uatan sobek (mN)
waktu pemasakan (menit)
kekuatan sobek
0 30 21 4064,5 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500kekuatan slipat (kali)
waktu pemasakan
kekuatan lipat
Gambar 7. Kekuatan Lipat Pada Penyimpanan 4 Minggu
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kekuatan sobek tertinggi sebesar
896,85 yang dicapai pada penyimpanan bahan baku selama 4 minggu dengan
derajat giling 30 menit. Sedangkan kekuatan sobek terendah dicapai pada penyimpanan 4 minggu yakni 678,50 mN dan derajat giling 0 menit.
Kekuatan lipat tertinggi dicapai pada penyimpanan 2 minggu sebesar
4064,50 kali pada derajat giling 30 menit. Adapun kekuatan lipat terendah
sebesar 21,00 kali pada penyimpanan 2 minggu dengan derajat giling 0 menit.
58,25 2749,25 0 500 1000 1500 2000 2500 3000
kekuatan lipat (kali)
waktu pemasakan (menit)
kekuatan lipat
B. Pembahasan
Pemberian asap cair terhadap bahan baku sebelum dilakukan
pemasakan dimaksudkan untuk meningkatkan lama waktu penyimpanan bahan
baku, sehingga penyimpanan dalam waktu tertentu tidak terlalu mempengaruhi
rendemen hasil pemasakan, yang mana dari rendemen tersebut nantinya akan diproses lagi untuk dibentuk menjadi lembaran kertas.
Dari data hasil perhitungan kekuatan sobek kertas pada tabel 3, terlihat
bahwa kertas yang dihasilkan dengan perlakuan penyimpanan dengan asap cair
dan peningkatan derajat giling terdapat pengaruh, yang ditunjukkan dengan meningkatnya kekuatan sobek kertas dari penyimpanan 2 minggu dan 4 minggu.
Penyimpanan bahan baku selama 4 minggu menunjukkan kekuatan sobek yang
lebih tinggi dari pada penyimpanan 2 minggu.
Dari nilai kekuatan sobek yang ditunjukkan pada tabel 3, menunjukkan
nilai yang cukup baik. Kekuatan sobek kertas sangat dipengaruhi oleh panjang
serat. Panjang serat mempunyai sifat utama dalam menentukan kekuatan kertas
dan pengaruh yang paling jelas adalah terhadap kekuatan sobek dan sifat formasi kertas seperti yang dikemukakan Hendayani (1988). Disamping itu,
Haygreen dan Bowyer (1989) juga menyatakan bahwa kekuatan sobek
umumnya dipengaruhi oleh keterpaduan masing-masing serat disamping
kekuatan ikatan antar serat yang menyusun suatu lembaran kertas.
Bila kedua perlakuan penyimpanan bahan baku yakni 2 dan 4 minggu
dengan derajat giling 0, dan 30 menit diperbandingkan, maka perlakuan 4
minggu dengan derajat giling 30 menit lebih optimal dalam meningkatkan kekuatan sobek kertas. Dengan meningkatnya kekuatan sobek menunjukkan
bahwa penyimpanan bahan baku selama 2 dan 4 minggu dengan asap cair dapat membantu menjaga kualitas serat terutama panjang serat.
Hasil berbeda ditunjukkan pada kekuatan lipat kertas. Pada derajat giling
0 menit, dengan penyimpanan 2 dan 4 minggu menunjukkan peningkatan
kekuatan lipat. Namun dengan masa penyimpanan yang sama, dengan derajat giling 30 menit menunjukkan angka penurunan kekuatan lipat. Penyimpanan
bahan baku ternyata dapat mempengaruhi kualitas kertas yang dihasilkan,
walaupun telah digunakan asap cair sebagai penghambat organisme perusak
kayu. Dan apabila diperbandingkan antara perlakuan penyimpanan 2 dan 4 minggu dengan derajat giling sama, yaitu 0 dan 30 menit, maka perlakuan
penyimpanan 2 minggu dengan derajat giling 30 menit lebih optimal dalam
kekuatan lipat kertas.
Perbedaan nilai kekuatan lipat sangat ekstrim terjadi pada kondisi dari 0
ke 30 menit derajat giling. Adanya perlakuan serat (peningkatan derajat giling)
berupa penumbukan, penggilingan, dan pemipihan serat dapat menyebabkan
ikatan hidrogen dari molekul-molekul selulosa akan mengalami peningkatan potensi ikatan maksimum antar serat sebagaimana diungkapakan oleh
Haygreen dan Bowyer (1993).
Kekuatan lipat kertas sangat dipengaruhi oleh tebal dinding serat. Serat
yang berdinding tipis menghasilkan kertas yang lebih kuat, lebih padat, permukaan rata, dan kekuatan lipat yang lebih besar (Hendayani, 1988)
Adanya penggunaan katalisator, dalam hal ini AQ juga diduga berperan
meningkatkan sifat mekanik kertas seperti yang diutarakan Fengel dan Wegener
(1995).
Dengan mengacu pada standar kualitas kelas pulp dan kertas kayu daun lebar (Pasaribu, 1989), maka kualitas pulp dan kertas dari kayu terap dapat
digolongkan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4. Kelas kualitas bahan baku pulp dan kertas dari kayu terap
Sifat Kelas
Besaran Nilai kualitas
Rendemen (%) 45-52 100 I
Alkali (%) 14 100 I
B. Kappa 64-71 12,5 IV
K. Lipat (kali) 21-4064 25 I
Jumlah Nilai 237,5 II
Secara umum dapat disimpulkan bahwa kualitas pulp dan kertas yang dihasilkan dari bahan baku kayu terap dengan perlakuan asap cair tergolong baik
dan dapat di kategorikan dalam kelas II berdasarkan standar bahan baku pulp
dan kertas kayu daun lebar.
Hanya saja perlu dicermati bilangan kappa yang tegolong masih sangat
tinggi. Penggunaan asap cair terhadap bahan baku selama waktu tertentu
(dalam penelitian ini 2 dan 4 minggu) ternyata dapat meningkatkan sifat mekanik
pulp. Akan tetapi kenyataanya dapat meningkatkan sisa lignin, hal ini dapat diketahui dari tingginya bilangan kappa. Bilangan kappa memang berhubungan
erat dengan sisa lignin yaitu semakin tinggi bilangan kappa maka semakin tinggi
kimia pada asap cair telah ikut memperkuat ikatan lignin yang dibuktikan oleh tingginya sisa lignin pada hasil pemasakan yang menggunakan asap cair.
Secara kimia bukan tidak mungkin fungsi asap cair dalam kurun waktu
pemasakan tertentu dapat membantu reaksi bahan pemasak sehingga sifat
bahan pemasak menjadi lebih reaktif dan akhirnya meningkatkan sifat mekanik pulp dan kertas , atau kemungkinan lain asap cair dalam kurun waktu tertentu
akan menghambat kerja AQ, sehingga yang tadinya fungsi AQ sebagai
penghambat reaksi perusakan oleh bahan pemasak dengan asap cair fungsinya
menjadi berkurang.
Untuk penggunaan asap cair sebagai bahan pengawet, menunjukkan hal
yang tepat. Terbukti dengan perlakuan asap cair sifat mekanik pulp mengalami
peningkatan. Ini bisa menjadi petunjuk bahwa kualitas bahan baku yaitu kayu terap tetap terjaga. Darmadji (1996) menyatakan bahwa kayu yang diolesi
dengan asap cair mempunyai ketahanan terhadap serangan rayap daripada
kayu yang tanpa diolesi asap cair, sehingga penggunaan asap cair sangat tepat. (Anonim, 1999) menyatakan bahwa penyimpanan bahan baku merupakan suatu
hal yang penting, karena masa penyimpanan bahan baku yang terlalu lama akan
menyebabkan kerusakan pada bahan baku dari serangan mikroorganisme dan