• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

H. Kejujuran dalam Mereduksi Creative Accounting

Kejujuran dimaknai sebagai sebuah sifat yang harus ditanamkan dalam diri seseorang sebab sifat jujur merupakan sifat yang dimiliki oleh Nabi dan Rasul yang merupakan suri tauladan bagi seluruh umat Islam. Seseorang dengan sifat jujur akan memperoleh kemuliaan dan derajat dari Allah SWT karena merupakan sebuah sifat yang sangat terpuji. Hal tersebut tercermin dalam Q.S Al-Ahzab ayat 35, yaitu:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu‟, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya,

29

laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa jujur atau sebuah tindakan benar termasuk dalam satu sifat yang paling mulia dan dapat mendatangkan ampunan dan kemuliaan dari Allah SWT.

Creative accounting saat ini adalah sebuah problematika, kemudian menjadi perhatian besar karena runtuhnya perusahaan-perusahaan besar diakibatkan skandal kecurangan (fraud), manipulasi laporan keuangan, earning management, serta penolakan laporan keuangan (Sarra dan Sustari, 2018). Praktik ini menjadi sebuah problematika yang rumit, karena jika dilihat dari teori akuntansi positif maka hal tersebut tidak menjadi masalah sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip akuntansi berterima umum (Usmar, 2014). Akan tetapi jika ditinjau dari pespektif Islam maka hal tersebut adalah sebuah kesalahan karena didalamnya terdapat unsur penipuan karena menyajikan laporan keuangan yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Entitas mungkin menganggap creative accounting sebagai hal lumrah, padahal dapat mendatangkan mudarat ketika dilakukan secara terus menerus (Sabri, 2015). Sebagai perbaikan dalam berbagai asumsi negatif yang timbul dari creative accounting, maka konsep kejujuran dinilai mampu menunjang hal tersebut. Sebagaimana konsep kejujuran tersebut harus ditanamkan dalam diri seseorang dalam hal ini pihak yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan agar dapat memberikan informasi dengan mengedepankan penyajian fakta yang sesungguhnya terjadi di dalam entitas (Fitriani, 2019). Proses pencatatan harus sesuai dengan realita yang ada sehingga pada penyusunan laporan keuangan dapat terhindar dari praktik creative

accounting dan menunjang keterandalan dari laporan keuangan. Seseorang yang bekerja dengan kejujuran yang tinggi akan memperoleh hasil yang tak terhingga nilainya baik dimasa ini ataupaun masa mendatang atau semasa hidupnya maupun di akhirat kelak. Dengan demikian, konsep kejujuran harus ditanamkan sejak dini sehingga praktik creative accounting dapat dihindari dan menjamin dari integritas laporan keuangan.

I. Kolaborasi Konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Kejujuran (Sidiq) dalam Mereduksi Creative Accounting

Indonesia dikenal sebagai negara dengan mayoritas Islam, hukum Islam menjadi salah satu pertimbangan dalam setiap pengambilan sebuah keputusan.

Bahkan, hukum Islam sendiri telah menjangkau setiap sendi kehidupan baik itu dalam menjalankan aktivitas dalam beribadah maupun melakukan pekerjaannya.

Akuntansi merupakan salah satu cabang ilmu yang tidak terlepas dari hukum-hukum Islam dan dunia bisnis. Adanya ilmu akuntansi sangat membantu dalam menjalankan kegiatan sebuah entitas utamanya dalam proses pencatatan laporan keuangan dan juga membuat proses pembukuan keuangan agar menjadi lebih akurat. Akan tetapi, fenomena yang terjadi belakangan ini terdapat praktik creative accounting yaitu adanya keadaan ketidakpastian dan ambiguitas dimana tersajinya laporan keuangan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Hal ini terjadi ketika sebuah entitas ingin memanipulasi laporan keuangannya agar dapat menarik perhatian investor dan menghindar pajak (Malik dkk., 2019). Tampak bahwa creative accounting hanya sedikit menyimpang dari aturan dan memberikan keuntungan pada entitas, tetapi dari perspektif pengguna praktik ini

31

tidak etis karena setiap orang yang menggunakan hasil dari informasi tersebut cenderung salah mengartikan dan menyesatkan dalam pengambilan keputusan (Triani, 2017). Dilihat dari perspektif Islam, jelas hal ini adalah sesuatu yang menyimpang karena mengandung unsur kebohongan dan tidak mengutamakan kepentingan masyarakat. Padahal telah dijelaskan dalam Al-Qur-an dan Hadits bahwa segala aktivitas tidak boleh terlepas dari unsur kejujuran dan mengarahkan kepada kebaikan sesuai tujuan dari amar ma‟ruf nahi munkar.

Munculnya kesadaran untuk menjalankan syariat Islam dalam kehidupan ekonomi Islam berarti mengubah pola pikir dari ekonomi kapitalis ke sistem ekonomi syariah (Syaiful, 2017). Mengubah pola pikir ke sistem ekonomi syariah berarti menerapkan hukum-hukum Islam yang berlaku, seperti penerapan konsep amar ma‟ruf nahi munkar dan kejujuran (sidiq). Pada praktik creative accounting yaitu proses penyajian informasi palsu kepada stakeholder dan investor diperlukan pemahaman dari konsep amar ma‟ruf nahi munkar. Dimana konsep tersebut menjelaskan bahwa seseorang diperintahkan untuk untuk memberikan nasehat bagi pemegang kekuasaan yang tidak menjalankan aktivitasnya demi kepentingan umum (Purwono dan Muhammad, 2015). Konsep ini dijadikan sebagai justifikasi terhadap penolakan segala sesuatu yang menyimpang dari norma agama yang dapat merugikan orang lain (Kusnadi dan Zulhilmi, 2017).

Diharapkan dengan pemahaman konsep ini pada sebuah entitas dapat mencegah terjadinya praktik creative accounting yang dapat merugikan pihak lain karena informasi palsu yang diberikan.

Konsep kejujuran dalam sistem akuntansi syariah diyakini mampu menjadi landasan dalam mencegah praktik creative accounting, dikarenakan konsep ini mengatakan sesuatu dengan sebenar-benarnya tanpa ada unsur kebohongan dan manipulasi didalamnya. Kejujuran merupakan hal yang memiliki kaitan dengan banyak keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah, dimana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti masalah jual-beli, utang piutang, dan sebagainya (Nizar, 2017). Kejujuran juga dianggap sebagai tonggak dalam kehidupan bermasyarakat yang beradab. Berdasarkan konsep tersebut konsep kejujuran dikaitkan dengan praktik creative accounting yang membutuhkan kejujuran dalam proses mencegahnya. Tujuan utama seseorang dalam menjalankan kegiatan organisasi publik adalah membentuk kejujuran, sebab kejujuran adalah modal dasar dalam kehidupan bersama dan kunci menuju keberhasilan (Messi dan Edi, 2017). Sebagaimana konsep kejujuran tersebut harus ditanamkan dalam diri seseorang dalam hal ini pihak yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan agar dapat memberikan informasi dengan mengedepankan penyajian fakta yang sesungguhnya terjadi di dalam entitas (Fitriani, 2019).