BAB IV HASIL PENELITIAN
HASIL PENELITIAN
4.9 Pola Sekresi dan Outliers
4.9.6 Kelompok dengan pola penurunan Kadar BDNF
Kadar BDNF dinyatakan menurun jika penurunan kadar hari kelima
> 400 pg/mL dibandingkan hari pertama. Dua belas sampel sampel cedera kepala mengalami penurunan bermakna, tujuh pada kelompok CKS (tiga di antarnya anggota kelompok perlakuan standar, satu sampel anggota kelompok perlakuan ACTH4-10Pro8Gly9Pro10
Gambaran lama rawatan dan hasil akhir klinis sesuai pola perubahan kadar BDNF dapat dilihat pada tabel 4.12. Tidak dijumpai perubahan signifikan sehubungan hari rawatan dan hasil akhir klinis, baik Barthel Indeks dan MMSE, antara ketiga kelompok.
, dan tiga sisanya anggota kelompok perlakuan Inhibitor HMG CoA reduktase) dan lima pada kelompok CKB (dua sampel anggota kelompok perlakuan standar dan tiga sampel anggota kelompok perlakuan inhibitor HMG CoA reduktase).
Tabel 4.13 Gambaran hari rawatan dan hasil akhir klinis menurut pola perubahan kadar BDNF
Gambaran Hari Rawatan dan Hasli Akhir klinis sesuai pola perubahan kadar BDNF
- Pola
Tabel 5.1 menunjukkan gambaran hasil akhir klinis dan lama rawatan menurut perubahan kadar BDNF
BAB V PEMBAHASAN
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan, terutama pada usia muda. Sampai saat ini, masih dilakukan penelitian-penelitian mengenai cara penatalaksanaan cedera kepala yang optimal, baik medikamentosa maupun teknik pembedahan. Berbagai obat neuroprotektor telah diproduksi untuk memperbaiki hasil akhir klinis cedera kepala, seperti golongan piracetam, choline, pyritinol dihydrochloride monohydrate, antagonis gluatamat, antioksidan, neuropeptida, dan caspase inhibitor. Untuk itu, peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan golongan antagonis glutamate seperti simvastatin dan golongan neuropeptida seperti ACTH4-10Pro8-Gly9-Pro10.
Penelitian ini merupakan yang pertama kali membandingkan penggunaan dua neuroprotektor multipoten yaitu ACTH
Parameter yang digunakan adalah kadar Bcl-2 dan BDNF dalam serum, yang kemudian dihubungkan dengan hasil akhir saat penderita pulang dari rumah sakit dengan mengukur Barthel Indeks dan nilai MMSE.
4-10Pro8Gly9Pro10 dan inhibitor HMG CoA dengan menggunakan parameter Bcl-2 dan BDNF serum secara invivo pada cedera kepala. Selama ini, ACTH 4-10Pro8Gly9Pro10 digunakan pada stroke iskemik sedangkan inhibitor HMG CoA reduktase digunakan sebagai antikolesterol. Penelitian sebelumnya kebanyakan terbatas pada uji hewan percobaan.
Dari hasil penelitian ini, diperoleh bahwa cedera kepala paling banyak terjadi pada penderita kelompok usia 18-28 tahun, baik pada cedera kepala sedang maupun cedera kepala berat (kebanyakan pada laki-laki). Di Eropa, cedera kepala paling banyak terjadi pada laki-laki kelompok usia 15-24 tahun (Kraus, 1984 ; Bruns dan Hauser, 2003).
Pada penelitian ini, diperoleh kadar Bcl-2 kelompok orang normal adalah 2,82 ± 3,73ng/mL, kelompok CKS adalah 1,74 ± 1,24ng/mL, dan kelompok CKB adalah 1,59 ± 1,13ng/mL. Berarti kadar Bcl-2 orang normal lebih tinggi daripada penderita CKS dan CKB. Penelitian sebelumnya melaporkan peningkatan kadar Bcl-2 sesudah trauma, tetapi pada penelitian tersebut kadar Bcl-2 diukur dari cairan otak yang diambil melalui drainase eksterna pada bayi dan anak-anak berusia di bawah 16 tahun (Clark et. Al, 2000). Sementara pada penelitian ini, kadar Bcl-2 diukur dari serum penderita cedera kepala dengan kelompok usia dewasa. Juga tidak terlihat korelasi antara kadar Bcl-2 dan BDNF hari pertama dengan tingkat kesadaran penderita saat masuk yang dinilai dengan GCS.
Kadar Bcl-2 hari pertama antarkelompok usia tidak tampak berbeda bermakna, baik pada kelompok CKS maupun kelompok CKB. Setelah diberi perlakuan, juga tidak terdapat perbedaan kadar Bcl-2 yang bermakna antara keempat kelompok usia tersebut. Pada CKB dengan perlakuan inhibitor HMG CoA reduktase, terdapat perbedaan kadar Bcl-2 yang bermakna antara kelompok usia 30-41 tahun (3,3 ± 0,57 ng/mL) dan kelompok usia 42-53 tahun (1,39 ± 0,47 ng/mL). Belum dapat ditarik simpulan dari perbedaan ini.
Terdapat perbedaan bermakna kadar BDNF hari pertama pada CKB antara kelompok usia 30-41 tahun (1018,21 ± 504,54 pg/mL) dengan kelompok usia 54-65 tahun (782,74 ± 404,34 pg/mL).
Pada kelompok CKS dengan perlakuan ACTH4-10Pro8-Gly9-Pro10
Lommatzch et al (2006) melakukan penelitian pada orang sehat yang dibagi ke dalam tiga kelompok usia, yaitu 20-33 tahun, 34-47 tahun, dan 48-60 tahun. Dijumpai korelasi negatif antara usia dengan kadar BDNF. Pada penelitian ini, dijumpai kadar BDNF orang tua lebih rendah dibandingkan kelompok usia muda.
terdapat perbedaan kadar BDNF yang bermakna antara usia 18-29 tahun (1895,02 ± 381,29 pg/mL) dan usia 54-65 tahun (1234,62 ± 185,67 pg/mL), sedangkan pada kelompok CKB, terdapat perbedaan bermakna antara kelompok usia 18-29 tahun (1895,02 ± 381,29 pg/mL) dan kelompok usia 54-65 tahun (1234,62 ± 185,67 pg/mL).
Progesterone diketahui memiliki efek neuroprotektor. Djebaliii et al (2004) melaporkan bahwa pemberian progesterone dosis tinggi (16mg/kg) akan mengurangi kematian sel saraf dan memperbaiki kognisi dengan cara mengurangi aktivitas caspase-3. Penelitian lain juga melaporkan bahwa progesteron dapat meningkatkan ekspresi protein Bcl-2 pada otak (Nilsen dan Brinton, 2002). Selain itu, terdapat juga laporan bahwa progesteron akan meningkatkan kadar mRNA Bcl-2 pada korteks setelah cedera kepala (Yao, 2005). Semua hal ini menyebabkan munculnya asumsi bahwa tingkat keparahan cedera kepala pada wanita akan lebih ringan karena wanita memiliki progesterone endogen yang lebih besar
dibanding pria. Wagner (2011) menyatakan bahwa kadar progesteron serum akan menurun drastis setelah trauma kepala, baik pada pria maupun pada wanita. Ini kemungkinan terjadi karena progesteron yang terbentuk setelah trauma kepala sebagian besar diproduksi pada adrenal ataupun melalui proses aromatisasi perifer. Pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan rerata Bcl-2 yang bermakna antara pria dan wanita, sebelum atau sesudah mendapat perlakuan.
Tidak terdapat perbedaan kadar BDNF yang bermakna antara pria dan wanita baik pada CKS maupun CKB. Begliuomini et al (2007) menemukan bahwa kadar BDNF akan dipengaruhi oleh status hormonal.
Dalam penelitian mereka, terlihat bahwa kadar BDNF plasma akan lebih rendah pada wanita dengan amenorrhea dan postmenopause dibandingkan dengan wanita usia subur. Pada penelitian ini, tidak dilakukan penilaian terhadap status fertilitas dan menstruasi.
Penurunan kadar BDNF terjadi seiring dengan bertambahnya keparahan cedera kepala. Pada penelitian ini, kadar BDNF orang normal lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan penderita CKS dan CKB. Kadar BDNF kelompok orang normal adalah 1784,23 ± 566,03pg/mL, kadar BDNF kelompok CKS adalah 966,04 ± 472,66pg/mL, dan kadar BDNF kelompok CKB adalah 939,23 ± 488,90pg/mL (tabel 4.3).
Dengan perkataan lain, kadar BDNF akan semakin menurun pada cedera kepala berat. Kalish et al (2010) melakukan pengukuran kadar BDNF serum penderita cedera kepala tanpa melakukan pengelompokan umur.
Mereka membagi keparahan cedera kepala berdasarkan hari rawatan,
bukan berdasarkan GCS, dan menemukan bahwa kadar BDNF serum akan semakin menurun secara bermakna seiring semakin parahnya cedera. Dalam penelitian mereka, kadar BDNF serum penderita CKR adalah sebesar 707 ± 72 pg/mL, 223 ± 29 pg/mL pada kelompok CKS, dan 51.1 ± 9.4 pg/mL pada kelompok CKB.
5.1 PERUBAHAN BCL-2 PADA CKS DAN CKB