BAB IV MASA TRANSISI SEKITAR TAHUN 1965-1973
5.3 Kehidupan Sosial-Budaya
Manusia hidup untuk bersosialisasi, sebagai makhluk sosial punya keinginanan untuk bergaul dengan sesamanya. Untuk memenuhi kebutuhan sosial ini, manusia menggunakan potensi dasar yang dimilikinya, yaitu bahasa, iapun mulai berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Interaksi ini bisa terjadi secara intensif dan juga hanya bersifat kadang kala tergantung kepada kesempatan, kepentingan, dan adanya lembaga sosial yang mempertemukan mereka. Namun demikian tidak selamanya kelompok individual yang terlibat dalam pergaulan sosial dapat dikatakan sebagai suatu komunitas.104
104
Sumardjan, op.cit., hlm. 227.
Interaksi sosial dalam kerangka “masyarakat” keluarga dan tetangga dekat, menumbuhkan rasa pentingnya kebersamaan yang kemudian dimunculkan dalam ungkapan mangan ora mangan ngumpul pada masyarakat Jawa.
Dalam pengelompokan kelas-kelas di masyarakat pedesaan biasanya berdasarkan atas kepemilikan luas tanah. Berdasarkan kepemilikan tanah maka kelas di pedasaan dapat dibagi menjadi lima yaitu:
1. Tuan tanah adalah pemilik –pemilik tanah mulai dari 10 Ha ke atas hingga ratusan Ha. Mereka tidak mengerjakan sendiri, melainkan menyewakan pada pihak penyewa.
2. Petani kaya adalah orang yang memiliki tanah 5-10 Ha dan dikerjakan sendiri, namun kadang kala mereka juga mempekerjakan para buruh tani pada masa tanam dan panen.
3. Petani sedang adalah petani yang memiliki tanah 1-5 Ha, mereka mengerjakan tanahnya sendiri dengan alat-alat pertanian sendiri dan hasil yang diperoleh mampu menghidupi kebutuhan hidup keluarganya.
4. Petani miskin dicirikan dengan kepemilikan tanah sempit (kurang dari 1 Ha), kehidupannya tidak cukup hanya dengan mengandalkan hasil pertanianya, karenannya mereka juga mengerjakan tanah petani kaya atau tuan tanah dengan cara bagi hasil atau sebagai buruh.
5. Buruh tani adalah mereka yang pada umumnya tidak memiliki alat produksi sama sekali, kehidupanya hanya bergantung sepenuhnya pada upah mengerjakan tanah dari petani kaya.105
Berdasarkan pembagian kelas masyrakat pedesaan tersebut maka para buruh eks PKI dapat digolongkan ke dalam petani sedang dan petani miskin, karena rata-rata mereka hanya
105
mampu membeli di bawah 2 Ha. Sebagai penghuni baru di wilayah perkampungan dan berada di kelas petani sedang dan miskin maka mereka harus mampu beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.
Usaha mengadaptasikan diri melalui interaksi sosial akan menghasilkan dimensi baru, yakni berupa kerjasama dan pertikaian. Kerjasama menngarah kepada migrasi sedangkan persaingan dan pertentangan atau pertikaian cenderung bersifat konflik. Perwujudan integrasi tercermin dalam berbagai aktifitas sosial keagamaan seperti bantu membantu dalam pesta perkawinan dan kematian, gotong royong, pembuatan jalan, mendirikan rumah, tempat ibadah, acara selamatan atau maulidan. Dengan cara seperti itu hubungan seseorang dengan yang lainya akan semakin berkembang dan melebar.106
Setelah menetap di wilayah perkampungan dan menjadi petani, para buruh eks-PKI ini berusaha untuk menghilangkan identitasnya sebagai orang yang terlibat ataupun tergabung dalam organisasi PKI ataupun underbouw PKI. Mereka mulai menyesuaikan dengan kondisi kehidupan di wilayah pedesaan yang mana masyarakatnya masih kental dengan suasana tradisi dan adat istiadat yang mereka anut. Para buruh ini mulai bergabung dalam lembaga- lembaga yang ada di Desa Baja Dolok.
Setiap kegiatan yang dilakukan di desa ini, semua warga desa tidak terkecuali mereka yang pernah menjadi eks-PKI harus mengikuti kegiatan yang wajib dilakukan setiap satu bulan sekali, yaitu gotong royong dalam rangka membersihkan lingkungan desa maupun pembangunan desa seperti pembukaan jalan baru, saluran irigasi tambahan di persawahan maupun pembuatan bendungan untuk aliran air bersih demi memenuhi kebutuhan air bersih
106
di Desa Baja Dolok. Hal ini karena belum adanya sumber air bersih yang mengalir di setiap rumah penduduk. Penduduk memanfaatkan sumber mata air sebagai air untuk persedian air minum. Masuknya Perusahaan Dagang Air Minum (PDAM) Tirta Lihou dimulai pada tahun 1991. Sehingga pembangunan saluran air terus digalakkan.
Selain ikut serta dalam pembangunan seperti di atas, dalam hal pembangunan jembatan sebagai penghubung antara wilayah pemukiman dan persawahan, para buruh eks-PKI ini juga dilibatkan dalam kerja ini, hal ini dilakukan karena jembatan tersebut sebagai alternatif mereka jika ingin ke lahan pertanian. Semua jembatan yang dibangun di desa ini diprioritaskan sebagai penghubung antara wilayah pemukiman dan areal persawahan, karena antara pemukiman dan areal persawahan dipisahkan oleh sungai Bah Kasindir.107
Adanya interaksi disebuah pemukiman yang meghasilkan suatu integrasi namun dilain sisi juga menimbulkan suatu pertikaian antara sesama penduduk asal maupun penduduk pendatang. Sebagai suatu komunitas di mana warganya heterogen, kehidupan mereka tidak selalu integratif. Bisa saja sewaktu-waktu timbul konflik sosial, baik yang bersifat pribadi maupun kelompok dengan berbagai latar belakang. Akan tetapi tidak semua konflik dalam komunitas selalu berdasarkan perasaan etnisitas. Bisa saja karena perselisihan ideologis, ekonomi atau politisi. Penduduk pendatang seperti buruh perkebunan juga tidak terlepas dari setiap konflik yang terjadi. Apalagi stigma yang mereka sandang sebagai seorang eks-PKI yang dianggap sebagai penghianat negara, pembunuh dan pengacau membuat mereka tidak terlepas dari tuduhan-tuduhan negatif tentang kriminalitas yang terjadi di desa tersebut.
107
Kriminalitas yang sering terjadi di desa ini biasanya hilangnya hasil pertanian dan ternak milik penduduk desa seperti ayam, kambing, sapi maupun kerbau. Pada awal tahun 1990-an juga terjadinya pencurian yang dilakukan penduduk desa terhadap kelapa sawit yang ada di perkebunan Afdeling VII dan Afdeling VIII. Selain bentuk pencurian tersebut, sengketa tanah juga kerap terjadi jika ada pembagian tanah warisan yang biasanya terjadi dalam satu keluarga. Tuduhan pertama yang keluar dari masyarakat adalah bahwa pelakunya adalah orang-orang PKI, yang tidak punya etiket sebagai penghianat negara atau pembunuh bahkan tidak beragama.108
Semua buruh eks-PKI yang pindah ke wilayah perkampungan Desa Baja Dolok turut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh pemerintahan di desa, namun selama Orde Baru hingga sekarang berlangsung tidak ada bekas buruh perkebunan maupun keturunannya yang menjabat sebagai pemegang kekuasaan di desa Baja Dolok. Hal ini dikarena mereka masih saja mendapat stigma sebagai pemberontak, penghianat negara, dan tidak beragama sehingga tidak pantas dijadikan pemimpin.
Buruh eks-PKI ini tidak ada yang berperan langsung dalam pemerintahan di selama masa Orde Baru, ini berkaitan dengan masa silam mereka yang pernah terlibat atau terpengaruh terhadap anggota PKI. Namun mereka tetap mengikuti kegiatan-kegiatan di pedesaan yang bersifat keagamaan seperti Maulid Nabi, Israj Mi’raj, Shalat Id dan perayaan tahun baru Islam 1 Muharram yang biasanya dilakukan dengan tradisi Jawa yang bersamaan dengan bulan Suro pada penanggalan Jawa. Biasanya setiap malam 1 Suro, mereka akan melakukan pengajian ataupun syukuran bahkan setiap tahunnya diadakan pertunjukan
108
wayang kulit semalam suntuk, biayanya dikumpulkan dari semua warga di Desa Baja Dolok, ini merupakan salah satu bentuk untuk menunjukkan tentang keberadaan orang Jawa masih memegang tradisi nenek moyang mereka dan semua aktivitas seperti hajatan pernikahan dan atau khitanan dilarang berlangsung pada saat bulan Suro.109
Semua acara-acara yang dilakukan di Desa Baja Dolok biasanya menggunakan unsur Jawa. Termasuk acara pernikahan yang dilakukan di desa menggunakan adat Jawa dan adat Batak bagi mereka yang orang Batak. Namun hampir semua buruh perkebunan yang masuk ke dalam wilayah perkampungan ini adalah suku Jawa sehingga lebih menekankan pada adat istiadat Jawa.
Tradisi-tradisi Jawa dalam adat pernikahan Jawa sudah mulai menghilang hanya sebagian saja yang dijalankan, mungkin karena faktor ekonomi. Sehingga adat istiadat yang pernah dilakukan di Pulau Jawa sudah mulai melebur dan mendapat pengaruh-pengaruh dari luar.
Masalah perkawinan ini juga berkaitan dengan masa kelam keluarga, karena pada masyarakat Jawa jika ingin mencari pasangan hidup masih memperhatikan bibit, bebet dan bobotnya. Bibit yang merupakan faktor darah dan keturunan seperti siapakah orang tua dan keluarganya, apakah sehat jasmani dan rohaninya, dan dari latar belakang budayanya yang bagaimana. Bebet adalah faktor status sosial mempelai dan keluarganya. Apakah mempelai berasal dari keluarga yang baik-baik dan sebagainya. Sedangkan bobot adalah faktor kesiapan material untuk memulai langkah meniti hidup baru.110
109
Wawancara dengan Muhayan pada tanggal 14 Mei 2013 di Huta II Baja Dolok
110
Dengan masih menerapkan filsafat jawa bibit, bebet dan bobotnya maka sangat jarang sekali dijumpai seorang anak eks-PKI menikah dengan orang yang bukan eks-PKI. Jikapun ada biasanya mempelai berasal dari luar daerah. Jadi seperti apapun cantiknya gadis dan tampanya lelaki yang ada di desa tersebut jika salah satu dari keluarganya yang menyandang eks-PKI bisa saja tidak mendapat restu, karena pada saat itu orang-orang yang pernah tergabung dengan PKI dianggap sebagai orang yang sangat nista sebagai penyandang penyakit kusta dan penghianat negara. Biasanya jika kedua mempelai berasal dari desa yang sama maka stigma tetang orang PKI juga merupakan rahasia umum. Anak eks PKI akan menikah dengan keturunan eks-PKI juga. Baik yang pernah menjadi anggota SARBUPRI, BTI, PR ataupun Gerwani.111
Dalam adat Jawa bibit, bebet, bobot itu sangat penting sehingga masyarakat di sini jarang ditemukan perkawinan silang antar suku. Mereka menekankan agar mencari jodoh dengan mereka yang seagama dan seadat. Perkawinan melewati batas wilayah desa juga jarang terlihat, biasanya gadis desa menikah dengan pemuda desa.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan adalah salah satu faktor pendorong majunya suatu desa dan keadaan ekonomi juga sangat mempengaruhi pendidikan. Begitu juga anak- anak dari buruh eks-PKI, mereka tidak terlalu mementingkan pendidikan di awal mereka memasuki wilayah perkampungan. Hal ini karena situasi ekonomi yang belum stabil. Dimana ketika mereka mulai beradaptasi dengan lingkungan baru mereka ditambah ketika memulai pertanian terjadi hama wereng beberapa kali. Sehingga hasil panen hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari bahkan kadang kurang dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka.
111
Sulitnya awal kehidupan baru mereka ini dan mahalnya harga beras menyebabkan mereka harus makan beras jagung. Beras jagung ini merupakan beras yang dicampur dengan jagung. Komposisi bahanya lebih banyak jagung dibanding dengan berasnya.
Keadaan yang demikian tidak memungkinkan bahwa mereka mampu menyekolahkan anak mereka yang sebelumnya pernah sekolah di sekolah perkebunan. Sehingga adanya ungkapan “jangankan untuk sekolah, untuk makan saja sudah susah, yang penting anak-anak bisa makan, kalau belajar, ngaji saja sudah cukup, yang penting punya bekal agama untuk diakhirat”.112 Jika menyekolahkan anak, mereka hanya sampai pada kelas III SD saja. Ini didukung dengan dibangun Sekolah Dasar di Desa Baja Dolok yang bernama SD Inpres 095204 pada tahun 1978. Sekolah ini hanya disediakan untuk murid-murid kelas I, II dan III,sedangkan untuk melanjutkan ke kelas IV mereka harus bersekolah ke desa tetangga yaitu di Desa Balimbingan yang jarak tempuhnya kurang lebih tiga kilometer. Sebelum dibangun SD Inpres ini, di desa Baja Dolok juga telah ada sekolah dasar yang ada di wilayah perkebunan namun karena peristiwa 30 September 1965 itu maka anak-anak dari buruh memang lepas hubungan dari perkebunan, karena memang sebelumnya mereka sekolah di sana. 113
Pendidikan dianggap bukan hal yang penting, terutama bagi anak perempuan sementara bagi anak-anak buruh yang tidak mampu melanjutkan sekolah mereka melakukan kegiatan sehari-hari dengan membantu orang tua di sawah dan mengaji pada malam harinya. Namun dengan berkembangnya teknologi, keadaan ekonomi yang sudah membaik serta adanya kesadaran tentang pendidikan juga mendorong perkembangan bagi generasi para mantan
112
Wawancara dengan Boini pada tanggal 30 Juni 2013 di Huta III Baja Dolok.
113 Ibid.,
buruh perkebunan.114
Sekolah mempunyai peranan yang penting di dalam kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan dan bahkan agama. Pendidikan dinilai sebagai syarat bagi seseorang untuk mendapatkan jabatan pemerintahan, yang biasanya disamakan dengan kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Nilainya yang tinggi dapat ditunjukkan dengan besarnya jumlah yang dibayarkan bagi pendidikan oleh penduduk desa sebagai orang tua.
Setelah kehidupan mulai membaik dan adanya wajib sekolah sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah mendorong para orang tua untuk kembali menyekolahkan anak-anak mereka.
115
Keberhasilan suatu desa dilihat dari generasi mudanya yang berpendidikan. Semakin tingginya anak yang bersekolah mampu menciptakan suatu caunter tentang masyarakat eks- PKI ini sendiri. Dengan menyekolahkan anak-anak ke tingkatan yang lebih tinggi mampu meleburkan stigmatisasi tentang PKI. Adanya stigma PKI itu menjadikan segala kegiatan mereka sebagai manusia biasa sangat terbatas. Kontrol pemerintah Orde Baru yang sangat tinggi terhadap mereka beserta keturunan membuat tidak adanya kebebasan berkarya dan bekerja.
Runtuhnya rezim Orde Baru merupakan titik awal bangkitnya kembali kehidupan para buruh eks-PKI dengan menunjukkan kreativitasnya sebagai manusia biasa beserta keturunannya bisa kembali bekerja di perkebunan sebagai buruh tetap yang sebelumnya hanya merupakan buruh harian di perkebunan. Bahkan seiring dengan perkembangan waktu
114 Ibid.,
115
Koentjaraningrat, Masyarakat Desa di Indonesia Masa Ini, Yayasan Badan Penerbit Fak.Ekonomi Universitas Indonesia: Jakarta, 1964, hlm. 134.
keturunan buruh eks-PKI dengan pendidikan dan kemampuan yang dimiliki mampu menjadi asisten di perkebunan Bah Jambi, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun belum ada anak mereka yang bekerja di bidang militer hingga tahun 2000. Ini disebabkan karena masa lalu orang tuanya yang pernah berafiliasi dengan partai PKI yang menjadi Partai terlarang.
Pendidikan yang semakin berkembang (berdasarkan tabel 3 dan 4), pandangan tentang orang-orang PKI yang dianggap sebagai orang yang sangat bersalah di negara ini juga semakin mengabur namun tidak menghilang sepenuhnya. Hal ini didukung karena peralatan teknologi yang telah moder, kebebasan untuk berkarya dan mengungkapnya apa yang sebenarnya terjadi, menyebabkan orang-orang yang pernah bergabung dengan PKI tidak sepenuhnya bersalah. Keturunan mereka sudah bisa mengemban sekolah yang tinggi, bekerja di bidang yang sesuai keahlian mereka tanpa adanya batasan bahwa mereka adalah keturunan PKI. Kebebesan sebagai keturunan eks-PKI tidak mudah menghilang hingga tahun 2000 tidak ada keturunan eks-PKI yang bekerja di bidang militer.
BAB VI
KESIMPULAN
6.1 Kesimpulan
Kehidupan buruh di perkebunan setelah merdeka dan telah dinasionalisasikan tidak jauh berbeda dengan kehidupan buruh pada masa pemerintahan Belanda. Sistem perburuhan pada masa kolonial masih diadopsi, bahkan perhatian dan perlakuan terhadap buruh semakin memburuk, hal ini dapat dilihat dari jumlah jam kerja yang tidak sesuai dengan peraturan kerja seharusnya, upah yang sedikit sehingga tidak mampu memenui kebutuhan hidup keluarga buruh bahkan sistem utang dan perjudian masih menjadi tradisi di perkebunan. Minimnya upah yang diterima sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup menyebabkan mereka harus berhutang di koperasi-koperasi yang didirikan oleh pihak perkebunan, proses utang piutang berlangsung secara terus menerus, hingga saat tiba gajian besar, jumlah upah hanya mampu membayar utang yang sebelumnya dipinjam dari koperasi. Selain masalah jam kerja, upah, jaminan rumah dan keselamatan kerja juga sangat minim.
Perlakuan terhadap buruh setelah kemerdekaan lebih buruk dibanding pada masa kolonial, pada masa kolonial jatah catu dalam keadaan kualitas baik, namun setelah perkebunan dipegang oleh orang Indonesia, pemberian catu yang diberikan kepada buruh berada pada kualitas yang sangat buruk seperti beras catu berkutu dan ikan asin busuk dan berulat masih diberikan kepada buruh di perkebunan. Alasan perlakuan buruk pihak perkebunan terhadap buruh mengakibatkan banyak banyak buruh yang bergabung dengan SARBUPRI dan Gerwani dibanding dengan PERKAPPEN.
Setelah terjadi Gerakan 30 September 1965 semua buruh yang bergabung dengan SARBUPRI dan Gerwani masuk daftar hitam pihak perkebunan, mereka tetap melakukan pekerjaan sebagai buruh sebagaiman mestinya, namun harus melapor setiap hari ke pihak perkebunan dan setiap minggu ke kantor Koramil Kec. Tanah Jawa. Kegiatan ini berlangsung hingga tahun 1972, karena pada tahun itu pihak perkebunan memiliki kebijakan untuk tidak menggunakan orang-orang yang pernah terkait dengan PKI untuk bekerja di perkebunan. Hingga tahun 1973 kebijakan perkebunan ini mulai terealisasikan, para buruh dipecat dan dikeluarkan dari perkebunan. Pemecatan ini dikenal dengan istilah krimping, dengan demikian para buruh benar-benar terlepas dari pihak perkebunan dan mulai memasuki wilayah perkampungan menjadi petani.
Setelah keluar dari pondok-pondok perkebunan, para buruh eks-PKI beradaptasi dengan masyarakat sekitar dengan mengikuti aktivitas seperti gotong royong, melakukan perayaan agama yang diikutu dengan penggunaan tradisi dari nenek moyang mereka. Mereka memulai aktivitas di lahan pertanian yang talah, baik yang berasal dari tanah warisan, membeli, menyewa ataupun menggadai dengan penduduk setempat. Mereka mengolah lahan pertanian dengan pengetahuan yang diperoleh secara otodidaks. Permulaan pertama menjadi petani di Desa Baja Dolok terjadi gagal panen hingga beberapa kali musim panen, hal ini semakin mempersulit kehidupan mereka, namun dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi, pertanian mengalami perkembangan yang dapat dilihat dengan perbaikan kondisi ekonomi dan sosial para buruh eks-PKI, di sisi lain budaya yang telah dipegang sejak lama mulai melebur.
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan pendidikan di Desa Baja Dolok, maka stigma tentang orang PKI hingga tahun 2000 hampir sama sekali tidak terlihat bahwa di desa ini hidup orang-orang eks PKI dan keturunan yang pada masa Orde Baru dianggap sebagai pengkhianat negara, pembunuh, pengacau dan tidak beragama dapat melembur dengan adanya perbaikan pendidikan. Namun tidak sedikit dari keturunan buruh eks PKI yang masih tetap menjadi buruh. Namun apa yang mereka lakukan selama 27 tahun di wilayah perkampungan mampu menciptakan suatu counter stigma di lingkungan tempat tinggal mereka.
6.2 Saran
1. Pemerintah seharusnya menghapuskan perlakuan diskriminasi terhadap eks-PKI dan keturunannya, karena tidak semua orang yang bergabung dengan PKI memiliki pandangan yang sama dengan PKI. Adanya diskriminasi terhadap eks-PKI dan keturunannya menyebabkan mereka memiliki kesulitan atau keterbatasan dalam mencari pekerjaan, pendidikan, terutama di bidang militer dan pemerintahan serta sulitnya mendapatkan pengakuan secara seutuhnya dari masyarakat.
2. Desa Baja Dolok memiliki penduduk yang mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai petani, untuk itu diharapkan kepada pemerintah lebih memperhatikan pertanian terutama di bidang pertanian terutama dalam perbaikan saluran irigasi, pemberian subsidi pupuk dan menstabilkan harga gabah. Selain itu pemerintah menyediakan sarana pendidikan dan kesehatan di Desa Baja Dolok.
3. Perlunya kerja sama yang baik antara pemerintahan desa dengan warga desa untuk mengoptimalkan gotong royong dan mensosialisasikan pengenalan budaya kepada generasi muda agar budaya yang telah lama dipegang tidak teguh terkikis oleh kemajuan teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Syarif dkk. (ed), 2012. Memetakan Gerakan Buruh. Depok: Kepik.
Abdurahman, Dudung, 2007. Metodologi Penelitian Sejarah. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media. Admihardjo, Kusnaka, 1999. Petani: Merajut Tradisi Era Globalisasi. Bandung: Humaniora
Utama Press.
Avan, Alexander. 2010. Parijs van Soematra. Medan: Reinmaker.
Budiono, Abdul Rachman, 1995. Hukum Perburuhan di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Breman, Jan. 1997. Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial, Tuan Kebun, dan Kuli di Sumatera Timur pada Awal Abad ke-20. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Dinuth, Alex. 1997. Kewaspadaan Nasional dan Bahaya Laten Komunis. Jakarta: Intermasa. Fauzi, Noer. 1999. Petani dan Penguasa: Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Habibi, Muhtar, 2009. Gemuruh Buruh di Tengah Pusaran Neoliberalisme: Pengadopsian Neoliberal Pasca Orde Baru. Yogyakarta: Gava Media.
Kartodirjo, Sartono dan Djoko Suryo. 1991. Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial-Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.
Koentjaraningrat, 1964. Masyarakat Desa di Indonesia Masa Ini. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Lestariningsih, Amurwani Dwi, 2011. Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Mustain. 2007. Petani Vs Negara: Gerakan Sosial Melawan Hegomoni Negara. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Mubrayarto. 1973. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES.
Nordholt,Henk Schulte; Bambang Purwanto dan Ratna Saptari, 2008. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia KITLV.
Pasandaran, Effendi. 1993. Irigasi Di Indonesia: Strategi Dan Pengembangan. Jakarta: LP3ES.
Pelzer, Karl J.1985.Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatera Timur 1863-1947. Jakarta: IKAPI.
Purwoko, Herudjati. 2008. Jawa Ngoko: Ekspresi Komunikasi Arus Bawah. Jakarta: Indeks. Scott, James C. 1981. Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara.
Jakarta: LP3E.
Sekretariat Negara Republik Indonesia.1994. Gerakan 30 September: Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya. Jakarta.