• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3. Struktur Organisasi

Gambar 4.1

Struktur Organisasi Bank Sulselbar Syariah

Uraian dan tugas pokok:

A. Pimpinan Cabang

1. Bertanggung jawab terhadap pencapaian seluruh target cabang yangditetapkan perusahaan.

2. Bertanggung jawab terhadap seluruh aktivitas operasional cabang, dengan melakukan supervisi terhadap unit/seksi di cabang demi pencapaian target pemasaran dan operasional sesuai ketentuan yangditetapkan.

3. Bertanggung jawab terhadap penyaluran pembiayaan yang disalurkan melalui cabang juga melakukan monitoring juga pengawasan agartetap sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

4. Bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas SDM.

5. Bertanggung jawab atas kondisi cabang agar tetap kondusif.

6. Bertanggung jawab atas pengawasan dan pembinaan terhadap nasabah pembiayaan.

B. Kasie Umum dan Personalia

1. Montoring pegawai, membuat daftar gaji, membuat daftar uang makan, membuat surat-surat keluar, mengagendakan surat masuk.

2. Menjaga barang inventaris kantor dan membuat daftar penyusutan Aktivitas Tetap Inventaris (ATI)

3. Melaksanakan taksasi jaminan juga penagihan.

4. Memonitoring kebutuhan Alat Tulis dan Cetak (ATC)

5. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target pendanaan dan target-target operasional yang telah ditetapkan oleh cabang.

53

C. Pimpinan Seksi Akuntansi dan Pelaporan

1. Memonitoring mutasi pada neraca dan laba rugi.

2. Me-riview transaksi teller dan berkoordinasi dengan teller.

3. Memonitoring angsuran bulanan nasabah.

4. Mengedukasi dan sosialiasi perbankan syariah.

5. Memeriksa data untuk pencarian pembiayaan dan penanggung jawab (Virtual Banking System) VBS secara langsung.

6. Mengkonsolidasi RAK ataupun Giro antar bank dengan divisi Unit Usaha Syariah (UUS)

7. Mengkoordinasi dengan kasie umum, kasie pemasaran perihal putusan pembiayaan.

8. Menjaga stabilitas cabang dengan menjaga keharmonisan kinerja secara internal dan secara eksternal.

9. Menyampaikan laporan bulanan cabang ke kantor pusat ataupun Bank Indonesia juga anggota komite kantor cabang.

10. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target pendanaan dan target target operasional lainnya yan telah di tetapkan cabang, kasie akuntansi dan pelaporan SA Supervisor, head teller, penanggungjawab kunci brankas.

D. Teller

1. Transaksi tunai dan non tunai, membuat laporan kas, memonitoring posisi saldo kas untuk fungsi kontrol maka ditugaskan untuk mentransaksi Back Office.

2. Melayani nasabah yang akan membuka rekening.

3. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target pendanaan dan target- target operasional lainnya yang telah ditetapkan oleh cabang.

4. Penanggung jawab kunci kombinasi lemari brankas.

E. Customer Service (CS)

1. Bertanggung jawab atas pelayanan kepada seluruh nasabah juga menjelaskan pelbagai produk simpanan/pembiayaan kepada nasabah secara efisien dan efektif namun tetap menjaga kerahasiaan bank.

2. Memonitoring pembukaan rekening simpanan secara reguler.

3. Mengkoordinir dengan kasie keuangan dan teller perihal rekening simpanan.

4. Menjaga keharmonisan dengan seluruh bagian.

5. Meng-update pengetahuan mengenai produk perbankan syariah, mengawasi materi Know Your Customer (KYC) pada saat pembukaan rekening simpanan.

6. Bertanggungjawab terhadap pencapaian target pendanaan dan target operasional lainnya yang telah ditetapkan oleh cabang.

7. Petugas taksasi jaminan pembiayaan.

8. Memonitoring penggunaan materai.

55

F. Penanggung jawab VBS dan Teller Pemindah Bukuan

1. Bertanggung jawab atas transaksi non tunai Bank Officer, Bank Office Monitoring dan pemeliharaan Alat Tulis dan Inventaris (ATI),jaringan VBS dan pemeliharaan komputer termasuk darurat updateanti virus.

2. Bertanggung jawab atas pembuatan dan pengiriman laporan Laporan Bank Umum Syariah (LBUS), Sistem Informasi Debitor (SID), mingguan, pajak-pajak termasuk mengadministrasi file pajak, petugastransaksi jaminan.

3. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target pendanaan, tugas tambahan yang diberikan oleh atasan.

G. Administrasi Pembiayaan

1. Bertanggung jawab atas suppoting pembiayaan, administrasi pembiayaan/pencarian pembiayaan, dokumentasi pembiayaan (legalfile dan file pembiayaan), asuransi pembiayaan.

2. Bertanggung jawab atas pembuatan dan pengiriman laporan Sistem Informasi Debitur (SID), LBUS, mingguan.

3. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target pendanaan, target tambahan yang diberikan oleh atasan langsung

H. Kasie Pemasaran

1. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target unit sebesar Rp 38.100 milyar untuk DP dan Rp33,25 milyar untuk pembiayaan laba Rp 1Mdan target operasional lainnya, yang telah ditetapkan.

2. Bertanggung jawab memantau dan melaporkan pelaksanaan pembiayaan.

3. Bertanggung jawab dalam memastikan perikatan hukum akad, tanggungan, dan FEO secara sempurna dan memastikan kesempurnaan penutupan asuransi terhadap debitur, sosialisasi nasabah funding, sosialisasi nasabah lending, monitoring target agartepat waktu, mengontrol kerja dan tugas AO.

4. Menagih ke nasabah juga menjaga hubungan bank antara Bank SulselSyariah dan nasabah maupun anggota komite.

I. Account Officer

1. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target pendanaan dan target operasional lainnya yang telah ditetapkan oleh cabang.

2. Menerima berkas permohonan pembiayaan, melakukan sosialitas terhadap permohonan yang masuk, membuat usulan pembiayaan yangdinilai layak untuk diberikan fasilitas pembiayaan.

3. Membina dan mengawasi seluruh account pembiayaan yang telah disalurkan.

4. Membantu kasie pemasaran dalam pencapaian target funding.

5. Bertanggung jawab dalam proses pembiayaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam dan pedoman produk pembiayaan BankSulselbar Syariah.

57

J. Staf Perusahaan

1. Bertanggung jawab terhadap pencapaian target pendanaan dan target operasional lainnya yang telah ditetapkan oleh cabang.

2. Melakukan pencarian nasabah pembiayaan dan melunasi cepat padaVirtual Bank System (VBS).

3. Bertanggung jawab terhadap penyimpanan file pembiayaan dan dokumentasi taksasi jaminan menerima berkas permohonan pembiayaan, mensosialisasikan permohonan yang masuk.

4. Membuat usulan pembiayaan yang dinilai layak untuk diberikan fasilitas pembiayaan.

5. Membina dan mengawasi seluruh account pembiayaan yang telah disalurkan.

6. Membantu kasie pemasaran dan pencapaian target fundin. 4. Visi dan Misi

Bank Sulselbar Syariah berkeinginan untuk senantiasa memberikan layanan prima kepada nasabah melalui layanan yang ramah dan berempati dengan tetap mengedepankan profesionalisme yaitu layanan yang akurat, responsive, memberikan solusi dan aman. Layanan personal kepada nasabah diimbangi pula dengan penyediaan produk dan layanan berbasis teknologi terkini untuk memberikan service experience terbaik bagi nasabah. Adapaun visi dan misi Bank Sulselbar Syariah yaitu:

a. Visi

“Mengikuti bank yang terbaik di kawasan Indonesia Timur dengan dukungan manajemen yang profesional serta memberikan nilai tambah kepada pemda dan masyarakat.”

b. Misi

Adapun misinya adalah:

1. Penggerak dan pendorong laju pembangunan ekonomi daerah.

2. Pembangunan kas daerah dan atau melaksanakan penyimpanan uang daerah.

3. Salah satu sumber pendapatan 5. Motto

Adapun motto dari Bank Sulselbar adalah:

Dalam rangka mengantisipasi perkembangan dalam perbankan saat ini dan akan datang serta persaingan global, Bank Sulselbar Syariah memiliki motto

“MAJU BERSAMA MERAIH BERKAH”, yang bermakna Bank Sulselbar memiliki tekad untuk secara terus menerus meningkatkan kinerja dan memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas yang diamanatkan stakeholder dengan penuh rasa tanggung jawab dan dedikasi tinggi dalam upaya mencapai keberhasilan bersama.

B. Hasil dan Pembahasan

1. Pandangan Creative Accounting di Bank Sulselbar Syariah

Perkembangan atas penerapan akuntansi sudah cukup berkembang baik dari segi teori maupun dari segi praktik. Pada kenyataanya, penerapan akuntansi

59

ini tak selalu berjalan mulus. Masih banyak perusahaan yang membuat pembukuan keuangan yang tidak sesuai dengan informasi keuangan yang ada. Hal ini biasanya terjadi karena adanya kekeliruan dari pembuatan laporan keuangan atau adanya kecurangan yang disengaja oleh pihak-pihak tertentu. Salah satu praktik akuntansi yang berkaitan dengan hal tersebut dan merupakan hal yang paling sering diperdebatkan adalah creative accounting atau praktik akuntansi kreatif.

Teknik creative accounting yang dilakukan oleh manajemen semakin berkembang dengan adanya perkembangan standar akuntansi. Perubahan satandar akuntansi yang berlaku umum yang dimulai dengan adanya harmonisasi IFRS di seluruh dunia menyebabkan perubahan pendekatan yang sudah dilakukan oleh manajemen. Terkait dengan creative accounting ini sendiri, Pimpinan Departemen Operasional Grup Usaha Syariah PT. Bank Sulselbar Syariah mengungkapkan;

Creative accounting dari berbagai sisi memang ada bagusnya, cuman dalam suatu perusahaan terbuka banyak sisi negatifnya jika kita menggunakan model creative accounting seperti ini. Disini juga kami sebetulnya tidak ada creative accounting karena kalau diperbankan untuk laporan keuangan sudah diatur sama regulator.

Apa yang disampaikan tersebut dapat dimaknai bahwa creative accounting bukannya merupakan hal yang sepenuhnya negatif, terlepas dari urgensi atau tujuan pelaksanannya sendiri khususnya bagi perusahaan terbuka seperti Bank Sulselbar Syariah. Hal ini dikonfirmasi oleh Pimpinan Departemen Penelitian, Pengembangan, dan Jaringan Grup Usaha Syariah PT. Bank Sulselbar Syariah;

Creative accounting itu bisa dimaknai sebagai suatu seni ya, artinya seni pembukuan yang tujuannya tentu positif karena kita bisa berusaha untuk menciptakan nilai-nilai yang bagus tanpa melakukan penyimpangan terhadap prosedur-prosedur yang ada. Saya dulu pas

kuliah masih ingat statement creative accounting itu tidak bertentangan dengan standar, tapi dengan etika.

Pandangan Pimpinan Departemen Penelitian, Pengembangan, dan Jaringan Grup Usaha Syariah PT. Bank Sulselbar tersebut secara tidak langsung memahami terkait adanya praktik creative accounting guna mewujudkan tujuan perusahaan yang terkandung dalam laporan keuangan itu sendiri sebagai sesuatu yang sah-sah saja untuk dilakukan. Pada dasarnya praktik creative accounting ditujukan untuk memberikan keleluasaan bagi entitas untuk bisa kreatif atau pandai memilih metode mana yang kiranya bisa mendatangkan kemudahan dan keuntungan bagi mereka dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini relevan dengan yang disampaikan Pimpinan Departemen Operasional Grup Usaha Syariah PT. Bank Sulselbar Syariah;

Tujuan dari creative accounting pastinya ya membantu dalam penyajian laporan keuangan sesuai dengan ekspektasi berbagai pihak.

Kalau di bank konvensional, paling sering ditemukan hal seperti ini.

Artinya, dalam penyajian laporan keuangan creative acconting ini tidak hanya sekedar memanipulasi tetapi bagaimana juga menjadikan laporan keuangan ini kalau misalnya yang tadi minus berarti harus dipositifkan. Itu di bank konvensional ya.

Pernyataan ini juga ditegaskan oleh Pimpinan Departemen Penelitian, Pengembangan, dan Jaringan Grup Usaha Syariah PT. Bank Sulselbar yang mengungkapkan;

Betul itu, sangat jarang ditemukan adanya creative accounting kalau di bank syariah karena kita diberikan amanah oleh nasabah dan juga kita sudah diatur dengan prinsip-prinsip syariah yang dilandasrkan kepada Al-Qur‟an dan hadits. Sejatinya, sepanjang pengalaman saya ya, karena saya juga pernah di bank konven, creative acounting ini tetap memiliki positif karena merupakan permainan angka-angka yang tujuan agar laporan keuangan bisa kelihatan baik, namun dalam skala panjang tentu ini tidak dibenarkan karena pasti ujung-ujungnya ada

61

kendala, apalagi kalo ketahuan sama investor atau kreditor, selesai sudah.

Fleksibilitas regulasi menjadi bagian dari praktik creative accounting dimana adanya pemanfaatan aturan akuntansi dalam menentukan pengambilan keputusan. Hal ini terjadi disebabkan adanya tujuan yang ingin dicapai dari pemanfaatan fleksibilitas regulasi yang ada dimana dengan memanfaatkan fleksibilitas aturan untuk menciptakan sebuah laporan yang tidak sesuai keadaan. Dalam praktiknya, akuntan menyusun laporan keuangan yang diskresioner dengan memanfaatkan celah-celah aturan yang ada.

Bank Sulselbar Syariah pada proses penyusunan dan pelaporan keuangannya telah diatur oleh regulator sehingga semua aspek telah tersusun dan terlapor sebagaimana dengan mestinya. Setiap harinya Bank Sulselbar Syariah mengirim neraca sebagai pertanggungjawaban ke pihak regulator seperti OJK dan BPK. Adapun ketika ingin memberikan laporan baik triwulan, semesteran, ataupun tahunan, pihak bank akan memeriksa lapaoran terlebih dahulu kemudian dievaluasi oleh SKAI (Satuan Kerja Audit Internal) atau kantor akuntan publik untuk memastikan tentang kesesuaian laporan dengan aturan yang telah dutetapkan. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Pimpinan Departemen Operasional Grup Usaha Syariah PT.

Bank Sulselbar bahwa;

Kita sebetulnya tidak ada disini yang namanya creative accounting karena kalau diperbankan itu laporan keuangan kalau kita sudah diatur sama regulator.

Pada dasarnya praktik creative accounting ditujukan untuk memberikan keleluasaan bagi entitas untuk bisa kreatif atau pandai memilih metode mana yang

kiranya bisa mendatangkan kemudahan dan keuntungan bagi kita dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang telah di tetapkan, namun creative accounting ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keandalan dari sebuah laporan keuangan. Semakin tinggi tingkat kekreatifan akuntansi maka semakin berkurang pula keandalan laporan keuangan, sehingga laporan keuangan akan mencerminkan keadaan yang tidak sesuai sesuai dengan kondisi yang tidak sesungguhnya terjadi dalam perusahaan. Hal ini sejalan dengan apa yang dijelaskan dalam Shariah Enterprise Theory.

Di dalam Shariah Enterprise Theory ditekankan pentingnya pertanggungjawaban secara vertikal maupun horizontal. Vertikal yang dimaksud adalah mempertanggungjawabkan segala bentuk tindakan atas keyakinan bahwa Allah SWT senantiasa mengetahui tindakan tersebut. Disisi lain, secara horizontal yang dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana kemudian segala bentuk tindakan harus dilakukan tanpa menghadirkan dusta diantara berbagai pihak dalam kondisi apapun. Terkait dengan hal tersebut dapat dimaknai bahwasanya praktik creative accounting secara implisit telah melakukan penyimpangan terhadap pertanggungjawaban vertikal dan horizontal sebab telah menghasilkan informasi yang tidak relevan dengan realita yang ada terkait laporan keuangan. Pada dasarnya secara regulasi, praktik creative accounting dibutuhkan oleh perusahaan guna menghasilkan signal yang baik bagi investor maupun stakeholder lainnya.

Bank sulselbar syariah yang merupakan bank yang berlebelkan syariah tentunya pertanggungjawaban pelaporan keuangannya bukan hanya kepada investor melainkan kepada stakeholders yang cakupannya luas. Oleh karena itu,

63

SET memiliki kepedulian yang besar pada stakeholders yang luas, SETmeliputi Allah, manusia, dan alam. Allah swt merupakan pihak paling tinggi dan menjadi satu-satunya tujuan hidup manusia (Novarela dan Sari, 2015). Sebagai entitas syariah Bank Sulselbar Syariah menganggap bahwa Pratik creative accounting tetaplah sebuah tindakan yang akan merugikan. Dalam hal ini pihak yang ada di entitas syariah telah memenuhi tanggungjawabnya baik kepada stakeholder maupun pihak-pihak yang terlibat. Senada dengan pernyataan yang diberikan oleh Pimpinan Departemen Operasional Grup Usaha Syariah PT. Bank Sulselbar Syariah bahwa;

Kami yang bekerja disini tidak membenarkan yang namanya creative accounting,karena itu tidak akan menguntungkan bagi kami dek dan kita juga memikirkan bagaimana pertangungjawabannya kepada Allah SWT jika kita melakukan yang namanya creative accounting. Dan pastinya akan memiliki dampak yang tidak baik.

Pernyataan tersebut dikuatkan kembali oleh pernyataan Pimpinan Departemen Penelitian, Pengembangan, dan Jaringan Grup Usaha Syariah PT.

Bank Sulselbar;

Buat apa kami melakukan praktik creative accounting jika kami sudah tau bagaimana dampaknya kepada bank sulselbar syariah dek, dan pertanggungjawabannya juga kepada Allah SWT bagaimana, dan kalau kami ketahuan melakukan manipulasi pasti itu akan sangat merugikan.

Berdasarkan pernyataan yang diberikan diatas, Bank sulselbar syariah memang memikirkan tanggungjawabnya kepada Allah SWT dan pihak-pihak pengguna laporan keuangan. Bukan hanya itu, Bank sulselbar syariah menganggap bahwa praktik creative accounting bukan hal yang baik untuk dilakukan, karena akan menyebabkan kinerja Bank Sulseslbar Syariah menjadi buruk ketika Pratik creative accounting yang dilakukan terungkap.

Salah satu jenis informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang dapat menjadi signal bagi pihak di luar perusahaan, terutama bagi pihak investor adalah laporan keuangan. Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dapat berupa informasi akuntansi yaitu informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan dan informasi non-akuntansi yaitu informasi yang tidak berkaitan dengan laporan keuangan. Laporan keuangan hendaknya memuat informasi yang relevan dan mengungkapkan informasi yang dianggap penting untuk diketahui oleh pengguna laporan baik pihak dalam maupun pihak luar secara reliabel.

Namun, kehadiran creative accounting malah menghilangkan esensi dari orientasi tersebut karena dilakukannya manipulasi-manipulasi untuk tujuan tertentu.

Tabel 4.1

Pandangan Bank Sulselbar Syariah terkait Creative Accounting Pandangan Bank Sulselbar Syariah Manajemen

Laba

Kegiatan kreatif manipulasi laporan keuangan untuk tujuan tertentu yang dapat berakibat pada realibilitas laporan keuangan.

Creative Accounting

Fleksibilitas Regulasi

Laporan keuangan yang disajikan terbebas dari praktik creative accounting. Hal tersebut dikarenakan laporan keuangan di perbankan telah diatur oleh regulator.

Window Dressing

Membuat laporan keuangan terlihat dalam kondisi baik

2. Efektivitas Nilai Kejujuran dalam Mereduksi Praktik Creative Accounting Seperti yang telah dibahas pada sub-pembahasan sebelumnya, dimana pihak Bank Sulselbar Syariah berpandangan bahwasanya creative accounting merupakan suatu bentuk kegiatan kreatif guna memanipulasi laporan keuangan

65

untuk tujuan-tujuan tertentu yang bilamana digunakan dalam jangka panjang dapat berakibat pada tingkat kepercayaan stakeholder dan realibilitas laporan keuangan. Tujuan dari creative accounting adalah membuat laporan keuangan terlihat dalam kondisi baik, misalnya dengan memanipulasi angka-angka negatif menjadi positif. Pandangan ini tentu tidak relevan dengan emblem “syariah” yang tersemat pada nama Bank Sulselbar Syariah. Hal ini relevan dengan pernyataan Pimpinan Departemen Operasional Grup Usaha Syariah PT. Bank Sulselbar Syariah bahwa;

Creative accounting ini bertentangan dengan prinsip syariah ya, dimana salah satu prinsip yang kita pegang teguh di sini adalah keterbukaan. Dan tentu menjadi suatu penyimpangan jika kita melakukan creative accounting yang ujung-ujungnya pasti ke manipulasi yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.

Merujuk pada pernyataan tersebut, dapat dimaknai bahwa pihak Bank Sulselbar Syariah memegang teguh prinsip kejujuran atau transparansi dalam penyajian laporan keuangannya. Hal tersebut sejalan dengan motto perusahaan khususnya dalam upaya mencapai keberkahan, dimana pihak Bank Sulselbar Syariah harus menjaga kepercayaan yang diberikan oleh para stakeholder salah satunya dengan tidak melakukan creative accounting. Prinsip kejujuran ini juga telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam surah Al-Baqarah/2:42;



“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”

Dalam tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab (dikutip dari tafsirq.com), ayat ini ditafsirkan “janganlah kalian gabungkan antara kebenaran yang datang dari-Ku dengan kepalsuan yang kalian buat, agar tidak terjadi pencampuradukkan.

Janganlah kalian sembunyikan kebenaran, sedangkan kalian mengetahui kebenaran itu”. Tafsiran ini memberikan penegasan terkait dengan larangan melakukan hal yang dusta dan mencapuradukkannya dengan sesuatu yang salah.

Dusta tersebut seperti halnya dalam praktik creative accounting yang melakukan manipulasi demi tercapainya tujuan-tujuan tertentu.

Terkait dengan creative accounting itu sendiri, tentunya dibutuhkan langkah-langkah demi menghindari terjadinya praktik-praktik demikian. Dalam hal ini, pihak Bank Sulselbar Syariah telah melakukan beberapa metode dan prosedur yang digunakan dalam rangka meminimalisir atau bahkan meniadakan potensi creative accounting. Pihak Bank Sulselbar Syariah melalui Pimpinan Departemen Operasional Grup Usaha Syariah PT. Bank Sulselbar Syariah menjelaskan;

Di Bank Sulselbar Syariah kan terkhusus untuk laporan keuangan memiliki monitoring masif yang dilakukan oleh pusat melalui sistem yang sudah dibangun. Apalagi Bank Sulselbar Syariah kan sudah listing di Bursa Efek, dan tentunya sudah ada regulasi resmi dari Bank Indonesia tentang larangan creative accounting ini.

Pernyataan yang kurang lebih sama juga disampaikan oleh Pimpinan Departemen Penelitian, Pengembangan, dan Jaringan Grup Usaha Syariah PT.

Bank Sulselbar;

Ya pelaporan keuangan di sini sudah by system ya dek, dan itu inputnya tiap hari, tiap tutup kas. Jadi bisa dikatakan tidak ada

67

celah untuk melakukan creative accounting di sini karena kita juga diburu jam deadline untuk inputnya.

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan oleh Pimpinan Departemen Operasional Grup Usaha Syariah dan oleh Pimpinan Departemen Penelitian, Pengembangan, dan Jaringan Grup Usaha Syariah PT. Bank Sulselbar, diketahui bahwasanya input pelaporan tiap hari atau bisa dikatakan real time menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh Bank Sulselbar Syariah dalam upaya menghindari terjadinya creative accounting. Hal ini menunjukkan bahwa “kejujuran” yang ditekankan dalam penyusunan laporan kuangan di Bank Sulselbar Syariah telah terterapkan secara efektif. Kejujuran merupakan hal yang sangat perlu ditanamkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan Laporan Keuangan.

Karena pada dasarnya creative accounting kadang dijadikan sebagai wadah untuk melakukan kecurangan. Hal ini diamini oleh Pimpinan Departemen Operasional Grup Usaha Syariah PT. Bank Sulselbar Syariah;

Saya sependapat dengan hal tersebut, karena saya juga sudah pernah melihat kalau creative accounting ini disalahgunakan dan menjadi fraud dalam bentuk manipulasi angka-angka dilaporan keuangan.

Pendapat yang kurang lebih sama dikemukakan oleh Pimpinan Departemen Penelitian, Pengembangan, dan Jaringan Grup Usaha Syariah PT.

Bank Sulselbar;

Sebenarnya creative accounting ini bagus cuman ya seperti itu, banyak yang kemudian salah gunakan untuk berbagai kepentingan dan itu potensi kedapatannya akan menimbulkan berbagai dampak kalau ketahuan.

Merujuk pada pada apa yang telah dijelaskan oleh narasumber mengenai penyalahgunaan fungsi creative accounting, kita dapat memahami bahwasanya

akan lebih baik bilamana creative accounting tidak dilakukan, terlebih jika entitas tersebut adalah entitas syariah seperti Bank Sulselbar Syariah. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan, mengingat hal ini telah ditanamkan dalam nilai-nilai perusahaan yang pertama, yakni Kejujuran (memegang teguh kepercayaan yang diberikan). Urgensi tersebut juga sejalan dengan apa yang telah dijelaskan dalam Peraturan Bank Indonesia No. 11/33/PBI/2009 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah yang mengatur mengenai pengawasan atas efektivitas sistem pengendalian internal, internal audit, proses pelaporan keuangan, sehingga bank dapat dikelola berdasarkan prinsip transparansi, akuntabilitas, pertangungjawaban, independensi dan kewajaran. Dan pada hakikatnya, pandangan dan sikap pihak Bank Sulselbar

akan lebih baik bilamana creative accounting tidak dilakukan, terlebih jika entitas tersebut adalah entitas syariah seperti Bank Sulselbar Syariah. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan, mengingat hal ini telah ditanamkan dalam nilai-nilai perusahaan yang pertama, yakni Kejujuran (memegang teguh kepercayaan yang diberikan). Urgensi tersebut juga sejalan dengan apa yang telah dijelaskan dalam Peraturan Bank Indonesia No. 11/33/PBI/2009 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah yang mengatur mengenai pengawasan atas efektivitas sistem pengendalian internal, internal audit, proses pelaporan keuangan, sehingga bank dapat dikelola berdasarkan prinsip transparansi, akuntabilitas, pertangungjawaban, independensi dan kewajaran. Dan pada hakikatnya, pandangan dan sikap pihak Bank Sulselbar