TINJAUAN UMUM TENTANG KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
D. Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menurut Islam
Dalam agama Islam diajarkan untuk tidak melakukan kekerasan dalam bentuk apapun. Allah Subhanaahu wa Ta’ala tidak senang pada tindakan kekerasan yang merusak (fasad). Hal tersebut dijelaskan di dalam Q.s Al-Baqarah (2): 205 Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”.21
Pada kalimat ( لسّنلاو ثر ) “tanaman dan binatang ternak”. Quraish Shihab لحا menafsirkan bahwasanya maksud dari kalimat pada firman Allah di atas ialah dapat dipahami dalam arti wanita dan anak-anak, yakni mereka melakukan kegiatan yang melecehkan wanita serta generasi muda. Bila kata ) ىّلوت ) dipahami dalam arti memerintah, maka tipe ini sangat pandai berbicara, menawarkan program-program yang menakjubkan, hingga akhirnya ia terpilih sebagai
21Ungkapan ini adalah ibarat dari orang-orang yang berusaha menggoncangkan iman orang-orang mukmin dan selalu Mengadakan pengacauan.
penguasa, tetapi ketika berkuasa, ia melecehkan wanita dan generasi muda, serta melakukan aneka pengrusakan.22
Karena pada dasarnya, tindakan fasad adalah tindakan yang menghasilkan kerusakan pada tatanan sosial, menyebabkan hilangnya harta benda dan porak-porandanya kehidupan manusia.23 Maksud dari adanya hilang harta benda yaitu melakukan kekerasan dengan cara besar-besaran, misalnya tindakan penyerangan yang menyebabkan rumah dan bangunan-bangunan lainnya beserta isinya hancur, dari adanya penyerangan tersebut akan menimbulkan kerugian dan menjadi hilang lah harta yang dimiliki. Kemudian terkait porak-porandanya kehidupan manusia yaitu dengan adanya tindakan kerusakan membuat mental dan psikis seseorang sudah tidak terbentuk secara utuh, aktivitas yang biasanya dilakukan secara normal menjadi terganggu, dengan perlahan harus diperbaiki kembali dan harus membangun kehidupan yang baru.
Dari ayat di atas juga dapat di pahami bahwa merusak tanaman dan binatang ternak saja tidak diperbolehkan apalagi merusak/melukai manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai jiwa, maka perlu adanya pemerlindungan. Dalam Islam kekerasan merupakan suatu tindakan penindasan, kesombongan, dan menghilangkan hak-hak manusia yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Apabila itu semua dilakukan, maka Islam di pandang memiliki citra yang sangat buruk, dan jauh dari sunnah Rasulullah. Padahal sejatinya Islam itu mencintai keindahan, ketentraman, persaudaraan, perdamaian dan kebaikan lainnya.
Sebagai agama yang rahmatan lil alamin, Islam sangatlah ramah pada siapapun, melindungi, menyelamatkan semua manusia. Serta memilki prinsip yang diajarkan Islam dalam membangun rumah tangga yaitu mawaddah dan rahmah (kasih sayang dan adil). Dalilnya adalah firman Allah SWT yang berbunyi,
22 M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al- Qur‟an, vol.
1, cet. 8, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), h., 446.
23 Maulana Wahiduddin Khan, Islam Anti Kekerasan, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2000), h., 152.
Artinya: “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Qs. Ar-rum/20:21)
Pada ayat lain Allah SWT juga berfirman sebagi berikut:
Artinya: “dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-A‟raf/7:56)
Memahami dari ayat di atas bahwa Islam mencintai kasih sayang dalam segi apapun termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Dengan adanya saling mengasihi dan menyayangi akan mengurangi perselisihan yang mengakibatkan kerusakan pada salah satu pihak. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai kebinasaan.
Adapun dalam masyarakat kekerasan sering disebut sebagai suatu bentuk penganiayaan. Penganiayaan adalah suatu perbuatan menyakitkan yang mengenai badan seseorang, namun tidak mengakibatkan kematian. Dapat digambarkan yang termasuk di dalamnya: melukai, memukul, mendorong, menarik, memeras, menekan, memotong rambut dan mencabutnya, dan lain-lain.
Dalam hal penganiayaan ini dibagi ke dalam beberapa bagian yaitu penganiayaan atas jiwa/bukan atau dalam keadaan sengaja/tidak disengaja.24
24 Abdul Qadir Audah, Ensiklopedi Hukum Pidana Islam, Jilid IV, (Bogor: PT Kharisma Ilmu), h., 19.
1. Tindak Pidana atas selain Jiwa (Penganiayaan) Kadang disengaja, Kadang Tidak
Tindak pidana penganiayaan disengaja ialah perbuatan yang dilakukan pelaku secara sengaja dengan maksud melawan hukum. Misalnya orang yang melempar seseorang dengan tujuan melukai. Adapun penganiayaan tidak disengaja adalah perbuatan yang dilakukan pelaku tanpa ada maksud melawan hukum.25 Misalnya orang yang membuang batu melalui jendela kemudian mengenai seseorang yang sedang melintas. Bisa juga perbuatan yang di kategorikan sebagai perbuatan yang tidak sengaja terjadi akibat kelalaian pelaku tanpa melakukan perbuatan tersebut.
2. Tindak pidana atas selain jiwa (Penganiayaan) disengaja
Tindak pidana penganiayaan disengaja adalah kesengajaan pelaku melakukan perbuatan yang menyentuh tubuh korban atau memengaruhi keselamatannya.
3. Tindak pidana atas selain jiwa tidak disengaja
Jika suatu perbuatan mengakibatkan kematian, perbuatan tersebut dianggap tindak pidana atas jiwa, yaitu pembunuhan secara tidak disengaja.
Jika suatu perbuatan tidak mengakibatkan kematian, perbuatan tersebut dianggap tindak pidana penganiayaan.
Menurut ulama Hanafiyah (dan ulama Malikiyah yang tidak mengenal istilah tindak kejahatan mirip sengaja) membagi dalam dua macam, yaitu ada kalanya dilakukan dengan sengaja, atau ada kalanya terjadi tidak sengaja (tersalah). Kekerasan fisik sengaja adalah setiap kekerasan fisik yang memang dilakukan oleh pelaku dengan maksud sengaja ingin menganiaya korban. Sedangkan kekerasan tersalah adalah tindakan yang memang dilakukan tanpa ada maksud untuk menganiaya. Sementara itu, menurut ulama Syafi‟iyah dan ulama Hanabilah memiliki pandangan bahwa kejahatan berupa kekerasan terhadap fisik ada yang disebut kekerasan fisik mirip
25 Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1967), h., 179.
sengaja yaitu suatu tindakan yang dilakukan tidak ada maksud untuk membuat luka tetapi tanpa di sadari malah meninggalkan luka.26
Melihat dari penjelasan tentang jenis-jenis penganiayaan di atas, penulis memberi kesmipulan bahwasanya penganiayaan yang dapat menghilangkan jiwa atau yang tidak menghilangkan jiwa semuanya sama-sama merupakan perilaku yang tidak baik dan Islam secara jelas juga melarang adanya tindakan tersebut.
26 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islamiy Wa Adilatuhu, Juz VI, (Damaskus: Daar al-Fikr, 198), h., 331-332.
49 BAB IV
ANALISIS TENTANG PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MEMUTUS