• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Aspek-aspek Kecerdasan Moral

2. Kekuatan moral (power)

Magnis Suseno (1987:141) mendefinisikan kekuatan moral (power) sebagai kekuatan kepribadian seseorang yang mantap dalam kesanggupannya untuk bertindak sesuai dengan apa yang diyakininya sebagai hal yang benar. Suara hati yang menjadi inti kecerdasan moral, membutuhkan aspek “power” agar seseorang mampu mengambil keputusan dan kuat untuk melaksanakannya (Kieser, 1987: 143).

Menurut Magnis Suseno (1987:141-149) ada 5 sikap yang menunjukkan/mencerminkan kekuatan moral seseorang, yaitu:

a. Kejujuran

Kejujuran merupakan sikap dasar dari kekuatan moral. Bersikap jujur terhadap orang lain berarti:

1) Bersikap terbuka berarti kita selalu muncul sebagai diri kita sendiri, sesuai dengan keyakinan kita (Magnis Suseno, 1987: 142). Dengan terbuka, kita mempersilahkan orang lain untuk mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya dan kita menampilkan diri kita sebagaimana adanya terhadap orang lain. Sikap terbuka juga berarti kita tidak hanya sanggup untuk memberikan pertolongan kepada orang lain sesuai dengan kemampuan kita tetapi kita juga sanggup menolak permintaan orang lain apabila kita benar-benar tidak mampu menolongnya karena tidak sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

2) Bersikap wajar (fair) berarti kita memperlakukan orang lain menurut standar-standar yang kita harapkan orang lain akan mempergunakannya terhadap diri kita (Magnis Suseno, 1987:142). Apabila kita menolong orang lain secara spontan tanpa mereka meminta terlebih dahulu kepada kita, kita pun juga mempunyai harapan yang sama yaitu agar orang lain mau menolong kita secara spontan pula tanpa kita meminta terlebih dahulu kepada mereka. Menurut Magnis Suseno (1987:143) kita hanya dapat bersikap jujur terhadap orang lain apabila kita jujur terhadap diri kita sendiri. Kita mampu menampilkan diri kita apa adanya dan tidak berlebihan. Dengan memahami dan menerima kelebihan dan kekurangan pada diri kita, kita akan mampu menampilkan diri kita apa adanya dengan percaya diri tanpa perlu memikirkan bagaimana pendapat/penilaian

orang lain terhadap diri kita. Dengan demikian, kita akan dapat bersikap jujur terhadap orang lain karena kita sudah mampu bersikap jujur terhadap diri kita sendiri.

b. Nilai-nilai Otentik

Manusia yang otentik adalah manusia yang menghayati dan menunjukkan dirinya sesuai dengan keasliannya dan kepribadiannya yang sebenarnya (Magnis Suseno, 1987:143). Pada umumnya, manusia lebih senang hidup dalam dunia yang layaknya seperti panggung sandiwara, di mana ia tidak menjadi dirinya dan cenderung memainkan karakter-karakter orang lain. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh perasaan takut akan ditinggalkan orang-orang di sekitarnya apabila ia menunjukkan keaslian dirinya. Seseorang cenderung ingin menutupi kekurangan dan keburukan dirinya agar tidak diketahui oleh orang lain, sehingga ia menampilkan dirinya tidak apa adanya. Ia cenderung meniru tingkah laku dan sikap dari orang lain yang dipandang baik oleh orang-orang di sekitarnya agar disenangi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Magnis Suseno (1987:144) berpendapat bahwa manusia yang otentik dapat mengembangkan identitas dan kepribadiannya sendiri. Selain itu, manusia yang otentik mampu mengambil sikap untuk tidak terbawa arus “trend” yang sedang berkembang di sekitarnya. Ia tidak hanya menuruti segala sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat sekitarnya tetapi ia juga mempunyai sesuatu hal yang ia anggap baik.

Ia juga mampu memilah antara hal yang merupakan harapan orang banyak dan hal yang merupakan harapannya sendiri sebab harapan orang banyak belum tentu sama dengan harapannya yang akan membuatnya tidak bahagia.

c. Kemandirian Moral

Kemandirian moral adalah suatu kekuatan batin untuk mengambil sikap moral sendiri dan bertindak sesuai dengan keyakinannya (Magnis Suseno, 1987:147). Seseorang yang memiliki kemandirian moral memiliki pendirian yang kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai godaan dan ancaman yang dating dari lingkungan sekitar seperti: rasa malu, rasa ingin mencari keuntungan dan kenyamanan, rasa pamrih, malas, dan emosi. Magnis Suseno (1987:147) juga menegaskan bahwa mandiri secara moral berarti bahwa kita tidak dapat dibeli oleh mayoritas. Seseorang yang mandiri secara moral selalu dapat membentuk penilaian dan pendiriannya sendiri tanpa dipengaruhi oleh pendapat/penilaian mayoritas serta bertindak sesuai dengan penilaian dan pendiriannya tersebut terhadap suatu masalah moral yang dihadapinya.

d. Keberanian Moral

Keberanian moral adalah kesetiaan terhadap suara hati yang menyatakan diri dalam kesediaan untuk mengambil resiko konflik (Magnis Suseno, 1987:147). Seseorang yang memiliki keberanian moral memiliki tekad yang kuat untuk melakukan tindakan sesuai

dengan keyakinannya serta beani menerima resiko atas tindakan yang dilakukannya tersebut. Keberanian untuk menerima resiko atas perbuatannya merupakan bentuk tanggung jawabnya atas tindakan yang telah dilakukannya sekaligus merupakan bentuk sikap untuk mempertahankan keyakinannya terhadap suara hatinya. Magnis Suseno (1987:147) berpendapat bahwa:

Keberanian moral dapat ditunjukkan dalam bentuk tekad untuk mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai sikap yang benar, sekalipun tidak disetujui atau secara aktif dilawan oleh lingkungan.

Seseorang yang memiliki keberanian moral memiliki sikap yang teguh dalam berpendapat apabila pendapatnya tersebut ia yakini sebagai pendapat yang benar. Ia memiliki pendirian yang kuat walaupun orang-orang di sekitarnya memperlakukannya secara buruk karena pendapatnya yang tidak sama dengan pendapat mereka.

e. Kerendahan Hati

Kerendahan hati adalah kekuatan batin untuk melihat diri sesuai dengan kenyataannya (Magnis Suseno, 1987:148). Seseorang yang memiliki kerendahan hati mampu melihat kenyataan yang sesungguhnya (fakta), baik tentang hal-hal di sekitarnya maupun tentang dirinya sendiri. Magnis Suseno (1987:148) berpendapat bahwa orang yang rendah hati tidak hanya melihat kelemahannya saja tetapi juga kekuatannya. Kerendahan hati mampu membuat orang sadar akan

kelemahan dan kekurangannya. Orang yang rendah hati sadar bahwa segala kemampuannya, terutama dalam hal moral, memiliki keterbatasan dan ia mampu untuk mengakuinya. Ia juga melihat kekuatan/kelebihan yang dimilikinya bukan sebagai sesuatu yang harus dibanggakan dan disombongkan. Magnis Suseno juga mengungkapkan bahwa:

Kerendahan hati merupakan prasyarat bagi kemurnian keberanian moral, sebab tanpa kerendahan hati, keberanian moral mudah menjadi sombong atau menjadi kedok untuk menyembunyikan pamrih seseorang.

Dengan kerendahan hati, keberanian moral dapat ditekan sebab kita dapat mengintrospeksi kembali tindakan yang kita yakini sebagai tindakan yang benar, yang telah mati-matian kita pertahankan. Contohnya, apabila tindakan yang akan kita lakukan itu beresiko merugikan orang lain dan banyak pihak menentangnya. Maka dengan kerendahan hati, kita bersedia untuk memikirkannya kembali dan mencari alternatif tindakan lain yang tidak merugikan orang lain dan juga tidak bertentangan dengan tanggung jawab kita.

Dokumen terkait