• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

T- hitung Sig Keterangan

IV. Kelayakan Finansial Sistem agroforestry

Berdasarkan perhitungan nilai Payback Period, Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan Internal Rate of Return (IRR) sistem

agroforestry di Nagari Koto Malintang disajikan dalam Tabel 14. Sementara hasil

perhitungan dapat dilihat pada lampiran 5.

Tabel 14. Nilai Payback Period, Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR)

Payback Period

Net Present Value (NPV)

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Internal Rate of Return (IRR)

2,85 Tahun Rp 2.825.645 1,08 23,09 %

Sumber : Hasil Penelitian

Dari analisis biaya dan pendapatan usahatani Parak selanjutnya dapat dilihat pada lampiran 6. Pengusahaan agroforestry di Nagari Koto Malintang

ternyata mampu memberikan prospek finansial yang cukup baik, dilihat dari parameter NPV, BCR dan IRR pada tingkat suku bunga riil yang berlaku yaitu 18 %. Besarnya tingkat keuntungan bersih per hektar lahan usaha tersebut (Net Present Value) adalah Rp 2.825.645. Untuk nilai BCR sebesar 1,08 artinya

manfaat ekonomi investasi ini adalah 1,08 kali lebih besar daripada nilai biaya total pada tingkat suku bunga 18%. Artinya setiap Rp 1 yang diinvestasikan akan

memberi hasil sebesar Rp 1,08. Karena Net B/C Ratio > 1 maka investasi ini layak secara ekonomis. Sedangkan untuk nilai IRR sebesar 23,09 %, artinya karena pada interest rate = 23.09 % nilai NPV= 0, berarti IRR > suku bunga yang berlaku

18%, sehingga usaha ini layak secara finansial.

Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui tingkat kepekaan sebuah kegiatan (proyek) terhadap adanya perubahan-perubahan. Perubahan yang dimaksud baik berupa perubahan nilai input maupun nilai output serta perubahan tingkat suku bunga. Analisis tersebut, bukan saja dapat dipakai untuk mengetahui kepekaan proyek yang bersangkutan, tetapi juga dapat digunakan untuk membandingkan antar alternatif proyek. Sedangkan resiliensi menunjukkan daya tahan usaha agroforestry terhadap berbagai perubahan.

Pada usaha Parak, dilakukan analisis sensitivitas dengan adanya perubahan yaitu: apabila biaya (Cost) dinaikkan sebesar 10%. Hasil analisis sensitivitasnya dapat dilihat pada tabel 15. Sementara hasil perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 7.

Tabel 15. Analisis Sensitivitas dengan Kenaikan Cost Sebesar 10 % Payback

Period

Net Present Value (NPV)

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Internal Rate of Return (IRR)

5,82 Tahun - Rp 1.785.603 0,95 12,69 %

Sumber : Hasil Penelitian

Dari Tabel 15 dapat dilihat bahwa dengan meningkatnya biaya ternyata usaha Parak memiliki nilai BCR < 1,08 yaitu 0,95 dengan nilai NPV < Rp

2.825.645 yaitu - Rp 1.785.603. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya (cost) sebesar 10% mempengaruhi secara signifikan terhadap kelayakan finansial usaha Parak. Maka dapat dikatakan usaha Parak sensitiv, hal ini ditunjukkan oleh

nilai NPV yang lebih kecil dari 0. Artinya pada tingkat suku bunga yang berlaku sekarang yaitu 18 %, usaha Parak menjadi sensitiv terhadap perubahan. Usaha Parak akan menjadi stabil dengan kenaikan biaya (cost) sebesar 10 % apabila

suku bunga yang berlaku adalah 15,49% dan jika perubahan yang terjadi terhadap kenaikan biaya (cost) adalah sebesar 8 % dengan tingkat suku bunga yang berlaku sebesar 18 %.

Kenaikan biaya (cost) dapat disebabkan oleh kurangnya tenaga kerja yang bekerja di lahan sehingga pengolahan lahan kurang efektif dan efisien karena membutuhkan waktu yang lebih banyak. Kurangnya tenaga kerja yang bekerja di Parak disebabkan sebagian besar pemuda pedesaan yang berpendidikan formal

lebih cenderung tidak memilih sektor pertanian sebagai lapangan kerja utama. Mereka mengharapkan pendapatan yang lebih tinggi melebihi jumlah yang mereka terima jika mereka bekerja di sektor pertanian. Serta adanya tradisi dalam masyarakat minang, bagi pemuda untuk merantau ke luar daerah.

Petani parak juga pada umumnya masih menggunakan metode pertanian tradisional dalam pengelolaan Parak. Hal ini disebabkan karena terbatasnya

penguasaan teknologi dan adopsi inovasi oleh petani. Tingkat pendidikan yang masih rendah dan kurangnya penyuluhan dari instasi terkait menjadi penyebab terbatasnya penguasaan teknologi dan adopsi inovasi oleh petani Parak. Menurut Mubyarto (1989), bahwa penyuluhan berfungsi menjembatani sumber informasi dan teknologi dengan penggunanya/ petani. Kurangnya penyuluhan kepada petani menyebabkan kurangnya informasi dan teknologi baru.

Luasan lahan Parak juga dapat menyebabkan kenaikan biaya (cost). Pemilikan atau penguasaan lahan sempit sudah pasti kurang efisien dibanding lahan yang lebih luas. Semakin sempit lahan usaha, semakin tidak efisien usaha tani yang dilakukan. Karena pada luasan yang lebih sempit, penerapan teknologi cenderung berlebihan dan menjadikan usaha tidak efisien. Petani kurang perhitungan terutama dalam pemberian masukan seperti pupuk misalnya. Padahal sebenarnya pada lahan sempit justru seharusnya efisiensi usaha lebih mudah diterapkan, karena mudahnya pengawasan dan penggunaan masukan, kebutuhan tenaga kerja sedikit serta modal yang diperlukan juga lebih sedikit dan lebih mudah diperoleh. Tetapi pada kenyataanya di lapangan justru hal yang pertama yang lebih banyak dijumpai. Misalnya satu orang petani menguasai lahan parak seluas 0,25 Ha. Petani menggunakan masukan seperti pupuk dan obat-obatan berdasarkan pada keadaan tanaman di lapangan. Bila dilihatnya pertumbuhan tanaman kurang subur, maka mereka akan menambahkan pupuk menurut perhitungan dan kemampuannya, sekalipun hal ini dianggap sudah berlebihan. Hal ini menyebabkan biaya produksi meningkat.

Pola pengusahaan Parak yang lokasinya terpencar-pencar, sehingga menyulitkan pembinaan dan juga menyulitkan untuk mencapai tingkat efisiensi yang diharapkan. Usaha yang terpencar juga mengundang kurang baiknya ekosistem sehingga kondisi seperti itu akan mendorong munculnya serangan hama dan penyakit. Serta menimbulkan masalah dalam pengangkutan hasil panen kelak karena jarak yang jauh dari pusat pemasaran. Masalah-masalah tersebut juga dapat meningkatkan biaya produksi.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam menekan peningkatan biaya produksi antara lain dengan mengadakan penyuluhan yang diberikan oleh instansi terkait, baik dinas pertanian maupun dinas kehutanan setempat sehingga penyerapan teknologi baru dan adopsi inovasi dapat diterima oleh petani Parak dan diterapkan dalam pengelolaan usahanya untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Serta dibentuknya wadah yang dapat menampung hasil produksi petani

Parak seperti koperasi, sehingga mengurangi biaya pengangkutan.

Selanjutnya dilakukan analisis sensitivitas dengan adanya perubahan harga jual diturunkan sebesar 10%. Hasil analisis sensitivitasnya dapat dilihat pada tabel 16. Sementara hasil perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 8.

Tabel 16. Analisis Sensitivitas dengan Penurunan Harga Jual Sebesar 10 %

Payback Period

Net Present Value (NPV)

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Internal Rate of Return (IRR)

4,97 Tahun - Rp 803.584,5 0,97 15,49 %

Sumber : Hasil Penelitian

Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa dengan menurunnya harga jual ternyata usaha Parak memiliki nilai BCR < 1,08 yaitu 0,97 dengan nilai NPV < Rp

2.825.645 yaitu - Rp 803.584,5. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan harga jual sebesar 10% mempengaruhi secara signifikan terhadap kelayakan usaha Parak. Maka dapat dikatakan usaha Parak menjadi sensitiv, hal ini ditunjukkan oleh nilai NPV yang lebih kecil dari 0. Artinya pada tingkat suku bunga yang berlaku

sekarang yaitu 18 %, usaha Parak menjadi sensitiv terhadap perubahan. Usaha Parak akan menjadi stabil dengan penurunan harga jual sebesar 10 % apabila

penurunan harga jual adalah sebesar 8 % dengan tingkat suku bunga yang berlaku sebesar 18 %.

Penurunan harga jual dapat disebabkan oleh kualitas hasil panen yang rendah karena serangan hama dan penyakit, perencanaan usaha pertanian yang didasarkan pada perencanaan kebutuhan pasar jarang dilakukan sehingga dijumpai produksi yang melimpah pada masa panen tiba. Akibatnya harga jual menjadi jatuh. Adanya sistem kelembagaan di pedesaan yang kurang mendukung. Sistem kelembagaan yang lamban dalam merespons perubahan yang terjadi menjadi kendala, akibatnya masalah sering dijumpai adanya fluktuasi produksi dan harga yang sangat tinggi. Keseragaman jenis tanaman yang ditanam petani karena melihat petani lain berhasil dengan tanaman tersebut, akibatnya petani lain ikut menanam jenis yang sama. Pada saat panen hasil melimpah dan menyebabkan harga jual komoditi tersebut menurun. Tingkat produksi kebun agak rendah.

Jarak pusat pemasaran yang jauh juga menyebabkan harga jual menurun, karena terlalu banyak rantai pemasarannya, seperti dari petani ke tengkulak, kemudian pengecer besar, pengecer kecil baru sampai ke konsumen. Petani tidak punya kemampuan untuk mendesak penentuan harga komoditas ekspor. Koperasi perdagangan baru terbatas di beberapa desa saja, dan masih perlu dikembangkan untuk memastikan pengawasan harga yang lebih baik dengan memperbesar simpanan, kesempatan mendapat kredit, dan kekuatan untuk bernegosiasi dengan pedagang besar di Padang.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam menekan penurunan harga jual antara lain dengan membentuk kelompok tani sehingga mengurangi persaingan dalam pemasaran dan mengurangi keseragaman jenis yang ditanam agar pada saat

panen komoditi tersebut tidak melimpah sehingga harga di pasaran tidak jatuh. Pengelolaan yang lebih efisien dan efektif serta penggunaan teknologi yang tepat sehingga dapat meningkatkan kualitas hasil produksi. Pengolahan lebih lanjut hasil produksi juga dapat meningkatkan harga jual, misalnya kulit kayu manis dijadikan dalam bentuk bubuk. Meningkatkan kerjasama dan peran serta kelembagaan pedesaan yang ada, agar dapat mengantisipasi perubahan yang terjadi dalam usaha Parak. Untuk mengatasi tingkat produksi kebun yang rendah dapat diperbaiki dengan menggunakan kultivar yang lebih produktif maupun perbaikan cara pengelolaan (pemangkasan, penebangan, dan lain-lain).

Dokumen terkait