• Tidak ada hasil yang ditemukan

commit to user 1) Kekerasan Struktural

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Kekerasan Fisik

Kekerasan Fisik dapat berupa Kekerasan Seksual dan Kekerasan Non Seksual. Kekerasan Seksual adalah kekerasan yang terjadi karena adanya unsur kehendak seksual yang dipaksakan dan mengakibatkan terjadinya kekerasan oleh pelaku dan tidak diinginkan oleh korban. Kekerasan tersebut dapat berbentuk verbal ataupun nonverbal yang disertai dengan ancaman atau intimidasi, penganiayaan, sampai pembunuhan. Dalam penelitian ini ditemukan kekerasan verbal berupa cemoohan, ejekan, gunjingan baik dari komunitas gay itu sendiri maupun dari masyarakat sekitar mereka tinggal. Hal ini pernah dialami oleh WHY yang sering di ejek dan dilempar sandal oleh teman-temannya dan tentangganya, seperti yang dikatakan oleh WHY berikut ini :

waktu SD sampai SMA saya pernah di ejek sama temen-temen saya sering dikata-katain banci gitu, tapi saya kalau di ejek cuek saja dan masa bodoh karena itu urusan Ku bukan urusan Mu.

Sedangkan kekerasan yang berupa kekerasan seksual jenisnya adalah perkosaan, pelecehan seksual, ancaman perkosaan, perkosaan disertai pembunuhan, dan perkosaan disertai kekerasan. Sedangkan Kekerasan Non Seksual meliputi segala tindakan yang bersifat eksploitatif, diskriminatif, dan kriminal, tetapi tidak disertai dengan adanya kehendak

commit to user

seksual, yang merugikan korban, baik secara fisik maupun psikologis. Kekerasan tersebut berupa penipuan, pembunuhan, dan perampokan

(Anna, 2002 : 8-9).

Hal ini dapat dibuktikan dengan temuan lapangan seperti yang dialami mas (LND) dan mas (WHY) yang kebetulan juga pernah mengalami kekerasan langsung seperti yang disampaikan berikut ini :

-tiba saya dipukul pake helm disini (di deket gedung wayang orang Sriwedari). Kejadiannya pas malem-malem gitu, jadi waktu itu tiba-tiba ada 2 cowok nyamperi saya disini, dan tiba-tiba mukul saya, trus minta uang dan HP temen

Hal ini dapat dilihat dari paparan kasus kekerasan yang dialami oleh informan (WHY) :

bocor kepala saya. Waktu itu malem-malem, pas saya nongkrong sama temen saya di depan Sriwedari, tiba-tiba temen saya dipukuli sama mereka. Akhirnya saya bantuin temen saya, pas saya mau (WHY).

Kekerasan didefinisikan secara sederhana sebagai bentuk tindakan yang melukai, membunuh, merusak dan menghancurkan lingkungan. Beberapa filsuf dan ilmuwan sosial klasik bersepakat bahwa ada naluri purba manusia seperti yang dimiliki oleh hewan. Ibnu Khaldun menyebut manusia memiliki sifat animal power. Ada kecenderungan manusia untuk menggunakan cara-cara hewan dalam memper-juangkan tujuan-tujuan

commit to user

mereka. Charles Darwin (dalam Anna, 2002 :10) menjadi filsuf yang secara ekstrem menyebutkan survival of the fittest atau siapa yang terkuatlah yang bisa hidup. Filsafat Darwinian ini kemudian memberi pengaruh terhadap dialektika material Karl Marx mengenai perjuangan kelas. George Simmel menyebut hostile feeling, yaitu perasaan memusuhi ketika dua individu terlibat dalam pertentangan. Perasaan memusuhi ini merupakan ciri alamiah manusia yang selalu mengikuti perkembangan alamiah sistem sosial.

2. Kekerasan Non Fisik

Kekerasan non fisik (Psikis) dapat dikategorikan menjadi pelecehan seksual dan penyerangan seksual, hal ini pernah dialami oleh Ipam yang pada awalnya merupakan seorang laki-laki yang normal, tidak merasakan ada keanehan apapun di dalam dirinya. Waktu Ipam duduk di kelas 2 SMA dia mengikuti Study Tour ke Bali yang diadakan oleh sekolahnya, dari situlah awal dari perubahan dalam diri Ipam menjadi seorang gay, karena dipaksakan oleh gurunya untuk melakukan hubungan seksual. Menurut Robert F. Litke dalam tulisan Violence and Power (dalam Susan, 2009 :116) membuat skema definisi bahwa kekerasan yang dilakukan secara personal dapat berwujud dalam dimensi fisik dan psikologis yang muncul dalam bentuk paternalism, ancaman personal dan pembunuhan karakter. Menurut Anna (2002: 9-10) kekerasan non fisik (Psikis) dapat dikategorikan menjadi pelecehan seksual dan penyerangan seksual. Pelecehan seksual yang termasuk dalam kekerasan non fisik atau

commit to user

kekerasan psikologis, yaitu setiap perbuatan dan ucapan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak dan rasa tidak berdaya pada seseorang (Sudiarti, 2000:109).

Maka tidak jarang di antara mereka kemudian memilih melarikan diri dari keluarga dan lingkungan untuk hidup mandiri jauh dari orang tua, serta bergabung dengan rekan-rekan pendahulunya di berbagai tempat. Hal ini dapat dibuktikan dengan temuan lapangan seperti yang disampaikan oleh mas LND berikut ini :

negatif mbak. Bahkan banyak juga yang menganggap bahwa kita-kita (gay) ini adalah sampah masyarakat. Padahal kalau menurut saya, mereka yang mengatakan seperi itu tu munafik. Karna buktinya banyak juga laki-laki yang katanya normal (punya istri/berkeluarga) itu doyan juga main (ngeseks) sama gay. Dan banyak masyarakat yang mengatakan bahwa gay itu adalah penyakit, padahal kita kan ya baik-baik saja. Gay itu kan pilhan hidup mbak, dan ini adalah pilihan hidup saya. Jadi, saya ya cuek-cuek aja dengan tanggapan atau omongan orang lain. Yang penting bagi saya adalah, selama saya kerja kayak gini ini nggak diketahui keluarga saya atau tetangga saya, jadi saya aman. Makanya saya milih tinggal di Sukoharjo, tapi cari uangnya di Solo, jadi kan kemungkinan ketemu sama tetangga atau keluarga

Hal ini dapat dilihat dari kasus-kasus kekerasan yang dialami oleh informan, yakni berupa pemukulan, tendangan, gunjingan, cemoohan, perampokan, serta kekerasan seksual. Hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan dari mas WHY berikut ini :

commit to user

segerombolan ibu-iu tetangga saya yang lagi pada ngrumpi. Ternyata mereka itu lagi ngomongke saya mbak, mereka bilang kalau saya itu gay, seneng karo wong lanang, trus njelek-njelekin saya ke warga gitulah pokoknya. Bahkan ada juga yang melarang anaknya untuk bergaul dengan saya. Selain itu saya juga pernah dipukul sama gerombolan FPI sampai bocor kepala saya. Waktu itu malem-malem, pas saya nongkrong sama temen saya di depan Sriwedari, tiba-tiba temen saya dipukuli sama mereka. Akhirnya saya bantuin temen saya, pas saya mau narik temen saya biar

Dari hasil pernyataan kaum gay di atas sering mengalami kekerasan di dalam masyarakat disekitarnya, sehingga ia merasa dikucilkan dari masyarakat. Galtung mengungkapkan kekerasan struktural, kultural dan langsung, dapat menghalangi pemenuhan kebutuhan dasar. Kebutuhan-kebutuhan dasar ini adalah kelestarian atau keberlangsungan hidup, kesejahteraan, kebebasan dan identitas. Jika empat kebutuhan dasar ini mengalami tekanan atau kekerasan dari kekuasaan personal dan struktural, maka konflik kekerasan akan muncul ke permukaan sosial (Susan, 2009: 111).

3. Kekerasan Domestik dan Kekerasan Publik

Kekerasan domestik yaitu kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarga sedangkan kekerasan publik meliputi segala bentuk pelecehan seksual dan serangan seksual yang dilakukan di tempat-tempat publik (di tempat umum / ramai) (Anna, 2002 : 10). Kekerasan domestik pernah dialami oleh Ipam yang pernah mengalami kekerasan dari kakaknya sendiri gara-gara kakaknya ada masalah dalam keluarganya ia menjadi sasaran atas kemarahan kakaknya dan ia dimaki-maki sampai sempat

commit to user

berkelahi hingga dilanjutkan urusan dengan yang berwajib. Sedangkan kekerasan publik juga pernah dialami oleh Londo (informan gay) ia mengatakan bahwa mereka sangat membatasi pergaulan sosial dengan masyarakat sekitar dan berusaha bersikap normal di hadapan masyarakat dan keluarga meskipun membuat mereka terasa tertekan. Sedangkan Wahyu (Informan) sendiri pernah mengalami konflik dan kekerasan dengan pihak FPI sewaktu berkumpul dengan komunitasnya di daerah Solo Baru hingga membuat dia masuk penjara dan berurusan dengan pihak yang berwajib. Secara implicit para pendahulu ilmu sosial seperti Hobbes, Marx, Weber dan Durkheim memperlihatkan kekerasan muncul pada skala individual dan Negara. Kekerasan sebagai hasil kalkulasi rasional terutama sekali memengaruhi konsep kekerasan terorganisasi, yaitu kekerasan dalam gerakan sosial. Charles Tilly bisa disebut sebagai generasi kontemporer dari paham ini. Tilly memberi penggalan term berkaitan dengan hal ini: war makes state! (Kalyvas, Shapiro & Masoud, dalam Susan, 2009: 110).

Konsep kekerasan para ilmuwan sosiologi konflik yang ditampilkan sebagai representasi individu dan Negara kemudian dikembangkan oleh Johan Galtung. Johan Galtung menciptakan tiga dimensi kekerasan. Galtung menciptakan tiga tipe ideal kekerasan, yaitu kekerasan struktural, kultural (budaya) dan langsung. Kekerasan langsung seringkali didasarkan atas penggunaan kekuasaan sumber (resource power). Kekuasaan sumber bisa dibagi menjadi kekuasaan punitive, yaitu

commit to user

kekuasaan yang menghancurkan, kemudian kekuasaan ideologis, dan kekuasaan renumeratif. Kekuasaan ideologis dan renumeratif cenderung menciptakan kekerasan kultural. Sedangkan kekerasan struktural tercipta dari penggunaan kekuasaan struktural, seperti seorang yang memiliki wewenang menciptakan kebijakan publik. Kekuasaan sumber dan kekuasaan struktural saling berkaitan, saling memperkuat. Galtung mengungkapkan kekerasan struktural, kultural dan langsung, dapat menghalangi pemenuhan kebutuhan dasar. Kebutuhan-kebutuhan dasar ini adalah kelestarian atau keberlangsungan hidup, kesejahteraan, kebebasan dan identitas. Jika empat kebutuhan dasar ini mengalami tekanan atau kekerasan dari kekuasaan personal dan struktural, maka konflik kekerasan akan muncul ke permukaan sosial (Susan, 2009: 111).

4. Kekerasan Ekonomi

Menurut Sudiarti (2000 : 48) kekerasan ekonomi adalah tiap-tiap perbuatan yang membatasi seseorang untuk bekerja di dalam atau di luar rumah yang menghasilkan uang dan atau barang, dan atau membiarkan korban bekerja untuk dieksploitasi atau menelantarkan anggota keluarga. Misalnya: seorang Gay yang diperas oleh pasangannya, hal ini pernah dialami oleh Londo, ia sering diperas dengan pasangannya. Kekerasan ekonomi yaitu hal-hal yang menyangkut materi, dimana dia harus menyerahkan materi secara paksa. Tetapi bagi kaum gay hal itu tidak menjadi masalah, malah dia merasa bangga apabila dapat memberi materi lebih demi orang yang dicintainya karena harga dirinya tinggi ia tidak mau

commit to user

diremehkan di mata orang yang dicintainya hal ini dapat disimpulkan juga bahwa dia berusaha mempertahankan status sosialnya.

B. USAHA-USAHA GAY DALAM MENGHADAPI KEKERASAN

Homoseksual atau gay, memang benar merupakan penyimpangan yang akan selalu timbul dalam masyarakat. Masalahnya, sampai sejauh mana masyarakat dapat memberikan toleransi terhadap penyimpangan tersebut. Lagipula, tolak ukur toleransi itupun tidak statis, senantiasa bergerak. Misalnya dahulu di Amerika Serikat, gay sama sekali tidak diterima di muka umum. Oleh karena itu, mereka melakukan kegiatan-kegiatannya secara sembunyi-sembunyi untuk menghindarkan diri dari kritik yang pedas. Salah satu akibatnya adalah mereka menjadi agresif karena mereka beranggapan bahwa penyaluran dorongan seksual dan tingkah lakunya merupakan salah satu hak asasi manusia. Dengan timbulnya gejala tersebut, masyarakat luas secara perlahan lebih bersikap lunak terhadap mereka, serta mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang (Soekanto, 1982:336).

Sebagaimana temuan penelitian yang dihimpun dari keterangan keterangan informan dan korban dilapangan, selama ini usaha-usaha yang dilakukan Gay untuk menghadapi kekerasan itu sendiri adalah lebih kepada tindakan preventif saja. Para informan lebih memilih mencegah terjadinya kekerasan, yaitu dengan membawa senjata-senjata

commit to user

tajam dan obat-obatan berbahaya seperti air raksa untuk berjaga-jaga kalau saja terjadi pengeroyokan tiba-tiba oleh sekelompok preman ataupun kelompok agama tertentu. Selain itu para informan lebih memilih menghindari tempat-tempat yang dianggap rawan terjadi pengeroyokan atau razia oleh kelompok-kelompok agama tertentu, serta lebih berhati-hati dalam memilih pasangan kencan atau pacar.

Berdasarkan in form asi yang diperoleh di lapan gan, bahwa sesungguhnya banyak kasus kekerasan pada kaum gay yang tidak dilaporkan atau tidak dicatat. Biasanya hanya dalam kondisi yang "relatif terpaksa" atau dalam keadaan "sangat gawat" kaum gay korban kekerasan melapor atau minta tolong kepada otoritas negara (misalnya, RT/RW atau pihak kecamatan, atau ke pihak kepolisian) dan ada juga yang minta pertolongan kepada pusat krisis yang disediakan oleh lembaga-lembaga peduli k a u m g a y seperti : LBH Pro Justitia, H A M dan LSM. Hal ini dikuatkan dengan paparan informan seperti di bawah ini :

-temen gay yang mengalami kekerasan baik fisik, psikis, seksual, maupun ekonomi, tapi banyak diantara mereka yang nggak mau melaporkan kasus itu ke polisi. Padahal jelas-jelas mereka mengalami kerugian yang terkadang tidak sedikit jumlahnya. Meskipun saya atau temen-temen dari GESSANG seringkali menguatkan para korban untuk melaporkan kasusnya ke polisi, tapi tetep saja mereka nggak mau. Alasannya adalah mereka tidak berani untuk sekedar melapor saja, takutnya justru mereka (gay) yang akan disalahkan bahkan jadi korban untuk yang ke-2 kalinya, yakni dikenakan denda oleh pihak

commit to user

H a m b a t a n atau tantangan yang dihadapi oleh pihak-pihak yang berkompeten yaitu praktisi hukum maupun oleh relawan-relawan yang peduli dalam rangka penyelesaian kasus kekerasan kaum gay di lapangan ialah, selain berkaitan erat dengan rumusan hukumnya (substansi) juga tak terpisahkan dengan persoalan kelembagaannya (struktur) serta persoalan budaya (kultur) yang hidup dalam masyarakat. Ariyanto dan Rido Triawan (2008:37) mengatakan bahwa pemerintah sepertinya kurang bersemangat mengeluarkan kelompok LGBTI (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender interseksual) ini dari penderitaan mereka. Kubangan diskriminasi dan intoleransi masih terus menjadi konstruksi sosial dan pandangan dominan masyarakat terhadap kelompok LGBTI. Pemerintah mungkin khawatir akan berhadapan dengan konstruksi sosial pandangan heteroseksual yang mendominasi pola pikir masyarakat. Biasanya, masyarakat melakukan stigmatisasi terhadap mereka dengan menggunakan justifikasi doktrin dan teks-teks suci keagamaan. Oleh tafsir agama koservatif, kelompok lesbian, gay, biseksual, transgender, interseksual (LGBTI) dianggap sampah masyarakat, menyebarkan penyakit menular, tidak normal, tidak alamiah, sumber datangnya malapetaka,dan penyandang cacat mental. Parahnya lagi, pemerintah turut melegitimasi hal itu dengan mengeluarkan beberapa kebijakan yang diskriminatif terhadap kelompok marginal tersebut.

commit to user

C. PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Secara fisik seorang gay adalah laki tetapi secara orientasi seksual menyukai sesama laki-laki. Gay memiliki perasaan yang sama sensitifnya seperti layaknya seorang perempuan, kadang cara mereka berbicara dan bersikap hampir mirip seperti seorang perempuan juga. Menurut Oetomo (2001: 93) cinta sesama jenis sebagai gejala alami, secara umumnya disebut homofilia yang artinya sebagai gejala dan perilaku yang ditandai oleh ketertarikan secara emosi dan seks pada seseorang terhadap orang lain yang sama jenis kelaminnya. Begitu banyak sosok gay yang hadir di tengah-tengah masyarakat yang keberadaannya tidak dapat dipungkiri lagi, terkadang mereka berusaha menikah dengan seorang perempuan tetapi pada akhirnya mereka tetap kembali pada orientasi seksualnya sebagai seorang gay. Lelaki heteroseksualpun ternyata juga banyak yang mau berhubungan seks dengan seorang gay bahkan mereka mencari keberadaan para gay demi memuaskan kebutuhan seksualnya padahal mereka sudah mempunyai istri dan anak.

Beberapa orang mencibir dan menganggap gay adalah anomali, sebuah kelainan jiwa dan suatu tindakan yang benar-benar menyimpang, mereka dianggap sampah masyarakat. Beberapa orang justru merasa iba dan kasihan terhadap mereka sehingga berusaha untuk menolong mereka agar bisa kembali normal lagi.

Menurut Oetomo (2001: 27) bahwa seksualitas seseorang pada dasarnya terdiri dari :

commit to user

1. Identitas seksual (seks biologis)-nya, berupa gradasi kejantanan atau kebetinaan.

2. Perilaku (peran) gendernya (baik sebagaimana ditentukan oleh budayanya ataupun berupa pilihannya sendiri yang bertentangan dengan budayanya itu).

3. Khusus pada masyarakat-masyarakat modern, orientasi (preferensi) seksualnya (baik itu sesuai dengan ketentuan dari budayanya maupun meyimpang dari ketentuan itu).

Berdasarkan teori kekerasan yang diutarakan oleh Galtung, fenomena kekerasan yang terjadi di komunitas gay di Surakarta adalah kekerasan lagsung dan kekerasan budaya. Kekerasan langsung (direct violence) dapat dilihat pada kasus-kasus pemukulan seseorang terhadap orang lainnya dan menyebabkan luka-luka pada tubuh. Suatu kerusuhan yang menyebabkan orang atau komunitas mengalami luka-luka atau kematian dari serbuan kelompok lainnya juga merupakan kekerasan langsung. Ancaman atau teror dari suatu kelompok yang menyebabkan katakutan dan trauma psikis juga merupakan bentuk kekerasan langsung.

Selain kekerasan langsung, fenomena kekerasan budaya yang diutarakan oleh Galtung itupun ternyata juga terjadi di kalangan Gay di Kota Surakarta. Kekerasan budaya (cultural violence) dilihat sebagai sumber lain dari tipe-tipe konflik melalui produksi kebencian, ketakutan dan kecurigaan (Jeong, dalam Susan, 2009: 114). Sumber kekerasan budaya ini bisa berangkat dari etnisitas, agama maupun ideologi. Galtung

commit to user

menekankan makna kekerasan budaya yang ia maksud bukanlah hendak menyebut kebudayaan sebagai keseluruhan sistemnya, namun aspek-aspek dari kebudayaan itu. Galtung memberi definisi pada kekerasan budaya: -aspek dari kebudayaan, ruang simbolis dari keberadaan masyarakat manusia -dicontohkan oleh agama dan ideologi, bahasa dan seni, ilmu pengetahuan empiris dan formal (logis, matematis)- yang bisa digunakan untuk menjustifikasi atau melegitimasi

Kekerasan budaya yang terjadi pada komunitas Gay di Kota Surakarta ini lebih dikarenakan leh aspek agama atau kelompok agama. Dari uraian di atas, kekerasan yang terjadi pada komunitas gay oleh kelompok agama itu seringkali di dasarkan pada kaidah-kaidah agama yang dianut oleh kelompok agama terntentu itu mengenai keberadaan komunitas Gay yang tidak sesuai dengan kodratnya manusia. Mereka menganggap bahwa gay itu melanggar ajaran agama dan gay itu adalah dosa. Kelompok-kelompok agama tertentu tersebut menganggap bahwa keberadaan gay di masyarakat itu bisa merusak moral dan akhlak generasi penerus bangsa. Sehingga inilah yang seolah-olah menjadi pembenar mereka melakukan tindakan apapun terhadap komunitas gay ini, bahkan kekerasanpun seolah-olah syah untuk mereka lakukan.

Budaya masyarakat Indonesia yang notabene adalah budayanya orang timur, keberadaan komunitas ini juga dianggap telah melanggar budaya yang selama ini dianut oleh masyarakat. Hal-hal yang tidak lazim

commit to user

mereka temui di masyarakat termasuk hubungan seks dengan sejenis seperti yang dilakukan oleh komunitas gay di Kota Surakarta ini jelas tidak bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat. Tak terkecuali oleh elemen masyarakat terkecil yakni keluarga. Banyak kaum gay yang tidak diterima oleh keluarga mereka sendiri, maka akhirnya mereka memilih keluar dari rumah dan hidup di luar kota bahkan ada juga yang lebih memilih tinggal di luar negeri bersama pasangannya untuk sekedar mendapatkan legalitas atau sebuah pengakuan.

Dalam bukunya Oetomo (2001: 220-221) berpendapat bahwa sudah saatnya kita semua yang hidup dalam keluarga belajar mengenai keanekaragaman kehidupan manusia, belajar untuk tidak begitu saja menghakimi anggota keluarga kita yang berbeda dari diri kita dan menciptakan suasana keluarga yang menunjang berbagai ekspresi perbedaan.

Pembahasan diatas menjelaskan bahwa, keluarga sangat berperan penting dalam proses kehidupan anak, khususnya proses sosialisasi anak diluar rumah. Apa yang ia peroleh di dalam rumah, kemudian diin-terpretasikan melalui tindakan saat berada diluar rumah. Hal ini menjadi pemicu terjadinya kegiatan-kegiatan yang dapat memicu terjadinya kenakalan, khusunya dalam proses bergaul gay yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis, sebab mendapat kasih sayang yang terbatas. Salah satu temuan utama para sosiolog Melvin Kohn dalam

commit to user

Astry Budiarty (dalam M Elly dan Usman, 2011 :176) ialah bagaimana sosialisasi tergantung pada kelas sosial suatu keluarga orang tua kelas pekerja terutama memperhatikan konformitas luar anak-anak mereka. Mereka menginginkan agar anak-anak mereka taat, rapi dan bersih; mentaati peraturan, dan menghindari masalah. Untuk membuat anaknya taat, mereka cenderung menggunakan hukuman fisik.

Pengaruh keluarga dalam proses tumbuh kembang anggotanya, merupakan hal yang sangat penting. Sebab keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialisasi. Hal ini dimungkinkan sebab berbagai kondisi keluarga; Pertama. Keluarga merupakan kelompok primer yang selalu bertatap muka di antara anggotanya, sehingga dapat selalu mengikuti perkembangan anggota-anggotanya. Kedua, orang tua memiliki kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya, sehingga menimbulkan hubungan emosional yang hubungan ini sangat memerlukan proses sosialisasi. Ketiga, adanya hubungan sosial yang tetap, maka dengan sendirinya orang tua memiliki peranan yang penting terhadap proses sosialisasi (M Elly dan Usman, 2011:177).

Sedangkan sikap kaum gay ketika menghadapi kekerasan itu sendiri adalah lebih pada tindakan preventif untuk diri mereka masing-masing, yakni mereka memilih mencegah terjadinya kekerasan itu sendiri. Hal ini terlihat pada paparan dari informan IPM mengenai usaha-usaha yang dilakukan dalam menghadapi kekerasan di bawah ini :

commit to user

teman saya yang tidak bias pergi tapi saya tetap pergi daripada tidak bisa membantu malah kena. Saya biasanya bawa tas ransel isinya air raksa untuk jaga-jaga saja, kalau kalau pas nongkrong ada serangan dari FPI ataupun dari kelompok preman-preman yang

Kemudian tindakan preventif lainnya juga dilakukan oleh informan WHY dan NK berikut ini :

-sekarang saya milih nyari aman sajalah, kalau pas ada keriburan-keributan di tempat nongkrong entah itu sama FPI ataupun sesame gay, saya milih diam atau kabur ajalah. Karena kadang kalau saya bantuin temen, takutnya malah saya yang kena lagi. Dan saya sekarang juga berjaga-jaga aja kalau pas mau nongkrong kemana gitu, saya kadang bawa pisau atau senjata tajam

Dokumen terkait