BAB IV PERJUANGAN MUHAMMAD YAMIN SETELAH
B. Peristiwa 3 Juli 1946
Kebijakan RI berunding dengan Belanda mendapat perlawanan sengit dalam negeri dari Persatuan Perjuangan (PP) di bawah Tan Malaka. Tujuan utama gerakan politik PP adalah sebagai kekuatan oposisi yang akan mengganjal kebijakan politik kabinet Sjahrir, khususnya guna berunding dengan pihak Belanda. Dalam hal ini, Tan Malaka berkeyakinan bahwa RI masih berkemampuan untuk tidak menerima betapa kecilpun tuntutan Belanda.94
Soal hubungan Tan Malaka dan Sjahrir, mula-mula Tan Malaka tertarik pada kecemerlangan Sjahrir. Rencana pertama adalah menewarkan bekerja sama. Akan tetapi, Sjahrir menolak dengan alasan kemampuan Tan Malaka untuk mendapat dukungan rakyat tidak sebesar Soekarno. Dalam perkembangannya, Soebardjo dan kawan-kawan, termasuk Soekarni, ternyata memiliki kemampuan
93
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008, hlm. 331 – 332.
94
Rushdy Hoesein, Terobosan Sukarno Dalam Perundingan Linggarjati, Jakarta, PT Kompas Media Nusantara, 2010, hlm. 154.
lebih lanjut untuk mendukung Tan Malaka sehingga mampu mendapat simpati dari banyak partai. Kahin menyangsikan bahwa Tan Malaka jujur dalam berpolitik. Salah satu contohnya dalam memunculkan rencana kedua, yang dikenal sebagai testamen politik. Untuk memahami strategi rencana kedua Tan Malaka, yang dibuat dengan bantuan Soebardjo, harus dilihat kondisi Jakarta saat itu (September 1945).
Soekarno-Hatta tahu bahwa Belanda mendesak Inggris untuk menangkap mereka. Tan Malaka menemui Soekarno dan menekankan kepadanya akan adanya bahaya yang mengancam apabila Soekarno-Hatta tinggal di Jakarta. Dia menembahkan bahwa akan muncul bencana jika Republik kehilangan pemimpinnya saat kritis seperti itu. Dia menganjurkan membuat semacam ketetapan tepat, yaitu Tan Malaka dapat meneruskan kepemimpinan RI apabila Soekarno-Hatta tertangkap atau terbunuh.
Pertemuan besar Persatuan Perjuangan yang pertama diadakan di kota Solo pada 15 – 16 Januari 1946, yang dihadiri 141 wakil organisasi. Dalam pertemuan itu, setelah mendengarkan pengarahan Tan Malaka, dibentuklah panitia kecil (terdiri dari 11 orang) untuk merumuskan apa yang mereka sebut Minimum Program. Kesebelas orang tersebut, antara lain, Ibnu Parna (Pesindo), Wali Alfatah (Masyumi), Ir. Sakirman (Dewan Perjuangan Jawa Tengah), Soedirman (TKR), dan Tan Malaka.
Pemerintah Yogyakarta segera bereaksi terhadap pertemuan Solo yang provokatif dan memecah belah rakyat tersebut. Oleh Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) di Purworejo, guna menunjukan bahwa
lembaga ini sejalan dengan pihak eksekutif, dikeluarkanlah pengumuman BP KNIP No. 20 pada 15 Januari 1946. Isinya yang penting adalah, “Menganjurkan persatuan, menghindari faktor yang bisa memecah belah, dan menghindari perbuatan yang dipandang dunia luar sebagai perbuatan agresif dan fasistik. Ditegaskan agar partai politik mengutamakan persatuan, tentara dan organisasi perjuangan perlu berusaha mengadakan persatuan siasat, di daerah segera disusun badan perwakilan sesuai undang-undang tentang KNI daerah”.95
Muhammad Yamin pada masa permulaan kemerdekaan Indonesia, yaitu pada bulan-bulan pertama sesudah proklamasi kemerdekaan sempat bergaul dengan Tan Malaka. Selama bulan-bulan permulaan tahun 1946, Muhammad Yamin berdiam di daerah pegunungan Tawangmangu, Surakarta, bersama Tan Malaka dan Soekarni, bahkan ia duduk dalam pimpinan Persatuan Perjuangan, yang menentang siasat berdiplomasi dan berunding dengan pihak Belanda. Ia juga turut duduk dalam pimpinan partai Murba.
Muhammad Yamin, yang ketika itu berusia kira-kira 43 tahun, yakin bahwa dengan menghimpun kekuatan seluruh rakyat, Indonesia akan sanggup mendesak penjajah Belanda dengan kekuatan senjata, sehingga Belanda dapat keluar dari pantai-pantai tanah air. Karena oposisi dalam negeri makin tajam, maka akibatnya Kabinet Sjahrir mengundurkan diri. Tetapi pada permulaan bulan Maret dalam sidang Komite Nasional Indonesia Pusat, presiden Soekarno kembali menunjuk Sutan Sjahrir untuk membentuk kabinet.96
95
Ibid, hlm. 156.
96
Pada tanggal 27 Juni 1946, Sjahrir diculik di Solo dan dibawa ke Boyolali.
Actor Intellectualis penculikan ini ialah Tan Malaka. Tujuan kaum oposisi ialah
memaksa pemerintah untuk meninggalkan politik perundingan, dan menggantikannya dengan perang dan kemudian membentuk negara menurut kemauan mereka. Terutama Perjanjian Linggarjati mereka tolak. Kemudian presiden Soekarno menyatakan seluruh Indonesia dalam keadaan bahaya dan kekuasaan penuh ditaruh di tanggan presiden. Dalam pidato redio presiden berseru supaya Sjahrir segera dikembalikan dalam keadaan selamat. Keesokan harinya Sjahrir dibebesakan dan selamat sampai ke Yogyakarta. Kemudian terus ke Jakarta.
Pada pertengahan bulan Agustus 1946, sesudah keadaan biasa lagi, Presiden kembali menunjuk Sjahrir untuk membentuk kabinet. Kabinet Sutan Sjahrir yang ke III ini selesai dibentuk dan dan disahkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 Oktober 1946. Perundingan-perundingan tidak resmi dilakukanoleh Sutan Sjahrir dengan Van Mook (Belanda), dengan perantaraan Sir Archibald Clark Kerr (duta Inggris di Moskow), yang bertugas sebagai duta keliling untuk menyelesaikan soal Indonesia.
Pada tanggal 1 Juli 1946, Muhammad Yamin berperan dalam peristiwa penculikan Sutan Sjahrir, ia mendatangi rumah penjara Wirogunan (Yogyakarta) dan berhasil membuka pintu sel-sel tahanan politik dan melepaskan para tawanan politik. Sesudah itu, ia menuju Wiyoro, dekat Yogyakarta.
Pada tanggal 2 Juli 1946, Muhammad Yamin membuat empat naskah yang berisi usul agar kabinet Sutan Sjahrir diberhentikan dan diganti dengan kabinet
lain. Keesokan harinya ia bersama-sama tawanan-tawanan politik itu berangkat menghadap presiden Soekarno guna mengajukan empat usul tersebut. Tetapi yang berwajib memandang perlu untuk menahan Muhammad Yamin dengan tuduhan melakukan coup d’etat. Dalam sejarah kita, kejadian ini terkenal dengan Peristiwa 3 Juli 1946.97
Sejak 3 Juli 1946 Muhammad Yamin ditahan secara berpindah-pindah, antara lain di Magelang. Tanggal 21 Juli 1947 pasukan Belanda mulai menyerang daerah Republik Indonesia dan sampai di Ambarawa, Muhammad Yamin beserta tawanan lainnya dipindahkan ke Wirogunan, Yogyakarta. Kemudian dipindahkan lagi ke Madiun, lalu Ponorogo, terakhir kembali ke Madiun lagi. Muhammad Yamin ditahan selama kurang lebih dua tahun. Perkaranya disidangkan di Yogyakarta. Menurut putusan Makamah tanggal 27 Mei 1948, Muhammad Yamin dipersalahkan melakukan kejahatan memimpin percobaan untuk merobohkan pemerintahan yang sah, dan dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Tetapi beberapa bulan kemudian, ia mendapat grasi, dan pada tanggal 17 Agustus 1948 ia telah dibebaskan lagi.
Selama tahun 1946 – 1948 Muhammad Yamin berada dalam tahanan sehingga ia tidak duduk dalam pemerintahan. Ketika Belanda menyerang Republik Indonesia, (Aksi Militer II pada bulan Desember 1948), Muhammad Yamin meninggalkan Yogyakarta, dan masuk ke pedalaman di daerah Gerilya. Selanjutnya dalam menghadapi Konferensi Meja Bundar (KMB). Pemerintah pusat dikembalikan ke Yogyakarta. Muhammad Yamin pun kembali ke
97
Yogyakarta dan mendatangi presiden Soekarno serta menyatakan bersiap diri untuk bekerja bagi Republik Indonesia sebagai patriot dan pejuang bangsa. Pada tahun 1949 itu pula Muhammad Yamin diangkat sebagai Penasehat Delegasi Republik Indonesia ke KMB di negeri Belanda.98
Setelah Konferensi Inter-Indonesia yang penuh toleransi dan saling pengertian, baik yang diadakan di Yogyakarta maupun di Jakarta, berangkatlah wakil-wakil RI yang dipimpin oleh Mohammad Hatta dan wakil-wakil BFO yang dipimpim oleh Sultan Hamid ke Den Haag untuk melakukan perundingan pada Konferensi Meja Bundar. Dari pihak Belanda delegasinya diketuai oleh PM Dr. Marseveen dan dari UNCI diwakili oleh Chritchley. Perundingan berjalan dari tanggal 23 September – 2 November 1949 dengan hasil paling utama adalah bahwa Kerajaan Nederland akan menyerahkan kedaulatannya atas Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat selambat-lambatnya pada tanggal 30 Desember 1949, yang terdiri dari negara-negara bagian yaitu99:
1. Negara Republik Indonesia 2. Negara Indonesia Timur 3. Negara Pasundan 4. Negara Jawa Timur 5. Negara Madura
6. Negara Sumatera Timur 7. Negara Sumatera Selatan
Walaupun secara keseluruhan pembentukan RIS itu menyimpang dari Proklamasi 17 Agustus 1945, namun Soekarno menegaskan bahwa KMB hanya merupakan batu lompatan ke arah cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia yang
98 Ibid, hlm. 96 – 97.
99
Tuk Setyohadi, Sejarah Perjalanan Bangsa Indonesia Dari Masa Ke Masa, Jakarta, CV. Rajawali Corporation, 2002, hlm. 93.
sejati. Adapun masalah yang mengecewakan adalah bahwa Belanda tetap berkeras kepala untuk mempertahankan Irian Barat sebagai daerah jajahannya, sehingga akhirnya dicapai kompromi bahwa status Irian Barat akan ditentukan dalam perundingan antara Belanda dengan RIS, dalam waktu satu tahun setelah selesainya KMB.
Sewaktu sidang KMB di Nederland, antara wakil-wakil Pemerintah RI dan Pemerintah Negara-Negara bagian RIS diadakan perundingan, dengan menghasilkan persetujuan tentang naskah Undang-Undang Dasar. Sementara RIS yang kemudian disyahkan di Jakarta pada tanggal 14 Desember dalam sidang antara wakil-wakil tersebut di atas dengan Komite Nasional Indonesia Pusat, sebagai Konstitusi Republik Indonesia Serikat.
Pada tanggal 15 Desember 1949 diadakan sidang pemilihan presiden RIS dengan calon tunggal Ir. Soekarno, oleh suatu Dewan Pemilihan Presiden RIS yang beranggotakan wakil-wakil RI dan wakil-wakil Negara Bagian. Besoknya tanggal 16 Desember 1949, Ir. Soekarno terpilih sebagai presiden RIS. Sebagai babak akhir dari usainya kekuasaan Belanda di Bumi Indonesia, pada tanggal 27 Desember 1949 secara bersamaan diadakan upacara penyerahan kedaulatan. Di Negeri Belanda, Ratu Juliana menyerahkan kepada Drs. Moh. Hatta sebagai Ketua Delegasi RIS. Di Jakarta, Wakil Tinggi Mahkota A. H. J Lovink menyerahkan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono ke-IX dan di Yogyakarta dilakukan pula penyerahan kedaulatan dari RI kepada RIS.100
100