BAB V PEMBAHASAN
9. Memakai Peralatan Makan/Minum yang bersih
5.2. Kesehatan Lingkungan 1.Lingkungan 1.Lingkungan
5.2.3. Kelembaban dan Suhu Ruangan Pada BP4 Medan
Adapun tingkat kelembaban dan suhu ruangan pada BP4 Medan tidak memenuhi persyaratan kesehatan berdasarkan Permenkes RI Nomor 1204 Tahun 2004 hal ini karena kondisi ruangan yang kurang ventilasi. Dimana kelembaban ruangan poli melebihi baku mutu 45-60% dan suhu melebihi baku mutu 22-240 C kecuali pada unit radiologi dan laboratorium telah memenuhi persyaratan.
Sistem suhu dan kelembapan hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga dapat menyediakan suhu dan kelembapan yang memenuhi syarat yaitu suhu 22-24, dan kelembapan 45 – 60%. Ruangan yang tidak memiliki AC sitem sirkulasi udara segar dalam ruangan harus cukup apabila kelembapan melebihi 60% maka udara segar dalam tidak segar karena banyaknya uap air melebihi standar. Ruangan lembab terjadi karena udara tidak bebas mengalir melalui jendela karena jendela tertutup, akibatnya jika kelembapan melebihi 65% maka ruangan mudah ditumbuhi jamur. Untuk mencegahnya tidak lembab dapat dilakukan dengan membuat ex haus fan atau melubangi plafon sedikit agar ada jalan udara dan dipastikan lubang plafon dilapisi oleh kawat untuk mencegah masuknya serangga. Agar hasilnya optimal dipasang exhausfan dipasang bersebanyak dengan pintu agar udara dapat berjarak dan berputar diruangan (Permenkes RI No. 1204, 2004).
Kurang lancarnya sirkulasi udara dan minimal pencahayaan menjadi sumber kelembapan lebih kurang 45 udara kerja mengakibatkan kepanasan dan mudah berkeringat kelembapan tinggi menyebabkan panas atau gerah karena konsentrasi air di udara jauh lebih banyak darpada konsentrasi air di tubuh. Akibatnya nitrogen air tidak dibutuhkan tubuh (dalam bentuk keringat dan urine) akan akan lebih susah untuk menguap karena tertahan sehingga tubuh merasa gerah.
5.2.4. Pencahayaan Ruangan
Pencahayaan di poli sudah memenuhi persyaratan sesuai dengan Permenkes RI Nomor 1204 Tahun 2004 yaitu sesuai baku mutu 100-200 lux karena kombinasi cahaya dari sinar matahari yang masuk ruangan dan lampu listrik. Pada dasarnya pencahayaan pada BP4 Medan dilakukan sebagaimana pencahayaan untuk ruangan pasien pada saat tidak tidur.
Pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif. Agar pencahayaan sesuai dalam suatu ruang, diperlukan system pencahayaan yang tepat sesuai dengan kebutuhan agar terhindar dari factor resiko di lingkungan kerja dan kesehatan pekerja dapat terjamin (Kepmenkes RI No. 1405, 2002).
Sistem pencahayaan di tempat kerja terdiri dari 5 (lima) macam yaitu system pencahayaan langsung, dimana cahaya 90-100% diarahkan secara langsung ke benda yang perlu diterangi.Sistem ini dinilai paling efektif tapi ada kelemahannya yaitu
dapat menimbulkan kesilauan karena sinar langsung ke benda yang dekat dengan pemakai, maka disarankan agar langit-langit dan benda di dalam ruangan diberi warna cerah agar tampak menyegarkan, system pencahayaan semi langsung yaitu cahaya 60 – 90% diarahkan langsung pada benda dan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding. Kelemahan system ini dapat dikurangi dengan cara langit-langit-langit-langit dan dinding diplester warna putih sehingga pantulan cahaya dapat dikurangi kesilauannya, system pencahayaan difus yaitu cahaya 40 – 60% diarahkan kebenda dan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding. Sistem ini memncarkan cahaya kebawah dan sisanya keatas, sistem semi tidak langsung dimana cahaya 60-90% kelangit-langit dan dinding bagian atas sisanya ke bagian bawah, untuk ini perlu perawatan langit-langit dengan baik agarv bayangan dan kesilauan dapat dikurangi dan system yang terakhir adalah system pencahayaan tidak langsungh yaitu cahaya 90-100% diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuik menerangi ruangan. Keuntungannya tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan dan kerugiannya mengurangi efisiensi cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja. dan system yang terakhir adalah system pencahayaan tidak langsungh yaitu cahaya 90-100% diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuik menerangi ruangan. Keuntungannya tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan dan kerugiannya mengurangi efisiensi cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja. dan system yang terakhir adalah system pencahayaan tidak langsungh yaitu cahaya 90-100% diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuik menerangi ruangan.
Keuntungannya tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan dan kerugiannya mengurangi efisiensi cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja.(Kepmenkes RI No. 1405, 2002).
Adapun pencahayaan ruangan sebaiknya tidak kurang atau melebihi ketentuan dimana setiap ruangan harus tersedia pencahayaan sesuai dengan yang dibutuhkan. Ruangan yang banyak dilakukan aktifitas penting yang membutuh pengelihatan yang jelas harus memiliki cahaya yang cukup seperti ruang operasi dan ruang perawatan untuk pasien. (Grandjean, 2003).
5.2.5. Kebisingan
Kebisingan di poli memenuhi persyaratan sesuai dengan PERMENKES RI No. 1204 tahun 2004 berada dibawah baku mutu yaitu 45 dB.
Bunyi adalah perubahan tekanan yang dapat dideteksi oleh telinga yang merambat melalui medium berupa zat cair, padat dan gas. Tetapi jika bunyi yang didengar sudah mengganggu alat pendengaran atau mengganggu kegiatan sudah merupakan kebisingan. Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki dan dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan yang dinyatakan dalam satuan desibel (dB) Kebisingan juga dapat didefenisikan sebagai bunyi yang tidak disukai atau suara yang mengganggu dan menjengkelkan (Sumanta, 2003).
Menurut Kepmenaker (2005), bunyi yang menimbulkan kebisingan disebabkan oleh sumber suara yang bergetar dan menyebabkan terjadinya gelombang dalam udara dimana sumber bising yang mengganggu pendengaran baik dari sumber
yang bergerak ataupun tidak bergerak. Umumnya sumber bising berasal dari kegiatan industry, perdagangan, lalu lintas dll. Adapun jenis-jenis kebisingan adalah bising kontiniu yaitu bising yang tidak terputus-putus seperti suara kipas angin dan suara mesin tenun, bising terputus-putus yaitu bising yang berlangsung secara tidak terus menerus, dan ada periode relatif tenang misalnya lalu lintas, kerta api dan kapal terbang, bising impulsif yaitu bising yang memiliki perubahan dan biasanya mengejutkan pendengaran seperti ledakan mercon dan meriam dan yang terakhir bising impulsif berulang misalnya mesin tempa.
Menurut Kepmenkes RI No. 51, (2002), Dampak bising pada manusia yaitu gangguan fisiologis yang dapat meningkatkan tekanan darah dan nadi, mual dan muntah, gangguian psikologis membuat rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur dan cepat marah, gangguan komunikasi terjadi karena komunikasi harus berteriak sehingga dapat mengganggu pekerjaan yang kemungkinan dapat terjadi kesalahan karena salah mendengar dan gangguan pendengaran yaitu kerusakan indra pendengaran atau ketulian karena melebihi nilai ambang batas yang ditetapkan.
Nilai ambang batas kebisingan di tempat kerja yaitu 85 dB dalam 8 jam/hari atau 40 jam/minggu dan untuk rumah sakit termasuk zona A dengan intensitas 35 – 45 dB, zona B 45 – 55 dB untuk perumahan dan tempat pendidikan, zona C 50 – 60 dB untuk perkantoran, perdagangan dan pasar, dan zona D 60 – 70 dB untuk industri, pabrik, dan satasiun kereta api (Kepmenkes 1405, 2002).
Pada sumber bising di rumah sakit dapat dilakukan peredaman, penyekatan, pemindahan dan pemeliharaan mesin-mesin. Pada sumber bising yang berasal dari luar rumah sakit dapat dilakukan dengan penyekatan/penyerapan bising dengan penanaman pohon (green belt) . meninggikan tembok atau meninggikan tanah.
5.2.6.Penyediaan Air Bersih
Penyediaan air bersih secara kuantitas memenuhi persyaratan karena air bersih terdapat disetiap poli. Tetapi secara kualitas berdasarkan hasil pemeriksaan secara mikrobiologi di laboratorium BTKL Medan ditemukan total koliform sebanyak 25/100 ml air. Hal ini tidak sesuai dengan persyaratan baku mutu yaitu 10/100 ml air sesuai Permenkes Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih. Untuk mencegah penyakit yang diakibatkan oleh air tercemar oleh total koliform maka air harus dimasak terlebih dahulu sampai mendidih sebelum diminum.
Sumber air bersih harus tersedia dan selalu terpelihara dengan baik, distribusi air bersih disetiap ruangan dengan tekanan positif. Air harus memenuhi persyaratan ketentuaan tertentu dan tersedia pada tiap tempat kegiatan yang mudah membutuhkan secara berkesinambungan. Pemeriksaan sampel air dilakukan minimal 1 x setahun (Permenkes RI No 1204, 2004).