commit to user
TINJAUAN PUSTAKA
1. Teori Kekerasan
a. Akar Kekerasan
Pembahasan tema kekerasan sudah dimulai sejak masa filsuf klasik sampai masa kontemporer. Walaupun demikian, sampai saat ini belum ada kesepakatan umum mengenai akar kekerasan masyarakat. Kekerasan didefinisikan secara sederhana sebagai bentuk tindakan yang melukai, membunuh, merusak dan menghancurkan lingkungan. Kemudian, mengapa perilaku kekerasan sering kali muncul dalam relasi konflik?
Pertanyaan di atas mengajak pada pembahasan sifat alamiah manusia (the nature of individual). Beberapa filsuf dan ilmuwan sosial klasik bersepakat bahwa ada naluri purba manusia seperti yang dimiliki oleh hewan. Ibnu Khaldun menyebut manusia memiliki sifat animal power. Ada kecenderungan manusia untuk menggunakan cara-cara hewan dalam memperjuangkan tujuan-tujuan mereka. Charles Darwin (dalam Susan, 2009 : 106) menjadi filsuf yang secara ekstrem menyebutkan survival of the fittest atau siapa yang terkuatlah yang bisa hidup. Filsafat Darwinian ini kemudian memberi pengaruh terhadap dialektika material
commit to user
Karl Marx mengenai perjuangan kelas. George Simmel (dalam Susan, 2009 : 106) menyebut hostile feeling, yaitu perasaan memusuhi ketika dua individu terlibat dalam pertentangan. Perasaan memusuhi ini merupakan ciri alamiah manusia yang selalu mengikuti perkembangan alamiah sistem sosial.
Rule (dalam Novri Susan, 2009: 107) menganalisis akar kekerasan melalui pemikiran Thomas Hobbes. Hobbes berpendapat melalui temanya: homo homini lupus atau Man to Man is an Arrant Wolfes (manusia adalah serigala bagi serigala yang lain). Hanya saja menurut Hobbes manusia memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mengkalkulasi kekerasan. Artinya, manusia menggunakan kekerasan untuk menghadapi kompetisi selfish dan pertandingan zero-sum. Ada kepentingan pribadi yang harus dimenangkan melalui kekuatan atas kepentingan orang lain. Kesadaran inilah yang menyebabkan kekerasan menjadi pilihan untuk memenangkan kepentingan. Term latin vis pacem para belum (ingin perdamaian, peranglah dahulu) menjadi bagian dari filsafat ini. Walaupun demikian manusia tidak bersedia terus berada dalam relasi kekerasan. Manusia perlu menciptakan kesepakatan bersama guna mengurangi kekerasan. Yaitu
-perkelahian. Sehingga dibutuhkan organisasi Negara (state of nature) yang menjaga keamanan manusia. State of nature merupakan kemampuan membentuk kontrak, yaitu suatu pemahaman kerjasama yang menciptakan kewajiban-kewajiban timbal balik dari seluruh anggotanya.
commit to user
Hobbes berpendapat bahwa state of nature mengarahkan dan menentukan tindakan apa saja yang paling tepat untuk kepentingan mereka (Rule, 1988: 20-22). Termasuk kapan kekerasan dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan. Pada dimensi ini menurut Rule, akar kekerasan Hobbesian merupakan produk dari kalkulasi rasional. kekerasan merupakan produk doktrin yang berkesadaran penuh terhadap apa kepentingan yang harus diperoleh melalui kekerasan. Di sini kekerasan pada gilirannya dipandang ikut pula menciptakan tatanan politik. Dahrendorf bisa dikategorikan dalam aliran rasional ini. Ia menyatakan, the violence of conflict relates rather to its manifestation than to it causes; it is a matter of weapon that they are choosen by conflict groups to express their hostility
manifestasi konflik daripada sebagai sebab konflik; hal ini adalah masalah senjata yang dipilih oleh pihak berkonflik untuk mengekspresikan permusuhan mereka) (Susan, 2009: 107-108).
Pandangan Hobbes mengenai state of nature memberi gambaran dari suatu kondisi obyektif dari hadirnya organisasi yang mampu memberi aturan berdasarkan kontrak para anggotanya. Sehingga Negara harus mampu menjadi pengatur dan pelindung para individu. Pandangan Hobbes ini bisa jadi diikuti Durkheim yang melihat Negara menjadi organisasi yang bertanggungjawab menciptakan perdamaian sebagai aparatus moral dari masyarakat. Menurut Turner, negara memiliki peran penting dalam meregulasi kehidupan sosial dalam melindungi hak-hak individu (dalam
commit to user
Susan, 2009: 108). Guna menjalankan fungsinya sebagai aparatus moral itulah Negara memiliki wewenang terhadap kapan kekerasan bisa digunakan. Seperti pendapat Max Weber bahwa Negara adalah lembaga paling memiliki wewenang menggunakan kekerasan (Susan, 2009: 109).
Walaupun demikian, menurut Rule (Susan, 2009: 109), Durkheim berangkat dari asumsi berbeda mengenai the nature of individual sebagai akar kekerasan dalam masyarakat. Menurut Durkheim kekerasan adalah bentuk irasionalitas manusia. Beberapa yang melihat kekerasan sebagai bentuk irasionalitas adalah Scipio Sighele, Gabriel Tarde, dan Gustave Lebon. Pandangan irasionalitas menyebut mental kerumunan (crowd mentality) sebagai naluri instingtif yang hidup di luar kesadaran dan akal sehat manusia. Mental kerumunan berada di luar sistem sosial. Kekerasan menrupakan manifestasi naluri bersama atau gerakan naluri primitive yang menciptakan kondisi-kondisi tindakan massa (Rule, 1988: 93). Coser dan Simmel pun bisa dikategorikan dalam pandangan ini. Yang menarik, walaupun Hobbesian, Durkheimian dan Weberian berbeda dalam melihat akar kekerasan (the nature of individual), namun ada kecenderungan yang sama dalam melihat Negara sebagai organisasi berwenang dan netral. Pandangan ini melihat Negara sebagai konsep obyektif.
Secara implisit para pendahulu ilmu sosial seperti Hobbes, Marx, Weber dan Durkheim memperlihatkan kekerasan muncul pada skala individual dan Negara. Kekerasan sebagai hasil kalkulasi rasional terutama sekali memengaruhi konsep kekerasan terorganisasi, yaitu kekerasan
commit to user
dalam gerakan sosial. Charles Tilly bisa disebut sebagai generasi kontemporer dari paham ini. Tilly memberi penggalan term berkaitan dengan hal ini: war makes state! (Susan, 2009: 110). Konsep kekerasan para ilmuwan sosiologi konflik yang ditampilkan sebagai representasi individu dan Negara kemudian dikembangkan oleh Johan Galtung.
b. Konsep Kekerasan Galtung
Johan Galtung menciptakan tiga dimensi kekerasan. Galtung menciptakan tiga tipe ideal kekerasan, yaitu kekerasan struktural, kultural (budaya) dan langsung. Kekerasan langsung seringkali didasarkan atas penggunaan kekuasaan sumber (resource power). Kekuasaan sumber bisa dibagi menjadi kekuasaan punitive, yaitu kekuasaan yang menghancurkan, kemudian kekuasaan ideologis, dan kekuasaan renumeratif. Kekuasaan ideologis dan renumeratif cenderung menciptakan kekerasan kultural. Sedangkan kekerasan struktural tercipta dari penggunaan kekuasaan struktural, seperti seorang yang memiliki wewenang menciptakan kebijakan publik. Kekuasaan sumber dan kekuasaan struktural saling berkaitan, saling memperkuat. Galtung mengungkapkan kekerasan struktural, kultural dan langsung, dapat menghalangi pemenuhan kebutuhan dasar. Kebutuhan-kebutuhan dasar ini adalah kelestarian atau keberlangsungan hidup, kesejahteraan, kebebasan dan identitas. Jika empat kebutuhan dasar ini mengalami tekanan atau kekerasan dari kekuasaan personal dan struktural, maka konflik kekerasan akan muncul ke permukaan sosial (Susan, 2009: 111).