketika menjelaskan perbedaan antara pribadi Hasan Al-Banna dan para pejuang dakwah terdahulu mengatakan bahwa sebelum Hasan Al-Banna telah muncul para tokoh agama seperti Jalaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Akan tetapi Hasan Al-Banna merupakan model baru ynag berbeda dengan tokoh sebelumnya dari banyak aspek. Diantara aspek yang paling menonjol adalah mereka pergi tanpa meninggalkan dakwah yang jelas rambu-rambunya, jelas metodenya, dan dianut oleh para pengikut yang setia. Barangkali, sebutan terbaik yang dapat

diberikan kepadanya adalah bahwa dia seorang da’I, sedangkan pendahulunya adalah tokoh agama.37

Syaikh Sa’id Hawwa mengutip pendapat Syaikh Muhammad Al-Hamid sebagai berikut. “Selama ratusan tahun, kaum Muslimin belum melihat orang seperti Hasan Al-Banna dalam sifat-sifat yang menghiasi pribadinya. Panji-panji sifat tersebut berkibar di atas kepalanya yang mulia. Saya tidak mengingkari bimbingan para mursyid, ilmu kaum arifin, kefasihan para orator dan penulis, kepemimpinan para pemimpin, manajemen para manajer, dan kecerdasan para pengarah. Saya tidak menginkari semua itu, baik yang telah lalu ataupun pada masa mendatang . Namun, berhimpunnya berbagai sifat utama seperti itu jarang sekali dimiliki seseorang seperti Hasan Al-Banna, semoga Allah mencurahkan rahmad kepadanya. Secara umum bisa saya katakana, bahwa ia semata-mata mencari ridha Allah dengan segenap ruh, jasad, hati dan segala perilakunya. Karena itu, Allah meridhai, memilih, dan menjadikannya berada dalam jajaran para pemimpin syuhada.”

38

Syaikh Hasan Abu Ali An-Nadawimemberi komentar tentang Hasan Al-Banna. “Setiap orang mengenal tokoh ini melalui kedekatan, bukan melalui buku dan pernah berinteraksi dengannya, pasti akan mengetahui keutamaan pribadi yang muncul ke permukaan dan mengejutkan Mesir, kemudian seluruh penjuru dunia Islam, dengan dakwah, tarbiyah, jihad, dan kekuatan yang unik. Dia adalah pribadi yang didalamnya Allah menghimpun akal cemerlang yang menyinari, pemahaman yang luas, perasaan kuat yang menggelora, hati yang berlimpah keberkahan,ruh yang jernih, lidah yang fasih, zahid, qana’ah tanpa memaksakan diri dalam kehidupan individual, selalu optimistis, dan senantiasa penuh cita-cita tanpa pernah bosan dalam berjuang menyebarkan dakwah dan prinsip, rendah hati dalam hal yang berkaitan

37

Al-IKhwan Al-Muslimun Akbar Al-Harakah, hal. 51

38

dengan urusan pribadi, hamper persis dengan kesaksian orang-orang yang mengetahinya.”39

Masih tentang Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb menulis panjang lebar tentangnya. “terkadang suatu kebetulan tampak seakan-akan suatu ketepatan yang telah digariskan dan satu hikmah yang telah diatur dalam kitab yang ditulis, Hasan Al-Banna. Hanya kebetulan, mungkin inilah sebutannya. Namun, siapa yang mengatakan bahwa hal itu kebetulan, padahal hakikat terbesar tokoh ini adalah membangun, memperbaiki bangunan, bahkan kejeniusan bangunnan. Hasan Al-Banna pergi setelah menyempurnakan fondasi bangunan. Ia meninggalkan sedangkan kesyahidannya persis seperti yang dikehendaki oleh proses baru diantara berbagai proses pembangunan. Seribu khotbah dan seribu risalah almarhum Hasan Al-Banna yang syahid tidaklah sebanding jika dibandingkan tetesan darah suci yang mengucur dari tubuh asy-syahid dalam menggelorakan dakwah di dalam diri jamaah ikhwanul muslimin”40

Hasan Al-Banna dikenal sebagai seorang yang ahli dalam berpidato, lidahnya sangat fasih, ahli dalam sastera dan pandai memilih kata-kata yang tepat. Pada tahun 1941, dia dipenjara selama sebulan berkaitan dengan pidato yang disampaikannya yang isinya mengkritik sistem politik Inggeris pada Perang Dunia ke II. Masih pada tahun yang sama, dia dipaksa pindah ke Qana. Di tempat barunya ini, Al-Banna terus melanjutkan perjuangannya denganmenyampaikan dakwah dan mengajarkan Islam kepada umat dari satu tempat ketempat yang lain. Dia juga mengirimkan delegasi-delegasi ke seluruh penjuru dunia untuk mengetahui keadaan umat Islam.

39

Lihat pengantar Al-Ustadz An-Nadawi dalam Hasan Al-Banna, Mudzakkirah Ad-Dakwah wad Da’iyah, hal. 3-8

40

Delegasi-delegasinya menginformasikan tentang realita dunia Islam.Pada tahun 1948, dia mengirimkan satu batalion pasukan ke Palestina. Pasukan yang dikirim ke Palestina itu terdiri daripada orang-orang Al-Ikhwanul Al-Muslimin.Dalam pertempuran melawan orang-orang Ikhwanul Muslimin, pasukan Yahudi mendapatkan kekalahan. Salah satu jenderalnya berkata,”Seandainya mereka memberikan kepadaku satu batalion orang-orang IkhwanulMuslimin, maka dengan pasukan tersebut saya pasti menaklukkan dunia.”41

Sebuah pertemuan direkayasa antara Hasan Al-Banna dengan Mohammad An-Naqhi (salah satu pengurus Dar Asy-Syubban) pada hari Jum’at tanggal 11 Desember 1949 pukul 17.00.Namun hingga pukul 20.00 masalah yang diagendakan belum ada kejelasan,yaitu salah seorang menteri yang diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah Ikhwan. Lalu pulanglah ia dengan menantunya Ustadz Mansur dan sepakat akan datang kembali esok harinya. Namun tiba-tiba ia mendapati suasana yang berbeda di jalan protokol Quin Ramses, yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk lalu lintas lalu dan lalang manusia,saat itu tak sebuah mobil dan seorangpun yang lewat kecuali sebuah taksi yang adadi depan gerbang pintu Dar Asy Syubban. Toko-toko dan rumah-rumah makanyang berdekatan juga sudah tutup.Kecurigaan semakin tinggi ketika baru akanmelangkahkan kaki menuju jalan raya tiba-tiba seluruh lampu penerang jalan mati.Saat itulah beberapa peluru meluncur, sebagian mengenai Hasan Al-Banna dan peluru yang lainmengenai Ustadz Mansur.Namun Hasan Al-Banna masih kuat untuk naik sendiri menuju gedung Dar Asy Syubban dan memutar telepon untuk meminta pertolongan ambulance. Meskipun demikian, ia kemudian terlantar di salah satu kamar Rumah Sakit “Qosr Aini” karena tak seorangpun dari perawat atau dokter yang berani menolongnya, sekalipun banyak dokter muslim yang ingin merawatnya karena kepala rumah sakit

41

tidak mengizinkan hal tersebut sesuai perintah kerajaan. Dering telepon tak henti-hentinya untuk meyakinkan kematian Hasan Al-Banna hingga ia menemui ajal dengan kepahlawanannya.

Tepat hari Sabtu malam Minggu tanggal 12 Desember 1949 beliau pulangke Rahmatullah.Hari itu dunia diliputi kesedihan yang mendalam karena dengankematiannya berarti hilang pula seorang pembela kebenaran penegak keadilan ditengah-tengah kelaliman.Pagi hari Minggu tanggal 12 Desember 1949 sampailah berita kematian kepada orang tuanya, Syaikh Ahmad Al-Banna. Sangat lebihmenyedihkan lagi, rezimpun tidak mengizinkan ummat Islam untuk merawat

jenazahnya dan bertakziyah ke rumah shohibul musibah. Untuk

menunjukkankeangkuhan serta kedengkian rezim terhadap Hasan Al-Banna mereka menyusun penjagaan militer dengan ketat, seperti siap untuk bertempur serta tank-tank yangseakan-akan hendak menghadapi sebuah pertempuran yang dahsyat.Tidak seorangpun diizinkan membawa jenazahnya menuju makam kecuali orang tua beserta kedua saudari perempuannya.

2.1. Peristiwa berdirinya Al-Ikhwan Al-Muslimin

Setelah menyelesaikan sekolahnya di Darul Ulum pada bulan September tahun 1927, Hasan Al-Banna diangkat menjadi guru SD di Kota Isma’iliyah, disanalah beliau memulai da’wahnya, di warung-warung kopi kemudian pindah ke masjid. Da’wah yang dilakukannya di warung-warung kopi ini bukan pengalaman yang pertama baginya, tapi beliau sudah terbiasa dakwah di tempat-tempat seperti ini, ketika beliau masih mahasiswa di Darul Ulum, Kairo.

Dakwah Hasan Al Banna mendapat sambutan dari para pengunjung warung-warung kopi, sehingga sebagian diantara mereka bertanya kepadanya tentang apa yang harus dilakukan demi agama dan tanah air. Setelah beberapa lama berdakwah di

warung-warung kopi kemudian Hasan Al-Banna pindah dari warung kopi ke mushalla (Zawiyah).Di Zawiyah inilah beliau berbicara dan mengajarkan praktek ibadah, dan meminta kepada mereka agar meninggalkan kebiasaan hidup mewah.Para pendengarnya menyambutnya dengan baik.

Hasan Al-Banna membuat beberapa strategi dalam dakwahnya dengan menetapkan unsur-unsur yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat, yaitu pada 4 unsur :

1. Ulama

2. Masyaikh furuq sufiah

3. Para tokoh masyarakat (wujaha) 4. Klub-klub (nadi-nadi)

Maka Imam Syahid Hasan Al Banna membuat perencanaan dan berinteraksi dengan 4 unsur diatas. Hasan Al Banna mampu mengambil simpati ulama dengan menjalin hubungan persahabatan, menghormati dan menghargai mereka dan kadang-kadang memberikan hadiah kepada mereka, maka dengan cara ini mereka (pada ulama) menghormatinya tidak menghalanginya berda’wah di Isma’iliyah, inilah sebenarnya tujuan beliau untuk para ulama, agar mereka membiarkannya berda’wah Illallah dan tidak menyerangnya, karena Hasan Al-Banna bukan ulama Al Azhar.

Hasan Al-Banna berbicara kepada masyaikh furuq sufiah dengan bahasa mereka, berinteraksi dengan mereka dengan etika yang berlaku di kalangan mereka, dengan demikian mereka tidak menghalanginya berdakwah dan tidak menyerangnya.Bahkan mereka membiarkan Al Banna berdakwah, kendatipun mereka tidak bergabung dengannya atau tidak mendukungnya.

Para tokoh masyarakat, Hasan Al-Banna menghormati mereka sesuai dengan posisi mereka di masyarakat dan mengadakan pendekatan dengan bahasa yang baik dan amal-amal kebaikan, dengan cara ini mereka mencintai dan menghargainya,

diantara yang dilakukan oleh Hasan Al-Banna adalah menghilangkan sebab-sebab perselisihan dan permusuhan diantara mereka, dalam hal ini beliau berhasil dan mendapat penghargaan dari mereka.

Hasan Al-Banna sering mendatangi klub-klub (tempat-tempat pertemuan) dan disana beliau menyampaikan pengajian, muhadhoroh nadwah (menjalin hubungan persaudaraan dengan orang banyak) dan berhasil merekrut jumlah yang tidak sedikit untuk mengikuti pengajian beliau di Zawiyah.Demikian Hasan Al-Banna pada permulaan dakwahnya di Isma’iliyah berhasil menarik simpati dan mengambil hati masyarakat. Kemudian dikumpulkan lalu diarahkan sehingga mereka memiliki ghiroh (semangat) terhadap agama mereka dan cinta akan amal islami. Cara-cara diatas dilakukan oleh Al Banna kurang lebih selama 1 tahun.

Pada bulan bulan Maret 1928 M, Hasan Al-Banna bersama enam orang rekannya mengadakan sebuah pertemuan yang menjadi latar belakang berdirinya Al-Ikhwan Al-Muslimun. Mereka berbicara kepada Hasan Al-Banna tentang apa yang harus mereka lakukan demi agama dan mereka menawarkan sebagian harta milik mereka yang sedikit. Lalu mereka meminta kepada Hasan Al-Banna untuk menjadi pimpinan mereka, kemudian permintaan ini diterimanya. Lalu mereka berbaiat kepadanya untuk bekerja demi Islam dan mereka bermusyawarah tentang nama perkumpulan mereka. Hasan Al-Banna berkata : “Kita ikhwah dalam berkhidmat untuk Islam, dengan demikian kita Al-Ikhwanu Al-Muslimun”.

Kemudian mereka menjadikan kamar di suatu rumah sewaan yang sangat sederhana sebagai “Kantor Jama’ah” dengan mengambil namaMadrosah At-Tahzab. Disanalah Imam Syahid mulai meletakkan/ mengambil manhaj tarbawi bersama pengikut-pengikutnya, manhaj tarbawi pada waktu itu adalah :

1. Al-Qur’anul Karim (tilawah dan hafalan).

3. Pelatihan khutbah.

4. Pelatihan mengajar untuk umum.

Setelah beberapa bulan jumlah pengikut jama’ah menjadi 76 orang, kemudian terus bertambah. Dan mereka mendermakan harta mereka untuk da’wah sampai dapat membeli sebidang tanah untuk dibangun diatasnya markas jama’ah (Darul Ikhwanul Muslimin) terdiri dari masjid, 1 sekolah untuk putra, 1 sekolah untuk putri, nadi (tempat pertemuan) ikhwan.

Pada bulan Oktober tahun 1932, Hasan Al-Banna dimutasi ke Kairo sebagai guru di Madrasah Abbas I, Distrik Sabtiah, perpindahan kerja ini atas permintaan kedutaan Inggris kepada Raja Farouq akibat kekhawatiran terhadap dakwah Hasan Al-Banna terhadap para buruh yang bekerja di perusahaan Inggris waktu itu. Pengaruh pemikiran Hasan Al-Banna menyebabkan para buruh tidak mau tunduk kepada perintah atasannya yang notabene adalah orang-orang Inggris.Perpindahan ini menjadi peluang bagi Hasan Al-Banna untuk membawa dakwah ke Kairo yang menjadi ibukota Mesir, mengingat Kairo pusat kebijakan politik, dan mendapatkan kesempatan berdakwah di depan jutaan penduduk Kairo. Pada tahun pertama Hasan Al-Banna telah mampu menyebarkan da’wah di seluruh kota Kairo dan telah membuka cabang baru lebih dari 50 kabupaten, dimana Hasan Al-Banna mendatangi perkampungan negeri Mesir untuk berda’wah tidak mengenal letih, apalagi malas, hal itu dilakukannya disaat-saat musim liburan sekolah.42

An-Nadawi berkomentar tentang Al-Ikhwan Al-Muslimun, ia mengatakan bahwa Hasan Al-Banna telah berhasil dengan gemilang membentuk gerakan Islam yang jarang didapati di dunia Arab khususnya, sebuah gerakan yang lebih luas, lebih aktif, lebih berwibawa, lebih berpengaruh, lebih menyatu dengan masyarakat, dan

42

http://harakatuna.wordpress.com/2008/12/01/sejarah-kehidupan-hasan-al-banna/, diakses pada tanggal 20 januari 2014

lebih mampu mengendalikan jiwa darinya. Dakwah yang telah mengembalikan ke dalam jiwa generasi baru di dunia Arab kepercayaan kepada kelayakan Islam dan keabadian risalahnya, telah menumbuhkan iman baru dalam jiwa dan hati, dan telah menghalau rasa rendah diri dan kekalahan mental yang menggerogoti umat.43

Hasan Al Banna mengajarkan kepada ikhwan untuk menjadi generasi yang pemberani dalam kebenaran, menganggap para penjajah adalah musuh dan bentuk perbudakan yang paling buruk sepanjang sejarah manusia, mereka begitu semangat dan berebut untuk mendapatkan izin menuju Palestina untuk meraih syahadah ketika DK PBB pada tahun 1948 secara resmi memutuskan tanah Palestina menjadi dua, Hasan Al-Banna dalam pidatonya dimuka khalayak ramai di hotel intercontinental mengatakan : “Pembagian Palestina menjadi dua adalah tanda bahwa dunia telah tidak waras”. Hal serupa juga pernah disampaikan kepada pemerintah Inggris lewat perwakilannya di Kairo tahun 1939, bahwa ummat Islam akan mempertahankan Palestina hingga titik darah terakhir.

Perlawanan para ikhwan menghadapi penjajah Inggris atas intervensinya terhadap kota Isma’iliyah awal perang dunia kedua 1939 merupakan contoh keberanian mereka. Melihat keberhasilan Hasan Al-Banna dengan jamaahnya yang cukup gemilang, dimana pada waktu yang relatif singkat fikroh ikhwan telah mampu mempengaruhi dan mewarnai di berbagai bidang ekonomi, sosial politik dan keagamaan, khususnya sikap masyarakat luas terhadap Palestina dan penjajah, maka Inggrispun sangat gerah terhadap Hasan Al-Banna dan sangat berkepentingan untuk membunuhnya dan membubarkan jamaahnya.

Pada tanggal 10 Nopember 1948 tiga segitiga setan mengadakan pertemuan secara rahasia, mereka adalah Inggris, Amerika dan Perancis di Paid, memutuskan agar ikhwanul muslimin segera dibubarkan. Sebulan kemudian tepat pada tanggal 8

43

Desember 1948 datang SK militer yang berisikan pembubaran terhadap ikhwan. Rupanya pembubaran jamaah tidak berdampak terhadap aktifitas dan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat, justru pembelaan dari masyarakat luas semakin kentara dari hari ke hari, kewibawaan dan kemampuan Hasan Al-Banna merekrut masyarakat luas sangat diakui lawannya, kemampuan membangkitkan semangat ummat, membuka hati yang tertutup, menghimpun kekuatan arus bawah sangat ditakuti lawan. Maka tidak ada lagi pilihan lain, kecuali harus merencanakan sebuah makar yang lebih besar yang belum pernah terpikir dibenak mereka yaitu dengan membunuh pendirinya.

Sejak saat itu rezim Faruq benar-benar memperhitungkan langkah untuk menghambat dan memberangus Al-Ikhwan Al-Muslimun khususnya terhadap Hasan Al Banna, beberapa langkah-langkah rezim Faruq untuk menumpas Ikhwan Al-Muslimun yaitu:

1. Dengan memenjarakan seluruh anggota ikhwan dan membiarkan Hasan Al-Banna seorang diri agar masyarakat luas menganggap bahwa rezim masih memiliki rasa tolerir terhadap beliau, padahal itu sebuah siksaan batin, setiap harinya hanya tangisan ribuan anak kecil dan rintihan ibu-ibu yang didengarnya, menengok kanan dan kiri tidak ada yang peduli seakan-akan seluruh rakyat telah diintimidasi oleh rezim, takut untuk melakukan sebuah kebaikan, siapa sedekah mati, dan siapa menolong orang yang kelaparan dianggap sebagai pemberontak. Sungguhpun perasaan-perasaan buruk dan mencekam yang melanda masyarakat lebih dari yang terungkapkan.

Dokumen terkait