ANALISIS FINANSIAL DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
BERPENGARUH TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN
SISTEM AGROFORESTRY
(Studi Kasus Sistem Agroforestry Parak di Nagari Koto
Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam,
Sumatera Barat)
HASIL PENELITIAN
Oleh :
WILDA SARTIKA031201022
DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Skripsi : Analisis Finansial dan Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Pendapatan Sistem Agroforestry (Studi Kasus Sistem Agroforestry di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat)
Nama : Wilda Sartika
NIM : 031201022
Program Studi : Manajemen Hutan Minat Studi : Sosial Ekonomi
Disetujui Oleh :
Komisi Pembimbing
Nurdin Sulistiyono, S.Hut, M.Si Khairida, SP, M.Si Ketua Anggota
Mengetahui :
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang
telah memberikan dan melimpahkan karuniaNya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan usulan penelitian yang berjudul Analisis Finansial dan
Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Pendapatan Sistem
Agroforestry.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak
Nurdin Sulistiyono, S.Hut, M.Si sebagai ketua komisi pembimbing serta Ibu
Khairida, SP, M.Si sebagai anggota komisi pembimbing atas bimbingannya
selama penyelesaian usulan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan
kepada seluruh keluarga atas semua bentuk dukungannya. Serta bantuan dan doa
dari berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan hasil
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... v
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Perumusan Masalah... 2
Tujuan Penelitian ... 3
Manfaat Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Hutan Rakyat dan Agroforestry ... 4
Pengertian Agroforestry ... 5
Fungsi Agroforestry ... 6
Klasifikasi Sistem Agroforestry ... 8
Keuntungan dan Kelemahan Agroforestry ... 11
Analisis Finansial Agroforestry ... 14
METODOLOGI PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 19
Populasi dan Sampel Penelitian ... 19
Pengumpulan Data ... 20
Pengolahan data ... 21
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Luas ... 25
Topografi, Tanah dan Iklim ... 25
Sarana dan Prasarana ... 26
Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat ... 26
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden ... 27
Sistem Agroforestry di Nagari Koto Malintang ... 31
Pendapatan dan Faktor-faktor yang berpengaruh Terhadap Tingkat Pendapatan Sistem agroforestry...47.
Kelayakan Finansial Sistem agroforestry ... 51
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 58
Saran ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 60
DAFTAR TABEL
1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur ... .27
2. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... ... 28
3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian ... ... 29
4. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga .. ... 30
5. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja ... ... 33
6. Distribusi Responden Berdasarkan Luas Lahan Agroforestry... 34
7. Distribusi Responden Berdasarkan Status Lahan Agroforestry .. ... 35
8. Jenis-jenis Tanaman Penyusun Agroforestry... ... 36
9. Volume Produksi dan Harga Komoditi Parak di Nagari Koto Malintang ... ... 41
10.Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan ... ... 42
11.Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Rumah Tangga dengan Pendapatan yang Diperoleh dari Parak ... ... 43
12.Peran Serta Pemerintah dalam Pengelolaan Parak ... ... 45
13.Hasil Analisis Regresi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Agroforestry di Nagari Koto Malintang... ... 47
14.Nilai Payback Period, Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR)... ... 51
15.Analisis Sensitivitas dengan Kenaikan Cost Sebesar 10 % ... ... 52
DAFTAR GAMBAR
1. Responden Berdasarkan Umur ... 27
2. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 28
3. Responden Berdasarkan Jenis Mata pencaharian ... 30
4. Responden Berdasarkan Jumlah Anggota keluarga ... 30
5. Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja ... 34
6. Responden Berdasarkan Luas Lahan Agroforestry ... 35
7. Responden Berdasarkan Pendapatan dari Sistem Agroforestry .. 42
8. Responden Berdasarkan Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Rumah Tangga dengan Pendapatan yang Diperoleh dari Parak ... 44
DAFTAR LAMPIRAN
1. Karakteristik dan Pendapatan Petani Responden
2. Tabulasi Frekuensi dan Crosstabs
3. Skoring Hasil Quisioner dengan Petani Responden
4. Hasil Regresi dengan Menggunakan SPSS
5. Net Present Value (NPV), Net B/C Ratio. dan Internal Rate of Return
(IRR) Usaha Parak di Nagari Koto Malintang
6. Analisis Usaha Tani Parak di Nagari Koto Malintang
7. Analisis Sensitivitas dengan Kenaikan Cost Sebesar 10 %
8. Analisis Sensitivitas dengan Penurunan Harga Jual sebesar 10%
9. Contoh Kuisioner Penelitian
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu bentuk pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat yang
tinggal di sekitar hutan adalah penerapan sistem agroforestry. Agroforestry
didefinisikan sebagai suatu sistem pengelolaan lahan dengan berasaskan
kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan,
mengkombinasikan produksi tanaman (termasuk tanaman pohon-pohonan) dan
tanaman hutan dan/atau hewan secara bersamaan atau berurutan pada unit lahan
yang sama, dan menerapkan cara-cara pengelolaan yang sesuai dengan
kebudayaan penduduk setempat (Arief, 2001).
Agroforestry merupakan suatu kebudayaan bertani yang sudah lama
dipraktekkan oleh masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah Parak di daerah
Koto Malintang. Petani Koto Malintang telah mengembangkan Parak (kebun
campuran) yang sangat mengesankan, berisi perpaduan tanaman pohon komersil
dan spesies-spesies hutan yang dikelola yang mendominasi bentang alam kawasan
pertanian. Kebun-kebun ini sudah dikembangkan sejak lama, berawal dari upaya
bekas tegakan hutan yang ditanami kembali dengan pepohonan setelah ditanami
padi.
Sistem agroforestry tersebut telah lama dilakukan oleh masyarakat sebagai
suatu tradisi yang turun temurun dan kegiatan ini dilakukan dalam upaya
masyarakat untuk mengelola lahan secara optimal untuk mendatangkan
pendapatan yang besar dari hasil penjualan komoditi agroforestry. Informasi yang
mempengaruhi tingkat pendapatan sistem agroforestry di Nagari Koto Malintang
masih sangat sedikit.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan kajian
untuk mengkaji tipe/bentuk, kelayakan finansial dan faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat pendapatan sistem agroforestry di Nagari Koto Malintang,
Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah setempat dan masyarakat di
dalam maupun di luar hutan dalam pengelolaan sumber daya hutan sehingga dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat guna tercapai kelestarian hutan.
Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang dipakai dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana tipe/ bentuk agroforestry yang diterapkan oleh petani di Nagari
Koto Malintang ?
2. Jenis tanaman/komoditi apa yang menyusun Parak di Nagari Koto
Malintang ?
3. Bagaimana kelayakan finansial dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui komponen/komoditi penyusun Parak di Nagari Koto
Malintang.
2. Mengklasifikasikan sistem agroforestry yang terdapat di Nagari Koto
Malintang berdasarkan struktur (komponen-komponen penyusunnya).
3. Mengetahui kelayakan finansial dan faktor-faktor yang mempengaruhi
tingkat pendapatan sistem agroforestry di Nagari Koto Malintang.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Memberikan masukan bagi pemerintah setempat dan masyarakat yang
terdapat di Nagari Koto Malintang agar dapat mengelola sumber daya
hutan dengan memperhatikan prinsip kelestarian hutan.
2. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan dari para pembaca tentang
kelayakan finansial dan pengaruh sistem agroforestry terhadap
pendapatan masyarakat sekitar dan di dalam hutan.
TINJAUAN PUSTAKA
Hutan Rakyat dan Agroforestry
Hutan rakyat adalah hutan yang pengelolaannya dilaksanakan oleh
organisasi masyarakat baik pada lahan individu, komunal (bersama), lahan adat,
maupun lahan yang dikuasai oleh negara. Hutan rakyat tersusun dari satuan
ekosistem kehidupan mulai dari tanaman keras, non kayu, satwa, buah-buahan,
satuan usahatani semusim, peternakan, barang dan jasa, serta rekreasi alam
(Awang, dkk, 2002).
Hutan rakyat merupakan salah satu model pengelolaan sumberdaya alam
yang berdasarkan inisiatif masyarakat. Hutan rakyat di Indonesia pada umumnya
dikembangkan pada lahan milik masyarakat. Di Indonesia, hutan rakyat banyak
yang berhasil dikembangkan oleh masyarakat sendiri. Demikian pula halnya
dengan sumbangan produksi kayu dari hutan rakyat di banyak tempat
menunjukkan signifikan yang nyata, seperti di Jawa. Dalam hutan rakyat biasanya
ditanami jenis-jenis jati, mahoni, buah-buahan, nangka, kelapa dan sengon.
Bentuk dan pola hutan rakyat di Indonesia antara lain hutan rakyat sengon, hutan
rakyat jati, hutan rakyat suren di Bukit Tinggi (disebut Parak ) dan hutan adat
campuran (Fahmi, dkk, 2003).
Dalam pengelolaan hutan rakyat dikenal juga istilah usaha tani rakyat
yaitu menanam tanaman kayu-kayuan bercampur dengan tanaman lain di tanah
milik, namun yang menjadi tanaman pokok adalah tanaman kayu-kayuan guna
meningkatkan kesuburan tanah dan lebih disukai oleh masyarakat. Pembangunan
masalah sosial ekonomi dan lingkungan hidup, selain itu dampak positif yang lain
adalah terpeliharanya sumberdaya alam (konservasi tanah dan air) sehingga
meningkatkan daya dukung lahan bagi penduduk dan ikut serta dalam pengelolaan
daerah aliran sungai, mengurangi terjadinya kerusakan hutan akibat penebangan
liar dan penyerobotan tanah. Kombinasi berbagai jenis tanaman memungkinkan
pemetikan hasil secara terus menerus dan memungkinkan terbentuknya stratifikasi
tajuk sehingga mencegah erosi tanah dan hempasan air hutan (Arief, 2001).
Pola pengelolaan hutan rakyat cukup bervariasi, dengan model
agroforestry dengan pola campuran antara tanaman pangan, tanaman
buah-buahan, tanaman keras, tanaman perkebunan, palawija, tanaman obat-obatan dan
lain-lain. Dengan demikian sistem hutan rakyat telah secara nyata
menggambarkan model-model ekosistem sumberdaya alam yang stabil bagi
alamnya sendiri dan stabil pula untuk kepentingan sosial dan ekonomi rakyat
pedesaan (Awang, dkk, 2002).
Pengertian Agroforestry
Konsepsi agroforestry dirintis oleh suatu tim dari Canadian International
Development Centre, yang bertugas untuk mengindentifikasi prioritas-prioritas
pembangunan di bidang kehutanan di negara-negara berkembang dalam tahun
1970-an. Oleh tim ini dilaporkan bahwa hutan-hutan di negara tersebut belum
cukup dimanfaatkan. Penelitian yang dilakukan dibidang kehutanan sebagian
besar hanya ditujukan kepada dua aspek produksi kayu, yaitu eksploitasi secara
selektif di hutan alam dan tanaman hutan secara terbatas. Menurut tim,
masalah-masalah yang selama ini diabaikan, yaitu sistem produksi kayu
bersamaan dengan komoditi pertanian, dan /atau peternakan, serta merehabilitasi
lahan-lahan kritis. Di lain pihak ditemukan kegiatan-kegiatan yang mengarah
kepada pengrusakan lingkungan, yang seakan-akan tidak dapat dikendalikan lagi.
Kecenderungan pengrusakan lingkungan ini perlu dicegah dengan
sungguh-sungguh, dengan cara pengelolaan lahan yang dapat mengawetkan lingkungan
fisik secara efektif, tetapi sekaligus dapat memenuhi kebutuhan pangan, papan,
dan sandang bagi manusia (Anonimus, 2001).
Agroforestry adalah suatu nama kolektif untuk sistem-sistem penggunaan
lahan teknologi, dimana tanaman keras berkayu (pohon-pohonan, perdu,
jenis-jenis palm, bambu, dan sebagainya) ditanam bersamaan dengan tanaman pertaian,
dan/atau hewan, dengan suatu tujuan tertentu dalam suatu bentuk pengaturan
spasial atau urutan temporal, dan di dalamnya terdapat interaksi-interaksi ekologi
dan ekonomi diantara berbagai komponen yang bersangkutan (Nair, 1989).
Agroforestry atau wanatani atau agrohutani merupakan istilah kolektif
untuk beberapa praktek penggunaan lahan, dimana tumbuhan parennial berkayu
ditanam secara sengaja pada sebidang lahan bersama-sama dengan tanaman
semusim dan atau ternak, baik dalam tatanan spesial dalam waktu yang bersamaan
ataupun sekuensial (Arief, 2001).
Fungsi Agroforestry
Fungsi agroforestry ditinjau dari aspek biofisik dan lingkungan pada skala
bentang lahan (skala meso) adalah kemampuannya untuk menjaga dan
terhadap kesesuaian lahan antara lain: (a) Memelihara sifat fisik dan kesuburan
tanah; (b) Mempertahankan fungsi hidrologi kawasan; (c) Mempertahankan
cadangan karbon; (d) Mengurangi emisi gas rumah kaca; dan (e) mempertahankan
keanekaragaman hayati (Lahjie, 2004).
Fungsi agroforestry terhadap aspek sosial, budaya dan ekonomi antara
lain:(a) Kaitannya dengan aspek tenurial, agroforestry memiliki potensi di masa
kini dan masa yang akan datang sebagai solusi dalam memecahkan konflik
menyangkut lahan negara (misal pada hutan lindung; contoh pada kasus HL.
Sungai Wain di Balikpapan, Kalimantan Timur) yang dikuasai oleh para petani
penggarap; (b) Upaya melestarikan identitas kultural masyarakat, pemahaman
akan nilai-nilai kultural dari suatu aktivitas produksi hingga peran berbagai jenis
pohon atau tanaman lainnya di lingkungan masyarakat lokal dalam rangka
keberhasilan pemilihan desain dan kombinasi jenis pada bentuk-bentuk
agroforestry modern yang akan diperkenalkan atau dikembangkan di suatu
tempat, (c) Kaitannya dengan kelembagaan lokal, dengan praktek agroforestry
lokal tidak hanya melestarikan fungsi dari kepala adat, tetapi juga norma, sanksi,
nilai, dan kepercayaan (unsur-unsur dari kelembagaan) tradisional yang berlaku di
lingkungan suatu komunitas; (d) Kaitannya dalam pelestarian pengetahuan
tradisional, salah satu ciri dari agroforestry tradisional adalah diversitas
komponen terutama hayati yang tinggi (polyculture). Sebagian dari tanaman
tersebut sengaja ditanam atau dipelihara dari permudaan alam guna memperoleh
manfaat dari beberapa bagian tanaman sebagai bahan baku pengobatan. Meskipun
hampir di seluruh kecamatan di Indonesia sudah tersedia Puskesmas atau
memanfaatkan lingkungannya sebagai ‘tabib’ bilamana mereka sakit. Sebagai
contoh pada masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kalimantan Timur
mengenal berbagai macam tumbuhan obat, di antaranya tanaman berkayu yang
tumbuh dalam sistem kebun pekarangan dan kebun hutan mereka (budidaya
lembo); (e) Menyediakan lapangan kerja, sistem agroforestry membutuhkan
tenaga kerja yang tersebar merata sepanjang tahun selama bertahun-tahun
(Widianto, dkk, 2003).
Klasifikasi Sistem Agroforestry
Berbagai tipe agroforestry telah banyak diinventarisir dan
dikembangkangkan dengan bentuk yang beragam tergantung kondisi wilayah,
lokasi dan tujuan agroforestry itu sendiri. Namun demikian, keragaman
agroforestry tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat dasar utama, yaitu:
(1) Berdasarkan strukturnya (Structural Basis) yang berarti penggolongan dilihat
dari komposisi komponen-komponen penyusunnya (tanaman pertanian, hutan,
pakan, dan/atau ternak). Agroforestry dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Agrisilvikultur (Agrisilvicultural Systems)
Sistem agroforestry yang mengkombinasikan komponen kehutanan (atau
tanaman berkayu/woody plants) dengan komponen pertanian (atau tanaman
non-kayu). Tanaman berkayu dimaksudkan yang berdaur panjang (tree
crops) dan tanaman non-kayu dari jenis tanaman semusim (annual crops).
b. Silvopastura (Silvopastural Systems)
Sistem agroforestry yang meliputi komponen kehutanan (atau tanaman
Kedua komponen dalam silvopastura seringkali tidak dijumpai pada ruang
dan waktu yang sama (misal: penanaman rumput hijauan ternak di bawah
tegakan pinus, atau yang lebih ekstrim lagi adalah sistem ‘cut and carry’
pada pola pagar hidup/living fences of fodder hedges and shrubs; atau pohon
pakan serbaguna/multipurpose fodder trees pada lahan pertanian yang
disebut ‘protein bank’).
c. Agrosilvopastura (Agrosilvopastural Systems)
Merupakan pengkombinasian komponen berkayu (kehutanan) dengan
pertanian (semusim) dan sekaligus peternakan/binatang pada unit
manajemen lahan yang sama. Contoh: berbagai bentuk kebun pekarangan
(home-gardens), kebun hutan (forest-gardens), ataupun kebun desa
(village-forest-gardens), seperti sistem Parak di Maninjau (Sumatera Barat) atau
Lembo dan Tembawang di Kalimantan.
(Sardjono, dkk, 2003).
(2) Berdasarkan masa perkembangannya, agroforestry dapat dibedakan menjadi :
a. Agroforestry tradisional/klasik yaitu setiap sistem pertanian, di mana
pohon-pohonan baik yang berasal dari penanaman atau pemeliharaan
tegakan/tanaman yang telah ada menjadi bagian terpadu, sosial-ekonomi dan
ekologis dari keseluruhan sistem (agroecosystem).
b. Agroforestry modern umumnya hanya melihat pengkombinasian antara
tanaman keras atau pohon komersial dengan tanaman sela terpilih. Contoh:
berbagai model tumpangsari (baik yang dilaksanakan oleh Perhutani di
hutan jati di Jawa atau yang coba diperkenalkan oleh beberapa pengusaha
(3) Berdasarkan sistem produksi, agroforestry dibedakan menjadi :
a. Agroforestry berbasis hutan adalah bentuk agroforestry yang diawali
dengan pembukaan sebagian areal hutan dan/atau belukar untuk aktivitas
pertanian (agroforest).
b. Agroforestry berbasis pada pertanian yaitu produk utama tanaman
pertanian dan atau peternakan tergantung sistem produksi pertanian dominan
di daerah tersebut. Komponen kehutanan merupakan elemen pendukung
bagi peningkatan produktivitas dan/atau sustainabilitas.
c. Agroforestry berbasis pada keluarga adalah agroforestry yang
dikembangkan di areal pekarangan rumah (homestead agroforestry).
(Sardjono, dkk, 2003).
(4) Berdasarkan orientasi ekonomi, agroforestry dibedakan atas :
a. Agroforestry komersial (Commercial Agroforestry) yaitu pengelolaannya
dimaksudkan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomis tinggi melebihi
sistem monokultur.
b. Agroforestry subsisten (Subsistence Agroforestry) yaitu agroforestry
yang dikelola dengan tanpa mempertimbangkan input dan output, berbasis
tenaga keluarga dan umumnya merupakan dampak dari sistem perladangan
berpindah.
c. Agroforestry semi komersial (Semi-Commercial Agroforestry) yaitu
sistem agroforestry yang memiliki sifat di antara komersil dan subsisten
dengan tingkat pengelolaan dan pencapaian produksi medium dan tetap
mempetimbangkan input meski pada tingkat yang tidak maksimal.
Keuntungan dan Kelemahan Sistem Agroforestry
Penerapan sistem agroforestry mendatangkan keuntungan dan kelemahan
yang berpengaruh pada ekologi atau lingkungan, ekonomi dan sosial. Keuntungan
secara ekologi dapat berupa :
1. Secara ekologis agronomis, sistem agroforestry ternyata dapat
menunujukkan banyak manfaat yang tidak dijumpai pada sistem
pertanaman lainnya. Apabila pada lahan miring penggunaan sistem
agroforestry, maka secara umum pohon-pohon akan menyediakan struktur
permanen di atas dan di bawah tanah bagi sistem pertanaman. Dengan
cara ini, pergerakan air dan tanah akan dihambat dan kehilangan akibat
erosi tanah dapat berkurang banyak
2. Sistem agroforestry juga mampu memberikan dampak posotif terhadap
kesuburan tanah, terutama jika menggunakan pohon dan perdu dari jenis
legume yang menyediakan mekanisme penyediaan nitrogen melalui fiksasi
bioligis
3. Sisem agroforestry mempengaruhi populasi invertebrata dan
mikroorganisme, sehingga mampu berperan lebih banyak dalam
agroekosistem
4. Agroforestry juga merupakan salah satu sarana pentung untuk
merehabilitasi lahan kritis, terutama di daerah hulu DAS
(Arief, 2001).
Secara ekonomis, agroforestry memberikan keuntungan yang cukup
berarti bagi petani, masyarakat, daerah atau negara. Keuntungan-keuntungan ini
1. Peningkatan kesinambungan hasil-hasil pangan, pakan ternak, kayu bakar,
pupuk dan kayu pertukangan
2. Mengurangi terjadinya kegagalan total tanaman pertanian yang biasanya
terjadi pada tanaman jenis tunggal atau sistem monokultur
3. Meningkatkan jumlah pendapatan pertanian karena peningkatan
produktifitas dan kesinambungan produksi.
Selain manfaat ekonomi, juga terdapat manfaat-manfaat sosial melalui
peningkatan hasil produksi pohon dan tanaman serta peningkatan kelestarian
hasil-hasil. Manfaat-manfaat ini meliputi :
1. Peningkatan standar kehidupan di pedesaan melalui penyediaan lapangan
kerja berkelanjutan dan pendapatan yang lebih tinggi
2. Peningkatan gizi dan kesehatan karena meningkatnya kualitas dan
keanekaragaman hasil dan pangan
3. Stabilisasi dan peningkatan pada masyarakat dataran tinggi dengan
menghapuskan kebutuhan untuk memindahkan ladang dalam kegiatan
pertanian.
(Lahjie, 2004).
Selain keuntungan tersebut di atas, sistem agroforestry juga memiliki
kelemahan-kelemahan, baik secara ekologi atau lingkungan, maupun secara sosial
ekonomi. Kelemahan dari aspek lingkungan antara lain : (1) Kemungkinan
terjadinya persaingan sinar matahari, air tanah dan hara antara tanaman pohon
(hutan) dengan tanaman pertanian/pangan dan pakan ; (2) Kerusakan tanaman
pangan pada saat dilakukan pemanenan tanaman pohon (terutama saat
hama dan penyakit tanaman pertanian; dan (4) Relatif lamanya regenerasi
tanaman pohon menyebabkan penyempitan lahan untuk tanaman pangan sejalan
dengan semakin besarnya tanaman pohon. Kelemahan dari segi sosial ekonomi
antara lain: (1) Terbatasnya tenaga kerja yang berminat di bidang pertanian,
khisusnya dalam membangun sistem agroforestry; (2) Terjadinya persaingan
antara tanaman pohon dengan tanaman pangan yang dapat menurunkan hasil
tanaman pangan (sumber gizi keluarga) dibandingkan pada penanaman dengan
sistem monokultur; (3) Waktu yang cukup lama untuk menunggu panen tanaman
pohon dapat mengurangi produksi sistem agroforestry tersebut; (4) Sistem
agroforestry diakui lebih kompleks sehingga lebih sulit diterapkan apalagi dengan
pengetahuan petani yang terbatas dibandingkan pada sistem pertanian monokultur
yang biasa digunakan; dan (5) Keengganan sebagian besar petani untuk
menggantikan tanaman pertanian/pangan dengan tanaman pohon atau sebaliknya,
yang lebih bernilai ekonomis (Chundawat and Gautam, 1993).
Dengan tingkat pengetahuan yang memadai, sebenarnya
kelemahan-kelemahan sistem agroforestry tersebut di atas dapat dikendalikan atau seluruhnya
dengan jalan : (1) Penggunaan pohon kacang-kacangan atau tanaman berbuah
polong yang sedikit dalam menghambat sinar matahari, sehingga kebutuhan
cahaya untuk tanaman pangan dapat terpenuhi; (2) Pemilihan tanaman pohon
dengan sistem perakaran yang dalam sehingga mengurangi persaingan hara dan
air dengan tanaman pangan di sekitar permukaan atau tanah lapisan atas; (3) Jarak
tanaman pohon yang dibuat lebih besar, sehingga mengurangi persaingan cahaya
matahari, hara dan air tanah dengan tanaman pangan
Analisis Finansial Agroforestry
Pendapatan dalam kegiatan agroforestry adalah pendapatan bersih petani
(penerimaan dikurang biaya produksi) dalam satu periode panen dari setiap
komponen agroforestry. Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan yang
diperoleh dari usaha dengan biaya yang dikeluarkan untuk usaha tersebut. Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan dalam penerapan sistem
agroforestry antara lain luas lahan, status kepemilikan lahan, jumlah tenaga kerja,
umur petani, pendidikan petani, komposisi jenis tanaman dan sistem agroforestry
yang digunakan.
Penerapan sistem agroforestry yang menghasilkan bermacam-macam
produk dapat meningkatkan pendapatan petani karena tidak bergantung pada satu
komoditi saja, misalnya salah satu komoditi yang ditanam gagal panen, masih ada
alternatif komoditi lain yang dapat menghasilkan keuntungan. Pencampuran
tanaman semusim/pangan dan pohon dalam jangka panjang akan menjaga
penurunan kesuburan lahan dan produksi tanaman pangan sehingga dapat
meningkatkan pendapatan petani.
Keberadaan pohon dalam agroforestry mempunyai dua peranan utama.
Pertama, pohon dapat mempertahankan produksi tanaman pangan dan
memberikan pengaruh positif pada lingkungan fisik, terutama dengan
memperlambat kehilangan hara dan energi, dan menahan daya perusak air dan
angin. Kedua, hasil dari pohon berperan penting dalam ekonomi rumah tangga
petani. Pohon dapat menghasilkan: (1) Produk yang digunakan langsung seperti
ternak, mulsa; serta (3) Produk atau kegiatan yang mampu menyediakan lapangan
kerja atau penghasilan kepada anggota rumah tangga.
Sistem produksi agroforestry memiliki suatu kekhasan, di antaranya:
a. Menghasilkan lebih dari satu macam produk
b. Pada lahan yang sama ditanam paling sedikit satu jenis tanaman semusim
dan satu jenis tanaman tahunan/pohon
c. Produk-produk yang dihasilkan dapat bersifat terukur (tangible) dan tak
terukur (intangible)
d. Terdapat kesenjangan waktu (time lag) antara waktu penanaman dan
pemanenan produk tanaman tahunan/pohon yang cukup lama
Analisis ekonomi terhadap suatu sistem agroforestry harus memperhatikan
ciri-ciri sistem agroforestry tersebut di atas. Pada kondisi nyata di lapangan,
produksi dari suatu sistem agroforestry membutuhkan jangka waktu lama untuk
dapat menghasilkan produk dari spesies tanaman tahunan. Selain itu manfaat
keberadaan sistem agroforestry terhadap lingkungan tidak bisa dilihat dalam
waktu pendek. Oleh karena itu analisis jangka panjang dianggap lebih tepat untuk
melihat keseluruhan keuntungan yang dapat diberikan oleh suatu sistem
agroforestry.
Sistem agroforestry menghasilkan bermacam-macam produk yang jangka
waktu pemanenannya berbeda, di mana paling sedikit satu jenis produknya
membutuhkan waktu pertumbuhan yang lebih dari satu tahun. Untuk melihat
sejauh mana suatu usaha agroforestry memberikan keuntungan, maka analisis
yang paling sesuai untuk dipakai adalah analisis proyek yang berbasis finansial.
manfaat yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan, berapa keuntungannya, kapan
pengembalian investasi terjadi dan pada tingkat suku bunga berapa investasi itu
memberikan manfaat. Melalui cara berpikir seperti itu maka harus ada
ukuran-ukuran terhadap kinerjanya.Ukuran-ukuran-ukuran yang digunakan umumnya adalah :
a. Payback Period
b. Net Present Value (NPV)
c. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) atau Rasio Keuntungan Biaya dan
d. Internal Rate of Return (IRR).
Berdasarkan data-data pendapatan (penerimaan), pengeluaran (biaya) dan
keuntungan bersih maka dapat dilakukan perhitungan-perhitungan NPV dan Net
B/C untuk digunakan sebagai alat pengambilan keputusan dalam menanamkan
investasi. Ukuran-ukuran seperti itu diperlukan untuk mengetahui prospek usaha
suatu sistem agroforestry secara finansial serta untuk membandingkan antara
usaha tani dengan pola agroforestry dengan usaha tani pola monokultur. Analisis
finansial melalui perhitungan dan kriteria investasi yang meliputi:
a. Payback Period
Merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui jangka waktu
kembalinya investasi yang telah dikeluarkan. Keuntungan dari analisis ini adalah
mudah dimengerti dan dihitung, namun memiliki beberapa kelemahan diantaranya
tidak dapat mengukur keuntungan dari suatu usaha. Dengan model formulasi
sebagai berikut :
b. Net Present Value (NPV)
Yaitu nilai saat ini yang mencerminkan nilai keuntungan yang diperoleh
selama jangka waktu pengusahaan dengan memperhitungkan nilai waktu dari
uang atau time value of money. Karena jangka waktu kegiatan suatu usaha
agroforestry cukup panjang, maka tidak seluruh biaya bisa dikeluarkan pada saat
yang sama, demikian pula hasil yang diperoleh dari suatu usaha agroforestry
dapat berbeda waktunya. Untuk mengetahui nilai uang di masa yang akan datang
dihitung pada saat ini, maka baik biaya maupun pendapatan agroforestry di masa
yang akan datang harus dikalikan dengan faktor diskonto yang besarnya
tergantung kepada tingkat suku bunga bank yang berlaku di pasaran. Dengan
model formulasi sebagai berikut :
NPV =
∑
Dengan kriteria apabila NPV > 0 berarti usaha tersebut menguntungkan,
c. Benefit Cost Ratio (B/C Rasio)
Yaitu perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran selama jangka
waktu pengusahaan (dengan memperhitungkan nilai waktu dari uang atau time
value of money). Dengan model formulasi sebagai berikut :
Net B/C =
Dengan kriteria Net B/C rasio > 1 dinyatakan usaha tersebut layak
diusahakan dan sebaliknya jika Net B/C rasio < 1 berarti usaha tersebut tidak
layak diusahakan.
d. Internal Rate of Returns (IRR)
Menunjukkan tingkat suku bunga maksimum yang dapat dibayar oleh
suatu proyek/usaha atau dengan kata lain merupakan kemampuan memperoleh
pendapatan dari uang yang diinvestasikan. Dalam perhitungan, IRR adalah
tingkat suku bunga apabila Net B/C yang terdiskonto sama dengan nol. Usaha
agroforestry akan dikatakan layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat
suku bunga yang berlaku di pasar pada saat tersebut. Dengan model formulasi
sebagai berikut :
METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung
Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan
selama 2 bulan yaitu pada bulan Maret sampai dengan April 2007.
Populasi dan Sampel Penelitian
Jumlah penduduk di Nagari Koto Malintang sebanyak 707 KK (Sumber:
Kantor Kelurahan/Wali Nagari Koto Malintang, 2006), tetapi yang menjadi
populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh Kepala Keluarga di Nagari Koto
Malintang yang memiliki lahan agroforestry yaitu sebanyak 319 KK (Sumber:
Kantor Kelurahan/Wali Nagari Koto Malintang, 2006). Jumlah sampel dalam
penelitian ini adalah 15 % dari populasi yang memiliki lahan agroforestry yaitu
50 KK. Menurut Arikunto (1996), bahwa apabila populasinya lebih kecil dari 100
sebaiknya diambil semua, tetapi bila populasinya besar dari 100 maka dapat
diambil 10 %-15 % saja.
Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara Purposive Sampling
(sampel bertujuan). Menurut Soekartawi (1995), dalam purposive sampling,
pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri atau sifat tertentu yang
dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri atau sifat populasi yang
sudah diketahui sebelumnya. Metode purposive sampling ini digunakan untuk
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah :
1. Data primer
Data primer yang diperlukan adalah :
a. Karakteristik responden : nama, umur, mata pencaharian, jumlah
anggota keluarga dan pendidikan.
b. Sistem agroforestry di Nagari Koto Malintang.
c. Pendapatan dan Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat
pendapatan sistem agroforestry.
d. Kelayakan finansial sistem agroforestry
2. Data Sekunder
Data sekunder yang diperlukan adalah data umum yang ada pada instansi
pemerintah desa, kecamatan, dinas kehutanan dan perkebunan, BPS dan
lembaga-lembaga lain yang terkait.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara :
1. Kuisioner
Kuisioner merupakan suatu set pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh
sampel dalam penelitian. Data yang diperlukan adalah data primer.
Adapun contoh kuisioner yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat
2. Wawancara Mendalam (Deep Interview)
Wawancara ditujukan untuk melengkapi data lainnya yang berkaitan
dengan penelitian.
3. Observasi
Survey langsung ke lapangan dengan melihat kehidupan sehari-hari
masyarakat dan kondisi lahan agroforestry.
4. Studi Pustaka
Dilakukan untuk mendapatkan data-data sekunder yang diperlukan dalam
penelitian.
Pengolahan Data
Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan statistik.
Analisis-analisis yang digunakan adalah :
1. Analisis Deskriptif
Menurut Nazir (1988), metode deskriptif digunakan untuk mengetahui dan
menganalisis data yang terkumpul dari hasil kuisioner, wawancara mendalam,
observasi dan studi pustaka. Data yang terkumpul dari hasil kuisioner dinyatakan
dalam bentuk tabel (tabulasi) frekuensi silang yang berupa data karakteristik
responden yang meliputi umur, pendidikan, mata pencaharian, jumlah anggota
keluarga, data bentuk pengelolaan yang meliputi jumlah tenaga kerja, luas lahan,
status lahan, komponen penyusun, bentuk atau tipe agroforestry, dianalisis secara
2. Analisis Regresi Berganda
Sistem agroforestry telah lama dikembangkan oleh masyarakat di Nagari
Koto Malintang sebagai suatu tradisi yang turun temurun dan kegiatan ini
dilakukan dalam upaya masyarakat untuk mengelola lahan secara optimal untuk
mendatangkan pendapatan yang besar dari hasil penjualan komoditi agroforestry.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat pendapatan
sistem agroforestry digunakan analisis regresi berganda dengan metode stepwise.
Metode stepwise yaitu metode dimana adanya pemisahan variabel bebas yang
layak masuk dalam model regresi dengan variabel bebas yang tidak layak masuk
dalam regresi akan dikeluarkan (elimination). Secara sistematis regresi linear
berganda dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut :
Y = a0 + a1 X1 + a2 X2 + a3 X3 + a4 X4 + a5 X5 + a6 X6
Dimana : Y = Pendapatan a0 = Intercept
a1 = Koefisien penduga dari xi (i = 1,2,3,4,5)
X1 = Luas lahan
X2 = Umur
X3 = Jumlah tenaga kerja
X4 = Pendidikan
X5 = Status kepemilikan lahan
X6 = Tipe/bentuk agroforestry
3. Analisis Finansial
Untuk melihat sejauh mana suatu usaha agroforestry memberikan
keuntungan, maka analisis yang paling sesuai untuk dipakai adalah analisis
mengetahui seberapa besar manfaat yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan,
berapa keuntungannya, kapan pengembalian investasi terjadi dan pada tingkat
suku bunga berapa investasi itu memberikan manfaat.
Data yang diperoleh dari kuisioner dan wawancara mendalam yang
meliputi kegiatan pengelolaan Parak, biaya produksi, produksi/volume hasil,
harga jual komoditi, dan pendapatan dinyatakan dalam bentuk tabulasi. Kemudian
di analisis finansialnya dengan menghitung besarnya nilai Payback Period, NPV,
Net B/C dan IRR dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
i = Interest (tingkat suku bunga bank yang berlaku)
t = Periode waktu
i1 = Discount Factor (tingkat bunga) pertama dimana diperoleh NPV
Positif.
i2 = Discount Factor (tingkat bunga) kedua dimana diperoleh NPV
Negatif.
Suatu usaha dikatakan layak secara finansial dengan kriteria sebagai
berikut :
1. Jika nilai NPV > 0
2. Jika nilai Net B/C Rasio > 1
0
HASIL DAN PEMBAHASAN
I. Karakteristik Responden
Karakteristik responden merupakan salah satu unsur yang secara tidak
langsung dapat mempengaruhi tingkat pendapatan petani agroforestry.
Karakteristik responden yang dianalisis dalam penelitian ini antara lain: umur,
pendidikan, mata pencaharian, dan jumlah anggota keluarga. Rata-rata umur
petani responden berkisar antara umur 25 – 65 tahun. Distribusi responden
berdasarkan umur disajikan dalam Tabel 1 dan Gambar 1..
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur
No. Kelompok Umur (Tahun)
Frekuensi Proporsi (%)
1 20 – 30 5 10
Gambar 1. Responden Berdasarkan Umur
Tabel 1 dan Gambar 1 di atas memperlihatkan bahwa konsentrasi umur
0
SD SLTP SLTA PT
Tingkat Pendidikan
kelompok usia antara 41 – 50 tahun (30%), kelompok usia antara 51 – 60 tahun
(16%), kelompok usia antara 20 – 30 tahun (10%) dan kelompok usia < 61 tahun
(6%). Rata-rata umur responden adalah 38 tahun. Umur responden tersebut
tergolong pada usia produktif yaitu berada antara 15 – 64 tahun, sehingga dapat
dikatakan bahwa tenaga kerja responden masih potensial untuk mengelola
usahataninya. Umur akan menunjukkan kemampuan fisik. Pada umur tertentu
seorang pekerja mencapai titik optimal, kemudian dengan penurunan umur maka
kemampuan fisik seseorang akan menurun. Untuk petani responden yang berusia
muda pada umumnya menjadi petani karena warisan dari orang tuanya atau
karena tidak mempunyai keterampilan lain selain bertani.
Karakteristik responden selanjutnya adalah tingkat pendidikan dan mata
pencaharian. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan disajikan dalam
Tabel 2 dan Gambar 2.
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No. Tingkat Pendidikan Frekuensi Proporsi (%)
1 Tidak Sekolah 2 4
2 S D (SD/SR/MI) 4 8
3 S L T P (SMP/MTs) 25 50
4 SLTA(SMA/SMU/SMK/MA) 14 28
5 Perguruan Tinggi (D1, D2, D3, Akademi, Sarjana Muda, Sarjana)
5 10
Jumlah 50 100
Sumber : Data Primer, 2007
Tingkat pendidikan formal berperan terhadap proses untuk meningkatkan
pendapatan karena dengan pendidikan akan diperoleh keahlian teknik budidaya
dan kemampuan terhadap penyerapan teknologi. Tabel 2 dan Gambar 2 di atas
menunjukkan tingkat pendidikan responden di Nagari Koto Malintang pada
umumnya kebanyakan responden berlatar belakang pendidikan SLTP yaitu 25
orang (50%), diikuti pendidikan SLTA sebanyak 14 orang (28%), Perguruan
Tinggi sebanyak 5 orang (10%), SD sebanyak 4 orang (8%) dan Tidak Sekolah
sebanyak 2 orang (4%). Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan
responden relatif masih rendah. Tingkat pendidikan petani ini sangat berpengaruh
terhadap wawasan dan cara berpikir petani dalam menentukan tindakan
usahataninya. Menurut Djamali (2002), tingkat pendidikan sejalan dengan tingkat
produktivitas dan efisiensi kerja. Semakin tinggi kompleksitas suatu pekerjaan,
maka semakin tinggi tingkat pendidikan yang dibutuhkan.
Pada umumnya pekerjaan utama para petani responden adalah bertani.
Adapun karakteristik responden berdasarkan jenis mata pencaharian disajikan
dalam Tabel 3 dan Gambar 3.
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian
No. Jenis Mata Pencaharian Frekuensi Proporsi (%)
1 Petani 39 78
2 Pedagang 3 6
3 Wiraswasta 2 4
4 PNS 6 12
Jumlah 50 100
0
Je nis Mata Pe ncaharian
Ju
Jum lah Anggota Ke luarga (orang)
Ju
Gambar 3. Responden Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian
Berdasarkan Tabel 3 dan Gambar 3 di atas menunjukkan mata
pencaharian petani responden pada umumnya adalah bertani (78%). Selain
dibidang usaha tani, responden juga bekerja diluar usaha tani antara lain sebagai
pedagang (6%), wiraswasta (4%) dan PNS (12%).
Sebagian besar petani responden memiliki jumlah anggota keluarga
rata-rata 4 – 6 orang. Distribusi responden berdasarkan jumlah anggota keluarga
disajikan dalam Tabel 4 dan Gambar 4.
Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga
No. Jumlah Anggota Keluarga (Orang) Frekuensi Proporsi (%)
1 1 – 3 9 18
2 4 – 6 25 50
3 7 – 9 15 30
4 > 9 1 2
Jumlah 50 100
Sumber : Data Primer, 2007
Besar kecilnya jumlah anggota keluarga akan sangat berpengaruh terhadap
pengurangan dan peningkatan produksi usaha tani, karena semakin besarnya
anggota keluarga akan mencerminkan ketersediaan tenaga kerja yang bekerja
untuk meningkatkan usaha tani, namun dilain pihak dengan besarnya anggota
keluarga akan mempengaruhi terhadap pendapatan karena besarnya biaya yang
dikeluarkan untuk konsumsi rumah tangga lebih banyak sehingga dituntut untuk
menghasilkan produk usaha tani lebih besar. Tabel 4 dan Gambar 4 di atas
menunjukkan bahwa konsentrasi jumlah anggota keluarga berada dalam
kelompok interval antara 1 – 3 orang (18%), menyusul kelompok interval antara 4
– 6 orang (50%), kelompok interval 7 – 9 orang (30%) dan kelompok interval > 9
orang (2%). Kondisi ini menggambarkan keadaan anggota keluarga responden
termasuk dalam kategori keluarga kecil, sehingga ketersediaan tenaga kerja dari
dalam keluarga sangat kecil.
II. Sistem Agroforestry di Nagari Koto Malintang
Sistem agroforestry yang ada di Nagari Koto Malintang merupakan sistem
agroforestry kompleks, yaitu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak
jenis pepohonan (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh
secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan
ekosistem yang menyerupai hutan. Di dalam sistem ini selain terdapat beraneka
jenis pohon juga terdapat tanaman perdu, tanaman musiman dan rerumputan
Nagari Koto Malintang memiliki ciri kebudayaan yang tua dengan
beragam sistem pertanian perpaduan sawah beririgasi dan bermacam tanaman
keras. Petani Koto Malintang telah mengembangkan kebun campuran pepohonan
(Parak) yang sangat mengesankan. Kebun-kebun ini sudah dikembangkan sejak
dahulu kala, berawal dari upaya bekas tegakan hutan yang ditanami kembali
dengan pepohonan setelah ditanami padi.
Berdasarkan keterangan penduduk setempat pada tahun 1901 masyarakat
sudah memulai menanam durian untuk dikonsumsi lokal. Pohon durian selain
berfungsi sebagai pencegah tanah longsor juga mempunyai nilai ekonomi dan
bermanfaat bagi anak cucu keturunannya. Tahun 1935 masyarakat mulai
menanam kayu manis. Jadi jelas bahwa sistem agroforestry telah lama diterapkan
oleh masyarakat di Nagari Koto Malintang secara turun temurun.
Terbentuknya sistem agroforestry di Nagari Koto Malintang berawal dari
pengusahaan lahan bekas hutan alam atau semak belukar yang diawali dengan
penebangan dan pembakaran semua tumbuhan. Pada awal musim penghujan,
lahan ditanami padi gogo yang disisipi tanaman semusim lainnya (jagung, cabe)
untuk satu dua kali panen. Setelah dua kali panen tanaman semusim, intensifikasi
penggunaan lahan ditingkatkan dengan menanam pepohonan, misalnya surian,
bayur atau tanaman keras lainnya. Pada periode awal ini, terdapat perpaduan
sementara antara tanaman semusim dengan pepohonan. Pada saat pohon sudah
dewasa, petani masih bebas memadukan bermacam-macam tanaman tahunan lain
yang bermanfaat dari segi ekonomi dan budaya, misalnya penyisipan pohon
durian, kopi, dan coklat. Tanaman semusim sudah tidak ada lagi. Tumbuhan asli
dan dipelihara di antara tanaman utama, misalnya surian, bayur, kayu manis.
Tebang pilih akan dilakukan bila tanaman pokok mulai terganggu atau bila pohon
terlalu tua sehingga tidak produktif lagi.
Petani responden menerapkan praktik pertanian konvensional (menanam,
menyiangi, memupuk, menebang) dan berusaha mengintegrasikan proses alami
bahan organik, perputaran unsur hara, dan regenerasi vegetasi dalam mengelola
Parak. Dalam pengelolaan Parak hanya tenaga keluarga yang dipakai. Masa
paling sibuk dalam pekerjaan ialah pada musim durian, dan pada masa panen
kayu manis. Suami menebang pohon, istri dan anak-anak mengelupas kulit dan
membawanya ke rumah. Sebagian besar kegiatan pengelolaan kebun campuran
tidak tertentu waktunya dan bila perlu dapat diatur bergiliran. Pengumpulan kayu
bakar dan penyiangan biasanya dilakukan oleh perempuan, penanaman oleh
laki-laki, sedangkan pemetikan buah-buahan dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga.
Rata-rata petani responden menggunakan tenaga kerja sekitar 3 – 4 orang.
Tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja keluarga. Distribusi responden
berdasarkan jumlah tenaga kerja disajikan dalam Tabel 5 dan Gambar 5.
Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja
No. Jumlah Tenaga Kerja (Orang) Frekuensi Proporsi (%)
1 1 – 2 14 28
2 3 – 4 35 70
3 > 4 1 2
Jumlah 49 100
0
Jum lah Te naga Ke rja (orang)
Ju
Gambar 5. Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang bekerja pada lahan agroforestry pada umumnya adalah
tenaga kerja keluarga. Tabel 5 dan Gambar 5 di atas menunjukkan jumlah tenaga
kerja terbanyak berkisar antara 3- 4 orang (70%), tenaga kerja 1 – 2 orang (28%)
dan yang paling sedikit tenaga kerja > 4 orang (2%). Kegiatan pengelolaan Parak
tidak tertentu waktunya dan dapat diatur secara bergiliran. Tenaga kerja yang
bekerja di Parak adalah tenaga kerja keluarga. Pengumpulan kayu bakar dan
penyiangan biasanya dilakukan oleh perempuan, penanaman dilakukan oleh
laki-laki, sedangkan pemetikan buah-buahan dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga.
Masa paling sibuk dalam pekerjaan ialah pada musim durian dan pada masa panen
kayu manis. Biasanya sesama petani saling membantu, misalnya pada masa panen
kayu manis yang laki-laki menebang pohon, perempuan mengelupas kulit dan
membawanya ke desa.
Luas lahan adalah luas lahan agroforestry yang diusahakan oleh petani
responden. Distribusi responden berdasarkan luas lahan agroforestry disajikan
dalam Tabel 6 dan Gambar 6.
Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Luas Lahan Agroforestry No. Luas Lahan (Ha) Frekuensi Proporsi (%)
1 < 1 Ha 16 32
2 1 – 2 Ha 28 56
3 ≥ 3 Ha 6 12
Jumlah 50 100
0
Luas Lahan Agroforestry (Ha)
Ju
Gambar 6. Responden Berdasarkan Luas Lahan Agroforestry
Tabel 6 dan Gambar 6 menunjukkan frekuensi terbanyak terdapat pada
kelompok petani yang mempunyai lahan 1 – 2 hektar yaitu 28 orang (56%).
Kelompok berikutnya adalah petani yang mempunyai lahan < 1 hektar yaitu 16
orang (32%). Kelompok terakhir adalah petani yang mempunyai lahan ≥ 3 hektar
yaitu 6 orang (12%). Perbedaan golongan petani berdasar luas lahan ini akan
berpengaruh terhadap sumber dan distribusi pendapatannya. Pada luasan lahan
yang dimiliki petani tersebut di atas petani responden akan berusaha seoptimal
mungkin untuk mengusahakan usaha taninya agar dapat berhasil dan mencukupi
kebutuhan rumah tangga mereka.
Lahan agroforestry di Nagari Koto Malintang adalah milik sendiri yang
diperoleh dari warisan keluarga. Distribusi responden berdasarkan status
kepemilikan lahan Agroforestry disajikan dalam Tabel 7.
Tabel 7. Distribusi Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan Agroforestry
No. Status Lahan Frekuensi Proporsi (%)
1 Milik Sendiri 50 100
2 Sewa 0 0
Jumlah 50 100
Sumber : Data Primer, 2007
Adat istiadat penduduk Nagari koto Malintang khas seperti keseluruhan
satuan sosial keluarga luas. Biasanya, parak dibagi di antara anak perempuan
yang sudah kawin. Parak diusahakan oleh anak perempuan dan keluarganya tetapi
lahan tersebut tidak dapat dijual. Pengambilan keputusan mengenai penjualan atau
penggadaian sebidang tanah atau pohon harus dibuat bersama. Sistem
kepemilikan tanah ini merupakan jaminan yang baik terhadap fragmentasi lahan
secara berlebihan, pembagian lahan produktif, dan penumpukan pemilikan tanah
oleh orang-orang kaya. Hal ini juga mengurangi kemungkinan perubahan
mendadak dalam sistem pertanian karena lahan tidak dapat dijual atau diubah
peruntukkannya dan pohon tidak dapat ditebang atas dasar keputusan perorangan.
Tipe/bentuk agroforestry yang diterapkan petani responden di Nagari
Koto Malintang adalah agrisilvikultur yaitu sistem agroforestry yang
mengkombinasikan komponen kehutanan (atau tanaman berkayu/woody plants)
dengan komponen pertanian (atau tanaman non-kayu). Tanaman berkayu
dimaksudkan yang berdaur panjang (tree crops) dan tanaman non-kayu dari jenis
tanaman semusim (annual crops). Jenis tanaman yang ada di lahan agroforestry
dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu tanaman musiman (annual crop) dan
tanaman tahunan (parenial crop). Jenis-jenis tanaman penyusun agroforestry
disajikan dalam Tabel 8.
Tabel 8. Jenis-jenis Tanaman Penyusun Agroforestry Jenis Tanaman (Nama Lokal) Nama Ilmiah
Tanaman Musiman (Annual Crop)
Singkong Manihot esculenta
Jagung Zea Mays
Tebu Saccharum officinarum
Pisang Musa paradisiaca
Terung Solanum melongena
Kunyit Curcuma domestica
Nenas Ananas comosus
Pepaya Carica papaya
Markisah Passiflora quadrangularis
Temulawak Curcuma xanthorriza
Pinang Areca catechu
Tanaman Tahunan (Tanaman Perkebunan, Buah-buahan,dan Kayu)(Parenial Crop)
Durian Durio zibethinus
Kayu Manis Cinnamomum burmanii
Surian Toona sinensis
Bayur Pterospermum javanicum
Pala Myristica fragrans
Cengkeh Syzygium aromaticum
Jati Tectona grandis
Kopi Coffea Arabica
Coklat Theobroma cacao
Kelapa Cocos nucifera
Medang Litsea ferrunginea
Sumber : Data Primer, 2007
Tanaman tahunan (parenial crop) yang banyak dibudidayakan petani
responden yaitu :
Durian (Durio zibethinus)
Karakteristik pohonnya besar dengan ketinggian sampai 40 m, merupakan
komponen kanopi Parak dan spesies paling utama di Koto Malintang. Durian
berbuah pada bulan Juli-Agustus sejak berumur 7 tahun. Buahnya dijual kepada
dikumpulkan dari buah paling besar dan enak, dan ditanam di tempat yang terpilih
di dalam kebun. Pohon ini tidak memerlukan pemeliharaan khusus, tetapi sebelum
musim berbuah vegetasi lapisan terbawah perlu dibersihkan untuk memudahkan
pengumpulan buah yang jatuh. Pohon-pohon durian tua dibiarkan mati secara
alami dan seringkali tumbang sewaktu ada angin kencang dan kayunya diambil
untuk bangunan. Pohon durian menghasilkan kayu berwarna merah yang baik
sebagai dinding rumah.
Surian (Toona sinensis)
Pohon surian berasal dari hutan setempat, berukuran sedang dan tumbuh
sampai setinggi 35 m. Pohon surian memberi naungan yang penting bagi kopi dan
pala, dan menghasilkan kayu yang bagus untuk lantai atau dinding rumah dan
perabotan rumah. Anakan pohon ini didapat dari semaian pada lahan yang
dibersihkan di bawah pohon-pohon tua. Kayunya dipanen pada sekitar umur 30
tahun.
Bayur (Pterospermum javanicum)
Pohon besar yang bisa mencapai tinggi 35 – 40 m ini merupakan jenis
pohon kanopi yang penting di agroforestryt. Bayur ditemukan tumbuh
berdampingan dengan durian. Pohon bayur yang cepat pertumbuhannya ditanam
untuk menghasilkan kayu bangunan. Bayur dapat dipanen setelah berumur 15 –
25 tahun. Bayur menghasilkan kayu berwarna merah yang cocok untuk lantai dan
Kayu Manis (Cinnamomum burman)
Pohon kayu manis adalah salah satu tanaman ekspor utama Sumatera
Barat, dan sejak berabad-abad yang lalu telah dibudidayakan di Maninjau. Dalam
kebun campuran pohon ini merupakan salah satu spesies tumbuhan bawah yang
utama. Pohon kayu manis ditanam di bawah tegakan durian, bayur dan spesies
lain yang rapat, dari semaian yang dikumpulkan dari kebun dan dipelihara di
persemaian selama setahun. Kulit pohon dapat dipanen bila pohon telah berumur
8-10 tahun; diameter batangnya lebih dari 10 cm dan tingginya sampai 15 m.
Untuk memanennya pohon ditebang dan kulit batang serta dahannya diambil. Satu
pohon sebesar ini rata-rata dapat menghasilkan 8 kg kulit kering. Sedangkan kayu
yang kulitnya telah dikelupas diambil sebagai kayu bakar untuk dipakai sendiri
atau dijual. Kerapatan rata-rata tegakan kayu manis di kebun bervariasi antara 800
dan 1500 pohon per ha tergantung dari tipe perpaduannya dengan pohon atas dan
dengan spesies lapisan bawah yang lain. Cara panen dapat dipilih yaitu tegakan
dipanen sekaligus lalu ditanami kembali seluruhnya, atau dipanen secara teratur
10 sampai 20 pohon ditebang bergiliran, sehingga memungkinkan regenerasi
dengan tumbuhnya tunas baru.
Pala (Myristica fragrans)
Pohon ini berukuran sedang, tinggi sampai 20 m, berasal dari kepulauan
bagian timur Indonesia. Pohon pala ditumbuhkan dari biji yang dipelihara di
persemaian selama satu tahun, semaian ditanam di bawah kanopi pohon durian
dan surian yang agak jarang. Pala dapat berdampingan juga dengan tegakan kayu
manis. Kerapatan pala bervariasi antara 300 sampai 500 pohon per ha. Pada umur
tahun. Pohon pala berbuah sepanjang tahun, tetapi puncaknya jatuh pada bulan
Juli dan Januari. Hasil bervariasi antara 10 sampai 30 kg biji pala kering per
pohon per tahun, dan arilus (selaput biji) kering juga diambil dan dijual sebagai
‘bunga pala’.
Kopi (Coffea canephora)
Tanaman kopi merupakan komponen dominan di dalam sistem kebun
campuran sampai tahun 1940, saat budidayanya mulai ditinggalkan. Akhir-akhir
ini kopi mulai ditanam kembali. Kopi ditanam di bawah kanopi durian yang
kurang rapat. Bibitnya diambil dari kebun-kebun telantar di bagian atas lereng.
Selama tahun-tahun awal pertumbuhannya, kopi muda ditanam berdampingan
dengan pisang dan pepaya; pada saat yang sama tanaman muda surian, demikian
pula bayur, dan jenis-jenis kayu yang lain juga ditanam di antara tegakan kopi.
Tanaman kopi sering dipupuk dengan kulit durian yang telah membusuk.
Pemangkasan kopi umumnya tidak dilakukan. Tingkat produksi kopi di sini
umumnya rendah, rata-rata 120 kg biji kering per ha per tahun. Puncak produksi
jatuh pada bulan Juli-Agustus, meskipun masa berbuah kadang-kadang
berlangsung sepanjang tahun. Di dalam kebun campuran tidak ada yang hanya
berisi tegakan kopi. Setelah penurunan secara drastis nilai ekonomi kopi pada
tahun 1930an, petani semakin terdorong memadukan kopi (dan tanaman
komersial lain) dengan tanaman buah-buahan dan kayu-kayuan. Pohon-pohon ini
berperan sebagai naungan kopi dan meningkatkan hasil keseluruhan kebun.
Tanaman musiman (annual crop) yang banyak dibudidayakan petani
responden, yaitu : pisang (Musa paradisiaca), cabai (Capsicum annuum), terung
(Manihot esculent), Tebu (Saccharum officinarum), Kunyit (Curcuma domestica),
Nenas (Ananas comosus), Markisah (Passiflora quadrangularis), Temulawak
(Curcuma xanthorriza), dan Pinang (Areca catechu). Tanaman umbi-umbian
dihindari karena adanya gangguan babi hutan yang luar biasa.
Hasil dari Parak ada yang di jual dan ada yang dikonsumsi untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk bahan bumbu dapur, kayu
bakar, dan bahan bangunan. Distribusi hasil produksi dan harga jual komoditi
disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9. Volume Produksi dan Harga komoditi Parak di Nagari Koto Malintang
No Jenis Komoditi
Intensitas Panen
Volume Produksi Harga Jual (Rp) Sumber : Data Primer, 2007
Fungsi Parak bagi masyarakat Nagari Koto Malintang sebagian besar
bukan sebagai penghasil bahan pangan saja, melainkan sebagai sumber
0
Parak seringkali menjadi satu-satunya sumber uang tunai bagi keluarga petani.
Pendapatan petani Parak berkisar antara Rp 300.000 – Rp 1.500.000. Distribusi
responden berdasarkan pendapatan disajikan dalam Tabel 10 dan Gambar 7.
Tabel 10. Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan
No. Pendapatan (Rp)/tahun Frekuensi Proporsi (%)
1 < Rp 500000 2 4
Gambar 7. Responden Berdasarkan Pendapatan dari Sistem Agroforestry
Berdasarkan Tabel 10 dan Gambar 7 di atas memperlihatkan bahwa
tingkat pendapatan responden berkisar antara Rp 750.000 – Rp 900.000 (28%),
menyusul pendapatan berkisar antara Rp 950.000 – Rp 1.200.000 (28%),
Pendapatan > Rp 1.200.000 (24%), pendapatan antara Rp 500.000 – Rp 700.000
(16%), dan pendapatan < Rp 500.000 (4%). Pendapatan tersebut diperoleh dari
penjualan hasil-hasil yang dapat dipanen secara teratur, misalnya kunyit, pisang,
pinang, cabai rawit, pepaya, coklat, dan kayu manis. Selain itu parak juga dapat
secara musiman seperti pala dan durian. Komoditas-komoditas lain seperti kayu
bahan bangunan juga dapat menjadi sumber uang yang cukup besar, meskipun
tidak tetap dan dapat dianggap sebagai cadangan tabungan untuk kebutuhan
mendadak.
Menurut petani responden parak merupakan kebun bukan hutan. Parak
merupakan warisan sekaligus modal produksi. Sumberdayanya, baik yang tidak
maupun sengaja ditanam, dimanfaatkan dengan selalu mengingat kelangsungan
dan kelestarian kebun. Pohon di hutan dianggap tak ada yang memiliki, sehingga
pohon tersebut tidak mendapat perlindungan yang lebih efektif daripada yang
terdapat di hutan negara. Komponen pohon (sumberdaya) hutan di dalam Parak
dengan demikian turut berperan dalam mengurangi tekanan terhadap sumberdaya
alam karena terhindar dari pencurian dan pembalakan liar.
Pendapatan yang diperoleh dari Parak umumnya dapat memenuhi
kebutuhan petani responden di Nagari Koto Malintang. Distribusi responden
berdasarkan tingkat pemenuhan kebutuhan rumah tangga dengan pendapatan yang
diperoleh dari Parak disajikan dalam Tabel 11 dan Gambar 8.
Tabel 11. Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Rumah Tangga dengan Pendapatan yang Diperoleh dari Parak
No. Jenis Frekuensi Proporsi (%)
1 Tidak terpenuhi 10 20
2 Terpenuhi 40 80
Jumlah 50 100
0
Gambar 8. Responden Berdasarkan Tingkat Pemenuhan
Kebutuhan Rumah Tangga dengan Pendapatan yang Diperoleh dari Parak
Berdasarkan Tabel 11 dan Gambar 8 di atas memperlihatkan bahwa
tingkat pemenuhan kebutuhan rumah tangga dengan pendapatan yang diperoleh
dari Parak, yang terpenuhi sekitar 40 orang (80%) dan yang tidak terpenuhi
sekitar 10 orang (20%). Petani Parak yang merasa pendapatan yang diperoleh dari
Parak tidak mencukupi pemenuhan kebutuhan rumah tangganya disebabkan oleh
kecilnya luasan lahan yang dimilikinya serta pekerjaan di luar Parak yang lebih
memberikan pendapatan yang tinggi dibanding dengan pengelolaan Parak
menyebabkan mereka tidak terlalu peduli dengan Parak tersebut sehingga
pengusahaan Parak tidak maksimal.
Keseragaman tanaman melindungi petani dari ancaman kegagalan panen
salah satu jenis tanaman atau resiko perkembangan pasar yang sulit diperkirakan.
Jika terjadi kemerosotan harga satu komoditas, spesies ini dapat dengan mudah
ditelantarkan saja, hingga suatu saat pemanfaatannya kembali menguntungkan.
Proses tersebut tidak menimbulkan gangguan ekologi terhadap sistem kebun.
Petak kebun tetap utuh dan produktif dan spesies yang ditelantarkan akan tetap
hidup dalam struktur kebun, dan selalu siap dipanen sewaktu-waktu tanpa
0
Tidak ada peran Ada peran
Jenis
Peranan pemerintah terhadap Parak di Nagari Koto Malintang dirasakan
masih kurang oleh petani responden. Hal ini ditunjukkan dari hasil distribusi
responden berdasarkan peran serta pemerintah dalam pengelolaan Parak pada
Tabel 12 dan Gambar 9.
Tabel 12. Peran Serta Pemerintah dalam Pengelolaan Parak
No. Jenis Frekuensi Proporsi (%)
1 Ada peran 16 32
2 Tidak ada peran 34 68
Jumlah 50 100
Sumber : Data Primer, 2007
Gambar 9. Responden Berdasarkan Peran Serta Pemerintah dalam Pengelolaan Parak
Berdasarkan Tabel 12 dan Gambar 9 di atas memperlihatkan bahwa peran
serta pemerintah dalam pengelolaan Parak, responden yang menyatakan ada
peran sebanyak 16 orang (32%) dan yang menyatakan tidak ada perannya
sebanyak 34 orang (68%). Peranan pemerintah hanya terbatas pada pemberian
bibit-bibit tanaman tahunan (parenial crop) seperti bibit jati dan medang. Padahal
masyarakat mengharapkan bantuan lain seperti pemberian bibit tanaman
buah-buahan, tanaman musiman atau dana untuk meningkatkan produktivitas Parak
mereka. Bantuan bibit pun diberikan tidak kepada semua petani Parak. Ada
ketentuan dan syarat khusus sehingga menyulitkan petani, seperti petani yang
memiliki luas lahan lebih dari 2 Ha dan Parak yang letaknya berbatasan langsung
untuk menampung hasil panen mereka sehingga mereka terpaksa menjual
langsung kepada pembeli yang datang ke Parak mereka untuk mengurangi biaya
angkut. Kurangnya penyuluhan dari instansi terkait, baik dinas pertanian maupun
dinas kehutanan, sehingga penyerapan teknologi dan adopsi inovasi berjalan
lambat.
Tidak adanya bantuan teknis yang diberikan kepada petani Parak. Petugas
penyuluhan hanya dilatih menangani kayu manis, pala, atau kopi sebagai tanaman
monokultur. Percobaan-percobaan untuk pemuliaan atau pemberantasan hama
hanya dilakukan pada tegakan monokultur, dan kenyataan penggabungan tanaman
seperti yang dipraktekkan petani tidak diperhitungkan. Hal ini juga berlaku pada
aspek administrasi yang berhubungan dengan budidaya kebun (khususnya
mencakup pajak untuk tanah dan hasil bumi); pajak untuk kayu dan hasil hutan
disetorkan kepada instansi kehutanan, komoditi ekspor kepada instansi
perkebunan, dan hasil buah-buahan kepada instansi pertanian. Hal ini
mempengaruhi kompleksitas pengelolaan dan menyebabkan kesalahpengertian
mengenai sistem Parak oleh pejabat administrasi dan penyuluhan. Hal ini juga
merugikan petani karena mereka harus membayar pajak kepada instansi yang
berbeda-beda, dan kadang-kadang harus membayar pajak dua kali untuk barang
III. Pendapatan dan Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkat
Pendapatan Sistem agroforestry
Model regresi linear berganda digunakan untuk menganalisis faktor-faktor
yang mempengaruhi pendapatan petani agroforestry. Variabel-variabel yang
diestimasi adalah variabel luas lahan (X1), umur (X2), jumlah tenaga kerja (X3),
pendidikan (X4), status kepemilikan lahan (X5) dan tipe/bentuk agroforestry (X6)
sebagai varibel bebas dan pendapatan (Y) sebagai variabel terikat.
Analisis data dilakukan menggunakan SPSS dengan metode stepwise.
Hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani
agroforestry di Nagari Koto Malintang dapat dilihat pada Tabel 13. Hasil
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.
Tabel 13. Hasil Analisis Regresi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Agroforestry di Nagari Koto Malintang Variabel Koefisien
regresi
T-hitung Sig Keterangan
Luas Lahan (X1) 1,371 9,447 0,000 Signifikan
Umur (X2) -0,005 -0,063 0,950 Tdk Signifikan
Tenaga Kerja (X3) 0,525 2,757 0,008 Signifikan
Pendidikan (X4) 0,132 1,707 0,095 Tdk Signifikan
F-hitung 57,076 (df = 47) Signifikan
F-tabel α = 5% 3,23
RSquare (R2) 0,708
Sumber : Hasil Penelitian.
Hasil estimasi persamaan regresi dapat ditulis sebagai berikut :
Dari persamaan regresi di atas dapat diketahui bahwa secara serempak luas
lahan (X1) memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan petani agroforestry,
yang berarti jika luas lahan bertambah 10 % maka akan menambah pendapatan
petani sebesar 13,71 %. Demikian juga dengan variabel tenaga kerja (X3) juga
memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan. Yang berarti jika tenaga kerja
ditambah 10 %, maka pendapatan akan bertambah 5,25 %. Menurut Soekartawi
(1999) bahwa luas lahan pertanian akan mempengaruhi skala usaha, dan skala
usaha ini pada akhirnya akan mempengaruhi efisien atau tidaknya suatu usaha
pertanian. Dicken dan Vergara (1990) menegaskan, dengan adanya sistem
agroforestry akan memberikan manfaat untuk meningkatkan pemanfaatan lahan,
sehingga menambah produksi biomassa sebagai bahan organik, memperbaiki sifat
fisik, kimia dan biologi tanah dan menambah produktivitas lahan. Oleh karena itu
penting bagi petani untuk memanfaatkan lahan mereka secara optimal untuk
meningkatkan pendapatan dengan model agroforestry yang sesuai. Untuk variabel
status kepemilikan lahan (X5) dan tipe/bentuk agroforestry (X6) tidak
berpengaruh karena tidak memiliki korelasi disebabkan oleh keseragaman hasil,
yaitu petani responden menerapkan sistem agrisilvikultur dan status kepemilikan
lahannya adalah milik sendiri.
a. Uji R2 (Koefisien Determinasi)
Nilai R2 mempunyai interval antara 0 sampai 1 (0 ≤ R 2 ≤ 1). Semakin
besar R2 (mendekati 1), semakin baik hasil untuk model regresi tersebut dan
semakin mendekati 0, maka variabel independen secara keseluruhan tidak dapat
mrenjelaskan variabel dependen. Pada Tabel 13 nilai R sebesar 0,842. Artinya,