• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kejadian Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Berdasarkan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Kejadian Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Berdasarkan

Berdasarkan analisis terhadap 113 resep pasien yang mengalami potensi interaksi obat ditemukan 140 kasus potensi interaksi, terdiri dari 23 jenis potensi interaksi obat antihipertensi (Tabel 4.4).

Tabel 4.4 Jenis Kejadian Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Berdasarkan Pola

Mekanisme Interaksi Obat dan Tingkat Keparahan Interaksi Obat

No Nama Obat Pola Mekanisme

Interaksi Obat Tingkat Keparahan Interaksi Obat Jumlah kasus 1 Amlodipine - Captopril Farmakodinamik Minor 37 2 Amlodipine - Simvastatin Farmakokinetik Major 15 3 Amlodipine - Simetidin Farmakokinetik Moderate 4 4 Amlodipine - Piroksikam Farmakodinamik Moderate 1 5 Captopril - Glibenklamid Farmakodinamik Moderate 20 6 Captopril - Antasida Farmakokinetik Minor 20

7 Captopril - Allopurinol Unknown Major 8

8 Captopril - Piroksikam Farmakodinamik Moderate 7 9 Captopril - Asam

Mefenamat

Farmakodinamik Moderate 6 10 Captopril - Ibuprofen Farmakodinamik Moderate 5 11 Captopril - Nifedipin Farmakodinamik Minor 3

Tabel 4.4 Jenis Kejadian Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Berdasarkan Pola Mekanisme Interaksi Obat dan Tingkat Keparahan Interaksi Obat (Lanjutan).

12 Captopril - Natrium Diklofenak

Farmakodinamik Moderate 2 13 Captopril - Furosemida Farmakodinamik Minor 2 14 Captopril - Glikazid Farmakodinamik Moderate 1 15 Captopril - Glucovance Farmakodinamik Moderate 1 16 Captopril - Glipiride Farmakodinamik Moderate 1 17 Captopril - Meloxicam Farmakodinamik Moderate 1 18 Furosemida - Asam Mefenamat Farmakodinamik Minor 1 19 Hidroklortiazid - Allopurinol Unknown Major 1 20 Hidroklortiazid - Piroksikam Farmakodinamik Minor 1

21 Nifedipine - Glucovance Farmakokinetik Moderate 1 22 Nifedipine - Bisoprolol Farmakodinamik Moderate 1 23 Valsartan - Simvastatin Farmakokinetik Moderate 1

Total 140

Tabel 4.5 Jumlah Obat Antihipertensi Yang Mengalami Potensi Interaksi

No Nama Obat Jumlah (n=140) %

1 Captopril 77 55 2 Amlodipine 57 40,71 3 Hidroklortiazid 2 1,43 4 Nifedipine 2 1,43 5 Furosemida 1 0,71 6 Valsartan 1 0,71

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh obat antihipertensi yang sering mengalami potensi interaksi adalah kaptopril 55% dan Amlodipine 40,71% (Tabel 4.5). Hasil penelitian ini tidak berbeda dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Rahmiati pada kajian interaksi obat antihipertensi pada pasien hemodialisis di bangsal rawat inap RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode tahun 2010, diperoleh obat antihipertensi yang sering mengalami potensi

interaksi adalah kaptopril. Hal ini karena kaptopril merupakan obat yang paling umum digunakan untuk hipertensi. Obat antihipertensi yang paling banyak digunakan pada pasien hemodialisis adalah ACEI, CCB, dan diuretik (Rahmiati, 2010).

Jenis kejadian potensi interaksi paling banyak yang melibatkan kaptopril adalah Captopril - Glibenklamid, Captopril - Antasida dan Captopril -Allopurinol. Jenis kejadian potensi interaksi paling banyak yang melibatkan Amlodipine adalah Amlodipine - Captopril, Amlodipine-Simvastatin dan Amlodipine - Simetidin.

Tabel 4.6 Jenis Mekanisme Interaksi Obat Antihipertensi Subjek Penelitian

No Mekanisme Interaksi Obat Jumlah Kasus %

1 Interaksi Farmakodinamik 90 64,29

2 Interaksi Farmakokinetik 41 29,29

3 Interaksi Unknown 9 6,43

Total 140

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh persentase mekanisme interaksi obat farmakodinamik 64,29%, farmakokinetik 29,29% dan unknown 6,43% (Tabel 4.6). Pada interaksi farmakodinamik jenis kejadian potensi interaksi obat paling banyak adalah Amlodipine - Captopril dan Captopril - Glibenklamid dan pada interaksi farmakokinetik jenis kejadian potensi interaksi obat paling banyak adalah Captopril - Antasida dan Amlodipine - Simvastatin. Hasil dari penelitian ini tidak berbeda dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Setyani mengenai evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien hipertensi rawat jalan di instalasi farmasi rumah sakit umum pemerintah Kota Semarang periode maret -oktober 2006 bahwa terdapat pasien yang mengalami interaksi obat sebanyak 56 resep (47,86%) dari 117 resep dengan 76 kasus terbagi menjadi 31 kasus

(40,79%) interaksi farmakodinamik, 27 kasus (35,53%) interaksi farmakokinetik dan 18 kasus (23,68%) interaksi unknown (Setyani, dkk., 2006).

Tabel 4.7 Tingkat Keparahan Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Subjek Penelitian

No. Tingkat Keparahan Potensi

Interaksi Jumlah Kasus %

1 Minor 64 45,71

2 Moderate 52 37,14

3 Major 24 17,14

Total 140

Tingkat keparahan interaksi juga dapat memberikan pengetahuan tentang prioritas monitoring pasien. Sebuah interaksi termasuk kedalam tingkat keparahan

minor efek biasanya ringan; konsekuensi mungkin mengganggu atau tidak terlalu

mencolok tetapi seharusnya tidak secara signifikan mempengaruhi hasil terapi, pengobatan tambahan biasanya tidak diperlukan (Tatro, 2009). Kejadian potensi interaksi kategori minor yang banyak terjadi pada penelitian ini adalah Amlodipine-Captopril diketahui potensi interaksi ini yaitu menyebabkan efek hipotensi aditif, manajemen untuk potensi interaksi ini yaitu dilakukannya

monitoring tekanan darah sistemik. Interaksi kategori moderate menyebabkan

penurunan status klinis pasien. Pengobatan tambahan, perpanjangan pengobatan, dan rawat inap mungkin diperlukan perawatan di rumah sakit (Tatro, 2009). Kejadian potensi interaksi kategori moderate yang banyak terjadi adalah Captopril-Glibenklamid, diketahui dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemik karena captopril meningkatkan sensitifitas insulin, manajemen yang dilakukan berupa amati dengan hati-hati untuk gejala dari hipoglikemik ketika kedua obat ini diberikan secara bersamaan kepada pasien (Tatro, 2009). Interaksi kategori major adalah mengancam jiwa atau kerusakan permanen (Tatro, 2009). Kejadian potensi

interaksi kategori major yang banyak terjadi dalam penelitian ini adalah Amlodipine - Simvastatin diketahui kadar simvastatin dalam darah meningkat karena amlodipine menghambat metabolisme lintas pertama dari simvastatin, manajemen yang dilakukan berupa gunakan alternatif obat lain jika ada tetapi jika pemberian pada kedua obat ini tidak bisa dihindari maka manfaat dari terapi kombinasi harus dipertimbangkan dengan hati-hati terhadap potensi risiko dari kombinasi karena kombinasi dari kedua obat ini dapat meningkatkan efek samping terjadinya rabdomiolisis (kerusakan jaringan otot yang menyebabkan terlepasnya serat-serat otot ke dalam pembuluh darah dan masuk ke dalam urin yang dapat berakibat terjadinya gagal ginjal) (Drugs.com, 2014).

Efek interaksi obat ada yang tidak dikehendaki dan ada yang dikehendaki. Interaksi obat yang tidak dikehendaki mempunyai implikasi klinis jika obat indeks memiliki batas keamanan sempit; mula kerja (onset of action) obat cepat, terjadi dalam waktu 24 jam; dan dampak interaksi bersifat serius atau berpotensi fatal dan mengancam kehidupan. Sebagai contoh pasien yang mendapatkan ACEi bersama diuretik hemat kalium menyebabkan terjadinya hiperkalemia yang mengancam kehidupan (Gittawati, 2008).

Adakalanya penambahan obat lain justru diperlukan untuk meningkatkan atau mempertahankan kadar plasma obat-obat tertentu sehingga diperoleh efek teraupetik yang diharapkan. Penambahan obat lain diharapkan dapat mengantisipasi atau mengantagonis efek obat yang berlebihan, mencegah perkembangan resistensi, meningkatkan kepatuhan dan menurunkan biaya terapi karena mengurangi regimen dosis obat yang harus diberikan. Sebagai contoh kombinasi antara prokainamid sebagai antiaritmia dengan simetidin, prokainamid

memiliki waktu paruh singkat dan simetidin akan memperpanjang waktu paruh prokainamid dan memperlambat eliminasinya. Dengan demikian frekuensi pemberian dosis prokainamid sebagai antiaritmia dapat dikurangi dari 4-6 jam menjadi setiap 8 jam/hari, sehingga kepatuhan dapat ditingkatkan (Gittawati, 2008).

4.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Potensi Interaksi Obat

Dokumen terkait