• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekuatan dan Kelemahan Industri TPT Indonesia

Dinamika Import HS 6201 dari Indonesia (2009-2013)

4.3.1 Kekuatan dan Kelemahan Industri TPT Indonesia

Kekuatan

 Upah tenaga kerja industri tekstil di Indonesia yang relatif rendah sehingga dapat bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya. Bangladesh masih memimpin dalam hal upah tenaga kerja yang rendah, dengan upah per jam sebesar 0,22 USD. Standar upah tenaga kerja industri tekstil Vietnam dan Indonesia tidak jauh berbeda, yaitu 0,38 USD per jam untuk Vietnam dan 0,44 USD per jam untuk Indonesia. Sementara itu, di China upah minimum tenaga kerja industri tekstil adalah sebesar 0,55 USD per jam. Dari segi upah tenaga kerja, Indonesia masih mampu bersaing dengan negara-negara Asia lainnya sehingga memiliki comparative

advantage sebagai tujuan outsourcing bagi perusahaan-perusahaan Eropa.

 Jumlah penduduk yang tinggi memungkinkan berkembangnya industri tekstil di Indonesia mengingat sektor industri ini membutuhkan banyak tenaga kerja (padat karya).

 Kondisi politik yang relatif stabil di Indonesia memberikan iklim berinvestasi yang kondusif bagi investor-investor asing.

Kelemahan

Kelemahan sektor industri TPT di Indonesia berasal dari beberapa tekanan dalam negeri.

35  Birokrasi dalam negeri

Regulasi yang belum memihak industri kecil, seperti Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 253 Tahun 2011 yang menetapkan tambahan pajak ekspor untuk tekstil. Sementara itu, ada kemudahan bagi proses impor tekstil di Indonesia sehingga hal ini dapat menjadi hambatan bagi pengembangan industri tekstil di Indonesia. Pasar domestik di Indonesia dikuasai oleh produk impor sebesar 60%.

 Infrastruktur yang kurang memadai baik jalan maupun fasilitas pelabuhan untuk transportasi dan distribusi sehingga berpotensi mengakibatkan biaya ekonomi tinggi.

 Adanya kenaikan suku bank yang menyebabkan pinjaman modal menjadi mahal. Kenaikan tarif dasar listrik sebesar 39% pada tahun 2014 akan mempengaruhi biaya produksi yang semakin tinggi.  Mesin industri yang tua dan membutuhkan revitalisasi dan

restrukturisasi mesin. Hingga saat ini masih banyak peralatan industri yang sudah tua (lebih dari 20 tahun). Diperlukan mesin-mesin baru yang lebih efisien serta mampu meningkatkan kapasitas produksi.

36 4.3.2 Regulasi Import

Standar Kualitas dan Persyaratan Sertifikasi

Persyaratan bagi pembeli secara umum dari Eropa dapat dibedakan menjadi tiga jenis:

1. Persyaratan-persyaratan wajib, yaitu yang harus dipenuhi untuk memasuki pasar Eropa seperti misalnya ketentuan hukum.

2. Persyaratan-persyaratan umum, yaitu yang harus dipenuhi untuk diikuti untuk memenuhi persyaratan pasar.

3. Persyaratan-persyaratan pasar niche untuk segmen-segmen tertentu.

Persyaratan-persyaratan wajib

Berikut ini adalah persyaratan-persyaratan yang wajib dipenuhi eksporter ketika memasarkan produk di Uni Eropa.

1. Keamanan produk (The General Product Safety Directive) – berlaku untuk semua produk.

Ketentuan umum keamanan produk pada dasarnya menetapkan bahwa semua produk yang akan dipasarkan ke Uni Eropa harus aman untuk digunakan. Apabila tidak terdapat ketentutan-ketentuan legal khusus untuk produk yang akan dipasarkan, ketentuan umum untuk keamanan produk juga berlaku sebagai tambahan, meliputi semua aspek keselamatan yang mungkin belum dibahas seluruhnya secara spesifik. Peraturan ini menjelaskan beberapa persyaratan keamanan umum yang berlaku bagi seluruh produk

37 konsumen yang dijual di dalam pasar Uni Eropa, terlepas dari kondisi yang telah dipakai, baik yang baru maupun yang telah diperbaiki, selama produk tersebut tidak dijual sebagai barang antik, atau harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum digunakan. Atas dasar Directive tersebut, produk tekstil yang tidak aman (berbahaya) akan ditolak dari pasar Uni Eropa (http://inatrims.kemendag.go.id/id)

2. Zat-zat kimia – khusus untuk produk-produk tekstil, kulit, dan aksesoris – REACH

REACH adalah legislasi EU yang berhubungan dengan penggunaan zat-zat kimia. Legislasi ini berlaku wajib di EU sejak Juni 2007. REACH menetapkan sistem multiphase untuk zat-zat kimia yang ada maupun yang baru beserta ketentuan-ketentuannya bagi produsen-produsen di EU dan importir.

3. Regulasi (EU) No. 1007/2011 dari Parlemen dan Dewan Eropa tertanggal 27 September 2011 mengenai nama serat tekstil dan pelabelan serta penandaan komposisi serat pada produk tekstil. Regulasi ini mengatur pelabelan dan penandaan (marking) yang terpadu untuk produk tekstil serta metode analisis yang akan diterapkan untuk verifikasi informasi yang tercantum di label dan tanda tersebut. Peraturan ini berlaku untuk produk tekstil yang mengandung paling sedikit 80% serat tekstil dari beratnya, termasuk produk mentah, produk setengah diolah atau yang telah diolah, produk semi manufaktur atau manufaktur, produk setengah

38 jadi atau produk jadi, serta produk yang diperlakukan sama dengan produk tekstil, kecuali produk yang dikontrakkan kepada pekerja rumahan, produk yang dibuat di perusahaan independen tanpa pemindahan barang, serta produk tekstil yang dibuat oleh penjahit

outsourcing. (http://inatrims.kemendag.go.id/id)

4. Directive1999/34/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa tertanggal 10 Mei 1999 yang mengamandemen Council Directive 85/374/EEC mengenai pendekatan hukum, peraturan dan ketetapan administratif pada negara anggota terkait dengan tanggung jawab terhadap produk cacat (http://inatrims.kemendag.go.id/id)

5. Directive 99/44/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa tertanggal 25 Mei 1999 mengenai aspek tertentu pada penjualan barang-barang konsumen dan jaminan-jaminannya berlaku terhadap kontrak untuk persediaan barang konsumen yang akan diproduksi. Menurut Directive tersebut, penjual bertanggung jawab kepada konsumen atas segala ketidaksesuaian pada produk dalam jangka waktu dua tahun setelah produk tersebut dikirim. Negara Anggota dapat memberlakukan peraturan lebih tegas untuk menjamin tingkat

perlindungan konsumen yang lebih tinggi

(http://inatrims.kemendag.go.id/id).

6. Directive 2005/29/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa tertanggal 11 Mei 2005 mengenai praktik komersial yang tidak adil antara pelaku bisnis terhadap konsumen dalam pasar Uni Eropa, dan mengamandemen Council Directive 84/450/EEC, Directives

39 97/7/EC, 98/27/EC dan 2002/65/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa serta Regulation (EC) No. 2006/2004 dari Parlemen dan Dewan Eropa (“Unfair Commercial Practices Directive”) bertujuan untuk memastikan kelancaran aktivitas pasar internal Uni Eropa, karena peraturan tersebut bermanfaat bagi konsumen dengan melindungi mereka dari praktik komersial yang tidak adil (http://inatrims.kemendag.go.id/id).

Persyaratan-Persyaratan Sukarela

Standar sukarela ditetapkan dan didukung oleh industri atau sektor terkait (dibandingkan dengan perundang-undangan wajib dalam bentuk peraturan teknis yang diberlakukan untuk tujuan keselamatan dan kesehatan lingkungan hidup serta perlindungan konsumen). (http://inatrims.kemendag.go.id/id).

Persyaratan-persyaratan untuk tekstil dan produk tekstil di antaranya adalah sebagai berikut:

CEN/TC 248 –Tekstil dan produk tekstil

 EN ISO 12945-1:2000: Determination of fabric propensity to surface fuzzing and to pilling - Part 1: Pilling box method (ISO 12945-1:2000).

 EN 1773:1996 - Textiles. Fabrics. Determination of width and

40  EN 1102:1995 - Textiles and textile products. Burning behaviour.

Curtains and drapes. Detailed procedure to determine the flame spread of vertically oriented specimens.

 EN ISO 105-E10:1996 – Textiles. Tests for colour fastness. Part

E10: Colour fastness to decatizing.

 EN ISO 105-E03:2010 – Textiles. Tests for colour fastness. Part

E03: Colour fastness to chlorinated water (swimming-pool water).

 EN 14971:2006 - Textiles. Knitted fabrics. Determination of number

of stitches per unit of length and unit area.

 EN ISO 105-Z10:1999 - Textiles. Tests for colour fastness.

Determination of relative colour strength of dyes in solution.

 EN ISO 139:2005/A1:2011 - Textiles. Standard atmospheres for

conditioning and testing.

 EN 14621:2005 - Textiles. Multifilament yarns. Methods of test for

textured or non-textured filament yarns.

 EN ISO 30023:2012 – Textiles. Qualification symbols for labelling

workwear to be industrially laundered.

Pemberian label – ketentuan khusus untuk produk tekstil Gambar 6: Simbol standar perawatan tekstil

41 Untuk produk-produk pakaian jadi yang dipasarkan di Italia, informasi yang tertera pada label harus ditulis dalam bahasa Italia. Label tersebut harus mencantumkan trademark/style produsen, manufaktur, importir, atau retailer dan jenis serat yang digunakan berdasarkan komposisi secara berurutan.

Informasi selengkapnya tentang label dapat diperoleh dengan menghubungi institusi berikut ini:

Sistema Moda Italia

Federazione Tessile Moda Milan, Italy

tel: +39 02-641191

email: [email protected]

Untuk produk-produk outerwear/sportswear pria seperti mantel atau

overcoat, standard ukuran yang dipakai di Italia adalah sebagai berikut: Tabel 5: Standar Ukuran di Italia

USA ITALY SMALL 34 44 MEDIUM 36 46 MEDIUM 38 48 LARGE 40 50 EXTRA LARGE 42 52 EXTRA LARGE 44 54 EXTRA LARGE 46 56 EXTRA LARGE 48 58 EXTRA LARGE 50 60

42 4.4 Saluran Distribusi

Berikut ini diuraikan distribusi produk pakaian jadi di Eropa.

Gambar 7: Saluran Distribusi Produk Pakaian jadi di Eropa secara Umum

Sumber: Cbi.nl

Saluran distribusi untuk produk pakaian di Eropa dikelompokkan menjadi lima jalur sebagai berikut:

1. Jalur langsung, yaitu produsen menjual produknya secara langsung ke konsumen atau pengguna akhir, misalnya perusahaan-perusahaan yang melakukan penjualan via pos.

2. Jalur Retailer, yaitu produsen menjual barang ke retailer lalu retailer menjualnya ke konsumen.

43 3. Jalur Grosir/Penjual Skala Besar, yaitu ketika produsen menjual produk ke retailer, dan retailer menjual produk tersebut ke konsumen.

4. Jalur agen/broker, saluran distribusi ini biasanya digunakan untuk produk-produk yang diimpor dari negara-negara berkembang. Eksportir dari negara berkembang akan menjual produk ke agen, kemudian barang akan dijual ke penjual skala besar atau grosir, dan dilanjutkan ke retailer, lalu dari retailer ke konsumen akhir atau pengguna akhir.

5. Multi Jalur, yaitu apabila lebih dari satu saluran distribusi digunakan untuk memasarkan produk untuk konsumen yang bervariasi.

Deskripsi singkat mengenai pelaku pasar dalam saluran distribusi produk pakaian dijabarkan sebagai berikut:

1. Agen/Broker

Merupakan perantara independen yang posisinya di antara pembeli dan penjual dan bernegosiasi untuk klien mereka. Komisi yang diperoleh agen atau broker adalah berdasarkan volume penjualan. Konsumen agen atau broker di antaranya termasuk grosir dan retailer. Agen dibagi menjadi dua jenis, yaitu agen pembeli dan agen penjual. Agen pembeli berlokasi di negara-negara pemasok dan biasanya merupakan perpanjangan tangan pembeli. Agen penjual sebaliknya biasanya berbasis di Eropa. Agen penjual

44 mempromosikan produk-produk dari berbagai produsen asing melalui impor.

2. Importir/Grosir/Distributor

Importir dan grosir menjual produk kepada retailer di negara mereka masing-masing. Importir dan grosir bertanggung jawab penuh terhadap produk yang dibeli sehingga mereka lebih banyak berurusan dengan prosedur impor.

Distributor merupakan perantara yang membeli produk dari produsen, mengatur alur produk, dan menyediakan pelayanan marketing.

3. Produsen Eropa

Merupakan perusahaan-perusahaan yang berbasis di Eropa yang menghasilkan produk-produk pakaian dari awal, yaitu dari bahan baku sampai produk akhir. Produsen dapat membuat desain mereka sendiri atau melalui retailer subkontraktor.

4. Retailer

Merupakan pihak yang melakukan pemasaran produk sampai kepada konsumen akhir.

5. Designer Shop/Gerai Desainer

Aktivitas designer shop adalah menjual merek desainer tunggal di banyak cabang.

6. Toko Independen

Merupakan retailer independen yang mewakili kualitas dan harga yang bervariasi tergantung spesialisasi mereka.

45 7. Toko Cabang Brand Tertentu

Toko-toko ini merupakan cabang-cabang yang khusus menjual produk-produk dengan brand tertentu yang dikontrak oleh produsen, biasanya di bawah brand privat. Toko-toko semacam ini mengadopsi sistem yang terintegrasi baik secara vertikal. Karena melakukan penjualan dalam jumlah besar dan tidak mengikutsertakan campur tangan agen, maka rantai produksi yang diperlukan dari desain hingga sampai di toko memiliki waktu yang cukup pendek, yaitu sekitar tiga bulan. Kelebihan dari sistem ini adalah kemudahan dalam meningkatkan transparansi rantai suplai serta biaya yang lebih rendah.

Contoh perusahaan-perusahaan yang menggunakan saluran distribusi ini adalah perusahaan-perusahaan fast fashion asal Eropa seperti H&M, C&A, dan Zara.

8. Departement Store

Departement Store biasanya menjual pakaian sebagai bagian dari varian produk mereka. Departement Store biasanya memiliki koleksi dengan brand mereka sendiri atau koleksi brand-brand privat. La Rinascente dari Italia, misalnya berkolaborasi dengan produsen yang dikontrak sendiri atau oleh sub kontraktornya. 9. Hypermarket dan Supermarket

Hypermarket dan supermarket, misalnya Carrefour atau Auchan biasanya menawarkan varian produk-produk tertentu dengan kualitas standar.

46 10. Factory Outlet

Merupakan toko-toko retail yang menjual produk-produk yang biasanya sudah lewat masa trendnya atau sisa produk yang tidak terjual di toko utama.

11. Pemesanan via pos

Retailer-retailer yang memasarkan produk mereka melalui katalog yang dikirim. Pemesanan barang dilakukan melalui formulir pemesanan atau lewat telepon.

12. Webshop

Adalah toko-toko virtual yang melakukan penjualan online via internet. Calon pembeli dapat memperoleh informasi harga, kualitas, dan keunggulan setiap produk, memilih dan melakukan pembayaran online secara aman. Barang kemudian dikirim melalui pos ke rumah pembeli.

13. Pasar

Adalah pasar umum dengan stand-stand tunggal yang menjual berbagai jenis barang. Biasanya pasar-pasar ini digelar outdoor di hari-hari tertentu setiap minggu. Berdasarkan hasil survey salah satu saluran distribusi yang menganut sistem ini adalah pasar Lagosta di Milan.

47 V. STRATEGI

Pasar retail Eropa untuk bahan pakaian saat ini mendapat tekanan yang cukup berat. Berkurangnya profit disebabkan oleh resesi ekonomi dan jatuhnya kepercayaan konsumen. Berdasarkan permintaan konsumen, koleksi pakaian akan berganti lebih cepat dan retailer diharapkan mampu memenuhi kualitas bahan pakaian dengan harga yang setara, sehingga memberikan pengalaman berbelanja yang memuaskan dan memenuhi permintaan pasar.

Persaingan di kalangan para retailer Eropa cukup ketat, khususnya untuk segmen menengah dikarenakan adanya kejenuhan pasar. Berbagai jenis saluran distribusi diperkirakan akan berkembang untuk memenuhi permintaan belanja konsumen akhir, terutama untuk pakaian-pakaian yang tailored.

Sebagian besar koleksi dan item produk pakaian didatangkan dari Asia termasuk Indonesia, namun retailer-retailer Eropa juga terus mencari alternatif pemasok dari negara-negara lain yang lebih kompetitif.

Bagi para retailer di Eropa, ada beberapa hal penting yang diperkirakan mampu memberikan nilai tambah untuk produk-produk pakaian dari negara-negara pemasok, antara lain:

1. Manufaktur dengan mengutamakan konsep Corporate Social

48 2. Produk ekologis, organik, atau teknis dan pengurangan Carbon

footprint. Industri pakaian Italia saat ini berkembang ke arah

keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability). Saat ini mulai bermunculan brand-brand yang merangkul konsumen dalam hal lingkungan, menggunakan materi yang bersahabat dengan lingkungan, dan menggalakkan daur ulang.

3. Kesempatan bagi eksportir-ekspotir dari negara berkembang termasuk Indonesia datang dari layanan yang diberikan kepada retailer-retailer Eropa, yaitu memberikan kontribusi dalam membantu pemenuhan selera konsumen. Segmen menengah ke atas merupakan segmen yang cukup menantang dari segi saluran distribusi bagi eksportir-eksportir di negara-negara berkembang. 4. Karena outsourcing masih akan menjadi trend produksi, maka para

supplier perlu membangun hubungan baik dengan pembeli dan menjamin transparansi dalam proses distribusi produk.

5. Produksi dan rantai suplai diharapkan mampu memenuhi standar kualitas Eropa sehingga hal ini dapat menjadi salah satu titik kekuatan dalam melakukan marketing.

6. Memperluas Saluran Distribusi

Menurut analisa Euromonitor, beberapa perubahan terjadi setelah adanya krisis ekonomi. Retailer independen kehilangan volume dan hasil penjualan. Pada tahun 2012, share untuk produk pakaian yang didistribusikan melalui departemen store dan mass

49 cabang di Italia meningkat karena adanya kenaikan jumlah cabang retail di seluruh Italia. Brand dan aksesibilitas menjadi lebih penting peranannya.

Dengan demikian, jalur distribusi alternatif yang dapat diambil untuk sektor apparel adalah sebagai berikut:

a. Penjualan langsung ke konsumen melalui website.

Diperkirakan pada tahun-tahun mendatang jumlah pembelian secara online akan terus meningkat. Online store juga dapat digunakan sebagai media untuk memberikan penawaran koleksi-koleksi khusus, misalnya produk-produk yang bersifat fair trade dan berkelanjutan.

b. Penggunaan media sosial dan media fashion sebagai sarana untuk mempromosikan perusahaan atau produk. c. Penjualan langsung ke agen-agen atau perusahaan yang

mengorganisir pengalaman berbelanja alternatif.

50 7. Unicredit dalam laporan analisa pasarnya mengamati semakin pentingnya organisasi distribusi, terutama untuk brand tunggal yang tergabung dalam perusahaan komersial dan kelompok industri yang terintegrasi secara vertikal. Dengan saluran distribusi seperti itu, diperlukan peningkatan kualitas pelayanan bagi pengimpor seperti:

a. Menyediakan customer service yang memadai dengan respon dan tindakan yang segera apabila ada masalah. b. Menyediakan update bahan dan koleksi musim terkini.

c. Menyesuaikan penggunaan garmen dengan trend terbaru, termasuk warna yang dikaitkan dengan musim-musim di mana jaket dan mantel banyak digunakan. Menurut analisa youreporternews.it, trend fashion untuk pria masih akan mengarah kepada konsep casual, chic dan sedikit sentuhan klasik.

Sementara itu, trend bahan garmen cenderung berfokus pada penggunaan bahan waterproof, transpiran, dan elegan.

51 Sumber: www.cbi.nl

8. Berpartisipasi dalam pameran bahan di Eropa dan pameran-pameran fashion pria, seperti Milano Unica di Milan, Milano Moda Uomo Fashion Show di Milan dan Pitti Immagine Uomo di Florence. Hal ini dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang bahan-bahan yang sedang populer untuk pakaian outwear.

52 VI. INFORMASI PENTING

6.1 Kedutaan Italia di Indonesia

Dokumen terkait