• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Khalifah adalah pemimpin, wakil atau pengganti (Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya). Sedangkan Kekhalifahan adalah Negara dengan sistem pemerintahan yang dipimpin oleh

12

Refik Efendi was affiliated with the Naqshibandiyya order by a deputy of M evlana Khalid, the Sheikh Abdulfettah Akri, when he had been sent to Syria for an official duty. For further information, see, Kara, Tekkeler ve Zaviyeler,303. Dalam E. M elek Cevahiroğlu Ömür. The Sufi Orders in a M odernizing Empire: 1808 – 1876 (Tarih Vol. 1(1): 70-93). (Istanbul: Boğaziçi University Department of History). 2009.

13 George Lenczonwski. Timur tengah di Kancah Dunia. Terj, Asgar Bixby. Bandung: Sinar Baru Algesindo. 1993. Hal 1-3

14Yelda Saydam. Language in the Ottoman Empire and its Problems 1299-1923. (Johannesburg: Desertasi Tidak Dipublikasikan). 2007. Hal 50-57.

khalifah dengan menjalankan syariat (hukum Islam) di kehidupan negara.15 Dalam sejarahnya, kekhalifahan berawal dari Nabi Muhammad yang berperan dan menjalankan kehidupan sebagai nabi/rasul, pembuat hukum, pemimpin agama, hakim, komandan pasukan dan kepala pemerintahan sipil. Setelah wafatnya Muhammad SAW, khalifah menjalankan tugas seperti Nabi Muhammad SAW, kecuali sebagai nabi/rasul hanya Muhammad SAW saja khalifah tidak boleh membenarkan dirinya sebagai nabi/rasul.16

Dalam hal politik khalifah memiliki wewenang umum sebagai pemelihara dan mempertahankan iman, memerangi kafir dan menghapus bid’ah, memperluas negara Islam (Dar al-Islam).17 Secara khusus fungsi khalifah menurut mahzab Sunni adalah melindungi dan mempertahankan iman wilayah Islam, menyatakan perang suci/jihad (jika keadaan darurat), mengangkat pejabat negara, menarik pajak, dan mengatur dana masyarakat, menghukum orang yang melanggar hukum dan menegakkan keadilan dan merangkul semua golongan suku. Sedangkan fungsi khalifah menurut Syiah adalah imamah, yakni khalifah yang berhak menatur agama dan politik berasal dari keturunan Nabi Muhammad SAW.18

2.2.2 Sejarah dan Struktur Pemerintahan Kekhalifahan Usmani

Kekhalifahan Usmani berasal dari suku bangsa pengembara Qayigh Oghuz, yang merupakan anak suku Turki yang mendiami sebelah Barat gurun

15 Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kementerian Pendidikan Nasional: Balai Pustaka).

16

Philip K. Hitti. History of The Arab’s (Terj.). (Jakarta: Serambi ). Hal 567-576.

17 Thomas W. Arnold. The Chaliphate (Oxford). 1924. Hal 9-41 dalam Philip K. Hitti. History of The Arab’s (Terj.). (Jakarta: Serambi ). Hal 567-576.

18 Al M awardi, et.al dalam Philip K. Hitti. History of The Arab’s (Terj.). (Jakarta: Serambi ). Hal 567-576.

Gobi dipimpin Sulaiman.19 Pada perkembangan selanjutnya kelompok Sulaiman terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama kembali ke wilayah asalnya dan kelompok kedua dari Sulaiman ini diteruskan oleh Ertughril kemudian berteduh dibawah pemerintahan Sultan Alaud-Din XI dari Seljuk yang nantinya Ertughril pada tahun 1288 memiliki putra bernama Usman sebagai cikal bakal berdirinya Kekhalifahan Usmani dan menjadi Sultan Usman I.20

Kekhalifahan Usmani, memiliki perkembangan dari pemikiran-pemikiran Sufisme-Ottomanisme maka pun Kebijakan Kekhalifahan Usmani didasari oleh ide/identitas Sufisme juga. Di satu bagian yang lain dari Sufisme, mengajarkan kedamaian (harmoni) merupakan sesuatu hal yang mutlak dan harus diciptakan oleh setiap insan manusia di dunia. Bila kedamaian itu mampu dipertahankan, maka dampaknya akan memberikan keselarasan dan kecintaan kepada sesama. Sebelum menjadi Republik, Turki adalah negara yang menjadi pemrakarsa Sufisme dari Timur hingga ke Barat.21 Sufisme sangat berpengaruh dalam kebijakan luar negeri Kekhalifahan Usmani yakni menjalin kedamaian antara Yunani dengan dengan dunia Arab dimasa lalu.22

Dalam hal ini, pola masyarakat Kekhalifahan Usmani mengalami kemajuan dalam bidang agama, sehingga Sufisme-Ottomanisme identik berkaitan dengan Kekhalifahan Usmani. Hal ini memberikan dampak bagi jalannya

19 Syafik M ughni. Sejarah Kebudayaan. Hal 51 dalam M . Arfan M uamar. M ajukah Islam Dengan M enjadi Sekuler?(kasus Turki). (Ponorogo, Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS), 2007). Hal 14

20 Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: raja Grafindo Persada. 1995. Hal 130 dalam Ibid, Hal 15.

21

Valdi Hardianto. ‘’Pengertian Sufi’’ (online) http:/ / www.scribd.com/ doc/ 52133531/ sufi, (diakses pada 23 November 2011)

22 Itzchak Weismann.The Politics Of Popular Religion: Sufis , Salafis , And M uslim Brothers In 20th-Century Hamah. (US: Int. J. M iddle East Study). 2005. Hal 39-58.

pemerintahan Kekhalifahan sendiri dan Imperium-imperiumnya di Timur, Balkan, dan sebagian Afrika.23

Dalam hubungan pemerintahan, Kekhalifahan dibantu oleh ulama/scholar/mufti (Sheikh-ul-Islam) sebagai wakil Sultan dalam wewenang keagamaan seperti mendirikan madrasah, penggunaan wajib bahasa Arab sebagai bahasa wajib selain bahasa terapan lainnya, menciptakan hukum, dan mengatur sosial kemasyarakatan. Sedangkan kedua, Sultan juga dibantu oleh Perdana Menteri (Shadrul Adham) yang dikenal memiliki hubungan erat dengan tarekat sufi dan pemerintahan.24 Jadi selain Sultan memiliki dua orang pelaksana pemerintahan maka tujuannya menurut fungsi diatas adalah menselaraskan kehidupan sufi dengan pemerintahan menurut aturan mufti dan menselaraskan wilayah kenegaraan menurut posisi geografis Turki yang strategis menurut Perdana Menteri.

Sekitar tahun 1500-an pemerintahan Sultan Sulaiman I, negara ini mengalami puncak masa keemasannya. Baik dari segi pendidikan, militer Janissery, sistem kemasyarakatan askeri dan re’ya.25 Ditambah cepatnya perkembangan Sufisme oleh Maulana Jalaluddin Rumi dibawah naungan negara yang mengenal politik toleransi beragama sehingga masyarakat dapat merasa

23 M . Arfan M uamar. M ajukah Islam Dengan M enjadi Sekuler?(kasus Turki). (Ponorogo, Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS), 2007), hal 21

24

Refik Efendi was affiliated with the Naqshibandiyya order by a deputy of M evlana Khalid, the Sheikh Abdulfettah Akri, when he had been sent to Syria for an official duty. For further information, see, Kara, Tekkeler ve Zaviyeler,303. Dalam E. M elek Cevahiroğlu Ömür. The Sufi Orders in a M odernizing Empire: 1808 – 1876 (Tarih Vol. 1(1): 70-93). (Istanbul: Boğaziçi University Department of History). 2009. ; M ehmed Ipsirli. The Ottoman Ulema (Scholar’s). (UK Foundation for Science Technology and Civilization). 2004. Hal 2-15.

25 Askeri adalah elit pemerintah yang minoritas, sedangkan re’ya adalah rakyat atau segolongan elit mayoritas yang memiliki hak seluas-luasnya dalam kemakmuran dari negara. Keduanya merupakan sistem stratifikasi yang diciptakan Usmani untuk mengatur negaranya.

aman dan tentram.26 Penduduk Turki saat itu terdiri dari 20 ras dan bangsa yang kurang lebihnya berjumlah 50 juta orang.27

Adapun masyarakat awam muslim, sebagai sebuah warga atau penduduk awam, diorganisasikan dalam sebuah cara yang sejenis. Kaum muslim terbagi-bagi menjadi sejumlah mahzab hukum dan tarekat. Pihak Kekhalifahan Usmani dengan tegas membawanya di bawah pengendalian negara. Hal ini dikarenakan untuk memperluas dukungan terhadap elit ulama dan sufi. Dukungan Kekhalifahan Usmani ini mengantarkan pada pengorganisasian sebuah sistem pendidikan madrasah yang tersebar luas.28

2.2.3 Struktur Masyarakat Kekhalifahan Usmani

Kekhalifahan Usmani adalah negara Muslim dengan populasi non-Muslim yang besar. Bahkan di beberapa provinsi di Eropa.29 Tidak hanya sampai permasalahan itu saja, komunitas Syiah di Anatolia, Irak dan Lebanon juga dapat beribadah dengan baik meskipun berbeda dengan Islam Sunni yang dianut oleh Sultan. Hal ini tentu sudah beriringan dengan apa yang diajarkan Islam sufi, dan Mevlana Jalaludin Rumi tentang toleransi, perdamaian dan keharmonisan.

26 Berputar dan bertumpu pada satu kaki yang menginjak poros bumi sambil berdzikir memuji kebesaran Ilahi. Itulah konsep whirling dervisher atau tarian rumi yang Penciptanya Rumi pada abad ke-12 sebagai sebuah cerminan cinta yang luar biasa terhadap Sang Pencipta. Rasa cinta itu disimbolkan dengan gerakan berputar tanpa henti. Dalam “ Tari Sufi” (online) dalam

http:/ / berita.liputan6.com/ read/ 347609/ tarian-rumi-simbol-cinta-kepada-allah (diakses 13 desember 2011)

27 George Lenczonwski. Timur tengah di Kancah Dunia. Terj, Asgar Bixby. Bandung: Sinar Baru Algesindo. 1993. Hal 1-3

28 M . Arfan M uamar. M ajukah Islam Dengan M enjadi Sekuler?(kasus Turki). (Ponorogo, Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS), 2007), 18-19.

29 Lihat esai Benjamin Braude dan Bernard Lewis (eds) Christians and Jews in the Ottoman Empire, 2 volume (New York: 1982) dalam Colin imber (terj) Irianto Kurniawan. Kerajaan Ottoman: Struktur Kekuasaan Sebuah Kerajaan Islam Terkuat Dalam Sejarah. (Jakarta: Elex M edia Komputindo). 2012. Hal 297.

Mereka (berbagai bangsa, berbagai agama dan kepercayaan) dapat hidup dan dijamin penghidupannya dibawah naungan hukum (syari’at) Islam. Hukum Islam bukanlah milik Kekhalifahan Usmani saja melainkan milik semua komunitas, termasuk komunitas Muslim didalamnya.30 Hukum Islam dari segi pemberdayaan, penyebaran, dan penerapan serta ketentuan hukum membutuhkan institusi dan jabatan permanen guna memberdayakan seluruh komponen masyarakat negara. Disinilah letak pentingnya masjid, mufti, hakim dan perguruan tinggi beperan serta memajukan masyarakat.31

Struktur masyarakat lain dalam Kekhalifahan Usmani adalah adanya perekrutan masyarakat sosial sipil ke dalam tentara pemerintah sebagai penjaga stabilitas. Hal ini tidak lepas dari politik dan Geopolitik Balkanisasi Kekhalifahan Usmani yang menggambarkan negara yang sangat strategis. Adanya rencana strategis sebagai rencana menyebarkan ide dan ajaran Islam di Eropa, negara membangun galangan kapal-kapal, ilmu kelautan dan navigasi, taktik mempertahankan diri, tawaran berdamai secara total kepada bangsa lain.32

2.3 MASA KERUNTUHAN KEKHALIFAHAN USMANI DI ERA