TINJAUAN UMUM TENTANG PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH DAN CAMAT SEBAGAI PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH
2.4 Sertifikat Sebagai Akta Otentik .1 Pengertian Akta Otentik PPAT
2.4.3 Kekuatan Pembuktian Sertipikat sebagai Akta Otentik
Sertipikat berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat,76 artinya bahwa sertipikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat di dalamnya, sepanjang data fisik dan data yuridisnya sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah yang tersedia. Sehingga, apabila selama tidak dapat dibuktikan sebaliknya, maka data fisik dan data yuridis yang tercantum dalam surat ukur dan buku tanah, harus diterima sebagai data yang benar dan pasti. Dengan kata lain, yang dapat dibuktikan dari sertipikat adalah:
75 Eliyana, 1997, “Penentuan Alat Bukti Pemilikan sebagai dasar Bagi Pendaftaran
Tanah,” Makalah, Seminar Kebijakan Baru Pendaftaran Tanah, Yogyakarta, hal. 13-14. 76
a. Data Fisik Tanah, yaitu data mengenai fisik tanah bersangkutan, menyangkut tentang: letak tanah, batas-batas tanah dan luas tanah;
b. Data Yuridis Tanah, yaitu data mengenai yuridis tanah bersangkutan, menyangkut tentang: haknya apa, siapa pemiliknya dan ada atau tidak hak-hak lain yang membebaninya.
Sertifikat hak milik atas tanah sebagai bukti alas hak yang sah dan dimiliki kekuatan pembuktian sempurna. Dengan diterbitkannya sertifikat, kepastian hukumnya akan lebih terjamin yang meliputi :77
a. Kepastian hukum tentang subyeknya, maksudnya adalah dengan diterbitkannya sertifikat hak milik atas tanah secara yuridis telah terjamin bahwa orang yang namanya tersurat di dalam sertifikat sebagai pemilik atas tanah tertentu.
b. Kepastian tentang obyeknya, maksudnya dengan diterbitkannya sertifikat hak milik atas tanah, baik letak, luas maupun batas-batas tanah lebih terjamin karena didalam sertifikat hal-hal yang berkenaan dengan suatu bidang tanah termaksud gambar situasi termuat didalamnya.
Dilihat dari terciptanya atau terwujudnya kedua kepastian hukum di atas dapat diharapkan sengketa atau konflik di bidang pertanahan lambat laun akan semakin berkurang dan inilah sebenarnya tujuan akhir dari penerbitan sertifikat.
Fungsi sertifikat hak atas tanah adalah sebagai alat bukti, tetapi sertifikat bukanlah satu-satunya alat bukti hak atas tanah, sebab hak atas tanah masih dapat dibuktikan dengan alat bukti lain, misalnya kuitansi jual beli, saksi-saksi. Bedanya
77
adalah bahwa sertifikat hak atas tanah ditetapkan oleh peraturan perundangan sebagai alat bukti yang kuat, ini berarti selama tidak ada alat bukti lain yang membuktikan ketidakbenarannya, maka sertifikat tersebut harus dianggap benar. Sedangkan alat bukti lain hanya dianggap sebagai bukti awal dan harus dikuatkan oleh alat bukti lain. Jadi, kepemilikan suatu tanah secara hukum dianggap tidak kuat atau sah apabila tidak memiliki surat tanda bukti yang otentik berupa sertifikat hak atas tanah.
Hakim akan mempertimbangkan kekuatan pembuktian sertifikat hak atas tanah tersebut agar dapat dijadikan sebagai bukti yang kuat dalam persidangan di Pengadilan Negeri. Kekuatan pembuktian tersebut meliputi tiga segi, yaitu:78
1. Kekuatan Pembuktian Luar/Diri.
Suatu akta otentik membuktikan dirinya sendiri (acta publica probat sese ipsa). Artinya kalau suatu akta dari lahiriah bentuknya sebagai akta otentik, maka harus diterima sebagai akta otentik, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya.
2. Kekuatan Pembuktian Formal.
Adalah pembuktian antara para pihak, bahwa mereka sudah menerangkan apa yang ditulis dalam akta tadi atau kepastian bahwa suatu kejadian dan fakta tersebut dalam akta betul-betul dibuat oleh PPAT atau pihak-pihak yang menghadap.
3. Kekuatan Pembuktian Material.
Adalah kepastian bahwa apa yang tersebut dalam akta itu merupakan pembuktian yang sah terhadap pihak-pihak yang membuat akta atau
78
mereka yang mendapat hak dan berlaku untuk umum, kecuali ada pembuktian sebaliknya
Kekuatan hukum suatu sertifikat tanah, di atur dalam Pasal 19 ayat (1) UUPA untuk menjamin kepastian hukum tentang pendaftaran tanah. Ini untuk menghindari terjadinya penerbitan sertifikat tanah bukan kepada orang yang berhak (bukan pemilik). Oleh karena itu pendaftaran tanah di Indonesia menganut sistem negatif. Sistem negatif disini mengandung arti bahwa segala apa yang tercantum dalam sertifkat tanah adalah benar sampai dapat dibuktikan sebaliknya dimuka sidang Pengadilan Negeri. Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA menegaskan bahwa surat-surat tanda bukti hak yang diberikan itu berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Dalam hubungannya dengan sistem negatif berarti tidak mutlak, ini mengandung arti bahwa sertifikat tanah tersebut masih dapat digugurkan sepanjang ada pembuktian sebaliknya yang menyatakan ketidakabsahan sertifikat tanah tersebut. Dengan demikian sertifikat tanah bukanlah satu-satunya surat bukti79 hak atas tanah dan oleh karena itu masih ada lagi bukti-bukti lain tentang hak atas tanah antara lain segel tanah (surat bukti jual beli tanah adat).
Mengingat uraian tersebut di atas, maka penulis berpendapat bahwa hakim harus menerima keterangan dalam sertifikat sebagai bukti yang benar, tetapi kalau ditunjukkan alat bukti lain, seperti akta jual beli tanah, maka diperlukan pula bukti-bukti yang lain, misalnya saksi-saksi, kuitansi-kuitansi. Sertifikat hak atas tanah merupakan salinan buku tanah yang berarti juga suatu akta otentik, yaitu
79
Bachtiar Effendie, 2003, Pendaftaran Tanah di Indonesia dan Peraturan Peraturan Pelaksananya, Alumni, Bandung, hal. 76.
suatu akta yang bentuknya ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat dimana akta dibuat. Jadi akta otentik memberikan suatu bukti yang sempurna tentang apa yang dimuat di dalamnya. Selanjutnya penulis juga menyimpulkan bahwa sertifikat hak atas tanah mempunyai bukti yang kuat apabila keberadaan sertifikat tersebut harus sesuai dengan keadaan tanah, bahwa antara sertifikat dan tanah harus ada kecocokan baik batas-batasnya, letaknya, ataupun luas tanahnya harus tercantum dalam sertifkat tersebut. Jika sertifikat hak atas tanah dan keadaan tanah tidak ada kesesuaian maka sewaktu-waktu akan menimbulkan sengketa hak. Sengketa hak ini dapat dijadikan dasar atau dapat melahirkan suatu gugatan tentang keabsahan dari sertifkat tersebut.