• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALISIS TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM

3.3 Kelas Bawah (Proletar)

Kardi adalah representasi dari kelas bawah yang bekerja sebagai penambang pasir. Kelas bawah merupakan sekelompok masyarakat yang dalam kehidupan ekonominya tergantung pada kelas atas. Kertergantungan itu disebabkan kelas bawah tidak memiliki alat-alat produksi. Pada kasus dalam novel ini masyarakat kelas bawah tidak bisa dengan mutlak dikatagorikan tidak memiliki alat produksi, kerena mereka

masih mempunyai alat-alat penambangan seperti cangkul, sekop, linggis dan senggrong, namun dengan alat-alat yanga dimilikinya mereka tidak bisa berbuat banyak, karena lahan penambangan di Kali Boyong dan tempat lainnya di sepanjang lereng Gunung Merapi sudah dimonopoli oleh seseorang yang bernama Noto Kawignyo.

Monopoli atas sumber daya alam yang dilakukan kelas atas menciptakan kemiskinan yang semakin parah pada kelas bawah. Dari monopoli itu juga kemudian kelas atas bisa dengan mudah menghisap atau mengeksploitasi kelas bawah. Kemiskinan pada masyarakat kelas bawah semakin diperparah oleh keberpihakan negara pada kelas atas, karena negara juga mempunyai kepentingan ekonomi atas kedudukannya. Berikut ini kita akan dapat melihat gambaran kemiskinan serta kondisi yang tidak menguntungkan yang dialami oleh kelas bawah (Proletar).

3.3.1 Miskin dan Dikuasai

Kemiskinan yang dialami kelas bawah bukan disebabkan mereka malas bekerja, melainkan karena lahan pertaniannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga mereka kemudian beralih pekerjaan sebagai penambang pasir. Meski sudah memilih bekerja sebagai penambang pasir, namun hidup mereka tetap miskin karena upah yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Rendahnya pendidikan yang dimiliki kelas bawah secara umum, semakin menutup peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan upah yang lebih besar. Bagi kelas bawah yang pendidikannya setara SMA seperti Kardi pun sulit

untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, karena dia tidak memiliki uang sebagai “pelicin”. Kondisi itu membuat kelas bawah seperti Kardi semakin terpuruk dalam kemiskinannya. Hal itu terbukti pada kutipan (76) dan (77).

(76) Kaardi menelan ludah. Terasa pahit. Sekarang dirinya tiap hari harus bergelut dengan alat-alat pengaruk pasir di Kali Boyong. Setelah bapaknya tak mampu bekerja keras lagi, mau tidak mau dirinya yang harus mencari nafkah untuk menghidupi kedua orang tuanya. Mbok-nya yang Cuma bakul cilik itu penghasilannya tidak menentu. Tidak tiap hari kepasar (hlm.27). (77) Perempuan itu mengangguk-angguk. Dalam temaram cahaya

lampu minyak, ia bisa melihat wajah anak bungsunya itu. Wajah yang beberapa hari terakhir ini tampak keruh. Meski berusaha ditutupi dengan ketegaran. Hal itu terjadi setelah lamarannya untuk menjadi satpam di sebuah pabrik mebel ditolak. Bukan karena tidak memenuhi syarat, tapi karena tidak punya duit untuk menyogok kepala keamanan pabrik itu. Dua juta rupiah agar bisa diterima bekerja sebagai satpam. Dari mana duit sebanyak itu akan di peroleh (hlm.22).

Sebagai penggali pasir pun kelas bawah tidak lepas dari cengkraman kekuasaan kelas atas kerena mereka yang menentukan siapa yang boleh bekerja sebagai penambang pasir atau tidak. Lahan penambangan pasir seperti Kali Boyong seharusnya bisa ditambang oleh siapapun, namun karena kelas atas kaya dan berkuasa maka lahan-lahan penambangan pasir di sepanjang lereng Gunung Merapi diprifatisasi oleh kelas atas. Meski mereka mengetahui praktik monopoli lahan-lahan penambangan pasir disepanjang lereng Gunung Merapi yang dilakukan oleh kelas atas, mereka tetap juga tidak dapat berbuat banyak untuk menolak praktik monopoli tersebut, sebab banyak oknum pejabat baik dari tingkat Desa sampai Kabupaten yang terlibat. Hal itu terlihat pada kutipan (78) dan (79).

(78) “Sekarang saya mau tanaya,” sela Jono, “fungsi Pak Mandor itu apa?”

“Wuah, kami yang muda-muda juga sering bertnya. Juga tidak tahu. Mungkin Pakde Wongso dan Pak Bakri yang sudah lama bekerja di Kali Boyong bisa memberi tahu. Bagaimana dulu-dulunya, kok orang seperti Pak Mandor itu jadi sangat berkuasa,” papar seorang buruh yang masih muda (hlm.64).

(79) ”Teman kita Kardi,” Soleh menunjuk Kardi, ”bisa cerita banyak tentang situasi desa di sana. Juga nasip mereka yang digencet oleh oknum-oknum tertentu. Dia tahu banyak, sebab dia mengalami langsung” (hlm.48).

Sebagai kelas bawah dan rakyat kecil mereka tidak bisa berbuat banyak untuk melakukan perlawanan, mereka hanya bisa pasrah dan menurut kepada penguasa. Kekuasaan kelas atas sampai pada pembungkaman semua aspirasi kelas bawah, bahkan membentuk karekter kelas bawah untuk tunduk dan patuh pada kelas atas jika membangkang meraka akan kehilangan pekerjaan. Tidak adanya perlawana dari kelas bawah ini mengakibatkan kelas atas semakin jaya dan tak tertandingi oleh kelas bawah, baik dalam hal ekonomi maupun kekuasaan. Hal itu terlihat pada kutipan (80).

(80) Mereka serba takut: takut omong, takut bertindak lain daripada yang lain, takut bertanya, takut menjawab, takut mengira-ngira, takut menduga-duga, bahkan konon untuk tertawa pun takut. Hidup jadi mirip robot. Serba seirama, serba satu, serba seragam (hlm.66).

3.3.2 Dihisap Kelas Atas

Kemiskinan yang dialami oleh kelas bawah yang hidup dari bertani, akan mendorong masyarakat untuk mencari pekerjaan selain bertani, hal ini merupakan

peluang yang bisa dimanfaatkan oleh kelas atas, sebab mereka akan mencari dan meminta pekerjaan sebagai penambang pasir. Terlihat pada kutipan (81).

(81) Hemm. Apakah keluarga kuli akan melahirkan kuli pula? Apakah keluarga desa yang miskin juga menurunkan keluarga muda yang semakin miskin? Mungkin. Keluarganya adalah bukti. Bapaknya, Karsowiyono, sejak muda dulu mengandalkan hidup hanya dari hasil mencari pasir di Kali Boyong. Sawah yang dimiliki tidak cukup untuk menopang hidup keluarga dengan tiga anak (hlm.26).

Bentuk pemanfaatan yang dilakukan kelas atas yaitu dengan eksploitasi atau penghisapan. Kesepakantan-kesepakatan yang ditawarkan kelas atas sebenarnya tidak pernah menguntungkan kelas bawah, namun karena kondisi kemiskinan dan kebutuhan pokok yang mendesak untuk dipenuhi pada kelas bawah membuat mereka tidak memiliki posisi tawar (Bargaining position), sehingga mereka merelakan dirinya bekerja dengan kesepakatan atau aturan yang sudah ditentukan oleh kelas atas secara sepihak. Sistem kerja dan pengupahan yang ditentukan sepihak itu penyebab lahirnya praktik penghisapan dan eksploitasi yang semakin hari semakin parah, sebab hanya kelas atas yang hidupnya bisa makmur dengan mendapat laba atau untung yang besar tanpa harus bekerja keras. Terlihat pada kutipan (82).

(82) Sudah berapa juta meter kubik pasir dan batu diangkat dari kali itu dan di bawa kekota-kota besar? Jika dihitung dengan uang, sudah berapa juta dari semuanya itu? Ke mana larinya uang sebesar itu? Siapa yang paling di untungkan? Meski hanya sedikit menguasai teori manajemen pemasaran, Kardi tahu bahwa tiap hari Kali Boyong menghasilkan uang jutaan rupiah. Di sepanjang kali persis di kaki Gunung Merapi itu ada lima tempat penambangan pasir dan batu kali. Di satu tempat saja paling tidak ada dua puluh truk setiap harinya hilir mudik mengangkut pasir untuk dijual ke kota. Untuk sebuah truk ukuran sedang dibutuhkan tiga orang kuli untuk memenuhi bak

truk dengan pasir berkualitas. Tiga orang kuli itu akan mendapat upah yang besarnya telah ditentukan oleh Pak Mandor.

...Pemilik truk itu akan memperoleh laba dari hasil penjualan pasir. Laba mereka konon bisa dua kali lipat dari biaya yang dikeluarkan. Terkadang malah bisa sampai tiga kali lipat.

... Tapi para kuli hidupnya tetap susah. Penghasilan mereka terbatas. Hanya cukup untuk makan (hlm.28).

Meski sudah bekerja dari pagi sampai sore, namun kehidupan ekonomi kelas bawah tetap tidak mengalami perubahan yang siknifikan bahkan semakin berat, karena upah yang didapat tidak sebanding dengan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Kemiskinan yang dialami kelas bawah memang dengan sengaja dijaga dan diciptakan oleh kelas atas supaya mereka semakin tergantung sehingga praktik penghisapan tetap berjalan, dengan demikian semua bentuk tuntutan kenaikan upah tidak akan dipenuhi oleh kelas atas. Hal itu terlihat pada kutipan (83) dan (84).

(83) “Lihat, mereka yang tiap hari bergulat dengan senggrong, linggis, pacul, sekop untuk mengeruk pasir dan batu. Mandi keringat, tulang-tulang remuk, dan hasilnya Cuma cukup untuk beli nasi. Mereka tetap miskin. Sementara kalian menjual di kota dengan harga tinggi, bisa menikmati keuntungan besar. Adil tidak itu?” (hlm.75).

(84) ”Sekarang ini apa yang murah, to Mas,” gerutu Mak Darmi, ”gula pasir naik, teh naik, beras naik, bumbu-bumbu naik, tapi mau menaikkan harga jual makanan, rasanya kok tidak tega,” sambungnya setelah mengeluh.

”Mestinya upah kita juga naik,” celetuk pak Bakri, seorang buruh penambang pasir. ”Bukankah harga jual pasir di kota juga naik? Begitu to, Mas Jono?” tanyanya kemudian pada seorang sopir truk (hlm.62).

3.3.3 Negara Tidak Berpihak

Kemiskinan yang dialami kelas bawah semakin diperparah oleh pemerintah (Negara) yang tidak mau tahu dan peduli dengan keadaan rakyat kecil. Pendidikan

yang didapat dengan mengeluarkan uang banyak, ternyata tidak dapat menjamin lulusannya mendapat pekerjaan, kalau mau bekerja harus mengeluarkan “uang pelicin” yang jumlahnya cukup besar untuk mendapat pekerjaan. Mencari pekerjaan lain selain bertani adalah cara masyarakat kelas bawah untuk bertahan dan mencari kemakmuran ekonomi, karena dengan bertani saja tidak cukup, jika untuk mendapatkan pekerjaan saja harus menjual tanah yang dimilikinya bererti mereka justru bertambah miskin. Hal ini terlihat pada kutipan (85) dan (86).

(85) Meski ia tidak sendirian. Di dusun Karang Salak itu ada lebih dari sepuluh pemuda bernasib apes seperti dirinya. Ijasah SMEA, SMA, STM, ternyata tidak laku dipasaran. Yang laku sekarang ini setumpuk duit untuk menyuap mereka yang punya kuasa menerima atau menolak karyawan baru. Tanpa duit setumpuk, jangan berharap memperoleh pekerjaan. Apalagi tanpa koneksi orang dalam. Lamaran yang dibuat dengan susah payah itu langsung mesuk keranjang sampah (hlm.24).

(86) ... Selama hampir empat tahun ia menawarkan ijasah SMEA yang dimiliki, tak satu perusahaan pun melirik. Juga instansi pemerintah. Pernah dua kali ia ikut mendaftar jadi pegawai negri. Dua kali gagal. Tak pernah lolos dari seleksi awal. Gagal dalam tes tertulis. Dua temannya yang diterima harus merelakan sawah warisan yang dimiliki pindah tangan alias dijual (hlm.25-26).

Kondisi kelas bawah yang semakin menderita atas kemiskinannya ini tidak diperhatikan oleh pejabat pemerintah, seharusnya secara praktis fungsi pemerintah adalah mensejahterakan rakyatnya, namun sikap yang dilakukan para pejabat malah sebaliknya. Rakyat kecil hanya dijadikan alasan utuk menduduki kursi jabatan mereka saja. Keberpihakan negara kepada kelas atas disebabkan faktor ekonomi, karena kelas ataslah yang memainkan perputaran roda ekonomi baik ditingkat

regional maupun nasional . Kebijakan ekonomi yang diatur oleh kelas atas dapat menentukan kebijakan politik tertentu. Hal ini terlihat pada kutipan (87)

(87) Betapa mahal harga yag harus ditebus rakyat kecil. Mereka selama ini dijadikan batu pijakan orang-orang yang mengaku menjadi wakil rakyat itu, ternyata dibohongi. Para wakil rakyat yang kini duduk di kursi empuk bernama DPR dan DPRD, ternyata tak ambil pusing terhadap nasib mereka. Para wakil rakyat itu tiap bulan menerima gaji yang berlebih, mendapat jatah mobil mewah, fasilitas rumah yang memadai, berbagai tunjangan yang bisa menggemukkan kantong mereka, semuanya kini sudah melupakan orang yang diwakili (hlm.155).

Dokumen terkait