TINJAUAN UMUM TENTANG KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
C. Sebab-sebab terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Perempuan saat ini sudah tidak lagi memiliki ruang tersisa untuk merasa aman. Keluarga yang dianggap sebagai tempat untuk meraih kebahagiaan justru menjadi tempat penyiksaan bagi mereka yang mengalami tindak kekerasan oleh suaminya. Di dalam rumah tangga, ketegangan maupun konflik merupakan hal yang sudah biasa terjadi. Perselisihan pendapat, perdebatan, peretengkaran, bahkan memaki merupakan hal yang umum terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Kejadian-kejadian seperti ini lah yang memicu ketidakharmonisan diantara anggota keluarga.14
Sering kali permasalahan seperti ini dianggap masih dalam lingkup privat.
Sehingga sebagian orang tidak ingin ikut campur dalam setiap permasalah rumah tangga seseorang. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan permasalahan yang telah mengakar sangat dalam dan terjadi di seluruh negara di dunia.
Data tahunan Indonesia dari Komnas Perlindungan Perempuan mencatat bahwa pada tahun 2016 kekerasan di ranah personal masih menempati angka tertinggi. Kemudian Komnas Perempuan menemukan 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan. Pengadilan Agama menyebutkan 245.548 kasus kekerasan terhadap istri yang berujung dengan perceraian. Untuk kekerasan di ranah rumah tangga, kekerasan terhadap istri menempati peringkat pertama 5.784 kasus, di susul kekerasan dalam pacaran 2.171 kasus, kekerasan terhadap anak perempuan 1.799 kasus dan sisanya kekerasan terhadap mantan suami, kekerasan mantan pacar, serta kekerasan terhadap pekerja rumah tangga. Selanjutnya mengenai jenis kekerasan dalam ranah personal pada presentase tertinggi adalah kekerasan fisik
14Evi Tri Jayanti, “Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga Pada Survivor Yang Ditangani Oleh Lembaga Sahabat Perempuan Magelang”, DIMENSIA, III, 2 (September, 2009), h. 40.
42% (4.281 kasus), diikuti kekerasan seksual 34% (3.495 kasus), kekerasan psikis 14% (1.451 kasus) dan kekerasan ekonomi 10% (978 kasus).15
Melihat perolehan data di atas menggambarkan bahwa kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak akan habis untuk dibahas meskipun berbagai instrumen hukum, mulai dari nasional sampai internasional belum mampu menekan angka kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi.16
Dari perolehan data tersebut dapat dipahami bahwasanya problematika mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga ini sudah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada tindakan lebih lanjut mengenai jalan keluar yang sesuai dalam menyelesaikan masalah tersebut. Mulai dari pihak pemerintahan yang memiliki hak dalam pengaturan hukum yang sudah berlaku di Indonesia.
Selanjutnya, dari masyarakat sendiri juga harus mempunyai rasa peduli dengan orang-orang disekitarnya, tidak selayaknya membiarkan begitu saja kasus seperti ini tanpa adanya kepedulian dari masyarakat.
Menurut Didi Sukardi,17 ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tanggga antara lain :
1. Sikap nusyuz istri atau suami yaitu sikap membangkang terhadap kewajiban-kewajiban dalam kehidupan perkwinan, seperti istri tidak mau melayani suami pada hal tidak ada uzur seperti haid atau sakit.
2. Lemahnya pemahaman atau pengalaman ajaran Islam oleh individu umat Islam. Tidak adanya ketaqwaan pada individu, lemahnya pemahaman relasi suami-istri dalam rumah tangga, dan karakteristik yang tempramental juga sebagai pemicu bagi seseorang untuk melanggar hukum syari‟at termasuk melakukan tindakan KDRT.
Dalam Islam sendiri menganjurkan untuk lebih selektif dalam memilih pasangan, apalagi dalam memilih calon suami, karena suami lah sebagai pusat kendali dan pemegang tanggung jawab dalam rumah tangga. Maka dari itu
152016, ada 259.150 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan, kompas.com/konten/2017/03/07/ 2016-ada-259-150-kasus-kekerasan-terhadap-perempuan.
16Eka Purwati, Herniyatun, dkk, “Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga Terhadap Tingkat Perawatan Diri”, Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, XI, 1 (Februari 2015), h. 25.
17Didi Sukardi, “Kajian Kekerasan Rumah Tangga dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif”, Mahkamah, IX, 1 (Januari-Juni 2015), h. 44.
harus memilih dengan pemahaman ajaran Islam yang kuat. Yang nantinya akan mampu meminimalisir adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga.
3. Disisi lain juga disebabkan adanya faktor ekonomi, pendidikan yang rendah, cemburu dan lain sebagainya. Kekerasan dalam rumah tangga yang disebabkan faktor ekonomi, bisa digambarkan karena minimnya penghasilan suami dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga. Terkadang adanya istri yang terlalu banyak menuntut untuk memenuhi kebutuhan.
Mengenai penyebab kekerasan menurut Kementrian Kesehatan antara lain:
1. Faktor individu seperti korban penelantaran anak, penyimpangan psikologis, penyalahgunaan alkohol, dan riwayat kekerasan di masa lalu.
2. Faktor keluarga seperti pola pengasuhan yang buruk, konflik dalam pernikahan, kekerasan oleh pasangan, rendahnya status sosial ekonomi, keterlibatan orang lain dalam masalah kekerasan.
3. Faktor komunitas seperti kemiskinan, angka kriminalitas tinggi, mobilitas penduduk tinggi, banyaknya pengangguran, kurangnya sarana pelayanan korban, perdagangan obat terlarang.
4. Faktor lingkungan sosial seperti perubahan lingkungan sosial yang cepat, kesenjangan ekonomi, kesenjangan gender, kemiskinan, lemahnya jejaring ekonomi, dan lain sebagainya.
Kekerasan dalam rumah tangga juga bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya suami terhadap istri tetapi bisa juga sebaliknya dan bahkan terhadap keluarga yang lain, motifnya bisa apa saja. Ada yang melakukan KDRT karena tekanan ekonomi, tetapi banyak juga yang disebabkan karena diawali perselingkuhan dan sebab-sebab lainnya. Dampak yang akan di timbulkan oleh korban yang mengalami kekerasan fisik, juga akan mengalami gangguan psikis, sehingga mereka merasa harga dirinya telah jatuh dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain.18
18 Maisyarah, “Pengaruh Dukungan Sosial Dan Self Esteem Terhadap Resiliensi Wanita Yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga”, (Skripsi S-1 Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2012), h., 5.
Yang demikian akan menghambat para istri untuk bersosialisasi dengan lingkungannya dan menghambat kegiatan mengurus rumah tangganya, lebih lagi apabila sudah mempunyai anak akan semakin sulit untuk mengurus anak jika psikisnya terganggu.
Selain itu, menurut Aida Vitayala korban dari KDRT lebih banyak dari perempuan, beliau juga menjelasakan terkait penyebab dari adanya kekerasan dalam rumah tangga antara lain:19
1. Budaya patriarkhi yang menempatkan laki-laki sebagai makhluk superior dan perempuan interior. Maksudnya adalah tentang tanggung jawab seorang laki untuk mencari nafkah keluarga. Yang menimbulkan dominasi dari laki-laki terhadap perempuan.
2. Pemahaman keliru terhadap ajaran agama sehingga laki-laki dianggap berkuasa terhadap perempuan. Secara pemahaman yang ada dari dahulu kala bahwa sejak kecil anak laki-laki tersosialisasi unutk bertindak agresif dan memakai kekerasan fisik sebaliknya, anak perempuan dibesarkan dan disosialisasikan untuk bersikap lemah lembut, mengalah dan melayani.
Melihat dari pemahaman tersebut jadi laki-laki akan mempunyai kecenderungan untuk menjadi yang paling berkuasa dan tidak boleh terbantahkan perintahnya.
3. Tekanan ekonomi/kemiskinan.
Ketergantungan ekonomi lah yang memaksa perempuan untuk sabar dan pasrah menerima penganiayaan dari orang tempatnya bergantung, yaitu dari laki-laki (suami) yang merupakan pencari nafkah keluarga.
4. Terbiasa melihat dan mengalami KDRT 5. Pemabuk, frustasi/stress, kelainan jiwa
Kemudian Mufidah dalam bukunya yang berjudul Psikologi Keluarga Islam berwawasan gender memaparkan terkait KDRT yang sulit dihapuskan dan terus aja di lakukan kendatipun Undang-undang telah memberikan perlindugan,
19 Aida Vitayala, Pemberdayaan Perempuan dari Masa ke Masa, (Bogor: IPB Press, 2010), h., 369-370.
sosialisasi di masyarakat juga dilakukan, pusat pengaduan dan perlindungan korban KDRT juga tersedia. Penyebabnya karena: Persepsi yang berkembang di masyarakat selama ini menganggap masalah KDRT sebagai masalah yang bersifat pribadi, akan menjadi aib apabila diceritakan. Biasanya korban cenderung untuk menutup-nutupi fakta yang sesungguhnya, terkadang sebagian masyarakat masih menyalahkan korban padahal tidak tahu kebenarannya. Dalam kondisi seperti ini korban memilih untuk diam dengan penderitaannya. Selanjutnya kerancuan dalam memahami mitos dengan fakta kekerasan di masyarakat. Mitosnya adalah laki-laki melakukan kekerasan karena kesalahan istri, tindak pendidikannya rendah.
Sedangkan faktanya laki-laki melakukan kekerasan secara sadar, berpendidikan cukup. Kemudian, karena masih adanya harapan pada diri korban terhadap kasus kekerasan yang dialaminya, dengan masih adanya rasa cinta, optimis dan sabar atas cobaan hidup yang pada saatnya akan berakhir. Memiliki rasa ketakutan apabila ditinggal pasangan kemudian menjadi janda, melindungi anak-anak, hilangnya hak nafkah. Serta yang terakhir yaitu adanya sikap korban dalam hal ini istri dan anak menunjukkan ketakutan, pasrah, diam tanpa perlawanan akan dapat melanggengkan kekerasan yang di lakukan pelaku karena semakin kuat dan leluasa unutk mengulang-ulang perbuatannya.20
Melihat penjelasan di atas penulis memberi kesimpulan bahwasanya penyebab dari adanya tindak kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga adalah kurangnya komunikasi yang terjalin antara keduanya yang menyebabkan masalah tidak terselesaikan dengan baik. Masing-masing lebih memilih pada keegoisannya, sungkan memecahkan permasalahan dengan kepala dingin, cenderung menggunakan emosi. Kemudian dapat disebkan juga karena terbakar api cemburu, merasa di banding-bandingkan, pasangan yang memiliki sifat kecurigaan terus menurus dan selalu disudutkan yang akhirnya menyeybabkan ketidaknyamana antar kedua pasangan, berawal dari situlah akhirnya dituangkan semua amarah atau kejengkelan yang selalu dipendam yang membuat seseorang
20 Mufidah, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), h., 275-276.
mudah untuk melakukan tindakan kekerasan, bahkan sampai hilang kendali apabila tidak dalam posisi hati yang baik.
Dalam hal ini, karena sedang dalam perasaan yang tidak menyenangkan orang akan mudah melakukan segala macam bentuk kekerasan, mulai dari kekerasan fisik dengan cara memukul, menampar atau bentuk pelukaan lainnya.
Kemudian melakukan pemaksaan seksual yang tidak sewajarnya menyebabkan korban mengalami depresi berat membuat orang akan mudah terganggu psikisnya.
Dalam keadaan yang tidak menyenangkan pula seseorang akan tidak peduli lagi kepada keluarganya, apabila lali-laki sebagai pelaku, maka ia akan menelantarkan istri dan anaknya dengan tidak memberi mereka nafkah.