• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

3.5 Analisis Data

3.5.1 Kekayaan spesies ( Richness Index )

Indeks ini digunakan untuk mengetahui banyak atau sedikitnya spesies serta konsentrasi biota dalam suatu komunitas. Brower et al. (1990) menjelaskan bahwa indeks kekayaan jenis menggambarkan ukuran dari contoh. Odum (1971)

19

menambahkan kekayaan spesies (Richness Index) dijelaskan dengan Menhinick Index dengan rumus:

Keterangan:

D : Indeks kekayaan spesies

S : Jumlah spesies pada satu sampel

N : Jumlah sel/ekor dari biota dalam satu spesies atau sampel

3.5.2 Kepadatan larva dan juvenil ikan

Kepadatan populasi merupakan jumlah individu per satuan luas (Brower et al. 1990) dengan rumus:

Keterangan:

D : Kepadatan spesies (ind/m2)

ni : Jumlah total individu suatu jenis larva i (ind) A : Luas seluruh stasiun contoh (m2)

3.5.3 Kelimpahan larva dan juvenil ikan

Kelimpahan larva ikan menurut Romimohtarto and Juwana (1999) in Prasetyati (2004) merupakan banyaknya larva ikan per satuan luas dengan daerah pengambilan contoh, dengan rumus:

Keterangan:

N : Kelimpahan larva ikan (ind/m3) n : Jumlah larva ikan (ind)

Vtsr : Volume air tersaring (Vtsr = l x t x v) l : Luas bukaan mulut larva net (m2) t : Lama waktu penarikan saringan (menit) v : Kecepatan tarikan kapal (m/menit)

20

3.5.4 Pola penyebaran larva dan juvenil ikan

Brower et al. (1990) menjelaskan bahwa pola peyebaran atau distribusi dari larva dapat jelaskan dengan menggunakan Morisita Index of Dispersion dengan persamaan:

Keterangan:

Id : Indeks Morisita

n : Jumlah seluruh stasiun pengambilan contoh N : Jumlah seluruh individu dalam total n

∑X2

: Kuadrat jumlah jenis larva per stasiun per lokasi pengambilan contoh Nilai indeks yang diperoleh dapat diinterpretasikan sebagai berikut: Id < 1, pola penyebaran larva ikan cenderung acak

Id = 1, pola penyebran larva ikan cenderung seragam Id > 1, pola penyebaran larva ikan cenderung berkelompok

Setelah itu, dilakukan uji stastistik, yaitu uji Chi-Square dengan persamaan:

Keterangan:

x2 : Uji Chi-Square n : Jumlah pengamatan

X2 : Kuadrat jenis larva ikan yang ditemukan per stasiun contoh N : Jumlah seluruh individu larva ikan

Nilai Chi-Square yang didapat kemudian dibandingkan dengan nilai Chi- Square dengan selang kepercayaan 95% (α = 0.05). Jika nilai x2 hitung yang diperoleh lebih kecil dibandingkan dengan nilai x2 tabel maka tidak berbeda nyata yang berarti pola sebaran dari larva dan juvenil ikan bersifat acak.

3.5.5 Struktur komunitas larva dan juvenil ikan

Komunitas larva dalam suatu ekosistem perairan terdiri dari beranekaragam jenis dengan jumlah individu yang berbeda masing-masing spesies. Menurut Basmi (1999) tiga unsur pokok dalam komunitas adalah jumlah macam spesies, jumlah individu masing-masing spesies, dan total individu dalam komunitas. Hubungan

21

ketiga komponen ini digambarkan melalui Indeks Shannon and Weaver. Odum (1971) menjelaskan rumus Indeks Keanekaragaman adalah

; dengan

Keterangan:

H’ : Indeks Diversitas Shannon-Wiener s : Jumlah spesies dalam komunitas larva Pi : Sebagai proporsi jenis ke-i

ni : Jumlah total individu larva i

N : Jumlah seluruh individu dalam total n

Indeks Keseragaman digunakan untuk melihat keseragaman dari suatu komunitas (Basmi 1999). Odum (1971) menjelaskan dengan rumus dengan rumus:

; dengan Keterangan:

E : Indeks Keseragaman

H’ : Indeks Diversitas atau Keanekaragaman S : Jumlah spesies

Struktur komunitas larva tersusun dari berbagai jenis populasi yang memiliki jumlah yang berbeda-beda. Indeks Simpson merupakan salah satu indeks untuk memperoleh infomarsi jenis larva yang mendominasi dalam perairan (Basmi 1999). Odum (1971) menjelaskan persamaan Indeks Simpson adalah:

;dengan

Keterangan:

C : Indeks Dominansi

s : Jumlah spesies dalam komunitas larva Pi : Sebagai proporsi jenis ke-i

ni : Jumlah total individu larva i

N : Jumlah seluruh individu dalam total

3.4.5 Keterkaitan parameter lingkungan dengan larva dan juvenil ikan

Keterkaitan antara pola distribusi larva ikan dengan parameter lingkungan, dapat digunakan analisis regresi linier sederhana dengan persamaan:

22

dengan:

X : Parameter lingkungan

Y : Kelimpahan larva dan juvenil

Untuk mengetahui keterkakaitan antara faktor fisika dengan kelimpahan larva maka dilakukan analisis regresi dengan model persamaan sebagaai berikut:

Dengan persamaan penduganya adalah

Keterangan:

Y : Kelimpahan larva dan juvenil

x1, x2, …, x4 : Peubah bebas parameter fisika (suhu, salinitas, arus, kekeruhan)

b0 : Interceps

b1, b2, …, b3 : Koefisien regresi

Nilai R2 atau koefisien determinasi (%) digunakan untuk menggambarkan seberapa besar model yang digunakan mewakili kondisi yang ada di alam. Kisaran R2 berkisar antara 0-100%. Semakin besar kisaran koefisien determinasi maka model yang digunakan semakin mewakili kondisi di alam. Koefisien korelasi (r) digunakan untuk menggambarkan keeratan hubungan antara parameter lingkungan dengan kelimpahan larva dan juvenil. Jika nilai r < 0.5 maka hubungan antara

parameter lingkungan dengan distribusi larva kurang erat. Jika nilai 0.5 ≤ r > 0.7 maka hubungan antara parameter lingkungan dengan distribusi larva erat. Jika nilai r

≥ 0.7 maka hubungan antara parameter lingkungan dengan distribusi larva sangat erat.

23

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Muara Sungai

4.1.1 Muara Sungai Citepus

Muara Sungai Citepus terletak di Kecamatan Palabuhanratu pada koordinat lintang 6o58'47.30" dan bujur 106o31'34.80". Muara sungai ini memiliki bukaan mulut muara sungai ± 3 meter dan memiliki mulut pantai dengan luas ± 1 kilometer dan memiliki substrat pasir. Air muara Sungai Citepus cenderung berwarna coklat dengan kekeruhan yang cukup keruh. Muara Sungai Citepus merupakan salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh masyarakat, sehingga aktivitas di muara sungai ini cukup padat. Selain itu, muara Sungai Citepus merupakan tempat bermuaranya aliran Sungai Citepus yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat MCK (mandi, cuci, dan kakus) sehingga terkadang banyak terdapat limbah rumah tangga yang bermuara ke laut.

24

4.1.2 Muara Sungai Sukawayana

Muara Sungai Sukawayana terletak di Kecamatan Cikakak dengan koordinat lintang 6o57'48.24” dan bujur 106o30'11.20". Muara sungai ini memiliki bukaan mulut muara sungai ± 3 meter. Kondisi perairan di muara sungai ini relatif keruh. Muara Sungai Sukawayana memiliki jenis substrat batu berpasir. Air sekitar muara Sungai Sukawayana cenderung coklat dengan kekeruhan yang cukup keruh. Di sekitar muara Sungai Sukawayana banyak terdapat pepohonan. Aktivitas muara sungai ini sangat sedikit. Lokasi ini jarang dijadikan sebagai lokasi wisata oleh masyarakat. Sungai Sukawayana juga dijadikan tempat untuk MCK.

Gambar 5. Kondisi perairan muara Sungai Sukawayana

4.2 Aktivitas Nyalawean

Aktivitas nyalawean di pesisir laut Teluk Palabuhanratu contohnya di muara Sungai Citepus dan muara Sungai Sukawayana terjadi pada bulan tertentu setiap tanggal 25 Hijriah khususnya bulan Maulud. Nyalawean merupakan aktivitas

penangkapan “impun” dengan menggunakan sirib. Impun merupakan larva-larva ikan yang tertangkap. Saat musimnya, kelimpahan impun yang tertangkap sangat melimpah. Impun biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber pangan.

25

4.3 Komposisi Jenis dan Kelimpahan Larva dan Juvenil Ikan

Total larva dan juvenil ikan yang didapatkan berjumlah 1087 individu, dengan komposisi 6 famili, 12 genus, dan 19 spesies. Spesies yang ditemukan berada dalam fase larva dan juvenil. Jumlah spesies yang ditemukan di muara yang mengarah ke sungai lebih banyak dibandingkan di muara yang mengarah ke laut dengan jumlah spesies yang ditemukan sembilan spesies.

Tabel 1. Jenis dan kelimpahan spesies yang tertangkap

Lokasi Spesies Kelimpahan (ind/m3) Larva Juvenil 30- Apr-11 30- May-11 3-Jul- 11 30- Apr-11 30- May-11 3-Jul- 11 Muara yang mengarah ke sungai Megalops cyprinoides 2 - - - - - Mugilidae - - - 1 1 1 Caranx sp. - - - 2 - - Congridae - - - 1 - - Sicyopterus sp. 217 30 4 - - - Cynoglosus sp. - - - - 1 - Microchantus sp. - - - - 1 - Sardinella sp. - - - - 1 - Sillago sp. - 1 - - - - Platychephalidae - - - 2 - 2 Ambassis vachelli 13 3 23 - - - Gobiidae - - - 2 Muara yang mengarah ke laut Sicyopterus sp. - 2 1 - - - Caranx leptolepis - - - - 1 - Secutor indicus - - 2 1 - 5 Cyniglosus sp. - 1 3 - - - Serranidae - - 1 - - - Anguilla sp. - 1 1 - - - Sardinella gibbosa - - - 1 - - Tetraroge barbata - - - - 1 - Johnius belangerii - - - - 11 -

Selama pengambilan contoh, larva Sicyopterus sp. memiliki kelimpahan total terbesar di muara yang mengarah ke sungai dengan nilai kelimpahan sebesar 241 ind/m3, sedangakan di muara yang mengarah ke laut, spesies Secutor indicius

26

memiliki kelimpahan total terbesar selama pengambilan contoh yaitu sebesar 9 ind/m3. Selain itu, Caranx sp., Sardinella sp., dan Cynoglossus sp. ditemukan di muara yang mengarah ke sungai juga di temukan di muara yang mengarah ke laut. Spesies yang ditemukan di bagan didominasi oleh larva Sicyopterus sp. dengan kelimpahan total adalah 1284 ind/m3. Kelimpahan spesies lain yang ditemukan memiliki kelimpahan yang berbeda-beda (Tabel 1).

Selama pengambilan contoh juga didapatkan spesies lain (ikan dan non ikan) dalam pada fase ikan dewasa dengan nilai kelimpahan dan jumlah individu yang berbeda-beda (Tabel 2).

Tabel 2. Jenis dan kelimpahan spesies (ikan dan non ikan) yang tertangkap pada fase dewasa

Keterangan : *) : Pengambilan contoh ke 1, 2, dan 3

Spesies yang tertangkap selama pengambilan contoh di luar larva dan juvenil di muara Citepus dan Sukawayana arah laut di dominasi oleh famili Engraulididae.

Spesies Kelimpahan (ind/m

3

)

30-Apr-11 30-May-11 3-Jul-11

Muara yang mengarah ke laut Engraulididae 10 2 7 Udang Ronggeng 1 1 - Bintang laut - 1 - Keptiring 1 - - Jumlah (ind) Bagan*) Udang Rebon 1151 Gempylus sp. 1 Sicyopterus sp. 734 Polydactylus sp. 93 Buntal 7 Engraulididae 5300 Anguilla sp. 1 Clupeidae 40 Mugilidae 7 Lutjanidae 3 Ambassis vachelli 4 Kuhlidae 1 Lepturachantus sp. 1 Leiognathidae 363

27

Selain itu, spesies lain yang tertangkap adalah bintang laut, kepiting, serta udang ronggeng (Tabel 2). Berdasarkan Tabel 2, pada pengambilan contoh ke-1 dan 2 tidak didapatkan contoh larva dan juvenil dari muara yang mengarah ke sungai dan muara yang mengarah ke laut. Namun, contoh tersebut lebih dominan didapatkan dari bagan yang berasal dari Citepus dan Sukawayana. Kondisi arus pada pengambilan contoh ke- 1 dan 2 relatif lebih besar dibandingkan pada pengambilan contoh ke- 3, 4, dan 5. Spesies yang tertangkap di bagan selama pengambilan contoh di dominasi oleh famili Engraulididae sehingga jumlah individu yang tertangkap relatif besar dibandingkan spesies lainnya. Speseis lain yang ditemukan dalam jumlah yang besar antara lain family Leiognathidae, Sicyopterus sp., dan udang rebon dalam fase postlarva.

Menurut Pariwono et al. (1998) arus pada bulan Maret dan April mencapai 75 cm/detik. Pada bulan Mei, Juni, dan Juli arus di Palabuhanratu relatif tenang dan lebih kecil dari bulan Maret dan April yaitu sebesar 50 cm/detik. Gerlach et al. (2006) menambahkan bahwa arus laut merupakan faktor utama dalam hal penyebaran larva. Arus akan mempengaruhi kebiasaan ikan, antara lain membawa telur ikan spawning ground ke nursery ground, dari nursery ground ke feeding ground, menyebabkan migrasi pada ikan dewasa, arus (pasang surut) akan mengakibatkan terjadinya migrasi diurnal, arus akan mempengaruhi distribusi dan kelimpahan ikan. Arus juga memiliki kecepatan maksimum bagi larva ikan (Laevastu and Hela 1970). Misalnya larva ikan herring (clupea) kecepatan maksimum agar menunjang perkembangannya adalah 0.6-1 cm/detik (Bishai 1970 in Laevastu and Hela 1970).

Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi tidak didapatkannya contoh larva dan juvenil ikan adalah faktor alat tangkap yang digunakan yaitu diameter larva net yang relatif kecil dan elastisitas dari jaring yang kaku. Pada pengambilan contoh ke- 3, 4, dan 5 dibuat modikasi larva net dengan luas permukaan 1 m2 dengan meshsize jaring 5 mm.

Faktor lain yang menyebabkan tidak didapatkannya contoh larva dan juvenil pada pengambilan contoh ke- 1 adalah terjadinya fenomena super moon. Bagan yang terdapat di Teluk Palabuhanratu adalah bagan apung dengan menggunakan alat bantu lampu petromaks. Didapatkannya spesies ikan di bagan baik dari

28

Citepusmaupun Sukawayana lebih disebabkan karena faktor sinar lampu yang digunakan saat penangkapan oleh nelayan. Sinar yang dipantulkan oleh lampu ke perairan memiliki kemampuan menarik perhatian ikan untuk migrasi ke permukaan. Menurut Thorson (1996) in Sulistiono et al (2001) pada tahap awal kehidupan larva bersifat fototaksis positif sehingga larva akan mengapung bebas diperairan. Namun adapula beberapa larva sangat sensitif terhadap cahaya dan tekanan sehingga mereka hanya menenmpati tingkatan pada kolom air. Menurut Yami (1987) in Magdalena (2010) pemikatan oleh suatu sumber pencahayaan tidak hanya tergantung kepada sifat fototaksis positif dari ikan tersebut, tetapi juga oleh faktor ekologis yang berpengaruh terhadap makhluk hidup lainnya. Pada mulanya yang tertarik adalah zooplankton, kemudian diikuti oleh ikan kecil akhirnya ikan besar.

Penangkapan larva dan juvenil banyak dilakukan pada bulan gelap dan pada bulan tertentu. Berdasarkan hasil informasi masyarakat sekitar, kelimpahan larva dan juvenil khususnya Sicyopterus sp. meningkat pada bulan-bulan tertentu sekitar tanggal 25 pada kalender Hijriah. Penentuan bulan terang dan bulan gelap berdasarkan siklus bulan. Pada bulan terang, cahaya yang dipantulkan ke perairan bersifat menyebar, sehingga ikan pun akan menyebar rata akibat pantulan cahaya. Pada bulan gelap ikan cenderung mengelompok sehingga dalam hal penangkapan lebih banyak yang tertangkap dibandingkan bulan terang.

Gambar 6. Kelimpahan relatif larva di muara Citepus yang mengarah ke sungai 98.65 % 0 20 40 60 80 100 Megalops cyprinoides Sicyopterus sp. Sillago sp. K elim pa ha n Rela tif ( %) Spesies

29

Gambar 7. Kelimpahan relatif juvenil di muara Citepus yang mengarah ke sungai

Terdapat 10 jenis spesies ikan yang tertangkap selama pengampilan contoh dengan masing-masing tiga jenis larva dan tujuh jenis juvenil. Selama pengambilan contoh di muara Citepus yang mengarah ke sungai larva dari Sicyopterus sp. memiliki kelimpahan tertinggi dengan total kelimpahan sebanyak 220 ind/m3 dengan kelimpahan relatif sebesar 98.65%. Jenis juvenil dari famili Platycephalidae memiliki kelimpahan tertinggi dibandingkan dengan spesies lain yaitu sebesar 4 ind/m3 dengan kepadatan relatif sebesar 33.33%.

Gambar 8. Kelimpahan relatif larva di muara Sukawayana yang mengarah ke sungai 33.33 % 0 20 40 60 80 100 K elim pa ha n Rela tif ( %) Spesies 55.71 % 44.29 % 0 20 40 60 80 100

Ambassis vachelli Sicyopterus sp.

K elim pa ha n Rela tif ( %) Spesies

30

Gambar 9. Kelimpahan relatif juvenil di muara Sukawayana yang mengarah ke sungai

Jumlah spesies yang tertangkap selama pengambilan contoh di muara Sukawayana yang mengarah ke sungai adalah empat jenis dengan dua jenis larva dan dua jenis juvenil. Larva dari spesies Ambassis vachelli memiliki kelimpahan larva tertinggi yaitu sebesar 39 ind/m3 dengan kelimpahan realatif sebesar 55.71%. Selain itu, spesies Sicyopterus sp. memiliki kelimpahan relatif sebesar 44.29%. Sedangkan untuk juvenil di muara Sukawayana yang mengarah ke sungai famili Gobiidae memiliki kelimpahan juvenil tertinggi dengan persentase kelimpahan relatif sebesar 66.67%.

Gambar 10. Kelimpahan relatif larva di muara Citepus yang mengarah ke laut 33.33 % 66.67 % 0 20 40 60 80 100 Mugilidae Gobiidae K elim pa ha n Rela tif ( %) Spesies 28.57 % 14.29 % 28.57 % 28.57 % 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00

Sicyopterus sp. Serranidae Secutor indicius Cynoglosus sp.

K elim pa ha n Rela tif ( %) Spesies

31

Gambar 11. Kelimpahan relatif juvenil di muara Citepus yang mengarah ke laut

Spesies yang tertangkap selama pengambilan contoh di muara Citepus yang mengarah ke laut adalah lima spesies dengan empat jenis berada pada fase larva dan dua jenis berada pada fase juvenil. Spesies Secutor indicius ditemukan pada fase larva dan juvenil. Jumlah spesies yang tertangkap di muara yang mengarah ke laut lebih sedikit dibandingkan di muara yang mengarah ke sungai. Kelimpahan relatif larva di muara Citepus hampir sama yaitu sebesar 28.57% dengan kelimpahan individu masing-masing sebesar 2 ind/m3 dengan jenis Sicyopterus sp., Secutor indicius, dan Cynoglossus sp., namun famili dari Serranidae memiliki kelimpahan relatif sebesar 14.29%. Juvenil dari Secutor indicius memiliki kelimpahan tertinggi di muara Citepus yang mengarah ke laut dengan persentase kelimpahan relatif sebesar 66.67% dan kelimpahan individu sebesar 2 in/m3.

Gambar 12. Kelimpahan relatif larva di muara Sukawayana yang mengarah ke laut 33.33 % 66.67 % - 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00

Caranx leptolepis Secutor indicius

K elim pa ha n Rela a tif ( %) Spesies 50 % 0 20 40 60 80 100

Cynoglosus sp. Anguilla sp. Sicyopterus sp.

K e li m pa ha n R e la tif ( %) Spesies

32

Gambar 13. Kelimpahan relatif juvenil di muara Sukawayana yang mengarah ke laut

Spesies yang tertangkap di muara Sukawayana yang mengarah ke laut berjumlah tujuh spesies dengan tiga jenis larva dan empat jenis juvenil. Larva yang memiliki kelimpahan tertinggi di muara Sukawayana yang mengarah ke laut adalah jenis Anguilla sp. dengan nilai kelimpahan 2 ind/m3 dan persentasi kelimpahan sebesar 50%. Sama seperti Gambar 11, di muara Sukawayana yang mengarah ke laut, juvenil dari spesies Secutor indicius memiliki kelimpahan yang lebih besar pada lokasi tersebut yaitu sebesar 4 ind/m3 dengan kepadatan relatif sebesar 57.14%. Individu lain yang ditemukan (Gambar 13) memiliki kelimpahan yang lebih rendah dibandingkan Secutor indicius.

Sicyopterus sp. merupakan famili dari Gobiidae. Banyaknya larva Sicyopterus sp. yang tertangkap disebabkan muara Citepus dan Sukawayana yang mengarah ke sungai merupakan daerah migrasi spesies tersebut. Saat pengambilan contoh terjadi migrasi Sicyopterus sp. ke muara yang mengarah ke sungai pada fase postlarva dan juvenil. Menurut masyarakat sekitar di teluk Palabuhanratu pada tanggal 25 Hijriah pada bulan April-Juni kelimpahan larva dari Sicyopterus meningkat akibat dari aktivitas ruaya dari laut ke sungai. Menurut Sanches-Velasco et al. (1996) in Nursid (2002) kelompok larva tersebut dalam hidupnya sangat tergantung pada estuaria. Jenkins and Boseto (2007) menjelaskan larva Sicyopterus sp. termasuk jenis ruaya amphidromus yaitu melakukan ruaya mencari makan. Pemijahan berlangsung di sungai dan saat penetasan ke laut. Saat ikan pada fase postlarva dan juvenil spesies tersebut kembali lagi ke muara yang mengarah ke sungai untuk mencari makan dan pembesaran.

57.14 % 0 20 40 60 80 100

Secutor indicius Sardinella gibbosa Tetraroge barbata Johnius belangerii K elim pa ha n Rela tif (%) Spesies

33

Larva Anguilla sp. dan Congridae merupakan jenis ikan katadromus yaitu spesies bermigrasi dari tawar ke laut untuk pemijahan (Kenninsh 1990 in Nursid 2002). Larva Megalops cyprinoides merupakan jenis spesies anadromus yang dapat hidup pada salinitas 0-40 ‰. Saat pengambilan contoh larva ini ditemukan di daerah muara yang mengarah ke sungai. Menurut Jayaseelan (1998); Fish Base (2002) in Nursid (2002) pada spesies ini, saat dewasa ditemukan di laut, tetapi pada fase larva dan juvenil banyak yang tinggal di estuaria atau hutan mangrove. Selain itu, spesies ini kawin di laut dan pemijahan berlangsung sepanjang tahun.

Jenis spesies Tetraroge barbata dan Ambassis termasuk dalam freshwater migrant. Jenis migrasi ini, pemijahan dilakukan di perairan tawar dan ada di perairan tawar dan estuari sepanjang tahun (Jenkins and Boseto 2007). Ditemukannya spesies Tetraroge barbata di daerah laut sekitar muara di bahwa spesies tersebut merupakan spesies euryhaline sehingga memiliki kisaran salinitas yang luas. Jenkins and Boseto (2007) mengelompokkan spesies Caranx sp. termasuk dalam marine migrant yaitu spesies dengan kisaran salinitas yang luas (euryhaline) yang melakukan pemijahan di laut dan menggunakan daerah estuari untuk pembesaran juvenil dan dewasa.

Kelimpahan larva dan juvenil di muara Citepus yang mengarah ke sungai lebih besar dibandingkan muara Sukawayana yang mengarah ke sungai. Faktor yang menyebabkan melimpahnya larva dan juvenil di daerah muara Citepus yang mengarah ke sungai diduga karena daerah tersebut merupakan daerah migrasi dari larva Sicyopterus sp. dan ketersediaan makanan lebih banyak dibandingkan muara Sukawayana yang mengarah ke laut. Faktor lain adalah lebar garis pantai muara Citepus yang mengarah ke sungai lebih panjang dibandingkan muara Sukawayana. Selain itu, di muara Citepus tersebut dijadikan kawasan objek wisata oleh masyarakat sekitar sehingga hanya spesies-spesies tertentu yang dapat beradaptasi dilokasi tersebut. Banyaknya spesies Ambassis vachelli di muara Sukawayana diduga kawasan tersebut merupakan kawasan yang tepat bagi pembesaran dari larva dan juvenil tersebut. Secara morfologi, muara tersebut memiliki substrat pasir dan berbatu sehingga saat pengambilan contoh banyak bersembuyi di bebatuan dan aktivitas yang ada lebih sedikit dibandingkan di muara Sungai Citepus.

34

Selain itu, larva dan juvenil dari Secutor indicius termasuk dalam famili Leiognathidae. Spesies tersebut termasuk dalam estuarine migrant. Pemijahan dilakukan di estuari dan larva berkembang di laut. Sehingga migrasi yang dilakukan anra estuari atau muara dengan habitat yang sejenis

Camargo & Isaac (2003); Re (2005) in Bonecker et al. (2009) menambahkan kelimpahan ikan dan larva ikan di estuari sangat dipengaruhi oleh musim, morfologi dari muara, masuknya air laut, dinamika pasang surut, arus, dan ketersediaan makanan. Laevastu and Hela (1970) menyatakan bahwa perubahan suhu akan mempengaruhi distribusi dan kelimpahan ikan. Banyak ikan yang melakukan migrasi dari perairan yang suhunya tinggi ke perairan yang suhunya lebih rendah. Secara tidak langsung migrasi tersebut dipengaruhi oleh kelimpahan dari makanan. Selain itu, kelimpahan dipengaruhi oleh tekanan psikologis dan kerusakan fisik, blooming alga dan racun, polusi, penyakit dan pencemaran, dan pemangsaan (Sulistiono 2001).

Romomiharto and Juwana (1999) in Nursid (2002) menyatakan bahwa ekosistem estuaria merupakan ekosistem yang produktif, rapuh, dan sekaligus penuh dengan sumberdaya. Ekosistem ini mendapat subsisdi energi, karena pasang surut banyak membantu dalam menyebarkan zat-zat hara. Sehingga akan berkorelasi dengan ketersediaan makanan, maka menyebabkan kelimpahan di muara lebih besar dibandingkan di laut. Dando (1984) in Nursid (2002) spesies ikan laut banyak menggunakan estuaria untuk berlindung dan mencari makan karena estuaria kaya akan nutrient. Dandao (1984) in Nursid (2002) menambahkan bahwa banyak spesies ikan laut masuk ke muara atau naik ke perairan tawar untuk bertelur tetapi pada masa larva dan postlarvanya menggunakan daerah estuaria sebagi tempat asuhannya. Sulistiono et al. (2000) in Nursid (2002) mejelaskan ekosistem estuaria merupakan jalan masuk dan jalan keluar bagi ikan-ikan diadromus (andromus dan katadromus). Ikan andaromus menggunakan jalan masuk dari laut menuju sungai atau estuaria, sebaliknya ikan katadromus menggunakan estuaria sebagai jalan keluar dari sungai atau danau untuk migrasi ke laut.

35

4.4 Kepadatan Larva dan Juvenil Ikan

Kepadatan di muara Citepus dan Sukawayana yang mengarah ke sungai dan Sukawayana digambarkan pada Gambar 14 dan 15. Komposisi dalam gambar tersebut masing-masing terdapat larva dan juvenil. Kepadatan spesies dari muara Citepus yang mengarah ke sungai lebih besar dari muara Sukawayana yang mengarah ke sungai. Kepadatan muara Citepus yang mengarah ke sungai adalah 166 ind/m2 dengan 10 spesies yang tertangkap, sedangkan kepadatan dari muara Sukawayana yang mengarah ke sungai adalah 52 ind/m2 dengan jumlah spesies yang tertangkap sebanyak empat jenis.

Gambar 14. Kepadatan relatif larva (a) dan juvenil (b) di muara Citepus yang mengarah ke sungai, Teluk Palabuhanratu

Muara Citepus yang mengarah ke sungai, pada fase larva didominasi oleh

Dokumen terkait