BAB III PERJUANGAN MUHAMMAD YAMIN SEBELUM
C. Kejatuhan Belanda Dan Kedatangan Pasukan Jepang
Perang Dunia ke II pecah, Jerman melakukan serbuan-serbuan kilat kearah Barat dan Timur. Polandia, Perancis juga negeri Belanda takluk kepada Jerman pada tanggal 10 Mei 1940.67
Ratu Wilhelmina dan aparatnya dari Belanda lari membentuk pemerintahan dalam pengasingan ke London Inggris dan bergabung dengan sekutu. Pemerintahan Belanda di pengasingan di London masih berhubungan dengan pemerintahan Hindia-Belanda, sementara perjuangan dan pergerakan kemerdekaan di Indonesia semakin menjadi dan semakin gencar. Untuk mengambil simpati bangsa Indonesia, pemerintah Belanda di pengasingan membentuk komisi Visman yaitu suatu komisi yang diketuai oleh DR. F.H. Visman dan diberi nama “Komite untuk perubahan Politik”. Komite ini memiliki tugas mengadakan penelitian mengenai angan-angan politik, cita-cita dan pendapat-pendapat dari golongan suku yang berbeda-beda dalam masyarakat di Indonesia. Komite yang diketuai oleh DR. F.H. Visman ini bertugas menyelidiki
66 Julianto dkk, Sejarah Perjuangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia, Jakarta, Erlangga, 1987, hlm. 45.
67
tentang perubahan kenegaraan Indonesia, timbulnya komisi ini disebabkan pula keinginan masyarakat Indonesia untuk menghimpun kekuatan dari partai-partai politik yang telah hancur, generasi muda, kaum wanita dan perkumpulan sosial serta membentuk gerakan kesatuan untuk mendapat demokrasi parlementer, yang berpusat dalam organisasi yang lebih besar yaitu dalam GAPI (Gabungan Politik Indonesia).68
GAPI menuntut adanya parlemen yang seluruhnya terdiri dari anggota-anggota yang harus dipilih sesuai dengan sistem perwakilan seimbang, dan pemerintah bertanggung jawab terhadap parlemen. Pemerintah dengan segan terpaksa harus mengakui pergerakan ini, selama gerakan tersebut tinggal dalam garis-garis hukum dan peraturan yang berlaku. Dijanjikan kepada bangsa Indonesia, apabila Perang Dunia II berakhir dan kemenangan berada di pihak Belanda dan sekutunya, Hindia Belanda akan diberi hak berdiri sejajar dengan kerajaan Belanda di Nederland, tetapi tetap dalam ikatan dengan Belanda. Janji itu diucapkan Ratu Wilhelmina pada tanggal 8 Desember 1941 seminggu janji tersebut dikenal dengan Janji Desember (Desember Belofte). Tapi sangat disayangkan komisi ini hanya menanyai partai-partai yang kooperatif saja, sehingga pendapat dapat dikumpulkan hanyalah yang tetap menghendaki adanya hubungan terus Indonesia Belanda. Karena itu jelaslah bahwa komisi Visman hanyalah suatu “tipuan” atau siasat Belanda agar rakyat Indonesia membantu
68
Belanda dalam menghadapi Perang Dunia II, khususnya dalam Perang Pasifik dimana Belanda tidak berdaya menghadapi Jepang.69
Bangkitnya Jepang sebagai suatu negara fasismiliter70 di Asia (Jerman Nazi dan Italia fasis di Eropa) menggelisahkan seluruh negara di dunia, terutama di Eropa dan Di Asia. Dalam hal ini tidak terkecuali pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. Bukan hanya kaum pergerakan di Indonesia yang merasa sangat gelisah melihat perkembangan fasisme Jepang. Hal ini menyebabkan mereka mengambil sikap kerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda untuk menghadapi Jepang, karena fasisme militer Jepang akan jauh lebih berbahaya dari penjajahan Belanda. Dalam hal ini sikap partai-partai politik di Indonesia sangat tegas menolak bahaya fasisme Jepang yang sedang mengancam dari Utara.71
Perang Asia Timur Raya yang dilancarkan Jepang dimulai tanggal 8 Desember 1941 dengan pengebomannya Pearl Harbour (Hawai) Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Lautan Teduh. Pada tanggal yang sama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang bernama Jhr. Mr. A.W.L. Tjarda Starkenborgh Stachouwer mengumumkan perang kepada Jepang. Tetapi ketika Hindia Belanda kelihatannya tak mungkin dipertahankan, pasukan sekutu (Amerika, Inggris, Belanda dan Australia) meninggalkan Indonesia pergi ke Colombo. Singapura yang dibanggakan Inggris waktu itu sebagai suatu benteng yang kuat di Asia menyerah tanggal 15 Februari 1942. Kejatuhan Singapura
69
Muhammad Ridwan Indra dkk, op. cit, hlm. 24.
70 Fasismiliter adalah pemerintahan oleh satu orang yang biasanya diikuti dengan pemujaan “sang pemimpin” atau oleh sekelompok kecil orang serta penindasan terhadap pihak oposisi. Selengkapnya dapat dilihat pada Vara Jambak, Fasisme Jawa Bagian 2, (online) dalam https://moendgo7.wordpress.com/tag/fasisme-militer. html, diakses 21 Mei 2018 pukul 13.45.
71
Proyek Penelitian Dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah
menyebabkan larinya tentara sekutu ke Colombo tanggal 25 Januari 1942. Akibatnya di Indonesia hanya tinggal Belanda sendiri menghadapi Jepang. Pada tanggal 5 – 8 Maret 1942 Batavia sudah diduduki Jepang, dan Bandung juga direbut Jepang. Tanggal 9 Maret 1942 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda bersama anggota-anggota sekutu lainnya menyerah di lapangan terbang Kalijati tanpa syarat pada bala Tentara Jepang.72
Hindia Belanda jatuh di bawah penguasaan Jepang, sebelum Jepang menaklukan Hindia Belanda, Jepang melakukan taktik tertentu untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Ketika disiarkan berita sore hari, selalu ditutup dengan memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Rupanya ini merupakan siasat Jepang, agar rakyat Indonesia berpihak kepada Jepang sekiranya akan melakukan pendaratan dan menduduki kepulauan Indonesia.73
Sebenarnya jatuhnya Hindia Belanda di Indonesia oleh Jepang, memberikan dan mempertebal harapan dan keinginan rakyat Indonesia untuk mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka. Tetapi harapan itu hanyalah fatamorgana, sebab Jepang ternyata lebih kejam dari Belanda. Setelah Jepang menduduki Indonesia, lagu Indonesia raya tidak boleh dinyayikan dan diperdengarkan dalam kegiatan apapun. Pengibaran bendera Merah Putih mendapat larangan yang keras dari pemerintah Jepang. Jepang matang dalam propaganda, mereka mengobarkan semangat Asia, dengan Jepang sebagai pemimpin Asia, mereka menyebut dirinya pemimpin Asia, Cahaya Asia dan Nippon Pelindung Asia yang mereka sebut gerakan Tiga A. Nippon-Indonsia sama-sama, Asia untuk bangsa Asia. Gerakan
72
Ibid, hlm. 166.
73
Tiga A dibentuk dibawah pimpinan Mr. Samsudin, bersamaan dengan itu dibentuk pula gerakan Pemuda Asia Raya di bawah pimpinan Soekardjo Wirjopranoto. Organisasi buatan Jepang itu tidak populer dikalangan rakyat, kemudian Jepang mengubah siasat, mereka mendekati pemimpin-pemimpin Indonesia untuk diajak kerjasama. Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan Kyai Haji Mas Mansur bersedia menjalankan kerjasama dengan Jepang membentuk suatu gerakan rakyat yang diberi nama POETERA atau Poesat Tenaga Rakyat pada 9 Maret 1943, dalam organisasi ini Muhammad Yamin juga duduk sebagai anggota Dewan Penasehat POETERA. Kerjasama dengan Jepang dilakukan keempat tokoh tersebut untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mewujudkan Indonesia merdeka.74
Pada tanggal 3 Oktober 1943 didirikan PETA (Pembela Tanah Air) permintaan Ir. Soekarno, Gatot Mangkupradja dan Kyai Mas Mansur. Dengan terbentuknya PETA, pemuda-pemuda Indonesia memperoleh kesempatan untuk mengecap pendidikan dan latihan militer dari Jepang. Ternyata latihan itu menjadi ajang uji coba pemuda Indonesia, dalam mengetahui kemampuan pemuda untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan kelak.75
Pada tahun 1944 Panglima Tentara Jepang menyatakan berdirinya organisasi Jawa Hokokai, atau Himpunan Kebaktian Jawa. Berbeda dengan POETERA, maka pimpinan Jawa Hokokai langsung ditangani oleh pembesar-pembesar Jepang sendiri. Bagaimanapun juga jelas kelihatan, bahwa pada pertengahan tahun 1945, sudah terdapat sedikit perubahan angin kehidupan politik
74
Ibid, hlm. 26.
75
di tanah air. Pada tanggal 7 Juli 1943, Perdana Menteri Hideki Tojo datang di Jakarta. Ia menjanjikan kepada bangsa Indonesia suatu “pengambilan bagian dalam pemerintahan”.76
Sebagai tindak lanjut pada tanggal 1 Agustus 1943, Seiko Sikikan (Panglima) di Pulau Jawa, mengumumkan garis-garis dari rencana pengambilan bagian dalam pemerintahan itu, meliputi :
1. Pembentukan badan-badan pertimbangan di daerah dan di pusat. 2. Pengangkatan orang-orang Indonesia untuk kedudukan yang tinggi.
3. Penunjukkan orang-orang Indonesia menjadi penasehat pada badan Pemerintahan Militer.
Pada bulan September 1943, diadakan pengangkatan penasehat-penasehat orang Indonesia pada Badan Pemerintahan Militer. Tujuh orang Indonesia diangkat menjadi Sanyo (Penasehat) dalam enam macam Bu (Departemen) dari
Gunseikanbu. Diantara ketujuh penasehat itu termasuk Muhammad Yamin yang
diserahi jabatan sebagai Sanyo untuk Sendenbu (Departemen Propaganda). Dengan demikian Muhammad Yamin termasuk salah seorang dari tujuh pejabat tertinggi bangsa Indonesia pada zaman Jepang. Menjelang berakhirnya peperangan, makin sibuk pula perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Demikian pulan Muhammad Yamin ikut aktif pada bulan-bulan permulaan tahun 1945.
Pada akhir tahun 1944 kedudukan Jepang dalam perang di Pasifik sudah sangat terdesak. Angkatan Perang Amerika Serikat sudah di daerah Jepang dan secara teratur mengebom kota-kota penting di Jepang. Dalam keadaan terjepit pemerintah bala tentara Jepang memberikan janji “kemerdekaan” di kelak
76
kemudian hari kepada Indonesia. Dengan cara demikian Jepang mengharapkan bantuan rakyat Indonesia menghadapi sekutu, apabila mereka datang ke Indonesia. Sementara itu pasukan sekutu telah mendarat di pelabuhan minyak Balikpapan. Dalam keadaan yang gawat itu, pemimpin pemerintahan pendudduk Jepang di Jawa, membentuk sebuah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, atau dalam bahasa Jepang Dokuritsu Junbi Cosakai. Badan ini yang beranggotakan 62 orang Indonesia dilantik di Jakarta oleh pemerintah tentara Jepang, pada hari senin 28 Mei 1945. Di antara ke-62 orang anggota BPUPKI itu, terdapatlah nama Muhammad Yamin, yang disebut dalam daftar urutan anggota nomor 2, sesudah nama Ir. Soekarno.77
Selain itu harus pula disadari oleh anggota BPUPKI, bahwa untuk membentuk suatu negara yang merdeka, suatu bangsa hendaklah mempersiapkan diri sedemikian rupa, supaya dapat membela kemerdekaan itu dengan kekuatan sendiri, dengan memperhatikan kepentingan masyarakat dunia, bukan hanya mementingkan kepentingan masyarakat dunia.
Saiko Sikikan sebagai Kepada Pemerintahan Militer Angkatan Darat menekankan dalam pidato sambutannya, bahwa “seolah-olah” Perang Pasifik yang sedang berlangsung adalah perang suci yang salah satu tujuannya untuk memerdekakan Indonesia. Sejauh mana kebenaran dan kesungguhan amanat para Pimpinan Jepang di Indonesia tersebut, baru dapat dibuktikan sebagian saja. Salah satu diantaranya adalah janji P.M. Kuniaki Koiso pada tanggal 7 September 1944
77
dan direalisir dengan membentuk BPUPKI yang dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, yaitu kurang lebih tiga bulan sebelum menyerahnya Jepang pada sekutu.
Janji itu tidak selesai dengan tuntas, sebab sebelum sempat memerdekakan Indonesia, pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang telah menyerah kepada sekutu (yang dipimpin Amerika).78