2.3 AKTA OTENTIK
2.3.2 Kekuatan Hukum Akta Otentik
Pada dasarnya, suatu akta otentik maupun akta di bawah tangan dibuat dengan tujuan untuk dipergunakan sebagai alat bukti. Suatu alat bukti baru akan dirasakan mempunyai arti yang sangat penting apabila terjadi perselisihan.
Perselisihan yang tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan oleh para pihak dapat berlanjut dengan pengajuan gugatan ke pengadilan. Dalam proses beracara di pengadilan para pihak akan berusaha untuk menyakinkan hakim bahwa suatu peristiwa benar telah terjadi. Kebenaran peristiwa ini hanya dapat diperoleh dengan pembuktian. Untuk dapat menjatuhkan putusan yang adil maka hakim harus mengenal peristiwanya yang telah dibuktikan kebenarannya.91 Pada umumnya, sepanjang undang-undang tidak mengatur sebaliknya, hakim bebas untuk menilai pembuktian. Apabila alat bukti oleh hakim dinilai cukup memberi kepastian tentang peristiwa yang disengketakan untuk mengabulkan akibat hukum yang dituntut oleh penggugat, kecuali kalau ada bukti lawan, maka bukti itu dinilai sebagai bukti lengkap atau sempurna.92
Pasal 1870 KUHPerdata menyebutkan bahwa :
“Suatu akta otentik memberikan diantara para pihak beserta ahli waris-ahli warisnya atau orang-orang yang mendapatkan hak dari mereka, suatu bukti yang sempurna tentang apa yang dimuat didalamnya.”93
90 Sudikno Mertokusumo, op. cit., hal. 36-37.
91 Ibid., hal. 106.
92 Ibid, hal 113.
93 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek), op. cit., Ps. 1870.
Universitas Indonesia
Berdasarkan Pasal 1870 KUHPerdata tersebut, nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada akta otentik adalah sempurna (volledig) dan mengikat (bindende)94 Maksud dari suatu akta otentik mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat adalah suatu akta otentik tidak memerlukan alat bukti lain atau suatu penambahan pembuktian dan apa yang ditulis dalam akta harus dianggap sebagai benar selama ketidakbenarannya tidak dibuktikan.95
Apabila suatu akta otentik terpenuhi syarat formil dan materiilnya, maka pada dirinya langsung mencukupi batas minimal pembuktian tanpa bantuan alat bukti lain. Selain itu, akta otentik tersebut langsung sah sebagai alat bukti. Pada dirinya juga langsung melekat nilai kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat. Maka hakim dalam hal ini wajib menganggap akta otentik tersebut benar dan sempurna, serta harus menganggap apa yang didalilkan atau dikemukakan cukup terbukti. Selain itu, hakim juga terikat atas kebenaran yang dibuktikan oleh akta otentik tersebut, sehingga harus dijadikan dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan terhadap penyelesaian sengketa.96
G.H.S. Lumban Tobing, SH, menyebutkan bahwa mengikuti pendapat umum kekuatan pembuktian akta dapat dibedakan menjadi tiga aspek, yaitu :97
1. Kekuatan Pembuktian Lahiriah (Uitwendige Bewijskracht)
Dengan kekuatan pembuktian lahiriah ini dimaksudkan kemampuan dari akta itu sendiri untuk membuktikan dirinya sebagai akta otentik.
Kemampuan ini menurut Pasal 1875 KUHPerdata tidak dapat diberikan kepada akta yang dibuat di bawah tangan.
Dalam hal ini, Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, SH., berpendapat bahwa surat yang tampaknya (dari lahir) seperti akta, dianggap (mempunyai kekuatan) seperti akta sepanjang tidak terbukti sebaliknya. Sebagai asas berlaku cicta publica probant sese ipsa, yang berarti bahwa suatu akta
94 M. Yahya Harahap, op. cit., hal. 545.
95 R. Subekti, op. cit., hal. 27.
96 M. Yahya Harahap, op. cit., hal. 583-584.
97 G.H.S. Lumban Tobing, op. cit., hal. 47-51.
yang lahirnya tampak seperti akta otentik serta memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan maka akta itu berlaku atau dapat dianggap sebagai akta otentik sampai terbukti sebaliknya.98
Dengan kata lain, apabila suatu akta dilihat dari luarnya merupakan akta otentik karena telah memenuhi persyaratan perundang-undangan sebagai akta otentik, maka akta tersebut berlaku sebagai akta otentik sampai dapat dibuktikan sebaliknya.
2. Kekuatan Pembuktian Formil (Formele Bewijskracht)
Kekuatan pembuktian formil ini didasarkan atas benar tidaknya ada pernyataan oleh yang bertandatangan di bawah akta itu. Kekuatan pembuktian formil ini memberi kepastian tentang peristiwa bahwa pejabat dan para pihak menyatakan dan melakukan apa yang dimuat dalam ak ta."
Dalam arti formil, sepanjang mengenai akta pejabat (ambtelijke akie), akta itu membuktikan kebenaran dari apa yang disaksikan, yakni dilihat, didengar dan juga dilakukan sendiri oleh notaris sebagai pejabat umum di dalam menjalankan jabatannya.100
Jika aspek formil yang dipermasalahkan, maka harus dibuktikan formalitas dari akta tersebut, yaitu antara lain harus dapat membuktikan ketidakbenaran hari, tanggal, bulan, tahun dan pukul menghadap, ketidakbenaran identitas yang menghadap, ketidakbenaran apa yang dilihat, disaksikan dan didengar oleh pejabat yang membuat akta, ketidakbenaran tandatangan serta membuktikan bahwa prosedur pembuatan akta tidak dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan.
3. Kekuatan Pembuktian Materiil (Materiele Bewijskracht)
Kekuatan pembuktian materiil memberi kepastian tentang materi suatu akta, memberi kepastian tentang peristiwa bahwa pejabat atau para pihak menyatakan dan melakukan seperti yang dimuat dalam akta.101 Kepastian
98 Sudikno Mertokusumo, op. cit., hal. 130-131.
99 Ibid., hal. 130.
100 G.H.S. Lumban Tobing, op. cit., hal. 49.
101 Sudikno Mertokusumo, op. cit., hal. 130.
Universitas Indonesia
tentang materi suatu akta adalah sangat penting, bahwa apa yang tersebut dalam akta merupakan pembuktian yang sah terhadap pihak-pihak yang membuat akta atau mereka yang mendapat hak dan berlaku untuk umum.102
Ketiga aspek tersebut di atas merupakan kekuatan pembuktian sempurna yang terdapat pada akta otentik. Apabila suatu akta otentik dapat dibuktikan tidak memenuhi aspek-aspek tersebut di atas, maka akta itu hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan.
Kekuatan pembuktian sempurna dan mengikat yang terdapat pada akta otentik merupakan perpaduan dari beberapa kekuatan yang terdapat padanya.
Akta tersebut dikatakan memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna apabila akta tersebut mempunyai kekuatan pembuktian lahir, formil dan materil, serta memenuhi syarat otentisitas sebagaimana dipersyaratkan dalam peraturan perundang-undangan. Apabila salah satu kekuatan itu cacat mengakibatkan akta otentik tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang sempurna (yolledig) dan mengikat (<bindende), melainkan hanya mempunyai nilai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan.