Wabah Flu Burung dan Ancaman Ketahanan Pangan
8.4 Kejutan pada Perjalanan Revolusi Peternakan
Sedikit banyak, wabah flu burung di Indonesia pastilah menyebabkan kejutan (shock) pada perjalanan Revolusi Peternakan yang sedang berlangsung di sebagian besar belahan bumi. Pertumbuhan ekonomi atau PDB subsektor peternakan Indonesia memang tergolong fenomenal, karena pernah menyumbang seperlima dari total nilai tambah sektor pertanian secara keseluruhan. Puncak keemasan subsektor peternakan terjadi pada periode 1978-1986 – sebagaimana sektor pertanian umumnya – ketika laju pertumbuhan tercatat 7 persen per tahun (dihitung dari data Badan Pusat Statistik –BPS, lihat Arifin, 2003a). Sektor peternakan bahkan dapat disejajarkan dengan sektor tanaman pangan dan perikanan sebagai pengganda pendapatan (income multiplier) dan penyerap dan pencipta lapangan kerja pada sektor- sektor lain yang berhubungan (employment multiplier) yang tentu saja berkontribusi amat penting bagi struktur ekonomi Indonesia.
Tingginya angka pertumbuhan yang juga terjadi di belahan lain di muka bumi, sering dinamakan Revolusi Peternakan
118
(Livestock Revolution), yang sebenarnya telah dimulai sejak awal 1970-an. Revolusi Peternakan amat berbeda secara fundamental dengan Revolusi Hijau (Green Revolution) di sektor tanaman biji- bijian yang lebih banyak didorong oleh sisi suplai (supply driven) produksi dengan karakter perubahan teknologi baru biologi dan kimiwai seperti varietas unggul, pupuk, pestisida dan sebagainya. Revolusi peternakan didorong oleh sisi permintaan (demand- driven) karena perubahan konsumsi dari sumber kalori berbasis karbohidrat menjadi berbasis kandungan protein tinggi, dan persyaratan kualitas nutrisi dan kesehatan lainnya.
Tingkat konsumsi daging dan susu di negara berkembang memang tergolong memang masih 4-5 kali lebih rendah dibanding tingkat konsumsi di negara-negara maju. Namun laju peningkatan konsumsi daging di negara berkembang pada periode 1971-1995 tercatat 70 juta ton, sementara di negara-negara maju hanya 26 juta ton. Demikian pula untuk konsumsi susu yang meningkat 105 juta ton di negara berkembang dan hanya 50 juta ton di negara maju. Perbedaan statistik peningkatan konsumsi yang mencapai 2-3 kali lipat di atas juga cukup konsisten apabila diukur dengan indikator lain seperti nilai konsumsi dan kuantitas kalori yang dihasilkan (Delgado, et al., 1999). Di Indonesia, Revolusi Peternakan ditandai oleh berkembang pesatnya industri ayam petelur, ayam pedaging dan ayam kampung, sejak akhir 1970an. Tidak kalah pentingnya, industri pakan ternak yang umumnya terkait dengan investasi asing dan beroperasi dengan skala besar juga tumbuh pesat, yang ditandai dengan maju dan membaiknya tingkat efisiensi industri basis peternakan secara umum.
Sesuai dengan karakter yang lebih dinamis, Revolusi Peternakan mensyaratkan peningkatan kapasitas sistem produksi dan distribusi dan antisipasi permasalahan lain seperti aspek lingkungan hidup dan masyarakat. Maksudnya, pemerintah dan pelaku industri peternakan harus mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan proses transformasi (revolusi) sistem nilai, budaya agribisnis secara terus menerus di sektor peternakan ini. Tidak ada pilihan lagi, bahwa pemerintah perlu menyusun
119
strategi kebijakan jangka panjang dan perencanaan investasi yang mampu mengakomodasi dan responsif terhadap permintaan konsumen, memperbaiki kualitas nutrisi, peningkatan pendapatan, dan mencegah dampak buruk di bidang kesehatan masyarakat. Di sinilah diperlukan kemampuan ekstra untuk mengantisipasi kompleksitas proses transformasi tersebut yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan permintaan, keterbatasan lahan pertanian dan tuntutan kualitas higienis produk peternakan serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Tabel 8.2 Populasi Ternak Indonesia, 1998-2001 (ribu ekor)
Jenis Ternak 1998 1999 2000 2001 Sapi perah 322 332 354 368 Sapi ternak 11.634 11.276 11.009 11.192 Kerbau 2.829 2.504 2.405 2.287 Kuda 566 484 412 430 Kambing 13.560 12.701 12.566 12.456 Domba 7.144 7.226 7.427 7.294 Babi 7.798 7.042 5.357 5.867 Ayam kampung 267.898 256.653 259.257 262.631 Ayam petelur 38.861 45.531 69.366 66.928 Ayam pedaging 354.003 324.347 530.874 524.273 Itik 25.950 27.552 29.035 29.905
Sumber: BPS dari Ditjen Peternakan, 2003
Saat ini, populasi ayam di Indonesia tercatat 854 juta ekor, dengan komponen terbesar adalah ayam pedaging 524 juta ekor, ayam kampung 263 juta ekor dan ayam petelur 67 juta ekor (Tabel 2). Meningkatnya konsentrasi dan populasi ternak di kawasan pemukinan pastilah membuka peluang terjadinya penyakit zoonotik yang disebabkan bakteri salmonella, E. coli dan flu
120
burung yang menghebohkan tersebut. Dengan semakin terbukanya sekat-sekat negara dan kawasan pada zaman modern sekarang ini, maka pergerakan pelaku ekonomi pun semakin cepat dan pesat. Kontaminasi bakteri dan wabah penyakit yang terjadi di suatu tempat sangat besar kemungkinannya untuk tertular ke tempat lain, dan bahkan menimbulkan dampak buruk bagi manusia. Oleh karena itu, pemerintah wajib mengantisipasinya dan memperbaiki kulaitas penegakan zoning dan peraturan kesehatan lainnya. Apalagi diketahui, bahwa korban jiwa yang disebabkan flu burung karena berinteraksi dengan reseptor atau binatang yang ditengarai menjadi tempat mutasi virus tersebut menjadi lebih ganas. Prinsip- prinsip dasar Revolusi Peternakan seperti inilah yang perlu dikuasai oleh pemerintah, para ahli dan perumus kebijakan lain, agar dapat disebarluaskan kepada masyarakat peternakan dan pelaku ekonomi lainnya.
Keberlanjutan fenomena Revolusi Peternakan di Indonesia sangat tergantung pada kualitas kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah. Krisis ekonomi karena buruknya fundamental ekonomi dan kualitas kebijakan yang sempat mengacaukan subsektor peternakan seharusnya dijadikan pelajaran yang amat berharga. Subektor peternakan yang terlalu mengandalkan industri pakan ternak impor ternyata amat terpukul dan mengalami kontraksi sampai 1.92 persen per tahun pada periode 1997-2001 tersebut. Persoalan ketergantungan di atas tentu saja tidak dapat dipecahkan hanya dengan langkah kebijakan yang tidak berbasis pada menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya.
Pemerintah dan pelaku peternakan sebenarya telah mengetahui tentang struktur permasalahan ketimpangan dan
dualisme “pembagian keuntungan” di sektor peternakan. Dalam
kesempatan lain, penulis pernah menyampaikan (Arifin, 2002) bahwa pada industri ayam petelur, sebagian besar (68 persen) keuntungan usaha dinikmati oleh pabrik pakan ternak dan hanya 31 persen saja yang dinikmati peternak kecil, serta satu persen sisanya dinikmati oleh peternak pembibit. Gambaran yang tidak jauh berbeda juga dijumpai dalam industri ayam pedaging
121
(broiler), karena 72 persen keuntungan dinikmati oleh industri pakan ternak, 25 persen dinikmati pembibit dan 3 persen sisanya oleh peternak kecil. Permasalahan struktural di atas tentu saja tidak akan cukup apabila hanya dipecahkan secara parsial dan penganjuran kemitraan saja, tetapi memerlukan reforma mendasar, melibatkan peningkatan kapasitas dan akses pasar dan informasi, terutama untuk peternak kecil yang menjadi tulang punggung subsektor peternakan dan ekonomi Indonesia secara umum.
Uji kasus (test case) paling penting dari langkah reforma mendasar tersebut dapat dilihat dari kesungguhan dan akuntabilitas pemerintah dalam memberikan ganti rugi bagi peternak kecil yang telah dengan sukarela memusnahkan ayam yang terkontaminsasi wabah flu burung. Panduan umum dan mekanisme pelaksanaan ganti rugi harus segera diselesaikan dan dilaksanakan secara transparan, tanpa terjebak pada pendekatan proyek, yang dapat terperangkap menjadi pertentangan kepentingan yang tidak berujung. Segenap jajaran birokrasi di pusat dan di daerah perlu bekerja bahu membahu, memberi pelayanan dan minimal menunjukkan tenggang rasa terhadap kerugian yang diderita peternak kecil. Demikian pula, para wakil rakyat di pusat (DPR) dan di daerah (DPRD) harus lebih pro-aktif memantau permasalahan yang ada, sejenak meninggalkan kebiasaan politisasi yang sering menjebak. Terlalu zhalim apabila ada pihak-pihak yang berupaya mengambil keuntungan dan show off politik di tengah penderitaan rakyat yang makin berat.