• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok Perempuan Nelayan Di desa Matiro Bombang

Dalam dokumen Model Peningkatan Kemampuan dan Penguata (Halaman 149-161)

Pisik Manusia Finansial

C. Kondisi Umum Rumah Tangga Miskin di Dua Komunitas

2. Kelompok Perempuan Nelayan Di desa Matiro Bombang

a. Latar belakang

Kelompok ini lahir bermula dari pendidikan kejar Paket B yang diikuti ibu rumah tangga di Pulau Salemo Desa Matiro Bombang. Perjalanan kelompok sudah berlangsung 5 tahun yakni sejak didirikan tahun 2012. Kelompok diketuai oleh MSd yang anggotanya adalah perempuan (ibu rumah

tangga). Di antara kelompok yang mengikuti program pemberdayaan, hanya kelompok ini masih aktif dan bertemu setiap waktu dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa anggota dari kelompok tersebut, kelompok ini didirikan dengan tujuan memberdayakan atau mengembangkan keterampilan ibu-ibu nelayan. Jumlah anggota pada awal terbentuk 20 orang yang

terbangun kebersamaannya karena faktor

ketetanggaan, kekerabatan dan merasa memiliki kesamaan nasib sebagai perempuan istri nelayan. Sejak awal sampai sekarang kelompok ini memiliki kegiatan pembuatan abon, krupuk ikan dan pengolahan hasil yang bersumber dari hasil laut sambil mengikuti pendidikan kejar Paket B.

Menurut MSd sebagai ketua kelompok umumnya ibu-ibu pada saat itu tidak memiliki kegiatan kecuali menunggu hasil yang di bawa oleh suami dari melaut. Dengan kegiatan berkelompok ibu rumah tangga setidak-tidaknya memiliki kegiatan

yang menunjang peningkatan kesejahteraan

masyarakat. Kesejahteraan itulah yang menjadi cita-

cita bersama yang mungkin bisa terwujud

ada saja pihak luar yang ikut memberi dorongan

untuk terjadinya perubahan, dalam bentuk

pemberian pelatihan-pelatihan pengolahan hasil perikanan dan juga bantuan alat pengolahan hasil perikanan. Sampai saat ini kelompok beroperasi sudah berlangsung 5 tahun dengan jumlah anggota 50 orang lebih.

Dalam perjalanannya, tata hubungan di antara mereka terjalin dengan struktur yang didalamnya terdapat pembina, ketua, sekertaris, bendahara dan anggota. Struktur tersebut mernurut mereka sebagai pola hubungan yang biasa dikalangan kelompok. Sampai saat ini kelompok ini di beri nama KUB

Rahmatullah. Jumlah anggota sejak awal

pembentukan sampai sekarang tentunya bertambah mengikuti perjalanan waktu, demikian pula variasi

kegiatannya. Menurut pengakuan beberapa

anggota, mereka tertarik untuk bergabung karena tertarik dengan jenis kegiatan yang selama ini dilakukan kelompok.

Gambar 15. Dermaga Pulau Salemo Desa Matiro Bombang

b.Kegiatan kelompok

Fokus kegiatan kelompok perempuan nelayan ini sampai sekarang adlah mengolah produk hasil laut dalam bentuk kue kering untuk skala rumah tangga. Produk tersebut dibuat dari bahan rumput laut dan ikan tengiri, dan ada pula terbuat dari buah atau daun kelor yang tumbuh subur di seikitar lingkungan pulau. Ada juga kepiting, tetapi bahan bakunya relatif mahal. Bahan baku umumnya dikumpulkan dari setiap anggota. Pada waktu tertentu bahan baku melimpah, pada saat lain menurun, atau berfluktuasi tergantung keadaan musim. Pada saat bahan tersebut kurang kelompok beralih ke kegiatan

sekolah perempuan. Kegiatan tersebut yakni membantu penduduk lain yang belum sekolah untuk belajar kejar paket B.

Gambar 16. Wawancara dengan salah seorang anggota kelompok perempuan

Ada beberapa produk yang selalu dihasilkan kelompok seperti yang telah disebutkan antara lain abon ikan, kacang sembunyi, krupuk rumput laut, krupuk daun kelor dan krupuk ikan. Produk tersebut dibuat untuk kebutuhan sendiri dan bila ada pemesanan dari luar, produk tersebut dikumpulkan dan dijual sesuai permintaan pelanggan. Secara umum anggota kelompok dapat dikatakan aktif terutama pada saat bahan baku melimpah. Interaksi diantara ketua dan anggota, erta antara anggota

dan anggota lain relatif solid terutama pada pertemuan formal. Tetapi interaksi di antara mereka tidak terhenti sampai di situ karena secara informal hampir setiap hari mereka sering bertemu disebabkan letak rumah tidak terlalu berjauhan di samping karena faktor kekerabatan

c. Kepekaan anggota kelompok menghadapi perubahan

Di wilayah ini faktor utama yang menjadi alat pengikat atau menjadi basis kelompok menurut

pengakuan mereka, dalam mempertahankan

kelangsungan hidup kelompok adalah pertemanan, kekeluargaan dan merasa senasib dan sepenang- gungan. Menurut pengakuan beberapa anggota ada beberapa prinsip yang yang menjadi faktor penting dalam berkelompok sehingga kelompok bisa bertahan lama seperti prinsip kejujuran, kepercaya- an, berbagi, keperdulian, kebersamaan. Prinsip tersebut dapat disimpulkan wujudnya dalam kerjasama atau prinsip kegotong royongan atau biasa disebut dalam bahasa setempat Asseddi- seddi.

Wujud gotong royong tersebut tidak hanya pada kegiatan kelompok saja tetapi berlaku pula pada kegiatan sehari-hari seperti pada saat selamatan, pernikahan, mauludan dan peristiwa hari besar keagamaan lainnya. Ada beberapa potensi penting yang memungkinkan kelompok semakin maju dari segi karunia sumberdaya yang ada disekitar pulau yakni kepiting dan rumput laut. Ketika ditanyakan mengenai masalah- masalah apa saja yang dihadapi oleh kelompok, sehingga potensi tersebut tidak mampu dikelola sampai sekarang, mereka mengakui bahwa kelompok terkendala dengan modal dan pemasaran.

Pengakuan anggota kelompok, kehidupan mereka secara individu masih jauh dari kecukupan. Masih banyak di antara anggota berpendapatan rendah, tidak memiliki tabungan, kurang mampu akses kepada sekolah dan kesehatan. Apakah

mereka memiliki keyakinan bahwa dengan

berkelompok dapat memberi kesejahteraan?

Sebenarnya keyakninan itu ada, karena mereka berpendapatan bila anggota kelompok memiliki kemampuan dalam pengolahan hasil laut dan menemukan pasar yang tepat maka akan memberi

kesejahteraan. Menurut mereka, dengan cara berkelompok atau membangun kebersamaan upaya meraih kesejahteraan bersama akan lebih mungkin diperoleh.

Impian atau cita-cita jangka panjang dari kelompok perempuan tersebut adalah kehidupan yang lebih baik dengan banyak berbuat dan menghasilkan sesuatu. Hanya mereka akui bahwa

tantangan yang mereka belum dapat

pemecahannya adalah bagaimana hasil produksi perempuan tersebut dapat di pasarkan dengan memuaskan, dan berkesinambungan

d.Kepemimpinan dan manajemen organisasi Selama kelompok ini ada, anggota dan ketua kelompok sudah mulai sering mengikuti pelatihan dan pembinaan terutama terkait dengan pengolahan

hasil perikanan, dan membangun kesadaran

bersama terutama dalam meningkatkan taraf hidup. Diantara pelatihan tersebut ada pengetahuan yang diperoleh demikian pula dengan ketrampilan seperti ketrampilan dalam produksi. Hasil pelatihan tersebut

di upayakan selalu diterapkan pada kegiatan dan pengelolaan kelompok.

Gambar 17: Pertemuan/ pelatihan Uji coba model di tempat pertemuan kelompok perempuan nelayan

Menurut pengakuan anggota, selama ini hampir di setiap kegiatan kebersamaan dan kerjasama selalu terlihat pada anggota, sehingga kesan keterpakasaan tidak terjasi pada setiap anggota kelompok. Setiap anggota terlibat karena kesadaran dan tanggung jawab bersama. Artinya input pelatihan diadaptasi oleh anggota dalam bentuk cara berpikir dan bertindak yang positif. Mereka mengakui bahwa hapuir setiap keputusan yang diambil selalu di bicarakan sehingga tidak

terlihat bahwa ketua mendominasi seluruh keputusan kelompok.

Ketaatan anggota kepada kelompok

terbangun begitu saja karena kepercayaan. Hal tersebut lebih disebabkan karena ketua selalu mengkomunikasikan setiap kegiatan, dan berupaya memperlihatkan tanggung jawab dan sikap adil kepada anggota. Ketika ditanya apakah dikelompok

ini pernah terjadi konflik dab bagaimana

menyelesaikan, mereka menjawab konflik pernah

ada. Konflik tersebut terjadi bila ada

kesalahpahaman antar anggota. Jalan keluar bila terjadi konflik adalah ketua mengumpulkan anggota yang konflik, untuk duduk bersama dan berupaya menyelesaikan konflik tersebut secara kekeluargaan. Menurut pendapat beberapa anggota, upaya membina kelompok agar tetap solid yakni dengan semangat yang dibangun secara bersama dan dengan cara saling mengingatkan antara satu dengan yang lain.

e. Manajemen sumberdaya

Dalam menyelesaikan setiap kegiatan atas

nama kelompok, umumnya dilakukan secara

bersama, terutama bila ingin mengolah hasil perikanan untuk dijadikan produk tertentu. Tetapi bila ada anggota ingin berupaya menghasilkan sendiri untuk kepentingannya sendiri, maka kelompok tetap meminjamkan alat yang dimiliki oleh kelompok untuk digunakan.

Kemudian bila ada upaya mengharap adanya sumberdari luar kelompok, maka untuk mengakses sumber tersebut biasanya dibantu oleh tenaga kader desa yang memiliki keahlian untuk itu. Umumnya tenaga tertsebutlah yang berhubungan dengan pihak luar yang menjadi pemberi bantuan.

Bagaimana cara menerima bantuan tersebut jika ada? Mereka menjawab bahwa bantuan tersebut dierima secara bersama di desa. Jika ada bantua itu berupa alat, maka alat tersebut disimpan di pusat kegiatan yakni rumah ketua kelompok. Tetapi bila tida saatnya melakukan pengoalah hasil atau melakuka produksi maka akan dikerjakan bersama-sama yang dikontrol langsung oleh ketua

kelompok. Pembagian dibagi berdasarkan keaktifan anggota dan dirasakan adil oleh anggota.

f. Partisipasi, Penguatan Norma dan Pengambilan Keputusan

Keterlibatan anggota dalam kelompok dapat tercipta dengan cara selalu membangun komunikasi dengan anggota dan memberikan tanggungjawab, Tapi bila ada kegiatan seperti kegiatan-kegiatan pelatihan, maka anggota akan dipanggil untuk mengikuti kegiatan tersebut. Untuk pemberian sangsi, tidak ada karena kegiatan kelompok ini berdasarkan kesadaran masing-masing anggota.

Gambar 18. Anggota Kelompok perempuan nelayan mengikuti pelatihan

Menurut mereka jika ada anggota menyimpang dari sesepakatan, maka dinasehati dan dikembalikan kepada yang bersangkutan untuk menyadari bahwa yang dilakukan tidak tepat. Biasanya anggota tersebut menyadari kasalahannya.

Selanjutnya pengambilan keputusan umumnya dilakukan dengan cara musyawarah ada beberapa aturan yang mengikat kelompok tetapi tidak tertulis yakni berupa kesepakatan Bayangan kemajuan di masa depan selalu menjadi harapan kelompok perempuan ini. Upaya meningkatkan kemampuan anggota yakni dengan selalu mengikutkan anggota dalam pelatihan-pelatihan dan selalu memproduksi olahan hasil perikanan. Ada keinginan agar kelompok menjadi contoh dan membuat kerjasama dengan kelompok lain di luar desa dan beberapa instansi terkait.

Dalam dokumen Model Peningkatan Kemampuan dan Penguata (Halaman 149-161)