BAB 2. KELAHIRAN PENDUDUK DI PROVINSI DKI JAKARTA
13. Penerbitan Akta Kelahiran Bayi
Berdasarkan hasil pengolahan data di database kependudukan, Jumlah penerbitan Akta Kelahiran untuk bayi yang lahir di triwulan 1 tahun 2019 ini berjumlah 19.588 akta kelahiran dengan perincian 10.133 akta kelahiran bayi laki-laki dan 9.455 akta kelahiran bayi perempuan. Hal ini berarti bahwa penerbitan akta kelahiran sudah hampir 100 persen dari
29
total pelaporan kelahiran bayi di triwulan 1 ini. Tentu hal ini cukup membanggakan karena berarti seluruh bayi yang lahir triwulan 1 ini sudah hampir semuanya memiliki akta kelahiran.
Tabel 2.18. Pelaporan Kelahiran dan Penerbitan Akta Kelahiran Bayi Yang Lahir di Triwulan 1 tahun 2019
Wilayah Pelaporan Kelahiran Penerbitan Akta Kelahiran
Prosentase Laki-Laki Perempuan Total Laki-Laki Perempuan Total
KAB.ADM.KEP.SERIBU 43 34 77 43 34 77 100.00
JAKARTA PUSAT 1.024 903 1.927 1.024 903 1.927 100.00
JAKARTA UTARA 2.012 1.813 3.825 2.012 1.813 3.825 100.00 JAKARTA BARAT 2.268 2.148 4.416 2.268 2.148 4.416 100.00 JAKARTA SELATAN 1.956 1.901 3.857 1.948 1.895 3.843 99.64 JAKARTA TIMUR 2.839 2..663 5.502 2.838 2.662 5.500 99.96 Grand Total 10.142 9.462 19.604 10.133 9.455 19.588 99.92
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta Tahun 2019
30
KEMATIAN PENDUDUK DI PROVINSI DKI JAKARTA
TRIWULAN 1 TAHUN 2019
Menurut PBB (WHO), kematian adalah hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Still birth dan keguguran tidak termasuk dalam pengertian kematian. Perubahan jumlah kematian (naik turunnya) di tiap daerah tidaklah sama, tergantung pada kondisi ekonomi, pendidikan, sosial, dan adat istiadat/budaya masyarakatnya, serta masalah kesehatan lingkungan. Besar kecilnya tingkat kematian ini juga dapat menjadi indikator bagi tingkat kesehatan dan tingkat kehidupan penduduk di suatu wilayah, sedangkan bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Indikator kematian ini bermanfaat untuk memonitor kinerjanya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Dalam hal kematian, Indonesia (termasuk DKI Jakarta) mempunyai komitmen untuk mencapai sasaran Millenium DevelopmentGoals (MDG) untuk menurunkan Angka Kematian Anak sebesar dua per tiga dari angka di tahun 1990 atau menjadi 20 per 1000 kelahiran bayi pada tahun 2015 dan menurunkan kematian ibu sebesar tiga perempatnya menjadi 124 per 100.000 kelahiran.
Informasi tentang kematian penduduk Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019 yang bersumber dari registrasi penduduk tersaji sebagai berikut.
3 3
31
1. Jumlah Kematian Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi DKI Jakarta Jumlah kematian yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta pada triwulan 1 tahun 2019 tercatat sebanyak 15.159 jiwa dengan perincian jumlah penduduk yang meninggal di tahun 2019 berjumlah 10.508 jiwa dan jumlah penduduk yang meninggal di luar tahun 2019 berjumlah 4.651 jiwa.
Tabel 3.1. Jumlah Kematian Penduduk Triwulan 1 Tahun 2019
NAMA_KAB Mati di Tahun 2019 Mati di Luar Tahun 2019 Jumlah LK PR Total LK PR Total LK PR Total
KAB.ADM.KEP.SERIBU 7 7 14 8 12 20 15 19 34
JAKARTA PUSAT 656 559 1.215 351 241 592 1.007 800 1.807 JAKARTA UTARA 1.023 815 1.838 465 271 736 1.488 1.086 2.574 JAKARTA BARAT 1.316 956 2.272 558 415 973 1.874 1.371 3.245 JAKARTA SELATAN 1.220 857 2.077 603 485 1.088 1.823 1.342 3.165 JAKARTA TIMUR 1.746 1.346 3.092 738 504 1.242 2.484 1.850 4.334 DKI JAKARTA 5.968 4.540 10.508 2.723 1.928 4.651 8.691 6.468 15.159
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Jika dilihat penduduk yang mati di luar tahun 2019, ternyata jumlahnya masih cukup banyak. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak penduduk yang tidak segera melaporkan kematian keluarganya kepada intansi pelaksana/Disdukcapil. Tentunya ini perlu mendapatkan perhatian lebih dari kita semua demi terwujudnya tertib administrasi kependudukan.
Dalam buku statistik vital ini, hanya jumlah kematian penduduk yang meninggal di tahun 2019 yang akan dibahas lebih lanjut berdasarkan variabel-variabel yang ada.
32
Tabel 3.2. Jumlah Kematian yang tercatat di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
NAMA_KAB Mati di Tahun 2019
Prosentase Laki-Laki Perempuan Grand Total
KAB.ADM.KEP.SERIBU 7 7 14 0,13
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2018
Berdasarkan Kota/Kabupaten, Jakarta Timur merupakan kotamadya dengan jumlah kematian terbanyak yaitu berjumlah 3.092 jiwa (27,43%).
Kemudian berikutnya adalah Jakarta Barat dengan kematian berjumlah 2.272 jiwa (21,62%), Jakarta Selatan dengan 2.077 jiwa (19,77%), Jakarta Utara dengan 1.838 jiwa (17,49%) dan Jakarta Pusat dengan 1.215 jiwa (11,56%). Untuk kematian di kab. Kep. Seribu hanya berjumlah 14 jiwa (0,13%).
Sementara jika dirinci per bulan maka datanya adalah seperti berikut dibawah ini .
Tabel 3.3. Jumlah Kematian di DKI Jakarta di triwulan 1 tahun 2019 Bulan Laki-Laki Perempuan Total Prosentase
Januari 1.414 1.137 2.551 24,28
Februari 2.085 1.559 3.644 34,68
Maret 2.469 1.844 4.313 41,04
Total 5.968 4.540 10.508 100,00
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
33
Dari tabel diatas, terlihat bahwa selama selama triwulan 1 tahun 2019 kematian per bulan jumlahnya rata-rata sekitar tiga ribuan. Jumlah kematian paling banyak terjadi pada ulan Maret, yaitu sebanyak 4.313 jiwa atau sekitar 41,04%, disusul bulan Februari sebanyak 3.644 jiwa (34,68%) dan bulan Januari sebanyak 2.551 Jiwa (24,28%).
Gambar 9. Kematian di triwulan 1 Tahun 2019 berdasarkan bulan kelahiran
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Jika jumlah kematian dirinci jumlahnya kecamatan, Kecamatan Cilincing merupakan kecamatan dengan jumlah kematian tertinggi di Provinsi DKI Jakarta selama triwulan 1 tahun 2019 dengan jumlah kematian sebesar 491 jiwa (4,67%). Kemudian disusul berikutnya adalah kecamatan Koja dengan 482 jiwa (4,59%) dan Kecamatan Jatinegara dengan 468 jiwa (4,45%). Untuk kecamatan dengan jumlah kematian terendah selama triwulan 1 tahun 2019 adalah Kecamatan Kep. Seribu Selatan dengan 3 jiwa (0,03%), Kecamatan Kep. Seribu Utara dengan jumlah kematian sebesar 11 jiwa (0,10%), dan Kecamatan Menteng 92 jiwa (0,88%)
34
Gambar 1. Grafik kematian terbanyak dan tersedikit di kecamatan
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Tabel 3.4. Data Kematian berdasarkan Kecamatan di DKI Jakarta triwulan 1 tahun 2019
NAMA_KAB NAMA_KEC Laki-Laki Perempuan Total
KAB.ADM.KEP.SERIBU KEP. SERIBU UTR 5 6 11
JAKARTA BARAT GROGOL PETAMBURA 161 105 266
JAKARTA BARAT TAMAN SARI 111 98 209
35
NAMA_KAB NAMA_KEC Laki-Laki Perempuan Total
JAKARTA SELATAN TEBET 171 122 293
JAKARTA SELATAN SETIA BUDI 83 65 148
JAKARTA SELATAN MAMPANG PRAPATAN 58 39 97
JAKARTA SELATAN PASAR MINGGU 190 125 315
JAKARTA SELATAN KEBAYORAN LAMA 161 133 294
JAKARTA SELATAN CILANDAK 74 53 127
JAKARTA SELATAN KEBAYORAN BARU 61 50 111
JAKARTA SELATAN PANCORAN 83 62 145
JAKARTA SELATAN JAGAKARSA 212 130 342
JAKARTA SELATAN PESANGGRAHAN 127 78 205
JAKARTA TIMUR MATRAMAN 167 115 282
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Jika kematian triwulan 1 tahun 2019 dirinci menurut kelurahan, jumlah kematian paling banyak terdapat di Kelurahan Kalibaru sebesar 137 jiwa (1,30%), disusul Kelurahan Lagoa sebanyak 118 jiwa (1,12%) dan Kelurahan Tugu Utara sebanyak 115 jiwa (1,13%). Sementara jumlah kematian paling rendah adalah di Kel. P. Tidung, Senayan dan P. Pari masing-masing 1 jiwa.
36
2. Kematian Berdasarkan Kelompok Usia di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
Pembahasan kematian berdasarkan usia dimaksudkan untuk mengetahui jumlah kematian penduduk DKI Jakarta berdasarkan usianya.
Pada pembahasan variabel ini, usia ditampilkan secara kelompok. Berikut dibawah ini adalah tabel kematian penduduk DKI Jakarta triwulan 1 tahun 2019.
Tabel 3.5. Kematian berdasarkan kelompok usia triwulan 1 tahun 2019 USIA Laki-Laki Perempuan Grand Total Prosentase
0-4 131 97 228 2,17 meninggal paling muda pada kelompok usia 0-4 tahun, dan tertua berusia pada kelompok 110-114 tahun. Porsentase tertinggi penduduk yang meninggal ada pada kelompok usia 60-64 tahun yaitu 13,19% (1.386 jiwa). Kemudian berikutnya pada kelompok usia 65-69 tahun yaitu sebesar
37
12,53% (1.317 jiwa), dan usia 55-59 tahun sebanyak 11,46% (1.204 jiwa).
Kemudian disusul kelompok usia 70-74 tahun (10,07%).
Secara umum, pola kematian penduduk DKI Jakarta berdasarkan usianya grafiknya menaik mulai dari kelompok usia 15-19 tahun hingga kelompok usia 60-64, kemudian stabil jumlahnya pada kelompok usia 65-69 tahun dan terus menurun hingga kelompok usia tertua yaitu usia 110-114 tahun.
Gambar 2. Grafik Pola kematian penduduk DKI Jakarta berdasarkan Usia triwulan 1 tahun 2019
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, semester Tahun 2019 Berikut dibawah ini adalah kematian penduduk DKI Jakarta berdasarkan kelompok usianya dan per kota.
38
Tabel 3.6. Jumlah Kematian berdasarkan kelompok usia dan per kota triwulan 1 tahun 2019
NAMA_KAB USIA Laki-Laki Perempuan Total
KAB.ADM.KEP.SERIBU 25-29 1 1
39
NAMA_KAB USIA Laki-Laki Perempuan Total
70-74 99 80 179
40
NAMA_KAB USIA Laki-Laki Perempuan Total
100-104 1 1
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta Tahun 2019
3. Kematian Berdasarkan Status Perkawinannya di Provinsi DKI Jakarta Berdasarkan status perkawinan, status seseorang dibedakan menjadi belum kawin, kawin, cerai hidup, dan cerai mati. Dari data kematian yang ada, status perkawinan terbanyak dari penduduk yang meninggal adalah berstatus kawin, yaitu sebanyak 6.987 orang atau sekitar 71,31%. Lalu disusul cerai mati sebanyak 1.548 orang (15,80%), belum kawin sebanyak 1.112 orang (11,35%), dan Cerai Hidup 151 orang (1,54%).
41
Tabel 3.7. Kematian Berdasarkan Status Perkawinan Di Provinsi DKI Jakarta, triwulan 1 Tahun 2019
Status Kawin Laki-Laki Perempuan
Total Persentase Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase
Belum Kawin 765 12,82 416 9,16 1.181 11,24
Kawin 4.822 80,80 2.628 57,89 7.450 70,90
Cerai Hidup 55 0,92 141 3,11 196 1,87
Cerai Mati 326 5,46 1.355 29,85 1.681 16,00
Grand Total 5.968 100,00 4.540 100,00 10.508 100,00 Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Jika dilihat statusnya, status kawin pada laki-laki (80,80%) jumlahnya jauh lebih banyak daripada status kawin pada perempuan (57,89%).
Untuk status cerai hidup, jumlahnya lebih besar pada perempuan (3,11%) dibanding pada laki-laki (0,92%). Sementara pada status cerai mati, jumlah pada perempuan (29,85%) jauh melebihi jumlahnya pada laki-laki (5,46%). Ini mengindikasikan bahwa perempuan lebih dapat bertahan hidup tanpa pasangan jika dibandingkan laki-laki.
Gambar 3. Grafik Kematian Berdasarkan Status Perkawinan di Provinsi DKI Jakarta, triwulan 1 Tahun 2019
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Berikut dibawah ini adalah tabel kematian berdasarkan status kawin dan jumlahnya di tiap kota/kabupaten.
42
Tabel 3.8. Kematian berdasarkan status perkawinan dan Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
Wilayah
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
4. Kematian Berdasarkan Penyebab Kematiannya di Provinsi DKI Jakarta
Informasi yang tersedia dalam Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) tentang penyebab kematian terdiri dari penyebab karena bunuh diri, kecelakaan, kriminalitas, wabah penyakit, sakit biasa/tua, dan lainnya.
Berdasarkan registrasi pelaporan kematian penduduk yang terjadi sepanjang triwulan 1 Tahun 2019, dari peristiwa kematian penduduk yang dilaporkan, sebagian besar kematian di Provinsi DKI Jakarta disebabkan sakit biasa, yaitu sebanyak 10.058 jiwa (95,72%) dengan perincian laki-laki 5.700 jiwa dan perempuan 4.358 jiwa. Lalu disusul karena penyebab lainnya sebanyak 305 jiwa (2,90%) yang terdiri dari 174 laki-laki dan 131 perempuan. Penyebab kematian berikutnya adalah karena wabah penyakit sebanyak 77 jiwa (0,73%) yang terdiri atas 46 laki-laki dan 31 perempuan. Lalu berikutnya karena kecelakaan 61 jiwa (0,58%), melahirkan 2 jiwa (0,02%), dan kriminalitas 2 jiwa (0,02%). Penyebab kematian penduduk Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019 selengkapnya sebagaimana tabel berikut.
43
Tabel 3.9. Prosentase Kematian Menurut Penyebab Kematian di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
Penyebab Kematian
Laki-Laki Perempuan Grand
Total % Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Gambar 4. Proporsi Penyebab Kematian di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 tahun 2019
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta Tahun 2019
Satu yang perlu disayangkan adalah belum detail/spesifiknya penyebab kematian karena sakit. Semoga ke depannya di dalam informasi SIAK dapat diketahui jenis sakitnya karena informasi ini sangat berguna dalam hal pembenahan masalah kesehatan di Provinsi DKI Jakarta.
Berikut dibawah ini adalah data kematian berdasarkan penyebabnya di rinci berdasarkan kotamadya/kabupaten.
44
Tabel 3.10. Kematian berdasarkan penyebabnya dan kotamadya di DKI Jakarta, triwulan 1 Tahun 2019
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta Tahun 2019
5. Kematian Berdasarkan Usia dan Penyebabnya di Provinsi DKI Jakarta
Variabel ini untuk melihat penyebab kematian berdasarkan kelompok usianya, dengan asumsi terdapat perbedaan penyebab kematian antara kelompok usia bayi/anak – anak dengan kelompok usia tua / lansia.
45
Tabel 3.11. Kematian berdasarkan Kelompok Usia dan Penyebabnya di DKI Jakarta, triwulan 1 Tahun 2019
litas Lainnya Melahirkan
Sakit
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta , Tahun 2019
Secara umum, kematian karena sakit biasa merupakan penyebab yang paling banyak di setiap kelompok umur. Jika ditilik secara prosentase, prosentase kematian karena sakit biasa mencapai 95,72%
dari jumlah seluruh kematian. Penyebab berikutnya adalah karena
‘lainnya’, kecelakaan, wabah penyakit, kriminalitas, dan bunuh diri.
Berikut dibawah ini sedikit ulasan mengenai beberapa karakteristik penyebab kematian berdasarkan kelompok usianya.
Untuk kematian penduduk yang disebabkan oleh sakit biasa, secara umum semakin tua usia jumlahnya semakin bertambah. Jumlah paling banyak terjadi pada kelompok usia 60-64 tahun yaitu 1.347 jiwa. Lalu disusul usia 65 – 69 tahun sebanyak 1.273 jiwa, dan 55-59 tahun sebanyak 1.165 jiwa. Yang juga perlu mendapat perhatian serius adalah
46
usia 0 – 4 tahun karena jumlahnya cukup banyak yaitu 202 jiwa. Data selengkapnya ini bisa dilihat pada grafiknya seperti berikut dibawah ini.
Gambar 5. Kematian Karena Sakit Biasa di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta , Tahun 2019
Untuk kematian penduduk yang disebabkan oleh kecelakaan, paling tinggi terjadi pada kelompok usia produktif 30 – 34 tahun dan 40 – 44 tahun yaitu sebanyak 9 orang, serta pada kelompok usia 50 - 54 tahun dan kelompok 20 - 24 tahun yaitu masing-masing 7 orang. lalu disusul usia 25 – 29 tahun (5 jiwa) dan 35 – 39 tahun (4 jiwa). Data selengkapnya ini bisa dilihat pada grafiknya seperti berikut dibawah ini.
47
Gambar 6. Kematian Berdasarkan Penyebab Kecelakaan di DKI Jakarta, triwulan 1 tahun 2019
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta , Tahun 2019
Pembahasan penyebab kematian penduduk berikutnya yaitu yang disebabkan karena wabah penyakit. Wabah penyakit dapat meliputi penyakit seperti diare, demam berdarah, kolera, malaria yang menjangkiti suatu wilayah dalam satu waktu tertentu. Namun dalam pembahasan ini tidak dapat disebutkan jenis wabah penyakitnya karena memang didalam database tidak diinformasikan jenis penyakitnya.
48
Gambar 7. Kematian karena Wabah Penyakit dan Kelompok Umur di DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta , Tahun 2019
Di triwulan 1 Tahun 2019 ini, jumlah kematian karena wabah penyakit paling banyak terjadi pada kelompok usia 60 – 64 tahun yaitu sebanyak 11 jiwa. Kemudian kelompok usia berikutnya 65-69 tahun dan 50 – 54 tahun, yaitu sebanyak masing-masing 9 jiwa, dan usia 55-59 tahun sebanyak 8 jiwa. Karena itu diharapkan masyarakat untuk dapat lebih menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan tempat tinggal. Data selengkapnya dapat dilihat seperti pada grafik di atas.
49
6. Kematian Berdasarkan Jenis Pekerjaannya di Provinsi DKI Jakarta
Informasi tentang pekerjaan penduduk yang meninggal di Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.12. Kematian Berdasarkan Jenis Pekerjaan di DKI Jakarta, triwulan 1 Tahun 2019
PEKERJAAN Laki-Laki Perempuan Total Prosentase
Akuntan 1 1 0,01
50
PEKERJAAN Laki-Laki Perempuan Total Prosentase
Sopir 72 72 0,69
Tentara Nasional
Indonesia 41 1 42 0,40
Transportasi 1 1 2 0,02
Tukang Jahit 3 4 7 0,07
Ustadz/Mubaligh 1 1 0,01
Wartawan 12 12 0,11
Wiraswasta 1.119 84 1.203 11,45
(blank) 3 3 0,03
Grand Total 5.968 4.540 10.508 100,00
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Dari tabel di atas diketahui bahwa pekerjaan penduduk DKI Jakarta yang meninggal triwulan 1 tahun 2019 yang paling banyak adalah mengurus rumah tangga sebanyak 3.517 jiwa (33,47 %) yang terdiri atas 3.513 perempuan dan 4 laki-laki. Kemudian disusul karyawan swasta sebanyak 2.308 jiwa (21,96%), yang terdiri atas 2.012 laki-laki dan 296 perempuan. Untuk pekerjaan wiraswasta sebanyak 1.203 jiwa (11,45%), terdiri atas 1.119 laki-laki dan 84 perempuan. Untuk data selengkapnya dapat dilihat pada tabel diatas.
Gambar 8. Kematian Berdasarkan Pekerjaan Utama di DKI Jakarta, triwulan 1 Tahun 2019
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
51
7. Kematian Berdasarkan Status Hubungan dalam Keluarga
Status hubungan dalam keluarga adalah hubungan antar masing-masing anggota dalam keluarga, meliputi suami, istri, anak, orang tua, menantu, mertua, cucu, kepala keluarga, dan famili lainnya. Pembahasan variabel ini adalah untuk mengetahui status SHDK apa yang paling banyak pada data kematian triwulan 1 tahun 2019 ini. Berikut dibawah ini adalah tabel kematian berdasarkan SHDK.
Tabel 3.13. Kematian Berdasarkan Status Hubungan Dalam Keluarga Di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
SHDK Laki-Laki Perempuan Grand Total Prosentase
Kepala Keluarga 5.238 1.990 7.228 68,79
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Marilah kita bahas hasil dari tabel diatas. Di triwulan 1 tahun 2019, yang paling banyak dari yang meninggal ternyata berstatus kepala keluarga yaitu berjumlah 7.228 jiwa (68,79%). Kemudian menyusul berikutnya adalah berstatus istri berjumlah 1.775 jiwa (16,89%).
Untuk yang berstatus anak, jumlah yang meninggal ditahun ini berjumlah 861 jiwa (8,19%), terdiri atas 546 anak laki-laki dan 315 anak perempuan. Yang meninggal berstatus orang tua berjumlah 227 jiwa (2,16%), dan berstatus suami hanya berjumlah 3 orang (0,03%). Untuk status yang lainnya dapat dilihat sendiri pada tabel diatas.
52
Gambar 9. Kematian Berdasarkan Status Hubungan dalam Keluarga Di DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Berikut dibawah ini adalah data kematian berdasarkan status hubungan dalam keluarga dirinci menurut kotamadya dan kabupaten.
Tabel 3.14. Kematian Berdasarkan Status Hubungan dan Kota/Kab Di DKI Jakarta, triwulan 1 Tahun 2019
NAMA_KAB SHDK Laki-Laki Perempuan Total KAB.ADM.KEP.SERIBU
53
NAMA_KAB SHDK Laki-Laki Perempuan Total JAKARTA BARAT
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
8. Kematian Berdasarkan Penentu Kematiannya di Provinsi DKI Jakarta Informasi tentang penentu kematian (yang mengeluarkan visum) dalam SIAK, terdiri dokter, kepolisian, tenaga kesehatan lain, dan lainnya.
Tabel 3.15. Kematian Berdasarkan Penentu Kematiannya Di DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
Penentu Kematian Laki-Laki Perempuan Total Prosentase
Dokter 5.756 4.362 10.118 96,29
Kepolisian 12 5 17 0,16
Lainnya 43 41 84 0,80
Tenaga_Kesehatan_Lain 157 132 289 2,75
Grand Total 5.968 4.540 10.508 100,00
54
Gambar 10. Grafik Kematian berdasarkan penentu kematian di Provinsi DKI Jakarta, triwulan 1 tahun 2019
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Penentu Kematian Laki-Laki Perempuan Total Prosentase
Dokter 5.756 4.362 10.118 96,29
Kepolisian 12 5 17 0,16
Lainnya 43 41 84 0,80
Tenaga_Kesehatan_Lain 157 132 289 2,75
Grand Total 5.968 4.540 10.508 100,00
Tabel di atas memperlihatkan bahwa ternyata sebanyak 96,29%
penentu kematiannya dilakukan oleh dokter, kemudian oleh tenaga kesehatan lain sebanyak 2,75%, oleh kepolisian sebanyak 0,16%, dan lainnya sebanyak 0,80%.
Berikut adalah data kematian triwulan 1 Tahun 2019 berdasarkan penentu kematian dan wilayah kota.
Tabel 3.16. Kematian berdasarkan Penentu Kematian dan Kotamadya di DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
NAMA_KAB PENENTU_KEMATIAN Laki-Laki Perempuan Total
KAB.ADM.KEP.SERIBU Dokter 7 6 13
Tenaga_Kesehatan_Lain 1 1
JAKARTA PUSAT Dokter 639 536 1175
Kepolisian 1 1 2
Lainnya 12 15 27
55
NAMA_KAB PENENTU_KEMATIAN Laki-Laki Perempuan Total
Tenaga_Kesehatan_Lain 4 7 11
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Berdasarkan kota/kabupaten, Jakarta Timur merupakan kota dimana penentu kematiannya dilakukan oleh dokter merupakan yang tertinggi jumlahnya dibandingkan dengan kota lainnya, yaitu berjumlah 3.030 jiwa. Sementara Jakarta Barat menyusul di urutan kedua dengan jumlah angka kematian yang penentu kematiannya dilakukan oleh dokter sebesar 2.143 jiwa. Kemudian disusul Jakarta Selatan sebanyak 2.033 jiwa, Jakarta Utara sebanyak 1.724 jiwa dan Jakarta Pusat sebanyak 1.175 jiwa.
9. Kematian Bayi di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun (di bawah satu tahun).
Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
56
1) Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal; adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
2) Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat di Provinsi DKI Jakarta. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program untuk mengurangi jumlah kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus. Sedangkan jumlah Kematian Post-Neo Natal dan jumlah Kematian Anak serta Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gisi dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.
Jumlah Kematian Bayi di Provinsi DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019 tergambar dalam tabel berikut.
Tabel 3.17. Jumlah Kematian Bayi (usia < 1 tahun) Berdasarkan Jenis Kelamin di DKI Jakarta triwulan 1 Tahun 2019
Wilayah Laki-Laki Perempuan Grand Total Prosentase
JAKARTA PUSAT 7 2 9 15,25
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
57
Untuk kematian bayi dengan usia 0 tahun atau di bawah usia 1 tahun, pada triwulan 1 tahun 2019 berjumlah 59 jiwa atau sekitar 0,56%
dari total seluruh kematian penduduk DKI Jakarta dengan rincian 34 bayi laki-laki dan 25 bayi perempuan. Kematian bayi paling banyak terjadi di Jakarta Timur dengan jumlah 25 bayi (42,37%), lalu disusul di Jakarta Utara dengan jumlah 15 bayi (25,42%) dan Jakarta Pusat sebanyak 9 bayi (15,25%). Di Jakatra Selatan berjumlah 7 jiwa (11,86) sementara jumlah paling sedikit terjadi di Jakarta Barat sebanyak 3 bayi (5,08 %).
Berdasarkan kecamatan, 10 kecamatan teratas dengan jumlah kematian terbanyak adalah Kecamatan Cilincing (10 jiwa atau 16,95%), Kec. Matraman (6 bayi atau 10,17%), Kec. Jatinegara (6 bayi atau 10,17%), Kec. Koja (5 bayi atau 8,47%), Kec. Senen (3 bayi atau 5,08%), Kec. Kebayoran Lama (3 bayi atau 5,08%), Kec. Cakung (3 bayi atau 5,08%), Kec. Kemayoran (2 bayi atau 3,39%), Kec. Tebet (2 bayi atau 3,39%) dan Kec. Pulo Gadung (2 bayi atau 3,39%). Dari 10 kecamatan teratas tersebut, terlihat bahwa Jakarta Utara dan Jakarta Timur perlu mendapatkan perhatian khusus agar angka kematian bayi dapat ditekan.
Data selengkapnya kematian bayi berdasarkan kecamatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.18. Kematian Bayi Berdasarkan Kecamatan triwulan 1 Tahun 2019
NAMA_KAB NAMA_KEC Laki-Laki Perempuan Total Prosentase
JAKARTA PUSAT GAMBIR 1 1 1,69
58
NAMA_KAB NAMA_KEC Laki-Laki Perempuan Total Prosentase
JAKARTA SELATAN KEBAYORAN LAMA 2 1 3 5,08
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Sementara jika jumlah kematian bayi dirinci lebih spesifik lagi menurut kelurahan, berikut adalah rinciannya.
Tabel 3.19. 10 Kelurahan Tertinggi Jumlah kematian Bayinya triwulan 1 tahun 2019
NAMA_KAB NAMA_KEL Laki-Laki Perempuan Total
JAKARTA UTARA KALI BARU 3 3 6
Sumber : Database Operasional Disdukcapil Prov.DKI Jakarta, Tahun 2019
Terlihat dari tabel diatas bahwa dari 10 kelurahan dengan jumlah kematian bayi tertinggi di triwulan 1 tahun 2019, kelurahan di Jakarta Barat dan Jakarta Utara mendominasi di urutan atas. Kel. Kali Baru merupakan kelurahan teratas dengan jumlah kematian bayi terbanyak
Terlihat dari tabel diatas bahwa dari 10 kelurahan dengan jumlah kematian bayi tertinggi di triwulan 1 tahun 2019, kelurahan di Jakarta Barat dan Jakarta Utara mendominasi di urutan atas. Kel. Kali Baru merupakan kelurahan teratas dengan jumlah kematian bayi terbanyak