BAIK 6) Kantor Bersama SAMSAT Wlingi UPT
5. Kelautan dan Perikanan a Produksi Perikanan
Produksi perikanan terdiri dari produksi di perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Perikanan Tangkap terdiri dari perikanan tangkap di laut dan perikanan tangkap di perairan umum, sedangkan Perikanan Budidaya terdiri dari budidaya laut, tambak, kolam, sawah tambak, mina padi, karamba, dan japung. Produksi perikanan pada tahun 2008 mencapai 790.994 ton, kemudian meningkat sebesar 15,56 persen pada tahun 2009 menjadi 914.088,4 ton, meningkat lagi pada tahun 2010 sebesar 21,80 persen menjadi 1.113.393,5 ton, kemudian dua tahun terakhir meningkat sebesar 9,48 persen dan 7,52 persen atau sebesar 1.218.897,8 ton pada tahun 2011, dan sebesar 1.310.604,2 ton pada tahun 2012.
Konstribusi perikanan tangkap terhadap total produksi perikanan dalam tiap tahunnya semakin menurun. Dalam lima tahun terakhir, tahun 2008 merupakan share yang terbesar mencapai 79,79 persen atau produksinya mencapai 631.105 ton, kemudian menurun terus seperti terjun bebas hanya 29 persen konstribusinya pada tahun 2012 atau produksinya hanya 380.037,7 ton atau hanya naik 1,12 persen terhadap produksi perikanan tangkap tahun 2011. b. Produksi Perikanan Kelompok Nelayan
Produksi Perikanan Kelompok Nelayan dianalogikan dengan produksi Perikanan Tangkap di laut, dimana kelompok ini konstribusinya terhadap produksi perikanan total juga semakin menurun. Dalam lima tahun terakhir, konstribusi produksi kelompok ini tahun 2008 mencapai puncaknya hingga mencapai 74,67 persen, kemudian menurun konstribusinya tahun 2009 menjadi 43,27 persen, 30,44 persen tahun 2010, tahun 201129,75 persen, dan 27,86 persen tahun 2012.
Tabel 2.84
Persentase Produksi Perikanan Laut terhadap Produksi Total 2008-2012
Tahun Volume (Ton) %
Perikanan Laut Produksi Total
(1) (2) (3) (4) 2008 590.634,0 790.994,0 74,67 2009 395.511,0 914.088,4 43,27 2010 338.915,2 1.113.393,5 30,44 2011 362.621,6 1.218.897,8 29,75 2012 365.162,6 1.310.604,2 27,86
Sumber: Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur 6. Perdagangan
a. Kontribusi Sektor Perdagangan Terhadap PDRB
Secara geografis Jawa Timur memiliki posisi yang sangat strategis sebagai transit antara Indonesi Barat dan Indonesia Timur, sehingga tidak mengherankan jika sektor perdagangan, hotel dan restoran menjadi sektor yang memiliki kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB Jawa Timur. Sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan tulang punggung utama bagi perekonomian Jawa Timur. Dari hasil penghitungan PDRB telah diketahui bahwa nilai tambah sektor perdagangan, hotel dan restoran atas dasar harga berlaku tahun 2012 sebesar Rp 304,50 triliun, atau setara dengan 30,40 persen dari total nilai PDRB Jawa Timur. Pertumbuhan sektor ini tahun 2012 sebesar 10,06 persen, lebih besar dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,81 persen.
Apabila dilihat peranannya pada masing-masing subsektor, maka subsektor perdagangan merupakan penyumbang terbesar terhadap sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan kontribusi sebesar 80,02 persen, disusul subsektor restoran dengan kontribusi sebesar 18,14 persen, sedangkan peranan subsektor hotel hanya 1,84 persen. Pada tahun 2011 subsektor perdagangan mengalami pertumbuhan sebesar 9,50 persen, lebih kecil dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh 10,82 persen. Subsektor restoran juga memiliki peranan cukup besar (18,14 persen), dengan pertumbuhan sebesar 11,57 persen, lebih besar dibanding tahun 2010 yang tumbuh 9,49 persen.
Gambar 2.32
Ekspor Jawa Timur Tahun 2009 – 2012 (US $ Miliar)
b. Ekspor Bersih Perdagangan
Dengan
memperhatikan
semakin meningkatnya
perekonomian Jawa
Timur yang ditandai dengan
angka pertumbuhan
ekonomi yang berada di atas angka
nasional, sektor perdagangan
mempunyai kontribusi yang
cukup signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi tersebut.
Termasuk di dalamnya adalah
dampak dari perkembangan ekspor
Jawa Timur ke luar negeri.
Berdasarkan perkembangannya, dari tahun 2009 hingga 2010 nilai ekspor Jawa Timur menunjukkan peningkatan yang signifikan. Namun memasuki tahun 2012 nilai ekspor Jawa Timur tampak menurun dibanding tahun 2011, yaitu sebesar 19,86 persen atau dari US $ 18,90 miliar di tahun 2011 menjadi US $ 15,15 miliar di tahun 2012. c. Cakupan Bina Kelompok Pedagang/Usaha Informal
Data Kadin menyebutkan bahwa jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sangat mendominasi struktur ekonomi di Indonesia, yakni sekitar 99,9 persen. Di samping itu, jumlah Usaha Mikro yang sangat kecil mencapai 98,8 persen.
Usaha skala mikro ini umumnya merupakan usaha informal yang dikelola oleh wirausahawan informal, yang menjadi penyangga penyerapan tenaga kerja, menurut Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto dalam paparan Proyeksi Ekonomi 2013 Kadin. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus lebih serius mengatasi masalah sektor informal, karena sektor ini harus dijadikan
basis wirausahawan mandiri informal untuk
ditransformasikan menjadi formal. Sumber : BPS Provinsi Jawa Timur
Pemerintah perlu melakukan konsolidasi kelembagaan, investasi teknologi terapan tepat guna dan mendorong kewirausahaan UMKM melalui pendidikan.
Tabel 2.85
Cakupan Bina Kelompok Pedagang/Usaha Informal
Tahun 2008 - 2012
Sumber data : Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi dan Kab/Kota
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semakin menjamur di Provinsi Jawa Timur. Akan tetapi, banyak dari mereka yang sifatnya masih usaha informal. Untuk itu, pemerintah perlu membantu usaha informal untuk berkembang menjadi formal.
Berdasarkan tabel cakupan bina kelompok
pedagang/usaha informal selama tahun 2008 sampai dengan 2012, terlihat bahwa upaya Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi Jawa Timur, dalam upaya membantu para pedagang maupun usaha informal berkisar sebesar 32 persen sampai
dengan 35 persen dari jumlah populasi usaha
informal/pedagang yang di ketahui. Kendala Pemerintah Kabupaten/Kota atau Provinsi di Jawa Timur tidak
mempunyai data yang akurat jumlah populasi
pedagang/usaha informal, sehingga sulit menentukan target atau sasaran usaha informal yang perlu di bantu.
7. Perindustrian
a. Kontribusi Sektor Industri Terhadap PDRB
Sektor industri pengolahan merupakan sektor strategis, disamping diharapkan mampu menyerap tenaga kerja sangat besar, sektor ini juga dapat dilakukan ekspansi secara cepat. Hasil penghitungan tahun 2012 total nilai PDRB sektor industri pengolahan atas dasar harga berlaku sebesar Rp
No Uraian 2008 2009 2010 2011 2012
1. Jumlah Kelompok
Pedagang/Usaha Informal yang mendapat bantuan Binaan Pemda
39,510 44,956 43,087 44,533 44,173
2. Jumlah Kelompok
Pedagang/Usaha Informal 111,341 118,740 122,599 130,338 139,398
271,60 triliun, atau setara dengan 27,11 persen dari total nilai PDRB Jawa Timur.
Apabila dilihat perkembangannya selama lima tahun terakhir, kontribusi sektor industri di Jawa Timur cenderung menurun. Secara berurutan kontribusinya tahun 2008 sebesar 28,47 persen, tahun 2009 sebesar 28,14 persen, tahun 2010 sebesar 27,49 persen, tahun 2011 sebesar 27,12 persen, dan tahun 2012 sebesar 27,11persen.
Apabila dilihat peranannya pada masing-masing subsektor, kontribusi terbesar terjadi pada subsektor industri makanan, minuman dan tembakau sebesar 15,31 persen terhadap total nilai PDRB Jawa Timur, dengan pertumbuhan sebesar 7,34 persen, lebih besar dibanding tahun 2011 yang tumbuh 6,26 persen. Kontribusi subsektor kertas dan barang cetakan dan subsektor pupuk, kimia dan barang dari karet masing-masing sebesar 3,58 persen dan 2,28 persen dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 4,14 persen dan 9,96 persen. Pada periode yang sama subsektor logam dasar besi dan baja juga mengalami pertumbuhan cukup tinggi sebesar 8,95 persen, lebih besar dibanding tahun 2011 yang tumbuh 5,65 persen.
b. Pertumbuhan Industri
Sektor industri mempunyai peran yang sangat penting baik sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi maupun dalam pemerataan hasil-hasil pembangunan. Tujuan pembangunan industri diarahkan pada upaya untuk memperkokoh struktur ekonomi Jawa Timur dengan keterkaitan yang kuat dan saling mendukung antar sektor, mampu meningkatkan daya tahan perekonomian Jawa Timur, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, serta sekaligus mendorong berkembangnya kegiatan berbagai sektor pembangunan lainnya.
Pembangunan industri diarahkan pelaksanaannya melalui pengembangan industri-industri yang bertumpu pada upaya pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan kehidupan rakyat, industri yang berorientasi pada ekspor, industri yang menggunakan sumber daya nasional, industri yang memiliki nilai strategis serta berdampak pada pengembangan industri
lainnya, dan industri yang dapat mengembangkan kegiatan ekonomi.
Jumlah perusahaan industri di Jawa Timur mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 2,69 persen selama kurun waktu 2008-2012, dimana pada tahun 2008 sebanyak 702.379 perusahaan meningkat menjadi 796.515 perusahaan pada tahun 2012. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kurun waktu 2010-2011, yaitu sebesar 5,56 persen.
Peningkatan jumlah perusahaan industri setiap tahun mengindikasikan bahwa Jawa Timur merupakan wilayah yang sangat menarik bagi investor untuk berinvestasi.
Tabel 2.86
Jumlah Perusahaan Industri di Jawa Timur Tahun 2008-2012
Uraian 2008 2009 2010 2011 2012
Perusahaan 702.379 716.441 742.671 783.955 761.515
Pertumbuhan (%) 0,63 2,00 3,66 5,56 1,60
Sumber: Dinas Perindag Provinsi Jatim
8. Ketransmigrasian