• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Finansial dan Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Pendapatan Sistem Agroforestry (Studi Kasus Sistem Agroforestry di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Finansial dan Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Pendapatan Sistem Agroforestry (Studi Kasus Sistem Agroforestry di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat)"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FINANSIAL DAN FAKTOR-FAKTOR YANG

BERPENGARUH TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN

SISTEM AGROFORESTRY

(Studi Kasus Sistem Agroforestry Parak di Nagari Koto

Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam,

Sumatera Barat)

HASIL PENELITIAN

Oleh :

WILDA SARTIKA

031201022

DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Judul Skripsi : Analisis Finansial dan Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Pendapatan Sistem Agroforestry (Studi Kasus Sistem Agroforestry di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat)

Nama : Wilda Sartika

NIM : 031201022

Program Studi : Manajemen Hutan Minat Studi : Sosial Ekonomi

Disetujui Oleh :

Komisi Pembimbing

Nurdin Sulistiyono, S.Hut, M.Si Khairida, SP, M.Si Ketua Anggota

Mengetahui :

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang

telah memberikan dan melimpahkan karuniaNya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan usulan penelitian yang berjudul Analisis Finansial dan

Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Pendapatan Sistem

Agroforestry.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak

Nurdin Sulistiyono, S.Hut, M.Si sebagai ketua komisi pembimbing serta Ibu

Khairida, SP, M.Si sebagai anggota komisi pembimbing atas bimbingannya

selama penyelesaian usulan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan

kepada seluruh keluarga atas semua bentuk dukungannya. Serta bantuan dan doa

dari berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan hasil

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Perumusan Masalah... 2

Tujuan Penelitian ... 3

Manfaat Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Hutan Rakyat dan Agroforestry ... 4

Pengertian Agroforestry ... 5

Fungsi Agroforestry ... 6

Klasifikasi Sistem Agroforestry ... 8

Keuntungan dan Kelemahan Agroforestry ... 11

Analisis Finansial Agroforestry ... 14

METODOLOGI PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 19

Populasi dan Sampel Penelitian ... 19

Pengumpulan Data ... 20

Pengolahan data ... 21

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Luas ... 25

Topografi, Tanah dan Iklim ... 25

Sarana dan Prasarana ... 26

Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat ... 26

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden ... 27

Sistem Agroforestry di Nagari Koto Malintang ... 31

Pendapatan dan Faktor-faktor yang berpengaruh Terhadap Tingkat Pendapatan Sistem agroforestry...47.

Kelayakan Finansial Sistem agroforestry ... 51

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 58

Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 60

(5)

DAFTAR TABEL

1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur ... .27

2. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... ... 28

3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian ... ... 29

4. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga .. ... 30

5. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja ... ... 33

6. Distribusi Responden Berdasarkan Luas Lahan Agroforestry... 34

7. Distribusi Responden Berdasarkan Status Lahan Agroforestry .. ... 35

8. Jenis-jenis Tanaman Penyusun Agroforestry... ... 36

9. Volume Produksi dan Harga Komoditi Parak di Nagari Koto Malintang ... ... 41

10.Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan ... ... 42

11.Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Rumah Tangga dengan Pendapatan yang Diperoleh dari Parak ... ... 43

12.Peran Serta Pemerintah dalam Pengelolaan Parak ... ... 45

13.Hasil Analisis Regresi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Agroforestry di Nagari Koto Malintang... ... 47

14.Nilai Payback Period, Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR)... ... 51

15.Analisis Sensitivitas dengan Kenaikan Cost Sebesar 10 % ... ... 52

(6)

DAFTAR GAMBAR

1. Responden Berdasarkan Umur ... 27

2. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 28

3. Responden Berdasarkan Jenis Mata pencaharian ... 30

4. Responden Berdasarkan Jumlah Anggota keluarga ... 30

5. Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja ... 34

6. Responden Berdasarkan Luas Lahan Agroforestry ... 35

7. Responden Berdasarkan Pendapatan dari Sistem Agroforestry .. 42

8. Responden Berdasarkan Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Rumah Tangga dengan Pendapatan yang Diperoleh dari Parak ... 44

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Karakteristik dan Pendapatan Petani Responden

2. Tabulasi Frekuensi dan Crosstabs

3. Skoring Hasil Quisioner dengan Petani Responden

4. Hasil Regresi dengan Menggunakan SPSS

5. Net Present Value (NPV), Net B/C Ratio. dan Internal Rate of Return

(IRR) Usaha Parak di Nagari Koto Malintang

6. Analisis Usaha Tani Parak di Nagari Koto Malintang

7. Analisis Sensitivitas dengan Kenaikan Cost Sebesar 10 %

8. Analisis Sensitivitas dengan Penurunan Harga Jual sebesar 10%

9. Contoh Kuisioner Penelitian

(8)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu bentuk pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat yang

tinggal di sekitar hutan adalah penerapan sistem agroforestry. Agroforestry

didefinisikan sebagai suatu sistem pengelolaan lahan dengan berasaskan

kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan,

mengkombinasikan produksi tanaman (termasuk tanaman pohon-pohonan) dan

tanaman hutan dan/atau hewan secara bersamaan atau berurutan pada unit lahan

yang sama, dan menerapkan cara-cara pengelolaan yang sesuai dengan

kebudayaan penduduk setempat (Arief, 2001).

Agroforestry merupakan suatu kebudayaan bertani yang sudah lama

dipraktekkan oleh masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah Parak di daerah

Koto Malintang. Petani Koto Malintang telah mengembangkan Parak (kebun

campuran) yang sangat mengesankan, berisi perpaduan tanaman pohon komersil

dan spesies-spesies hutan yang dikelola yang mendominasi bentang alam kawasan

pertanian. Kebun-kebun ini sudah dikembangkan sejak lama, berawal dari upaya

bekas tegakan hutan yang ditanami kembali dengan pepohonan setelah ditanami

padi.

Sistem agroforestry tersebut telah lama dilakukan oleh masyarakat sebagai

suatu tradisi yang turun temurun dan kegiatan ini dilakukan dalam upaya

masyarakat untuk mengelola lahan secara optimal untuk mendatangkan

pendapatan yang besar dari hasil penjualan komoditi agroforestry. Informasi yang

(9)

mempengaruhi tingkat pendapatan sistem agroforestry di Nagari Koto Malintang

masih sangat sedikit.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan kajian

untuk mengkaji tipe/bentuk, kelayakan finansial dan faktor-faktor yang

mempengaruhi tingkat pendapatan sistem agroforestry di Nagari Koto Malintang,

Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Hasil penelitian ini

diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah setempat dan masyarakat di

dalam maupun di luar hutan dalam pengelolaan sumber daya hutan sehingga dapat

meningkatkan kesejahteraan masyarakat guna tercapai kelestarian hutan.

Perumusan Masalah

Perumusan masalah yang dipakai dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana tipe/ bentuk agroforestry yang diterapkan oleh petani di Nagari

Koto Malintang ?

2. Jenis tanaman/komoditi apa yang menyusun Parak di Nagari Koto

Malintang ?

3. Bagaimana kelayakan finansial dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi

(10)

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Mengetahui komponen/komoditi penyusun Parak di Nagari Koto

Malintang.

2. Mengklasifikasikan sistem agroforestry yang terdapat di Nagari Koto

Malintang berdasarkan struktur (komponen-komponen penyusunnya).

3. Mengetahui kelayakan finansial dan faktor-faktor yang mempengaruhi

tingkat pendapatan sistem agroforestry di Nagari Koto Malintang.

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah :

1. Memberikan masukan bagi pemerintah setempat dan masyarakat yang

terdapat di Nagari Koto Malintang agar dapat mengelola sumber daya

hutan dengan memperhatikan prinsip kelestarian hutan.

2. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan dari para pembaca tentang

kelayakan finansial dan pengaruh sistem agroforestry terhadap

pendapatan masyarakat sekitar dan di dalam hutan.

(11)

TINJAUAN PUSTAKA

Hutan Rakyat dan Agroforestry

Hutan rakyat adalah hutan yang pengelolaannya dilaksanakan oleh

organisasi masyarakat baik pada lahan individu, komunal (bersama), lahan adat,

maupun lahan yang dikuasai oleh negara. Hutan rakyat tersusun dari satuan

ekosistem kehidupan mulai dari tanaman keras, non kayu, satwa, buah-buahan,

satuan usahatani semusim, peternakan, barang dan jasa, serta rekreasi alam

(Awang, dkk, 2002).

Hutan rakyat merupakan salah satu model pengelolaan sumberdaya alam

yang berdasarkan inisiatif masyarakat. Hutan rakyat di Indonesia pada umumnya

dikembangkan pada lahan milik masyarakat. Di Indonesia, hutan rakyat banyak

yang berhasil dikembangkan oleh masyarakat sendiri. Demikian pula halnya

dengan sumbangan produksi kayu dari hutan rakyat di banyak tempat

menunjukkan signifikan yang nyata, seperti di Jawa. Dalam hutan rakyat biasanya

ditanami jenis-jenis jati, mahoni, buah-buahan, nangka, kelapa dan sengon.

Bentuk dan pola hutan rakyat di Indonesia antara lain hutan rakyat sengon, hutan

rakyat jati, hutan rakyat suren di Bukit Tinggi (disebut Parak ) dan hutan adat

campuran (Fahmi, dkk, 2003).

Dalam pengelolaan hutan rakyat dikenal juga istilah usaha tani rakyat

yaitu menanam tanaman kayu-kayuan bercampur dengan tanaman lain di tanah

milik, namun yang menjadi tanaman pokok adalah tanaman kayu-kayuan guna

meningkatkan kesuburan tanah dan lebih disukai oleh masyarakat. Pembangunan

(12)

masalah sosial ekonomi dan lingkungan hidup, selain itu dampak positif yang lain

adalah terpeliharanya sumberdaya alam (konservasi tanah dan air) sehingga

meningkatkan daya dukung lahan bagi penduduk dan ikut serta dalam pengelolaan

daerah aliran sungai, mengurangi terjadinya kerusakan hutan akibat penebangan

liar dan penyerobotan tanah. Kombinasi berbagai jenis tanaman memungkinkan

pemetikan hasil secara terus menerus dan memungkinkan terbentuknya stratifikasi

tajuk sehingga mencegah erosi tanah dan hempasan air hutan (Arief, 2001).

Pola pengelolaan hutan rakyat cukup bervariasi, dengan model

agroforestry dengan pola campuran antara tanaman pangan, tanaman

buah-buahan, tanaman keras, tanaman perkebunan, palawija, tanaman obat-obatan dan

lain-lain. Dengan demikian sistem hutan rakyat telah secara nyata

menggambarkan model-model ekosistem sumberdaya alam yang stabil bagi

alamnya sendiri dan stabil pula untuk kepentingan sosial dan ekonomi rakyat

pedesaan (Awang, dkk, 2002).

Pengertian Agroforestry

Konsepsi agroforestry dirintis oleh suatu tim dari Canadian International

Development Centre, yang bertugas untuk mengindentifikasi prioritas-prioritas

pembangunan di bidang kehutanan di negara-negara berkembang dalam tahun

1970-an. Oleh tim ini dilaporkan bahwa hutan-hutan di negara tersebut belum

cukup dimanfaatkan. Penelitian yang dilakukan dibidang kehutanan sebagian

besar hanya ditujukan kepada dua aspek produksi kayu, yaitu eksploitasi secara

selektif di hutan alam dan tanaman hutan secara terbatas. Menurut tim,

(13)

masalah-masalah yang selama ini diabaikan, yaitu sistem produksi kayu

bersamaan dengan komoditi pertanian, dan /atau peternakan, serta merehabilitasi

lahan-lahan kritis. Di lain pihak ditemukan kegiatan-kegiatan yang mengarah

kepada pengrusakan lingkungan, yang seakan-akan tidak dapat dikendalikan lagi.

Kecenderungan pengrusakan lingkungan ini perlu dicegah dengan

sungguh-sungguh, dengan cara pengelolaan lahan yang dapat mengawetkan lingkungan

fisik secara efektif, tetapi sekaligus dapat memenuhi kebutuhan pangan, papan,

dan sandang bagi manusia (Anonimus, 2001).

Agroforestry adalah suatu nama kolektif untuk sistem-sistem penggunaan

lahan teknologi, dimana tanaman keras berkayu (pohon-pohonan, perdu,

jenis-jenis palm, bambu, dan sebagainya) ditanam bersamaan dengan tanaman pertaian,

dan/atau hewan, dengan suatu tujuan tertentu dalam suatu bentuk pengaturan

spasial atau urutan temporal, dan di dalamnya terdapat interaksi-interaksi ekologi

dan ekonomi diantara berbagai komponen yang bersangkutan (Nair, 1989).

Agroforestry atau wanatani atau agrohutani merupakan istilah kolektif

untuk beberapa praktek penggunaan lahan, dimana tumbuhan parennial berkayu

ditanam secara sengaja pada sebidang lahan bersama-sama dengan tanaman

semusim dan atau ternak, baik dalam tatanan spesial dalam waktu yang bersamaan

ataupun sekuensial (Arief, 2001).

Fungsi Agroforestry

Fungsi agroforestry ditinjau dari aspek biofisik dan lingkungan pada skala

bentang lahan (skala meso) adalah kemampuannya untuk menjaga dan

(14)

terhadap kesesuaian lahan antara lain: (a) Memelihara sifat fisik dan kesuburan

tanah; (b) Mempertahankan fungsi hidrologi kawasan; (c) Mempertahankan

cadangan karbon; (d) Mengurangi emisi gas rumah kaca; dan (e) mempertahankan

keanekaragaman hayati (Lahjie, 2004).

Fungsi agroforestry terhadap aspek sosial, budaya dan ekonomi antara

lain:(a) Kaitannya dengan aspek tenurial, agroforestry memiliki potensi di masa

kini dan masa yang akan datang sebagai solusi dalam memecahkan konflik

menyangkut lahan negara (misal pada hutan lindung; contoh pada kasus HL.

Sungai Wain di Balikpapan, Kalimantan Timur) yang dikuasai oleh para petani

penggarap; (b) Upaya melestarikan identitas kultural masyarakat, pemahaman

akan nilai-nilai kultural dari suatu aktivitas produksi hingga peran berbagai jenis

pohon atau tanaman lainnya di lingkungan masyarakat lokal dalam rangka

keberhasilan pemilihan desain dan kombinasi jenis pada bentuk-bentuk

agroforestry modern yang akan diperkenalkan atau dikembangkan di suatu

tempat, (c) Kaitannya dengan kelembagaan lokal, dengan praktek agroforestry

lokal tidak hanya melestarikan fungsi dari kepala adat, tetapi juga norma, sanksi,

nilai, dan kepercayaan (unsur-unsur dari kelembagaan) tradisional yang berlaku di

lingkungan suatu komunitas; (d) Kaitannya dalam pelestarian pengetahuan

tradisional, salah satu ciri dari agroforestry tradisional adalah diversitas

komponen terutama hayati yang tinggi (polyculture). Sebagian dari tanaman

tersebut sengaja ditanam atau dipelihara dari permudaan alam guna memperoleh

manfaat dari beberapa bagian tanaman sebagai bahan baku pengobatan. Meskipun

hampir di seluruh kecamatan di Indonesia sudah tersedia Puskesmas atau

(15)

memanfaatkan lingkungannya sebagai ‘tabib’ bilamana mereka sakit. Sebagai

contoh pada masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kalimantan Timur

mengenal berbagai macam tumbuhan obat, di antaranya tanaman berkayu yang

tumbuh dalam sistem kebun pekarangan dan kebun hutan mereka (budidaya

lembo); (e) Menyediakan lapangan kerja, sistem agroforestry membutuhkan

tenaga kerja yang tersebar merata sepanjang tahun selama bertahun-tahun

(Widianto, dkk, 2003).

Klasifikasi Sistem Agroforestry

Berbagai tipe agroforestry telah banyak diinventarisir dan

dikembangkangkan dengan bentuk yang beragam tergantung kondisi wilayah,

lokasi dan tujuan agroforestry itu sendiri. Namun demikian, keragaman

agroforestry tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat dasar utama, yaitu:

(1) Berdasarkan strukturnya (Structural Basis) yang berarti penggolongan dilihat

dari komposisi komponen-komponen penyusunnya (tanaman pertanian, hutan,

pakan, dan/atau ternak). Agroforestry dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Agrisilvikultur (Agrisilvicultural Systems)

Sistem agroforestry yang mengkombinasikan komponen kehutanan (atau

tanaman berkayu/woody plants) dengan komponen pertanian (atau tanaman

non-kayu). Tanaman berkayu dimaksudkan yang berdaur panjang (tree

crops) dan tanaman non-kayu dari jenis tanaman semusim (annual crops).

b. Silvopastura (Silvopastural Systems)

Sistem agroforestry yang meliputi komponen kehutanan (atau tanaman

(16)

Kedua komponen dalam silvopastura seringkali tidak dijumpai pada ruang

dan waktu yang sama (misal: penanaman rumput hijauan ternak di bawah

tegakan pinus, atau yang lebih ekstrim lagi adalah sistem ‘cut and carry’

pada pola pagar hidup/living fences of fodder hedges and shrubs; atau pohon

pakan serbaguna/multipurpose fodder trees pada lahan pertanian yang

disebut ‘protein bank’).

c. Agrosilvopastura (Agrosilvopastural Systems)

Merupakan pengkombinasian komponen berkayu (kehutanan) dengan

pertanian (semusim) dan sekaligus peternakan/binatang pada unit

manajemen lahan yang sama. Contoh: berbagai bentuk kebun pekarangan

(home-gardens), kebun hutan (forest-gardens), ataupun kebun desa

(village-forest-gardens), seperti sistem Parak di Maninjau (Sumatera Barat) atau

Lembo dan Tembawang di Kalimantan.

(Sardjono, dkk, 2003).

(2) Berdasarkan masa perkembangannya, agroforestry dapat dibedakan menjadi :

a. Agroforestry tradisional/klasik yaitu setiap sistem pertanian, di mana

pohon-pohonan baik yang berasal dari penanaman atau pemeliharaan

tegakan/tanaman yang telah ada menjadi bagian terpadu, sosial-ekonomi dan

ekologis dari keseluruhan sistem (agroecosystem).

b. Agroforestry modern umumnya hanya melihat pengkombinasian antara

tanaman keras atau pohon komersial dengan tanaman sela terpilih. Contoh:

berbagai model tumpangsari (baik yang dilaksanakan oleh Perhutani di

hutan jati di Jawa atau yang coba diperkenalkan oleh beberapa pengusaha

(17)

(3) Berdasarkan sistem produksi, agroforestry dibedakan menjadi :

a. Agroforestry berbasis hutan adalah bentuk agroforestry yang diawali

dengan pembukaan sebagian areal hutan dan/atau belukar untuk aktivitas

pertanian (agroforest).

b. Agroforestry berbasis pada pertanian yaitu produk utama tanaman

pertanian dan atau peternakan tergantung sistem produksi pertanian dominan

di daerah tersebut. Komponen kehutanan merupakan elemen pendukung

bagi peningkatan produktivitas dan/atau sustainabilitas.

c. Agroforestry berbasis pada keluarga adalah agroforestry yang

dikembangkan di areal pekarangan rumah (homestead agroforestry).

(Sardjono, dkk, 2003).

(4) Berdasarkan orientasi ekonomi, agroforestry dibedakan atas :

a. Agroforestry komersial (Commercial Agroforestry) yaitu pengelolaannya

dimaksudkan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomis tinggi melebihi

sistem monokultur.

b. Agroforestry subsisten (Subsistence Agroforestry) yaitu agroforestry

yang dikelola dengan tanpa mempertimbangkan input dan output, berbasis

tenaga keluarga dan umumnya merupakan dampak dari sistem perladangan

berpindah.

c. Agroforestry semi komersial (Semi-Commercial Agroforestry) yaitu

sistem agroforestry yang memiliki sifat di antara komersil dan subsisten

dengan tingkat pengelolaan dan pencapaian produksi medium dan tetap

mempetimbangkan input meski pada tingkat yang tidak maksimal.

(18)

Keuntungan dan Kelemahan Sistem Agroforestry

Penerapan sistem agroforestry mendatangkan keuntungan dan kelemahan

yang berpengaruh pada ekologi atau lingkungan, ekonomi dan sosial. Keuntungan

secara ekologi dapat berupa :

1. Secara ekologis agronomis, sistem agroforestry ternyata dapat

menunujukkan banyak manfaat yang tidak dijumpai pada sistem

pertanaman lainnya. Apabila pada lahan miring penggunaan sistem

agroforestry, maka secara umum pohon-pohon akan menyediakan struktur

permanen di atas dan di bawah tanah bagi sistem pertanaman. Dengan

cara ini, pergerakan air dan tanah akan dihambat dan kehilangan akibat

erosi tanah dapat berkurang banyak

2. Sistem agroforestry juga mampu memberikan dampak posotif terhadap

kesuburan tanah, terutama jika menggunakan pohon dan perdu dari jenis

legume yang menyediakan mekanisme penyediaan nitrogen melalui fiksasi

bioligis

3. Sisem agroforestry mempengaruhi populasi invertebrata dan

mikroorganisme, sehingga mampu berperan lebih banyak dalam

agroekosistem

4. Agroforestry juga merupakan salah satu sarana pentung untuk

merehabilitasi lahan kritis, terutama di daerah hulu DAS

(Arief, 2001).

Secara ekonomis, agroforestry memberikan keuntungan yang cukup

berarti bagi petani, masyarakat, daerah atau negara. Keuntungan-keuntungan ini

(19)

1. Peningkatan kesinambungan hasil-hasil pangan, pakan ternak, kayu bakar,

pupuk dan kayu pertukangan

2. Mengurangi terjadinya kegagalan total tanaman pertanian yang biasanya

terjadi pada tanaman jenis tunggal atau sistem monokultur

3. Meningkatkan jumlah pendapatan pertanian karena peningkatan

produktifitas dan kesinambungan produksi.

Selain manfaat ekonomi, juga terdapat manfaat-manfaat sosial melalui

peningkatan hasil produksi pohon dan tanaman serta peningkatan kelestarian

hasil-hasil. Manfaat-manfaat ini meliputi :

1. Peningkatan standar kehidupan di pedesaan melalui penyediaan lapangan

kerja berkelanjutan dan pendapatan yang lebih tinggi

2. Peningkatan gizi dan kesehatan karena meningkatnya kualitas dan

keanekaragaman hasil dan pangan

3. Stabilisasi dan peningkatan pada masyarakat dataran tinggi dengan

menghapuskan kebutuhan untuk memindahkan ladang dalam kegiatan

pertanian.

(Lahjie, 2004).

Selain keuntungan tersebut di atas, sistem agroforestry juga memiliki

kelemahan-kelemahan, baik secara ekologi atau lingkungan, maupun secara sosial

ekonomi. Kelemahan dari aspek lingkungan antara lain : (1) Kemungkinan

terjadinya persaingan sinar matahari, air tanah dan hara antara tanaman pohon

(hutan) dengan tanaman pertanian/pangan dan pakan ; (2) Kerusakan tanaman

pangan pada saat dilakukan pemanenan tanaman pohon (terutama saat

(20)

hama dan penyakit tanaman pertanian; dan (4) Relatif lamanya regenerasi

tanaman pohon menyebabkan penyempitan lahan untuk tanaman pangan sejalan

dengan semakin besarnya tanaman pohon. Kelemahan dari segi sosial ekonomi

antara lain: (1) Terbatasnya tenaga kerja yang berminat di bidang pertanian,

khisusnya dalam membangun sistem agroforestry; (2) Terjadinya persaingan

antara tanaman pohon dengan tanaman pangan yang dapat menurunkan hasil

tanaman pangan (sumber gizi keluarga) dibandingkan pada penanaman dengan

sistem monokultur; (3) Waktu yang cukup lama untuk menunggu panen tanaman

pohon dapat mengurangi produksi sistem agroforestry tersebut; (4) Sistem

agroforestry diakui lebih kompleks sehingga lebih sulit diterapkan apalagi dengan

pengetahuan petani yang terbatas dibandingkan pada sistem pertanian monokultur

yang biasa digunakan; dan (5) Keengganan sebagian besar petani untuk

menggantikan tanaman pertanian/pangan dengan tanaman pohon atau sebaliknya,

yang lebih bernilai ekonomis (Chundawat and Gautam, 1993).

Dengan tingkat pengetahuan yang memadai, sebenarnya

kelemahan-kelemahan sistem agroforestry tersebut di atas dapat dikendalikan atau seluruhnya

dengan jalan : (1) Penggunaan pohon kacang-kacangan atau tanaman berbuah

polong yang sedikit dalam menghambat sinar matahari, sehingga kebutuhan

cahaya untuk tanaman pangan dapat terpenuhi; (2) Pemilihan tanaman pohon

dengan sistem perakaran yang dalam sehingga mengurangi persaingan hara dan

air dengan tanaman pangan di sekitar permukaan atau tanah lapisan atas; (3) Jarak

tanaman pohon yang dibuat lebih besar, sehingga mengurangi persaingan cahaya

matahari, hara dan air tanah dengan tanaman pangan

(21)

Analisis Finansial Agroforestry

Pendapatan dalam kegiatan agroforestry adalah pendapatan bersih petani

(penerimaan dikurang biaya produksi) dalam satu periode panen dari setiap

komponen agroforestry. Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan yang

diperoleh dari usaha dengan biaya yang dikeluarkan untuk usaha tersebut. Adapun

faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan dalam penerapan sistem

agroforestry antara lain luas lahan, status kepemilikan lahan, jumlah tenaga kerja,

umur petani, pendidikan petani, komposisi jenis tanaman dan sistem agroforestry

yang digunakan.

Penerapan sistem agroforestry yang menghasilkan bermacam-macam

produk dapat meningkatkan pendapatan petani karena tidak bergantung pada satu

komoditi saja, misalnya salah satu komoditi yang ditanam gagal panen, masih ada

alternatif komoditi lain yang dapat menghasilkan keuntungan. Pencampuran

tanaman semusim/pangan dan pohon dalam jangka panjang akan menjaga

penurunan kesuburan lahan dan produksi tanaman pangan sehingga dapat

meningkatkan pendapatan petani.

Keberadaan pohon dalam agroforestry mempunyai dua peranan utama.

Pertama, pohon dapat mempertahankan produksi tanaman pangan dan

memberikan pengaruh positif pada lingkungan fisik, terutama dengan

memperlambat kehilangan hara dan energi, dan menahan daya perusak air dan

angin. Kedua, hasil dari pohon berperan penting dalam ekonomi rumah tangga

petani. Pohon dapat menghasilkan: (1) Produk yang digunakan langsung seperti

(22)

ternak, mulsa; serta (3) Produk atau kegiatan yang mampu menyediakan lapangan

kerja atau penghasilan kepada anggota rumah tangga.

Sistem produksi agroforestry memiliki suatu kekhasan, di antaranya:

a. Menghasilkan lebih dari satu macam produk

b. Pada lahan yang sama ditanam paling sedikit satu jenis tanaman semusim

dan satu jenis tanaman tahunan/pohon

c. Produk-produk yang dihasilkan dapat bersifat terukur (tangible) dan tak

terukur (intangible)

d. Terdapat kesenjangan waktu (time lag) antara waktu penanaman dan

pemanenan produk tanaman tahunan/pohon yang cukup lama

Analisis ekonomi terhadap suatu sistem agroforestry harus memperhatikan

ciri-ciri sistem agroforestry tersebut di atas. Pada kondisi nyata di lapangan,

produksi dari suatu sistem agroforestry membutuhkan jangka waktu lama untuk

dapat menghasilkan produk dari spesies tanaman tahunan. Selain itu manfaat

keberadaan sistem agroforestry terhadap lingkungan tidak bisa dilihat dalam

waktu pendek. Oleh karena itu analisis jangka panjang dianggap lebih tepat untuk

melihat keseluruhan keuntungan yang dapat diberikan oleh suatu sistem

agroforestry.

Sistem agroforestry menghasilkan bermacam-macam produk yang jangka

waktu pemanenannya berbeda, di mana paling sedikit satu jenis produknya

membutuhkan waktu pertumbuhan yang lebih dari satu tahun. Untuk melihat

sejauh mana suatu usaha agroforestry memberikan keuntungan, maka analisis

yang paling sesuai untuk dipakai adalah analisis proyek yang berbasis finansial.

(23)

manfaat yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan, berapa keuntungannya, kapan

pengembalian investasi terjadi dan pada tingkat suku bunga berapa investasi itu

memberikan manfaat. Melalui cara berpikir seperti itu maka harus ada

ukuran-ukuran terhadap kinerjanya.Ukuran-ukuran-ukuran yang digunakan umumnya adalah :

a. Payback Period

b. Net Present Value (NPV)

c. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) atau Rasio Keuntungan Biaya dan

d. Internal Rate of Return (IRR).

Berdasarkan data-data pendapatan (penerimaan), pengeluaran (biaya) dan

keuntungan bersih maka dapat dilakukan perhitungan-perhitungan NPV dan Net

B/C untuk digunakan sebagai alat pengambilan keputusan dalam menanamkan

investasi. Ukuran-ukuran seperti itu diperlukan untuk mengetahui prospek usaha

suatu sistem agroforestry secara finansial serta untuk membandingkan antara

usaha tani dengan pola agroforestry dengan usaha tani pola monokultur. Analisis

finansial melalui perhitungan dan kriteria investasi yang meliputi:

a. Payback Period

Merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui jangka waktu

kembalinya investasi yang telah dikeluarkan. Keuntungan dari analisis ini adalah

mudah dimengerti dan dihitung, namun memiliki beberapa kelemahan diantaranya

tidak dapat mengukur keuntungan dari suatu usaha. Dengan model formulasi

sebagai berikut :

(24)

b. Net Present Value (NPV)

Yaitu nilai saat ini yang mencerminkan nilai keuntungan yang diperoleh

selama jangka waktu pengusahaan dengan memperhitungkan nilai waktu dari

uang atau time value of money. Karena jangka waktu kegiatan suatu usaha

agroforestry cukup panjang, maka tidak seluruh biaya bisa dikeluarkan pada saat

yang sama, demikian pula hasil yang diperoleh dari suatu usaha agroforestry

dapat berbeda waktunya. Untuk mengetahui nilai uang di masa yang akan datang

dihitung pada saat ini, maka baik biaya maupun pendapatan agroforestry di masa

yang akan datang harus dikalikan dengan faktor diskonto yang besarnya

tergantung kepada tingkat suku bunga bank yang berlaku di pasaran. Dengan

model formulasi sebagai berikut :

NPV =

Dengan kriteria apabila NPV > 0 berarti usaha tersebut menguntungkan,

(25)

c. Benefit Cost Ratio (B/C Rasio)

Yaitu perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran selama jangka

waktu pengusahaan (dengan memperhitungkan nilai waktu dari uang atau time

value of money). Dengan model formulasi sebagai berikut :

Net B/C =

Dengan kriteria Net B/C rasio > 1 dinyatakan usaha tersebut layak

diusahakan dan sebaliknya jika Net B/C rasio < 1 berarti usaha tersebut tidak

layak diusahakan.

d. Internal Rate of Returns (IRR)

Menunjukkan tingkat suku bunga maksimum yang dapat dibayar oleh

suatu proyek/usaha atau dengan kata lain merupakan kemampuan memperoleh

pendapatan dari uang yang diinvestasikan. Dalam perhitungan, IRR adalah

tingkat suku bunga apabila Net B/C yang terdiskonto sama dengan nol. Usaha

agroforestry akan dikatakan layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat

suku bunga yang berlaku di pasar pada saat tersebut. Dengan model formulasi

sebagai berikut :

(26)

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung

Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan

selama 2 bulan yaitu pada bulan Maret sampai dengan April 2007.

Populasi dan Sampel Penelitian

Jumlah penduduk di Nagari Koto Malintang sebanyak 707 KK (Sumber:

Kantor Kelurahan/Wali Nagari Koto Malintang, 2006), tetapi yang menjadi

populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh Kepala Keluarga di Nagari Koto

Malintang yang memiliki lahan agroforestry yaitu sebanyak 319 KK (Sumber:

Kantor Kelurahan/Wali Nagari Koto Malintang, 2006). Jumlah sampel dalam

penelitian ini adalah 15 % dari populasi yang memiliki lahan agroforestry yaitu

50 KK. Menurut Arikunto (1996), bahwa apabila populasinya lebih kecil dari 100

sebaiknya diambil semua, tetapi bila populasinya besar dari 100 maka dapat

diambil 10 %-15 % saja.

Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara Purposive Sampling

(sampel bertujuan). Menurut Soekartawi (1995), dalam purposive sampling,

pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri atau sifat tertentu yang

dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri atau sifat populasi yang

sudah diketahui sebelumnya. Metode purposive sampling ini digunakan untuk

(27)

Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah :

1. Data primer

Data primer yang diperlukan adalah :

a. Karakteristik responden : nama, umur, mata pencaharian, jumlah

anggota keluarga dan pendidikan.

b. Sistem agroforestry di Nagari Koto Malintang.

c. Pendapatan dan Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat

pendapatan sistem agroforestry.

d. Kelayakan finansial sistem agroforestry

2. Data Sekunder

Data sekunder yang diperlukan adalah data umum yang ada pada instansi

pemerintah desa, kecamatan, dinas kehutanan dan perkebunan, BPS dan

lembaga-lembaga lain yang terkait.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara :

1. Kuisioner

Kuisioner merupakan suatu set pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh

sampel dalam penelitian. Data yang diperlukan adalah data primer.

Adapun contoh kuisioner yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat

(28)

2. Wawancara Mendalam (Deep Interview)

Wawancara ditujukan untuk melengkapi data lainnya yang berkaitan

dengan penelitian.

3. Observasi

Survey langsung ke lapangan dengan melihat kehidupan sehari-hari

masyarakat dan kondisi lahan agroforestry.

4. Studi Pustaka

Dilakukan untuk mendapatkan data-data sekunder yang diperlukan dalam

penelitian.

Pengolahan Data

Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan statistik.

Analisis-analisis yang digunakan adalah :

1. Analisis Deskriptif

Menurut Nazir (1988), metode deskriptif digunakan untuk mengetahui dan

menganalisis data yang terkumpul dari hasil kuisioner, wawancara mendalam,

observasi dan studi pustaka. Data yang terkumpul dari hasil kuisioner dinyatakan

dalam bentuk tabel (tabulasi) frekuensi silang yang berupa data karakteristik

responden yang meliputi umur, pendidikan, mata pencaharian, jumlah anggota

keluarga, data bentuk pengelolaan yang meliputi jumlah tenaga kerja, luas lahan,

status lahan, komponen penyusun, bentuk atau tipe agroforestry, dianalisis secara

(29)

2. Analisis Regresi Berganda

Sistem agroforestry telah lama dikembangkan oleh masyarakat di Nagari

Koto Malintang sebagai suatu tradisi yang turun temurun dan kegiatan ini

dilakukan dalam upaya masyarakat untuk mengelola lahan secara optimal untuk

mendatangkan pendapatan yang besar dari hasil penjualan komoditi agroforestry.

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat pendapatan

sistem agroforestry digunakan analisis regresi berganda dengan metode stepwise.

Metode stepwise yaitu metode dimana adanya pemisahan variabel bebas yang

layak masuk dalam model regresi dengan variabel bebas yang tidak layak masuk

dalam regresi akan dikeluarkan (elimination). Secara sistematis regresi linear

berganda dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut :

Y = a0 + a1 X1 + a2 X2 + a3 X3 + a4 X4 + a5 X5 + a6 X6

Dimana : Y = Pendapatan a0 = Intercept

a1 = Koefisien penduga dari xi (i = 1,2,3,4,5)

X1 = Luas lahan

X2 = Umur

X3 = Jumlah tenaga kerja

X4 = Pendidikan

X5 = Status kepemilikan lahan

X6 = Tipe/bentuk agroforestry

3. Analisis Finansial

Untuk melihat sejauh mana suatu usaha agroforestry memberikan

keuntungan, maka analisis yang paling sesuai untuk dipakai adalah analisis

(30)

mengetahui seberapa besar manfaat yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan,

berapa keuntungannya, kapan pengembalian investasi terjadi dan pada tingkat

suku bunga berapa investasi itu memberikan manfaat.

Data yang diperoleh dari kuisioner dan wawancara mendalam yang

meliputi kegiatan pengelolaan Parak, biaya produksi, produksi/volume hasil,

harga jual komoditi, dan pendapatan dinyatakan dalam bentuk tabulasi. Kemudian

di analisis finansialnya dengan menghitung besarnya nilai Payback Period, NPV,

Net B/C dan IRR dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(31)

i = Interest (tingkat suku bunga bank yang berlaku)

t = Periode waktu

i1 = Discount Factor (tingkat bunga) pertama dimana diperoleh NPV

Positif.

i2 = Discount Factor (tingkat bunga) kedua dimana diperoleh NPV

Negatif.

Suatu usaha dikatakan layak secara finansial dengan kriteria sebagai

berikut :

1. Jika nilai NPV > 0

2. Jika nilai Net B/C Rasio > 1

(32)

0

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. Karakteristik Responden

Karakteristik responden merupakan salah satu unsur yang secara tidak

langsung dapat mempengaruhi tingkat pendapatan petani agroforestry.

Karakteristik responden yang dianalisis dalam penelitian ini antara lain: umur,

pendidikan, mata pencaharian, dan jumlah anggota keluarga. Rata-rata umur

petani responden berkisar antara umur 25 – 65 tahun. Distribusi responden

berdasarkan umur disajikan dalam Tabel 1 dan Gambar 1..

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur

No. Kelompok Umur (Tahun)

Frekuensi Proporsi (%)

1 20 – 30 5 10

Gambar 1. Responden Berdasarkan Umur

Tabel 1 dan Gambar 1 di atas memperlihatkan bahwa konsentrasi umur

(33)

0

SD SLTP SLTA PT

Tingkat Pendidikan

kelompok usia antara 41 – 50 tahun (30%), kelompok usia antara 51 – 60 tahun

(16%), kelompok usia antara 20 – 30 tahun (10%) dan kelompok usia < 61 tahun

(6%). Rata-rata umur responden adalah 38 tahun. Umur responden tersebut

tergolong pada usia produktif yaitu berada antara 15 – 64 tahun, sehingga dapat

dikatakan bahwa tenaga kerja responden masih potensial untuk mengelola

usahataninya. Umur akan menunjukkan kemampuan fisik. Pada umur tertentu

seorang pekerja mencapai titik optimal, kemudian dengan penurunan umur maka

kemampuan fisik seseorang akan menurun. Untuk petani responden yang berusia

muda pada umumnya menjadi petani karena warisan dari orang tuanya atau

karena tidak mempunyai keterampilan lain selain bertani.

Karakteristik responden selanjutnya adalah tingkat pendidikan dan mata

pencaharian. Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan disajikan dalam

Tabel 2 dan Gambar 2.

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No. Tingkat Pendidikan Frekuensi Proporsi (%)

1 Tidak Sekolah 2 4

2 S D (SD/SR/MI) 4 8

3 S L T P (SMP/MTs) 25 50

4 SLTA(SMA/SMU/SMK/MA) 14 28

5 Perguruan Tinggi (D1, D2, D3, Akademi, Sarjana Muda, Sarjana)

5 10

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer, 2007

(34)

Tingkat pendidikan formal berperan terhadap proses untuk meningkatkan

pendapatan karena dengan pendidikan akan diperoleh keahlian teknik budidaya

dan kemampuan terhadap penyerapan teknologi. Tabel 2 dan Gambar 2 di atas

menunjukkan tingkat pendidikan responden di Nagari Koto Malintang pada

umumnya kebanyakan responden berlatar belakang pendidikan SLTP yaitu 25

orang (50%), diikuti pendidikan SLTA sebanyak 14 orang (28%), Perguruan

Tinggi sebanyak 5 orang (10%), SD sebanyak 4 orang (8%) dan Tidak Sekolah

sebanyak 2 orang (4%). Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan

responden relatif masih rendah. Tingkat pendidikan petani ini sangat berpengaruh

terhadap wawasan dan cara berpikir petani dalam menentukan tindakan

usahataninya. Menurut Djamali (2002), tingkat pendidikan sejalan dengan tingkat

produktivitas dan efisiensi kerja. Semakin tinggi kompleksitas suatu pekerjaan,

maka semakin tinggi tingkat pendidikan yang dibutuhkan.

Pada umumnya pekerjaan utama para petani responden adalah bertani.

Adapun karakteristik responden berdasarkan jenis mata pencaharian disajikan

dalam Tabel 3 dan Gambar 3.

Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian

No. Jenis Mata Pencaharian Frekuensi Proporsi (%)

1 Petani 39 78

2 Pedagang 3 6

3 Wiraswasta 2 4

4 PNS 6 12

Jumlah 50 100

(35)

0

Je nis Mata Pe ncaharian

Ju

Jum lah Anggota Ke luarga (orang)

Ju

Gambar 3. Responden Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian

Berdasarkan Tabel 3 dan Gambar 3 di atas menunjukkan mata

pencaharian petani responden pada umumnya adalah bertani (78%). Selain

dibidang usaha tani, responden juga bekerja diluar usaha tani antara lain sebagai

pedagang (6%), wiraswasta (4%) dan PNS (12%).

Sebagian besar petani responden memiliki jumlah anggota keluarga

rata-rata 4 – 6 orang. Distribusi responden berdasarkan jumlah anggota keluarga

disajikan dalam Tabel 4 dan Gambar 4.

Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga

No. Jumlah Anggota Keluarga (Orang) Frekuensi Proporsi (%)

1 1 – 3 9 18

2 4 – 6 25 50

3 7 – 9 15 30

4 > 9 1 2

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer, 2007

(36)

Besar kecilnya jumlah anggota keluarga akan sangat berpengaruh terhadap

pengurangan dan peningkatan produksi usaha tani, karena semakin besarnya

anggota keluarga akan mencerminkan ketersediaan tenaga kerja yang bekerja

untuk meningkatkan usaha tani, namun dilain pihak dengan besarnya anggota

keluarga akan mempengaruhi terhadap pendapatan karena besarnya biaya yang

dikeluarkan untuk konsumsi rumah tangga lebih banyak sehingga dituntut untuk

menghasilkan produk usaha tani lebih besar. Tabel 4 dan Gambar 4 di atas

menunjukkan bahwa konsentrasi jumlah anggota keluarga berada dalam

kelompok interval antara 1 – 3 orang (18%), menyusul kelompok interval antara 4

– 6 orang (50%), kelompok interval 7 – 9 orang (30%) dan kelompok interval > 9

orang (2%). Kondisi ini menggambarkan keadaan anggota keluarga responden

termasuk dalam kategori keluarga kecil, sehingga ketersediaan tenaga kerja dari

dalam keluarga sangat kecil.

II. Sistem Agroforestry di Nagari Koto Malintang

Sistem agroforestry yang ada di Nagari Koto Malintang merupakan sistem

agroforestry kompleks, yaitu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak

jenis pepohonan (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh

secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan

ekosistem yang menyerupai hutan. Di dalam sistem ini selain terdapat beraneka

jenis pohon juga terdapat tanaman perdu, tanaman musiman dan rerumputan

(37)

Nagari Koto Malintang memiliki ciri kebudayaan yang tua dengan

beragam sistem pertanian perpaduan sawah beririgasi dan bermacam tanaman

keras. Petani Koto Malintang telah mengembangkan kebun campuran pepohonan

(Parak) yang sangat mengesankan. Kebun-kebun ini sudah dikembangkan sejak

dahulu kala, berawal dari upaya bekas tegakan hutan yang ditanami kembali

dengan pepohonan setelah ditanami padi.

Berdasarkan keterangan penduduk setempat pada tahun 1901 masyarakat

sudah memulai menanam durian untuk dikonsumsi lokal. Pohon durian selain

berfungsi sebagai pencegah tanah longsor juga mempunyai nilai ekonomi dan

bermanfaat bagi anak cucu keturunannya. Tahun 1935 masyarakat mulai

menanam kayu manis. Jadi jelas bahwa sistem agroforestry telah lama diterapkan

oleh masyarakat di Nagari Koto Malintang secara turun temurun.

Terbentuknya sistem agroforestry di Nagari Koto Malintang berawal dari

pengusahaan lahan bekas hutan alam atau semak belukar yang diawali dengan

penebangan dan pembakaran semua tumbuhan. Pada awal musim penghujan,

lahan ditanami padi gogo yang disisipi tanaman semusim lainnya (jagung, cabe)

untuk satu dua kali panen. Setelah dua kali panen tanaman semusim, intensifikasi

penggunaan lahan ditingkatkan dengan menanam pepohonan, misalnya surian,

bayur atau tanaman keras lainnya. Pada periode awal ini, terdapat perpaduan

sementara antara tanaman semusim dengan pepohonan. Pada saat pohon sudah

dewasa, petani masih bebas memadukan bermacam-macam tanaman tahunan lain

yang bermanfaat dari segi ekonomi dan budaya, misalnya penyisipan pohon

durian, kopi, dan coklat. Tanaman semusim sudah tidak ada lagi. Tumbuhan asli

(38)

dan dipelihara di antara tanaman utama, misalnya surian, bayur, kayu manis.

Tebang pilih akan dilakukan bila tanaman pokok mulai terganggu atau bila pohon

terlalu tua sehingga tidak produktif lagi.

Petani responden menerapkan praktik pertanian konvensional (menanam,

menyiangi, memupuk, menebang) dan berusaha mengintegrasikan proses alami

bahan organik, perputaran unsur hara, dan regenerasi vegetasi dalam mengelola

Parak. Dalam pengelolaan Parak hanya tenaga keluarga yang dipakai. Masa

paling sibuk dalam pekerjaan ialah pada musim durian, dan pada masa panen

kayu manis. Suami menebang pohon, istri dan anak-anak mengelupas kulit dan

membawanya ke rumah. Sebagian besar kegiatan pengelolaan kebun campuran

tidak tertentu waktunya dan bila perlu dapat diatur bergiliran. Pengumpulan kayu

bakar dan penyiangan biasanya dilakukan oleh perempuan, penanaman oleh

laki-laki, sedangkan pemetikan buah-buahan dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga.

Rata-rata petani responden menggunakan tenaga kerja sekitar 3 – 4 orang.

Tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja keluarga. Distribusi responden

berdasarkan jumlah tenaga kerja disajikan dalam Tabel 5 dan Gambar 5.

Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja

No. Jumlah Tenaga Kerja (Orang) Frekuensi Proporsi (%)

1 1 – 2 14 28

2 3 – 4 35 70

3 > 4 1 2

Jumlah 49 100

(39)

0

Jum lah Te naga Ke rja (orang)

Ju

Gambar 5. Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang bekerja pada lahan agroforestry pada umumnya adalah

tenaga kerja keluarga. Tabel 5 dan Gambar 5 di atas menunjukkan jumlah tenaga

kerja terbanyak berkisar antara 3- 4 orang (70%), tenaga kerja 1 – 2 orang (28%)

dan yang paling sedikit tenaga kerja > 4 orang (2%). Kegiatan pengelolaan Parak

tidak tertentu waktunya dan dapat diatur secara bergiliran. Tenaga kerja yang

bekerja di Parak adalah tenaga kerja keluarga. Pengumpulan kayu bakar dan

penyiangan biasanya dilakukan oleh perempuan, penanaman dilakukan oleh

laki-laki, sedangkan pemetikan buah-buahan dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga.

Masa paling sibuk dalam pekerjaan ialah pada musim durian dan pada masa panen

kayu manis. Biasanya sesama petani saling membantu, misalnya pada masa panen

kayu manis yang laki-laki menebang pohon, perempuan mengelupas kulit dan

membawanya ke desa.

Luas lahan adalah luas lahan agroforestry yang diusahakan oleh petani

responden. Distribusi responden berdasarkan luas lahan agroforestry disajikan

dalam Tabel 6 dan Gambar 6.

Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Luas Lahan Agroforestry No. Luas Lahan (Ha) Frekuensi Proporsi (%)

1 < 1 Ha 16 32

2 1 – 2 Ha 28 56

3 ≥ 3 Ha 6 12

Jumlah 50 100

(40)

0

Luas Lahan Agroforestry (Ha)

Ju

Gambar 6. Responden Berdasarkan Luas Lahan Agroforestry

Tabel 6 dan Gambar 6 menunjukkan frekuensi terbanyak terdapat pada

kelompok petani yang mempunyai lahan 1 – 2 hektar yaitu 28 orang (56%).

Kelompok berikutnya adalah petani yang mempunyai lahan < 1 hektar yaitu 16

orang (32%). Kelompok terakhir adalah petani yang mempunyai lahan ≥ 3 hektar

yaitu 6 orang (12%). Perbedaan golongan petani berdasar luas lahan ini akan

berpengaruh terhadap sumber dan distribusi pendapatannya. Pada luasan lahan

yang dimiliki petani tersebut di atas petani responden akan berusaha seoptimal

mungkin untuk mengusahakan usaha taninya agar dapat berhasil dan mencukupi

kebutuhan rumah tangga mereka.

Lahan agroforestry di Nagari Koto Malintang adalah milik sendiri yang

diperoleh dari warisan keluarga. Distribusi responden berdasarkan status

kepemilikan lahan Agroforestry disajikan dalam Tabel 7.

Tabel 7. Distribusi Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan Agroforestry

No. Status Lahan Frekuensi Proporsi (%)

1 Milik Sendiri 50 100

2 Sewa 0 0

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer, 2007

Adat istiadat penduduk Nagari koto Malintang khas seperti keseluruhan

(41)

satuan sosial keluarga luas. Biasanya, parak dibagi di antara anak perempuan

yang sudah kawin. Parak diusahakan oleh anak perempuan dan keluarganya tetapi

lahan tersebut tidak dapat dijual. Pengambilan keputusan mengenai penjualan atau

penggadaian sebidang tanah atau pohon harus dibuat bersama. Sistem

kepemilikan tanah ini merupakan jaminan yang baik terhadap fragmentasi lahan

secara berlebihan, pembagian lahan produktif, dan penumpukan pemilikan tanah

oleh orang-orang kaya. Hal ini juga mengurangi kemungkinan perubahan

mendadak dalam sistem pertanian karena lahan tidak dapat dijual atau diubah

peruntukkannya dan pohon tidak dapat ditebang atas dasar keputusan perorangan.

Tipe/bentuk agroforestry yang diterapkan petani responden di Nagari

Koto Malintang adalah agrisilvikultur yaitu sistem agroforestry yang

mengkombinasikan komponen kehutanan (atau tanaman berkayu/woody plants)

dengan komponen pertanian (atau tanaman non-kayu). Tanaman berkayu

dimaksudkan yang berdaur panjang (tree crops) dan tanaman non-kayu dari jenis

tanaman semusim (annual crops). Jenis tanaman yang ada di lahan agroforestry

dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu tanaman musiman (annual crop) dan

tanaman tahunan (parenial crop). Jenis-jenis tanaman penyusun agroforestry

disajikan dalam Tabel 8.

Tabel 8. Jenis-jenis Tanaman Penyusun Agroforestry Jenis Tanaman (Nama Lokal) Nama Ilmiah

Tanaman Musiman (Annual Crop)

Singkong Manihot esculenta

Jagung Zea Mays

Tebu Saccharum officinarum

(42)

Pisang Musa paradisiaca

Terung Solanum melongena

Kunyit Curcuma domestica

Nenas Ananas comosus

Pepaya Carica papaya

Markisah Passiflora quadrangularis

Temulawak Curcuma xanthorriza

Pinang Areca catechu

Tanaman Tahunan (Tanaman Perkebunan, Buah-buahan,dan Kayu)(Parenial Crop)

Durian Durio zibethinus

Kayu Manis Cinnamomum burmanii

Surian Toona sinensis

Bayur Pterospermum javanicum

Pala Myristica fragrans

Cengkeh Syzygium aromaticum

Jati Tectona grandis

Kopi Coffea Arabica

Coklat Theobroma cacao

Kelapa Cocos nucifera

Medang Litsea ferrunginea

Sumber : Data Primer, 2007

Tanaman tahunan (parenial crop) yang banyak dibudidayakan petani

responden yaitu :

Durian (Durio zibethinus)

Karakteristik pohonnya besar dengan ketinggian sampai 40 m, merupakan

komponen kanopi Parak dan spesies paling utama di Koto Malintang. Durian

berbuah pada bulan Juli-Agustus sejak berumur 7 tahun. Buahnya dijual kepada

(43)

dikumpulkan dari buah paling besar dan enak, dan ditanam di tempat yang terpilih

di dalam kebun. Pohon ini tidak memerlukan pemeliharaan khusus, tetapi sebelum

musim berbuah vegetasi lapisan terbawah perlu dibersihkan untuk memudahkan

pengumpulan buah yang jatuh. Pohon-pohon durian tua dibiarkan mati secara

alami dan seringkali tumbang sewaktu ada angin kencang dan kayunya diambil

untuk bangunan. Pohon durian menghasilkan kayu berwarna merah yang baik

sebagai dinding rumah.

Surian (Toona sinensis)

Pohon surian berasal dari hutan setempat, berukuran sedang dan tumbuh

sampai setinggi 35 m. Pohon surian memberi naungan yang penting bagi kopi dan

pala, dan menghasilkan kayu yang bagus untuk lantai atau dinding rumah dan

perabotan rumah. Anakan pohon ini didapat dari semaian pada lahan yang

dibersihkan di bawah pohon-pohon tua. Kayunya dipanen pada sekitar umur 30

tahun.

Bayur (Pterospermum javanicum)

Pohon besar yang bisa mencapai tinggi 35 – 40 m ini merupakan jenis

pohon kanopi yang penting di agroforestryt. Bayur ditemukan tumbuh

berdampingan dengan durian. Pohon bayur yang cepat pertumbuhannya ditanam

untuk menghasilkan kayu bangunan. Bayur dapat dipanen setelah berumur 15 –

25 tahun. Bayur menghasilkan kayu berwarna merah yang cocok untuk lantai dan

(44)

Kayu Manis (Cinnamomum burman)

Pohon kayu manis adalah salah satu tanaman ekspor utama Sumatera

Barat, dan sejak berabad-abad yang lalu telah dibudidayakan di Maninjau. Dalam

kebun campuran pohon ini merupakan salah satu spesies tumbuhan bawah yang

utama. Pohon kayu manis ditanam di bawah tegakan durian, bayur dan spesies

lain yang rapat, dari semaian yang dikumpulkan dari kebun dan dipelihara di

persemaian selama setahun. Kulit pohon dapat dipanen bila pohon telah berumur

8-10 tahun; diameter batangnya lebih dari 10 cm dan tingginya sampai 15 m.

Untuk memanennya pohon ditebang dan kulit batang serta dahannya diambil. Satu

pohon sebesar ini rata-rata dapat menghasilkan 8 kg kulit kering. Sedangkan kayu

yang kulitnya telah dikelupas diambil sebagai kayu bakar untuk dipakai sendiri

atau dijual. Kerapatan rata-rata tegakan kayu manis di kebun bervariasi antara 800

dan 1500 pohon per ha tergantung dari tipe perpaduannya dengan pohon atas dan

dengan spesies lapisan bawah yang lain. Cara panen dapat dipilih yaitu tegakan

dipanen sekaligus lalu ditanami kembali seluruhnya, atau dipanen secara teratur

10 sampai 20 pohon ditebang bergiliran, sehingga memungkinkan regenerasi

dengan tumbuhnya tunas baru.

Pala (Myristica fragrans)

Pohon ini berukuran sedang, tinggi sampai 20 m, berasal dari kepulauan

bagian timur Indonesia. Pohon pala ditumbuhkan dari biji yang dipelihara di

persemaian selama satu tahun, semaian ditanam di bawah kanopi pohon durian

dan surian yang agak jarang. Pala dapat berdampingan juga dengan tegakan kayu

manis. Kerapatan pala bervariasi antara 300 sampai 500 pohon per ha. Pada umur

(45)

tahun. Pohon pala berbuah sepanjang tahun, tetapi puncaknya jatuh pada bulan

Juli dan Januari. Hasil bervariasi antara 10 sampai 30 kg biji pala kering per

pohon per tahun, dan arilus (selaput biji) kering juga diambil dan dijual sebagai

‘bunga pala’.

Kopi (Coffea canephora)

Tanaman kopi merupakan komponen dominan di dalam sistem kebun

campuran sampai tahun 1940, saat budidayanya mulai ditinggalkan. Akhir-akhir

ini kopi mulai ditanam kembali. Kopi ditanam di bawah kanopi durian yang

kurang rapat. Bibitnya diambil dari kebun-kebun telantar di bagian atas lereng.

Selama tahun-tahun awal pertumbuhannya, kopi muda ditanam berdampingan

dengan pisang dan pepaya; pada saat yang sama tanaman muda surian, demikian

pula bayur, dan jenis-jenis kayu yang lain juga ditanam di antara tegakan kopi.

Tanaman kopi sering dipupuk dengan kulit durian yang telah membusuk.

Pemangkasan kopi umumnya tidak dilakukan. Tingkat produksi kopi di sini

umumnya rendah, rata-rata 120 kg biji kering per ha per tahun. Puncak produksi

jatuh pada bulan Juli-Agustus, meskipun masa berbuah kadang-kadang

berlangsung sepanjang tahun. Di dalam kebun campuran tidak ada yang hanya

berisi tegakan kopi. Setelah penurunan secara drastis nilai ekonomi kopi pada

tahun 1930an, petani semakin terdorong memadukan kopi (dan tanaman

komersial lain) dengan tanaman buah-buahan dan kayu-kayuan. Pohon-pohon ini

berperan sebagai naungan kopi dan meningkatkan hasil keseluruhan kebun.

Tanaman musiman (annual crop) yang banyak dibudidayakan petani

responden, yaitu : pisang (Musa paradisiaca), cabai (Capsicum annuum), terung

(46)

(Manihot esculent), Tebu (Saccharum officinarum), Kunyit (Curcuma domestica),

Nenas (Ananas comosus), Markisah (Passiflora quadrangularis), Temulawak

(Curcuma xanthorriza), dan Pinang (Areca catechu). Tanaman umbi-umbian

dihindari karena adanya gangguan babi hutan yang luar biasa.

Hasil dari Parak ada yang di jual dan ada yang dikonsumsi untuk

memenuhi kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk bahan bumbu dapur, kayu

bakar, dan bahan bangunan. Distribusi hasil produksi dan harga jual komoditi

disajikan dalam Tabel 9.

Tabel 9. Volume Produksi dan Harga komoditi Parak di Nagari Koto Malintang

No Jenis Komoditi

Intensitas Panen

Volume Produksi Harga Jual (Rp) Sumber : Data Primer, 2007

Fungsi Parak bagi masyarakat Nagari Koto Malintang sebagian besar

bukan sebagai penghasil bahan pangan saja, melainkan sebagai sumber

(47)

0

Parak seringkali menjadi satu-satunya sumber uang tunai bagi keluarga petani.

Pendapatan petani Parak berkisar antara Rp 300.000 – Rp 1.500.000. Distribusi

responden berdasarkan pendapatan disajikan dalam Tabel 10 dan Gambar 7.

Tabel 10. Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan

No. Pendapatan (Rp)/tahun Frekuensi Proporsi (%)

1 < Rp 500000 2 4

Gambar 7. Responden Berdasarkan Pendapatan dari Sistem Agroforestry

Berdasarkan Tabel 10 dan Gambar 7 di atas memperlihatkan bahwa

tingkat pendapatan responden berkisar antara Rp 750.000 – Rp 900.000 (28%),

menyusul pendapatan berkisar antara Rp 950.000 – Rp 1.200.000 (28%),

Pendapatan > Rp 1.200.000 (24%), pendapatan antara Rp 500.000 – Rp 700.000

(16%), dan pendapatan < Rp 500.000 (4%). Pendapatan tersebut diperoleh dari

penjualan hasil-hasil yang dapat dipanen secara teratur, misalnya kunyit, pisang,

pinang, cabai rawit, pepaya, coklat, dan kayu manis. Selain itu parak juga dapat

(48)

secara musiman seperti pala dan durian. Komoditas-komoditas lain seperti kayu

bahan bangunan juga dapat menjadi sumber uang yang cukup besar, meskipun

tidak tetap dan dapat dianggap sebagai cadangan tabungan untuk kebutuhan

mendadak.

Menurut petani responden parak merupakan kebun bukan hutan. Parak

merupakan warisan sekaligus modal produksi. Sumberdayanya, baik yang tidak

maupun sengaja ditanam, dimanfaatkan dengan selalu mengingat kelangsungan

dan kelestarian kebun. Pohon di hutan dianggap tak ada yang memiliki, sehingga

pohon tersebut tidak mendapat perlindungan yang lebih efektif daripada yang

terdapat di hutan negara. Komponen pohon (sumberdaya) hutan di dalam Parak

dengan demikian turut berperan dalam mengurangi tekanan terhadap sumberdaya

alam karena terhindar dari pencurian dan pembalakan liar.

Pendapatan yang diperoleh dari Parak umumnya dapat memenuhi

kebutuhan petani responden di Nagari Koto Malintang. Distribusi responden

berdasarkan tingkat pemenuhan kebutuhan rumah tangga dengan pendapatan yang

diperoleh dari Parak disajikan dalam Tabel 11 dan Gambar 8.

Tabel 11. Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Rumah Tangga dengan Pendapatan yang Diperoleh dari Parak

No. Jenis Frekuensi Proporsi (%)

1 Tidak terpenuhi 10 20

2 Terpenuhi 40 80

Jumlah 50 100

(49)

0

Gambar 8. Responden Berdasarkan Tingkat Pemenuhan

Kebutuhan Rumah Tangga dengan Pendapatan yang Diperoleh dari Parak

Berdasarkan Tabel 11 dan Gambar 8 di atas memperlihatkan bahwa

tingkat pemenuhan kebutuhan rumah tangga dengan pendapatan yang diperoleh

dari Parak, yang terpenuhi sekitar 40 orang (80%) dan yang tidak terpenuhi

sekitar 10 orang (20%). Petani Parak yang merasa pendapatan yang diperoleh dari

Parak tidak mencukupi pemenuhan kebutuhan rumah tangganya disebabkan oleh

kecilnya luasan lahan yang dimilikinya serta pekerjaan di luar Parak yang lebih

memberikan pendapatan yang tinggi dibanding dengan pengelolaan Parak

menyebabkan mereka tidak terlalu peduli dengan Parak tersebut sehingga

pengusahaan Parak tidak maksimal.

Keseragaman tanaman melindungi petani dari ancaman kegagalan panen

salah satu jenis tanaman atau resiko perkembangan pasar yang sulit diperkirakan.

Jika terjadi kemerosotan harga satu komoditas, spesies ini dapat dengan mudah

ditelantarkan saja, hingga suatu saat pemanfaatannya kembali menguntungkan.

Proses tersebut tidak menimbulkan gangguan ekologi terhadap sistem kebun.

Petak kebun tetap utuh dan produktif dan spesies yang ditelantarkan akan tetap

hidup dalam struktur kebun, dan selalu siap dipanen sewaktu-waktu tanpa

(50)

0

Tidak ada peran Ada peran

Jenis

Peranan pemerintah terhadap Parak di Nagari Koto Malintang dirasakan

masih kurang oleh petani responden. Hal ini ditunjukkan dari hasil distribusi

responden berdasarkan peran serta pemerintah dalam pengelolaan Parak pada

Tabel 12 dan Gambar 9.

Tabel 12. Peran Serta Pemerintah dalam Pengelolaan Parak

No. Jenis Frekuensi Proporsi (%)

1 Ada peran 16 32

2 Tidak ada peran 34 68

Jumlah 50 100

Sumber : Data Primer, 2007

Gambar 9. Responden Berdasarkan Peran Serta Pemerintah dalam Pengelolaan Parak

Berdasarkan Tabel 12 dan Gambar 9 di atas memperlihatkan bahwa peran

serta pemerintah dalam pengelolaan Parak, responden yang menyatakan ada

peran sebanyak 16 orang (32%) dan yang menyatakan tidak ada perannya

sebanyak 34 orang (68%). Peranan pemerintah hanya terbatas pada pemberian

bibit-bibit tanaman tahunan (parenial crop) seperti bibit jati dan medang. Padahal

masyarakat mengharapkan bantuan lain seperti pemberian bibit tanaman

buah-buahan, tanaman musiman atau dana untuk meningkatkan produktivitas Parak

mereka. Bantuan bibit pun diberikan tidak kepada semua petani Parak. Ada

ketentuan dan syarat khusus sehingga menyulitkan petani, seperti petani yang

memiliki luas lahan lebih dari 2 Ha dan Parak yang letaknya berbatasan langsung

(51)

untuk menampung hasil panen mereka sehingga mereka terpaksa menjual

langsung kepada pembeli yang datang ke Parak mereka untuk mengurangi biaya

angkut. Kurangnya penyuluhan dari instansi terkait, baik dinas pertanian maupun

dinas kehutanan, sehingga penyerapan teknologi dan adopsi inovasi berjalan

lambat.

Tidak adanya bantuan teknis yang diberikan kepada petani Parak. Petugas

penyuluhan hanya dilatih menangani kayu manis, pala, atau kopi sebagai tanaman

monokultur. Percobaan-percobaan untuk pemuliaan atau pemberantasan hama

hanya dilakukan pada tegakan monokultur, dan kenyataan penggabungan tanaman

seperti yang dipraktekkan petani tidak diperhitungkan. Hal ini juga berlaku pada

aspek administrasi yang berhubungan dengan budidaya kebun (khususnya

mencakup pajak untuk tanah dan hasil bumi); pajak untuk kayu dan hasil hutan

disetorkan kepada instansi kehutanan, komoditi ekspor kepada instansi

perkebunan, dan hasil buah-buahan kepada instansi pertanian. Hal ini

mempengaruhi kompleksitas pengelolaan dan menyebabkan kesalahpengertian

mengenai sistem Parak oleh pejabat administrasi dan penyuluhan. Hal ini juga

merugikan petani karena mereka harus membayar pajak kepada instansi yang

berbeda-beda, dan kadang-kadang harus membayar pajak dua kali untuk barang

(52)

III. Pendapatan dan Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Tingkat

Pendapatan Sistem agroforestry

Model regresi linear berganda digunakan untuk menganalisis faktor-faktor

yang mempengaruhi pendapatan petani agroforestry. Variabel-variabel yang

diestimasi adalah variabel luas lahan (X1), umur (X2), jumlah tenaga kerja (X3),

pendidikan (X4), status kepemilikan lahan (X5) dan tipe/bentuk agroforestry (X6)

sebagai varibel bebas dan pendapatan (Y) sebagai variabel terikat.

Analisis data dilakukan menggunakan SPSS dengan metode stepwise.

Hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani

agroforestry di Nagari Koto Malintang dapat dilihat pada Tabel 13. Hasil

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.

Tabel 13. Hasil Analisis Regresi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Agroforestry di Nagari Koto Malintang Variabel Koefisien

regresi

T-hitung Sig Keterangan

Luas Lahan (X1) 1,371 9,447 0,000 Signifikan

Umur (X2) -0,005 -0,063 0,950 Tdk Signifikan

Tenaga Kerja (X3) 0,525 2,757 0,008 Signifikan

Pendidikan (X4) 0,132 1,707 0,095 Tdk Signifikan

F-hitung 57,076 (df = 47) Signifikan

F-tabel α = 5% 3,23

RSquare (R2) 0,708

Sumber : Hasil Penelitian.

Hasil estimasi persamaan regresi dapat ditulis sebagai berikut :

(53)

Dari persamaan regresi di atas dapat diketahui bahwa secara serempak luas

lahan (X1) memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan petani agroforestry,

yang berarti jika luas lahan bertambah 10 % maka akan menambah pendapatan

petani sebesar 13,71 %. Demikian juga dengan variabel tenaga kerja (X3) juga

memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan. Yang berarti jika tenaga kerja

ditambah 10 %, maka pendapatan akan bertambah 5,25 %. Menurut Soekartawi

(1999) bahwa luas lahan pertanian akan mempengaruhi skala usaha, dan skala

usaha ini pada akhirnya akan mempengaruhi efisien atau tidaknya suatu usaha

pertanian. Dicken dan Vergara (1990) menegaskan, dengan adanya sistem

agroforestry akan memberikan manfaat untuk meningkatkan pemanfaatan lahan,

sehingga menambah produksi biomassa sebagai bahan organik, memperbaiki sifat

fisik, kimia dan biologi tanah dan menambah produktivitas lahan. Oleh karena itu

penting bagi petani untuk memanfaatkan lahan mereka secara optimal untuk

meningkatkan pendapatan dengan model agroforestry yang sesuai. Untuk variabel

status kepemilikan lahan (X5) dan tipe/bentuk agroforestry (X6) tidak

berpengaruh karena tidak memiliki korelasi disebabkan oleh keseragaman hasil,

yaitu petani responden menerapkan sistem agrisilvikultur dan status kepemilikan

lahannya adalah milik sendiri.

a. Uji R2 (Koefisien Determinasi)

Nilai R2 mempunyai interval antara 0 sampai 1 (0 ≤ R 2 ≤ 1). Semakin

besar R2 (mendekati 1), semakin baik hasil untuk model regresi tersebut dan

semakin mendekati 0, maka variabel independen secara keseluruhan tidak dapat

mrenjelaskan variabel dependen. Pada Tabel 13 nilai R sebesar 0,842. Artinya,

Gambar

Gambar 1. Responden Berdasarkan Umur
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian
Gambar 3. Responden Berdasarkan Jenis Mata Pencaharian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Aspek-Aspek pada Model Konseptual Pelatihan Peningkatan Keterampilan Teknis bermuatan Nilai-Nilai Estetis bagi Perajin Mebel Kayu dalam Perspektif Pendidikan Orang

Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data, maka kesimpulannya adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan sebelum bertanding dengan

Menurut Juniardi &amp; SO (2012), e-marketing adalah proses pemasaran secara online melalui teknologi elektronik dalam memasarkan dan mempromosikan produk dan jasa yang

merupakan faktor yang kondusif dalam mendukung daya saing daerah. Manajemen dan Ekonomi Mikro. Dalam indikator manajemen dan ekonomi mikro

WAILAN KARYA PRATAMA 1,143,900,000.00 - TIDAK ADA FILE DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA NAMA PERUSAHAAN.. DAFTAR HASIL

Membuat kue burayot pada anak tunagrahita ringan kelas xii di slb c ykb garut Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu. Kotak plastik

blhr.a berhubung mesatabaEn pembimbing Unil KctnLm Mrhr.is\ a (UK\4) Univcrsitas Ncgeri Yogyrkana trhun 2004 lelih lrrbrs diprndrng

Pada hari ini Senin tanggal Dua puluh sembilan bulan Oktober tahun Dua ribu dua belas, Kami yang bertanda tangan dibawah ini Panitia Pengadaan Barang/Jasa