• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Peningkatan Kemampuan dan Penguata

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Model Peningkatan Kemampuan dan Penguata"

Copied!
272
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Penulis:

SYAFIUDDIN SALEH

ISBN:

978-602-73804-7-9

Desain Cover:

Muh. Muhaemin

Editor:

Nasaruddin

Tata Letak:

Wirasatriaji

Penerbit:

Penerbit Camar

Jln. Wijaya Kusuma V No. 5 Makassar 90222 [email protected]

www.penerbitcamar.com

Cetakan 1, November 2017

(3)

Puji syukur peneliti panjatkan kehadiran Allah SWT karena Buku berjudul Model Peningkatan Kemampu-an dKemampu-an PenguatKemampu-an KelembagaKemampu-an Rumah TKemampu-angga Miskin Pedesaan (Kajian Perspektif Pembanguan Sosial Lokal Partsipatoris) dapat terlaksana seperti direncanakan. Buku ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan penelitian yang penulis lakukan mulai tahun pertama/ 2015, tahun kedua/ 2016 dan tahun ketiga/ 2017 yang dilakukan guna memahami lebih mendalam tentang bagaimana kondisi dan karakterstik rumah tangga miskin pedesaan di Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. merumuskan model peningkatan kemampuan dan penguatan kelembagaan rumah tangga miskin pedesaan, berikut ujicoba penerapannya baik yang dilakukan di komuinitas petani miskin di Kabupaten Jeneponto maupun pada komunitas nelayan miskin di Kabupaten Kabupaten Pangkep.

(4)

yang sesungguhnya perlu ditingkatkan kesejahtera-annya. Pemahaman tentang karakteristik dan kondisi masyarakat tersebut sebagai awal untuk memahami langkah-langkah yang akan dijadikan pilihan dalam memajukannya. Upaya merumuskan model peningkatan kemampuan dan penguatan ke-lembagaan adalah langkah-langkah kongkrit dalam upaya membangun kapasitas kedua komunitas tersebut. Pada proses penelitian dan penulisan buku ini, banyak pengalaman penting yang dialami dalam memahami substansi yang terjadi dikalangan rumah tangga miskin pedesaan dan proses tersebut merupakan pengalaman berharga bagi penulis selaku peneliti dan mahasiswa bimbingan yang ikut serta dalam penelitian ini.

Makasar, November 2017

(5)

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

BAB 2. PEMBANGUNAN SOSIAL LOKAL PARTISIPATORIS ... 7

BAB 3. KEMAMPUAN DAN KELEMBAGAAN ... 23

BAB 4. METODE KAJIAN RUMAH TANGGA MISKIN ... 45

BAB 5. KONDISI DAN KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA MISKIN PEDESAAN DI KABUPATEN JENEPONTO DAN PANGKEP ... 55

BAB 6. KEPEKAAN RUMAH TANGGA MISKIN MENGHADAPI PERUBAHAN ... 97

BAB 7. MODEL PENINGKATAN KEMAMPUAN DAN PENGUATAN KELEMBAGAAN ... 121

(6)

BAB 8. RESPON DAN ADAPTASI KELOMPOK

KOMUNITAS TERHADAP PENGEMBANGAN

MODEL ... 129

BAB 9. PENUTUP ... 183

Daftar Pustaka ... 189

(7)

Nomor Teks Halaman

1. Jumlah Rumah Tangga (KK) berdasarkan

klasifikasi kemiskinan per kecamatan Kabupaten Jeneponto tahun 2014

59

2. Jumlah Rumah Tangga Berdasarkan

Klasifikasi Kemiskinan Per Kecamatan Kabupaten Jeneponto Tahun 2014

61

3. Sebaran Rumah Tangga miskin

prasejahtera dan sejahtera I, II, III. IV per kecamatan di Kabupaten Pangkajene Kepulauan 2013

69

4. Rumah tangga Pra sejahtera (sangat

miskin) dan Sejahtera 1 (Miskin) di Kecamatan Tupabiring Kabupaten Pangkep tahun 2015

74

5. Sebaran Rumah Tangga miskin

prasejahtera dan sejahtera I, II, III. IV per kecamatan di Kabupaten Pangkajene Kepulauan 2013

80

6. Rumah tangga Pra sejahtera (sangat

miskin) dan Sejahtera 1 (Miskin) di Kecamatan Tupabiring Kabupaten Pangkep tahun 2015

82

7. Sembilan Elemen Rumah Tangga pada

RT Nelayan Miskin

87

8. Ciri Umum Kelompok Contoh pada Pola

Bentukan Kelompok Rumah Tangga Miskin di Kedua Lokasi (Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Pangkep) 2016

(8)

9. Pola Materi pada Pelatihan Uji Coba Pengembangan Peningkatan Kemampuan dan Penguatan Kelembagaan

169

10. Beberapa Karakteristik Kelompok Jaya

Bersama Desa Kapita Dan Kelompok Perempuan Nelayan Desa Matiro Bombang

174

11. Bentuk Respon dan Adaptasi Anggota

Kelompok setelah Pelatihan Uji coba pengembangan model

(9)

Nomor Teks Halaman

1. Sistem Kemasyarakatan Lokal

(Ohama,2001)

11

2. Bagan Alir Penelitian 50

3. Sebaran Penduduk Kabupaten

Jeneponto per Kecamatan Tahun 2013 (BPS Kabupaten Jeneponto, 2014)

57

4. Kondisi Lahan Kering di Desa Kapita

Kecamatan Bangkala Kab Jeneponto

58

5. Kantor Desa Kapita Kecamatan

Bangkala Kab. Jeneponto

64

6. Peta Kabupaten Pangkep (BPS

Kabupaten Pangkep, 2014

77

7. Pulau Badik yang berada dalam wilayah

Desa Matiro Deceng Kecamatan Liukang Tupabiring

79

8. Suasana Keseharian Nelayan Pulau Badik

Desa Matiro Deceng

84

9. Posisi kelembagaan petani dan

nelayan pada sistem kemasyarakatan lokal

94

10. Model Peningkatan kemampuan dan

penguatan Kelembagaan Rumah Tangga Miskin Pedesaan

123

11. Hamparan lahan Kelompok Jaya

Bersama Desa Kapita

131

12. Ketua kelompok Jaya bersama, AJ ketika

diwawancarai

(10)

13. Pertemuan di rumah salah satu anggota kelompok

137

14. Anggota kelompok Jaya Bersama ketika

ikut pelatihan Uji Coba Model di Kantor Desa

144

15. Dermaga Pulau Salemo Desa Matiro

Bombang

150

16. Wawancara dengan salah seorang

anggota kelompok perempuan

151

17. Pertemuan/ pelatihan Uji coba model di

tempat pertemuan kelompok perempuan nelayan Pulau Badik yang berada dalam wilayah

155

18. Anggota Kelompok perempuan nelayan

mengikuti pelatihan

158

19. Praktik Pembuatan Pupuk Kompos dalam

Pelatihan Uji Coba di kelompok Tani Desa Kapita

161

20. Bentuk Respon anggota kelompok dalam

membuat pupuk kompos

(11)

Nomor Teks Halaman

1. Instrumen Penelitian 193

2. Artikel Jurnal Internasional 215

3. Artikel pada Jurnal Asian Social Work and

Policy

(12)
(13)
(14)

kebawah dalam menghantar sumberdaya pem-bangunan yang akibatnya sampai pada kurun waktu sejak tahun 60 an keadaan tersebut membawa kelemahan pada tidak berkembangnya aktivitas di wilayah lokal terutama lemahnya aktivitas ekonomi di pasar lokal. Kelemahan lain adalah pada kemam-puan sistem administrasi lokal memberi pelayanan yang memuaskan kepada masyarakatnya. Kedua kelemahan tersebut menyebabkan adanya kelemah-an pada masyarakat lokal termasuk rumah tkelemah-angga miskin lokal (Ohama,2001).

(15)
(16)

yang terjadi. Belakangan ini terdapat indikasi me-nguatnya permasalahan atau melemahnya penang-gulangan kemikinan di Indonesia. Menurut World Bank dalam Rusastra dan Napitupulu (2007) indikasi tersebut ditunjukkan oleh melemahnya indikator kemiskinan bukan hanya dari pendapatan tetapi juga pada keadaan seperti tingkat pendidikan, kesehatan, angka kematian bayi dan lain-lain dan semakin timpangnnya kinerja dan pemanfaatan hasil pembangunan. Di pedesaan penduduk miskin me-ningkat dari 19,5 persen menjadi 21,29 persen bila dibandingkan wilayah perkotaan yang meningkat dari 11, 4 persen menjadi 13,4 persen. Kedaan ini diperparah pula oleh keadaan disparitas pertumbuh-an dpertumbuh-an pemeratapertumbuh-an pertumbuh-antar wilayah, kelompok dpertumbuh-an individu.

(17)
(18)
(19)

A.Konsep pembangunan sosial lokal

(20)

(aktor/pelaku pembangunan). Guna tertib dan terarahnya pemanfaatan sumberdaya pembangun-an tersebut dibutuhkpembangun-an prinsip, aturpembangun-an atau norma. Interaksi ketiga elemen ini (sumberdaya, pelaku, norma) secara konsisten akan menyebabkan proses pemba-ngunan berjalan secara stabil dan berkelanjutan. (2) Unit terkecil dari sebuah bangsa yang menjadi penerima manfaat sekaligus sebagai pelaku pem-bangunan yakni rumah tangga.

(21)

memanfaat-kan sumberdaya untuk menghasilmemanfaat-kan nilai tambah (surplus), sehingga dapat memberi tambahan pend-apatan yang lebih tinggi. Aktivitas ini menghubung-kan rumah tangga dengan pelaku pasar dalam interaksi pertukaran yang bersifat intensif dan fungsional. Paduan tiga komponen aktivitas (produk-si, konsumsi dan manajemen) dengan sumberdaya (pisik, manusia dan finansial) disebut unsur (elemen) rumah tangga. Rumah tangga maju merupakan rumah tangga yang memiliki kecukupan (sufficient) unsur/elemennya, sebaliknya rumah tangga yang tidak memiliki elemen yang cukup (unsufficient) disebut rumah tangga miskin. (3) Ketika rumah tangga ingin menye-lesaikan masalahnya maka ia bergabung dengan rumah tangga lain untuk tujuan tersebut. Kumpulan rumahtangga yang terbentuk dan mengelompok, dalam suatu masyarakat karena kesamaan tujuan, berlangsung pada suatu proses sosial tertentu disebut komunitas.

(22)

lebih besar yakni sistem kemasyarakatan lokal (Gambar 1). (4) Sistem luar dari sistem kemasyarakat-an adalah sistem administrasi lokal dkemasyarakat-an sistem pasar. Pada kedua sistem ini, sistem administrasi berfungsi menyediakan sumberdaya, dana dan pelayanan sedangkan sistem pasar merupakan tempat bagi rumah tangga dan komunitas menyerahkan surplus atau kelebihan yang dihasilkannya untuk pertukaran. (5) Dalam sistem komunitas terdapat berbagai bentuk aksi kolektif baik secara permanen maupun yang timbul sewaktu-waktu pada unit sosio geografis yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Aksi atau kegiatan kolektif yang berlangsung permanen di sebut kelompok atau organisasi sosial.

Menurut Ohama (2001) terdapat 5 bentuk aksi kolektif dan organisasi sosial yang aktivitasnya terjadi pada pengorganisasian diri komunitas yang disebut lima kategori fungsional yakni (a) saling dukung

(mutual support) (b) penggabungan sumber

(resource pool), (c) manajemen aset bersama (d)

(23)

Sebagai mengumpulkan sumberdaya milik individu untuk memndukung suatu kegiatan individu dan manfaatnya diperoleh oleh individu dan pengertian lain adalah mengumpulkan sumberdaya milik individu untuk menyelesaikan kegiatan bersama dan manfaatnya langsung dirasakan secara bersama.

(24)

atau bantu membantu karena yang kedua akhirnya menunjukkan pada pencapaian tujuan perseorang-an, sedangkan gotong royong dalam pengertian lain adalah kegiatan bersama untuk mencapai tujuan bersama misalnya memperbaiki jalan, membuat jembatan, memperbaiki saluran irigasi dan sebagai-nya.

(25)

inisiatif dari kalangan masyarakat sendiri. Otonomi desa merupakan bentuk kolektif paling sempurna dalam suatu masyarakat. Istilah ini dimaksudkan untuk wujud kelompok atau kolektifitas dalam masyarakat yang telah menunjukkan kemandirian atau otonom. Selain mampu menghasilkan surplus secara kontinyu dan bekesinambungan juga mampu membantu kelompok lainnya untuk mengembang-kan dirinya.

B. Pendekatan partisipatoris

(26)
(27)

tersebut tidak bisa berlangsung cepat, karena dalam pendekatan partisipatoris warga lokal melakukan pembelajaran berbasis pada pengalaman dan berproses melalui refleksi secara kolektif. Seperti dikatakan Suradisastra (2008) bahwa evolusi kelem-bagaan memerlukan waktu lama sehingga dibutuh-kan suatu program pembangunan yang bersifat

longitudinal dan konsisten dalam upaya mencapai

tujuannya.

(28)

pengambilan keputusan, pelatihan berorientasi prestasi untuk penanaman jenis kelakuan (penge-tahuan, sikap dan ketrampilan), pelatihan berbasis pengalaman untuk manajemen diri secara kolektif. (3) Pembangunan jejaring: membangun kesiapan berupa aksi kolektif dalam penyelesaian masalah bersama, aksi kongkrit dalam menginisiasi perubahan, dan mengembangkan jejaring antar kelompok atau organisasi (Ohama, 2001)

C. Beberapa Studi tentang Kemiskinan

(29)

kemiskinan perlu melibatkan masyarakat sendiri dalam bentuk yang lebih partisipatif agar lebih memungkinkan adanya proses pembelajaran masya-rakat sekaligus proses perubahan perilaku untuk hidup yang lebih bermartabat. Pola ini memungkin-kan penaggulangan atau pengentasan kemiskinan lebih mendasar, menguatkan komitmen kebersama-an di kebersama-antara masyarakat bahwa penkebersama-anggulkebersama-angkebersama-an kemiskinan bukanlah tanggungjawab pemerintah semata, tetapi justru menjadi tanggung jawab ber-sama.

Kajian yang dilakukan Suradisastra (2008) mengenai strategi pemberdayaan kelembagaan petani di pedesaan mengemukakan bahwa proses pengambilan keputusan dalam masyarakat petani merupakan suatu tindakan berbasis kondisi komunitas

(community based action) yang dapat digunakan

(30)

stra-tegi pemberdayaan yang diterapkan. Upaya dan strategi pemberdayaan merupakan suatu pendulum antara paradigma evolusi dan paradigma revolusi yang saling mengisi dalam proporsi yang sesuai dengan kondisi dan kelembagaan petani.

(31)

semua elemen yang ada untuk bisa mendorong ekonomi mikro lokal.

Penelitian dilakukan Syafiuddin, (2013) tentang optimalisasi penanganan kemiskinan dengan menggunakan Paraticipatory Poverty Assessment and

Monitoring di wilayah pinggiran kota Makassar

menjelaskan bahwa bahwa indeks kebahagian

(social weel being) sebuah keluarga atau rumah

(32)
(33)
(34)
(35)

A. Kemampuan

Hornby (1995) mengartikan kemampuan atau dalam dunia kerja dibentuk competence atau

competent adalah “to do something of people

having the necessary ability, authority, skill,

knowledge; the ability to hold or contain something; the ability to produce, expe-rience, understand and

learn something.” Pengertian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan (kompe-tensi) berarti mengerjakan sesuatu yang membutuh-kan kemampuan, kewenangan, pengetahuan, keterampilan, kemampuan memberi isi kepada sesuatu; kemampuan menghasilkan, mengalami, dan mengerti tentang sesuatu.

(36)

juga diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masya-rakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang-nya. Suparno (2002) mengemukakan bahwa kemam-puan atau kemamkemam-puan sebagai kecakapan yang memadai, kewenangan untuk melakukan suatu tugas atau terampil, cakap sesuai yang disyaratkan.

Soesarsono (2002) , Spencer dan Spencer (1993) membagi lima karakteristik kemampuan : yakni motivasi, karsa (motives); ketangkasan sikap (traits), kepribadian, sikap mental (self concept), penge-tahuan (knowledge) yakni informasi yang dipunyai di bidang tertentu dan keterampilan (skill). Motives

adalah hal yang konsisten yang orang pikirkan atau inginkan, menyebabkan ia melakukan tindakan atau aksi. Traits merupakan karakteristik fisik dan tangga-pan konsisten atas informasi atau situasi tertentu. Self

concept berupa sikap, nilai dan citra diri. Sedangkan,

knowledge (pengetahuan) yakni informasi yang

(37)

Tjitropranoto (2005) menyebut kemampuan-kemampuan tersebut sebagai kapasitas diri yang dicirikan dengan adanya pengetahuan, keterampilan, sikap, percaya diri, komitmen dan kewirausahaan. Kemampuan atau kapasitas tersebut akan memacu potensi (kesiapan) diri berupa kemajuan dan kemampuan usaha yang berlanjut pada pengenalan inovasi guna pengembangan usaha.

Di pihak lain, Soesarsono (2002) secara umum membagi kemampuan menjadi kemampuan personal (personal competency), kemampuan sosial

(social competency) dan kemampuan dasar/

(38)

mengambil inisiatif, kemampuan berkreasi atau berinovasi (Soesarsono, 2002).

Soesarsono (2002), menjelaskan kemampuan sosial terdiri dari: kemampuan menyesuaikan diri, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berempati,kemampuan bergaul, kemampuan bekerjasama, kemampuan berorganisasi dan

kemampuan memimpin. Kemampuan

teknis/profesional dicirikan dengan kemampuan membaca, kemampuan me-nulis beberapa jenis surat atau laporan, kemampuan berhitung, kemampuan membuat rencana peker-jaan/bisnis, kemampuan mengelola bisnis, kemam-puan memantau dan mengevaluasi, kemampuan menemukan dan memecahkan masalah, kemampu-an memberi instruksi, perintah/melatih, kemampukemampu-an melaksanakan pekerjaan teknis umum, kemampuan melaksanakan pekerjaan teknis khusus/tertentu, dan kemampuan melihat ke depan.

Wiles (Rosyada, 2004) dan Suparno (2002) membagi kemampuan (kompetensi) ke dalam tiga kemampuan yakni kemampuan kognitif,

(39)

Wiles (Rosyada, 2004), kemampuan (kompetensi) kognitif terdiri dari: (pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (appli-cation), analisis (analysis), sintesis (syntesis), dan evaluasi (evaluation) Anderson et al., (2001) mem-bagi proses kognitif yang terdiri dari: mengingat

(remember), mengerti (understand), menerapkan

(apply), menganalisis (analize), menilai (evaluate) dan menciptakan (create).

Menurut Anderson et al., (2001), mengingat, yakni kemampuan untuk mengingat peristiwa tertentu dan mengungkap kembali peristiwa tersebut; sedangkan mengerti adalah kemampuan menafsir dokumen atau perkataan tertentu, memberi contoh, mendiskripsikan, mengklasifikasi, meringkas, menyim-pulkan, membandingkan dan menerangkan pe-nyebab pentingnya suatu peristiwa. Setelah itu,

penerapan,yakni kemampuan membagi sesuatu dari

(40)

suatu pandangan pada perspektif tertentu. Evaluasi yakni mengklarifikasi dengan menentukan sesuatu dari data tertentu dan mengkritisi cara penyelesaian masalah. Terakhir, mencipta yakni menggeneralisasi suatu dugaan tertentu, merencanakan sesuatu dan memproduksi sesuatu dengan tujuan tertentu.

Menurut Wiles (Rosyada, 2004), kemampuan

(41)

meng-adaptasikan perilaku pada sistem nilai.

Wiles (Rosyada, 2004) menyatakan bahwa kemampuan (kompetensi) psikomotorik terdiri dari: mengamati (observing), meniru (imitating), memprak-tekkan (practicing) dan menyesuaikan (adapting). Pada aspek mengamati seperti mengamati proses, memberikan perhatian terhadap tahap-tahap dan teknik-teknik yang dilalui dan yang digunakan dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan atau meng-artikulasikan sebuah perilaku; meniru, mengikuti semua arahan, tahap-tahap dan teknik-teknik yang diamatinya dalam menyelesaikan sesuatu, dengan penuh kesadaran dan dengan usaha yang sungguh-sungguh; mempraktekkan, mengulang tahap-tahap dan teknik-teknik yang dicoba diikutinya itu, sehingga menjadi kebiasaan. Untuk itu diperlukan kesungguh-an, upaya untuk memperlancar langkah-langkah tersebut melalui pembiasaan terus menerus; dan akhirnya menyesuaikan yakni melakukan penyesuai-an individual terhadap tahap-tahap dpenyesuai-an teknik-teknik yang telah dibiasakan, agar sesuai dengan kondisi dan situasi pelaku sendiri.

(42)

kecakapan memadai, kewenangan melakukan suatu tugas, karakteristik mendalam dan terukur, perilaku dan kinerja dalam situasi kerja tertentu serta seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab pada diri seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidangnya. Selanjut-nya, secara umum kemampuan dapat dicirikan oleh: (1) kemampuan personal, (2) kemampuan sosial (manajerial), dan (3) kemampuan profesional. Bila dipandang dari tujuan belajar kemampuan dapat berupa: (1) kemampuan kognitif,

(2) kemampuan sensorik-motorik, dan (3) kemampuan afektif.

B. Kelembagaan

(43)

aturan main , etika, sikap atau tingkah laku pada suatu sistem tertentu. Kelembagaan berasal dari kata lembaga yang berarti aturan main dalam organisasi atau kelompok masyarakat yang membantu anggotanya untuk berinteraksi dengan lebih baik untuk mencapai tujuan yang disepakati. Lembaga dapat diberi pengertian sebagai aturan di dalam suatu kelompok masyarakat atau organisasi yang menfasilitasi koordinasi antar anggotanya untuk membantu mereka dengan harapan di mana setiap orang dapat bekerjasama atau berhubungan satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan (Hayami, 1984).

Ostrom, 1985 menyatakan bahwa lembaga merupakan aturan dan rambu-rambu sebagai panduan yang dipakai oleh para anggota suatu kelompok masyarakat untuk mengatur hubungan yang saling mengikat atau saling tergantung satu sama lain. Penataan institusi (institutional

arrangements) dapat ditentukan oleh beberapa

(44)

menentukan, menegakan hukum atau aturan itu sendiri dan untuk mengubah aturan operasional serta mengatur hubungan kewenangan organisasi. Sedangkan Uphoff, 1986, mengemukakan bahwa lembaga adalah suatu himpunan atau tatanan norma–norma dan tingkah laku yang bisa berlaku dalam suatu periode tertentu untuk mela-yani tujuan kolektif yang akan menjadi nilai ber-sama. Institusi ditekankan pada norma-norma prilaku, nilai budaya dan adat istiadat.

(45)

Syahyuti 2006 mengemukakan kelembagaan memilki komponen (1) person (orang). (2) kepenting-an (3) aturkepenting-an (4) stuktur atau tata hubungkepenting-an. Selkepenting-anjut nya dalam pengembangan kelembagaan dijelaskan bahwa terdapat beberapa prinsip seperti (1) bertolak dari eksisting condition, (2) terdapat kebutuhan (3) berpikir kesisteman (4) partisipatif (5) efektifitas, (6) efisiensi (7) Fleksibilitas (8) nilai tambah atau keun-tungan (9) desentralisasi dan (10) ada keberlanjutan.

(46)
(47)
(48)

menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus yang dipadukan dengan teknik triangulasi.

Berdasarkan permasalahan pokok dan uraian sebelumnya, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) menganalisis kondisi dan karakteristik rumah tangga miskin pedesaan yang menjadi sasaran program pembangunan melalui proses pemberdayaan yang dilakukan fasilitator pembangunan selama ini di wilayah pedesaan. (2) mangkaji tingkat kepekaan rumah tangga miskin dalam merespon upaya-upaya pembangunan atau pemberdayaan yang telah dilakukan (3) mengkaji dan merumuskan model pengembangan/ peningkat-an kemampupeningkat-an dpeningkat-an penguatpeningkat-an kelembagapeningkat-an rumah tangga miskin sebagai basis dalam pengem-bangan kualitas hidup masyarakat pedesa-aan secara berkelanjutan.

(49)

program pembangunan atau pemberdayaan yang pernah dilakukan (3) Pengumpulan data dasar tentang kondisi dan karakteristik rumahtangga miskin, dan memetakannya berdasarkan indikator kemiskin-an seperti; ketidak cukupkemiskin-an (insufficiensi) elemen rumah tangga seperti: ke tidak cukupan aset produksi, aset konsumsi serta aset manajerial (4). Wawancara mendalam (indepth) untuk memperoleh gambaran penyebab kemiskinan bagi rumahtangga miskin berdasarkan tipologinya dan (5). Merumuskan solusi penyelesaian masalah penyebab kemiskinan rumah tangga.

Metode analisis utama yang diguna-kan adalah analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif diartikan sebagai usaha analisis berdasarkan kata-kata yang disusun ke dalam bentuk teks yang diperluas.

Tahap pertama analisis data kualitatif yang

(50)

sampai laporan tersusun. Reduksi data dilakukan dengan cara membuat ringkasan data, menelusuri tema terbesar, dan membuat kerangka dasar penyajian data.

Tahap kedua adalah penyajian data, yaitu

penyusunan sekumpulan informasi menjadi pernyata-an ypernyata-ang memungkinkpernyata-an penarikpernyata-an kesimpulpernyata-an. Data disajikan dalam bentuk teks naratif, mulanya terpencar dan terpisah pada berbagai sumber informasi, kemudian diklasifikasi menurut tema dan kebutuhan analisis. Pada tahap ini, hasil pengumpul-an data dilappengumpul-angpengumpul-an setelah direduksi, disusun dalam bentuk pernyataan yang bisa digunakan sebagai sumber informasi dalam penyusunan laporan.

Tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan

(51)

penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berulang dan bersiklus.

Analisis data dilakukan setiap saat pengumpul-an data di lappengumpul-angpengumpul-an secara berkesinambungpengumpul-an. Diawali dengan proses klarifikasi data agar tercapai konsistensi, dilanjutkan abstraksi-abstraksi teoritik terhadap informasi di lapangan, dengan mempertim-bangkan menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat memungkinkan dianggap mendasar dan universal. Gambaran atau informasi tentang peristiwa atas objek yang dikaji tetap mempertim-bangkan derajat koherensi internal, masuk akal, dan berhubungan dengan peristiwa faktual dan realistis. Dengan cara melakukan komparasi hasil temuan observasi dan pendalaman makna, diperoleh suatu analisis data yang terus menerus secara simultan sepanjang proses penelitian. Analisis data kualitatif ini menggunakan metode induktif.

(52)

tersedia ditelaah, direduksi kemudian diabstraksikan sehingga terbentuk satuan informasi. Satuan informasi ini ditafsirkan dan diolah menjadi kesimpulan. Bagan alir penelitian ini digambarkan dalam bentuk fishbone

diagram seperti pada Gambar 2.

Gambar 2 Bagan Alir Penelitian

oTemuan:

oKajian tingkat kepekaan RT Miskin menghadapi

oPublikasi Internasional, Buku Ajar, Tesis, Makalah Kemampuan dan kelembagaan

(53)

Penelitian ini akan menelusuri proses pemberdayaan yang telah dilakukan terhadap masyarakat (rumah tangga) miskin pedesaan pada dua daerah yang Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Pangkep provinsi Sulawesi Selatan. Rumah tangga pedesaan sebagaimana adanya umumnya di dominasi oleh komunitas petani dan nelayan. Selama ini telah banyak program pemba-ngunan yang telah dilakukan baik program pemerin-tah dalam berbagai kegiatan dengan dampingan aparat dibantu oleh lembaga-lembaga lain maupun yang dilakukan langsung oleh pihak swasta, LSM atau badan Internasional, mungkin pula berasal dari lembaga ilmiah seperti perguruan tinggi. Program tersebut telah dilakukan sendiri-sendiri atau dalam bentuk kerjasama atau kolaborasi. Sejauh mana proses pembangunan atau pemberdayaan tersebut mampu menciptakan kemampuan meng-organisir diri pada rumah tangga miskin.

(54)
(55)

rumah tangga lain, bagaimana kemampuan pengambilan keputusan jika mereka menghadapi masalah baik secara idnividu maupun secara bersama, jika ada upaya kolektifitas maka adakah kemungkinan mereka membangun jaringan.

(56)
(57)

A.Kondisi Rumah Tangga Petani Miskin di Kabupaten Jeneponto

(58)

Kecamatan Tamalatea, Kecamatan Kelara, Kecamatan Taroang, Kecamatan Bontoramba, Kecamatan Batang Kecamatan Arungkeke dan Kecamatan Turatea. Dari sebelas kecamatan tersebut Kecamatan Bangkala Barat, Bangkala dan Bontoramba termasuk dalam wilayah terluas yakni masing masing 20 %, 16 % dan 12 % dari total luas wilayah kabupaten Jeneponto, sedangkan Kecamatan yang paling sempit adalah Kacamatan Batang, Arungkeke dan Kecamatan Kelara yakni masing-masing 4 %, 4 % dan 6 % .

(59)

ini sekitar 361.000 jiwa, yang menyebar di masing kecamatan seperti yang dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Sebaran Penduduk Kabupaten Jeneponto per

Kecamatan Tahun 2013 (BPS Kabupaten

Jeneponto, 2014)

(60)

Gambar 4. Kondisi Lahan Kering di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kab Jeneponto

(61)

Data terakhir yang ada adalah data tahun 2011 dan digunakan dalam pendataan ulang sekarang ini. Secara keseluruhan jumlah rumah tangga miskin tersebut dapat digambarkan pada Tabel 1

Tabel 1. Jumlah Rumah Tangga (KK) berdasarkan klasifikasi kemiskinan per kecamatan Kabupaten Jeneponto tahun 2014

No Kecamatan Sangat

miskin Miskin

Hampir miskin

Rentan

miskin Jumlah

1 Bangkala 704 2078 2001 3506 8289

2 Bangkala

Barat 295 1186 1078 2468 5027

3 Tamalate 948 1966 1317 1865 6090

4 Bontoramba 544 1454 1203 1789 4990

5 Binamu 737 1649 1276 2450 6112

6 Turatea 623 1642 1307 1484 5056

7 Batang 299 926 703 986 2914

8 Arungkeke 317 842 753 1170 3082

9 Taroang 525 1414 1038 1257 1234

10 Kelara 472 1193 988 1244 3897

11 Rumbia 271 932 1061 2117 4381

Jeneponto 5729 15282 12725 20336 54 072

Sumber: BPS Kabupaten Jeneponto 2014

(62)
(63)

Tabel 2 Jumlah Rumah Tangga Berdasarkan Klasifikasi Kemiskinan per Desa di Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto Tahun 2014

(64)

dengan studi ini difokuskan di Desa Kapita dengan menitik beratkan perhatian pada Rumah Tangga Miskin dan sangat miskin.

Fokus pengamatan pada studi ini di kabupaten Jeneponto adalah di Desa Kapita Kecamatan Bangkala. Untuk mencapai Desa Kapita dilakukan dengan waktu tempuh 30 menit sampai satu setengan jam dari Allu sebagai ibu kota Kecamatan Bangkala. Desa kapita merupakan salah satu desa pertanian yang luas di Kecamatan Bangkala. Secara umum kondisi lingkungan dan infrastruktur di wilayah ini dikemukakan berupa keadaan umum kesehatan masyarakat, mata pencaharian, aksesibilitas penduduk pada sarana jalan yang ada, serta fasilitas listrik dan sarana komunikasi.

(65)

penduduk terjangkit penyakit muntah berak (muntaber), selain penyakit yang diderita individu yang berlangsung menahun. Bagi penduduk desa tempat mencari pertolongan terhadap serangan penyakit, adalah dengan memanfaatkan obat yang bersumber dari pengetahuan tradisional masyarakat setempat atau bila berlangsung lama berusaha berobat pada orang pintar. Tetapi beberapa tahun terakhir ini penduduk mulai terbiasa ke Puskesmas. Di Desa Kapita sendiri terdapat 1 puskesmas.

(66)

belum ada upaya yang memungkinkan untuk berkembang lebih maju.

Gambar 5. Kantor Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kab.

Jeneponto

(67)

penduduk. Sarana jalan dari kota kecamatan menuju Desa Kapita masih berupa jalan pengerasan, dan terdapat beberapa tanjakan. Jalan tersebut sebahagian pernah di aspal tetapi saat sekarang ini sebahagian sudah mulai rusak, berlubang dan sebahagian lagi merupakan jalan pengerasan. Secara umum, kesan penduduk aksesibilitas melalui jalan yang ada, terasa lambat dan kurang nyaman dengan waktu tempuh 45 menit sampai satu setengah jam.

Kondisi Penerangan di desa ini sudah menggunakan listrik atas fasilitas PLN. Tidak semua penduduk mampu memasang listik dirumahnya. Terutama bagi mereka yang miskin seperti dg Gassing, cara mendapatkan penerangan adalah dengan menyambung listrik dari tetangga yang mampu, dengan membayar Rp 20.000 setiap bulan. Di desa Kapita belum memiliki jaringan telepon. Ada beberapa penduduk yang sudah menggunakan telepon seluler, tetapi baru beberapa orang.

(68)

adalah lahan dan peralatan pertanian. Petani miskin diliputi oleh berbagai keterbatasan. Dg Gassing dan Dg Bakkasa misalnya tidak memiliki lahan sendiri, ia bertani dengan menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil. Kalaupun ia memiliki jumlahnya sangat sempit yakni sekitar 2 are. Berbeda Dg Gassing dan Dg Panna, Lima (35) tahun dan Kamaluddin masih memilki lahan sendiri sekitar 25 are. Pak Lima memiliki 2 anak, salah satunya sudah tammat SMP dan sering membantu pada saat dibutuhkan di sawah. Ia menggunakan modal sendiri. Untuk membiayai pertaniannya sekitar 1,5 juta. Dan setiap panen dapat menghasilkan 3-5 juta rupiah.

(69)

atau jagung dipelihara seringkali pula seringkali petani dibantu orang lain terutama pada saat menyemprot hama. Misalnya seperti menantu. Istri juga bekerja, seperti menyabit rumput untuk ternak orang lain. Dari mana modalnya? Sebahagian besar dipinjam dari orang lain; pinjaman tersebut dengan syarat hasil panen padi dijual ke pemilik modal. Jumlah modal umumnya berkisar 1,5 sampai 2 juta rupiah. Jumlah tersebut dapat menghasilkan produksi senilai 3-5 juta rupiah bila panen berlangsung sukses, atau lebih rendah bila kondisi musim kurang mendukung.

(70)

kulkas yang dapat dioperasikan untuk mendapat pendapatan tambahan misalnya dengan membuat es atau mejadikan motor sebagai sebagai ojek. Hanya Dg Panna yang memiliki bentor yang digunakannya pada saat bukan musim bertani dengan mengoperasikannya di daerah lain (Tanah Toraja) untuk mendapat tambahan penghasilan. Aspek manajerial dalam mengelola rumah tangga pada petani miskin belum berjalan. Hampir semua petani miskin yang menjadi informan mengakui bahwa memiliki pendapatan dari pertaniannya masih sekedar untuk menyambung hidup. Mereka mengakui bahwa dari pendapatan tersebut tidak pernah melakukan upaya menabung untuk waktu yang lama. Kalaupun ada tabungan mereka gunakan lagi untuk keperluan sehari-hari .Gambaran tersebut dapat dilihat pada matriks sembilan elemen rumah tangga berikut.

(71)

Tabel 3. Matrik 9 Elemen Rumah Tangga Petani Miskin di Jeneponto

S.daya

Aktivitas

Pisik

Manusia

Finansial

Produksi

(72)

Matriks tersebut menggambarkan berbagai keterbatasan rumah tangga petani miskin dari sisi sumberdaya pisik, manusia (tenaga) produktif yang menunjang keberlangsungan rumah tangga yang terbatas seperti yang dikemukakan Suman, A. (2007). Demikian pula halnya kecukupan finansial baik untuk produksi, konsumsi serta manajerial yang tidak memadai. Kemampuan rumah tangga memanfaatkan, memobilisasi serta mengelola sumberdaya untuk berbagai macam tujuan dalam rangka mereproduksi kembali asset rumah tangga masih diliputi berbagai keterbatasan. Akibatnya, aktivitas rumah tangga masih berkisar pada rutinitas keseharian dalam mempertahankan kelangsungan hidup.

(73)

Modal usaha umumnya dipinjam. Syarat pinjaman diatur sepenuhnya oleh pemilik modal. Demikian pula jika petani miskin menjadi penggarap atau buruh tani. Upah ditentukan oleh pemilik lahan. Pola interaksi, tata hubungan dan kesepakatan yang terbentuk, memposisikan petani miskin dalam keadaan tidak berdaya. Di kalangan masyarakat tani kegiatan kolektif seperti berkelompok telah belangsung lama baik dalam aksi kolektif tradisonal seperti gotong royong, arisan dan mengurus aset milik bersama seperti mesjid dan kuburan. Ibu-ibu sering mengadakan arisan terutama di pasar tradisional. Ada pula arisan tenaga yang dilakukan laki-laki pada kegiatan pertanian dengan sebutan arera atau

aroroseng, tetapi umumnya berfungsi sosial dan

(74)
(75)
(76)
(77)
(78)

Semua program pemberdayan tersebut diperoleh warga melalui perantaraan kepala dusun setempat.Dikalangan petani miskin, walaupun program pemberdayaan tersebut dirasakan masih jauh dari harapan penduduk miskin, tetapi mereka mengakui bahwa setiap program dirasakan manfaatnya walaupun dalam jangka pendek. Sekurang-kurangnya dapat meringankan beban hidup keluarga. Tetapi mereka tetap memberi saran kiranya dapat selalu mengalami peningkatan dan diupayakan senantiasa lebih merata dalam arti semua rumah rumah tangga miskin terjangkau oleh setiap program.

B. Kondisi Rumah Tangga Nelayan Miskin di

Pangkajene Kepulauan (Pangkep)

(79)

1.112,29 km persegi atau 111.229 ha. Di antara luas tersebut sebagian besar adalah wilayah laut.

Gambar 6. Peta Kabupaten Pangkep (BPS Kabupaten

Pangkep, 2014)

(80)

pemerintahan di kecamatan Pangkajene dengan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi yakni mencapai 872 Jiwa per km.

(81)

Gambar 7. Pulau Badik yang berada dalam wilayah Desa Matiro Deceng Kecamatan Liukang Tupabiring

Penduduk dan rumah tangga miskin di Kabupaten Pangkep diklasifikasikan sesuai klasifikasi BKKBN yakni pra sejahtera, sejahtera 1 , sejahtera II sejahtera III dan sejahtera IV. Data Rumah Tangga miskin berdasarkan klasifikasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.

(82)

Tabel 5 Sebaran Rumah Tangga miskin prasejahtera dan sejahtera I, II, III. IV per kecamatan di Kabupaten Pangkajene Kepulauan 2013

Sumber: BPS Kecamatan Pangkep dalam Angka, 2014

(83)

pertimbangan kemudahan dan jangkauan wilayah yang diamati maka dipilih atau fokus pada Rumah tangga nelayan miskin di Kecamatan Tupabiring. Kecamatan Tupabiring terdiri dari 9 desa yang seluruhnya berada di wilayah Kepulauan Tupabiring. Data Rumah tangga Prasejahtera (sangat miskin) dan Sejahtera 1 (Miskin) dapat di lihat pada Tabel 6.

(84)

Tabel 6. Rumah tangga Pra sejahtera (sangat miskin) dan Sejahtera 1 (Miskin) di Kecamatan Tupabiring Kabupaten Pangkep tahun 2015.

No Nama

Desa/kelurahan

Pra sejahtera

Sejahtera

I Jumlah

1 Matiro Adae 4 25 29

3 Matiro Langi 26 302 328

4 Matiro Deceng 22 160 182

5 Matiro Sompe 36 113 149

6 Matiro

Polongan 18 45 63

7 Matiro Ujung 10 12 22

8 Matiro Mattae 8 10 18

9 Matiro Bintang 15 45 60

Kec Tupabiring 152 794 946

Sumber: Kantor BKKBN Kabupaten Pangkep 2015

(85)

batuk batuk dan muntaber tetapi berlangsung musiman. Walaupun diakui ada pula pula warga masyakat yang mengalami penyakit tahunan seperti tipus, penyakit lambung atau mag, serta penyakit lain. Jika mengalami hal demikian warga masyarakat termasuk rumah tangga miskin meminta pertolongan pengobatan melalui puskesmas setempat.

Aksesibitas penduduk di wilayah ini adalah melalui laut, dan umumnya perjalanan tersebut dilakukan dengan perahu milik nelayan yang dioperasikan untuk penumpang. Akses yang jauh adalah ke kota Pangkajene atau ke kota Makassar. Menurut penyampaian informan melalui wawan-cara, arus perjalanan di pulau ini lebih mudah dan lebih sering dilakukan penduduk adalah ke kota Makassar, karena hampir semua kebutuhan lebih mudah diperoleh di sana. Waktu tempuh umumnya 2 jam perjalanan.

(86)

dan Sampara (47 tahun) adalah sebagian warga masyarakat pulau Badik yang tergolong miskin atau pra sejahtera. Mereka merupakan nelayan miskin yang telah bertahun-tahun menekuni bidang kerja sebagai nelayan. Latar belakang pendidikan umumnya adalah Sekolah Dasar tidak tammat. Umumnya mereka adalah nelayan pancing, tidak memiliki perahu dan alat tangkap lain.

Gambar 8 Suasana Keseharian Nelayan Pulau Badi Desa

Matiro Deceng

(87)
(88)
(89)

penggunaannya hanya untuk penyimpanan saja. Belum ada upaya mengubah fungsinya menjadi alat yang produktif seperti membuat es untuk dijual. Ketrampilan yang minim dan upaya menabung yang tidak dilakukan menyebabkan nelayan miskin tidak dapat mengelola asset rumah tangga untuk tujuan yang lebih bervariasi. Keadaan tersebut dapat dijelaskan pada Matriks sembilan elemen rumah tangga sebagai berikut:

Tabel 7. Tabel Sembilan Elemen Rumah Tangga pada RT

Nelayan Miskin

S.daya Aktivitas

Pisik Manusia Finansial

Produksi rumput laut < 150 bentangan.

(90)

Tabel 7 menunjukkan keadaan elemen rumah tangga nelayan miskin, tidak berbeda dengan elemen rumah tangga petani miskin. Keadaan yang berbeda adalah pada asset produksi pisik. Bila pada petani asset produksi terkait dengan lahan dan alat pengolahannya yang terbatas, maka pada rumah tangga nelayan miskin kebanyakan di antara mereka adalah nelayan pancing yang memiliki asset atau sumberdaya berupa mata pancing, kawat, bahan bakar dan perahu. Pada sebahagian nelayan miskin sumberdaya tersebut seringkali bukan milik sendiri.

(91)

kehidupan kolektif yang menekankan kesetaraan jarang dilakukan. Kalaupun ada kelompok adalah bentuk kelembagaan di bidang produksi, misalnya dalam mencari ikan. Kelompok atau lembaga ini sifatnya adalah hubungan mengelompok antara patron dan klien. Kelompok ini dimana bos atau juragan menyediakan modal sedangkan nelayan adalah pekerja mencari ikan. Bila perkerjaan memancing telah dilakukan hasil penangkapan seluruhnya harus diatur oleh pemilik modal atau bos, nanti di bagi setelah ikan laku terjual. Bahkan ada aturan jika penangkapan ikan ditelah dilakukan seharian tetapi kenyataannya gagal menghasilkan, maka semua biaya ditanggung oleh nelayan pancing dan menjadi utang kepada pemilik modal. Gotong royong dikalangan nelayan hampir tidak dipraktekkan warga, bahkan hampir punah, masing-masing nelayan larut dengan kehidupannya sendiri-sendiri.

(92)
(93)

C.Kondisi Umum Rumah Tangga Miskin di Dua Komunitas

(94)

(piring,gelas), jirigen air, perabot seadanya, rumah berdinding dan lantai bambu, listrik dari tetangga dan peralatan konsumsi lain yang seadanya. Dari sisi manusia yang berkonsumsi di perlihatkan dalam jumlah tanggungan yang banyak rata-rata 3-5 oarang bahkan sampai 7 orang dan umumnya kurang produkstif. Dari segi fiansial yang menonjol yakni ketiadaan tabungan, dan kecenderungan memilki utang dan tidak mampu menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi. Keadaan tersebut menyebabkan rumah tangga miskin tidak mampu tumbuh dan berkembang. Sehingga dari aspek aktivitas manajerial untuk berbagai tujuan terutama yang menguntungkan secara ekonomi tidak mampu dilakukan.

(95)

dengan adanya pembangunan dan permberdayaan kedaan tersebut sudah mulai bergeser kepada tujuan ekonomi seperti yang terjadi pada KUBE dan program pemberdayaan lain. Namun demikian pada kenyataannya kelompok atau bentukan kolektif tersebut kebanyakan tidak mampu berlanjut akibat berbagai macam sebab. Posisi kebanyakan kelembagaan tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 9.

(96)
(97)
(98)
(99)

Rangsangan Perubahan melalui pemberdayaan

(100)

berkonsultasi dengan masyarakat melalui aparat desa.

(101)

apung dan program pembinaan kelompok nelayan penangkapan ikan kepiting

Pendekatan dan metode pemberdayaan pada setiap program berbeda sesuai dengan SKPD pelaksana dan jenis program yang dilakukan. Tetapi umunya menggunakan pendekatan kelompok. Di kedua daerah tersebut beberapa SKPD yang terlibat dalam program pemberdayaan dan pengentasan masyarakat miskin adalah SKPD dari Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemba-ngunan Daerah (BPM-PD), Dinas pertanian, Dinas Kehutanan dan Dinas kelautan dan perikanan. Perbedaan pada kedua daerah tersebut dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yakni bila di daerah Kabupaten Jeneponto lebih ditekankan pada pertanian, peternakan dan kehutanan tetapi di Kabupaten Pankgep lebih ditekankan pada Perikanan dan kelautan.

(102)

pelatihan dan fasilitas lain yang relevan dengan kebutuhan kelompok. Contohnya pada pembinaan KUBE peternakan kambing di Desa Kapita setiap kelompok menerima dana sejumlah Rp 20 juta dan selanjutnya setiap kelompok di bawah pengawasan pendamping membeli sendiri kambing yang akan dipelihara bersama dalam kelompok. Pada kelompok rumput laut nelayan selain mendapat pelatihan dan pernyuluhan, mereka diberi bibit dan alat seperti tali; pada kelompok abon ikan dan kelompok mebel dan perbengkelan setiap kelompok mendapat bantuan alat dan pendampingan, juga mendapat bantuan petatihan. Selanjutnya kelompok kepiting mendapat bantuan keramba yang terbuat dari kawat jaring.

(103)

selama pelaksanaan program. Pada kedua mekanisme tersebut berdasarkan pengakuan anggota kelompok tidak seluruhnya diterima sesuai kesepakatan tergantung pada pengawalan dari SKPD terkait. Tetapi secara menyeluruh keterlibatan kepala desa sebagai administrator mewakili pemerintah di tingkat desa adalah sebagai peng-awas yang bertugas memastikan apakah bantuan dana dan sumberdana pada setiap program digunakan secara benar dan diterima sesuai dengan aturan yang berlaku.

(104)

bibit maka jenis sumberdaya atau bantuan tersebut diteruskan kepada masing-masing anggota kelompok.

Pada setiap program rumah tanggga atau RT miskin selalu diberi peran dan dilibatkan. Pada setiap kelompok untuk setiap program keterlibatan tersebut dapat dibagi 50 persen petani atau nelayan miskin dan 50 persen anggota masyarakat yang lebih sejahtera, tetapi ada pula anggota terdiri dari 70 persen rumah tangga miskin. tetapi sisanya rumah tangga sejahtera atau sebaliknya. Pada prakteknya di awal program presentase ini masih berjalan konsisten tetapi setelah program berakhir, formasi tersebut berubah dan sering di dominasi oleh kelompok yang lebih kecil atau individu tertentu. Hal tersebut mengancam keberlanjutan kelompok yang dibina atau di berdayakan.

(105)

menerima bantuan berupa tali bentangan dan bibit. Masing masing petani pada saat itu memperoleh 200 bentangan. Di antara nelayan yang jumlahnya 200 orng tersebut hanya sekitar 10 orang atau 5 % saja yang dapat mengembangkan diri dengan baik dan merespon perubahan tersebut secara positif, dengan cara setiap tahun berupaya menambah jumlah benantangan yang ia kelola. Ada di antara nelayan yang awalnya hanya mendapat bantuan yang sama yakni 200 bentangan, sekarang telah berkembang menjadi 600 bentangan dengan menyisihkan sedikit demi sedikit pendapatannya untuk menambah investasi. Mengapa ia berhasil mmenjadi focus kajian yang labih mendalam di saat yang akan dating.

(106)

dan hanya berlangsung 1 tahun. Hanya yang menarik, dalam pembuatan bubu berkembang inovasi baru dengan pembuatan bubu dari bahan bambu. Selain lebih tahan lama juga lebih ringan, sehingga alat tersebut lebih cepat di adopsi oleh nelayan. Hanya saja biaya pembuatannya untuk satu bubu dbutuhkan biaya Rp 25.000 /buah dalam kondisi terpasang. Artinya untuk untuk 200 bubu diperlukan investasi Rp 50.000. Ini dirasakan berat oleh nelayan kepiting miskin. Apalagi bila investasi tersebut dipinjam pada punggawa yang konsekwensinya akan di bayar dengan menyetor hasil produksi. Pengembalian invertasi ini seringkali sulit terbayar dalam jangka pendek, bahkan utang tersebut bisa berlangsung sepanjang masa.

(107)

dengan tanaman lain seperti mahoni dan jambu mente.

Ada petani yang sebelumnya bukan anggota kelompok setelah melihat tetangga sekitar lahannya berhasil, sekarang secara sadar berupaya menanam pohon-pohon tersebut di lahannya dengan meniru tetanggannya. Walaupun masih banyak juga petani yang tidak perduli dengan keberlanjutan usaha tersebut. Hanya saja kelemahan umum pada kelompok ini setiap tahun prakteknya masih bersifat individual walaupun menyebut dirinya kelompok tetapi kenyatannya interaksi di antara mereka tidak melembaga, dalam arti terbentuk lagi bila ada usulan untuk mendapatkan bantuan.

Komitmen Kolektif

(108)
(109)

komunikasi dan interaksi anggota tetap berlangsung selama pesanan dari luar terhadap produk yang mereka hasilkan tetap bwrlangsung. Demikian pula pada kalangan petani, ada kelompok tani yang di inisiasi pembentukannya oleh petani sendiri walaupun baru berjalan pada tiga musim tanam. Kelompok tani tersebut yakni kelompok tani yang diketuai Abdul Jalil (38) yang beranggotakan petani disekitar rumahnya. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan, kelompok tersebut berpeluang untuk memiliki aktivitas berorientasi jangka panjang. Hal tersebut dapat disebabkan karena beberapa faktor seperti:

(110)

b) Belajar dari pengalaman kelompok binaan yang lebih fungsional dan sekarang masih berkelanjutan awal pembentukan berbasis pada mekanisme alamiah seperti gotong royong atau mekanisme arisan misalnya pada kelompok perempuan pembuat abon ikan dan makanan tradisional dikalangan nelayan, dimana ada unsur saling dukung yang terbentuk dikalangan mereka dengan mengutamakan kebersamaan dan berupaya menghindari saling dominasi yang menimbulkan konflik di antara mereka.

c) Ada kelompok yang yang awalnnya di mulai atas inisiatif petani dan nelayan yang lebih kaya dan selanjutnya merekrut rumahtangga yang lebih miskin, bukan sebagai partner kerja untuk secara bersama-sama mencapai tujuan berbersama-sama tetapi Rumah tangga miskin tersebut dijadikan tenaga kerja. Tata hubungan antara sesemua anggota tidak setara antara satu dengan yang lain sehingga bantuan alat misalnya dalam program akhirnya dikuasi oleh individu yang lebih kaya. Kebanyakan kelompok dibentuk pada setiap program bersifat Taukenism

(111)

Kelompok seperti ini derajat partisipasi anggota tidak berkembang.

d) Secara umum komitmen kolektif tidak terbentuk dengan baik karena sejak awal kelompok dibentuk tanpa kebersamaan minat dan perhatian yang kuat dikalangan anggotanya. Disamping itu pengetahuan warga masyarakat tentang mengelola kelompok juga masih sangat minim

Keyakinan Terhadap Karunia Sumber

(112)

menjadi ladang penduduk, keadaannya menjadi kritis, tetapi dengan upaya penanaman kembali tanaman hutan sudah banyak penduduk yang menuai hasil, baik untuk mengambil kayu untuk ramuan rumah dan kebutuhan lain seperti pada kayu gemelina dapat pula diambil daunnya untuk makanan ternak. Selain itu dari tanaman hutan seperti mahoni dan mente mengahasilkan buah yang hasilnya setiap waktu dapat diambil hasilnya.

(113)

menjadikan bantuan tersebut sebagai modal kerja, tetapi keasadaran kolektif di antara mereka untuk mengelola sumber tersebut tidak berkembang baik. Sehingga akibatnya setiap program atau proyek selesai, tidak memberi dampak yang signifikan, seperti tujuan tujuan program atau proyek tersebut.

(114)
(115)

dimanfaatkan dan dikelola guna meningkatkan kesejahteraannya, masih lemah.

Visi Masa depan dan Pengandalan diri

(116)

ini terbina. Pertumbuhan keyakinan akan diri sendiri

(self relient) pada setiap individu juga bervariasi. Ada di antara mereka yang meyakini bila mereka mengelola usahanya dengan baik, maka ke depan akan mendapat perubahan seperti di akui dan dialami oleh Pak Asr (43) tahun seorang nelayan berhasil di Desa Matiro Bombang. Walaupun demikian, untuk sebagian anggota masyarakat bila ditanyakan tentang kepercayaan diri untuk maju, masih ragu memberi jawaban karena faktor ketidak pastian, himpitan utang dan desakan kebutuhan kesehariannya.

Kemampuan dan Kelembagaan

(117)
(118)
(119)

menghindari saling dominasi yang menimbulkan konflik di antara mereka.

Penyelesaian masalah bersama dan peng-ambilan keputusan dalam kelompok, tidak terlihat karena pada umumnya kelompok yang mendapat bantuan program tidak terlihat lagi aktifitsnya setelah setiap individu menerima bantuan. Komitmen ini terkait oleh rendahnya kepekaan anggota terhadap manfaat dan kegunaan kelompok dalam jangka panjang dan kurang tumbuh sikap perduli terhadap sesama, rendahnya sikap berbagi serta tidak tumbuhnya kepercayaan (trust) terhadap anggota yang lain.

(120)

Tabel 8. Ciri Umum Kelompok Contoh pada Pola Bentukan Kelompok Rumah Tangga Miskin di Kedua Lokasi (Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Pangkep) 2016

No Pola Bentukan

o Kelompok dibentuk karena desakan kebutuhan bersama

o Mengelola sumberdaya secara bersama atas kesadaran bersama

o Ada mekanisme alamiah sebagai aturan kelompok

o Dikelola dengan lebih demokratis dan partisipatoris

o Interkasi anggota relatif rutin

o Ada prinsip aroroseng o Ada keinginan bersama untuk

maju bersama

o Hubungan dengan pihak luar masih kurang

o Kemampuan mengases sumberdaya dari luar masih lemah inisiatif pihak luar

o Telah lama dikenal oleh pihak

luar (SKPD) atau LSM

o Relative mampu mendapat tambahan sumberdaya dari luar

o Dikelola model tokenism (rumah tangga miskin umumnya sebagai pelengkap atautenaga kerja)

o Memanfaatkan kelompok hanya untuk mendapat bantuan

o Setelah mendapat bantuan individu cenderung meninggalkan kelompok dan sumberdaya dikelola secara individual

o Hasil usaha kelompok tidak bernilai jangka panjang

o Umumnya bubar setelah program atau proyek selesai

o Cenderung dikuasi individu

(121)
(122)
(123)

Hakekat sebuah kelompok adalah kerjasama orang-orang yang menghimpun dirinya untuk mencapai tujuan bersama. Di antara ketiga faktor yakni (bentukan kelompok, sumberdaya yang

dikelola, dan aturan/kesepakatan). Kelompok

tersebut baru disebut melembaga jika dalam interaksi dan tata hubungan tiga faktor tersebut berbasis pada ketaatan mematuhi aturan atau kesepakatan bersama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam penelitian ini faktor tersebut ditemukan pada kelompok yang awalnya lahir atas inisiatif petani atau nelayan sendiri.

(124)
(125)

Pembangunan Sosial Lokal Partisipatoris seperti pada Gambar 4

Gambar 10: Model Peningkatan kemampuan dan penguatan Kelembagaan Rumah Tangga Miskin Pedesaan

(126)

1. Rumah tangga miskin yang memiliki kemampuan adalah rumah tangga yang mampu mengoraganisir diri dengan kesadaran dan kepekaan bersama rumah tangga miskin lain sesuai basis sosiogeografis masyarakat tersebut, dalam suatu kolektifitas, kelompok atau organisasi 2. Kemampuan rumah tangga miskin dalam mengorganisasir diri dalam kelompok secara efektif dan efisien merupakan kemampuan dasar bagi upaya mengelola sumberdaya, baik sebagai nisbah karunia disekitar lingkungannya, maupun yang diperoleh dari luar

3. Kemampuan kelompok rumah tangga dalam mengelola sumberdaya memerlukan mekanisme yang disepakati dan dipercayai bersama, sebagai wujud kelembagaannya dan dalam implementasinya berlangsung secara adil dan kedudukan yang setara.

(127)

Langkah-langkah peningkatan kemampuan dan penguatan kelembagaan kelompok Rumah tangga Miskin dikemukakan berturut-turut sebagai berikut

1) Persiapan sosial, penyadaran dan pembinaan

kepekaan yang terdiri dari (1) identifikasi basis yakni unit sosio geografis rumah tangga miskin secara alamiah yang menjadi target (unit ketetanggaan, kekerabatan, pertemanan, kedekatan lahan, kedekatan dengan air, kesamaan lain) (2) klarifikasi tentang nilai-nilai lokal (modal sosial) yang terbentuk alamiah di kalangan masyarakat (kejujuran, kepercayaan, nilai berbagi, keperdulian, kebersamaan) dan nilai yang terkait kelompok target, (3) mendiskusikan tentang alur hidup sahari-hari, inisiasi-inisiasi yang biasa terjadi, terutama tekait dengan masa depan keluarga dan anggota keluarganya, (4) klarifikasi masalah dan kebutuhan spesifik dalam kaitannya dengan potensi, mata pencaharian dan karunia sumber di sekitar lingkungannya, (5) mendiskusikan tentang tata hubungan sosial dan

penyebab mengapa rumah tangga

(128)

tentang gambaran kongrit yang menjadi pilihan (alternative) di masa datang, dan (7) memantapkan komitmen kolektif untuk meningkatkan kemajuan bersama

2) Manajemen organisasi dan kepemimpinan

antara lain: (1) memberi pemahaman dan ketrampilan tentang prinsip komunikasi dan interaksi, (2) memberi pemahaman dan ketrampilan tentang perencanaan dan upaya-upaya yang dilakukan secara paritisipotoris (kesadaran bersama), (3) pemahaman tentang hakekat kerjasama dan kesetaraan, (4) pemahaman tentang mekanisme konsultasi bersama yang membentuk aturan (kapan bertemu, bagaimana sumberdaya dikelola bersama, aktivitas apa, bagaimana caranya, apa tugas setiap orang, hasil apa yang akan diperoleh), (5) pemahaman tentang pemimpin dan kepemimpinan (6) pemahaman, sikap dan ketrampilan dalam menyelesaikan masalah dan mengelola konflik, dan (7) pemantapan kemampuan mengelola kelompok atau organisasi

3) Manajemen Sumberdaya meliputi: (1)

(129)

kelompok, (2) mengelola dan mengontrol sumberdaya secara berkelompok, (3) Mengelola usaha bersama atas dasar kejujuran dan saling percaya, (3) pemahaman mengenai mekanisme penghantaran sumberdaya dan mekanisme penerimannya (4) prinsip-prinsip berbagi tanggung jawab untuk kemajuan bersama, dan (5) prinsip-bagi hasil secara adil dan kedudukan yang setara

(130)
(131)

Untuk melihat kesesuaian model dengan kondisi dan ketahanan kelompok komunitas, selanjutnya dilakukan studi di dua kelompok contoh yakni Kelompok Tani Jaya Bersama yang berada di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto dan Kelompok perempuan Nelayan di Desa Matiro Bombang Kecamatan Tupabiring Utara Kabupaten Pangkep.

(132)

1. Kelompok Tani jaya bersama Desa Kapita

a.Latar belakang pembentukan

Di Desa Kapita kelompok yang dijadikan tempat pengamatan yakni kelompok tani Jaya Bersama yang diketuai oleh AJ (38) tahun. Kelompok ini sesungguhnya tidak seluruhnya terdiri dari rumah tangga miskin karena sebahagian besar anggotanya adalah petani yang memiliki lahan relatif luas lebih dari 25 are, tetapi mereka mengakui bahwa dirinya masih rentan miskin, belum mampu menyekolahkan anak ke SMA dan perguruan tinggi. Namun demikian kelompok ini, setelah dikaji terkait dengan program pemberdayaan dan pembangunan terutama di desa yang diamati lebih solid dan lama bertahan hidup dibandingkan dengan kelompok lain, dan diharapkan dapat memiliki keberlanjutan sebagai basis pengembangan organisasi sosial kemasyarakatan yang berorientasi komersial (ekonomi) dalam arti memiliki kemampuan menghasilkan surplus secara berkelanjutan.

(133)

12 tahun menjadi anggota kelompok tetapi menurut pengakuannya baru 2 tahun terakhir ini merasa menetap dalam mengelola kelompok dengan anggota yang relatif kohesif. Kelompok Tani “Jaya Bersama” awalnya didirikan pada Tahun 2011. AJ pernah ikut menjadi anggota pada Kelompok Tani Dalle Makkatuo tepatnya di tahun 2010 sampai 2012. Selama di kelompok tersebut, ada beberapa hal yang dirasakan AJ selama bergabung menjadi anggota kelompok, salah satunya adalah pemanfaatan program alat bantuan mesin dross perontok jagung.

Gambar 11. Hamparan Lahan Kelompok Jaya Bersama Desa Kapita

(134)

kelompok Tani Dalle Makkatuo seperti bibit jagung, benih padi, mesin perontok jagung. Namun demikian bagi beberapa anggota kelompok terkait kerjasama anggota, ada hal yang di rasakan kurang memuas-kan. Tetapi bagaimanapun bagi AJ, terdapat banyak pengalaman berharga dan berpikir mampu melakukannya pada kelompok yang berbeda dengan cara yang lebih baik.

Secara kebetulan keberadaan AJ di kelompok yang sekarang ini, disebabkan karena alasan penunjukkan dan disepakati oleh anggota masyarakat yang belum tercapai keinginannya dalam membentuk kelompok Tani. Selain itu, terdapat sarana yang menjadi alasan dalam membentuk kelompok baru yakni seringnya mereka bertemu di lahannya yang berdekatan membuat mereka menyepakati untuk membentuk sebuah kelompok dengan menunjuk AJ sebagai Ketua. AJ pun menyetujui dan akhirnya saat itu pula AJ keluar dari kelompok Dalle Makkatuo dan mengikuti kemauan masyarakat yang juga merupakan tetangga lahannya untuk membentuk sebuah kelompok yang dinamakan Kelompok Tani Jaya Bersama.

(135)

belum memiliki kelompok. Maka saat itu pula AJ mendengarkan keluhan masyarakat yang ingin membentuk kelompok. Saat itu tepatnya Tahun 2011 awal ada rencana pembentukan kelompok. Namun demikian pembentukan tersebut sampai tahun 2012 belum terealisasi.

(136)

Gambar 12. Ketua kelompok Jaya bersama, AJ ketika

diwawancarai.

Keterlibatannya di kelompok yang sekarang AJ lebih aktif membina dan merasa bertanggung jawab untuk membantu anggota-anggotanya. Kemudian dengan memanfaatkan pengalaman pada

kelompok sebelumnya ia berupaya

mengembangkan kegiatan kelompok dengan lebih mengedepankan prinsip kebersamaan, kepercayaan, serta kedekatan lahan menjadi dasar utama dalam berdirinya kelompok. Dalam membina kelompok, sebagai ketua baru AJ tetap meminta saran dari berbagai pihak termasuk dari ketua kelompok Tani Dalle Makkatuo, seperti bagaimana mengajukan proposal, bagaimana mengurus persuratan ke Desa agar bisa diakui dan dikukuhkan sebuah kelompok itu. Persoalan pengembangan kelompoknya AJ lebih banyak melakukan kegiatan berdasarkan inisiatif sendiri.

b.Aktivitas Kelompok Tani Jaya Bersama

(137)
(138)

pembinaan seperti pelatihan dan pendampingan mereka mengakui di kelompok ini belum ada, demikian pula halnya dengan bantuan modal usaha.

Seperti telah disebutkan bahwa kelompok Jaya bersama ini mulai beroperasi sejak tahun 2015 sampai sekarang ini, dan anggota kelompok ini pun tetap 25 orang. Terkait tata hubungan diantara anggota, pada kelompok Jaya Bersama dipercayakan sebagai ketua kelompok AJ, sekretaris SBd, dan bendahara yaitu Dn. Saat ini kegiatan kelompok yakni akhir-akhir bulan ke 3 yaitu tanam jagung secara bersama, dan menggarap tanah bersama-sama. Adapun sumber-sumber yang menggerakkan aktivitas tersebut yang berasal dari luar kelompok, adalah berupa bantuan pompa air dari Dinas Pertanian.

Gambar

Gambar 2 Bagan Alir Penelitian
Gambar 3 Sebaran Penduduk Kabupaten Jeneponto per
Gambar 4.  Kondisi Lahan Kering di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kab Jeneponto
Tabel 1.  Jumlah Rumah Tangga (KK) berdasarkan klasifikasi kemiskinan per kecamatan Kabupaten Jeneponto tahun 2014
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tidak adanya interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan awal tinggi dan rendah terhadap prestasi afektif disebabkan karena perubahan perilaku afektif melalui

Tidak adanya interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan awal tinggi dan rendah terhadap prestasi afektif disebabkan karena perubahan perilaku afektif melalui

Berdasarkan temuan selama berlangsungnya penelitian tindakan kelas berupa peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menggunakan Blok Model Dienis di kelas 3

Dengan dilakukak perbaikan pemberian Insentif pada Kantor Telepon dan Telegrap Bogor terlihat adanya perubah- an-perubahan baik pada tingkat abeensi sebelum dan sesudah

Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan perilaku siswa pada setiap pertemuan yang sebelum diberikan treatment perilaku kemampuan penyesuaian dirinya terbilang

Hal ini membuat nilai aspek pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis siswa belum memenuhi target yang ditentukan, sehingga harus dilaksanakan tindakan selanjutnya

Jadi, dengan adanya upaya guru PAI dalam membentuk perilaku Islami siswa kepada Allah SWT melalui komunikasi interpersonal ini telah didapatkan hasil berupa perubahan

Audina menyatakan bahwa adanya hubungan antara pengetahuan kurang baik dengan perilaku pencegahan yang berarti semakin kurang baiknya pengetahuan seseorang maka perilaku atau tindakan