1
INDONESIAN TRADE PROMOTION CENTER ITPC MILAN
Via Vittor Pisani, 8 – 6° Piano 20124 Milan (MI), ITALY
Tel. +39 02 3659 8182 Fax. +39 02 3659 8191
MARKET INTELLIGENCE
PELUANG PRODUK JAS DAN JAKET (HS 6201)
DI ITALIA
2014
INDONESIAN TRADE PROMOTION CENTER ITPC MILAN
Via Vittor Pisani, 8 – 6° Piano 20124 Milan (MI), ITALY Tel. +39 02 3659 8182 Fax. +39 02 3659 8191 [email protected]
2 Kata Pengantar
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) memberikan peluang penting bagi suatu negara untuk memulai industrialisasi ekonominya. Industri ini memainkan peranan penting dalam meningkatkan orientasi ekspor di negara-negara Asia, seperti Indonesia, Hong Kong, Singapura, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, Cina, Thailand, dan Vietnam.
Industri TPT merupakan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa Indonesia. Pada tahun 2009, industri TPT berkontribusi sebesar 12,72% dalam perolehan devisa terhadap ekspor hasil industri, kecuali migas dan sebesar 9,58% terhadap total ekspor non migas. Selain mempunyai kontribusi yang besar di dalam PDB dan devisa, industri TPT juga menyerap banyak tenaga kerja, baik yang bekerja secara langsung ataupun tidak langsung.
Di Eropa, tekstil dan pakaian jadi merupakan sektor utama bagi industri dengan turnover tahunannya mencapai 215 miliar Euro dan menyerap tenaga kerja sebanyak 2,7 juta orang. Italia sendiri pada tahun 2013, masih menunjukkan market size yang cukup besar untuk sektor apparel, yaitu sebesar 47 miliar Euro, atau 16% dari total impor produk TPT dan menempati peringkat kedua di Eropa setelah Jerman.
Pada tahun 2013, Indonesia menguasai market share sebesar 2,2% dari total impor Italia untuk produk HS 6201.
Penyusunan laporan Market Intelligence ini didasarkan pada studi literatur (desk study) . Informasi pasar ini diharapkan dapat berguna sebagai dasar pengambilan kebijakan oleh pimpinan dan atau sebagai bahan referensi pelaku usaha dibidangnya. Laporan ini merupakan rangkaian kajian yang terus dilakukan selama 1 (satu) tahun untuk memenuhi target yaitu menyiapkan 1 (satu) Market Intelligence.
3
Market Intelligence ini memilih produk jas dan jaket (HS 6201) sesuai data
yang mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar serta adanya peluang pasar untuk produk dimaksud di Italia. Di dalam Market
Intelligence ini mengenai latar belakang pemilihan produk, potensi produk,
karakteristik dan spesifikasi produk, informasi pasar dan perdagangan, serta peluang dan strategi untuk memasuki pasar di Italia.
Laporan Market Intelligence ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang berguna bagi pihak Pemerintah maupun Swasta di Indonesia, khususnya bagi kalangan eksportir dan pengusaha produk terkait dalam menyikapi peluang ekspor di italia.
Disadari sepenuhnya bahwa penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik yang membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan penulisan ini sangat kami harapkan.
Semoga Laporan Market Intelligence ini dapat memberikan manfaat bagi pihak yang membutuhkan informasi tentang produk jas dan jaket (HS 6201).
Milan, November 2014
Kepala ITPC Milan Agung Pramudya FR.
4 Abstraksi
Tekstil dan pakaian merupakan sektor utama pada industry di Eropa dengan turnover tahunan mencapai 215 miliar Euro serta menyerap tenaga kerja sebanyak 2,7 juta orang.
Italia menempati peringkat kedua di Eropa pada tahun 2013 dengan
market size sektor apparel sebesar 47 Miliar Euro atau 16% dari total
impor produk TPT di Eropa
Indonesia pada tahun 2013 menguasai market share sebesar 2,2% dari total impor Italia untuk produk HS 6201
Impor Italia dari Indonesia pada periode 2012-2013 secara keseluruhan mengalami penurunan nilai sebesar -5% dari 2.536 juta USD menjadi 2.670 juta USD. Berdasarkan data Istat (Institut Statistik Nasional Italia)
Kurun waktu 2012-2013 terjadi penurunan impor dari dunia produk HS 6201 di Italia sebesar -0,86%. Di antara sepuluh besar negara pengekspor HS 6201 bagi Italia, Indonesia termasuk negara yang mengalami peningkatan nilai impor sebesar 12,42%, yaitu dari 14,65 juta USD pada tahun 2012 menjadi 16,54 juta USD pada tahun 2013 Budaya “la bella figura” atau memberikan kesan yang baik adalah
salah satu bagian dari tradisi masyarakat Italia, salah satunya melalui busana yang dikenakan. Fashion dianggap sebagai bagian penting dalam kultur Italia
5 Daftar Isi
Kata Pengantar ... 2
Abstraksi ... 4
Daftar Isi ... 5
Daftar Gambar dan Tabel ... 6
I. PENDAHULUAN ... 7
II. POTENSI PRODUK HS 6201 DI ITALIA ... 11
III. INFORMASI PASAR ... 19
3.1 Trend Produk ... 19
3.2 Segmentasi Pasar ... 21
3.3 Perilaku Konsumen ... 22
IV. INFORMASI PERDAGANGAN ... 24
4.1 Impor Produk HS 6201 di Italia ... 24
4.2 Analisa Pesaing ... 28
4.2.1 Pesaing Indonesia di kawasan Asia ... 28
4.2.2 Pesaing Global Indonesia ... 31
4.3 Analisis Peluang Industri TPT Indonesia ... 34
4.3.1 Kekuatan dan Kelemahan Industri TPT Indonesia ... 34
4.3.2 Regulasi Import ... 36
4.4 Saluran Distribusi ... 42
V. STRATEGI ... 47
VI. INFORMASI PENTING ... 52
6 Daftar Gambar dan Tabel
Figur 1: Trend Import Pakaian jadi di Eropa ... 8
Figur 2: Market size dan Market Share industri Apparel ... 8
Figur 3: Porsi Import Produk Indonesia di Italia ... 10
Figur 4: Variasi suhu bulanan Italia tahun 2013 ... Figur 5: Negara-negara pemasok produk HS 6201 di Italia tahun 2013 .. 26
Figur 6: Fluktuasi kinerja import HS 6201 Indonesia di Italia (2009-2013)27 Gambar 1: Anorak ... 11
Gambar 2: Overcoat ... 12
Gambar 3: Cloak ... 13
Gambar 4: Cloak ... 13
Gambar 5: Contoh trend warna pakaian musim gugur/dingin untuk pria koleksi musim gugur/dingin 2014/2015 ... 20
Gambar 6: Simbol standar perawatan tekstil ... 40
Gambar 7: Saluran Distribusi Produk Pakaian jadi di Eropa secara Umum ... 42
Gambar 8: Persentase Pembeli Eropa dari total Pengguna Internet ... Gambar 9: Trend outwear musim dingin 2014-2015 seperti disimak di situs www.cbi.nl ... 51
Tabel 1: Angka pengangguran di Italia ... 18
Tabel 2: Segmentasi pasar produk pakaian jadi di Eropa ... 21
Tabel 3: Neraca Perdagangan HS 6201 Italia dengan Dunia ... 24
Tabel 4: Upah Buruh Industri Tekstil Beberapa Negara di Dunia ... 31
7 I. PENDAHULUAN
Berdasarkan data Istat (Institut Statistik Nasional Italia), impor Italia dari Indonesia pada periode 2012-2013 secara keseluruhan mengalami penurunan nilai sebesar -5% dari 2.536 juta USD menjadi 2.670 juta USD. Minyak Kelapa Sawit, Alas Kaki, Kopi, Resin, Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) adalah sebagian dari produk import utama Italia dari Indonesia dengan market share melebihi 1% yang mengalami perubahan nilai impor positif dalam periode tahun 2012-2013.
Di Eropa, tekstil dan pakaian jadi merupakan sektor utama bagi industri dengan turnover tahunannya mencapai 215 miliar Euro dan menyerap tenaga kerja sebanyak 2,7 juta orang. Italia sendiri pada tahun 2013, masih menunjukkan market size yang cukup besar untuk sektor apparel, yaitu sebesar 47 miliar Euro, atau 16%, nomor dua di Eropa setelah Jerman (figur 1).
Eropa masih merupakan tujuan ekspor sektor apparel yang menarik bagi negara-negara berkembang walaupun krisis ekonomi belakangan ini telah membuat konsumsi produk apparel cenderung turun di Eropa. Konsumsi sektor apparel diperkirakan akan tetap berkembang antara tahun 2012-2017.
8 Figur 1: Trend Import Pakaian jadi di Eropa
Sumber: cbi.nl
Figur 2: Market size dan Market Share industri Apparel
Sumber: Cbi.nl
Pada tahun 2013, produk HS 6201 (yang merupakan sub-bagian dari industri TPT) dari Indonesia menempati market share sebesar 2,2% dari total impor HS 6201 Italia dari dunia. Meski masih tergolong minim, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara pemasok produk HS 6201 ke Italia.
9 Indonesia bersaing dengan Jerman, Bulgaria, Perancis, dan Belanda yang memiliki market share setara, yaitu di bawah 3%. China masih menduduki peringkat pertama dalam pasar produk HS 6201 di Italia, yaitu dengan dominasi market share sebesar 50,41%.
Secara garis besar, dalam kurun waktu 2012-2013 terjadi penurunan impor produk HS 6201 di Italia sebesar -0,86%. Di antara sepuluh besar negara pengekspor HS 6201 bagi Italia, Indonesia termasuk negara yang mengalami peningkatan nilai impor sebesar 12,42%, yaitu dari 14,65 juta USD pada tahun 2012 menjadi 16,54 juta USD pada tahun 2013.
Terpilihnya produk TPT sebagai tema produk yang dibahas pada laporan
Market Intelligence ini dikarenakan besarnya market share produk TPT
dalam komposisi produk-produk yang diimpor Italia dari Indonesia di tahun 2013, yaitu sebesar 4,46% (figur 3).
10 Figur 3: Porsi Ekspor Produk Indonesia ke Italia periode Januari –
Desember 2013
Share Import Produk Indonesia di Italia Periode Januari-Desember 2013
Minyak Kelapa sawit; 36,91%
Bahan Bakar; 13,42%
Biodiesel; 4,79% Kopi; 3,46% Alas kaki; 6,67%
Perlengkapan travel, tas; 1,42% Lainnya; 22,74% Ikan; 1,67% TPT; 4,46% Timah; 1,18% Karet; 3,28%
Sumber: Elaborasi data Istat
Dalam penyusunan laporan Market Intelligence ini, digunakan dua metode pengumpulan data, yaitu metode primer melalui wawancara dan metode sekunder melalui desk research untuk menggambarkan peluang pasar, analisis pesaing, dan strategi yang bisa diterapkan bagi eksportir Indonesia. Data yang berkaitan dengan informasi market share berasal dari Istat dan WTA (World Trade Atlas) dengan referensi data tahun 2009-2013.
11 II. POTENSI PRODUK HS 6201 DI ITALIA
Produk HS 6201 didefinisikan sebagai: Mantel panjang, car-coat, jubah bertopi, cloak, anorak (termasuk jaket ski), wind-cheater, wind-jacket dan semacamnya, untuk pria atau anak laki-laki.
Gambar 1: Anorak
Anorak atau dikenal juga sebagai parka adalah sejenis mantel waterproof dengan capucon (tutup kepala), biasanya dengan lapisan bulu atau bulu palsu di dalamnya. Capucon berfungsi untuk melindungi wajah dari suhu rendah dan angin. Pada mulanya, anorak dibuat dari caribou atau kulit anjing laut dan digunakan untuk berburu atau berkayak di daerah arktik.
12 Gambar 2: Overcoat
Cloak atau mantel adalah sejenis garmen longgar yang berfungsi sebagai
mantel pelindung dari udara dingin, hujan, dan angin. Cloak sudah lama digunakan dan dalam perkembangannya desain dan bahannya juga telah mengalami evolusi.
Raincoat atau jas hujan adalah mantel waterproof yang digunakan untuk
melindungi penggunanya dari hujan. Jas hujan dibuat pertama kali di Skotlandia pada tahun 1824. Jas hujan modern biasanya dibuat dari bahan yang waterproof dan breathable seperti Gore-Tex untuk memungkinkan sirkulasi udara sehingga keringat dapat keluar.
13 Gambar 3: Cloak
Overcoat adalah sejenis jas yang dikenakan paling luar pada musim
dingin. Overcoat biasanya panjangnya di bawah lutut. Pada abad ke-17,
overcoat sudah populer di Eropa. Saat itu overcoat dikenakan sebagai
busana formal yang tak jarang turut menunjukkan status sosial seseorang di masyarakat. Saat ini overcoat panjang sudah jarang dipakai.
14 Produk-produk yang termasuk dalam kategori HS 6201 adalah sebagai berikut:
HS 620111 - Mantel panjang, jas hujan, car-coat, jubah bertopi, cloak dan semacamnya untuk pria dan anak laki-laki dari wol atau bulu hewan halus
HS 620112 - Mantel panjang, jas hujan, car-coat, jubah bertopi, cloak dan semacamnya untuk pria dan anak laki-laki dari kapas HS 620113 - Mantel panjang, jas hujan, car-coat, jubah bertopi,
cloak dan semacamnya untuk pria dan anak laki-laki dari serat buatan
HS 620119 - Mantel panjang, jas hujan, car-coat, jubah bertopi, cloak dan semacamnya untuk pria dan anak laki-laki dari sutra dan rami
HS 620191 - Mantel panjang, jas hujan, car-coat, jubah bertopi, cloak dan semacamnya untuk pria dan anak laki-laki dari bahan tekstil lain-lain jenis wol
HS 620192 - Mantel panjang, jas hujan, car-coat, jubah bertopi, cloak dan semacamnya untuk pria dan anak laki-laki dari bahan tekstil lain-lain jenis kapas
HS 620193 - Mantel panjang, jas hujan, car-coat, jubah bertopi, cloak dan semacamnya untuk pria dan anak laki-laki dari bahan tekstil lain-lain jenis serat buatan
15 HS 620199 - Mantel panjang, jas hujan, car-coat, jubah bertopi, cloak dan semacamnya untuk pria dan anak laki-laki dari bahan tekstil lain-lain jenis lain-lain
Secara umum, overcoat, raincoat, cloak dan anorak telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat Eropa termasuk Italia. Produk ini digunakan untuk melindungi tubuh dari suhu yang rendah, angin dan hujan pada musim semi, musim gugur dan musim dingin.
Italia merupakan negara empat musim dengan suhu rata-rata yang bervariasi dari utara ke selatan. Grafik berikut menjelaskan suhu rata-rata di tiga kota besar Italia, yaitu Milan yang mewakili Italia bagian Utara, Roma yang mewakili Italia Tengah dan Palermo di pulau Sicilia yang mewakili Italia Selatan. Italia Utara memiliki suhu yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan Italia Tengah dan Selatan.
16 Figur 4: Variasi suhu bulanan Italia tahun 2013
Sumber: Elaborasi data
Musim dingin dimulai dari minggu ketiga Desember hingga pertengahan bulan Maret. Sebagai gambaran, pada tahun 2013, suhu minimum di Italia Utara mencapai -2°C dan maksimum 5°C. Di Italia Tengah, suhu minimum mencapai 4°C dan maksimum 13°C. Italia Selatan jauh lebih hangat dengan suhu minimum rata-rata mencapai 10°C dan maksimal 15°C.
Musim semi dimulai pada pertengahan Maret hingga pertengahan bulan Juni. Suhu rata-rata musim semi di Italia secara umum adalah 17°C. Periode ini juga seringkali ditandai dengan cuaca yang tidak stabil dan terkadang hujan.
17 Musim gugur dimulai pada pertengahan bulan September hingga pertengahan bulan Desember. Suhu rata-rata musim gugur di Italia Utara, Tengah, dan Selatan berturut-turut adalah adalah 7°C, 12°C, dan 16°C. Musim gugur ditandai dengan semakin pendeknya siang dan tingginya curah hujan, terutama di Italia bagian Utara.
Potensi ekspor produk HS 6201 ke Italia tidak hanya didukung oleh faktor iklim saja yang jelas memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi terhadap kenaikan trend impor produk HS 6201 dari dunia pada periode tahun 2009-2013 sebesar 0,76%, tetapi juga oleh faktor budaya berbusana di Italia.
Fashion dianggap sebagai bagian penting dalam kultur Italia. Budaya “la
bella figura” atau memberikan kesan yang baik adalah salah satu bagian
dari tradisi masyarakat Italia, salah satunya melalui busana yang dikenakan. Orang Italia terkenal cukup memperhatikan cara mereka berpakaian dan berusaha untuk tampil baik.
Namun demikian, Euromonitor International, salah satu perusahaan Riset Pasar Eropa, menyatakan bahwa resesi ekonomi telah memberikan efek negatif terhadap penjualan pakaian jadi di Eropa. Pada kenyataannya, konsumen Italia mengurangi alokasi uang mereka untuk sektor apparel dari € 142 per bulan pada tahun 2009 menjadi € 126 per bulan pada tahun 2012. Setidaknya 76% dari konsumen rumah tangga menyatakan bahwa
18 tahun 2012 merupakan tahun di mana mereka menghabiskan paling sedikit budget untuk membeli pakaian.
Lesunya daya beli konsumen Italia tersebut diperparah oleh meningkatnya angka pengangguran yang cukup signifikan. Berdasarkan data yang diperoleh dari countryeconomy.com (Tabel 1), angka pengangguran di Italia pada tahun 2013 mencapai 12,6% atau naik sebesar 1% apaibila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka pengangguran populasi pria adalah sebesar 11,9%, lebih kecil dari angka pengangguran wanita, yaitu 13,5% pada tahun yang sama. Angka pengangguran usia <25 tahun di Italia adalah sebesar 41,7% sedangkan usia >25 tahun adalah sebesar 10,6%. Populasi pria yang tidak bekerja untuk usia di atas 25 tahun lebih kecil apabila dibandingkan dengan usia di bawah 25 tahun, yaitu 9,9% dibandingkan dengan 39,9%.
Tabel 1:Angka pengangguran di Italia
Pengangguran 2013 2012
Angka pengangguran 12,6% 11,5% Angka pengangguran pria 11,9% 10,7% Angka pengangguran wanita 13,5% 12,6% Angka pengangguran <25 tahun 41,7% 37,6% Angka pengangguran pria <25 tahun 39,9% 35,8% Angka pengangguran wanita <25 tahun 44,3% 39,0% Angka pengangguran >25 tahun 10,6% 9,5% Angka pengangguran pria >25 tahun 9,9% 8,7% Angka pengangguran wanita >25 tahun 11,4% 10,7%
19 Dampak dari resesi dirasakan oleh para produsen dan retailer Italia, dimana mereka mulai mengubah pendekatan-pendekatan dalam mendukung pemasaran produk pakaian secara optimal, diantaranya dengan membuka atau menyewa toko di fashion outlet dengan penawaran harga lebih rendah, memperpanjang periode diskon, serta memperbanyak promosi.
III. INFORMASI PASAR
3.1 Trend Produk
Industri fashion di Eropa adalah industri yang mengalami perubahan cukup pesat setiap tahunnya, dimana trend gaya, bahan, dan warna busana cenderung berganti pada setiap musim.
Disamping jenis bahan (serat buatan, katun dan wol), warna juga merupakan hal penting lainnya yang perlu diperhatikan. Di italia, trend warna busana berubah seiring bergantinya musim. Pada musim dingin, busana yang dikenakan umumnya memiliki dominasi warna gelap seperti hitam, abu-abu, dan coklat tua. Pada musim semi dan musim panas, busana yang dikenakan cenderung menggunakan warna terang dan bermotif. Sementara, busana yang dikenakan pada musim gugur cenderung berwarna coklat, oranye, kuning, merah, dan juga warna-warna netral gelap seperti hitam dan abu-abu.
20 Gambar 5: Contoh trend warna pakaian musim gugur/dingin untuk pria
21 Sumber: www.dorlydesigns.com
3.2 Segmentasi Pasar
Secara garis besar, pasar sektor apparel dibedakan menjadi enam segmen. Segmen terbawah ditandai dengan adanya produksi massal dengan kualitas produk mendasar. Semakin ke atas, kualitas barang yang diproduksi semakin baik dan jumlah item yang diproduksi pun semakin terbatas dan eksklusif. Segmentasi pasar selengkapnya dapat disimak pada Tabel 2. Berdasarkan klasifikasi tersebut, terlihat bahwa harga produk pakaian jadi berbanding lurus dengan kualitas dan ekslusifitasnya.
Tabel 2: Segmentasi pasar produk pakaian jadi di Eropa
Segmentasi Kualitas Range
harga Branding Saluran distribusi Volume Pemesanan Jumlah Toko Cabang High-end Haute Couture Kualitas unggul dengan jumlah produksi sedikit-Lebih dari 1000€ Brand-brand eksklusif dengan desainer terkenal Toko-toko desainer Kurang lebih 300 potong -
22 sedang High end Pret-a-Porter Kualitas unggul dengan jumlah produksi sedikit-sedang 120€-1000€ Brand-brand eksklusif dengan desainer terkenal Toko-toko desainer dan toko-toko independen khusus 500-1500 potong Antara 10-25 Menengah ke atas Kualitas bagus dengan jumlah produksi sedikit-sedang 100€-500€ Brand-brand dengan desainer yang tidak begitu kondang, menekankan pentingnya branding Toko-toko independen dan department store eksklusif 1500-4500 potong Antara 25-35 Menengah Kualitas bagus dengan jumlah produksi sedang 60€-200€ Brand tunggal, dan menekankan pentingnya branding Toko-toko independen, toko cabang, department store, pemesanan lewat pos 1000-10.000 potong Lebih dari 50 Menengah ke bawah Kualitas sedang dan diproduksi dalam skala sedang-besar 20-120€ Privat, sebagian dengan branding Toko-toko independen, toko cabang, department store, pemesanan lewat pos 5000-30.000 potong Lebih dari 100 Bawah Komoditas produksi masal dengan kualitas dasar 2-20 € Privat, tanpa brand Factory outlet, hypermarket 10.000-50.000, 50.000-100.000 potong Lebih dari 150 Sumber: Cbi.nl 3.3 Perilaku Konsumen
Orientasi konsumen Eropa terhadap pakaian berkaitan erat dengan budaya. Gaya berpakaian ditentukan oleh status sosial, umur, kepentingan bisnis, dan tradisi. Di negara-negara Eropa khususnya di
23 Italia, setiap konsumen memiliki kecenderungan yang berbeda-beda dari segi orientasi berbusana, preferensi kualitas dan harga. Trend fashion menjadi hal yang tersebar dengan mudah melalui media pers dan internet.
Menurut Laporan berjudul “Le Textile Habillement: la volonté de remporter
la nouvelle révolution industrielle” oleh Perotti-Reille, perilaku konsumen
Eropa untuk produk fashion diuraikan sebagai berikut:
Konsumen yang ingin berpartisipasi melalui interaksi dengan produsen, retailer dan penyedia jasa untuk mendapatkan produk, kualitas dan desain yang mereka inginkan.
Konsumen semakin terindividu, tidak lagi terbatas pada konsumsi kebutuhan dasar, tetapi lebih bersifat hedonist dan memasukkan unsur psikologis dalam mengkonsumsi.
Konsumen semakin profesional, mereka memiliki informasi tentang produk dan pasar serta mengatur pemilihan produk berdasarkan informasi tersebut.
Konsumen lebih sadar akan isu-isu sosial dan ekologis seperti isu tenaga kerja di bawah usia produktif, keberlangsungan lingkungan atau kualitas produk yang buruk, sehingga mereka tidak segan untuk memboikot brand/produsen yang melanggar etika.
24 IV. INFORMASI PERDAGANGAN
4.1 Impor Produk HS 6201 di Italia
Tabel 3: Neraca Perdagangan HS 6201 Italia dengan Dunia
Million USD Export 542.43 589.59 759.97 755.32 881.83 12.97 16.75 Import 727.95 755.87 900.06 760.37 753.82 0.76 -0.86 Trade Balance -185.52 -166.27 -140.08 -5.05 128.01 % Trend 09/13 % Change 13/12 2009 2010 2011 2012 2013
Sumber: Elaborasi data Istat
Impor HS 6201 Italia dari dunia pada tahun 2013 mengkontribusikan total nilai sebesar 753,82 juta USD atau sedikit turun -0,86% dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai 760,37 juta USD. Namun, dalam jangka
periode 5 tahun terakhir (2009-2013), masih terlihat trend positif pada impor HS 6201 Italia dari dunia sebesar 0,76%. Sejak tahun 2011, Italia
terlihat mengalami penurunan permintaan impor untuk produk HS 6201 menyusul semakin jatuhnya daya beli konsumen domestik akibat krisis.
Di pihak lain, ekspor HS 6201 ke dunia pada tahun 2013 mengalami peningkatan year-on-year sebesar 16,75%, dan bahkan menunjukkan trend kenaikan sebesar 12,97% selama periode 5 tahun terakhir (2009-2013). Kenaikan ekspor ini tidak lain dilatarbelakangi oleh semakin maraknya perusahaan manufaktur dan desain produk pakaian Italia yang diakui sebagai inovator dan trendsetter moda dunia melakukan ekspansi
25 ke pasar internasional yang saat ini dinilai jauh lebih menguntungkan dibandingkan pasar dalam negeri.
Dengan lebih besarnya nilai ekspor dibandingkan nilai impor Italia untuk produk HS 6201 dari dunia pada tahun 2013, maka untuk pertama kalinya dalam periode 5 tahun terakhir, Italia mencatat adanya surplus sebesar 128,01 juta USD pada neraca perdagangannya dengan dunia untuk produk HS 6201.
Berikut ini daftar 20 negara pemasok terbesar produk HS 6201 bagi Italia: 1. China, dengan market share sebesar 50,41%
2. Romania, dengan market share sebesar 7,93% 3. Vietnam, dengan market share sebesar 4,24% 4. Hungaria, dengan market share sebesar 3,21% 5. Belanda, dengan market share sebesar 2,96% 6. Perancis, dengan market share sebesar, 2,65% 7. Inggris, dengan market share sebesar 2,54% 8. Bulgaria, dengan market share sebesar 2,51% 9. Jerman, dengan market share sebesar 2,50% 10. Indonesia, dengan market share sebesar 2,20%
11. Belgia dengan market share sebesar 1,90% 12. Bangladesh dengan market share sebesar 1,75% 13. Moldova dengan market share sebesar 1,72% 14. Cekoslovakia dengan market share sebesar 1,52% 15. Armenia dengan market share sebesar 1,41%
26 16. Tunisia dengan market share sebesar 1,25%
17. Swiss dengan market share sebesar 0,97% 18. Turki dengan market share sebesar 0,76% 19. Denmark dengan market share sebesar 0,73% 20. Polandia dengan market share sebesar 0,73%
Figur 5: Negara-negara pemasok produk HS 6201 di Italia tahun 2013
Market Share HS 6201 tahun 2013 Cekoslovakia 1,52% Moldova 1,72% Bangladesh 1,75% Belgia 1,90% Indonesia 2,20% Jerman 2,50% Bulgaria 2,51% Inggris 2,54% Perancis 2,65% Belanda 2,96% Hungaria 3,21% Vietnam 4,24% Romania 7,93% Cina 50,41% Lainnya 6,11% Tunisia 1,25% Polandia 0,73% Denmark 0,73% Turki 0,76% Swiss 0,97% Armenia 1,41%
Sumber: Elaborasi data WTA
Indonesia merupakan negara penyuplai ke-10 terbesar bagi Italia untuk produk HS 6201 pada tahun 2013. Meski sempat mengalami fluktuasi, impor produk HS 6201 Italia dari Indonesia mencatat trend kenaikan
27 sebesar 6,47% dalam kurun waktu 2009-2013. Impor produk HS 6201 Italia dari Indonesia pada tahun 2013 mencatat peningkatan yang lebih besar, yaitu 12,92% dibandingkan dengan tahun 2012.
Dari 20 negara pemasok produk HS 6201 bagi Italia, Indonesia merupakan negara yang mencatat peningkatan ekspor year-on-year terbesar ke Italia pada tahun 2013, diikuti oleh Bangladesh sebesar 9,53%. Sementara itu, ekspor HS 6201 China dan Vietnam ke Italia malah mengalami penurunan yearonyear masingmasing sebesar 1,71% dan -8,52% di tahun 2013.
Figur 6: Fluktuasi kinerja impor HS 6201 Indonesia di Italia (2009-2013)
Dinamika Import HS 6201 dari Indonesia
(2009-2013)
12,992649 12,697991 15,992034 14,652156 16,545751 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 2009 2010 2011 2012 2013 Tahun N ila i I mp o rt (J u ta U SD )28 4.2 Analisa Pesaing
4.2.1 Pesaing Indonesia di kawasan Asia
Perusahaan-perusahaan di Eropa cenderung untuk melakukan alih produksi (outsourcing) ke negara-negara luar dengan upah pekerja yang cukup rendah guna mengurangi biaya produksi. China masih memimpin sebagai sumber utama untuk industri apparel dunia. Industri pakaian jadi berkontribusi sebesar 38% dari total ekspor industri di China. Namun demikian, upah pekerja di China semakin meningkat sehingga produksi pun perlahan-lahan dialihkan ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pada beberapa tahun terakhir, China mulai memusatkan perhatiannya pada produk tekstil yang lebih khusus, sehingga produksi produk-produk tekstil dasar dialihkan ke negara-negara Asia Tenggara. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya pemesanan mesin tekstil dari Jepang dan Jerman ke negara di kawasan Asia Tenggara.
Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam adalah pesaing utama Indonesia dengan market share hampir dua kali lipat Indonesia. Vietnam yang baru berkecimpung dalam industri TPT sejak tahun 2012 mengalami kemajuan yang cukup pesat apabila dibandingkan dengan Indonesia yang sejak tahun 1980an telah merintis industri TPT.
29 Kunci utama dari keberhasilan industri tekstil Vietnam terletak pada bisnis retailnya. Vietnam memiliki 71 supermarket tekstil/pakaian di 25 kota dan propinsi. Vietnam bahkan berencana untuk meningkatkan jumlah tersebut menjadi 200 supermarket pada tahun 2015. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Vinatex (perusahaan tekstil terbesar di Vietnam), disimpulkan bahwa keunggulan industri tekstil Vietnam antara lain:
1. Kemampuan ekspor yang tinggi dan pasar domestik yang cukup potensial
2. Tenaga kerja terampil dan murah
3. Mesin/peralatan yang telah direnovasi dan dimodernisasi serta didukung oleh instalasi pengolahan limbah yang berkualitas tinggi 4. Situasi politik yang stabil
5. Hubungan yang baik dengan buyer/importer internasional besar 6. Kredibilitasnya yang dikenal dengan produk-produk yang
berkualitas tinggi
Namun demikian, industri tekstil di Vietnam sebagian besar terdiri dari perusahaan kecil dan menengah. Selain itu, sebanyak 50% bahan baku industri tekstil Vietnam diimpor dari negara lain. Hal lain yang menghambat industri tekstil di Vietnam adalah manajemen produksi yang masih lemah dan tidak efisien serta kurangnya perhatian terhadap strategi pemasaran.
30 Pesaing di bawah Indonesia di kawasan Asia adalah Bangladesh dengan
market share sebesar 1,75%. Di pasar global, Bangladesh sudah
menempati posisi kedua setelah China sebagai eksportir produk apparel untuk merek-merek internasional. Sejarah industri tekstil di Bangladesh diawali sejak sebelum kemerdekaan Bangladesh pada tahun 1971. Sebelum kemerdekaan, sebagaian besar industri tekstil dimiliki oleh Pakistan Barat. Setelah kemerdekaan, Bangladesh memusatkan perhatian pada industrialisasi sektor tekstil dan pakaian jadi dengan orientasi ekspor. Pada 1972, terjadi nasionalisasi pabrik-pabrik tekstil di Bangladesh dan perusahaan negara sektor tekstil didirikan. Pada tahun 1982, karena pendapatan yang diterima negara tidak mencukupi, sejumlah asset industri tekstil diprivatisasi dan dikembalikan pada pemiliki awalnya. Sejak saat itu industri tekstil di Bangladesh berkembang pesat.
Di Bangladesh, saat ini sektor industri tekstil memperkerjakan sekitar 45% dari total buruh industri. Sektor ini juga menyumbang 5% dari total pendapatan nasional Bangladesh.
Mengingat industri tekstil adalah industri padat karya, upah buruh berpengaruh besar terhadap daya saingnya di pasar. Upah buruh dalam sektor industri tekstil Bangladesh termasuk yang paling rendah di dunia.
Keunggulan utama Bangladesh dibandingkan pesaing-pesaingnya adalah upah tenaga kerja yang rendah, yaitu sekitar 0,22 USD per jam (Table 4).
31 Selain itu, pemerintah Bangladesh juga melakukan investasi dengan mendirikan universitas-universitas yang fokus pada penelitian di bidang tekstil.
Tabel 4: Upah Buruh Industri Tekstil Beberapa Negara di Dunia
Sumber: ILO Report 2011 dan NCM April 2013
4.2.2 Pesaing Global Indonesia
Pesaing global Indonesia untuk produk TPT adalah Jerman. Industri TPT memiliki tradisi yang cukup panjang di Jerman dan hingga kini masih menjadi satu dari sepuluh sektor industri utama di Jerman.
Industri tekstil dan produk tekstil merupakan salah satu industri paling tua di Jerman. Beberapa mesin penting dalam produksi tekstil ditemukan di
32 Jerman sejak pertengahan abad ke-19. Adanya penemuan mesin-mesin industri tekstil tersebut membawa perubahan dalam skala produksi industri di Jerman, terutama yang menyangkut organisasi kerja, cara kerja, dan kualifikasi buruh. Setelah masa Perang Dunia Kedua, industri tekstil Jerman mengalami booming karena adanya permintaan yang tinggi akan produk tekstil dan pakaian jadi dalam negeri yang tidak bisa dipenuhi karena adanya masalah finansial. Membanjirnya pelarian dari Jerman Timur juga menyebabkan diperlukannya kualifikasi pekerja dan semangat kewiraswastaan industri tekstil di Jerman Barat.
Adanya persaingan yang ketat menyebabkan pengusaha berlomba-lomba untuk meningkatkan efisiensi produksinya. Hal ini berimbas pada meningkatnya mekanisasi yang pada akhirnya menyebabkan berkurangnya tenaga kerja sektor industri tekstil terutama pada tahun 1980an hingga pertengahan tahun 1990an. Tuntutan akan tingginya efisiensi dan biaya produksi memaksa perusahaan-perusahaan tekstil menutup situs produksi mereka di Jerman dan mengalihkan beberapa bagian produksinya keluar Jerman dimana upah buruh tergolong lebih rendah. Pada awalnya Jerman mengalihkan produksinya di negara-negara bekas blok Timur seperti Republik Cekoslovakia dan Hungaria. Jerman juga melakukan outsourcing ke negara-negara di Asia seperti China, India, dan Indonesia. Saat ini, 95% pakaian jadi yang dijual di Jerman diproduksi di luar Jerman. Jerman juga masih unggul dalam hal teknologi permesinan dan inovasi tekstil.
33 Perubahan besar kedua dalam industri tekstil dan pakaian jadi di Jerman terjadi pada pertengahan tahun 1990an dengan adanya faktor globalisasi. Globalisasi berarti reorganisasi perusahaan dan rantai produksi di dalam Jerman sendiri. Pada saat itu teknologi komunikasi dan informasi mulai memegang peranan penting. Sebagai hasilnya, sektor-sektor dalam
supply chain industri tekstil dan pakaian jadi seperti logistik, pemasaran,
dan desain mulai ditempati oleh orang-orang dengan kemampuan khusus pada bidang-bidang tersebut. Strategi ini dikenal sebagai vertical
integration value chain. Integrasi vertikal berarti perusahaan mengkoordinasi secara mandiri rantai suplainya mulai dari produksi hingga penjualan.
Relatif lebih dekatnya jarak antar sesama negara anggota Uni Eropa merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan besarnya impor produk HS 6201 Italia dari sejumlah negara di kawasan Uni Eropa yang mampu menawarkan biaya produksi yang lebih rendah, antara lain:
Hungaria, dengan trend kenaikan sebesar 17.89% Bulgaria, dengan trend kenaikan sebesar 7.11% Moldova, dengan trend kenaikan sebesar 11.35% Cekoslovakia, dengan trend kenaikan sebesar 11.9% Polandia, dengan trend kenaikan sebesar 17.25%
34 4.3 Analisis Peluang Industri TPT Indonesia
4.3.1 Kekuatan dan Kelemahan Industri TPT Indonesia
Kekuatan
Upah tenaga kerja industri tekstil di Indonesia yang relatif rendah sehingga dapat bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya. Bangladesh masih memimpin dalam hal upah tenaga kerja yang rendah, dengan upah per jam sebesar 0,22 USD. Standar upah tenaga kerja industri tekstil Vietnam dan Indonesia tidak jauh berbeda, yaitu 0,38 USD per jam untuk Vietnam dan 0,44 USD per jam untuk Indonesia. Sementara itu, di China upah minimum tenaga kerja industri tekstil adalah sebesar 0,55 USD per jam. Dari segi upah tenaga kerja, Indonesia masih mampu bersaing dengan negara-negara Asia lainnya sehingga memiliki comparative
advantage sebagai tujuan outsourcing bagi perusahaan-perusahaan Eropa.
Jumlah penduduk yang tinggi memungkinkan berkembangnya industri tekstil di Indonesia mengingat sektor industri ini membutuhkan banyak tenaga kerja (padat karya).
Kondisi politik yang relatif stabil di Indonesia memberikan iklim berinvestasi yang kondusif bagi investor-investor asing.
Kelemahan
Kelemahan sektor industri TPT di Indonesia berasal dari beberapa tekanan dalam negeri.
35 Birokrasi dalam negeri
Regulasi yang belum memihak industri kecil, seperti Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 253 Tahun 2011 yang menetapkan tambahan pajak ekspor untuk tekstil. Sementara itu, ada kemudahan bagi proses impor tekstil di Indonesia sehingga hal ini dapat menjadi hambatan bagi pengembangan industri tekstil di Indonesia. Pasar domestik di Indonesia dikuasai oleh produk impor sebesar 60%.
Infrastruktur yang kurang memadai baik jalan maupun fasilitas pelabuhan untuk transportasi dan distribusi sehingga berpotensi mengakibatkan biaya ekonomi tinggi.
Adanya kenaikan suku bank yang menyebabkan pinjaman modal menjadi mahal. Kenaikan tarif dasar listrik sebesar 39% pada tahun 2014 akan mempengaruhi biaya produksi yang semakin tinggi. Mesin industri yang tua dan membutuhkan revitalisasi dan
restrukturisasi mesin. Hingga saat ini masih banyak peralatan industri yang sudah tua (lebih dari 20 tahun). Diperlukan mesin-mesin baru yang lebih efisien serta mampu meningkatkan kapasitas produksi.
36 4.3.2 Regulasi Import
Standar Kualitas dan Persyaratan Sertifikasi
Persyaratan bagi pembeli secara umum dari Eropa dapat dibedakan menjadi tiga jenis:
1. Persyaratan-persyaratan wajib, yaitu yang harus dipenuhi untuk memasuki pasar Eropa seperti misalnya ketentuan hukum.
2. Persyaratan-persyaratan umum, yaitu yang harus dipenuhi untuk diikuti untuk memenuhi persyaratan pasar.
3. Persyaratan-persyaratan pasar niche untuk segmen-segmen tertentu.
Persyaratan-persyaratan wajib
Berikut ini adalah persyaratan-persyaratan yang wajib dipenuhi eksporter ketika memasarkan produk di Uni Eropa.
1. Keamanan produk (The General Product Safety Directive) – berlaku untuk semua produk.
Ketentuan umum keamanan produk pada dasarnya menetapkan bahwa semua produk yang akan dipasarkan ke Uni Eropa harus aman untuk digunakan. Apabila tidak terdapat ketentutan-ketentuan legal khusus untuk produk yang akan dipasarkan, ketentuan umum untuk keamanan produk juga berlaku sebagai tambahan, meliputi semua aspek keselamatan yang mungkin belum dibahas seluruhnya secara spesifik. Peraturan ini menjelaskan beberapa persyaratan keamanan umum yang berlaku bagi seluruh produk
37 konsumen yang dijual di dalam pasar Uni Eropa, terlepas dari kondisi yang telah dipakai, baik yang baru maupun yang telah diperbaiki, selama produk tersebut tidak dijual sebagai barang antik, atau harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum digunakan. Atas dasar Directive tersebut, produk tekstil yang tidak aman (berbahaya) akan ditolak dari pasar Uni Eropa (http://inatrims.kemendag.go.id/id)
2. Zat-zat kimia – khusus untuk produk-produk tekstil, kulit, dan aksesoris – REACH
REACH adalah legislasi EU yang berhubungan dengan penggunaan zat-zat kimia. Legislasi ini berlaku wajib di EU sejak Juni 2007. REACH menetapkan sistem multiphase untuk zat-zat kimia yang ada maupun yang baru beserta ketentuan-ketentuannya bagi produsen-produsen di EU dan importir.
3. Regulasi (EU) No. 1007/2011 dari Parlemen dan Dewan Eropa tertanggal 27 September 2011 mengenai nama serat tekstil dan pelabelan serta penandaan komposisi serat pada produk tekstil. Regulasi ini mengatur pelabelan dan penandaan (marking) yang terpadu untuk produk tekstil serta metode analisis yang akan diterapkan untuk verifikasi informasi yang tercantum di label dan tanda tersebut. Peraturan ini berlaku untuk produk tekstil yang mengandung paling sedikit 80% serat tekstil dari beratnya, termasuk produk mentah, produk setengah diolah atau yang telah diolah, produk semi manufaktur atau manufaktur, produk setengah
38 jadi atau produk jadi, serta produk yang diperlakukan sama dengan produk tekstil, kecuali produk yang dikontrakkan kepada pekerja rumahan, produk yang dibuat di perusahaan independen tanpa pemindahan barang, serta produk tekstil yang dibuat oleh penjahit
outsourcing. (http://inatrims.kemendag.go.id/id)
4. Directive1999/34/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa tertanggal 10 Mei 1999 yang mengamandemen Council Directive 85/374/EEC mengenai pendekatan hukum, peraturan dan ketetapan administratif pada negara anggota terkait dengan tanggung jawab terhadap produk cacat (http://inatrims.kemendag.go.id/id)
5. Directive 99/44/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa tertanggal 25 Mei 1999 mengenai aspek tertentu pada penjualan barang-barang konsumen dan jaminan-jaminannya berlaku terhadap kontrak untuk persediaan barang konsumen yang akan diproduksi. Menurut Directive tersebut, penjual bertanggung jawab kepada konsumen atas segala ketidaksesuaian pada produk dalam jangka waktu dua tahun setelah produk tersebut dikirim. Negara Anggota dapat memberlakukan peraturan lebih tegas untuk menjamin tingkat
perlindungan konsumen yang lebih tinggi
(http://inatrims.kemendag.go.id/id).
6. Directive 2005/29/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa tertanggal 11 Mei 2005 mengenai praktik komersial yang tidak adil antara pelaku bisnis terhadap konsumen dalam pasar Uni Eropa, dan mengamandemen Council Directive 84/450/EEC, Directives
39 97/7/EC, 98/27/EC dan 2002/65/EC dari Parlemen dan Dewan Eropa serta Regulation (EC) No. 2006/2004 dari Parlemen dan Dewan Eropa (“Unfair Commercial Practices Directive”) bertujuan untuk memastikan kelancaran aktivitas pasar internal Uni Eropa, karena peraturan tersebut bermanfaat bagi konsumen dengan melindungi mereka dari praktik komersial yang tidak adil (http://inatrims.kemendag.go.id/id).
Persyaratan-Persyaratan Sukarela
Standar sukarela ditetapkan dan didukung oleh industri atau sektor terkait (dibandingkan dengan perundang-undangan wajib dalam bentuk peraturan teknis yang diberlakukan untuk tujuan keselamatan dan kesehatan lingkungan hidup serta perlindungan konsumen). (http://inatrims.kemendag.go.id/id).
Persyaratan-persyaratan untuk tekstil dan produk tekstil di antaranya adalah sebagai berikut:
CEN/TC 248 –Tekstil dan produk tekstil
EN ISO 12945-1:2000: Determination of fabric propensity to surface fuzzing and to pilling - Part 1: Pilling box method (ISO 12945-1:2000).
EN 1773:1996 - Textiles. Fabrics. Determination of width and
40 EN 1102:1995 - Textiles and textile products. Burning behaviour.
Curtains and drapes. Detailed procedure to determine the flame spread of vertically oriented specimens.
EN ISO 105-E10:1996 – Textiles. Tests for colour fastness. Part
E10: Colour fastness to decatizing.
EN ISO 105-E03:2010 – Textiles. Tests for colour fastness. Part
E03: Colour fastness to chlorinated water (swimming-pool water).
EN 14971:2006 - Textiles. Knitted fabrics. Determination of number
of stitches per unit of length and unit area.
EN ISO 105-Z10:1999 - Textiles. Tests for colour fastness.
Determination of relative colour strength of dyes in solution.
EN ISO 139:2005/A1:2011 - Textiles. Standard atmospheres for
conditioning and testing.
EN 14621:2005 - Textiles. Multifilament yarns. Methods of test for
textured or non-textured filament yarns.
EN ISO 30023:2012 – Textiles. Qualification symbols for labelling
workwear to be industrially laundered.
Pemberian label – ketentuan khusus untuk produk tekstil Gambar 6: Simbol standar perawatan tekstil
41 Untuk produk-produk pakaian jadi yang dipasarkan di Italia, informasi yang tertera pada label harus ditulis dalam bahasa Italia. Label tersebut harus mencantumkan trademark/style produsen, manufaktur, importir, atau retailer dan jenis serat yang digunakan berdasarkan komposisi secara berurutan.
Informasi selengkapnya tentang label dapat diperoleh dengan menghubungi institusi berikut ini:
Sistema Moda Italia
Federazione Tessile Moda Milan, Italy
tel: +39 02-641191
email: [email protected]
Untuk produk-produk outerwear/sportswear pria seperti mantel atau
overcoat, standard ukuran yang dipakai di Italia adalah sebagai berikut: Tabel 5: Standar Ukuran di Italia
USA ITALY SMALL 34 44 MEDIUM 36 46 MEDIUM 38 48 LARGE 40 50 EXTRA LARGE 42 52 EXTRA LARGE 44 54 EXTRA LARGE 46 56 EXTRA LARGE 48 58 EXTRA LARGE 50 60
42 4.4 Saluran Distribusi
Berikut ini diuraikan distribusi produk pakaian jadi di Eropa.
Gambar 7: Saluran Distribusi Produk Pakaian jadi di Eropa secara Umum
Sumber: Cbi.nl
Saluran distribusi untuk produk pakaian di Eropa dikelompokkan menjadi lima jalur sebagai berikut:
1. Jalur langsung, yaitu produsen menjual produknya secara langsung ke konsumen atau pengguna akhir, misalnya perusahaan-perusahaan yang melakukan penjualan via pos.
2. Jalur Retailer, yaitu produsen menjual barang ke retailer lalu retailer menjualnya ke konsumen.
43 3. Jalur Grosir/Penjual Skala Besar, yaitu ketika produsen menjual produk ke retailer, dan retailer menjual produk tersebut ke konsumen.
4. Jalur agen/broker, saluran distribusi ini biasanya digunakan untuk produk-produk yang diimpor dari negara-negara berkembang. Eksportir dari negara berkembang akan menjual produk ke agen, kemudian barang akan dijual ke penjual skala besar atau grosir, dan dilanjutkan ke retailer, lalu dari retailer ke konsumen akhir atau pengguna akhir.
5. Multi Jalur, yaitu apabila lebih dari satu saluran distribusi digunakan untuk memasarkan produk untuk konsumen yang bervariasi.
Deskripsi singkat mengenai pelaku pasar dalam saluran distribusi produk pakaian dijabarkan sebagai berikut:
1. Agen/Broker
Merupakan perantara independen yang posisinya di antara pembeli dan penjual dan bernegosiasi untuk klien mereka. Komisi yang diperoleh agen atau broker adalah berdasarkan volume penjualan. Konsumen agen atau broker di antaranya termasuk grosir dan retailer. Agen dibagi menjadi dua jenis, yaitu agen pembeli dan agen penjual. Agen pembeli berlokasi di negara-negara pemasok dan biasanya merupakan perpanjangan tangan pembeli. Agen penjual sebaliknya biasanya berbasis di Eropa. Agen penjual
44 mempromosikan produk-produk dari berbagai produsen asing melalui impor.
2. Importir/Grosir/Distributor
Importir dan grosir menjual produk kepada retailer di negara mereka masing-masing. Importir dan grosir bertanggung jawab penuh terhadap produk yang dibeli sehingga mereka lebih banyak berurusan dengan prosedur impor.
Distributor merupakan perantara yang membeli produk dari produsen, mengatur alur produk, dan menyediakan pelayanan marketing.
3. Produsen Eropa
Merupakan perusahaan-perusahaan yang berbasis di Eropa yang menghasilkan produk-produk pakaian dari awal, yaitu dari bahan baku sampai produk akhir. Produsen dapat membuat desain mereka sendiri atau melalui retailer subkontraktor.
4. Retailer
Merupakan pihak yang melakukan pemasaran produk sampai kepada konsumen akhir.
5. Designer Shop/Gerai Desainer
Aktivitas designer shop adalah menjual merek desainer tunggal di banyak cabang.
6. Toko Independen
Merupakan retailer independen yang mewakili kualitas dan harga yang bervariasi tergantung spesialisasi mereka.
45 7. Toko Cabang Brand Tertentu
Toko-toko ini merupakan cabang-cabang yang khusus menjual produk-produk dengan brand tertentu yang dikontrak oleh produsen, biasanya di bawah brand privat. Toko-toko semacam ini mengadopsi sistem yang terintegrasi baik secara vertikal. Karena melakukan penjualan dalam jumlah besar dan tidak mengikutsertakan campur tangan agen, maka rantai produksi yang diperlukan dari desain hingga sampai di toko memiliki waktu yang cukup pendek, yaitu sekitar tiga bulan. Kelebihan dari sistem ini adalah kemudahan dalam meningkatkan transparansi rantai suplai serta biaya yang lebih rendah.
Contoh perusahaan-perusahaan yang menggunakan saluran distribusi ini adalah perusahaan-perusahaan fast fashion asal Eropa seperti H&M, C&A, dan Zara.
8. Departement Store
Departement Store biasanya menjual pakaian sebagai bagian dari varian produk mereka. Departement Store biasanya memiliki koleksi dengan brand mereka sendiri atau koleksi brand-brand privat. La Rinascente dari Italia, misalnya berkolaborasi dengan produsen yang dikontrak sendiri atau oleh sub kontraktornya. 9. Hypermarket dan Supermarket
Hypermarket dan supermarket, misalnya Carrefour atau Auchan biasanya menawarkan varian produk-produk tertentu dengan kualitas standar.
46 10. Factory Outlet
Merupakan toko-toko retail yang menjual produk-produk yang biasanya sudah lewat masa trendnya atau sisa produk yang tidak terjual di toko utama.
11. Pemesanan via pos
Retailer-retailer yang memasarkan produk mereka melalui katalog yang dikirim. Pemesanan barang dilakukan melalui formulir pemesanan atau lewat telepon.
12. Webshop
Adalah toko-toko virtual yang melakukan penjualan online via internet. Calon pembeli dapat memperoleh informasi harga, kualitas, dan keunggulan setiap produk, memilih dan melakukan pembayaran online secara aman. Barang kemudian dikirim melalui pos ke rumah pembeli.
13. Pasar
Adalah pasar umum dengan stand-stand tunggal yang menjual berbagai jenis barang. Biasanya pasar-pasar ini digelar outdoor di hari-hari tertentu setiap minggu. Berdasarkan hasil survey salah satu saluran distribusi yang menganut sistem ini adalah pasar Lagosta di Milan.
47 V. STRATEGI
Pasar retail Eropa untuk bahan pakaian saat ini mendapat tekanan yang cukup berat. Berkurangnya profit disebabkan oleh resesi ekonomi dan jatuhnya kepercayaan konsumen. Berdasarkan permintaan konsumen, koleksi pakaian akan berganti lebih cepat dan retailer diharapkan mampu memenuhi kualitas bahan pakaian dengan harga yang setara, sehingga memberikan pengalaman berbelanja yang memuaskan dan memenuhi permintaan pasar.
Persaingan di kalangan para retailer Eropa cukup ketat, khususnya untuk segmen menengah dikarenakan adanya kejenuhan pasar. Berbagai jenis saluran distribusi diperkirakan akan berkembang untuk memenuhi permintaan belanja konsumen akhir, terutama untuk pakaian-pakaian yang tailored.
Sebagian besar koleksi dan item produk pakaian didatangkan dari Asia termasuk Indonesia, namun retailer-retailer Eropa juga terus mencari alternatif pemasok dari negara-negara lain yang lebih kompetitif.
Bagi para retailer di Eropa, ada beberapa hal penting yang diperkirakan mampu memberikan nilai tambah untuk produk-produk pakaian dari negara-negara pemasok, antara lain:
1. Manufaktur dengan mengutamakan konsep Corporate Social
48 2. Produk ekologis, organik, atau teknis dan pengurangan Carbon
footprint. Industri pakaian Italia saat ini berkembang ke arah
keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability). Saat ini mulai bermunculan brand-brand yang merangkul konsumen dalam hal lingkungan, menggunakan materi yang bersahabat dengan lingkungan, dan menggalakkan daur ulang.
3. Kesempatan bagi eksportir-ekspotir dari negara berkembang termasuk Indonesia datang dari layanan yang diberikan kepada retailer-retailer Eropa, yaitu memberikan kontribusi dalam membantu pemenuhan selera konsumen. Segmen menengah ke atas merupakan segmen yang cukup menantang dari segi saluran distribusi bagi eksportir-eksportir di negara-negara berkembang. 4. Karena outsourcing masih akan menjadi trend produksi, maka para
supplier perlu membangun hubungan baik dengan pembeli dan menjamin transparansi dalam proses distribusi produk.
5. Produksi dan rantai suplai diharapkan mampu memenuhi standar kualitas Eropa sehingga hal ini dapat menjadi salah satu titik kekuatan dalam melakukan marketing.
6. Memperluas Saluran Distribusi
Menurut analisa Euromonitor, beberapa perubahan terjadi setelah adanya krisis ekonomi. Retailer independen kehilangan volume dan hasil penjualan. Pada tahun 2012, share untuk produk pakaian yang didistribusikan melalui departemen store dan mass
49 cabang di Italia meningkat karena adanya kenaikan jumlah cabang retail di seluruh Italia. Brand dan aksesibilitas menjadi lebih penting peranannya.
Dengan demikian, jalur distribusi alternatif yang dapat diambil untuk sektor apparel adalah sebagai berikut:
a. Penjualan langsung ke konsumen melalui website.
Diperkirakan pada tahun-tahun mendatang jumlah pembelian secara online akan terus meningkat. Online store juga dapat digunakan sebagai media untuk memberikan penawaran koleksi-koleksi khusus, misalnya produk-produk yang bersifat fair trade dan berkelanjutan.
b. Penggunaan media sosial dan media fashion sebagai sarana untuk mempromosikan perusahaan atau produk. c. Penjualan langsung ke agen-agen atau perusahaan yang
mengorganisir pengalaman berbelanja alternatif.
50 7. Unicredit dalam laporan analisa pasarnya mengamati semakin pentingnya organisasi distribusi, terutama untuk brand tunggal yang tergabung dalam perusahaan komersial dan kelompok industri yang terintegrasi secara vertikal. Dengan saluran distribusi seperti itu, diperlukan peningkatan kualitas pelayanan bagi pengimpor seperti:
a. Menyediakan customer service yang memadai dengan respon dan tindakan yang segera apabila ada masalah. b. Menyediakan update bahan dan koleksi musim terkini.
c. Menyesuaikan penggunaan garmen dengan trend terbaru, termasuk warna yang dikaitkan dengan musim-musim di mana jaket dan mantel banyak digunakan. Menurut analisa youreporternews.it, trend fashion untuk pria masih akan mengarah kepada konsep casual, chic dan sedikit sentuhan klasik.
Sementara itu, trend bahan garmen cenderung berfokus pada penggunaan bahan waterproof, transpiran, dan elegan.
51 Sumber: www.cbi.nl
8. Berpartisipasi dalam pameran bahan di Eropa dan pameran-pameran fashion pria, seperti Milano Unica di Milan, Milano Moda Uomo Fashion Show di Milan dan Pitti Immagine Uomo di Florence. Hal ini dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang bahan-bahan yang sedang populer untuk pakaian outwear.
52 VI. INFORMASI PENTING
6.1 Kedutaan Italia di Indonesia Jalan Diponegoro no. 45 Menteng
10310 Jakarta - INDONESIA Tel: (+62-21) 31937445 Fax: (+62-21) 31937422
E-mail: [email protected]
6.2 Trade Promotion Office Italia di Indonesia Italian Trade Commission (ICE Jakarta)
Trade Promotion Section of the Italian Embassy BRI II, 29TH FLOOR, Suite 2902
Jl. Jend. Sudirman KAV. 44-46 10210 Jakarta - INDONESIA Tel: (0062) 215713560 Fax: (0062) 215713561 E-mail: [email protected]
6.3 Asosiasi Dagang Italia di Indonesia
Italian Business Association Indonesia (IBAI) Wisma BRI II, 15th Floor, Suite 1501
Jend. Sudirman No. 44-46 Jakarta 10210 Indonesia Tel. +62 (21) 571-3540
Fax +62 (21) 571-9013
Email: [email protected]
Contact person : Dr. Luigi Carlo Gastel, President
6.4 Kantor Promosi Perdagangan Indonesia di Italia Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Milan Via Vittor Pisani, 8 - 6° Piano
20124 Milano (MI) - Italia Tel. +39 02 3659 8182
53 Fax. +39 02 3659 8191
Email: [email protected]
6.5 Perwakilan Indonesia di Italia
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma Via Campania 53-55
00187 Roma, Italia Tel: +39064200911
Fax:+39064880280 / +390648904910 Website: www.embassyofindonesia.it
6.6 Asosiasi Produk Tekstil di Italia Sistema Moda Italia
Federasi Italia yang mewakili sektor tekstil dan industri fashion di Italia.
Website: http://www.sistemamodaitalia.com
Milan head office
Viale Sarca 223, 20126 Milano
Tel +39 02 64119001 Fax +39 02 66103667/70 E-mail: [email protected]
Associazione Tessile Italiana (A.T.I.) Website: http://www.asstex.it
Sede centrale vle Sarca 223 20126 MILANO MI
Tel. 02 66103404
6.7 Daftar Pameran Produk Tekstil (HS 6201) di Italia
Milano Unica (Salone Italiano del Tessile) – www.milanounica.it –
diselenggarakan dua kali dalam setahun, yaitu bulan Februari dan September di Milan, Italia.
Milano Moda Uomo (Fashion Show) – www.milanomodauomo.it –
dilaksanakan dua kali dalam setahun, yaitu bulan Januari dan Juni di Milan, Italia.
54 Pitti Immagine Uomo – www.pittimmagine.com – diselenggarakan
setiap bulan Januari di Florence, Italia.
6.8 Daftar Importir Produk Tekstil di Italia Auchan S.p.a
Bisnis utama : Departemen store Website : www.auchan.it
Alamat : Strada 8 Palazo N., 20089 Rozzano, Milano Fiori, MI
Telp/fax : 02 57581/02 57583189 Email :[email protected],
COMEI – Compagnia Mercantile Internazionale SRL
Bisnis utama : Pakaian dan trading – eksport dan import Website : www.comei.com
Alamat : Via I. Pogliaghi, 5 20146 Milano MI Telp/fax : 02 4241481/0248958335
Email : [email protected]
Gruppo Coin Spa
Bisnis utama : Garmen, aksesoris, retailer perlengkapan rumah – ekspor dan impor
Website : www.gruppocoin.it
Alamat : Via Terraglio, 17 30174 Mestre VE Telp/fax : 0412398267/041940102
55 Bisnis utama : Import dan distribusi pakaian anak-anak
Alamat : Via Damiano Chiesta 37, 20026 Novate Milanese MI
Telp/fax : 02 3545651 – 3546551/02 39100445 Email : [email protected]
Onward Luxury group Spa
Bisnis utama : Produksi dan distribusi garmen fashion pria dan wanita
Website : www.jilsander.com
Alamat : Foro Buonaparte 71, 20121 Milano MI Telp/Fax : 02 8069131/ 02 72001877
Pam Panorma Spa
Bisnis utama : GDO – importer dan buyer Website : www.gruppopam.it
Alamat legal : Via San Marco 5278, 30124 Venezia VE Alamat operasional: Via delle Industrie 8, 30038 Spinea VE Telp/Fax : 0415495486 / 0415495810
SIMAR di Bigoni Edoardo Ciro & C. SAS Bisnis utama : Importer dan Eksporter Website : www.simar-tex.com
Alamat legal & Operasional : Via C. Battisti 22, 24062 Costa Volpino BG
Email : [email protected]
56 Daftar Pustaka
Dan, Tekstil et al. “No Title.” (2008): n. pag. Print.
“Ini tiga hambatan industri TPT 2014”, Akhmad Nur Huda (Selasa, 7 Januari 2014 − 16:59 WIB) ekbis.sindonews.com
http://www.youreporternews.it/2014/pitti-uomo-mercato-italia-langue-la-moda-guarda-allestero/
Analysis of Indonesia Textile Industry Competitiveness in Regulation Theory Perspective By: Nur Efendi
Project, Leonardo-da-vinci. “The Situation of the Textile and Clothing Industry in Germany.” n. pag. Print.
“Italian Fashion - Wikipedia, the Free Encyclopedia.” n. pag. Print. “Apparel in Italy.” n. pag. Print.
“Apparel Sector Lags in Winter-Wear Exports _ Business Standard.” n. pag. Print.
http://texsture.com/consumer-behaviour-the-3cs-countries-culture-customers/