• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII VIII

C. Analisa Univariat

2. Kelas VIII

Risiko Perilaku Bullying

Kecemasan Perpisahan

Rendah Tinggi Total

Rendah 10 100 0 0 10 100

Tinggi 8 32.0 17 68.0 25 100

Total 18 51.4 17 48.6 35 100

Santri kelas VIII berjumlah 35 santri, yang mengalami kecemasan kecemasan perpisahan tinggi sebanya 25 santri, dan yang berisiko untuk melakukan tindakan bullying tinggi sebanyak 17 responden.

Risiko Perilaku Bullying

Kecemasan Perpisahan

Rendah Tinggi Total

N % N % N %

Rendah 0 0 22 10 0 22 100

Tinggi 18 85.7 3 14.3 21 100

Total 18 41.9 25 58.1 43 100

Santri kelas IX berjumlah 43 santri. Dari ke 43 santri tersebut, yang mengalami kecemasan tinggi sebanyak 21 responden, dan yang memiliki risiko perilaku bullying tinggi sebanyak 25 responden.

74

PEMBAHASAN

Bab ini akan membahas hasil penelitian yang telah diperoleh, pembahasan merupakan rincian dari hasil penelitian yang dikaitkan dengan tujuan penelitian. Hasil dari penelitian akan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya maupun teori yang ada.

A. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah santri putra & putri pesantren Assanusi Cirebon yang duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), berusia 12 – 15 tahun. Mayoritas responden dalam penelitian ini berada di kelas VII. Responden dalam penelitian ini berjumlah 123 santri, dimana santri laki – laki berjumlah 59 (48,0 %) dan santri perempuan berjumlah 64 (52,0 %).

B. Analisa Univariat

a. Gambaran Kecemasan Perpisahan dengan Orang Tua pada Santri di Pesantren Assanusi Cirebon

Kecemasan perpisahan adalah bentuk kecemasan dan ketakutan anak-anak atau remaja untuk berpisah dengan orang tuanya, kecemasan perpisahan biasanya terjadi akibat adanya kejadian traumatik atau yang sangat menekan kehidupan individu misalnya pindah ke lingkungan yang lain seperti pindah rumah atau pindah sekolah (Joseph, 2012). Kecemasan pada remaja yang berada di pesantren biasanya terjadi pada santri yang

baru masuk di tahun pertama pendidikannya di pesantren karena lingkungan barunya tersebut.

Pada masa ini, remaja banyak mengalami perubahan. Perubahan – perubahan yang dialami oleh remaja akan membuat remaja mendapatkan peran – peran baru dan terikat pada kegiatan – kegiatan baru, dan hal ini menyebabkan kecemasan (Agustiani, 2009).

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa sebagian besar santri mengalami kecemasan tinggi sebanyak 78 responden (63,4%), dan sebagian santri mengalami kecemasan rendah sebanyak 45 responden (36,6%). Kecemasan berpisah paling banyak terjadi pada santri kelas VII yaitu 32 responden (71,1 %), diikuti santri yang duduk di kelas VIII sebanyak 25 responden (71,4 %) dan kelas IX sebanyak 21 responden (48,8 %). Jika dilihat dari jumlah presentasenya, kecemasan tertinggi dialami oleh santri kelas VIII, namun jika dilihat dari jumlah responden kelas VII yang banyak mengalami kecemasan berpisah tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kecemasan perpisahan tidak hanya terjadi pada santri yang baru masuk pesantren, namun bisa terjadi pada santri yang duduk di kelas VIII dan IX. Kecemasan perpisahan dialami oleh santri putri lebih banyak, yaitu 44 responden (68,8 %).

Salah satu peraturan pesantren yaitu santri dilarang sering pulang ke rumah, karena dikhawatirkan santri tersebut tidak betah tinggal dipesantren. Peraturan tersebut dapat menimbulkan kecemasan pada santri, terlebih kunjungan orang tua pun sangat jarang. Biasanya orang tua hanya

berkunjung ke pesantren satu bulan sekali, dan tidak semua santri dikunjungi oleh orang tuanya dan santri hanya bisa pulang ketika liburan pesantren atau liburan sekolah tiba.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmatika (2014), menunjukkan bahwa santri tingkat SMP Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Kebun Jeruk Jakarta mengalami kecemasan perpisahan tinggi sebanyak 32 responden (43,8 %), dan santri yang mengalami kecemasan rendah sebanyak 41 responden (56,2 %). Pada penelitian ini remaja mampu beradaptasi dengan lingkungannya dan mulai bergaul dengan teman sebayanya.

Penelitian yang dilakukan oleh Amirullah (2014), menunjukkan bahwa gangguan kecemasan terjadi sekitar 4% pada anak-anak dan remaja awal. Hal ini terjadi disebabkan karena remaja yang awalnya selalu dekat dengan orang tua kini harus berpisah dengan orang tuanya dan hidup di lingkungan yang baru, hal tersebut dapat menyebabkan remaja mengalami kecemasan.

Kondisi yang menyebabkan remaja mengalami kecemasan yaitu ketika remaja mulai memasuki sekolah yang baru, beban tugas sekolah yang padat, dan pindah ke lingkungan yang lain seperti pindah rumah atau pindah sekolah (Dewi, 2008). Selain itu, remaja mengalami kecemasan akibat dari berpisah dengan orang tuanya.

Hal ini diperkuat oleh jawaban responden terkait pernyataan “Akankah kamu merasa aman ketika pergi ke pesantren bersama dengan orang tua”, hasilnya 62 responden menjawab “Sangat Setuju” dan 33 responden

menjawab “Setuju”. Hasil tersebut menunjukkan bahwa remaja mengalami kecemasan ketika akan berpisah dengan orang tuanya.

b. Gambaran Risiko Perilaku Bullying pada Santri di Pesantren Assanusi Cirebon

Perilaku bullying adalah salah satu kenakalan remaja yang terjadi di berbagai lingkungan termasuk sekolah, perilaku bullying merupakan aktivitas sadar, disengaja, dan bertujuan untuk melukai, menanamkan ketakutan melalui ancaman agresi lebih lanjut, dan niat untuk mencederai (Coloroso, 2007 dalam Adilla, 2009). Sedangkan risiko perilaku bullying adalah risiko untuk melakukan suatu tindakan kekerasan yang dapat menyebabkan seseorang menderita. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan kuesioner untuk menilai tingkat risiko perilaku bullying pada santri di Pesantren Assanusi.

Hasil penelitian yang dilakukan pada santri di pesantren Assanusi didapatkan hasil bahwa mayoritas santri memiliki risiko perilaku bullying rendah sebanyak 59 responden (48,0 %), dan 64 responden (52,0 %) mengalami risiko perilaku bullying tinggi. Risiko perilaku bullying tertinggi dialami oleh santri putra sebanyak 36 responden (61,0 %), sedangkan untuk santri putri yang memiliki risiko perilaku bullying tinggi sebanyak 26 responden (40,6 %).

Penyebab lain terjadinya bullying di pesantren Assanusi disebabkan oleh faktor teman sebaya, karena santri yang tinggal di pesantren lebih dekat dengan teman sebayanya, santri yang berusia remaja ini sering

menyamakan dirinya dengan teman sebaya baik dalam perbuatan maupun perlakuan

Pesantren Assanusi ini memilki komplek kamar, yang mana di dalam setiap komplek memiliki kepala komplek sebagai penanggung jawab para santri ketika di lingkungan komplek, sedangkan di kamar ditempatkan kepala kamar yang mana usia dan lama pesantrenya lebih lama dari santri seusianya di kamar tersebut. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir tindakan bullying dan sejenisnya. Namun ternyata hal ini masih belum efektif karena masih terjadinya bullying.

Terkait dengan penelitian pada santri ini adalah remaja awal yang mana berada dalam masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Menurut Yuliani (2013), masa remaja adalah masa yang rentan dimana pada masa ini emosi remaja masih labil sehingga remaja mudah dipengaruhi oleh teman sebayanya bahkan remaja mudah terjerumus kedalam tindakan kekerasan (Yuliani, 2013).

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Basyirudin (2010), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa santri yang memiliki perilaku bullying tinggi hanya 15 responden (19 %), sedang 51 responden (63,3 %), dan rendah 14 responden (17,7 %). Risiko perilaku bullying sendiri dipengaruhi oleh lingkungan individu, dimana semakin baik lingkungan maka semakin rendah risiko perilaku bullying (Maghfiroh & Rachmawati, 2009). Dalam hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa risiko tindakan bullying dialami juga oleh remaja yang tinggal di pesantren.

Dokumen terkait