HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.6. Pengujian Hipotesis
5.1.6.2. Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
Hasil pengujian secara parsial dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel berikut ini.
Tabel 5.18. Hasil Pengujian Hipotesis Secara Parsial
Coefficientsa
Model t Sig.
1 (Constant) 20.025 .000
Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan
-2.179 .032
Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
-2.205 .030
Kelemahan Struktur Pengendalian Intern -2.311 .023
Kerugian Daerah -2.063 .042
Potensi Kerugian Daerah -2.736 .007
Kekurangan Penerimaan .126 .900
Administrasi -.226 .821
Ketidakhematan -2.114 .037
Ketidakefisienan -.443 .659
Ketidakefektifan -2.503 .014
a. Dependent Variable: Opini Audit
ttabel df (n-k-1=108-9-1=97) 5%=1.98472
Sumber : Lampiran 7 dan Tabel t.
Tabel di atas menginterpretasikan bahwa :
1. Secara parsial faktor Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan memiliki nilai thitung yang negatif, yakni sebesar -2.179 lebih kecil dari ttabel df (n-k-1=97) 5%= - 1.98472 dan nilai probabiliti lebih 0.032 kecil dari 0.05. Artinya secara parsial faktor Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan berpengaruh negatif signikan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
2. Secara parsial faktor Kelemahan Sistem Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja memiliki nilai thitung yang negatif, yakni sebesar -2.205 lebih kecil dari ttabel df (n-k-1=97) 5%= - 1.98472 dan nilai probabiliti 0.030 lebih kecil dari 0.05. Artinya secara parsial faktor Kelemahan Sistem Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja berpengaruh negatif signikan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
3. Secara parsial faktor Kelemahan Struktur Pengendalian Intern memiliki nilai thitung yang negatif, yakni sebesar -2.311 lebih kecil dari ttabel df (n-k-1=97) 5%= - 1.98472 dan nilai probabiliti 0.023 lebih kecil dari 0.05.
Artinya secara parsial faktor Kelemahan Struktur Pengendalian Intern berpengaruh negatif signikan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara 4. Secara parsial faktor Kerugian Daerah memiliki nilai thitung yang negatif,
yakni sebesar -2.063 lebih kecil dari ttabel df (n-k-1=97) 5%= - 1.98472 dan nilai probabiliti 0.042 lebih kecil dari 0.05. Artinya secara parsial
faktor Kerugian Daerah berpengaruh negatif signikan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
5. Secara parsial faktor Potensi Kerugian Daerah memiliki nilai thitung yang negatif, yakni sebesar -2.736 lebih kecil dari ttabel df (n-k-1=97) 5%= - 1.98472 dan nilai probabiliti 0.007 lebih kecil dari 0.05. Artinya secara parsial faktor Potensi Kerugian Daerah berpengaruh negatif signikan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
6. Secara parsial faktor Kekurangan Penerimaan Daerah memiliki nilai thitung
yang positif, yakni sebesar 0.126 lebih kecil dari ttabel df (n-k-1=97) 5%=
1.98472 dan nilai probabiliti 0.900 lebih besar dari 0.05. Artinya secara parsial faktor Kekurangan Penerimaan Daerah berpengaruh positif tidak signikan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
7. Secara parsial faktor Administrasi memiliki nilai thitung yang negatif, yakni sebesar -0.226 lebih besar dari ttabel df (n-k-1=97) 5%= -1.98472 dan nilai probabiliti 0.821 lebih besar dari 0.05. Artinya secara parsial faktor Administrasi berpengaruh negatif tidak signikan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
8. Secara parsial faktor ketidakhematan memiliki nilai thitung yang negatif, yakni sebesar -2.144 lebih kecil dari ttabel df (n-k-1=97) 5%= -1.98472 dan nilai probabiliti 0.037 lebih kecil dari 0.05. Artinya secara parsial
faktor ketidakhematan berpengaruh negatif signikan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
9. Secara parsial faktor Ketidakefisienan memiliki nilai thitung yang negatif, yakni sebesar -0.443 lebih besar dari ttabel df (n-k-1=97) 5%= -1.98472 dan nilai probabiliti 0.659 lebih besar dari 0.05. Artinya secara parsial faktor ketidakefisienan berpengaruh negatif tidak signikan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
10. Secara parsial faktor ketidakefektifan memiliki nilai thitung yang negatif, yakni sebesar -2.503 lebih kecil dari ttabel df (n-k-1=97) 5%= -1.98472 dan nilai probabiliti 0.014 lebih kecil dari 0.05. Artinya secara parsial faktor ketidakefektifan berpengaruh negatif signikan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
Berdasarkan kesepuluh interpretasi di atas, dijustifikasi bahwa hipotesis secara parsial dalam penelitian ini yang menyatakan : “Terdapat pengaruh secara parsial faktor kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan;
kelemahan sistem pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja; kelemahan struktur pengendalian intern; kerugian daerah, potensi kerugian daerah;
kekurangan penerimaan; administrasi; ketidakhematan, ketidakefisienan dan ketidakefektifan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara”, diterima. Hanya saja, dari 10 faktor yang dianalisis, hanya 7 faktor yang berpengaruh negatif signifkan, yakni kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan; kelemahan sistem
pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja; kelemahan struktur pengendalian intern; kerugian daerah, potensi kerugian daerah; ketidakhematan dan ketidakefektifan. Sedangkan faktor administrasi dan ketidakefisienan berpengaruh negatif tidak signifikan. Faktor kekurangan penerimaan berpengaruh positif tidak signifikan.
5.2. Pembahasan
Penelitian ini mengkaji tentang faktor – faktor yang mempengaruhi pemberian opini audit oleh BPK – RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara. Hasil analisis deskriptif dalam penelitian ini menggambarkan secara rata – rata opini audit diberikan BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara memiliki tren ke arah yang lebih baik dari tahun 2008 hingga tahun 2011. Kabupaten Humbang Hasundutan, Kota Medan dan Kota Sibolga merupakan 3 Kabupaten/Kota yang mendapatkan opini WTP dari BPK RI Kantor Perwakilan Sumatera Utara.
Pemeriksaan atas laporan keuangan dilakukan dalam rangka memberikan pendapat/opini atas kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan. Adapun kriteria pemberian opini menurut UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara pada Penjelasan Pasal 16 ayat (1) menyebutkan opini audit merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada 4 (empat) kriteria, 2 (dua) kriteria diantaranya adalah efektivitas pengendalian intern (SPI) dan kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan. BPK RI dalam IHPS (2012) mengidentifikasi 3 (tiga) faktor sistem pengendalian intern dan 7 (tujuh) faktor yang diduga mempengaruhi pemberian opini, atau secara keseluruhan terdapat 10 (sepuluh)
faktor mempengaruhi pemberian opini, yaitu antara lain : (1) Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan; (2) Kelemahan sistem pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja; (3) Kelemahan struktur pengendalian intern; (4) kerugian daerah; (5) potensi kerugian daerah, (6) kekurangan penerimaan (7), administrasi, (8) ketidakhematan, (9) ketidakefisienan dan (10) ketidakefektifan.
Selanjutnya dalam penelitian ini, kesepuluh faktor di atas digunakan untuk mengkonfirmasi tren opini audit yang diberikan BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara sebagaimana diuraikan di atas.
Hasil uji secara simultan (uji F) dalam penelitian ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh secara simultan faktor kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan; kelemahan sistem pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja; kelemahan struktur pengendalian intern; kerugian daerah, potensi kerugian daerah; kekurangan penerimaan; administrasi; ketidakhematan, ketidakefisienan dan ketidakefektifan terhadap opini audit yang diberikan oleh BPK RI atas LKPD Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara. Bukti temuan penelitian ini sejalan dengan Sunarsih (2010) dan Lasena (2012) yang sama-sama menemukan faktor Kelemahan SPI dan dan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan berpengaruh signifikan terhadap pemberian opini audit, yang dalam penelitiannya difokuskan pada opini disclaimer. Secara parsial, pengaruh masing – masing faktor akan dibahas satu persatu pada pembahasan di bawah ini.
5.2.1 Pengaruh Faktor Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan