• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelahiran Berdasarkan Jenis Kelahiran Bayi

BAB 2. KELAHIRAN PENDUDUK DI PROVINSI DKI JAKARTA

6. Kelahiran Berdasarkan Jenis Kelahiran Bayi

Berdasarkan jenis kelahiran bayi, dalam database SIAK dibedakan atas 4 (empat) macam yaitu kelahiran normal, kelahiran tidak normal, kelahiran prematur, dan kelahiran kembar. Kelahiran normal adalah bayi lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala/ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat bantu, serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi). Proses persalinan normal biasanya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. Sedangkan kelahiran tidak normal/persalinan buatan, adalah persalinan yang berakhir dengan bantuan tenaga dari luar dan diakhiri dengan suatu tindakan. Misalnya terjadinya obstruksi dengan melakukan tindakan forceps atau dengan tindakan bedah sectio caesaria, vakum ektraksi.

17

Berdasarkan hasil dari database operasional selama triwulan 1 tahun 2019, didapat bahwa kelahiran normal merupakan persentase terbesar dalam proses kelahiran bayi di Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebanyak 19.087 bayi (97,36%). Kemudian berikutnya adalah kelahiran tidak normal sebanyak 489 bayi (2,49%), dan kelahiran kembar sebanyak 28 bayi (0,14%) .Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut dibawah ini.

Tabel 2.9. Jenis Kelahiran Bayi di triwulan 1 Tahun 2019

BAYI_JNS_KLHR Laki-Laki Perempuan Grand Total Prosentase

Normal 9.871 9.216 19.087 97.36

Tak Normal 257 232 489 2.49

Kembar 14 14 28 0.14

Total 10.142 9.462 19.604 100.00

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Gambar 5. Grafik Jenis Kelahiran Bayi di DKI Jakarta Triwulan 1 Tahun 2019

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

18

Tabel 2.10. Kelahiran berdasarkan Jenis Kelahiran bayi dan kabupaten triwulan 1 Tahun 2019

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Berdasarkan wilayah, jumlah kelahiran normal paling banyak terjadi di wilayah Jakarta Timur, yaitu sebanyak 5.317 kelahiran. Kemudian disusul Jakarta Barat sebanyak 4.315 kelahiran dan Jakarta Selatan sebanyak 3.763 kelahiran. Untuk kelahiran tak normal, paling banyak terjadi di Jakarta Timur (178 kelahiran) dan Jakarta Barat (94 kelahiran).

Kelahiran kembar paling banyak di Jakarta Pusat (10 kelahiran) dan Jakarta Timur dan Jakarta Barat (7 kelahiran).

7. Kelahiran berdasarkan tempat kelahirannya

Berdasarkan tempat kelahirannya, kelahiran bayi dapat dibedakan menjadi lahir di rumah sakit/rumah bersalin, Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA), rumah, klinik, dan puskesmas.

Berdasarkan hasil database operasional Disdukcapil Provinsi DKI Jakarta, kelahiran bayi paling banyak terjadi di rumah sakit/rumah bersalin, yaitu sebanyak 17.321 kelahiran (89,47%). Kemudian berikutnya adalah di BKIA sebanyak 1.394 kelahiran (7,20%), di klinik sebanyak 320 kelahiran (1,65%), di rumah sebanyak 203 kelahiran (1,05%), dan di Puskesmas sebanyak 122 kelahiran (0,63%).

19

Tabel 2.11. Kelahiran berdasarkan tempat dilahirkan Triwulan 1 tahun 2019

Tempat Kelahiran Total Prosentase

Rumah Sakit/Rumah Bersalin 17.455 89.04

B K I A 1.482 7.56

Klinik 275 1.40

Puskesmas 128 0.65

Rumah 264 1.35

Total 19.604 100.00

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Gambar 6. Grafik Kelahiran berdasarkan tempat kelahiran Triwulan 1 Tahun 2019

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

8. Kelahiran Berdasarkan Urutan Anak di Provinsi DKI Jakarta

Yang dimaksud dengan urutan anak adalah urutan anak dilahirkan dalam keluarga tersebut, apakah ia anak pertama, kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Variabel urutan anak ini digunakan untuk mengetahui urutan anak ke berapakah yang paling banyak terjadi di bulan kelahiran ini, sekaligus jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang ibu.

Data jumlah urutan anak atau jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu bermanfaat bagi penentu kebijakan untuk menyusun kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan ibu dan

20

mengevaluasi pelaksanaan program keluarga berencana di Provinsi DKI Jakarta.

Tabel 2.12. Urutan Kelahiran Anak di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019 Urutan Anak Laki-Laki Perempuan Total Prosentase

Anak ke-1 3.800 3.542 7.342 37,45

Berdasarkan urutan anak, yang paling banyak dilahirkan adalah anak urutan pertama yaitu sebanyak 7.342 anak atau sekitar 37,45 persen. Disusul kemudian dengan kelahiran anak urutan kedua sebanyak 7.021 anak atau sekitar 35,81 persen, anak ketiga sebanyak 3.950 anak atau 20,15 persen, anak keempat sebanyak 997 anak (5,09 persen), dan anak ke-5 sebanyak 208 jiwa (1,06%). Anak ke-6 berjumlah 63 anak (0,32%) , Anak ke-7 berjumlah 18 anak (0,09%) dan urutan lebih dari 7 berjumlah 5 anak (0,03%). Masih banyaknya kelahiran anak urutan ke lima dan seterusnya ini tentu harus mendapat perhatian khusus, karena jika ini terjadi pada keluarga yang kurang mampu akan menimbulkan masalah kesehatan ibu dan masalah keluarga lainnya.

21

Tabel 2.13. Kelahiran Berdasarkan Urutan Anak dan Wilayah di Provinsi DKI Jakarta Triwulan 1 Tahun 2019

Urutan Anak Kep.Seribu Jakpus Jakut Jakbar Jaksel Jaktim Total Anak Ke-1 24 716 1.351 1.608 1.562 2.081 7.342 Anak Ke-2 28 695 1.341 1.625 1.363 1.969 7.021

Anak Ke-3 20 381 797 884 733 1.135 3.950

Anak Ke-4 3 103 238 248 165 240 997

Anak Ke-5 1 25 59 37 28 58 208

Anak Ke-6 1 5 29 9 4 15 63

Anak Ke-7 9 4 2 3 18

Anak Ke-8 1 1 2

Anak Ke-9 1 1 2

Anak Ke-10 1 1

Grand Total 77 1.927 3.825 4.416 3.857 5.502 19.604 Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Gambar 7. Kelahiran berdasarkan Urutan Anak di Provinsi DKI Jakarta Triwulan 1 Tahun 2019

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Berdasarkan kecamatan, kelahiran dengan urutan anak pertama paling banyak terdapat di Kecamatan Cilincing yaitu sebanyak 348 kelahiran (4,74%). Lalu disusul Kecamatan Tanjung Priok sebanyak 329 kelahiran (4,48%) dan Kecamatan Cakung sebanyak 316 kelahiran (4,30%). Sementara jumlah paling sedikit terdapat di Kecamatan Kep.Seribu Selatan sebanyak 5 kelahiran (0,07%), Kecamatan Kep.

22

Seribu Utara sebanyak 19 kelahiran (0,26%), dan Kecamatan Sawah Besar sebanyak 55 kelahiran (0,75%).

Sementara kelahiran dengan urutan anak kedua paling banyak terdapat di Kecamatan Cilincing sebanyak 345 kelahiran (4,91%), Kecamatan Koja sebanyak 318 kelahiran (4,53%), dan Kecamatan Kalideres sebanyak 316 kelahiran (4,50%). Sementara jumlah paling sedikit terdapat di Kecamatan Kep. Seribu Selatan 10 kelahiran (0,14%), Kecamatan Kep. Seribu Utara 18 kelahiran (0,26%) dan Kecamatan Cempaka Putih 50 kelahiran (0,71%)

Untuk kelahiran dengan urutan anak ketiga, paling banyak terdapat di Kecamatan Cilincing dengan 211 kelahiran (5,34%), Kecamatan Koja dengan 202 kelahiran (5,11%), dan Kecamatan Cakung dengan 198 kelahiran (5,01%). Sementara jumlah paling sedikit terdapat di Kecamatan Kep.Seribu Utara, Kecamatan Kep. Seribu Selatan dan Kecamatan Setia Budi dengan jumlah masing masing 9 kelahiran (0,23%), 11 kelahiran (0,28%), dan 25 kelahiran (0,63%)

Untuk kelahiran dengan urutan anak keempat, paling banyak terdapat di Kecamatan Cilincing dengan jumlah 70 kelahiran (7,02%), Kecamatan Koja dengan 61 kelahiran (6,12%), dan Kecamatan Cakung dengan 45 kelahiran (4,51%). Untuk jumlah paling sedikit terdapat di kecamatan Kep. Seribu Utara, Kep. Seribu Selatan dan Kecamatan Setia Budi dengan 1 kelahiran (0,10%), 2 kelahiran (0,20%) dan 7 kelahiran (0,70%).

Untuk kelahiran dengan urutan anak kelima, paling banyak terdapat di Kecamatan Koja, Cilincing, dan Kecamatan Tanjung Priok dengan jumlah masing masing 19 kelahiran, 15 kelahiran, dan 12 kelahiran. Sementara jumlah paling sedikit terdapat di Kec. Kep. Seribu Selatan, Kec. Mampang Prapatan dan Kec. Taman Sari dengan jumlah masing-masing 1 kelahiran..

23

9. Kelahiran Berdasarkan Usia Ibu dan Urutan Anak

Seperti diketahui, usia Ibu mempunyai pengaruh terhadap resiko melahirkan maupun terhadap kondisi bayi yang dilahirkan. Ibu yang hamil pada usia diatas 35 tahun memiliki resiko lebih tinggi dalam proses melahirkan karena kesehatan reproduksi wanita pada kondisi ini semakin menurun. Selain itu pada kondisi di atas usia 35 tahun, penyakit-penyakit degeneratif pada ibu biasanya sudah mulai muncul seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dll sehingga bisa memunculkan komplikasi pada saat proses persalinan. Resiko terhadap bayi adalah bayinya beresiko lahir cacat atau mengidap Syndrome Down. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian yang menyebutkan bahwa pada seiring bertambah usia maka resiko kelahiran bayi dengan down syndrome cukup tinggi yakni 1:50. Hal ini berbeda pada kehamilan di usia 20-30 tahun dengan rasio 1:1500.

Untuk laporan statistik vital ini, pembahasan tidak menyentuh ke dalam aspek kesehatan, namun hanya membandingkan usia ibu dengan variabel urutan anak dan berat lahir bayi.

Tabel 2.14. Usia Ibu berdasarkan kelompok usia dan urutan anak yang dilahirkan di triwulan 1 tahun 2019 Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa anak urutan pertama paling banyak dilahirkan oleh ibu yang berada pada kelompok usia 25-29 tahun dan 20-24 tahun, yaitu berturut turut 3.111 kelahiran dan 2.166 kelahiran. Untuk anak kedua paling banyak dilahirkan oleh ibu pada

24 dilahirkan oleh ibu pada kelompok usia 35-39 tahun yaitu 107 kelahiran.

10. Kelahiran Berdasarkan Usia Ayah

Informasi usia ayah berguna untuk mengetahui usia dari sang ayah sehingga bisa ditarik kesimpulan pada usia berapakah paling banyak dari ayah yang mempunyai anak di triwulan 1 tahun 2019 ini. Berikut dibawah ini adalah tabel kelahiran berdasarkan usia ayah.

Tabel 2.15. Kelahiran berdasarkan Usia Ayah di Provinsi DKI Jakarta Triwulan 1 Tahun 2019

Usia Ayah (tahun) Jumlah Prosentase

15-19 51 0.26

Berdasarkan data diatas, ternyata usia ayah paling banyak berada kelompok usia 30-34 tahun, yaitu berjumlah 5.872 orang (29,95%) Lalu disusul pada kelompok usia 35-39 tahun sebanyak 4.342 jiwa (22,15%) dan kelompok usia 25-29 tahun sebanyak 4.746 jiwa (24,21%). Jika berdasarkan usia produktif (15-64 thn), jumlah ayah yang berusia produktif berjumlah 19.066 jiwa (97,26%)

25

11. Kelahiran Berdasarkan Pekerjaan Ayah di Provinsi DKI Jakarta Berdasarkan jenisnya, pekerjaan ayah dibagi/dikelompokkan menjadi berbagai macam kategori seperti belum/tidak bekerja, buruh, karyawan swasta, pelajar/mahasiswa, pengajar, PNS/TNI/POLRI, Wiraswasta, dan lainnya.

Berdasarkan hal tersebut, setelah dikelompokkan ternyata jenis pekerjaan paling banyak yang ditekuni oleh sang ayah adalah karyawan swasta, yaitu berjumlah 13.354 orang atau sekitar 68,12% dari total jumlah kelahiran yang berjumlah 19.604 orang. Kemudian disusul dengan pekerjaan wiraswasta, yaitu sebanyak 3.127 orang (15,95%). Lalu berikutnya adalah Buruh Harian Lepas sebanyak 611 orang (3,12%), PNS sebanyak 368 orang (1,88%), TNI sebanyak 309 orang (1,58%), dan Guru sebanyak 192 orang (0,98%). Untuk data selengkapnya bisa dilihat pada tabel berikut dibawah ini.

Tabel 2.16. Kelahiran berdasarkan pekerjaan ayah di Provinsi DKI Jakarta, Triwulan 1 Tahun 2019

AYAH_PEKERJAAN Total Prosentase

Karyawan Swasta 13354 68.12

Wiraswasta 3127 15.95

Buruh Harian Lepas 611 3.12

Pegawai Negeri Sipil 368 1.88

Tentara Nasional Indonesia 309 1.58

Guru 192 0.98

Pedagang 185 0.94

Pelajar/Mahasiswa 175 0.89

Karyawan BUMN 154 0.79

Nelayan/Perikanan 54 0.28

Wartawan 34 0.17

Belum/Tidak Bekerja 27 0.14

Dosen 24 0.12

26

AYAH_PEKERJAAN Total Prosentase

Pengacara 14 0.07

Buruh Tani/Perkebunan 3 0.02

Konstruksi 3 0.02

Mengurus Rumah Tangga 3 0.02

Notaris 3 0.02

Petani/Pekebun 3 0.02

Ustadz/Mubaligh 3 0.02

Lainnya 2 0.01

Peternak 2 0.01

Anggota DPR-RI 1 0.01

Buruh Nelayan/Perikanan 1 0.01

Hakim 1 0.01

27

Gambar 8. Grafik Kelahiran berdasarkan Pekerjaan Ayah di Provinsi DKI Triwulan 1 Tahun 2019

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

12. Kelahiran Berdasarkan Pekerjaan Ibu di Provinsi DKI Jakarta

Seperti halnya pekerjaan ayah, pekerjaan ibu juga dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu belum/tidak bekerja, buruh, dokter/bidan/perawat, karyawati, lainnya, Ibu Rumah Tangga (IRT), Pelajar/mahasiswa, PRT, Pengajar, TNI/POLRI/PNS, Wiraswasta dan lainnya. Berikut adalah data kelahiran berdasarkan pekerjaan ibu di triwulan 1 tahun 2019.

Tabel 2.17. Kelahiran berdasarkan pekerjaan ibu di Provinsi DKI Jakarta, Triwulan 1 Tahun 2019

IBU_PEKERJAAN Total Prosentase

Mengurus Rumah Tangga 9697 49.46

Karyawan Swasta 7502 38.27

Wiraswasta 643 3.28

Guru 468 2.39

Pelajar/Mahasiswa 315 1.61

Pegawai Negeri Sipil 247 1.26

Dokter 127 0.65

Karyawan BUMN 107 0.55

Perawat 105 0.54

Bidan 71 0.36

28

IBU_PEKERJAAN Total Prosentase

Karyawan Honorer 36 0.18

Belum/Tidak Bekerja 29 0.15

Buruh Harian Lepas 25 0.13

Tentara Nasional Indonesia 19 0.10

Pedagang 18 0.09

Buruh Tani/Perkebunan 1 0.01

Industri 1 0.01

Nelayan/Perikanan 1 0.01

Notaris 1 0.01

Pengacara 1 0.01

Psikiater/Psikolog 1 0.01

(blank) 123 0.63

Grand Total 19604 100.00

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta Tahun 2019

Berdasarkan tabel diatas, pekerjaan ibu yang paling banyak adalah mengurus rumah tangga, yaitu berjumlah 9.697 orang (49,46 %). Lalu disusul berikutnya karyawati sebanyak 7.502 orang (38,27%), wiraswasta sebanyak 643 orang (3,28%), dan guru sebanyak 468 orang (2,39%).

13. Penerbitan Akta Kelahiran Bayi yang Lahir di Triwulan 1 Tahun 2019

Berdasarkan hasil pengolahan data di database kependudukan, Jumlah penerbitan Akta Kelahiran untuk bayi yang lahir di triwulan 1 tahun 2019 ini berjumlah 19.588 akta kelahiran dengan perincian 10.133 akta kelahiran bayi laki-laki dan 9.455 akta kelahiran bayi perempuan. Hal ini berarti bahwa penerbitan akta kelahiran sudah hampir 100 persen dari

29

total pelaporan kelahiran bayi di triwulan 1 ini. Tentu hal ini cukup membanggakan karena berarti seluruh bayi yang lahir triwulan 1 ini sudah hampir semuanya memiliki akta kelahiran.

Tabel 2.18. Pelaporan Kelahiran dan Penerbitan Akta Kelahiran Bayi Yang Lahir di Triwulan 1 tahun 2019

Wilayah Pelaporan Kelahiran Penerbitan Akta Kelahiran

Prosentase Laki-Laki Perempuan Total Laki-Laki Perempuan Total

KAB.ADM.KEP.SERIBU 43 34 77 43 34 77 100.00

JAKARTA PUSAT 1.024 903 1.927 1.024 903 1.927 100.00

JAKARTA UTARA 2.012 1.813 3.825 2.012 1.813 3.825 100.00 JAKARTA BARAT 2.268 2.148 4.416 2.268 2.148 4.416 100.00 JAKARTA SELATAN 1.956 1.901 3.857 1.948 1.895 3.843 99.64 JAKARTA TIMUR 2.839 2..663 5.502 2.838 2.662 5.500 99.96 Grand Total 10.142 9.462 19.604 10.133 9.455 19.588 99.92

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta Tahun 2019

30

KEMATIAN PENDUDUK DI PROVINSI DKI JAKARTA

TRIWULAN 1 TAHUN 2019

Menurut PBB (WHO), kematian adalah hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Still birth dan keguguran tidak termasuk dalam pengertian kematian. Perubahan jumlah kematian (naik turunnya) di tiap daerah tidaklah sama, tergantung pada kondisi ekonomi, pendidikan, sosial, dan adat istiadat/budaya masyarakatnya, serta masalah kesehatan lingkungan. Besar kecilnya tingkat kematian ini juga dapat menjadi indikator bagi tingkat kesehatan dan tingkat kehidupan penduduk di suatu wilayah, sedangkan bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Indikator kematian ini bermanfaat untuk memonitor kinerjanya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Dalam hal kematian, Indonesia (termasuk DKI Jakarta) mempunyai komitmen untuk mencapai sasaran Millenium DevelopmentGoals (MDG) untuk menurunkan Angka Kematian Anak sebesar dua per tiga dari angka di tahun 1990 atau menjadi 20 per 1000 kelahiran bayi pada tahun 2015 dan menurunkan kematian ibu sebesar tiga perempatnya menjadi 124 per 100.000 kelahiran.

Informasi tentang kematian penduduk Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019 yang bersumber dari registrasi penduduk tersaji sebagai berikut.

3 3

31

1. Jumlah Kematian Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi DKI Jakarta Jumlah kematian yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta pada triwulan 1 tahun 2019 tercatat sebanyak 15.159 jiwa dengan perincian jumlah penduduk yang meninggal di tahun 2019 berjumlah 10.508 jiwa dan jumlah penduduk yang meninggal di luar tahun 2019 berjumlah 4.651 jiwa.

Tabel 3.1. Jumlah Kematian Penduduk Triwulan 1 Tahun 2019

NAMA_KAB Mati di Tahun 2019 Mati di Luar Tahun 2019 Jumlah LK PR Total LK PR Total LK PR Total

KAB.ADM.KEP.SERIBU 7 7 14 8 12 20 15 19 34

JAKARTA PUSAT 656 559 1.215 351 241 592 1.007 800 1.807 JAKARTA UTARA 1.023 815 1.838 465 271 736 1.488 1.086 2.574 JAKARTA BARAT 1.316 956 2.272 558 415 973 1.874 1.371 3.245 JAKARTA SELATAN 1.220 857 2.077 603 485 1.088 1.823 1.342 3.165 JAKARTA TIMUR 1.746 1.346 3.092 738 504 1.242 2.484 1.850 4.334 DKI JAKARTA 5.968 4.540 10.508 2.723 1.928 4.651 8.691 6.468 15.159

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Jika dilihat penduduk yang mati di luar tahun 2019, ternyata jumlahnya masih cukup banyak. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak penduduk yang tidak segera melaporkan kematian keluarganya kepada intansi pelaksana/Disdukcapil. Tentunya ini perlu mendapatkan perhatian lebih dari kita semua demi terwujudnya tertib administrasi kependudukan.

Dalam buku statistik vital ini, hanya jumlah kematian penduduk yang meninggal di tahun 2019 yang akan dibahas lebih lanjut berdasarkan variabel-variabel yang ada.

32

Tabel 3.2. Jumlah Kematian yang tercatat di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019

NAMA_KAB Mati di Tahun 2019

Prosentase Laki-Laki Perempuan Grand Total

KAB.ADM.KEP.SERIBU 7 7 14 0,13

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2018

Berdasarkan Kota/Kabupaten, Jakarta Timur merupakan kotamadya dengan jumlah kematian terbanyak yaitu berjumlah 3.092 jiwa (27,43%).

Kemudian berikutnya adalah Jakarta Barat dengan kematian berjumlah 2.272 jiwa (21,62%), Jakarta Selatan dengan 2.077 jiwa (19,77%), Jakarta Utara dengan 1.838 jiwa (17,49%) dan Jakarta Pusat dengan 1.215 jiwa (11,56%). Untuk kematian di kab. Kep. Seribu hanya berjumlah 14 jiwa (0,13%).

Sementara jika dirinci per bulan maka datanya adalah seperti berikut dibawah ini .

Tabel 3.3. Jumlah Kematian di DKI Jakarta di triwulan 1 tahun 2019 Bulan Laki-Laki Perempuan Total Prosentase

Januari 1.414 1.137 2.551 24,28

Februari 2.085 1.559 3.644 34,68

Maret 2.469 1.844 4.313 41,04

Total 5.968 4.540 10.508 100,00

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

33

Dari tabel diatas, terlihat bahwa selama selama triwulan 1 tahun 2019 kematian per bulan jumlahnya rata-rata sekitar tiga ribuan. Jumlah kematian paling banyak terjadi pada ulan Maret, yaitu sebanyak 4.313 jiwa atau sekitar 41,04%, disusul bulan Februari sebanyak 3.644 jiwa (34,68%) dan bulan Januari sebanyak 2.551 Jiwa (24,28%).

Gambar 9. Kematian di triwulan 1 Tahun 2019 berdasarkan bulan kelahiran

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Jika jumlah kematian dirinci jumlahnya kecamatan, Kecamatan Cilincing merupakan kecamatan dengan jumlah kematian tertinggi di Provinsi DKI Jakarta selama triwulan 1 tahun 2019 dengan jumlah kematian sebesar 491 jiwa (4,67%). Kemudian disusul berikutnya adalah kecamatan Koja dengan 482 jiwa (4,59%) dan Kecamatan Jatinegara dengan 468 jiwa (4,45%). Untuk kecamatan dengan jumlah kematian terendah selama triwulan 1 tahun 2019 adalah Kecamatan Kep. Seribu Selatan dengan 3 jiwa (0,03%), Kecamatan Kep. Seribu Utara dengan jumlah kematian sebesar 11 jiwa (0,10%), dan Kecamatan Menteng 92 jiwa (0,88%)

34

Gambar 1. Grafik kematian terbanyak dan tersedikit di kecamatan

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Tabel 3.4. Data Kematian berdasarkan Kecamatan di DKI Jakarta triwulan 1 tahun 2019

NAMA_KAB NAMA_KEC Laki-Laki Perempuan Total

KAB.ADM.KEP.SERIBU KEP. SERIBU UTR 5 6 11

JAKARTA BARAT GROGOL PETAMBURA 161 105 266

JAKARTA BARAT TAMAN SARI 111 98 209

35

NAMA_KAB NAMA_KEC Laki-Laki Perempuan Total

JAKARTA SELATAN TEBET 171 122 293

JAKARTA SELATAN SETIA BUDI 83 65 148

JAKARTA SELATAN MAMPANG PRAPATAN 58 39 97

JAKARTA SELATAN PASAR MINGGU 190 125 315

JAKARTA SELATAN KEBAYORAN LAMA 161 133 294

JAKARTA SELATAN CILANDAK 74 53 127

JAKARTA SELATAN KEBAYORAN BARU 61 50 111

JAKARTA SELATAN PANCORAN 83 62 145

JAKARTA SELATAN JAGAKARSA 212 130 342

JAKARTA SELATAN PESANGGRAHAN 127 78 205

JAKARTA TIMUR MATRAMAN 167 115 282

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Jika kematian triwulan 1 tahun 2019 dirinci menurut kelurahan, jumlah kematian paling banyak terdapat di Kelurahan Kalibaru sebesar 137 jiwa (1,30%), disusul Kelurahan Lagoa sebanyak 118 jiwa (1,12%) dan Kelurahan Tugu Utara sebanyak 115 jiwa (1,13%). Sementara jumlah kematian paling rendah adalah di Kel. P. Tidung, Senayan dan P. Pari masing-masing 1 jiwa.

36

2. Kematian Berdasarkan Kelompok Usia di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019

Pembahasan kematian berdasarkan usia dimaksudkan untuk mengetahui jumlah kematian penduduk DKI Jakarta berdasarkan usianya.

Pada pembahasan variabel ini, usia ditampilkan secara kelompok. Berikut dibawah ini adalah tabel kematian penduduk DKI Jakarta triwulan 1 tahun 2019.

Tabel 3.5. Kematian berdasarkan kelompok usia triwulan 1 tahun 2019 USIA Laki-Laki Perempuan Grand Total Prosentase

0-4 131 97 228 2,17 meninggal paling muda pada kelompok usia 0-4 tahun, dan tertua berusia pada kelompok 110-114 tahun. Porsentase tertinggi penduduk yang meninggal ada pada kelompok usia 60-64 tahun yaitu 13,19% (1.386 jiwa). Kemudian berikutnya pada kelompok usia 65-69 tahun yaitu sebesar

37

12,53% (1.317 jiwa), dan usia 55-59 tahun sebanyak 11,46% (1.204 jiwa).

Kemudian disusul kelompok usia 70-74 tahun (10,07%).

Secara umum, pola kematian penduduk DKI Jakarta berdasarkan usianya grafiknya menaik mulai dari kelompok usia 15-19 tahun hingga kelompok usia 60-64, kemudian stabil jumlahnya pada kelompok usia 65-69 tahun dan terus menurun hingga kelompok usia tertua yaitu usia 110-114 tahun.

Gambar 2. Grafik Pola kematian penduduk DKI Jakarta berdasarkan Usia triwulan 1 tahun 2019

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, semester Tahun 2019 Berikut dibawah ini adalah kematian penduduk DKI Jakarta berdasarkan kelompok usianya dan per kota.

38

Tabel 3.6. Jumlah Kematian berdasarkan kelompok usia dan per kota triwulan 1 tahun 2019

NAMA_KAB USIA Laki-Laki Perempuan Total

KAB.ADM.KEP.SERIBU 25-29 1 1

39

NAMA_KAB USIA Laki-Laki Perempuan Total

70-74 99 80 179

40

NAMA_KAB USIA Laki-Laki Perempuan Total

100-104 1 1

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta Tahun 2019

3. Kematian Berdasarkan Status Perkawinannya di Provinsi DKI Jakarta Berdasarkan status perkawinan, status seseorang dibedakan menjadi belum kawin, kawin, cerai hidup, dan cerai mati. Dari data kematian yang ada, status perkawinan terbanyak dari penduduk yang meninggal adalah berstatus kawin, yaitu sebanyak 6.987 orang atau sekitar 71,31%. Lalu disusul cerai mati sebanyak 1.548 orang (15,80%), belum kawin sebanyak 1.112 orang (11,35%), dan Cerai Hidup 151 orang (1,54%).

41

Tabel 3.7. Kematian Berdasarkan Status Perkawinan Di Provinsi DKI Jakarta, triwulan 1 Tahun 2019

Status Kawin Laki-Laki Perempuan

Total Persentase Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase

Belum Kawin 765 12,82 416 9,16 1.181 11,24

Kawin 4.822 80,80 2.628 57,89 7.450 70,90

Cerai Hidup 55 0,92 141 3,11 196 1,87

Cerai Mati 326 5,46 1.355 29,85 1.681 16,00

Grand Total 5.968 100,00 4.540 100,00 10.508 100,00 Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Jika dilihat statusnya, status kawin pada laki-laki (80,80%) jumlahnya jauh lebih banyak daripada status kawin pada perempuan (57,89%).

Untuk status cerai hidup, jumlahnya lebih besar pada perempuan (3,11%) dibanding pada laki-laki (0,92%). Sementara pada status cerai mati, jumlah pada perempuan (29,85%) jauh melebihi jumlahnya pada laki-laki (5,46%). Ini mengindikasikan bahwa perempuan lebih dapat bertahan hidup tanpa pasangan jika dibandingkan laki-laki.

Gambar 3. Grafik Kematian Berdasarkan Status Perkawinan di Provinsi DKI Jakarta, triwulan 1 Tahun 2019

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Berikut dibawah ini adalah tabel kematian berdasarkan status kawin dan jumlahnya di tiap kota/kabupaten.

42

Tabel 3.8. Kematian berdasarkan status perkawinan dan Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019

Wilayah

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

4. Kematian Berdasarkan Penyebab Kematiannya di Provinsi DKI Jakarta

Informasi yang tersedia dalam Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) tentang penyebab kematian terdiri dari penyebab karena bunuh diri, kecelakaan, kriminalitas, wabah penyakit, sakit biasa/tua, dan lainnya.

Berdasarkan registrasi pelaporan kematian penduduk yang terjadi sepanjang triwulan 1 Tahun 2019, dari peristiwa kematian penduduk yang dilaporkan, sebagian besar kematian di Provinsi DKI Jakarta disebabkan sakit biasa, yaitu sebanyak 10.058 jiwa (95,72%) dengan perincian laki-laki 5.700 jiwa dan perempuan 4.358 jiwa. Lalu disusul karena penyebab lainnya sebanyak 305 jiwa (2,90%) yang terdiri dari 174 laki-laki dan 131 perempuan. Penyebab kematian berikutnya adalah karena wabah penyakit sebanyak 77 jiwa (0,73%) yang terdiri atas 46 laki-laki dan 31 perempuan. Lalu berikutnya karena kecelakaan 61 jiwa (0,58%), melahirkan 2 jiwa (0,02%), dan kriminalitas 2 jiwa (0,02%). Penyebab kematian penduduk Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019 selengkapnya sebagaimana tabel berikut.

43

Tabel 3.9. Prosentase Kematian Menurut Penyebab Kematian di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019

Penyebab Kematian

Laki-Laki Perempuan Grand

Total % Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019

Gambar 4. Proporsi Penyebab Kematian di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 tahun 2019

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta Tahun 2019

Satu yang perlu disayangkan adalah belum detail/spesifiknya penyebab kematian karena sakit. Semoga ke depannya di dalam informasi SIAK dapat diketahui jenis sakitnya karena informasi ini sangat berguna dalam hal pembenahan masalah kesehatan di Provinsi DKI Jakarta.

Berikut dibawah ini adalah data kematian berdasarkan penyebabnya di rinci berdasarkan kotamadya/kabupaten.

44

Tabel 3.10. Kematian berdasarkan penyebabnya dan kotamadya di DKI Jakarta, triwulan 1 Tahun 2019

Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta Tahun 2019

5. Kematian Berdasarkan Usia dan Penyebabnya di Provinsi DKI Jakarta

Variabel ini untuk melihat penyebab kematian berdasarkan kelompok usianya, dengan asumsi terdapat perbedaan penyebab

Variabel ini untuk melihat penyebab kematian berdasarkan kelompok usianya, dengan asumsi terdapat perbedaan penyebab

Dokumen terkait