Strategi Industrialisasi Pertanian
12.4 Kemitraan Tripartit Pemerintah-Swasta-Masyarakat
Pada awal abad 21 atau milenium ketiga ini, strategi industrialisasi pertanian dengan falsafah kemitraan tripartit pemerintah-swasta-masyarakat sebenarnya telah mulai diadopsi oleh beberapa negara, tidak terkecuali negara berkembang. Falsafah kemitraan ini memang diharapkan untuk menghasilkan suatu inovasi strategi pembangunan secara umum, mengingat industrialisasi pertanian adalah salah satu elemen dari pembangunan ekonomi suatu bangsa. Seiring dengan berkembangnya prinsip-prinsip governance, falsafah kemitraan ini pun sejalan dengan pergeseran peran pemerintah dari pelaku utama aktivitas ekonomi menjadi fasilitator dan dinamisator pembangunan. Masyarakat tidak lagi dianggap sebagai obyek pembangunan, melainkan telah menjadi subyek yang sangat penting dan bahkan menentukan perjalanan pembangunan ekonomi.
Falsafah kemitraan ini secara umum mengelompokkan pelaku pembangunan ked dalam tiga komponen utama, yaitu: dunia usaha (business society), penyelenggara negara (political society), dan masyarakat madani (civil society). Dunia usaha merujuk pada sektor swasta besar dan kecil yang seharusnya menjadi penggerak pembangunan ekonomi yang paling utama. Di Indonesia memang dikenal dengan berbagai bentuk dunia usaha atau sektor swasta (private sector) yang dilindungi dengan sekian macam perangkat undang-undang keperdataan, usaha kecil, dan perdagangan lainnya. Mereka memiliki prinsip utama tentang maksimisasi keuntungan untuk mempertahankan kelangsungan hidup, mengembangan usaha, dan secara langsung dan tidak langsung berkontribusi pada pembangunan ekonomi. Sektor usaha tidak jarang menjadi ajang kritik karena sering kali merlupakan falsafah moralitas dan tanggung jawab sosial, sampai akhirnya berkembang suatu paradigma social corporate responsibility, karena visi keberlanjutan dan kesejahteraan jauh lebih penting dari sekedar mengeruk keuntungan.
176
Masyarakat madani (civil society) sebenarnya jauh lebih luas dari sekadar kelompok kepentingan masyarakat, karena
berakar kata “madinah” dan “madaniah” yang berarti menjunjung
tinggi keteraturan dan keberadaban. Di Indonesia, civil society
sering merujuk pada lembaga swadaya masyarakat (LSM), bahkan sampai perguruan tinggi, lembaga pengembang LSM, asosiasi dan lain-lain. LSM jelas bukan partai politik dan memang didirikan bukan untuk merebut kursi pemerintahan, baik di parlemen ataupun eksekutif. Falsafah sebuah civil society seharusnya mampu memperjuangkan nilai-nilai yang dipercaya dan dianutnya, tanpa harus tergoda untuk berpikir sempit, parsial dan kekanakan. LSM idealnya dibangun untuk memengaruhi atau mengontrol jalannya pemerintahan melalui area di luar dunia kepartaian. Sebagai kelompok kepentingan, LSM semestinya berhubungan dengan dunia kepartaian dan dunia usaha.
Di dunia demokrasi yang sudah maju, ketiga komponen tripartit ini sangat mesra berhubungan. Misalnya di Amerika Serikat, Partai Republik yang berkuasa saat ini sangat dekat dengan industri dan sektor swasta besar, sampai-sampai Presiden George W. Bush dikaitkan dengan skandal akuntansi Enron, World Com, Merck, Arthur Andersen dan serangan serta proyek besar rekonstruksi Irak dan lain-lain. Partai Republik juga amat dekat dengan LSM yang bergerak dalam isu agama, sebagaimana sikap konservatifnya yang tidak setuju terhadap aborsi. Sementara Partai Demokrat sangat dekat dan harmonis dengan civil society yang bergerak dalam isu perburuhan, lingkungan hidup, gender, dan multikulturalisme. Kebijakan President Clinton yang masih dikenang orang adalah langkah affirmative action yang amat relevan untuk mengembangkan usaha kecil menengah (UKM), termasuk kelompok minoritas kulit hitam yang memperoleh naunangan cukup memadai untuk berkiprah dalam dunia usaha dan pendidikan.
Di Indonesia, strategi pengembangan ekonomi berbasis pemberdayaan kemitraan tripartit ini memang relatif baru, dan memperoleh simpati setelah era reformasi ekonomi, atau tepatnya
177
setelah masyarakat letih dengan persekongkolan kaum elit politis dengan kalangan dunia usaha tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat banyak. Dalam hal industrialisasi pertanian, strategi kemitraan tripartit dapat dibangun dan dikembangkan dengan beberapa prinsip-prinsip penting seperti: (1) tujuan bersama, (2) keaktifan seluruh elemen, (3) interdependensi dan komplementaritas dari setiap elemen, (4) hubungan yang hangat dan terbuka melalui suatu aturan main yang dirumuskan dan disetujui bersama (Lihat Hartwich et al. 2003).
Strategi industrialisasi dengan falsafah kemitraan tripartit harus dilandasi pada tujuan dan semangat bersama untuk meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama dalam merumuskan suatu strategi industrialisasi pertanian berdasarkan berkah sumberdaya yang ada dan tuntutan peluang pasar yang lebih besar. Komposisi kemitraan itu sangat bervariasi, tetapi merupakan representasi pelaku ekonomi seperti petani sebagai produsen utama komoditas primer pertanian, pedagang, asosiasi, eksportir, industri pengolahan dan masyarakat hilir lainnya, elemen pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan sebagainya.
Di lapisan dasar dari piramid tersebut terletak banyak produsen-produsen primer (petani atau nelayan) yang tersebar luas di seluruh daerah, mungkin terpusat di suatu lokasi, atau mungkin terorganisasi dalam kelompok usaha bersama atau koperasi. Di lapisan atasnya, adalah berbagai pedagang, dan usaha kecil yang memasok berbagai kebutuhan produsen primer dan sekaligus membeli hasil usahatani. Di lapisan tengah adalah pedagang menengah, grosir, distributor, dan usaha menengah yang terlibat dalam pengolahan komoditi primer tersebut. Di lapisan teratas dari piramid terletak beberapa pemain sektor hilir, seperti perusahaan pengolahan skala menengah dan besar, eksportir, asosiasi usaha, kamar dagang dan industri, bahkan perbankan, lembaga keuangan dan sektor jasa lainnya. Perguruan tinggi, lembaga penelitian lain dan lembaga swadaya masyarakat berperan menjadi stimulator
178
R&D (penelitian dan pengembangan) untuk meningkatkan efisiensi dan menemukan inovasi-inovasi baru.
Di lain pihak, terdapat suatu kelompok pemain yang merupakan penyelenggara negara, terutama dari unsur eksekutif. Mereka meliputi berbagai departemen dan instansi pemerintahan pusat serta dinas-dinas yang ada di tingkat propinsi dan kabupaten/kota. daerah. Dengan format piramida seperti di atas, pada lapisan paling bawah pemerintahan daerah sampai ke tingkat kecamatan dan di bawahnya, seorang camat diharapkan mampu memahami tujuan besar dari industrialisasi pertanian. Di tengah, kelompok ini terdiri dari kantor atau dinas yang relevan dengan strategi industrialisasi pertanian secara umum dan berada di bawah kewenangan Bupati/Walikota. Di atasnya adalah instansi dan dinas propinsi di bawah Gubernur yang merupakan wakil pemerintah pusat di daerah dalam fungsi dekonsentrasi, sampai pada induk departemen sektoral di Jakarta. Mungkin unsur Bappeda perlu ada di setiap langkah industrialisasi karena badan perencanaan yang amat strategis tersebut sangat berperan besar dalam perencanaan dan koordinasi antar sektor, berikut berbagai aspek anggaran pembangunan.
Sesuatu yang harus ditekankan dalam falsafah kemitraan tripartit dalam strategi industrialisasi pertanian adalah kontribusi atau peran serta pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan investasi publik dan memberikan guidelines yang diperlukan bagi masa depan industrialisasi pertanian. Minimal, lembaga pemerintah ini perlu lebih aktid dalam kerjasama secara kelembagaan, untuk menurunkan biaya transaksi, meningkatkan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik, untuk mendorong para aktor ekonomi untuk terlibat lebih menyeluruh di dalamnya.
179