• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSIAPAN, PELAKSANAAN DAN ANALISIS HASIL A.Persiapan PPL

D. Analisis Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013 Kurikulum 2013

4. Kelebihan dan Kelemahannya a) Kurikulum KTSP SMK XI-XII

Kelebihan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) :

 Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah adanya penyeragaman kurikulum di seluruh indonesia, tidak melihat kepada situasi real di lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal.

 Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program – program pendidikan.

 KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitik beratkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Sekolah dapat menitik beratkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya. Sebagai contoh daerah kawasan kemajuan daerah dapat mengembangkan di bangunan dan bahasa inggris sebagai ketrampilan hidup.

 KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. Karena menurut ahli, beban belajar yang berat dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak.

 KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada Sekolah – sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan.

 Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.

 Kurikulum sangat humanis, yaitu memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan isi/konten kurikulum sesuai dengan

kondisi sekolah, kemampuan siswa dan kondisi daerahnya masing – masing.

 Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi utama di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan masyarakat sekitar.

 Standar kompetensi yang memperhatikan kemampuan individu, baik kemampuan, kecakapan belajar, maupun konteks social budaya.

 Berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi – potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.

 Pengembangan kurikulum dilaksanakan secara desentralisasi (pada satuan tingkat pendidikan) sehingga pemerintah dan masyarakat bersama – sama menetukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum.

 Satuan pendidikan diberikan keleluasan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasikan potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.

 Guru sebagi fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar siswa.

 Mengembangkan ranah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual.

 Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasama antar sekolah, masyarakat, dan dunia kerja yang membentuk kompetensi peserta didik.

 Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar.

 Berpusat pada siswa.

 Menggunakan berbagai sumber belajar.

Kelemahan dari kurikulum KTSP :

 Kurangnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan sekolah.

 Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP.

 Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik konsepnya, penyusunannya, maupun praktiknya dilapangan.

 Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan guru.

b) Kurikulum 2013

Dari ulasan diatas, penulis berpendapat bahwa ada beberapa kelebihan dari rancangan kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya yang ada di SMKN 2 Klaten, diantaranya adalah :

 Melatih anak lebih peka terhadap lingkungan (alam dan sosial), karena belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga dilingkungan sekolah dan masyarakat.

 Membiasakan anak berfikir lebih lebih kreatif dan kritis dengan menggunakan daya nalarnya, mengingat dalam proses pembelajaran yang semula ditekankan pada kegiatan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi, namun dalam rancangan kurikulum 2013 dilengkapi lagi dengan proses mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta.

 Adanya keterbukaan dan transparasi dalam penilaian oleh guru kepada anak melalui penilaian otentik.

Dengan demikian, penulis mencermati ada beberapa kelemahan yang akan menjadi kendala dalam implementasinya, diantaranya :

 Kurikulum 2013 menuntut kompetensi dan skill guru yang baik, terutama dalam memadukan berbagai ketrampilan (soft skill dan hard

skill) dalam setiap pembelajaran, ketrampilan dalam mengembangkan

mata pelajaran berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai, melakukan penilaian otentik, dan yang paling utama adalah keterbukaan dari guru.

 Mengintegrasikan mata pelajaran kejuruan kedalam mata pelajaran non kejuruan di SMK, sudah dapat di pastikan akan terjadi pendangkalan pemahaman materi kejuruan pada anak lususan SMK. Dalam hal ini pasti ada beberapa materi kejuruan di SMK yang akan di reduksi atau dihilangkan sama sekali.

 Masih terkait kelemahan poin 2 pengintegrasian tersebut di khawatirkan menimbulkan beberapa miskonsepsi dari guru dan siswa, mengingat banyak istilah – istilah yang berbeda antara mata pelajaran kejuruan dan non kejuruan. juga di khawatirkan akan terjadi pengabaian materi – materi tertentu (terutama yang terkait konsep kejuruan) oleh guru jika guru tersebut merasa tidak menguasai konsep kejuruan tentang bahasan yang sedang di bahas dalam mata pelajaran non kejuruan, dan guru lebih menekankan non kejuruan nya dibanding kejuruannya, yang seharusnya lebih proporsional.

 Beberapa sekolah (dalam hal ini SMK) yang tidak menerapkan guru kelas, tetapi guru mata pelajaran pada kelas XI-XII (terutama sekolah kejuruan), tentu saja akan kesulitan menerapkan kurikulum 2013, sebab guru non kejuruan yang sudah bertahun – tahun mengajarkan satu mata pelajaran tersebut, tiba – tiba harus juga menguasai mata pelajaran kejuruan. bagaimana sekolah – sekolah tersebut mengantisipasinya? Jika itu bisa diantisipasi dengan memberikan tambahan ketrampilan penguasaan materi kejuruan pada guru tersebut, lalu bagaimana dengan guru mata pelajaran kejuruan yang sudah diangkat sebagai guru tetap? Apakah pemerintah akan mewajibkan (dalam tanda petik memaksa) sekolah – sekolah kejuruan tersebut menerapkan guru kelas ? jika ini terjadi, rasanya ironis sekali dengan apa yang selama ini di dengungkan adanya otonomi pendidikan di sekolah dan otonomi pembelajaran bagi guru di kelas.

 Anggaran yang cukup besar dalam mempersiapkan guru akan menjadi sia – sia jika tidak dirancang secara matang. Siapa yang akan melatih, bagaimana dengan kompetensi instruktur yang akan memberikan pelatihan, lembaga mana yang akan ditugasi untuk mengelola pelatihan guru, dan banyak lagi. Mengingat, diklat – diklat yang selama ini dilakukan nampaknya tidak efektif menghasilkan guu yang profesional, kreatif, dan inovatif. Transformasi dari paradigma teacher

center ke student center selama ini tidak berjalan sesuai harapan.

 Pemilihan calon instruktur, harus benar – benar dilakukan secara transparan dan terseleksi melalui seleksi kompetensi (tidak asal comot karena pertemanan). Pemilihan instruktur untuk melatih guru seperti ini memerlukan waktu yang tidak singkat, mengingat harus ada seleksi awal dan seleksi akhir.

Dokumen terkait