• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekurangan dan masalah dalam penyediaan layanan kesehatan bagi seluruh penduduk

disabilitas berat mendapatkan jaminan pendapatan setidaknya dalam jumlah setara dengan tingkat kemiskinan yang didefi nisikan secara nasional dalam bentuk pensiun

4.3. Kekurangan dari sisi Kebijakan dan Implementas

4.3.2. Kekurangan dan masalah dalam penyediaan layanan kesehatan bagi seluruh penduduk

4.3.2.1. Kekurangan dari sisi jangkauan program

Lebih dari 40 persen rakyat Indonesia belum terjangkau asuransi kesehatan

Meskipun beberapa tahun belakangan ini Indonesia mengalami kemajuan pesat dalam peningkatan jangkauan asuransi kesehatan, jumlah warga yang belum memiliki asuransi kesehatan masih cukup besar. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan jangkauan berbagai asuransi kesehatan sebagai berikut (tahun 2010):

Orang miskin: Jamkesmas (32% populasi ), Jamkesda (13% populasi) •

PNS, pensiunan PNS dan Pensiunan TNI/Polri serta anggota keluarganya : PT Askes (7% populasi) •

Pekerja swasta formal dan anggota keluarganya: PT Jamsostek, asuransi swasta, layanan kesehatan oleh •

pengusaha (6% populasi)

Pekerja informal yang tidak miskin beserta keluarganya: Jamsostek LHK (< 1% populasi) •

Angka tersebut menunjukkan adanya kekurangan di mana 41 persen populasi tidak memiliki asuransi kesehatan. Kelompok ini didominasi oleh orang-orang di sektor informal yang tidak masuk kategori miskin, selain juga pekerja swasta formal yang tidak mendapat asuransi kesehatan akibat tingginya penghindaran oleh pengusaha.

Kesalahan penargetan dan tumpang tindih penerima

Di luar angka resmi yang tertera di atas, ada juga orang-orang yang tidak tercakup dalam asuransi kesehatan. Kesalahan tidak memasukkan target atau salah sasaran masih merupakan masalah yang cukup penting dalam Jamkesmas, sebagaimana temuan beberapa studi mengenai sejumlah warga miskin yang tidak menerima manfaat program sementara sebagian warga yang lebih kaya menerima (lihat World Bank, 2011b). Koordinasi, integrasi

database, serta frekuensi pembaruan data sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

Karena pendataan program Jamkesmas dan Jamkesda dilakukan terpisah, tumpang tindih mungkin terjadi sementara pemeriksaan silang belum pernah dilakukan secara sistematis. Dalam wawancara di tingkat kabupaten, beberapa pejabat setempat mengemukakan mereka menemukan warga yang menjadi penerima Jamkesmas dan Jamkesda sekaligus, namun jumlahnya sulit diketahui karena tidak dilakukan cek silangsecara sistematis. Bahkan ditemukan juga kasus warga yang memiliki Askes dan Jamkesmas sekaligus, walaupun hal ini merupakan kasus yang cukup jarang (berdasarkan wawancara dengan petugas PT Askes dan Dinkes di NTT).

Akses Geografi s dan Finansial terhadap Layanan Kesehatan

Warga yang sudah memiliki Jamkesmas kadang masih mengalami hambatan lain seperti biaya transportasi atau urun biaya (out-of-pocket payments) yang harus dikeluarkan. Di daerah pedesaan di mana kebanyakan orang miskin tinggal, khususnya yang berada di pulau kecil atau daerah terpencil, palayanan kesehatan dan tenaga medis sangat

38 P en ila ia n L an d as an P er lin d u n g an S os ia l B er d as ar ka n D ia log Na si on al d i In d on es ia : : Men u ju L an d as an P er lin d u n g an S os ia l In d on es ia

terbatas atau bahkan tidak ada (Sparrow, Suryahadi and Widyanti 2010; MoH, 2009). Bagi para penduduk desa tersebut, puskemas terdekat biasanya terletak di pusat kota kecamatan. Untuk mencapai puskesmas, sering kali warga memerlukan banyak waktu dan biaya transportasi, dan harus kehilangan pendapatan karena waktu yang terpakai. Di luar itu, ketika mereka mengakses layanan tersebut, masih ada biaya yang harus ditanggung sendiri (out-of-poket), meskipun sudah ada asuransi. Walaupun biaya sendiri sudah sangat berkurang karena adanya Jamkesmas, biaya tersebut masih dianggap mahal bagi mereka yang sangat miskin (Sparrow, Suryahadi, Widyanti, 2010).

Data PODES 2011 menunjukkan sebaran pelayanan kesehatan di berbagai wilayah Indonesia. Wilayah yang minim layanan dasar (primary care) banyak terdapat di daerah timur Indonesia dan wilayah yang minim layanan sekunder (secondary care) cukup tersebar di berbagai wilayah di luar Jawa.

Persoalan asuransi kesehatan sangat erat kaitannya dengan penyediaan perawatan kesehatan. Sebuah penilaian terhadap program kartu sehat yang dilaksanakan 1999-2002, sebelum Jamkesmas (Pradhan, Saadah & Sparrow, 2007), memperlihatkan bahwa kombinasi distribusi kartu sehat dan dukungan anggaran tambahan untuk infrastruktur perawatan kesehatan berkontribusi meningkatkan akses dan penggunaan layanan perawatan kesehatan lima kali lebih banyak dari distribusi kartu sehat saja. Ini memperlihatkan bahwa perbaikan di sisi demand (permintaan) harus dibarengi dengan perbaikan di sisi supply (penawaran).

Pada saat konsultasi di sejumlah provinsi, beberapa persoalan terkait diskriminasi diungkapkan. Ada persepsi bahwa pasien Jamkesmas mendapat perawatan/pengobatan yang lebih rendah kualitasnya atau mereka harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan perawatan atau syarat admisnistrasi yang ketat.

Tantangan yang dihadapi BPJS Kesehatan dalam memperluas jangkauan

Transformasi PT Askes menjadi BPJS Kesehatan dibarengi dengan perluasan jangkauan layanan dari hanya PNS dan pensiunan TNI/Polri menjadi seluruh masyarakat. Dengan demikian juga diperlukan peningkatan kapasitas layanan yang cukup besar.

Melalui konsultasi dan wawancara, pegawai PT Askes di tingkat provinsi dan kabupaten mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar untuk PT Askes saat ini adalah untuk meningkatkan kapasitasnya agar dapat menjangkau seluruh masyarakat, dan melebur berbagai jaminan kesehatan yang saat ini berjalan sendiri-sendiri. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, perluasan cakupan kepada pekerja informal diperkirakan akan sulit dilakukan apabila peserta diharuskan menanggung iuran spenuhnya.

Khusus untuk pegawai sektor formal yang akan berpindah dari program Jamsostek JPK, akan ada perubahan dalam iuran: iuran Jamsostek JPK dibayar sepenuhnya oleh pengusaha, sementara iuran untuk asuransi kesehatan yang baru akan ditanggung bersama oleh pekerja dan pengusaha. Hal ini memerlukan sosialisasi di kalangan pekerja agar tidak terjadi penolakan akibat ketidaktahuan.

4.3.2.2. Kekurangan dari sisi tingkat perlindungan

Beberapa penyakit tidak ditanggung oleh mayoritas program asuransi yang ada

Beberapa penyakit seperti HIV saat ini masih dikecualikan dari kebanyakan skema asuransi yang ada. Meskipun Jamsostek baru-baru ini mengubah kebijakannya dengan memasukkan penyakit tersebut, asuransi lain masih belum belum terlihat bergerak ke arah yang sama. Berdasarkan Rancangan Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan, beberapa jenis penyakit yang sebelumnya tidak ditanggung akan masuk dalam paket manfaat, termasuk di dalamnya HIV. Undang-Undang No. 24/2011 mengamanatkan bahwa manfaat yang diterima tidak boleh kurang dari manfaat yang disediakan oleh program sebelumnya.

Dalam perkembangannya, HIV terus mendapat perhatian khusus. Selain menjadi salah satu indikator Tujuan Pembangunan Milineum (MDG), para pemangku kepentingan merasa bahwa pengobatan dan pencegahan penyakit HIV harus menjadi bagian dari strategi jaminan kesehatan nasional. Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan dan pencegahan penyakit tersebut juga dipandang sebagai investasi untuk mencegah biaya

39 yang lebih besar di masa depan. Selain itu, ODHA yang mendapat perawatan kesehatan yang diperlukan dapat tetap aktif dan berkontribusi terhadap perekonomian.

Diskusi dan konsultasi yang diselenggarakan selama proses penilaian juga menyatakan perlunya upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak dengan menyediakan tes dan upaya pengobatan bagi ibu hamil untuk penyakit serius yang dapat ditularkan dari sang ibu kepada anaknya, seperti HIV dan Sipilis. Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PMTCT) merupakan langkah krusial untuk mengurangi prevalensi HIV di kalangan anak-anak. Di samping itu, Sipilis, yang sebenarnya biaya tes dan pengobatannya sangat murah, terbukti dapat menyebabkan kematian bayi, abortus spontan, kematian sebelum lahir, infeksi kelahiran dan bayi lahir dengan berat rendah (WHO, 2005).

Belum ada paket manfaat yang jelas serta data aktuaria yang mendalam dalam program jamkesmas yang sekarang

Perkiraan biaya Jamkesmas saat ini belum didasarkan pada perhitungan aktuaria yang mendalam, dan belum memiliki data komprehensif mengenai penerima manfaat, utilisasi, dan lain sebagainya. Program ini juga belum memiliki paket manfaat yang de nitif.

Kurangnya data dan tidak adanya kalkulasi yang memadai terkait biaya manfaat, mengancam keberlangsungan dari skema tersebut (yang sepenuhnya dibiayai oleh Pemerintah). Lebih dari itu, penerima manfaat, yang tidak tahu layanan apa saja yang menjadi hak mereka mungkin akan ragu atau tidak berani untuk mengajukan keluhan apabila mereka tidak mendapat layanan tertentu.

Upaya yang tengah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan lembaga terkait lain adalah memperbaiki database

dan mendesain paket-paket manfaat khusus yang merupakan langkah krusial terhadap pengembangan sistem asuransi kesehatan sosial yang berkelanjutan.