• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BIOGRAFI NASKAH

F. Kelebihan Novel

Kelebihan yang terdapat dalam novel Ada Surga di Rumahmu ialah terdapat dalam bahasanya yang mudah dipahami dan alur yang mudah diikuti oleh pembaca. Sehingga para pembaca dapat dengan mudah memahami pesan yang terkandung didalamnya yang tersirat maupun tersurat. Selain itu, novel karangan Oka Aurora yang mengadopsi dari kisah hidup Ustadz Ahmad Al Habsyi ini banyak memberikan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari

khususnya dalam hal hubungan antara orang tua dan anak. Dari hal mendidik anak, mengatur rumah tangga, sampai pada berbakti kepada kedua orang tua.

BAB III

DESKRIPSI PEMIKIRAN

Dari Novel Ada Surga di Rumahmu dapat dipahami mengenai hikmah atau pun pesan yang ingin disampaikan oleh Oka Aurora yang terkutip dalam novel karangannya. Novel Ada Surga di Rumahmu bercerita tentang pola pendidikan anak yang bisa menginspirasi agar dapat menjadikan anak-anak yang mempunyai iman serta budi pekerti baik khususnya dicerminkan dalam perilaku dalam hal berbakti kepada kedua orang tua.

Setelah penulis membaca, mengkaji, dan memahami makna yang terkandung dari novel Ada Surga di Rumahmu karya Oka Aurora. Penulis menemukan konsep pendidikan anak yang lebih banyak membahas mengenai pendidikan akhlak yang terdapat dalam novel tersebut.

Adapun lebih rincinya, penulis menggambarkan beberapa rangkuman di bawah ini, meliputi:

A.Pendidikan Anak dalam Novel Ada Surga di Rumahmu 1. Pendidikan Anak dengan Keteladanan

Pendidikan dengan keteladanan yang terdapat dalam novel Ada Surga di Rumahmu digambarkan melalui beberapa nilai, diantaranya yaitu:

a. Kasih Sayang

Ketika Ramadan tokoh utama Novel Ada Surga di Rumahmu masaih kanak-kanak, menjaga adik-adiknya merupakan hal yang biasa. Karena mereka terdiri dari tujuh bersaudara. Sedangkan Ramadan

merupakan anak kedua dalam keluarga tersebut. Sehingga mereka sering diminta untuk membantu Umi menjaga adiknya. Adapun kutipan dalam novelnya, yaitu:

(1) “Ramadan,” panggil Umi, “kau jaga Raudah dan Raziq.

Raihan, kau jaga Ruzain dan Rifqi. Biar Kak Raniah bantu Umi masak.” (Aurora, 2015: 6)

Selain itu, Ramadan sebagai anak laki-laki tertua diajarkan untuk membantu kepentingan adik-adiknya. Seperti pada saat adik-adiknya mandi, Ramadan dengan senang hati menyediakan kebutuhan adik-adiknya seperti bolak-balik menimba air dan membiarkan adik-adik-adiknya mandi terlebih dahulu. Kutipan dalam novel yang menggambarkan cerita tersebut yaitu:

(2) Sementara adik-adiknya melucuti baju mereka, Ramadan menimba seember air, menggotongnya sejauh empat meter, lalu menuangnya ke dalam ember biru. Ia biarkan adik-adiknya mandi dan menghabiskan air seember penuh, lalu ia akan menimba lagi, bolak-balik sebanyak tiga sampai empat kali (Aurora. 2015: 5).

Dari cerita di atas dapat dipahami bahwa Umi melatih anak-anaknya untuk memberikan kasih sayang terhadap saudara-saudaranya. Mereka saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah maupun mengurusi adik-adiknya.

b. Rela berkorban

Pendidikan anak yang sangat menonjol dalam novel Ada Surga di Rumahmu karya Oka Aurora ialah tentang rela berkorban. Pengorbanan yang dilakukan oleh Abuya dan Umi untuk anak-anaknya sangatlah luar biasa. Ketika Ramadan dan Raihan masih kecil, Abuya

mengajaknya menempuh perjalanan dari Palembang hingga Bogor untuk menemui seorang Kiai yang bernama Dasa. Perjalanan ditempuhnya beberapa hari dengan menahan lapar hanya untuk “Mengejar Doa” untuk kedua anaknya dari Kiai tersebut. Adapun kutipan ceritanya, sebagai berikut:

(1) “Assalamu‟alaikum, Kiai Dasa,” ucap Abuya dengan suara lirih. “Maaf, saya datang dari Palembang. Mungkin idak bisa terlalu lama tingga di sini. Saya hanya ingin Kiai mendoakan anak-anak saya. Supaya selalu sehat dan selamat dunia-akhirat.” (Aurora, 2015: 12).

Setelah Kiai Dasa memberikan doa untuk Ramadan dan Raihan, kemudian dia menunjukkan pengorbanan Abuya tersebut terhadap jamaahnya. Kutipannya dalam novel ialah sebagai berikut:

(2) “Ini, Saudara-saudaraku, adalah contoh orang tua yang rela melakukan apa saja untuk melakukan kebaikan dunia dan akhirat anak-anaknya. Bapak ini,” ia lantas menatap Abuya dan berkata, “dari Palembang, ya? Dari Palembang, jauh-jauh datang ke sini naik ...?” Ia kembali menatap Abuya.

“Naik kapal, Kiai,” jawab Abuya singkat.

“... naik kapal, naik bus, naik angkot, iya? Jauh-jauh jalan ke sini untuk minta doa.”

Kiai itu kembali tersenyum kepada Ramadan. Ia elus kepala anak itu.

“Nak, siapa namanya?”

“Ramadan dan Raihan, Kiai,” sahut Abuya (Aurora, 2015: 13).

Selain itu, ada pengobanan yang lebih luar biasa lagi dilakukan oleh Abuya, yaitu ketika Abuya Athar –kakak tertua Abuya sekaligus gurunya Ramadan- terbaring di rumah sakit dan membutuhkan donor ginjal. Tanpa sepengetahuan santri di Pondok Pesantren Foerqanoel Moeis, Abuya telah mendonorkan satu ginjalnya. Dia hanya meminta

Buya Athar untuk selalu menyelipkan doa untuk Ramadan di setiap salatnya. Adapun kutipan dalam novelnya, yaitu:

(3) Di tengah-tengah pemeriksaan itu, Buya Athar bertanya pada Ramadan, “ Kau tahu kenapa aku ingin sekali kau menjadi orang? Kenapa aku ingin sekali kau jadi ulama?”

Ramadan tertegun, tak siap ditanyai seberat itu. Bayangan jadi ulama besar tak pernah mampir sesaat pun di benaknya.

“Karena jihad Buya-mu yang membuatku tetap bisa

mengajar. Kalau ia tidak berkorban untukku...” Buya Athar menghentikan kalimatnya karena ia kembali terbatuk (Aurora, 2015: 102).

Namun dalam kutipan tersebut, Ramadan masih belum paham dengan kalimat yang diucapkan oleh Buya Athar. Sampai akhirnya ketika Ramadan tergiur oleh temannya yang mengajaknya menjadi model di Jakarta yang kemudian dia berangkat dengan berbohong kepada Umi. Dalam perjalanan, ia bermimpi ditegur oleh Buya Athar. Sehingga dia berasa berdosa terhadap kedua orang tuanya dan memutuskan untuk balik ke Palembang untuk meminta maaf kepada Abuya dan Umi. Lalu, dengan terpaksa Umi memberi tahu Ramadan tentang pendonoran ginjal itu kepada Buya Athar. Adapun kutipannya ialah sebagai berikut:

(4) “Sejak kau minta izin tempo hari, Umi sudah tahu kau berbohong.” Umi menekan suaranya yang bergetar. “Kau tahu ngapo Buya Athar datang ke mimpimu?”

“... karena beliau peduli padaku?” Jawaban bodoh, rutuk Ramadan dalam hati. Jangan kau jawab, Bodoh!

Umi menyergah kalimatnya tanpa tedeng aling-aling. “Karena sebagian tubuh Abuya ada di dalam tubuh Ustadz Athar.”

“Umi, tidak perlu. Sudahlah ...,” lirih Abuya.

“Perlu. Anak kito ini perlu tahu,” sanggah Umi. Tak biasanya Umi sekeras ini. “Dia perlu tahu kalau ayahnya telah berkorban untuknya.”

Saat itulah kesadaran Ramadan terpantik. Subhanallah. Tidak! Tidak mungkin!

“Itu ginjal Abuya, Ramadan.” Suara Umi bergetar. “Itu ginjal Abuya yang dibawa mati oleh Buya Athar” (Aurora. 2015: 124).

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa pengorbanan orangtua yang luar biasa demi keselamatan anak-anaknya di dunia dan akhirat. Mereka mau melakukan apa saja asal anak-anaknya mendapat kebahagiaan.

c. Kesederhanaan

Gaya hidup sederhana yang muncul dalam kehidupan Abuya dan Umi tentunya merupakan teladan bagi anak-anaknya. Berpindah dari rumah orangtua Abuya yang besar ke rumah kecil bekas kandang ayam. Adapun kutipan dalam novel yang mencerminkan hal ini ialah:

(1) Abuya tersenyum. Tapi, sesuatu dalam perkataan Umi tadi mengubah air mukanya. “Maaf Buya baru bisa memberikan ini, Umi,” kata Buya lirih.

Umi terkesiap. “Abuya, maafkan Umi. Umi idak bermaksud

me...” Tapi kalimat Umi terhenti. Ia tak sanggup

menyelesaikannya. Alih-alih, ia raih tangan Abuya dan meremasnya lembut. Mata Umi tersenyum, meminta maaf atas apa pun yang tadi menyinggung Abuya.

“Buya idak tahu apa akan pernah bisa memberikan yang lebih baik, Umi ...” (Aurora, 2015: 31).

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa Abuya dan Umi mengajarkan kepada anak-anaknya hidup yang sederhana. Tinggal di rumah bekas kandang ayam tidak menjadi masalah bagi mereka daripada harus menumpang kepada orang lain.

d. Doa

Rumah bekas kandang ayam yang ditinggali keluarga Abuya sering terjang banjir sejak dibangun jalan raya dan gedung-gedung yang mengurangi tanah resapan. Sehingga menyebabkan banjir di sekitarnya. Prihatin dengan keadaan keluarganya, Ramadan merasakan sesuatu yang menghimpit pikirannya. Dengan hati-hati dia buka suara, mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada Abuya. Tak disangka, kalimat yang keluar dari mulut Ramadan merupakan sebuah doa, sebagai orang tua Abuya memohon kepada Allah untuk menitipkan doa anaknya tersebut. Adapun kutipannya yang terdapat dalam novel, yaitu:

(1) “Buya juga nak rapikan depan rumah tu, kecik saja lah cukup, biar anak-anak sekitar bisa belajar mengaji di sini.” Suara Abuya melayang seperti lamunan. “Semakin banyak yang membacakan ayat-ayat suci di rumah ini, Insya Allah semakin berkah rumah kito.”

“Suatu hari aku, akan belikan rumah untuk Buya dan Umi. Yang besar dan idak banjir.” Kalimat itu terlepas dari bibir Ramadan tanpa sengaja. Ia malah kaget sendiri. “Biar semakin banyak yang bisa belajar ngaji sama Buya.”

Beberapa saat, Ramadan tak mendengar apa-apa. Lalu, kalimat Abuya mengapung di udara malam yang padat dan lembab. “Ya Allah. Kutitipkan niat mulia anakku ini ke dalam peluk-Mu. Wujudkanlah, Ya Allah, pada waktu-Mu yang paling sempurna.”

Ramadan merinding mendengar doa ayahnya (Aurora, 2015: 144-145).

Dari cuplikan cerita di atas, dapat diketahui bahwasannya Abuya mengajarkan untuk menyampaikan harapan dengan berdoa kepada Allah Swt. Allah Swt. tempat meminta.

e. Zikir

Umi selalu berzikir di setiap nafasnya. Di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga, ia tidak lupa mengingat Allah. Hal itu tergambar dalam kutipan berikut ini:

(1) Umi terus berdzikir, berdoa, dan berwirid. Penuh keyakinan. Nyaris tak pernah putus. Di sela-sela hari yang bergerak sepanjang napasnya. Sepanjang asanya (Aurora, 2015: 161).

Selain itu, ketika Ramadan mengeluh kesakitan setelah bertanding tapak suci, Umi selalu mengingatkan Ramadan untuk berzikir mengingat Allah Swt. adapun kutipannya dalam novel, yaitu:

(2) “Aduh, aduhaduhaduhaduuuh ...”

“Berdzikir, Mad,” ucap Umi lembut. ”Baca doa

menyembuhkan penyakit.” (Aurora, 2015: 81).

Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa Umi mengajarkan untuk berzikir dalam kondisi apa pun. Ia nyaris tak pernah berhenti untuk berzikir.

f. Demokratis

Ketika Ramadan lulus SD, saran Abuya dan Umi adalah ia melanjutkan pendidikan di pesantren. Ia akan belajar hidup mandiri disana. Apalagi pesantren yang dituju adalah pesantren milik keluarga, maka masalah biaya akan lebih terbantu. Sebelum mengambil keputusan itu, Abuya meminta pendapat dari Ramadan terlebih dahulu. Adapun cuplikan cerita yang terdapat di dalam novel tersebut, yaitu:

(1) “Begini, Mad. Buya tahu kamu kepingin sekali masuk SMP Negeri. Tapi ..., apa kamu keberatan kalau masuk pesantren milik Buya Athar?”

Ngapo harus pesantren, Buya? ?” setelah setahun tinggal di rumah Enjid, Ramadan sudah penuh harap bahwa setamat SD ia bisa kembali tinggal bersama Umi dan Abuya. Ia rindu sekali serumah lagi dengan mereka.

“Karena jauh dari orangtua akan baik untukmu, Mad,” jawab Abuya menatap mata Ramadan lurus, mencari sinar ragu.

Umi, yang sedang duduk menjahit, berujar santai, “Kau harus belajar mandiri. Pesantren itu tempat yang baik untukmu.”

“Apa keberatanmu, Mad? tanya Buya. Buya memang selalu seperti ini, membuka lahan diskusi dengan semua anaknya, bahkan dengan yang bicaranya masih cadel sekalipun (Aurora, 2015: 40).

Selain itu, dalam keluarga besar Abuya dan Umi juga mengajarkan bermusyawarah dalam menentukan keputusan. Seperti halnya saat Abuya memutuskan untuk pindah rumah dari rumah orangtuanya ke rumah bekas kandang ayam milik Enjid. Berikut kutipan ceritanya:

Nak apo kau tinggal berpisah dengan kami, Karim? Idak ado sejarahnyo di keluarga ini menantu perempuan keluar dari rumah mertua,” ujar seorang ibu yang berwajah mirip Abuya. Kerudung hitamnya kontras dengan warna kulitnya yang terang. Abuya melirik Umi yang terus menunduk. Abuyatak enak hati istrinya terpaksa ikut serta dalam sidang keluarga ini (Aurora, 2015: 26).

Dari cuplikan cerita di atas, dapat diketahui bahwa ketika akan mengambil sebuah keputusan, Abuya mengajarkan untuk meminta pendapat terlebih dahulu kepada anak-anaknya. Walaupun anaknya masih kecil, ia tetap menghargai pendapatnya. Selain itu, keluarga besar Abuya dan Umi juga mengajarkan untuk bermusyawarah terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.

g. Memaafkan

Saat Raziq kecelakaan, Ramadan berusaha untuk mencari pertolongan dengan segera. Akan tetapi untuk membawa Raziq yang terkapar di tempat, ia memerlukan mobil. Ia meminta Raihan untuk mencari pinjaman mobil dengan tetangganya, Pak Arif namanya. Namun, ia hanya ikhlas meminjamkan kuncinya saja. Ramadan dan Raihan pun tetap sabar dan tidak akan balas dendam. Berikut kutipannya yang terdapat di dalam novel:

(1) “Kak, suatu hari nanti Kak Ramadan akan jauh lebih sukses daripada siapa pun di sini.”

“Aamiin.”

“Tapi, aku idak mau kito membalas sakit hati ini.”

Dak akan, Dik. Insya Allah idak akan pernah.” Ia tepuk punggung adiknya lembut, seperti yang Umi lakukan kepadanya bila ia resah.

“Lagi pula, idak ada yang perlu dibalas kalau kito idak sakit hati, kan?”

Sebelum kepalanya menghilang ke helm, Raihan melirik kakaknya, ia tersenyum lebar sekali, dan mengangguk. Setuju (Aurora, 2015: 115).

Dari kutipan di atas, menunjukkan bahwa Ramadan dan Raihan berlapang dada dengan sikap tetangganya yang telah menyakitinya. h. Birrul Walidain

Ketika Ramadan mencintai seorang wanita bernama Kirana yang sangat cantik. Ia anak orang kaya. Ibunya pun selalu merendahkan Ramadan dan Umi ketika bertemu. Lalu, dengan berat hati Ramadan memutuskan hubungannya dengan gadis tersebut. Kutipannya yang terdapat di dalam novel, yaitu:

(1) “Aduuuh. Kasihan anak orang diputuskan begitu sajo, Mad,” kata Umi dengan mata terbelalak. Parasnya mengguratkan rasa khawatir.

“Kan idak perlu seperti itu. Ibunya Kirana bisa kamu dekati baik-baik. Kalau hatimu memang sudah suka, ya harus diperjuangkan, Mad.”

Ramadan terkenang lagi perkataan Kirana, kalau mereka bisa berusaha lebih keras lagi... apakah semudah itu ia harus menyerah? Sejenak ia bimbang. Namun, tatkala teringat lagi penghinaan dalam mobil tempo hari, ia menggeleng tegas.

Idak, Umi. Hati Umi lebih penting buatku.” (Aurora, 2015: 182).

Selain itu, setelah Ramadan penjadi seorang pendakwah di televisi, ia berceramah dengan mengambil tema birrul walidain. Adapun kutipannya yang tedapat di dalam novel, yaitu:

(2) “Ada surga di rumah kita,” televisi tua itu berujar lirih. “Kenapa kita mengejar surga jauh-jauh, padahal surga begitu dekat dengan kita?” Garis-garis putih melintang tipis di sepanjang layar televisi itu (Aurora, 2015: 213).

Namun pernah suatu ketika, Ramadan mendapat kesempatan untuk berceramah sepanggung dengan Ustadz Karim, seorang ustadz yang diidolakan oleh Umi. Ramadan tidak mau berceramah kalau Umi tidak boleh duduk di bangku kehormatan. Berikut kutipan ceritanya:

(3) “Kali ini saya tidak bercanda, Mbak Sinta. Kalau Umi saya tidak duduk di bangku kehormatan, saya akan bawa beliau pulang sekarang.” (Aurora, 2015: 186).

Dari hasil menjadi seorang pendakwah terkenal. Ramadan bisa membelikan rumah yang cukup besar untuk Abuya dan Umi. Berikut kutipannya uang terdapat di dalam novel:

(4) Ramadan menggandeng Umi memasuki sebuah rumah besar berdinding hijau muda. Sambil melangkah masuk, Umi menatap rumah itu dengan ragu-ragu, lalu menoleh, mencari-cari mata anaknya, memastikan sorot mata Ramadan tak membersitkan ragu.

“Pelan-pelan sajo, Umi,” kata Ramadan, “ini lantainya licin karena lumut. Nanti dibersihkan sebelum Umi pindah ke sini.” (Aurora, 2015: 214).

Tidak hanya itu saja, keinginan Ramadan memberangkatkan haji kedua orang tuanya juga terwujud. Adapun kutipannya yang terdapat di dalam novel, yaitu:

(5) “Ramadan janji akan bawa Umi dan Abuya ke sana. Doakan Allah mengabulkannya, Umi.

Umi menggigit bagian bawah bibirnya. Matanya mngerjap sesekali, membuat beberapa tetes air luruh begitu saja, mengalir cepat di kulit pipinya yang mulai berkerut. Ia raih kepala Ramadan, ia kecup lembut kening anaknya itu.

“Terimakasih, Nak.”

“Terimakasih untuk apa, Umi?” “Untuk cintamu kepada kami.”

Kali ini giliran mata Ramadan yang basah (Aurora, 2015: 168).

(6) Ramadan menggenggam erat-erat tangan Umi. Entah sudah berapa kali mereka terdesak ke kanan dan kiri (Aurora, 2015: 225).

Setelah berkumpul di Padang Arafah, Ramadan mendapat kesempatan untuk berkhotbah. Berikut kutipannya:

(7) Ramadan berdiri di depan seratus empat puluh jemaah. Ini adalah Khotbah Arafah-nya yang pertama. Mungkin juga yang terakhir. Ia tak tahu. Maka ia persembahkan khotbah itu kepada seluruh manusia di muka dunia agar mereka sadar bahwa jalan menuju surga adalah melalui cinta dan ridha orangtua. Di akhir khotbah, ia pimpin sebuah muhasabah, mengingatkan semua yang hadir akan besarnya peran orangtua sebagai wakil Allah di dunia (Aurora, 2015: 230).

Dari cuplikan-cuplikan cerita di atas, dapat diketahui bahwa sebagai anak –Ramadan- telah menunjukkan bakti kepada kedua orang tuanya. Cinta kasih yang tercurah dari kedua orang tuanya tidak ia

biarkan sia-sia. Ia mencoba untuk berbakti walau pun tidak akan pernah bisa membalasnya.

i. Sabar

Saat Ramadan mulai diundang berceramah, dia berjanji untuk membagi hasil yang diperolehnya fifty-fifty dengan Umi. Suatu saat ketika Ramadan mengisi ceramah, dia memperoleh amplop. Seperti biasanya ia berikan amplop itu kepada Umi, ia biarkan Umi yang membukanya. Akan tetapi, amplop tersebut kosong. Umi pun menerimanya dengan sabar dan ikhlas. Adapun kutipannya yang terdapat dalam novel, yaitu:

(1) Ketika amplop separuh basah itu dibuka, Ramadan terkesiap. Amplop itu kosong. Wajah Ramadan yang memang sudah agak pucat karena kedinginan menjadi semakin lesu.

“Mad, sabar yo, Nak.” Umi menepuk bahu Ramadan

lembut.

“Tapi aku idak enak sama Umi. Wallahi, Umi, demi Allah belum sepeser pun aku pakai uang itu.” Tangan Ramadan gemetar oleh rasa malu.

“Jangan begitu, Mad. Allah idak pernah salah memberi rezeki. Ini mungkin bukan rezeki kito. Sabar, yo.” (Aurora, 2015: 108).

Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa, sebagai orang tua tidak pernah mengeluh atas apa pun yang terjadi di dalam hidupnya. Mereka menerimanya dengan sabar.

2. Pendidikan Anak dengan Adat Kebiasaan

Adapun pendidikan anak dengan adat kebiasaan yang terdapat dalam novel Ada Surga di Rumahmu disampaikan pengarang melalui beberapa bentuk nilai, yaitu:

a. Tanggungjawab

Umi yang menpunyai tujuh orang anak telah mengajarkan mereka bersikap tanggungjawab. Dalam mengurus rumah dan menjaga adik, meraka telah terbiasa melakukannya. Seperti pada saat Raniah bertugas membantu Umi di dapur, sedangkan Ramadan dan Raihan bertugas menjaga adik-adiknya. Adapun kutipannya yang terdapat dalam novel yaitu:

(1) “Ramadan,” panggil Umi, “kau jaga Raudah dan Raziq. Raihan, kau jaga Ruzain dan Rifqi. Biar Kak Raniah bantu Umi masak.” (Aurora, 2015: 6)

Dalam hal ini, Umi tidak hanya mengajarkan tanggungjawab, tetapi nilai kerja sama juga diajarkan di dalamnya. Sehingga mereka tumbuh dengan mandiri dan terbiasa memikul tanggungjawab yang harus mereka selesaikan.

b. Membiasakan Anak Memperhatikan Kebersihan

Setelah adik-adik Ramadan mandi, giliran Ramadan untuk mandi. Namun saat itu, dia mencari cara untuk menghindari tugas itu. Ia memutar otak dan mememukan caranya, yaitu melihat si Gepeng. Gepeng adalah ayam jantan kesayangan Abuya. Adapun kutipannya dalam novel, yaitu:

(1) “Ramadan, mandilah sana,” perintah Umi singkat. “Adik-adikmu sudah mandi.”

Ramadan memutar otak, mencari cara menghindari tugas. “Sebentar, Umi,” katanya, “kulihat tadi si Gepeng agak sempoyongan.” (Aurora, 2015: 21).

Dari kutipan di atas, terlihat bahwa Umi mengajarkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dalam hal mandi, ketika adik-adiknya sudah mandi, giliran Ramadan untuk membersihkan dirinya.

c. Semangat dan Pantang Menyerah dalam Menuntut Ilmu

Saat Abuya dan Umi mengantarkan Ramadan untuk masuk pesanten, hati Ramadan merasa ingin kembali pulang. Akan tetapi, di saat mereka menyeberangi sungai Musi dengan menggunakan perahu motor, Abuya memberikan semangat kepada anaknya. Adapun kutipan yang terdapat di dalam novel, yaitu:

(1) “Kalau kamu ikhlas mencari ilmu, Mad, ilmu yang akan datang kepadamu.”

Begitulah asal mula Ramadan terdaftar di Foerqanoel Moeis (Aurora, 2015: 40-41).

Abuya memberikan nasihat bahwa saat mencari ilmu harus didasari dengan rasa ikhlas. Sehingga ia akan lebih semangat menuntut ilmu. Selain itu, Abuya juga memberikan nasihat lain. Adapun cuplikan ceritanya, yaitu:

(2) “Mad, kau tahu ngapo kami lakukan ini untukmu?” tanya Abuya setelah sekian lama keheningan di antara mereka hanya diisi suara motor perahu.

Ramadan tak menjawab, tapi menatap mata ayahnya, menunggu kalimat berikutnya.

“Kau dan adik-adikmu dipercayakan Allah kepada kami. Allah pasti ingin kalian bercita-cita. Kami idak mau jadi orang yang menggagalkan cita-citamu,” ujar Abuya lembut. “Abuya tahu, cita-citamu tinggi. Mungkin sekarang kau belum menyadarinya. Tapi, suatu saat kau apsti tahu. Jangan jadi orang yang menggagalkan cita-citamu sendiri, Mad.” (Aurora, 2015: 43).

Dalam menuntut ilmu, Abuya mengajarkan anak-anaknya untuk

Dokumen terkait