• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.2. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian

5.1.2.7. Kekurangan Penerimaan (X 6 )

Kekurangan penerimaan dalam penelitian ini merupakan faktor keenam yang variansnya diduga mempengaruhi varians variabel terikat opini audit yang diberikan BPK – RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.

Secara operasional, faktor ini diartikan sebagai adanya penerimaan yang sudah menjadi hak daerah tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah, tetapi tidak atau belum masuk ke kas daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan. Kekurangan penerimaan dalam penelitian ini diukur berdasarkan jumlah kasus temuan audit.

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4

2008 2009 2010 2011

Statistik deskriptif kasus kekurangan penerimaan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011 ditunjukkan pada Tabel 5.8. dibawah ini.

Tabel 5.8. Statistik Deskriptif Kasus Kekurangan Penerimaan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011

Statistik Deskriptif Jumlah Kasus 2008 2009 2010 2011

Terbanyak (Maksimum) 6 6 6 8

Tersedikit (Minimum) 1 0 0 0

Rata - rata 2.74 2.56 2.67 3.11 Standar Deviasi 1.29 1.85 1.64 1.74

Sumber : Lampiran 4.

Sumber : Diolah dari Tabel 5.8.

Gambar 5.8. Tren Kasus Kekurangan Penerimaan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011 Tabel dan Gambar di atas mendeskripsikan bahwa secara rata – rata jumlah temuan kasus kekurangan penerimaan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2008 hingga tahun 2011, hal terlihat dari rata – rata jumlah temuan kasus ini pada tahun 2008 sebanyak 2.74 kasus dengan standar deviasi 1.29, turun menjadi 2.56 kasus dengan standar deviasi 1.85 pada tahun 2009, kemudian naik menjadi 2.67 dengan

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5

2008 2009 2010 2011

standar deviasi 1.64 pada tahun 2010, dan naik tajam menjadi 3.11 kasus dengan standar deviasi 1.74 pada tahun 2011. Kasus kekurangan penerimaan daerah terbanyak terbanyak ditemukan pada LKPD Provinsi Sumatera Utara, yakni 8 Kasus pada tahun 2011, sedangkan Kabupaten Karo dan Kota Tanjung Balai dan pada tahun 2009, Kota Tebing Tinggi pada tahun 2010 serta Kota Tanjung Balai pada pada tahun 2011 merupakan Kabupaten/Kota yang terlepas dari temuan kasus ini.

5.1.2.8. Administrasi (X7)

Administrasi dalam penelitian ini merupakan faktor ketujuh yang variansnya diduga mempengaruhi varians variabel terikat opini audit yang diberikan BPK – RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.

Secara operasional, faktor ini diartikan sebagai adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan asset maupun operasional, tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian daerah, tidak mengurangi hak daerah (kekurangan penerimaan), tidak menghambat program entitas dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana. Administrasi dalam penelitian ini diukur berdasarkan jumlah kasus temuan audit.

Statistik deskriptif kasus administrasi Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011 ditunjukkan pada Tabel 5.9.

dibawah ini.

Tabel 5.9. Statistik Deskriptif Kasus Administrasi Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011

Statistik Deskriptif Jumlah Kasus 2008 2009 2010 2011

Terbanyak (Maksimum) 12 9 7 8

Tersedikit (Minimum) 2 0 0 0

Rata - rata 5.11 4.67 3.00 3.96 Standar Deviasi 2.62 2.22 1.75 2.05

Sumber : Lampiran 4.

Sumber : Diolah dari Tabel 5.9.

Gambar 5.9. Tren Kasus Administrasi Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011

Tabel dan Gambar di atas mendeskripsikan bahwa secara rata – rata jumlah temuan kasus administrasi Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara cenderung menurun berfluktuatif dari tahun 2008 hingga tahun 2011, hal terlihat dari rata – rata jumlah temuan kasus ini pada tahun 2008 sebanyak 5.11 kasus dengan standar deviasi 2.62, turun menjadi 4.67 kasus dengan standar deviasi 2.22 pada tahun 2009, terus turun menjadi 3.00 dengan standar deviasi 1.75 pada tahun 2010, kemudian naik menjadi 3.96 kasus dengan standar deviasi 2.05 pada tahun 2011. Kasus administrasi terbanyak terbanyak ditemukan Kabupaten Serdang Bedagai, yakni 12 Kasus pada tahun 2008, sedangkan Deli

0 1 2 3 4 5 6

2008 2009 2010 2011

Serdang pada tahun 2009, Mandailing Natal pada tahun 2010 dan 2011 merupakan Kabupaten yang terlepas dari temuan kasus ini.

5.1.2.9. Ketidakhematan (X8)

Ketidakhematan dalam penelitian ini merupakan faktor kedelapan yang variansnya diduga mempengaruhi varians variabel terikat opini audit yang diberikan BPK – RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.

Secara operasional, faktor ini diartikan sebagai adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi dari standar, kuantitas/kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Ketidakhematan dalam penelitian ini diukur berdasarkan jumlah kasus temuan audit.

Statistik deskriptif kasus ketidakhematan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011 ditunjukkan pada Tabel 5.9.

dibawah ini.

Tabel 5.10. Statistik Deskriptif Kasus Ketidahematan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011

Statistik Deskriptif Jumlah Kasus 2008 2009 2010 2011

Terbanyak (Maksimum) 4 2 1 3

Tersedikit (Minimum) 0 0 0 0

Rata - rata 0.48 0.56 0.22 0.48 Standar Deviasi 0.85 0.70 0.42 0.85

Sumber : Lampiran 4.

Sumber : Diolah dari Tabel 5.10.

Gambar 5.10. Tren Kasus Ketidakhematan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011

Tabel dan Gambar di atas mendeskripsikan bahwa secara rata – rata jumlah temuan kasus ketidakhematan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara cenderung berfluktuatif dari tahun 2008 hingga tahun 2011, hal terlihat dari rata – rata jumlah temuan kasus ini pada tahun 2008 sebanyak 0.48 kasus dengan standar deviasi 0.85, naik menjadi 0.56 kasus dengan standar deviasi 0.70 pada tahun 2009, turun menjadi 0.22 dengan standar deviasi 0.42 pada tahun 2010, kemudian kembali naik menjadi 0.48 kasus dengan standar deviasi 0.85 pada tahun 2011. Kasus ketidakhematan terbanyak terbanyak ditemukan di Kabupaten Labuhan Batu pada tahun 2008, dengan jumlah 8 kasus.

5.1.2.10. Ketidakefisienan (X9)

Ketidakefisienan dalam penelitian ini merupakan faktor kesembilan yang variansnya diduga mempengaruhi varians variabel terikat opini audit yang diberikan BPK – RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.

0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6

2008 2009 2010 2011

Secara operasional, faktor ini diartikan sebagai permasalahan rasio penggunaan kuantitas/kualitas input untuk suatu satuan output yang lebih besar dari seharusnya. Ketidakefisienan dalam penelitian ini diukur berdasarkan jumlah kasus temuan audit.

Statistik deskriptif kasus ketidakefisienen Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011 ditunjukkan pada Tabel 5.9.

dibawah ini.

Tabel 5.11. Statistik Deskriptif Kasus Ketidakefisienan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011

Statistik Deskriptif Jumlah Kasus 2008 2009 2010 2011

Sumber : Diolah dari Tabel 5.11.

Gambar 5.11. Tren Kasus Ketidakefisienan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011

Tabel dan Gambar di atas mendeskripsikan bahwa secara rata – rata jumlah temuan kasus ketidakefisienan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara cenderung berfluktuatif dari tahun 2008 hingga tahun 2011, hal terlihat dari

0

tidak ditemukannya ini pada tahun 2008 dan 2010, sedangkan pada tahun 2009 dan 2011 ditemukan rata – rata ketidakhematan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara sebesar 0.04 kasus dengan standar deviasi 0.19. Kasus ketidakefisienan terbanyak ditemukan di Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 2009 dan Kabupaten Karo pada tahun 2011, yakni masing – masing 1 kasus.

5.1.2.11. Ketidakefektifan (X10)

Ketidakefektifan dalam penelitian ini merupakan faktor kesepuluh sekaligus faktor terakhir yang variansnya diduga mempengaruhi varians variabel terikat opini audit yang diberikan BPK – RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara. Secara operasional, faktor ini diartikan sebagai adanya kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau hasil yang direncanakan serta fungsi instansi yang tidak optimal, sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.

Ketidakefektifan dalam penelitian ini diukur berdasarkan jumlah kasus temuan audit. Statistik deskriptif kasus ketidakefektifan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011 ditunjukkan pada Tabel 5.12.

dibawah ini.

Tabel 5.12. Statistik Deskriptif Kasus Ketidakefektifan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011

Statistik Deskriptif Jumlah Kasus 2008 2009 2010 2011

Terbanyak (Maksimum) 4 4 3 2

Tersedikit (Minimum) 0 0 0 0

Rata - rata 1.70 1.41 0.85 0.70 Standar Deviasi 1.20 1.22 0.86 0.78

Sumber : Lampiran 4.

Sumber : Diolah dari Tabel 5.12.

Gambar 5.12. Tren Kasus Ketidakefektifan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara dari tahun 2008 hingga tahun 2011

Tabel dan Gambar di atas mendeskripsikan bahwa secara rata – rata jumlah temuan kasus ketidakefektifan Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara cenderung menurun dari tahun 2008 hingga tahun 2011, hal terlihat dari rata – rata jumlah temuan kasus ini pada tahun 2008 sebanyak 1.70 kasus dengan standar deviasi 1.20, turun menjadi 1.41 kasus dengan standar deviasi 1.22 pada tahun 2009, turun kembali menjadi 0.85 dengan standar deviasi 0.86 pada tahun 2010, terus turun menjadi 0.70 kasus dengan standar deviasi 0.78 pada tahun 2011. Kasus ketidakefektifan terbanyak ditemukan di Kabupaten Karo pada tahun 2008 dan di Kota Pematang Siantar pada tahun 2008 dan 2009, masing – masing dengan jumlah 4 kasus.

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8

2008 2009 2010 2011

5.1.3. Hasil Asumsi Klasik

Dokumen terkait