KUALITAS PULP DAN KERTAS DARI BAHAN BAKU
KAYU TERAP (Artocarpus odoratissimus)
DENGAN METODE KRAFT DENGAN PERLAKUAN
PENUMPUKAN DAN PEMBERIAN ASAP CAIR
(Liquid Smoke)
Oleh :
ABDUL AZIS NIM : 090 500 024
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
S A M A R I N D A
SIFAT MEKANIK PULP DARI BAHAN BAKU
KAYU TERAP (Artocarpus odoratissimus)
DENGAN METODE KRAFT DENGAN PERLAKUAN
PENUMPUKAN DAN PEMBERIAN ASAP CAIR
(Liquid Smoke)
Oleh :
ABDUL AZIS
NIM : 090 500 024
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
S A M A R I N D A
SIFAT MEKANIK PULP DARI BAHAN BAKU
KAYU TERAP (Artocarpus odoratissimus)
DENGAN METODE KRAFT DENGAN PERLAKUAN
PENUMPUKAN DAN PEMBERIAN ASAP CAIR
(Liquid Smoke)
Oleh :
ABDUL AZIS
NIM : 090500024
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
S A M A R I N D A
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Penelitian : Kualitas Pulp Dan Kertas Dari Bahan Baku Kayu Terap (Artocarpus odoratissimus) Dengan Metode Kraft Dengan Perlakuan Penumpukan Dan Pemberian Asap Cair (Liquid Smoke)
Nama : Abdul Azis
NIM : 090500024
Program Studi : Teknologi Hasil Hutan
Jurusan : Teknologi Pertanian
Pembimbing,
Ir. Saini, MP
NIP.196006261987031003
Penguji I,
Abdul Rasyid Zarta, S.HUT, MP NIP.197508271999031001
Penguji II,
Ir. Joko Prayitno, MP NIP.196607041992031005
Lulus Ujian pada tanggal : 07 Agustus 2012 Menyetujui,
Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan
Ir. Syafii, MP.
NIP. 196806101995121001
Mengesahkan,
Ketua Jurusan Teknologi Pertanian
Heriad Daud Salusu, S.HUT, MP. NIP. 1970083019970310001
ABSTRAK
ABDUL AZIS
.
Kualitas Pulp Dan Kertas Dari Bahan Baku Kayu Terap (Artocarpus odoratissimus) Dengan Metode Kraft Dengan Perlakuan Penumpukan Dan Pemberian Asap Cair (Liquid smoke), (Dibawah Bimbingan Bapak H. SAINI).Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sifat mekanik pulp dari kayu terap dengan metode pemasakan kraft dengan terlebih dahulu dilakukan perendaman asap cair terhadap chip. Terap merupakan salah satu kayu yang tumbuh pada hutan sekunder, namun memiliki kelas awet dan mutu yang rendah. Perlakuan asap cair inilah diharapkan dapat mempertahankan bahan baku ketika disimpan dalam jangka waktu tertentu. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan dan pemanfaatan jenis kayu non komersial dalam industri pulp dan kertas dimasa mendatang.
Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan dan mengambil lokasi di Laboratorium pulp dan Kertas Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Proses penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kraft/sulfat, dengan Kosentrasi Alkali Aktif (AA) : 14%, Sulfiditas : 25%, antraquinon 0,1%, Ratio bahan baku dengan laturan pemasak adalah 1 : 4, Waktu pemasakan : 1 jam, Temperatur pemasakan : 170ºC.
Dari penelitian sifat mekanik pulp dari bahan baku kayu terap didapatkan hasil yaitu kekuatan sobek tertinggi adalah 896,85 mN dengan derajat giling 30 menit dan terendah 678,50 mN dengan derajat giling 0 menit pada penyimpanan bahan baku 4 minggu. Hasil berbeda didapatkan pada kekuatan lipat yang mana nilai tertinggi didapatkan pada penyimpanan 2 minggu dengan nilai kekuatan lipat tertinggi yaitu 4064,50 kali dengan derajat giling 30 menit dan terendah pada derajat giling 0 menit dengan nilai 21,00 kali.
RIWAYAT HIDUP
Abdul Azis lahir di Balikpapan tanggal 12 september 1984. Merupakan anak ke enam dari tujuh bersaudara dari pasangan bapak Mansyur dan Ibu Hasnah.
Pendidikan dasar dimulai pada tahun 1992 di SD 043 Pejala Kecamatan Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan lulus pada tahun 1998. Dilanjutkan dengan Pendidikan Menengah Pertama di SMP N 2 Penajam dan lulus pada tahun 2001. Pendidikan Menengah Atas dilanjutkan di SMA N 1 Penajam dan lulus tahun 2004.
Selepas pendidikan Menengah Atas bekerja pada perusahaan batu bara PT. Madhani Talatah Nusantara pada bagian katering di Kabupaten Nunukan dari tahun 2004 sampai tahun 2009. Pendidikan tinggi dimulai pada tahun 2009 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Program Studi Teknologi Hasil Hutan (THH), Jurusan Teknologi Pertanian. Selama menempuh pendidikan di POLTANESA, telah mengikuti ESQ Leadership Training pada bulan Desember tahun 2011.
Pada tanggal 1 Maret sampai 5 April 2012 mengikuti Pengalaman Kerja praktek Mahasiswa (PKPM) di Perum Perhutani II Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Kayu (KBM-IK) Gresik, Jawa Timur.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir sampai tersusunnya laporan karya ilmiah ini. Karya Ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Laboratorium Pulp dan Kertas, Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda.
Keberhasilan dan kelancaran dalam penyusunan Tugas Akhir ini juga tidak terlepas dari peran serta dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Bapak Ir. H. Saini MP selaku Dosen Pembimbing Karya Ilmiah.
2. Kepala Laboratorium Pulp dan Kertas Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Bapak Dr.Rudianto Amirta beserta Teknisi bapak Supriadi. 3. Bapak Abdul Rasyid Zarta S.HUT, MP dan Bapak Ir Joko Prayitno MP selaku
Dosen Penguji karya ilmiah.
4. Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Bapak Ir. Syafii MP.
5. Ketua Jurusan Teknologi Pertanian, Bapak Heriad Daud Salusu S.HUT, MP. 6. Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Bapak Ir. Wartomo MP. 7. Para Staf Pengajar, Teknisi dan Administrasi di Program Studi Teknologi
Hasil Hutan.
8. Rekan-rekan mahasiswa yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas bantuan dan dukungannya dalam penyusunan ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan tugas akhir ini masih terdapat kekurangan, untuk itu penulis berharap saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca untuk kesempurnaan laporan ini. Dan harapan penulis semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Amin.
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ………... V
DAFTAR ISI ……… Vi
DAFTAR TABEL ………. Vii
DAFTAR GAMBAR………. vii
I. PENDAHULUAN……… 1
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
A Proses Pulping ……… 3
B. Proses Pulping Sulfat/Kraft ……… 7
C. Komponen Kimia Kayu ……….. 10
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Pulping Kraft ………….. 11
E. Penyiapan Serat dan Pembuatan Lembaran Kertas………. 18
F. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Kertas……….. 19
G. Standar Kualitas Pulp dan Kertas ……… 22
H. Asap cair (Liquid smoke) ……….. 23
I . Risalah Jenis Kayu Terap (Artocarpus odoratissimus ) ……… 25
III. METODE PENELITIAN ………... 27
A. Waktu Dan Tempat ... 27
B. Bahan dan Alat Penelitian ……….. 27
C. Prosedur Penelitian ……….. 28
D. Analisa Data ... 33
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN ... 34
A. Hasil Penelitian ………. 34
B. Pembahasan ………. 38
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 42
A. Kesimpulan ... 42
B. Saran ... 42
DAFTAR PUSTAKA ... 44
DAFTAR TABEL
Nomor Tubuh Utama Halaman
1. Standar Kualitas Pulp dan Kertas Kayu Daun Lebar ………. 22 2. Sifat Fisika Pulp Jenis Kayu Terap Dengan Menggunakan AQ 0,1%
dengan Selang Waktu Pemasakan 2 minggu ………. 34 3. Sifat fisika dan Mekanika Pulp dan Kertas Jenis Kayu terap dengan
menggunakan AQ Dengan Selang Waktu pemasakan 2 dan 4
minggu ………... 34
4. Kelas kualitas bahan baku pulp dari kayu terap ... 40
Lampiran
5. Hasil pengukuran kekuatan lipat pulp penyimpanan 2 minggu ……… 48 6. Hasil pengukuran kekuatan lipat pulp penyimpanan 4 minggu ……… 48 7. Hasil pengukuran kekuatan sobek pulp penyimpanan 2 minggu ……. 48 8. Hasil pengukuran kekuatan sobek pulp penyimpanan 4 minggu ……. 48
DAFTAR GAMBAR
Nomor Tubuh Utama Halaman
1. Bagan Alir Proses Pulping Kraft ... 8
2. Cara Pengambilan Sampel Dari Jenis Kayu Terap ……… 28
3. Contoh Cara Pengambilan Contoh Uji Dari Lembaran Pulp Yang Dihasilkan ……….. 38
4. Kekuatan Sobek Pada Penyimpanan 2 Minggu ………. 35
5. Kekuatan sobek pada penyimpanan 4 minnggu ……… 36
6. Kekuatan Lipat Pada Penyimpanan 2 Minggu ……… 36
7. Kekuatan Lipat Pada Penyimpanan 4 Minggu ……… 37
Lampiran 8. Pohon Terap Yang Akan Ditebang ……… 49
9. Menentukan titik penebangan dan arah rebah pohon ……….. 49
10. Pohon mulai ditebang ……….. 49
11. Pengambilan Bagian Tengah Pohon ……… 49
12. pembuatan lempengan pangkal, tengah, dan ujung ……….. 49
13. Pembuatan Chip ………... 49
14. Kayu Terap Yang Telah Dibuat Chip ………. 50
15. Penjemuran Chip Dibawah Sinar Matahari ……… 50
16. Chip Dibolak-Balik Agar Kering Merata ……….. 50
17. Penimbangan Chip Yang Akan Dimasak ……… 50
18. Membuka Baut Penutup Digester ……….. 50
19. Chip Yang Siap Dimasak Di Dalam Digester ………. 50
20. Kayu Yang Telah Dimasak ………. 51
22. Penyortiran Pulp (Screening) ……….. 51
23. Mesin Pembuat Lembaran Pulp Dan Kertas ……… 51
24 Alat Uji Kekuatan Sobek ……….. 51
BAB I
PENDAHULUAN
Kebutuhan akan pulp dan kertas, baik didalam dan luar negeri terus
menunjukkan grafik peningkatan dari tahun ketahun. Semakin maju suatu
bangsa yang salah satu indikasinya dilihat dari kebutuhan kertasnya turut menjadi pemicunya tingginya konsumsi kertas. Kondisi demikian telah memacu
produsen pulp dan kertas untuk meningkatkan produksinya. Guna mengimbangi
kenaikan produksi dengan ketersediaan bahan baku pulp dan kertas, maka perlu
dicari jenis baru kayu yang dapat dijadikan sebagai alternatif disamping yang sudah ada dan popular di dunia industri pulp dan kertas.
Pada dasarnya semua tumbuhan yang hidup dimuka bumi dapat
dijadikan pulp dan kertas. Namun demikian, ada persyaratan-persyaratan
tertentu dimana suatu jenis tumbuhan dikatakan baik atau tidak untuk dijadikan bahan baku pulp dan kertas (Rosamah, 1995). Sebab, semua jenis tumbuhan
mengandung selulosa, hemiselulosa, dan zat ekstraktif lainnya, hanya saja
kadarnya berbeda-beda. Semakin tinggi kadar selulosa, semakin baik tumbuhan
tersebut sebagai bahan baku pulp dan kertas.
Berdasarkan hal tersebut, perlu pengkajian alternatif jenis kayu yang
belum bersifat komersial namun memiliki potensi sebagai pengganti maupun
pendukung dalam hal pemenuhan bahan baku pulp dan kertas.
Salah satu jenis kayu yang berpotensi yaitu jenis kayu Terap (Artocarpus Odoratissimus), karena potensi tanaman kayu Terap cukup besar di lahan hutan sekunder dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kayu Terap dapat dijadikan
alternatif bahan baku pulp dan kertas, karena tidak diperlukan persyaratan
seperti Terap yang memiliki kelas kuat dan kelas awet lima setelah ditebang sangat rentan dan mudah untuk diserang mikroorganisme khususnya jamur biru
atau Blue Stain.
Salah satu cara agar keawetan kayu dapat ditingkatkan, terutama kayu
kualitas rendah yakni dengan penggunaan bahan pengawet kayu. Salah satu
bahan pengawet yang bisa dimanfaatkan yaitu asap cair (Liquid smoke). Asap cair dapat dikategorikan sebagai bahan pengawet alami. Penggunaan asap cair
terutama dikaitkan dengan sifat-sifat fungsional asap cair, diantaranya adalah
sebagai anti oksidan, anti bakteri, dan anti jamur. Dengan pemberian asap cair
diharapkan serangan mikroorganisme bisa diminimalisir.
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sifat mekanik pulp dari kayu terap dengan metode pemasakan kraft dengan terlebih dahulu
dilakukan perendaman asap cair terhadap chip dan penumpukan. Proses pulping
dengan metode Kraft ini merupakan metode yang mendominasi produk kertas
dunia dan bahkan hampir 80-90% dari total produk kertas menggunakan proses tersebut. Perlakuan asap cair diharapkan dapat mempertahankan bahan baku
ketika disimpan dalam jangka waktu tertentu. Adapun sifat mekanika kertas yang
diuji adalah kekuatan sobek dan kekuatan lipat kertas.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran
dan informasi bagi industri dan masyarakat luas mengenai kemungkinan
penggunaan bahan baku pulp dan kertas dari kayu terap dan sifat-sifat
mekaniknya dengan metode kraft dan potensi penggunaan asap cair dalam
peyimpanan bahan bakunya sehingga dapat lebih banyak dimanfaatkan lagi untuk kepentingan industri khususnya pulp dan kertas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Proses Pulping
Proses pulping pada prinsipnya adalah suatu cara untuk memisahkan
serat-serat kayu satu dari yang lain, serta komponen-komponen lainnya seperti
lignin, zat ekstraktif dan bahan-bahan lainnya yang terikat bersama-sama sehingga kayu berubah menjadi pulp (Soenardi, 1976).
Menurut Kasmudjo (1983), tujuan dari proses pulping adalah untuk
menghilangkan kandungan lignin pada kayu semaksimal mungkin. Hal ini
dikarenakan lignin menyebabkan kertas yang dihasilkan bersifat kaku dan mudah
berubah warna. Dengan kadar lignin yang rendah akan meningkatkan kualitas kertas yang dihasilkan serta dapat menekan konsumsi bahan kimia dan zat
pemutih pada proses pembuatan kertas.
Pulp adalah bahan serat yang didapat dari hasil pengolahan bahan yang berselulosa dengan cara mekanis, semi kimia, dan kimia, serta digunakan
sebagai bahan dasar kertas, papan serat, rayon, serta turunan serat lainnya (Anonim, 1976).
Kasmudjo (1983), membagi proses pulping menjadi tiga macam, yaitu
proses mekanik, semi mekanik, dan kimia.
1. Proses Mekanik (Mechanical Process)
Proses mekanik adalah cara pembuatan kertas yang paling sederhana
karean tanpa menggunakan bahan kimia. Dalam proses ini kayu yang dipakai
dulu dalam grinder (dalam keadaan basah). Rendemen pulp yang dihasilkan pada proses ini tinggi dan disebut dengan istilah groun wood pulp.
Groundwood, proses pemisahan serat dengan prinsip kayu diparut oleh batu gerinda dimana kayu bulat dengan panjang 1-2 m ditekan ke gurinda
dan serat akan tercabik-cabik. Proses mekanis sering mengarah ke groundwood karena yang dipakai untuk membuat pulp adalah batu gerinda,
sehingga biasanya disebut stonegroundwood. Dibanding dengan pulp kimia,
proses groundwood sama sekali tidak melarutkan unsur-unsur kimia. Proses
pembuatan pulp dengan cara kimia biasanya disebut juga dengan delignifikasi, sedang dalam proses groundwood dikenal dengan nama proses
pemisahan serat. Proses gerinda ini dimulai tahun 1943, mencakup
pemisahan serat pada saat kayu masih basah sehingga disebut proses
penggerindaan basah.
Namun perlu diketahui bahwa proses mekanis tidak berarti bahwa proses
tersebut benar-benar menggunakan bahan-bahan mekanik, tetapi seringkali
ada modifikasi-modifikasi di lapangan. Dalam tahap pertama, kayu digerinda
untuk menghasilkan serat-serat kayu/bundel-bundel serat. Karena dalam
proses ini terjadi panas pada gerinda (dapat mencapai 150ºC) maka sesekali
harus disemprot dengan air agar dapat menetralisasi panas tersebut supaya
tidak terlalu merusak.
Anonim, (1976) menyatakan sifat-sifat pulp yang dihasilkan dalam
proses mekanik yaitu,
a. Kekuatan pulp rendah dan cepat menjadi kuning
b. Mempunyai daya cetak yang baik
2. Proses Semi Kimia (Semi Chemis Process)
Proses semi kimia dibagi menjadi dua proses pertama yaitu, membuat
kayu dalam bentuk chip. Kemudian perlakuan secara mekanik untuk
mendapatkan serabut-serabutnya. Rendemen yang dihasilkan dalam proses
ini berkisar 65-85 % dan kebutuhan bahan kimia yang diperlukan berkisar 30-70 % dibandingkan proses kimia.
Anonim, (1976) menyatakan sifat-sifat pulp yang dihasilkan dalam
proses mekanik yaitu,
a. Soda Dingin
1) Freenes pulp tinggi
2) Brightnes rendah
3) Rendemen 80-90%
b. Netral Sulfit Semi Chemical (NSSC)
1) Lembaran pulp kuat dan padat sehingga dapat dibuat kertas minyak
2) Rendemen 65-75%
c. Semi Sulfat
1) Warna pulp lebih tua, kekuatan lebih rendah, mengandung banyak
lignin, hemiselulosa lebih rendah disbanding NSSC
2) Rendemen 55-68%
3. Proses Kimia (Chemis Process)
Di dalam proses kimia, pemisahan serat-serat tidak dilakukan secara mekanis tetapi secara kimia, artinya lignin akan larut dan hancur sehingga
serat akan terpisah-pisah dan hal itu mengakibatkan rendemen akan
menurun. Namun demikian karena lignin sudah tidak ada maka kualitas pulp
Proses pulping kimia dibedakan menjadi tiga yaitu: a. Proses Sulfit
Pada proses ini, bahan kimia yang digunakan dalam proses
pemasakan adalah Ca(HSO3)2 atau Mg(HSO3)2 . bahan kimia ini
mempunyai sifat yang baik untuk menghilangkan zat-zat kimia dalam kayu yang bersifat non selulosa. Dengan proses ini kayu yang dimasak
harus bebas kulit dan dibuat chip terlebih dahulu. Rendemen yang
dihasilkan berkisar antara 49-53%.
b. Proses Sulfat/Kraft
Proses ini adalah proses yang sifatnya alkali karena
menggunakan NaOH yang merupakan zat yang aktif disamping Na2S dan
NaSO4. Dalam proses ini liquor alkali dengan cepat akan melarutkan
lignin dalam lamella tengah majemuk sebelum reaksi-reaksi lain terjadi,
sehingga serat yang dihasilkan tidak banyak yang rusak. Rendemen yang
dihasilkan berkisar antar 45-48%.
c. Proses Soda
Proses ini baik digunakan pada kelompok kayu serat pendek
(Hard Wood). Rendemen yang dihasilkan rendah berkisar antara 40-42%. Menurut Sutrisno, (1991) dalam Leo, (2001) berdasarkan bahan kimia
yang dipakai dalam pemasakan chip menjadi pulp, maka proses ini
dibedakan atas 4 (empat) metode, yaitu:
1) Pulp soda yaitu pulp yang dimasak dengan larutan soda sebagai
pemasak.
2) Pulp sulfat yaitu pulp kimia hasil pemasakan dengan menggunakan
3) Pulp kraft adalah pulp sulfat dari kayu daun jarum khusus dipakai untuk membuat kertas kraft.
4) Pulp sulfite adalah pulp kimia hasil pemasakan dengan menggunakan
larutan pemasak bisulfate.
B. Proses Pulping Kraft / Sulfat
Proses pulping Kraft berasal dari bahasa Jerman yang artinya adalah
kekuatan. Proses Kraft merupakan suatu proses yang sifatnya alkalis, karena bahan kimia utama yang dipakai adalah natrium hidroksida (NaOH) dan natrium
sulfida (Na2S) sebagai ion HS
dan ion OH.
Menurut Fengel dan Wegener (1995), proses pulping kraft dominan
dilakukan dalam pemasakan kayu. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa proses sulfat dapat menghasilkan rendemen pulp yang tinggi dan sifat pulp yang lebih baik daripada soda. Selanjutnya Rydholm (1995) dan Ullman (1991)
menjelaskan bahwa dasar dari proses pulping kraft mendominasi hampir seluruh
proses pulping, dikarenakan kualitas pulp dan kertas yang dihasilkan sangat
baik, waktu pemasakan lebih pendek, dan biaya produksi murah, serta zat
ekstraktif berbentuk fenolik pada bahan baku tidak jadi masalah.
Metode kraft berkembang secara pesat sekitar 1960 dan perkembangannya mampu melampaui perkembangan proses sulfite yang
terlebih dahulu digunakan dalam industri kertas. Hal ini dikarenakan oleh
keunggulan-keunggulan yang terdapat pada metode kraft, seperti kulitas pulp
yang baik bila dihubungkan dengan kebutuhan pasar serta pemulihan bahan kimia yang lebih sederhana (Sjostrom, 1995).
Proses Kraft pada saat ini lebih disukai oleh pihak perusahaan, karena beberapa pertimbangan antara lain sifat kekuatan kertasnya tinggi dan kualitas
pulpnya lebih baik serta biaya produksinya lebih murah daripada proses kimia lainnya (Muladi, 1994).
Adapun bagan alir dari proses pulping Kraft dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :
Gambar 1. Bagan Alir Proses Pulping Kraft (Muladi, 1994).
Secara khusus keuntungan dan kerugian dari proses pulping Kraft menurut Casey (1960), adalah :
1. Keuntungan :
a. semua jenis kayu dapat dimasak dan memungkinkan dilakukannya
proses pemasakan campuran dari berbagai jenis kayu.
b. Waktu pemasakan relatif singkat.
c. Sifat kekuatan kertas yang dihasilkan tinggi
d. Biaya produksi rendah
e. Kulit kayu bukan masalah besar
Chip Kayu Digester
(Pemasakan) Pencucian
Penguraian Serat
Pengujian Sifat
Fisika Pulp Pulp Penyortiran Pencucian
Penggilingan (Beating) Pengujian Derajat Giling Pembuatan Kertas
Pengujian Sifat Fisika
f. Rendemen pulp tinggi pada kayu daun lebar
g. Pemulihan bahan kimia dapat dilakuakan melalui metode pembakaran
dan penambahan natrium sulfat, natrium karbonat, dan garam lainnya.
2. Kerugian :
a. Warna pulp hitam, sehingga biaya pemutihan relatif tinggi.
b. Timbulnya masalah lingkungan, khususnya pencemaran udara karena
terbentuknya senyawa-senyawa asam sulfida (H2S), metil merkaptan
(CH3-SH), dimetil sulfida (CH3-S-CH3), dimetil disulfida (CH3-S2-CH3), dan
dimetil sulfoksida (CH3-SO-CH3).
c. Rendemen rendah, jika dibandingkan dengan proses sulfit
Bahan kimia yang digunakan dalam proses pulping sulfat terdiri dari
campuran Natrium Hidroksida (NaOH) dan natrium Sulfida (Na2S) yang berfungsi
sebagai bahan kimia aktif. Sedangkan untuk pembuatan alkali dapat diekspresikan sebagai berikut, (Rydolm, 1965; Ullman, 1991).
a. Total alkali = NaOH + Na2S +Na2CO3
b. Alkali aktif = (NaOH + Na2S)
c. Alkali efektif = (NaOH + 1/2Na2S)
d. Sulfiditas = ? ?? ?
? ? ? ? ? ? ?? ?
x 100%
Muladi (1994) menyebutkan bahwa nilai optimalisasi proses puping kraft
untuk setiap jenis kayu berbeda-beda. Variabel-variabel utama dalam proses
pulping kraft/sulfat adalah sebagai berikut: a. Bahan baku (jenis dan kualitas)
b. Waktu dan temperatur pemasakan
d. Perbandingan (ratio) bahan pemasak dengan kayu
C. Komponen Kimia Kayu
Kollmann dan Cote (1968) menjelaskan bahwa kayu merupakan bahan
yang tidak homogen, pada setiap bagian kayu, jenis kayu yang berbeda, atau
faktor lainnya, walaupun pada bagian tertentu komponen kimia relatif seragam,
misalnya kayu teras mempunyai komponen kimia hampir seragam pada kelas
umur tertentu.
Nimz (1992) menyebutkan bahwa komponen kimia kayu untuk setiap
jenis kayu berbeda-beda. Faktor yang menentukan perbedaan tersebut adalah
yang meliputi faktor dalam yaitu letak kayu dalam batang, dan faktor luar seperti
iklim, tempat tumbuh, umur, dan faktor lainnya.
Komponen kimia dalam kayu dibedakan atas komponen yang terikat dalam dinding sel dan yang mengisi rongga sel. Komponen kimia yang terdapat
di dinding sel antara lain karbohidrat (selulosa, hemiselulosa, amilopektin, dan
amilosa), serta lignin. Sedangkan yang mengisi rongga sel terutama adalah zat
ekstraktif (Wenz, 1970).
Martawijaya et,al., (1981) mengatakan bahwa holoselulosa merupakan
bahan dasar dalam pembuatan pulp, kertas, dan derivate selulosa. Kadar lignin
digunakan untuk mengetahui berapa persen bahan kimia yang digunakan dan
berapa persen kadar lignin yang tertinggal setelah proses pulping selesai. Pulp dan kertas yang baik harus mempunyai kadar lignin yang rendah (< 4%)
ekstraktif digunakan untuk mengetahui banyaknya bahan kimia dalam
pemasakan pulp dan reaksi sampingan yang terjadi selama proses pulping.
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Pulping Kraft
1. Bahan Baku (Kualitas dan Dimensi Chip Kayu)
Kualitas jenis kayu sebagai bahan baku pulp dan kertas dipengaruhi oleh
sifat dasar kayu, yaitu kerapatan, berat jenis, dimensi serat, dan komponen
kimia kayu (holoselulosa, lignin, dan zat ekstraktif). Sifat-sifat ini mempunyai hubungan yang erat dengan rendemen, derajat kecerahan, dan sifat
kekuatan kertas (Muladi, 1994).
Selanjutnya menurut Soenardi (1976), mengemukakan bahwa
karakte-ristik jenis kayu yang paling baik untuk pulp dan kertas antara lain :
a. Seratnya panjang, diameter seratnya kecil, dan mempunyai dinding sel
yang tipis
b. Kerapatannya rendah (0,3-0,6 gr/cm3)
c. Mempunyai kandungan serat yang cukup tinggi, ? 90% untuk kayu daun jarum, sedangkan untuk kayu daun lebar kandungan seratnya ? 50% d. Kadar zat ekstraktif dan ligninnya rendah, sedangkan kandungan
holoselulosa terutama selulosanya tinggi.
Besar kecilnya chip kayu akan mempengaruhi penetrasi bahan kimia
selama proses pulping berlangsung. Menurut Muladi (1994), kayu yang
dibuat chip yang berukuran seragam juga dapat mempercepat impregnasi
bahan kimia sehingga waktu pemasakan akan lebih cepat dan pulp yang
Backman (1946) dalam Muladi (1994), mengemukakan bahwa ukuran
tebal chip kayu 3 mm tidak menunjukkan perbedaan yang jelas pada
rendemen pulp. Tebal chip kayu disarankan berkisar antara 3-5 mm. Sedangkan Ullmann (1991), menyebutkan bahwa dimensi optimal chip kayu
adalah panjang 25-35 mm dan tebal 3-7 mm.
2. Konsentrasi Bahan Kimia
Muladi (1994), menjelaskan bahwa bahan kimia dalam proses pulping
digunakan untuk menghilangkan lignin yang diputuskan dalam komponen
molekul rendah dan membuatnya larut dalam air.
Kenaikan konsentrasi bahan kimia menyebabkan meningkatnya
kecepatan pemasakan, sehingga mengakibatkan penurunan rendemen. Penurunan rendemen terjadi akibat kerusakan selulosa dan hemiselulosa
(Muladi dan Rosamah, 1992).
Pada proses pulping Kraft, faktor-faktor yang paling berpengaruh
sehubungan dengan konsentrasi bahan kimia adalah sebagai berikut:
a. pH Bahan Pemasak
Secara umum penyesuaian pH bahan pemasak dipengaruhi oleh
banyaknya Natrium Hidroksida (NaOH) yang digunakan. Nilai pH pada
awal pemasakan berkisar 13-14. Nilai pH ini akan menurun secara teratur
selama pemasakan karena asam-asam organik yang di dibebaskan dari
lignin dan karbohidrat selama reaksi kimia pada proses pulping.
Banyaknya alkali aktif (dihitung sebagai NaOH) yang dipakai
selama proses pulping mempengaruhi nilai pH. Pada akhir pemasakan pH dari larutan pemasak tidak boleh turun dibawah 10, karena bila itu
terjadi maka lignin yang telah larut akan mengendap pada serat pulp (Ullman, 1991)
b. Alkali Aktif
Kebutuhan larutan alkali secara umum untuk kayu daun lebar
lebih sedikit dibandingkan kayu daun jarum. Alkali dipakai pada kayu daun lebar tergantung juga pada jenis kayu dan lebih khususnya dari
kadar lignin. Untuk jenis kayu ringan hanya membutuhkan 1-4% alkali
aktif. Sedangkan untuk jenis kayu yang mempunayi berat jenis yang
tinggi dan kandungan lignin yang lebih tinggi bisa memerlukan sampai 18% (Patt, 1992).
Selanjutnya Kasmudjo (1983), menyebutkan bahwa larutan alkali
akan melarutkan lignin dari lamela tengah majemuk sebelum
reaksi-reaksi yang lain terjadi secara cepat. Dengan demikian proses delignifikasi akan berlangsung secara selektif sehingga serat yang
diperoleh tidak banyak yang rusak.
Secara umum konsentrasi alkali aktif berkisar antara 10-25%
(Muladi, 1994). Sedangkan Ullmann (1991), mengemukakan bahwa
secara umum kebutuhan alkali aktif untuk kayu daun lebar adalah
18-22% dan untuk kayu daun jarum 20-25%.
c. Sulfiditas
Sufiditas adalah komposisi dari cairan pemasak dalam proses
Kraft yang tergambar dari rasio natrium sulfit dengan alkali aktif yang diperhitungkan sebagai Na2O (Fengel dan Wegener, 1995).
Menurut Patt (1992), nilai optimum sulfiditas tergantung pada
jumlah kayu, ketentuan pemasakan, dan kekuatan pulp yang diinginkan.
Nilai sulfiditas biasanya bervariasi antara 15-40%, dimana nilai 25%
merupakan nilai tengah yang baik.
Komposisi pemasakan dari zat cair dipercepat dengan sulfiditas. Kenaikan sulfiditas akan menurunkan rendemen, sisa kayu dan bilangan
kappa. Sedangkan penurunan sulfiditas dibawah nilai optimum
menyebabkan turunnya sifat kekuatan kertas. Nilai optimal sulfiditas
tergantung jumlah kayu, ketentuan pemasakan, dan kekuatan pulp yang diinginkan. Sulfiditas biasanya berfariasi antara 15-40% yang mana 25% merupakan nilai tengah yang baik (Muladi, 1994).
Penggunaaan Natrium Sulfida yang lebih banyak akan menyebabkan bau yang kuat karena formasi dari penguraian sulfur.
Penambahn ion sulfur akan mempercepat delignifikasi dengan hanya
sedikit larutan pada selulosa dan hemiselulosa. Selain itu nilai sulfiditas
juga tergantung pada tipe alat pemasak. Alat pemasak yang pemanasnya secara langsung memerlukan nilai sulfiditas yang tinggi jika dibandingkan pemanasan secara tidak langsung. (Muladi dan Rosamah, 1992).
Ullman (1991) juga menyatakan bahwa nilai sulfiditas yang biasa
digunakan untuk kayu daun lebar bervariasi antara 20-30%, sedangkan
untuk kayu lunak 20-40%.
Anonim (1976), menjelaskan bahwa proses pulping Kraft
biasanya menggunakan konsentrasi sulfiditas 25%. Sedangkan menurut
digunakan untuk kayu daun lebar bervariasi antara 20-30%, dan untuk kayu daun jarum 25-45%.
d. Temperatur dan Waktu Pemasakan
Muladi dan Rosamah (1992), menjelaskan bahwa temperatur
dan waktu pemasakan tergantung jenis kayu, dimensi chip kayu, rasio, konsentrasi larutan pemasak, dan kualita pulp yang diinginkan. Pada
jenis kayu yang sama temperatur dan waktu pemasakan dipengaruhi oleh
kecepatan melarutnya setiap komponen kimia kayu di dalam larutan pada
temperatur maksimum.
Pada prinsipnya waktu pemasakan dapat dipersingkat dengan
meningkatkan temperatur pemasakan, namun pada temperatur
pemasakan yang terlalu tinggi rendemen dan kualita pulp yang dihasilkan umumnya mengalami penurunan (Fengel dan Wegener, 1995).
Kedua parameter tersebut sangat berpengaruh pada proses
pulping. Pada temperatur pemasakan yang rendah selalu memberi
pengaruh pemasakan yang baik. Dimana reaksi akan berjalan lebih lambat dan lebih perlahan-lahan tetapi akan memperpanjang waktu
pemasakan, namun pulpnya lebih lunak dan rendemennya tinggi serta
proporsi kekuatan pulpnya lebih baik. Dari sisi yang lain yaitu sudut
pandang secara ekonomis proses pulping harus menggunakan
temperatur yang lebih tinggi, untuk memperpendek waktu pemasakan
dan untuk meningkatkan hasil pulpnya. Dengan kata lain waktu pemasakan dapat dipercepat dengan mempertinggi temperatur (Muladi,
Ullmann (1991), mengemukakan bahwa proses pulping Kraft
biasanya menggunakan temperatur antara 165-175oC dan waktu
pemasakan maksimum 1-2 jam yang tergantung pada jenis kayu dan
kualita pulp yang diinginkan.
e. Rasio Bahan Pemasak Dengan Kayu
Ratio pemasakan tergantung pada ukuran alat pemasak (digester)
dan kerapatan chip didalam digester, serta variasi kondisi proses
pemasakan yang berbeda (waktu dan jenis proses pemasakan).
Menurut Muladi (1994), rasio pulping Kraft bervariasi antara 4 : 1
sampai 2,5 : 1 (bahan kimia : kayu), dimana larutan tersebut harus
mampu melarutkan lignin dan karbohidrat. Sedangkan proses pulping
Kraft biasanya menggunakan rasio 4 : 1 (Anonim, 1976).
f. Bahan Aditif
Fengel dan Wegener (1995), mengemukakan bahwa aditif pada
proses pulping Kraft akan dapat menghentikan reaksi kimia gugus akhir
selulosa. Reaksi kimia ini dapat mengurangi penurunan rendemen,
meningkatkan derajat polimerisasi, dan stabilitas hemiselulosa, serta
meningkatkan derajat putih kertas.
Tujuan penggunaan bahan aditif menurut Fengel dan Wegener
(1995), adalah :
1) Mempercepat laju delignifikasi
2) Menaikkan selektifitas delignifikasi
4) Mengeleminasi atau mengurangi pencemaran dalam pembuatan pulp Kraft
Jenis aditif yang menstabilkan polisakarida terhadap pelepasan
alkali adalah antraquinon (AQ) atau senyawa lain seperti AQ-2 sulfonat.
AQ menyebabkan oksida gugus ujung aldehida menjadi asam-asam aldonat yang stabil dimana tipe dan jumlah berbeda, kemudian
senyawa-senyawa tersebut direduksi menjadi antra-hidroquinon (AHQ). Senyawa
ini terbukti berekasi dengan lignin kemudian meningkatkan proses
delignifikasi, setelah itu AHQ sendiri dioksidasi kembali menjadi AQ
(Fengel dan Wegener, 1995).
Menurut Patt (1992), AQ adalah bahan alkali yang sangat stabil
dan tidak berubah pada temperatur tinggi. AQ sendiri di dalam reaksi
proses pulping tidak ikut bereaksi/tidak terpakai sehingga jumlah AQ yang ditambahkan hanya sekitar 0,1% dari berat kering tanur (BKT) sudah
cukup dan diperoleh hasil yang baik.
Penggunaan katalisator AQ bervariasi, yaitu berkisar antara
0,01-0,5% berdasarkan BKT dan penggunaan AQ tergantung pada proses
pulping yang digunakan, jenis kayu, dan kondisi yang diinginkan
(Sjostrom, 1995). Sedangkan menurut Fengel dan Wegener (1995),
penggunaan katalisator AQ berkisar antara 0,05-0,25% untuk pulping
E. Penyiapan Serat dan Pembuatan Lembaran Kertas
1. Penggilingan (Beating)
Casey (1961) mengemukakan bahwa proses penggilingan memegang
peranan yang sangat penting dalam penentuan kualitas kertas dengan
mekanisme penciptaan permukaan yang berserabut (fibrilated Surface) sehingga luas permukaan serat yang berhubungan akan semakin besar dan
fleksibilitas serat yang meningkat.
(Haygreen dan BOWYER, 1993) menyatakan bahwa potensi ikatan
ikatan antar serat akibat perlakuan penyiapan serat seperti penggilingan akan sangat mempengaruhi perolehan kualitas kekuatan retak dan tarik. Lebih
lanjut dijelaskan pula bahwa kekuatan kertas yang terbentuk oleh ikatan
hidrogen dari molekul-molekul selulosa akan mengalami peningkatan potensi ikatan maksimum antar serat , dimana hal ini dapat dicapai dengan perlakuan
serat berupa penumbukan, penggilingan, dan pemipihan serat
2. Pencetakan Lembaran
Sifat kekuatan pulp dan kertas serta optisnya sangat dipengaruhi oleh proses akhir dalam pembuatan lembaran kertas dimana proses pembuatan
lembaran secara baik dalam teknis industri sangat diperlukan, terlebih pada pencetakan kertas dengan dengan berat jenis ringan (Casey, 1961)
Untuk meningkatkan kualitas kertas dapat ditempuh dengan cara
penyaringan serat sehingga dihasilkan kumpulan serat yang benar-benar
bersih dan terbebas dari serat kasar, pasir, dan kotoran lain yang tidak
memegang peranan yang besar dimana hal ini berorientasi pada kandungan air yang terdapat pada ikatan hidrogen pada molekul selulosa yang secara
langsung sangat berpengaruh pada kekuatan kertas yang dihasilkan (Casey,
1961; Rydholm, 1965; dan Ullman, 1991)
F. Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pulp Dan Kertas
Kualitas ikatan antar serat (inter fiber bonding) memegang peranan yang
sangat penting dalam penentuan kualitas kertas dimana proses pembentukan
ikatan yang baik dengan sendirinya akan meningkatkan sifat kekuatan terutama kekuatan tarik dan retak kertas (Casey, 1961).
Nursyamsu (1995) menyatakan bahwa pembentukan kualitas kertas
dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari sisi bahan baku maupun proses
pembuatan kertasnya. Berkaitan dengan kekuatan tarik dan retak kertas dijelaskan bahwa proses proses penggilingan dan pembentukan ikatan antar
serat sangat menentukan dalam perolehan kertas dengan kekuatan tarik dan
kekuatan retak yang tinggi. Sedangkan pada pengujian kekuatan sobek hal yang
sangat mempengaruhi yaitu faktor panjang serat dan jumlah ikatan yang terbentuk persatuan luas permukaan.
Berdasarkan proses yang tejadi pada proses proses pemasakan,
dinyatakan bahwa konsentrasi alkali aktif akan mempengaruhi kualitas kertas
dimana pada penggunaan konsentrasi alkali aktif yang tinggi dimungkinkan
pemutusan rantai selulosa, sedangkan penggunaan konsentrasi alkali aktif yang
terlalu rendah menyebabkan proses poenguraian serat tidak berlangsung secara sempurna (Sjostrom, 1995).
Kualitas pulp dan kertas juga dipengaruhi oleh dimensi serat, yang meliputi:
1. Panjang Serat
Hendayani (1988), mengemukakan bahwa menurut penelitian, ternyata
panjang serat mempunyai sifat utama dalam menentukan kekuatan kertas dan pengaruh yang paling jelas adalah terhadap kekuatan sobek dan sifat
formasi kertas. Serat yang panjang memiliki kekuatan yang lebih baik
daripada serat pendek, tetapi serat pendek memberikan formasi yang lebih
baik daripada serat panjang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa:
a. Serat pendek langsing menghasilkan lembaran lcin tapi ketahanan sobek
rendah.
b. Serat panjang langsing menghasilkan lembaran kertas yang kuat.
Casey (1960), menjelaskan bahwa serat panjang dapat menhasilkan pulp
dan kertas dengan kekuatan fisik yang tinggi, tetapi mempunyai kelemahan
yaitu sifat kerataan kertas menjadi kurang baik.
Kasmudjo (1983) menambahkan bahwa serat yang panjang menghasilkan kertas yang kuat atau baik. Serat yang panjang terutama
memberikan kekuatan sobek yang tinggi, sering pula memberikan kekuatan
jebol, lipat, dan tarik yang cukup tinggi pula. Lebih lanjut dijelaskan bahwa
panjang serat disamping erat hubungannya dengan kekuatan kertas yang
dihasikan, juga mempengaruhi kemudahan dalam pencucian dan
2. Tebal Dinding Serat
Hendayani (1988), menjelaskan bahwa serat yang berdinding tipis
menghasilkan kertas yang lebih kuat, lebih padat, permukaan rata, dan
kekuatan lipat yang lebih besar. Pada waktu pengeringan dinding serat yang
tipis akan berubah bentuk menjadi pipih dengan memberi permukaan yang lebih luas sehingga jalinan antar permukaan seratnyapun akan lebih kuat
pula. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa serat berdinding tebal yang
mempunyai diameter yang lebih kecil menghasilkan lembaran dengan bulk
yang tinggi dengan kekuatan yang rendah.
Haygreen dan Bowyer (1993), menyatakan bahwa faktor panjang dan
tebal dinding serat sangat berpengaruh dalam proses pembentukan ikatan
antar serat dimana serat serat yang memilliki dimensi panjang yang lebih besar dan dinding sel yang tipis relatif lebih mudah unutk dilakukan
pemipihan dalam proses penggilingan.
3. Diameter Serat
Diameter serat banyak pengaruhnya dalam kemudahan dalam pemasakan pulp. Diameter serat mempengaruhi pencucian, penyaringan,
refining, pembentukan lembaran wire part, kekuatan ikat antar serat dan
tingkat kekuatannya. Serat yang berdiameter lebih kecil, lebih mudah
dijadikan bahan kertas yang tipis dengan kekuatan yang lebih pula
Soenardi (1976), menyatakan bahwa diameter dan tebal dinding serat
dapat mempengaruhi sifat pulp dalam pencucian, juga mempengaruhi
pembentukan lembaran, ikatan antar serat, dan kekuatan serat.
G. Standar Kualitas Pulp Dan Kertas
Kualitas pulp dan kertas mengacu pada standar kelas kualitas kayu daun lebar (Pasaribu, 1989).
Tabel 1. Standar kualitas Pulp dan Kertas kayu daun lebar
sifat Kelas
besaran nilai besaran nilai besaran nilai besaran nilai
2 3 4 5 6 7 8 9 10
Density (g/cm3) >200 100 200-250 50 120-150 25 <120 12,5
Daya tenun serat (I/d) 100 100 50-100 50 30-50 25 <30 12,5 Rendemen Pulp (%) >44 100 40-44 50 34-40 25 <34 12,5 Konsumsi Alkali (%) <18 100 18-20 50 20-22 25 <22 12,5 Bilangan Kappa(%) <18 100 18-22 50 23-30 25 >30 12,5 Panjang Putus/Tarik (m) >5000 25 3500-5000 12,5 2000-3500 6,25 <2000 3,125 Faktor Retak (kPa) >250 25 200-250 12,5 150-200 6,25 <150 3,125 Daya Renggang (%) >2,5 25 1,5-2,5 12,5 1,0-1,5 6,25 <1,0 3,125 Ketahanan Lipat (%) >2,5 25 2,0-2,5 12,5 1,0-2,0 6,25 <1,0 3,125
Jumlah Nilai 600 300 150 75
Selang Nilai > 600 / I 599-300 / II 299-150 / III 149-75 / IV Keterangan :
Kualita I : merupakan jenis kayu yang sangat baik digunakan sebagai bahan
baku pulp dan kertas karena rendemen pulp tinggi, pemakaian alkali rendah, pulp mudah diputihkan, dan menghasilkan kertas dengan
Kualita II : merupakan jenis kayu yang cukup baik sebagai bahan baku pulp dan kertas karena rendeman tinggi, pulp mudah diputihkan, dan pulp
menghasilkan kertas dengan kekuatan sedang.
Kualita III : merupakan jenis kayu yang tidak baik sebagai bahan baku pulp dan
kertas karena rendemen pulp rendah, pemakaian alkali agak tinggi, pulp susah diputihkan, dan menghasilkan kertas dengan kualitas
rendah.
Kualita IV: merupakan jenis kayu yang tidak dapat digunakan sebagi bahan baku
pulp dan kertas.
H. Asap Cair (Liquid Smoke)
Cuka kayu atau asap cair pertama kali dikembangkan pada tahun 1880
oleh sebuah pabrik farmasi di Kansas City yang dikembangkan dengan metode
destilasi kering dari bahan kayu. Asap diartikan sebagai suatu suspensi partikel-partikel padat dan cair dalam medium gas (Girard, 1992). Sedangkan
asap cair menurut Darmadji (1996) merupakan campuran larutan dari
dispersi asap kayu dalam air yang dibuat dengan mengkondensasikan asap
hasil pirolisis kayu. Produksi asap cair merupakan hasil pembakaran yang tidak
sempurna yang melibatkan reaksi dekomposisi karena pengaruh panas,
polimerisasi, dan kondensasi (Girard, 1992).
Menurut Hollencbeck (1977) ada tiga cara yang umum digunakan untuk
pembuatan asap cair yaitu dengan cara :
1. Pembakaran bahan baku dibawah kondisi oksidasi terkontrol dan absorpsi asal dalam air.
2. Pembakaran bahan baku dibawah kondisi oksidasi terkontrol dan kondensasi asap menjadi larutan dalam kondensor.
3. Mengkontakkan bahan baku dengan uap yang sangat panas dan kondensasi
dari uap yang didestilasikan.
Menurut Girard (1992) ditemukan lebih dari 100 senyawa kimia yang
terdapat pada asap cair kayu. Beberapa senyawa kimia yang telah di definisikan yaitu fenolik 85 macam, karbonil 45, asam 35, furan 11, alcohol dan ester 15, likton 13 dan hidrokarbon alifatik 21 macam. Sedangkan menurut Maga (1998) bahwa komposisi rata-rata asap cair dari bahan kayu terdiri atas 11 - 92% air,
fenolik 2,8 – 4,5% dan karbonil 2,6 – 4,6% serta ter 1 – 17%.
Salah satu fungsi asap cair pada kayu adalah anti bakteri dan jamur. Peran bakteriostatik dari asap cair semula hanya disebabkan karena adanya
formaldehid saja tetapi aktivitas dari senyawa ini saja tidak cukup sebagai
penyebab semua efek yang diamati. Kombinasi antara komponen fungsional
fenol dan asam-asam organik yang bekerja secara sinergis mencegah dan mengontrol pertumbuhan mikrobia. Adanya fenol dengan titik didih tinggi dalam
asap juga merupakan zat anti bakteri yang tinggi. (Pszczola, 1995).
Asap cair memiliki banyak manfaat dan telah digunakan pada berbagai industri, antara lain :
1. Industri pangan
Asap cair ini mempunyai kegunaan yang sangat besar sebagai
pemberi rasa dan aroma yang spesifik juga sebagai pengawet karena sifat antimikrobia dan antioksidannya. Dengan tersedianya asap cair maka
yang mengandung banyak kelemahan seperti pencemaran lingkungan, proses tidak dapat dikendalikan, kualitas yang tidak konsisten serta
timbulnya bahaya kebakaran, yang semuanya tersebut dapat dihindari.
2. Industri perkebunan
Asap cair dapt digunakan sebagai keunggulan lateks dengan sifat fungsional asap cair seperti anti jamur, antibakteri dan antioksidan tersebut
dapat memperbaiki kualitas produk karet yang dihasilkan.
3. Industri kayu
Kayu yang diolesi dengan asap cair mempunyai ketahanan terhadap serangan rayap daripada kayu yang tanpa diolesi asap cair (Darmadji,
1999).
I. Risalah Jenis Kayu Terap (Artocarpus odoratissimus)
Terap termasuk dalam kerajaan Plantae, kelas Magnolliophyta, dan ordo
Morales
.
Terap memiliki nama ilmiah(
Artocarpus odoratissimus). Terap atautarap adalah sejenis pohon buah dari marga pohon nangka (Artocarpus).
Buahnya serupa nangka yang kecil, dengan bau wangi yang kuat. Buah ini juga
dikenal sebagai marang (Filipina) atau Johey Oak (Inggris).
Pohon terap tingginya mencapai 25 m, dan batangnya dapat mempunyai
diameter sampai 40 cm, keabu-abuan. Ranting dengan bulu-bulu panjang kuning
sampai kemerahan. Berumah satu (monoecious).
Daun berbentuk jorong sampai bundar telur terbalik, 11-28 × 16-50 cm,
bertangkai 2-3 cm. Daun penumpu bundar telur, 1-8 cm, berbulu kuning atau merah, bila rontok meninggalkan bekas cincin pada ranting.
Perbungaan dalam bongkol soliter, yang muncul pada ketiak daun.
Bongkol bunga jantan berbentuk jorong sampai gada, 2-6 × 4-11 cm. Buah majemuk (syncarp) agak bulat, sampai 13 × 16 cm, kuning kehijauan bila masak,
dengan tonjolan-tonjolan serupa duri lunak pendek, bertangkai panjang 5-14 cm,
muncul di ujung ranting seperti pada sukun. Daging buah (semu, yang sebetulnya adalah perkembangan dari perhiasan bunga) berwarna keputihan,
mengandung banyak sari buah, manis dan harum sekali, terasa licin lunak dan
agak seperti jeli di lidah. Biji (perikarp) 8 × 12 mm.
Terap kurang menyebar luas, dan lebih dikenal di Filipina di mana ia dibudidayakan secara luas (misalnya di Mindoro, Mindanao, Basilan dan Sulu),
Borneo bagian utara (Brunei, Sabah, Serawak, dan juga Kalimantan Timur) dan
Thailand. Asal-usulnya diperkirakan dari bagian utara Borneo, di mana
ditemukan jenis liarnya di alam. Terap juga dibudidayakan di Queensland, Australia.
Terap dapat tumbuh sejak daerah dekat pantai hingga ketinggian sekitar
1000 m dpl. Pohon ini menyenangi tanah liat berpasir dan wilayah dengan curah
hujan cukup tinggi dan merata. Buah biasa didapati di awal musim hujan, antara
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pulp dan Kertas Fakultas
Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda.
Lama penelitian kurang lebih satu bulan, yang meliputi kegiatan
persiapan (pengambilan dan persiapan bahan baku), pelaksanaan penelitian di
laboratorium , pengolahan dan analisis data serta penyusunan laporan.
B. Bahan Dan Peralatan Penelitian
1. Bahan Penelitian
a. Bahan baku penelitian
Kayu Jenis Terap (Artocarpus orodatissimus) yang diperoleh dari lokasi
hutan sekunder yang ada di areal Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
b. Asap cair grade 3
c. Bahan kimia yang digunakan
1) Natrium hidroksida (NaOH) 2) Hidrogen Sulfida (H2S). d. Alat Penelitian
a. Gergaji potong, parang, dan meteran
b. Timbangan digital untuk menimbang sampel
c. Tangki pemasak (digester) untuk memasak
e. Alat pengurai serat (refiner) untuk memisahkan serat pada proses pencucian
f. Alat sortir pulp (screen pulp) pada pemisahan antara pulp dengan sisa
kayu
g. Alat pengering (vacuum dryer) untuk pengeringan pulp h. Alat uji drajat giling (schopper Riegler)
i. Plastik, karet gelang, dan spidol untuk penyimpanan dan penandaan pulp
j. Alat penggiling pulp (desintegrator/yocro muhle)
k. Alat pencetak kertas (hand sheet machine)
l. Alat pemotong kertas untuk pembagian contoh uji lembaran kertas
m. Alat uji lipat (folding Endurance Taster)
n. Alat uji sobek (tearing tester)
o. Kalkulator dan alat tulis menulis untuk mencatat dan menghitung data
hasil penelitian.
C. Prosedur Penelitian 1. Persiapan Bahan Baku
Gambar 2. Cara Pengambilan Sampel Dari Jenis Kayu Terap
Keterangan: P = pangkal T = tengah U = ujung
Langkah-langkah persiapan bahan baku sebagai berikut:
Kayu ditebang kemudian dipotong menjadi tiga bagian yaitu pangkal,
tengah, dan ujung. Kemudian dibuat lempengan dari masing-masing bagian
tersebut dengan ukuran tebal 30 mm. Lempengan tersebut lalu dibuat chip
dengan ukuran tebal 3-5 mm, lebar 30 mm dan panjang 40 mm. kemudian dilakukan perendaman dengan asap cair grade 3 selama 10 menit dan
disimpan selama 2 dan 4 minggu. Lalu Chip dikeringkan dibawah sinar
matahari selama beberapa hari hingga mencapai kadar air yang sesuai
dengan persyaratan atau standar pengujian. Selanjutnya menentukan Moisture Faktor (MF) chip yang dihitung dengan rumus:
MF = ? ? ? ? ? ??? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ??? ? ? ? ? ??? ? ? ??? ???
2. Proses Pemasakan (Pulping Process)
Pada penelitian ini, proses pulping yang digunakan adalah proses pulping Kraft/Sulfat , dengan menggunakan digester yang berputar vertikal dengan sistem pemanasan elektrik. Kapasitas digester adalah 15 liter, temperatur
maksimum 300 ºC dan tekanan maksimum 30 bar. Berat bahan baku yang
dimasak adalah 300 gr kering tanur. komposisi pemasakan sebagai berikut :
a. Kosentrasi Alkali Aktif (AA) : 14%
b. Sulfiditas : 25%
c. Antraqinon : 0,10%
d. Ratio bahan baku dengan laturan pemasak adalah 1 : 4 e. Waktu pemasakan : 1 jam
Pada akhir pemasakan dilakukan pemisahan pulp dari larutan pemasak. Kemudian pulp dicuci dengan air sampai warnanya jernih dan bersih dari
bahan kimia. Setelah itu dilakukan penyortiran untuk memisahkan pulp dari
kayu yang tidak termasak dan disaring dengan saringan 200 mesh.
Selanjutnya pulp dikeringkan lalu ditimbang beratnya.
3. Proses Pembuatan Lembaran Kertas
Dalam pembuatan lembaran kertas, didasarkan atas metode
Zellcheming : Merkblatt yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
a. Penggilingan sampel pulp (Zellcheming : Merkblatt V/5/1960) b. Pengadukan serat pulp (Zellcheming : Merkblatt V/4/1961)
c. Derajat giling pulp ((Zellcheming : Merkblatt V/7/1961)
d. Pencetakan lembaran kertas (Zellcheming : Merkblatt V/8/1976)
e. Penetapan berat, tebal, gramatur, dan kerapatan kertas (Zellcheming :
Merkblatt V/11/1957)
Gramatur (gram/m2) = ????? ?????? ????? ? ? ?? ? ? ?
Kerapatan (gr/cm3) =???? ? ? ? ? ????? ?
??????????? ?? ? ?
:
1000f. Penetapan bentuk pengujian setiap sampel kertas (Zellcheming :
Merkblatt V/10/1957).
4. Pengujian Sifat Mekanika Kertas
Pengujian sifat mekanika lembaran pulp untuk setiap sampel yang meliputi uji kekuatan tarik, jebol, dan sobek, mengacu pada Zellcheming :
Merkblatt (V/12/1957) (Anonim 1957, dalam Diarini, 2001). Dimana
sebelum dilakukan pengujian sifat mekanik kertas, terlebih dahulu kertas
Pembagian setiap sampel pengujian sifat mekanika seperti terlihat pada gambar berikut ini.
Gambar 3. Cara pengambilan contoh uji dari setiap sampel lembaran kertas yang dihasilkan.
Keterangan :
UT : sampel uji kekuatan tarik (panjang 12cm, lebar 1,5 cm) UL : sampel uji kekuatan lipat (panjang 14 cm, lebar 1,5 cm) UJ : sampel uji kekuatan jebol (sisa potongan berbentuk busur) US : uji kekuatan sobek (panjang 6,5 cm, lebar 5,5 cm)
a. Pengujian kekuatan tarik (Tensile Strenght)
Pada pengujian kekuatan tarik, angka pada skala yang
ditunjukkan alat saat kertas putus adalah angka beban tarik kertas
tersebut. Nilai yang ditunjukkan pada alat kemudian dirata-ratakan dan
dihitung dengan rumus :
UJ UJ Kode Sampel 1,5 cm UT 1,5 cm UT 1,5 cm UL US US US 1,5 cm UT 5,5 cm 6,5 cm
Kekuatan Tarik (m) = ? ? ? ? ? ? ? ? ?
? ?
Keterangan :
Ps = panjang contoh uji (m) Bb = beban tarik rata-rata (g) Bp = berat potongan contoh uji (g) 100= nilai jarak standar lembaran pulp
b. Pengujian kekuatan lipat (Folding Strenght)
Contoh uji kertas dilipat hingga putus pada alat uji lipat (Folding Endurance Taster). Pembacaan kekuatan lipat dihitung dari banyaknya lipatan kertas dan dihitung dalam satuan kali.
c. Pengujian kekuatan sobek (Tearing Strenght)
Kekuatan sobek adalah kekuatan yang dibutuhkan untuk
menyobek selembar sampel kertas. Perolehan nilai dari kekuatan ini
terbaca pada nilai yang ditunjukkan pada akhir proses pengujian pada
skala alat uji kekuatan sobek (Tearing Strenght Tester) yang selanjutnya dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Kekuatan sobek (mN) = ?? ? ? ? ? ????? Dimana :
A = pembacaan skala dalam gram gaya (gf), 1 gf = 9,807 mN B = jumlah lembaran contoh uji
16 = kapasitas bandulan alat uji
d. Pengujian kekuatan jebol (Bursting Strenght)
Pada contoh uji kertas diberi tekanan hingga jebol dengan
menggunakan alat uji kekuatan jebol (Bursting Strenght Tester). Angka pada skala pada saat sampel jebol dapat langsung dibaca, dan
D. Analisa Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian sifat mekanika kertas dihitung
dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik serta dilakukan analisa.
Penarikan kesimpulan hasil penelitian mengacu pada kriteria Patt (1992)
yang menyatakan bahwa proses pulping kimia dianggap baik bila menghasilkan rendemen tersaring pulp minimal 40% dan nilai bilangan Kappa maksimal 25.
Sedangkan untuk mengetahui kelas kualita bahan baku digunakan standar
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pengujian sifat mekanik kertas dengan metode kraft
yang telah dilakukan terhadap kayu terap didapatkan hasil sebagai berikut.
Hasil yang didapatkan pada proses pulping jenis Terap tanpa Antra
Quinon (AQ) dengan konsentrasi Alkali Aktif (AA) : 14 %, yaitu dengan Rendemen Tersaring 50,90 % dan Bilangan Kappa 41,76.
Pemasakan berikutnya adalah dengan menggunakan nilai hasil yang
dicapai ditambah dengan AQ 0,1% yang dilaksanakan selama 4 (empat) minggu
yaitu dilakukan setiap 2 (dua) minggu, hasilnya adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Sifat Fisika Pulp Jenis Kayu Terap Dengan Menggunakan AQ 0,1 % Dengan Selang Waktu Pemasakan 2 dan 4 Minggu.
Perlakuan Sampel Rendemen (%) Sisa Kayu (%) Rendemen
Total (%) Bil. Kappa
Sisa Lignin (%) 2 Minggu 52,7170 0,2483 52,9653 64,5391 9,8609 4 Minggu 45,4351 0,4201 45,8552 71,998 10,7997
Tabel 3. Sifat Fisika dan Mekanika Kertas Jenis Kayu Terap Dengan Menggunakan AQ 0,1 % Dengan Selang Waktu Pemasakan 2 dan 4 Minggu. Perlakuan Sampel Derajat Giling Berat Kertas (gr) Berat Kertas m2 (g) Tebal Kertas (mm) Berat Ruangan (g/m3) Kekuatan Sobek (mN) Kekuatan Lipat (kali) Menit Nilai 2 Minggu 0 10,0 2,73 87,1815 0,1337 0,6523 702,73 21,00 30 23,0 2,48 79,0605 0,0900 0,8785 751,19 4064,50 4 Minggu 0 10,5 2,70 85,0318 0,1110 0,7644 678,50 58,25 30 22,0 2,52 80,2548 0,0925 0,8680 896,85 2749,25
Bersarkan kondisi pemasakan tersebut, diperoleh hasil sifat mekanik kertas sebagai berikut: Pada penyimpanan bahan baku 2 minggu kekuatan
sobek kertas berkisar antara 702,73-751,19 mN. Sedangkan kekuatan lipat
antara 21,00-4064,50 kali. Pada penyimpanan bahan baku 4 minggu didapatkan
hasil pengukuran yakni untuk kekuatan sobek berkisar antara 678,50-896,85 mN. Untuk kekuatan lipat yaitu 58,25-2749,25 kali.
Secara lebih lengkap hasil sifat mekanik kertas tersaji pada
gambar-gambar berikut ini:
Gambar 4. Kekuatan Sobek Pada Penyimpanan 2 Minggu
702,73 751,19 670 680 690 700 710 720 730 740 750 760 kekuatan sobek (mN)
waktu pemasakan (menit)
kekuatan sobek
Gambar 5. Kekuatan sobek pada penyimpanan 4 minnggu
Gambar 6. Kekuatan Lipat Pada Penyimpanan 2 Minggu
678,5 896,85 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 kek uatan sobek (mN)
waktu pemasakan (menit)
kekuatan sobek
0 30 21 4064,5 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500kekuatan slipat (kali)
waktu pemasakan
kekuatan lipat
Gambar 7. Kekuatan Lipat Pada Penyimpanan 4 Minggu
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kekuatan sobek tertinggi sebesar
896,85 yang dicapai pada penyimpanan bahan baku selama 4 minggu dengan
derajat giling 30 menit. Sedangkan kekuatan sobek terendah dicapai pada penyimpanan 4 minggu yakni 678,50 mN dan derajat giling 0 menit.
Kekuatan lipat tertinggi dicapai pada penyimpanan 2 minggu sebesar
4064,50 kali pada derajat giling 30 menit. Adapun kekuatan lipat terendah
sebesar 21,00 kali pada penyimpanan 2 minggu dengan derajat giling 0 menit.
58,25 2749,25 0 500 1000 1500 2000 2500 3000
kekuatan lipat (kali)
waktu pemasakan (menit)
kekuatan lipat
B. Pembahasan
Pemberian asap cair terhadap bahan baku sebelum dilakukan
pemasakan dimaksudkan untuk meningkatkan lama waktu penyimpanan bahan
baku, sehingga penyimpanan dalam waktu tertentu tidak terlalu mempengaruhi
rendemen hasil pemasakan, yang mana dari rendemen tersebut nantinya akan diproses lagi untuk dibentuk menjadi lembaran kertas.
Dari data hasil perhitungan kekuatan sobek kertas pada tabel 3, terlihat
bahwa kertas yang dihasilkan dengan perlakuan penyimpanan dengan asap cair
dan peningkatan derajat giling terdapat pengaruh, yang ditunjukkan dengan meningkatnya kekuatan sobek kertas dari penyimpanan 2 minggu dan 4 minggu.
Penyimpanan bahan baku selama 4 minggu menunjukkan kekuatan sobek yang
lebih tinggi dari pada penyimpanan 2 minggu.
Dari nilai kekuatan sobek yang ditunjukkan pada tabel 3, menunjukkan
nilai yang cukup baik. Kekuatan sobek kertas sangat dipengaruhi oleh panjang
serat. Panjang serat mempunyai sifat utama dalam menentukan kekuatan kertas
dan pengaruh yang paling jelas adalah terhadap kekuatan sobek dan sifat formasi kertas seperti yang dikemukakan Hendayani (1988). Disamping itu,
Haygreen dan Bowyer (1989) juga menyatakan bahwa kekuatan sobek
umumnya dipengaruhi oleh keterpaduan masing-masing serat disamping
kekuatan ikatan antar serat yang menyusun suatu lembaran kertas.
Bila kedua perlakuan penyimpanan bahan baku yakni 2 dan 4 minggu
dengan derajat giling 0, dan 30 menit diperbandingkan, maka perlakuan 4
minggu dengan derajat giling 30 menit lebih optimal dalam meningkatkan kekuatan sobek kertas. Dengan meningkatnya kekuatan sobek menunjukkan
bahwa penyimpanan bahan baku selama 2 dan 4 minggu dengan asap cair dapat membantu menjaga kualitas serat terutama panjang serat.
Hasil berbeda ditunjukkan pada kekuatan lipat kertas. Pada derajat giling
0 menit, dengan penyimpanan 2 dan 4 minggu menunjukkan peningkatan
kekuatan lipat. Namun dengan masa penyimpanan yang sama, dengan derajat giling 30 menit menunjukkan angka penurunan kekuatan lipat. Penyimpanan
bahan baku ternyata dapat mempengaruhi kualitas kertas yang dihasilkan,
walaupun telah digunakan asap cair sebagai penghambat organisme perusak
kayu. Dan apabila diperbandingkan antara perlakuan penyimpanan 2 dan 4 minggu dengan derajat giling sama, yaitu 0 dan 30 menit, maka perlakuan
penyimpanan 2 minggu dengan derajat giling 30 menit lebih optimal dalam
kekuatan lipat kertas.
Perbedaan nilai kekuatan lipat sangat ekstrim terjadi pada kondisi dari 0
ke 30 menit derajat giling. Adanya perlakuan serat (peningkatan derajat giling)
berupa penumbukan, penggilingan, dan pemipihan serat dapat menyebabkan
ikatan hidrogen dari molekul-molekul selulosa akan mengalami peningkatan potensi ikatan maksimum antar serat sebagaimana diungkapakan oleh
Haygreen dan Bowyer (1993).
Kekuatan lipat kertas sangat dipengaruhi oleh tebal dinding serat. Serat
yang berdinding tipis menghasilkan kertas yang lebih kuat, lebih padat, permukaan rata, dan kekuatan lipat yang lebih besar (Hendayani, 1988)
Adanya penggunaan katalisator, dalam hal ini AQ juga diduga berperan
meningkatkan sifat mekanik kertas seperti yang diutarakan Fengel dan Wegener
(1995).
Dengan mengacu pada standar kualitas kelas pulp dan kertas kayu daun lebar (Pasaribu, 1989), maka kualitas pulp dan kertas dari kayu terap dapat
digolongkan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4. Kelas kualitas bahan baku pulp dan kertas dari kayu terap
Sifat Kelas
Besaran Nilai kualitas
Rendemen (%) 45-52 100 I
Alkali (%) 14 100 I
B. Kappa 64-71 12,5 IV
K. Lipat (kali) 21-4064 25 I
Jumlah Nilai 237,5 II
Secara umum dapat disimpulkan bahwa kualitas pulp dan kertas yang dihasilkan dari bahan baku kayu terap dengan perlakuan asap cair tergolong baik
dan dapat di kategorikan dalam kelas II berdasarkan standar bahan baku pulp
dan kertas kayu daun lebar.
Hanya saja perlu dicermati bilangan kappa yang tegolong masih sangat
tinggi. Penggunaan asap cair terhadap bahan baku selama waktu tertentu
(dalam penelitian ini 2 dan 4 minggu) ternyata dapat meningkatkan sifat mekanik
pulp. Akan tetapi kenyataanya dapat meningkatkan sisa lignin, hal ini dapat diketahui dari tingginya bilangan kappa. Bilangan kappa memang berhubungan
erat dengan sisa lignin yaitu semakin tinggi bilangan kappa maka semakin tinggi
kimia pada asap cair telah ikut memperkuat ikatan lignin yang dibuktikan oleh tingginya sisa lignin pada hasil pemasakan yang menggunakan asap cair.
Secara kimia bukan tidak mungkin fungsi asap cair dalam kurun waktu
pemasakan tertentu dapat membantu reaksi bahan pemasak sehingga sifat
bahan pemasak menjadi lebih reaktif dan akhirnya meningkatkan sifat mekanik pulp dan kertas , atau kemungkinan lain asap cair dalam kurun waktu tertentu
akan menghambat kerja AQ, sehingga yang tadinya fungsi AQ sebagai
penghambat reaksi perusakan oleh bahan pemasak dengan asap cair fungsinya
menjadi berkurang.
Untuk penggunaan asap cair sebagai bahan pengawet, menunjukkan hal
yang tepat. Terbukti dengan perlakuan asap cair sifat mekanik pulp mengalami
peningkatan. Ini bisa menjadi petunjuk bahwa kualitas bahan baku yaitu kayu terap tetap terjaga. Darmadji (1996) menyatakan bahwa kayu yang diolesi
dengan asap cair mempunyai ketahanan terhadap serangan rayap daripada
kayu yang tanpa diolesi asap cair, sehingga penggunaan asap cair sangat tepat. (Anonim, 1999) menyatakan bahwa penyimpanan bahan baku merupakan suatu
hal yang penting, karena masa penyimpanan bahan baku yang terlalu lama akan
menyebabkan kerusakan pada bahan baku dari serangan mikroorganisme dan
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Nilai terbaik dari perlakuan penyimpanan bahan baku dengan asap cair
terhadap kekuatan kertas adalah pada penyimpanan bahan baku selama 4
minggu dan derajat giling 30 menit untuk kekuatan sobek, dan penyimpanan 2 minggu dengan derajat giling 30 menit untuk kekuatan lipat.
2. Secara umum dapat disimpulkan bahwa kualitas pulp dan kertas yang
dihasilkan dari bahan baku kayu terap dengan perlakuan asap cair tergolong
baik dan dapat di kategorikan dalam kelas II yang mengacu pada standar bahan baku pulp dan kertas kayu daun lebar.
3. Penggunaan asap cair untuk kurun waktu penyimpanan bahan baku cip
selama 4 minggu dan pemasakan menggunakan AQ terbukti berpengaruh positif berupa meningkatnya kekuatan pulp, sehingga diduga asap cair dapat
membantu mempertahankan kualitas bahan baku untuk kurun waktu
penyimpanan tertentu.
B. Saran
1. Perlu diteliti secara kimia mengapa asap cair yang digunakan sebagai bahan
pengawet dapat meningkatkan bilangan kappa.
2. Perlu diteliti bahan pengawet murah lainnya yang dapat menyimpan bahan
pulp yang menggunakan jenis bahan baku ini dapat menyimpan bahan baku dengan leluasa sehingga kontinuitas produksi dapat dikendalikan.
3. Karena AQ ternyata masih sangat mahal untuk skala produksi, maka
sebaiknya dicarikan alternatif pengganti AQ yang berfungsi sama seperti
AQ.
4. Perlu penelitian lanjutan mengenai pemberian pengawet yang aman dan