• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II METODE PENELITIAN

2.1.1 Kurikulum 20123

2.1.1.2 Kekhasan Kurikulum 2013

Terdapat dua kekhasan yang dimiliki Kurikulum 2013 yaitu pada rumusan tujuannya dan pendekatan saintifik. Berikut ini akan dijelaskan secara lebih rinci kedua kekhasan tersebut.

12

2.1.1.2.1 Rumusan Tujuan

Rumusan Kompetensi inti menggunakan susunan berikut ini: Kompetensi Inti1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual, Kompetensi Inti2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial, Kompetensi Inti3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan, Kompetensi Inti4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.Uraian tentang Kompetensi Inti untuk jenjang Sekolah Dasar adalah sebagai berikut, pertama adalah KI-1 yang meliputi sikap menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.Kedua adalah KI-2 meliputi sikap yang menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya. Ketigaadalah KI-3 yang meliputi pemahaman pengetahuan faktual denagn cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain.Keempat adalah KI-4 yang meliputi penyajian pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

2.1.1.2.2 Pendekatan Saintifik

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 dilaksanakan menggunakan pendekatan saintifik. Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Pendekatan saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan

13

melalui metode ilmiah.Pendekatan saintifik pada umumnya melibatkan kegiatan pengamatan atau observasi yang dibutuhkan untuk perumusan hipotesis atau mengumpulkan data (Sani, 2014: 50).Hal tersebut menunjukkan bahwa pendekatan saintifik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali informasi dan pengetahuan berdasarkan hasil pengamatannya sendiri.

Pembelajaran dengan integrasi ilmiah pada dasarnya merupakan kegiatan inkuiri. Inkuiri adalah proses berfikir untuk memahami tentang sesuatu dengan mengajukan pertanyaan. Sani (2014:53-71) menyatakan bahwa untuk membentuk keterampilan yang inovatif kegiatan pembelajaran saintifik dilakukan melalui proses mengamati (observasi), menanya, mencoba, menalar (mengasosiasi/ menghubungkan), dan mengkomunikasikan. Lima pengalaman belajar ini diimplementasikan ke dalam model atau strategi pembelajaran, metode, teknik, maupun taktik yang digunakan. Berikut akan dijabarkan masing-masing pengalaman belajar.

Pertama, mengamati (observasi).Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, siswa senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya.Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu siswa. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81A/2013, hendaklah guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan siswa untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan

14

membaca. Guru memfasilitasisiswa untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek. Adapun kompetensi yang diharapkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, dan mencari informasi.

Kedua, menanya.Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada siswa untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing siswa untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstra berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik.Dari situasi di mana siswa dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana siswa mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri.Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan.Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu siswa.Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan siswa, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.Kegiatan “menanya” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati

15

(dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.

Ketiga, mencoba.Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, siswa harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada bidang studi matematika, misalnya,siswa harus memahami konsep-konsep matematika dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Siswa pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Aplikasi metode eksperimen atau mencoba ini dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

Keempat, menalar.Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan siswa merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi siswa harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.

16

Kelima, mengkomunikasikan. Pada pendekatan saintifik, guru diharapkan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar siswa atau kelompok siswa tersebut. Kegiatan “mengkomunikasikan” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya.

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dalam pendekatan saintifik memiliki ciri khusus dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Kelima aktivitas yang disebut 5M di atas, bertujuan untuk dapat mengasah karakter setiapsiswa.Oleh sebab itu, Kurikulum 2013 sering disebut dengan kurikulum pendidikan karakter.

Dokumen terkait