2.8 Studi Komparasi Sistem Pengelolaan Perikanan Artisanal Berbasis Hak-Hak Kepemilikan
2.8.2 Kelembagaan Perikanan Artisanal di Luar Negeri
Pada studi dikemukakan sistem kelembagaan perikanan artisanal yang terdapat di 4 negara lain, diaantaranya: Jepang, Fhilipina, Sri Langka dan Thailand. Berikut ini dijelaskan secara ringkas mengenai sistem kelembagaan (rules of the game) yang berlaku dalam pengelolaan perikanan artisanal.
2.8.2.1 Jepang
Kawaguchi et al. 1984 diacu dalam Saad (2003) berpendapat bahwa Territorial use rights yang berkembang di Jepang merupakan akumulasi proses historis sejak masuknya agama Budha. Sejak abad VI sampai pertengahan abad XIX, ada semacam larangan agama untuk makan daging ternyata didukung dengan kurangnya lahan hijau di Jepang untuk ternak. Pada gilirannya, sumberdaya hewani laut menjadi buruan dan industri perikanannya pun berkembang pesat.
Namun cepatnya perkembangan industri perikanan di Jepang itu menimbulkan sejumlah konflik antara nelayan lokal dan luar karena keterbatasan wilayah penangkapan ikan (fishing ground) sehingga rezim Edo (era feodal) melalui para tuan tanahnya di daerah segera memberikan hak khusus kepada nelayan di wilayahnya untuk menangkap ikan. Hal ini kemudian dikenal dengan istilah Soyu (communal ownership) dari masyarakat desa nelayan. Dengan Soyu
masyarakat desa dan nelayan memiliki hak mengelola dan menangkap ikan di wilayahnya, sementara nelayan dari luar wilayahnya tidak diizinkan. Jadi, telah terjadi pengkavlingan laut yang menjurus pada property right terhadap wilayah perairan (Satria et al., 2005).
Secara umum, perikanan laut Jepang terdiri atas perikanan pantai (the coastal fishery), perikanan lepas pantai (the offshore fishery), dan perikanan laut lepas (the distent-water fishery). Meskipun ketiga jenis perikanan tersebut tidak pernah didefinisikan secara resmi, tetapi sudah umum diterima bahwa perikanan pantai adalah kegiatan perikanan yang berlangsung dalam wilayah perairan teritorial dengan peralatan nelayan relatif kecil, yakni kapal yang ukurannya kurang dari 10 ton kotor (Gross tonase=GT). Kegiatan budidaya laut (mariculture) termasuk kedalam jenis perikanan pantai. Perikanan lepas pantai adalah kegiatan perikanannya berlangsung dalam wilayah perairan ZEE dengan menggunakan kapal-kapal besar yang berukuran di atas 10 GT. Sementara perikanan laut lepas adalah kegiatan perikanan yang berlangsung di perairan laut lepas (samudera) di sekitar Jepang atau bahkan sampai di zona negara lain (Satria, 2002c).
Perikanan pantai di Jepang jenis perikanan inilah yang berkaitan erat
dengan HPWP yang memiliki sejarah yang sangat panjang dan
berkesinambungan. Sejarah perikanan pantai tersebut, dibagi menjadi tiga periode, yakni: (1) periode feodal (sampai 1900), (2) periode Undang-undang Perikanan Lama (1901-1948), dan (3) periode Undang-undang Perikanan Baru (1949-sekarang) (Yamamoto 1983 diacu dalam Saad 2003). Ada juga pembagian periode versi lain, yaitu: (1) periode feodal (1603-1867), (2) periode Restorasi Meiji (1868-1948) dan (3) periode Undang-undang Perikanan (1949-sekarang) (Bappenas, 2005; Saad, 2003; Ruddle, 1992).
Periode feodal, pada masa feodal, para bangsawan menetapkan desa-desa yang berada di bawah kekuasaannya menjadi dua kategori, yaitu desa-desa pertanian (jikata) dan desa nelayan (urakata). Pada umumnya, mereka memberlakukan suatu ketentuan bahwa hanya penduduk dari desa nelayan yang dapat menangkap ikan di perairan pantai desa. Penduduk desa pertanian hanya diperbolehkan mengambil ganggang laut (seaweeds) untuk dijadikan pupuk kandang–kandang bangsawan untuk memberikan hak–hak khusus untuk menangkap ikan kepada perorangan atau suatu kelompok dengan memungut bayaran. Hak khusus itu disebut fishing rights dan previlages grant. Hak-hak
khusus ini dapat diwariskan. Secara kultural, periode feodal sesungguhnya berakhir sejak tahun 1868 ketika terjadi peristiwa Restorasi Meiji. Namun, struktur pengelolaan perikanan pantai warisan masa feodal tetap dibiarkan berlaku sampai diberlakukannya undang-undang perikanan pada tahun 1901 (Saad, 2003; Ruddle, 1992).
Periode undang-undang perikanan lama. UU Perikanan 1901 dapat dikatakan meneruskan tradisi periode sebelumnya. Lembaga fishing rights dan previleges grant berdasarkan undang-undang ini dikonversi menjadi exclusive fishing rights. Tanpa memperhatikan asal-usulnya, exclusive fishing rights pada prinsipnya hanya diperuntukan bagi koperasi nelayan dan mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
(1) Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap bergerak, seperti long line dan gill nets.
(2) Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan pukat pantai (beach seines).
(3) Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan set nets.
(4) Kegiatan budidaya laut (marine culture) (Yamamoto, 1983 diacu dalam Saad, 2003).
Dalam periode ini, teknologi penangkapan ikan mulai berkembang. Selama tahun 1904 sampai 1908, kapal pukat (trawlers) tipe Inggris dibuat dan mulai diuji cobakan di perairan Jepang. Namun, ketika konflik serius muncul antara kapal pukat ini dengan perahu nelayan pantai, pemerintah kemudian membatasi aktivitas perahu nelayan pantai di Laut China Timur. Perkembangan selanjutnya menunjukkan pesatnya kemajuan nelayan pantai sehingga kemampuan jelajah wilayah penangkapannyapun bertambah luas. Keadaan ini kembali memicu konflik antara nelayan pantai dengan kapal pukat. Akibatnya, pada tahun 1921, pemerintah memutuskan untuk memberlakukan sistem daerah tertutup bagi kapal pukat. Bahkan, sejak tahun 1935, hak-hak nelayan pantai diperluas sehingga mencakup pula serangkaian spesies yang yang bermigrasi. Periode Undang-Undang Perikanan Baru, sebagaimana diketahui bahwa sesudah perang dunia II berakhir pada bulan Agustus 1945, Jepang sebagai negara yang kalah perang ditempatkan di bawah kontrol sekutu sampai April 1952. Selama masa itu, sejumlah kebijaksanaan reformasi struktur sosial ekonomi dan penegakan sistem demokrasi ditetapkan oleh pemerintah diantaranya UU Perikanan (Fisheries Law) tahun 1948 (Ruddle, 1992).
Namun, dalam proses reformasi hukum perikanan tersebut, sistem hak-hak perikanan tradisional yang sudah dikenal sebelumnya, dalam batas-batas tertentu, tetap dipertahankan. Akibatnya, berlakulah sistem ganda dalam hukum perikanan Jepang yaitu sistem hak-hak perikanan (fishing rights) dan sistem lisensi perikanan (fishing licence). Sistem hak-hak terutama berlaku bagi perikanan pantai sedangkan sistem lisensi berlaku perikanan lepas pantai dan laut lepas. Penjelasan yang lebih komprehensif tentang kedua sistem akan diuraikan berikut ini (Yamamoto, 1983 diacu dalam Saad, 2003; Ruddle, 1992).
The fishing rights system dirancang untuk kepentingan nelayan pantai, yang secara sosial ekonomi sangat lemah, jika dibandingkan dengan nelayan lainnya. Seperti halnya pada periode UU Perikanan Lama- yang mengatur exclusive fishing rights dalam UU Perikanan yang berlaku saat ini, yang menggunakan istilah fishing rights, dan hak-hak khusus untuk menangkap ikan diakui. Namun, hak khusus ini tidak dapat dihipotikkan, dipersewakan, atau dialihkan. Hak khusus ini memberikan hak eksklusif untuk menangkap ikan diperairan yang sudah ditentukan dengan peralatan khusus pula.
Dalam sistem pengelolaan sumberdaya ikan di perairan pantai di Jepang terdapat 3 macam hak-hak khusus perikanan yang dikenal dalam hukum perikanan Jepang saat ini. Hak-hak khusus tersebut dijelaskan (Saad, 2003; Satria, 2002c), sebagai berikut :
(1) Common fishing rights. Hak ini hanya diberikan kepada koperasi perikanan dan disertai syarat bahwa sumberdaya perikanan digunakan (dieksploitasi) secara terpadu bagi seluruh nelayan anggota koperasi. Jenis hak ini masih dibagi lagi menjadi tiga tipe, yakni: (1) untuk menangkap jenis ikan dan biota laut lainnya yang hidup di dasar laut; (2) untuk menangkap jenis ikan pelagis yang bermigrasi atau ikan demersal dengan memasang alat tangkap statis pada kedalaman kurang dari 27 meter; (3) untuk menangkap jenis ikan pelagis yang bermigrasi dengan menggunakan jala-jala pantai di daerah tertentu. Distribusi hak-hak tersebut, ditentukan melalui suatu kesepakatan diantara nelayan anggota koperasi berdasarkan prinsip kebersamaan yang tata caranya sudah ditentukan terlebih dahulu statuta koperasi.
(2) Set-nets fishing right, yaitu hak untuk menangkap jenis ikan pelagis bermigrasi dengan menggunakan jala berpasangan, yang ditempatkan pada lokasi tertentu yang kedalamannya lebih dari 27 meter. Berhubung jenis alat yang diperlukan relatif membutuhkan modal besar dan banyak tenaga kerja,
maka seleksi nelayan atau koperasi yang akan diberikan hak ini tidak dapat dihindarkan. Dalam batas-batas tertentu, biasanya nelayan atau koperasi perikanan yang terpilih menerima hak ini ialah yang memiliki modal relatif besar untuk diinvestasikan.
(3) Demarcated fishing right, yaitu hak untuk mengusahakan budidaya ikan atau biota laut lainnya di wilayah laut tertentu. Seperti halnya, set net fishing, demarcated fishing right diberikan kepada nelayan atau koperasi perikanan yang memiliki cukup modal untuk berinvestasi dalam usaha budidaya laut (marine culture).
Satria (2002c) berpandapat bahwa paling sedikit terdapat 3 karakteristik yang melekat pada kebijaksanaan perikanan pantai Jepang, khususnya dalam hubungannya dengan sistem hak-hak khusus perikanan, yaitu: Pertama, hak-hak khusus perikanan tersebut diberikan kepada koperasi nelayan atas seluruh wilayah yang berbatasan dengan daerahnya sejauh 2 km ke arah laut; Kedua, hak khusus untuk common fishing right akan diberikan kepada semua koperasi nelayan. Dalam wilayah hak ini, mula-mula semua anggota nelayan diberikan common fishing right tipe 1, dan sesudah itu baru beberapa nelayan diberikan hak-hak tipe 2 maupun tipe 3; dan Ketiga, berkaitan dengan kondisi hak khusus perairan yang dibutuhkan, maka set net fishing right maupun demarcated fishing right hanya diberikan kepada koperasi perikanan tertentu, yang secara geografis daerahnya berbatasan dengan wilayah perairan laut yang cocok untuk jenis hak tersebut atau memiliki cukup modal guna keperluan investasi usaha budidaya laut.
Upaya untuk mengefektifkan sistem hak-hak khusus perikanan tersebut, diselenggarakan melalui mekanisme tertentu (Saad, 2003; Satria, 2002c). Mekanisme sistem pengelolaan sumberdaya perikanan pantai tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Daerah Alokasi (Allocational regional). Untuk memudahkan alokasi sumberdaya ikan kepada seluruh nelayan, maka daerah pantai dibagi menjadi 2 sampai 4 daerah, guna menjamin homogenitas daerah sesuai dengan kondisi laut dan sumberdaya perikanan yang dikandungnya. Misalnya, daerah pantai propinsi Jhiba dibagi menjadi 3 daerah yaitu daerah teluk Tokyo (dengan perairan luas yang cocok untuk budidaya laut-demarcated fishing right), daerah Jhiba luar (dengan pantai berkarang yang cocok untuk perikanan pantai-common fishing right tipe 1), dan daerah
pantai Kujukuri (dengan bentangan pantai panjang berpasir yang cocok untuk pukat pantai-common fishing right tipe 2)
(2) Komisi Pengelola Hak Perikanan (fishing rights management comunities). Berdasarkan UU Perikanan dan UU Koperasi Perikanan Jepang, koperasi perikanan diposisikan sebagai pemegang peran utama dalam mengelola hak-hak khusus perikanan yang akan diberikan kepada nelayan. Untuk maksud ini dibentuklah Komisi Pengelolaan Hak Perikanan pada tiap-tiap koperasi perikanan. Komisi ini juga diharapkan berfungsi menjamin agar pelaksanaan sistem hak-hak khusus perikanan berjalan demokratis.
(3) Komisi Koordinasi Perikanan Daerah (Regional Fishery Coordination Commitees). Pada tiap-tiap daerah alokasi (sub-1) dibentuk suatu Komisi Koordinasi Perikanan Daerah. Komisi ini beranggotakan 15 orang yang terdiri atas sembilan orang wakil nelayan (yang dipilih langsung oleh nelayan), 4 orang yang dianggap mengetahui dan berpengalaman dalam hal perikanan, dan 2 orang mewakili kepentingan publik luas. Enam orang anggota komisi yang disebut terakhir diusulkan oleh gubernur. Masa jabatan anggota komisi 4 tahun. Tugas komisi ini adalah: (1) mengembangkan rencana penggunaan sumberdaya ikan dan daerah perikanan, sesuai dengan usulan-usulan komisi pengelola hak perikanan; (2) memberi nasihat kepada gubernur dalam rangka penetapan kebijaksanaan perikanan propinsi, termasuk kebijaksanaan perzjinan perikanan di luar sistem hak-hak khusus; (3) mengambil tindakan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan nelayan; (4) menjamin pelaksanaan sistem hak-hak khusus; dan (5) menyelesaikan konflik yang terjadi diantara para nelayan.
Penjelasan di atas menegaskan betapa koperasi nelayan merupakan tulang punggung dalam pelaksanaan sistem hak-hak khusus perikanan. Bahkan, pada tingkat tertentu, koperasi nelayan menjalankan fungsi publik yang biasanya merupakan otoritas pemerintah. Peran penting koperasi nelayan tersebut, telah menyebabkan pesatnya perkembangan koperasi nelayan di Jepang. Pada tahun 1993, sudah tercatat 2.100 unit koperasi dengan anggota 530.000 keluarga nelayan dengan diversifikasi usaha sangat beragam. Selain menjalankan administrasi hak-hak khusus perikanan, koperasi nelayan juga menjalankan usaha pemasaran, perkreditan, asuransi, pengadaan segala kebutuhan pokok dan sarana melaut dan sebagainya (Saad, 2003).
The fishing licence system. Pada prinsipnya, sistem perijinan perikanan ini akan diberikan untuk wilayah perairan yang tidak terjangkau oleh nelayan tradisional dengan sistem hak-hak khusus perikanan. Izin perikanan diberikan kepada perorangan, kelompok nelayan, atau perusahaan. Iz in perikanan dikeluarkan oleh Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan negara Jepang maupun oleh Gubernur. Berkaitan dengan sistem perizinan perikanan ini, pemerintah Jepang menentukan kebijaksanaan, seperti menetapkan daerah penangkapan, musim, dan daerah tertutup, ukuran kapal, jumlah kapal, jenis alat tangkap, serta ukuran mata jaring. Setiap orang atau perusahaan yang diberikan izin perikanan ditentukan kawasan tempat menangkap ikan, tonase kapal, atau ukuran mata jaring atau alat tangkap yang digunakan. Berbeda dengan sistem hak-hak khusus perikanan, dalam sistem perizinan perikanan, tidak ada pegangan hak milik, sehingga memegang izin perikanan tidak memperoleh hukum secara eksklusif. Semua armada kapal perikanan yang berizin, bebas bersaing di laut lepas (Bappenas, 2005; Ruddle, 1992).
Pengkavlingan laut telah berlangsung dalam sistem pengelolaan perikanan artisanal di Jepang. Akan tetapi pengkavlingan itu diatur sedemikian rupa, sehingga efektif dan produktif bagi usaha perikanan. Lagi pula adanya pengkavlingan laut melalui kelembagaan fishery rights membawa sejumlah dampak positif. Ada 3 dampak positif yang terjadi adalah: Pertama, konflik-konflik antar nelayan di perairan menjadi makin berkurang seiring dengan jelasnya batas-batas yurisdiksi usaha perikanan artisanal; Kedua, pendapatan nelayan meningkat, karena memperoleh jaminan wilayah usaha dan dapat menikmati kekayaan alam di wilayahnya sendiri; dan Ketiga, ada hal yang lebih penting dari itu semua, yaitu dengan adanya hak tersebut, nelayan akan bertanggung jawab terhadap kelestarian atau keberlanjutan sumberdaya ikan yang terdapat di wilayah perairan mereka. Oleh karena itu, mereka tidak akan sembarangan menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan. Hal ini mengingat adanya kesadaran bahwa keberlanjutan sumberdaya hayati laut tersebut merupakan masa depan kehidupan mereka sendiri (Saad, 2003; Satria, 2002c).
2.8.2.2 Fhilipina
Kebijaksanaan perikanan Fhilipina saat ini masih disadarkan pada UU Perikanan (Fisheries Act No. 4003) yang ditetapkan pada tahun 1932. Meski UU ini sudah diperbarui dengan Presidensial Decree 704, yang ditetapkan pada
tahun 1975, tetapi secara substansial kebijaksanaan perikanan Fhilipina belum banyak berubah (Delmendo, 1993 diacu dalam Saad, 2003).
Berdasarkan hukum perikanan Fhilipina, maka dibedakan 2 jenis kegiatan perikanan, yakni perikanan niaga (Commercials Fisheries) dan perikanan daerah (Municipal Fisheries). Usaha perikanan yang menggunakan kapal dengan bobot lebih dari 3 GT dan beroperasi di perairan pantai dalam radius lebih 3 mil laut dari garis pantai digolongkan sebagai perikanan niaga, sedangkan usaha perikanan di perairan pantai dalam radius tidak lebih jauh dari 3 mil laut dan menggunakan kapal atau perahu berbobot tidak lebih 3 GT, digolongkan sebagai perikanan daerah. Perikanan niaga langsung berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui biro perikanan dan sumberdaya air (Bureau of Fisheries and Aquatic Resources). Pada usaha perikanan niaga, yang berlaku hanyalah sistem perijinan (Fishing Licence System ). Sementara itu, perikanan daerah merupakan wewenang pemerintah daerah yang memiliki pantai dengan menggunakan sistem konsesi (municipal concession). Municipal concession adalah pemberian hak istimewa (exclucive previlage) untuk menggunakan perairan bagi usaha penangkapan ikan, tiram (oyster culture beds), atau bibit anak ikan (milkfish). Khusus untuk usaha pengumpulan bibit anak ikan, mekanisme pemberian konsesi ditempuh dengan cara pelelangan. Penawar dengan harga tertinggi pada umumnya mendapatkan konsesi perikanan daerah tersebut (Panayotou 1985b). Pada tingkat tertentu, sistem konsesi ini dapat dipandang sebagai penjelmaan TURFs sebagaimana yang diperkenalkan konsepnya oleh Christy (1987).
Berbeda dengan di Jepang yang memberikan posisi utama kepada koperasi perikanan, di Fhilipina semua pemenang lelang adalah pihak swasta. Akibatnya konsesi perikanan daerah senantiasa jatuh ke tangan mereka yang memiliki kemampuan (ekonomi) relatif kuat. Keadaan ini menempatkan ribuan nelayan dalam posisi sulit (Delmendo, 1993 diacu dalam Saad, 2003). Di luar daerah konsesi, tetapi masih dalam wilayah perikanan daerah, nelayan bebas menangkap ikan tanpa harus meminta izin terlebih dahulu. Di sini berlaku rezim open access (no property right), dan dalam hal ini tidak ada kontrol terhadap jumlah kapal nelayan, alat tangkap yang digunakan, dan daerah penangkapan yang dieksploitasi. Bahkan, karena tidak tegasnya aturan tentang siapa yang berwenang mengawasi tonase kapal perikanan, kapal-kapal perikanan niaga sering memasuki wilayah perikanan rakyat. Konflik di antara kedua kelompok
nelayan ini merupakan konsekuensi logis yang kerapkali terjadi (Delmendo, 1999 diacu dalam Saad, 2003). Meskipun sistem konsesi perikanan tidak memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan relayan pantai, tetapi sistem ini dapat menaikkan tingkat efisiensi ekonomi penggunaan sumberdaya ikan dan memberikan pemasukan pajak yang berarti bagi pemerintah daerah. Hasil penelitian terhadap 35 daerah pengumpulan bibit anak ikan pada tahun 1977 menunjukkan, pungutan konsesi perikanan menyumbang rata-rata 13 % dari total pendapatan daerah. Di Propinsi Antique besar rata-rata pendapatan daerah 21% dari 15 kota propinsi dari perolehan pungutan konsesi perikanan dan bahkan terdapat di beberapa Kota di Fhilipina mencapai angka 50%.
2.8.2.3 Sri Lanka
Menurut (Atapattu, 1987 diacu dalam Saad, 2003) pada tahun 1985, tercatat paling sedikit 30% dari keseluruhan produksi sektor perikanan disumbangkan oleh perikanan tradisional di Sri Lanka yang memiliki sejarah sangat panjang. Sejak berabad-abad yang lalu, perikanan tradisional Sri Lanka berkembang bersamaan dengan munculnya berbagai tipe hak milik. Umumnya, hak milik atas perairan muncul berkaitan dengan klaim-klaim penduduk desa pantai atas perairan di depan desa tempat tinggalnya. Penduduk desa mengeksploitasi sumberdaya perikanan di perairan pantai tersebut, dan mencegah orang dari desa lain untuk terlibat, Demikian kokohnya lembaga hak milik itu sehingga dalam beberapa kasus dijadikan sebagai mas kawin.
Sistem hak milik tradisional tersebut, oleh Atapattu dikategorikan sebagai TURFs , muncul dalam 2 bentuk secara umum adalah: Pertama, hak milik yang muncul karena disahkan oleh berbagai perundang-undangan, seperti UU tentang Lembaga Lokal dan UU Perikanan, Jakottu merupakan contoh kategori hak milik semacam ini; dan kedua, hak milik itu muncul karena didahului oleh suatu sengketa di antara pengguna sumberdaya. Kattudel merupakan contoh kategori ini. Perikanan Jakottu dan Kattudel ini (Saad, 2003) akan dijelaskan berikut ini.
Perikanan Jakottu adalah sejenis alat perangkap ikan yang bersifat menetap dan biasanya dipasang di muara. Jakottu dibuat dari sebilah bambu yang dianyam sehingga menyerupai pagar bambu. Anyaman bambu itu kemudian dipancangkan secara vertikal menyerupai bentuk tertentu, yang akan menggiring ikan-ikan masuk perangkap. Ikan yang masuk dalam perangkap Jakottu biasanya ditangkap dari pukuI 6 petang hingga pukul 6 pagi. Hasil tangkapan terutama terdiri atas udang dan ikan, yang lazimnya dijual di tempat
pelelangan atau kadang-kadang juga kepada nelayan tradisional. Penghasilan rata-rata per bulan dari Jakottu sekitar Rs 3000. Sebelum tahun 1935, untuk memasang Jakottu tidak memerlukan izin. Namun, setelah itu diperlukan izin dari Komisi Desa (Village Committee). Selanjutnya, Departemen Perikanan menyusun suatu peraturan khusus untuk mengontrol perikanan Jakottu pada tahun 1951. Beberapa ketentuan dalam peraturan tersebut (Saad, 2003), adalah sebagai berikut:
(1) Setiap orang yang akan memasang Jakottu terlebih dahulu harus memperoleh izin dari direktorat perikanan,
(2) Setiap izin memasang Jakottu dipungut biaya sebesar Rs 25. (3) Jarak di antara dua Jakottu minimal 46 meter.
(4) Panjang Jakottu tidak boleh lebih dari 64 meter.
(5) Setiap pemilik Jakottu diwajibkan memasang lampu di ujung Jakottu
Perikanan Kattudel merupakan alat tangkap ikan yang bersifat menetap seperti Jakottu. Perbedaannya, Jakottu dipasang di muara, sedangkan Kattudel dipasang di laguna (danau-danau di pinggir laut). Kattudel merupakan sejenis jaring dengan model khas. Perikanan Kattudel muncul pada masa kekuasaan Raja Sinhala Parakaramabahu VI dari tahun 1412 sampai 1467. Pada masa itu, terjadi serbuan orang India, tetapi berhasil dikalahkan berkat kepemimpinan keluarga yaitu Kurukulasuriya, Wamakulasuriya, dan Mihindukulasuriya Mudianse. Kepada ketiga keluarga ini oleh Raja diberikan desa sebagai tanda penghargaan, yakni Grand Street, Sea Street, dan Kurana Street. Dari sinilah muncul TURFs tradisional di Srilangka (Saad, 2003).
Penduduknya mayoritas penganut agama Katolik Roma, maka peranan gereja sangat menonjol. Hingga dikeluarkannya Peraturan Perikanan Kattudel Negombo fakta tahun 1958, gerejalah yang mengorganisasikan nelayan, termasuk menyelesaikan konflik di antara nelayan. Konsekuensi peran tersebut, 10 % dari hasil penangkapan ikan diserahkan untuk keperluan gereja. Sejak diberlakukannya peraturan perikanan 1958, maka pemilikan Kattudel secara perorangan dilarang. Para nelayan diwajibkan menjadi anggota dari Kattudel Fishermell's Association (KFA). Perubahan ini menimbulkan konsekuensi hukum, yakni subjek TURFs berganti kepemilikan dari perorangan ke kelompok (Saad, 2003).
2.8.2.5 Thailand
Menurut Panayotou (1987) bahwa di Thailand, tidak dijumpai catatan sejarah yang mendudukkan jejak keberadaan sistem manajemen perikanan berbasis kerakyatan, yang menerapkan hak-hak khusus semacam TURFs. Sistem manajemen perikanan yang berlaku hingga kini didasarkan pada Fisheries Act 2490, yang ditetapkan pada tahun 1947. Karakteristik manajemen perikanan ini masih sentralistik. Menurut hasil evaluasi Departemen Perikanan Pemerintahan Thailand, sistem manajemen perikanan ini ternyata belum mampu menyelesaikan masalah biologi, kelebihan eksploitasi, dan konflik di antara sesama nelayan kecil di negara Thailand.
Sejak tahun 1994, pemerintah Thailand menyadari bahwa manajemen yang sentralistik telah gagal dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi sektor perikanan. Manajemen perikanan yang melibatkan nelayan (bottom up) kemudian mulai diterapkan. Dalam Rencana Pembangunan Nasional bidang Sosial-Ekonomi (1991-1996), ditetapkan bahwa pengembangan manajemen nelayan kecil dapat dicapai melalui penetapan TURFs. Pada tahun 1993, Departemen Perikanan bekerjasama dengan Universitas Kasetart mengembangkan suatu program pengelolaan perikanan untuk memastikan efektivitas TURFs. Berdasarkan hasil kajian tersebut, maka sejak tahun 1994, departemen perikanan menyiapkan proyek percontohan dan menyiapkan rancangan hukum perikanan laut (Pomeroy, 1994).
TURFs di daerah tertentu diberikan kepada organisasi koperasi nelayan. Nelayan yang menjadi anggota organisasi diberikan hak menangkap ikan (fishing right) dalam wilayah TURFs. Organisasi nelayan sebagai subjek TURFs, berhak rnenetapkan jumlah kapal ikan dan jenis alat tangkap yang boleh digunakan. Segenap anggota organisasi nelayan bertanggung jawab kepada organisasi. Sementara pengurus organisasi bertanggung jawab kepada pemerintah dalam pengurusan administrasi dan penerapan TURFs . Organisasi nelayan di tingkat